Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Tugas M04 Survei Tanah Dan Evaluasi Lahan


2018
03.08

Nama : Gilang Satya Ardhana
NIM : 165040207111095
Kelas : Q

1. Meneruskan pengayaan bahan kajian seperti yang dituliskan pada minggu kedua
Istilah-istilah :
a. Interpretasi foto udara adalah suatu kegiatan menganalisis foto udara atau citra yang bertujuan untuk mengidentifikasi objek dan petingnya masing-masing objek tersebut pagi seorang pemeta tanah.
b. Foto udara adalah foto permukaan bumi yang diperoleh dengan menggunakan pesawat terbang
c. Citra satelit adalah foto permukaan bumi yang bisa menjadi alternatif jika tidak ada foto udara
d. Landform adalah bentuk lahan hasil dari interpretasi foto udara
e. Delineasi adalah garis batas antar unit lahan yang setiap masing-masingnya memiliki karakteristik yang berbeda
f. Pendekatan sintetik adalah pengamatan yang dilakukan saat di lapangan kemudian dikelompokkan sesuai dengan karakteristik masing-masing(tidak tersedia peta foto udara)
g. Pendekatan analitik adalah pengelompokkan karakteristik dari masing-masing satuan tanah kemudian baru dilakukan pengamatan( tersedia peta foto udara)
h. Transek adalah satu jalur yang melewati banyak lahan yang berbeda.
i. Ortofoto adalah foto udara yang diambil dari pesawat terbang kemudian
diproyeksikan dalam bidang datar

Resum materi kuliah minggu ketiga
Materi kuliah minggu ketiga yang disampaikan adalah tentang penentuan batas tanah dengan 3 metode diantaranya grid kaku, grid bebas, dan fisiografik. Metode grid kaku adalah metode pengamatan dengan menggunakan titik-titik interval jarak yang sama. Metode ini dilakukan ketika kekurangan data spasial foto udara. Metode grid bebas adalah metode pengamatan yang dengan menggunakan titik-titik interval tetapi dengan jarak yang tidak harus sama. Metode ini merupakan metode perpaduan antara metode grid-kaku dan metode fisiografik. Metode fisiografik adalah metode pengamatan yang dilakukan dengan menginterpretasi foto udara terlebih dahulu. Setelah membahas mengenai metode survei tanah, dilanjutkan dengan pelaksanaan survei tanah yang terdiri dari pra survei, pelaksanaan, pasca survei tanah. Pra survei menentukan keakurasian data yang nantinya diinterpretasikan. Dibutuhkan data, peta dan citra. Data terdiri dari data-data survei terdahulu, informasi batuan,iklim dan laporan sosekbud. Peta terdiri dari peta dasar dan peta geologi. Satuan peta tanah terbagi emnjadi dua yaitu sederhana dan majemuk. SPT sederhana terdiri dari satu taksa tanah, SPT majemuk yaitu terdiri dari lebih dari 1 taksa tanah yaitu asosiasi dan kompleks. Yang membedakan antara asosiasi dan kompleks adalah keteraturan dan skala.

2. Kerjakan bahan diskusi pada slide no.4 di bahan kuliah minggu 3
Bagaimana orang melakukan survei tanah?
Orang melakukan survei tanah dengan diiringi beberapa kegiatan diantaranya penyiapan peta kerja, deskripsi dan pencirian tanah, klasifikasi tanah, pemetaan tanah atau penentuan batas SPT, interpretasi data survei tanah. Penyiapan peta kerja meliputi foto udara yang digunakan, peta dasar, interpretasi foto udara dan plotting. Deksripsi dan pencirian tanah meliputi bahan yang bisa diamati diantaranya bia menggunakan bor, bisa mengamati minipit atau profil. Klasifikasi tanah yaitu mengklasifikasikan tanah berdasarkan pencirian serta data-data hasil analisis laboratourium. Pemetaan tanah meliputi penentuan satuan peta tanah. interpretasi data survei tanah berupa laporan. Minimal dibutuhkan 3 pengamatan pada bentuk lahan. Jika terdapat 8 jenis tanah maka diambil 3 jenis tanah yang paling dominan dan dimasukkan ke dalam peta.
1. Mengapa perlu ditentukan luasan SPT terkecil 0.4 cm2
Luasan SPT terkecil 0,4 cm2 memudahkan untuk penghitungan dan perbesaran keadaan yang sebenarnya di lapang yang sudah dibandingkan dengan skala peta. Nilai 0,4 ini merupakan batas terkecil yang telah ditentukan, bila ukuran SPT dibawah 0,4 maka luasan SPT terlalu kecil untuk didelineasi.
2. Apakah dibenarkan kita membesarkan peta analog ( misalnya peta tanah cetak) dengan scanner /fotocopy skala 1:250.000 menjadi 1 : 50.000? Jelaskan
Membesarkan peta analog dari skala 1:250.000 menjadi 1:50.000 dibenarkan karena dengan perubahan skala ini maka wilayah pengamatan menjadi lebih detail sehingga macam pengamatan yang dilakukan semakin sedikit untuk luasan tertentu. Tetapi sebaliknya jika skala dari 1: 50.000 diubah menjadi 1: 250.000 maka luasan kenampakaan permukaan bumi menjadi lebih luas, sehingga detail pengamatan akan lebih sulit untuk diinterpretasikan per satuan luasan tertentu. Peta analog merupakan peta dalam bentuk cetakan. Peta analog dibuat dengan cetakan teknik kartografi, sehingga mempunyai data spesial diantaranya koordinat, skala, arah mata angin, dll. Peta analog diubah menjadi peta digital dengan proses digitasi atau scan. Proses digitasi menghasilkan data vektor sedangkan scan menghasilkan data raster. Peta analog dapat dikonversi menjadi peta digital dapat dilakukan dengan proses digitasi atau scan. Digitasi akan menghasilkan data vector sedangkan scan akan menghasilkan data berupa raster.
3. Skala peta
1.Berapa luas di lapangan untuk suatu SPT berukuran 0.8 cm² pada peta berbagai skala seperti pada butir-butir di bawah?
Diketahui : misal skala 1:10.000
Luas SPT = 0,8 cm²
Luas sebenarnya = 0,8 cm²x(10.000)² = 8x cm² = 8x ha
• Eksplorasi 1: 1.000.000
Luas sebenarnya = 0,8 cm²x(1.000.000)² = 8x cm² = 8x ha
• Tinjau 1: 250.000
Luas sebenarnya = 0,8 cm²x(250.000)² = 500 x cm² = 500 ha
• Semi detil 1: 50.000
Luas sebenarnya = 0,8 cm²x(50.000)² = 500 x cm² = 5 ha
• Sangat detil 1:5.000
Luas sebenarnya = 0,8 cm²x(5.000)² = 20 x cm² = 0.2 ha
2.Berapa intensitas pengamatan untuk peta berbagai skala seperti pada butir-butir di bawah?
– Eksplorasi (1: 1000.000)
Skala yang digunakan pada peta eksplorasi adalah antara 1: 500.000 sampai 1: 1.000.000 Peta tanah eksplorasi menyajikan informasi mengenai kadaan tanah dari suatu daerah. Peta ini dibuat dengan survey dengan batuan udara (helikopter) pada tempat-tempat tertentu dengan jenis tanah yang berbeda yang ditunjukkan pada bentang alam yang berbeda. Survei ini dilakukan dengan bantuan interpretasi foto udara atau citra satelit, dengan intensitas pengamatan yang sangat rendah.
– Tinjau ( 1:250.000)
Peta tanah tinjau, dibuat pada skala 1:250.000. Satuan peta didasarkan atas satuan tanah-bentuk lahan atau sistem lahan yang didelineasi melalui interpretasi foto udara dan atau citra satelit. Pengamatan di lapangan kurang lebih 1 untuk 12,5 km2.
– Semi detil (1: 50.000)
Peta tanah semi-detil, dibuat pada skala 1:50.000, dengan intensitas pengamatan sekitar 1 untuk setiap 50 hektar, tergantung dari kerumitan bentang lahan. Semi detil menggunakan sistem grid yang dibantu oleh hasil interpretasi foto udara dan citra satelit. Peta ini memberi gambaran tentang potensi daerah secara lebih terperinci serta dapat menunjukkan lokasi proyek yang akan dilaksanakan.
– Detil (1:25.000)
Peta tanah detil, dibuat pada skala 1:25.000 dan 1:10.000. peta ini bertujuan untuk persiapan pelaksanaan proyek konservasi tanah. hasil dari proyek konservasi tanah yaitu informasi dari sifat dan ciri tanah sedetail mungkin. Jangkauan pengamatan tanah sekitar 1 untuk setiap 2-12,5 ha.
– Sangat Detil (1: 5.000)
Peta tanah sangat detil, dibuat pada skala > 1:10.000. Dilakukan 2 pengamatan atau lebih untuk setiap hektarnya. Peta ini difokuskan untuk kegiatan penelitian khusus misalnya rancangan percobaan respon tanaman terhadap pupuk organik pada satuan luas tanah.