KUMPULAN LAPORAN

LAPORAN HIBRIDISASI

26 June 2012

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Hibridisasi (persilangan) adalah penyerbukan silang antara tetua yang berbeda susunan genetiknya. Pada tanaman menyerbuk sendiri hibridisasi merupakan langkah awal pada program pemuliaan setelah dilakukan pemilihan tetua. Umumnya program pemuliaan tanaman menyerbuk sendiri dimulai dengan menyilangkan dua tetua homozigot yang berbeda genotipenya. Pada tanaman menyerbuk silang, hibridisasi biasanya digunakan untuk menguji potensi tetua atau pengujian ketegaran hibrida dalam rangka pembentukan varietas hibrida. Selain itu, hibridisasi juga dimaksudkan untuk memperluas keragaman.

Persilangan memiliki beberapa tujuan, yaitu: (1) Menggabungkan semua sifat baik ke dalam satu genotipe baru; (2) Memperluas keragaman genetik; (3) Memanfaatkan vigor hibrida; atau (4) Menguji potensi tetua (uji turunan). Dari keempat tujuan utama ini dapat disimpulkan bahwa hibridisasi memiliki peranan penting dalam pemuliaan tanaman, terutama dalam hal memperluas keragaman dan mendapatkan varietas unggul yang diinginkan. Seleksi akan efektif apabila populasi yang diseleksi mempunyai keragaman genetik yang luas.

Varietas unggul baru dari tanaman menyerbuk sendiri biasanya merupakan hasil seleksi pada populasi keturunan hasil persilangan. Sebaliknya, pembentukan hibrida unggul pada tanaman menyerbuk silang harus diawali dengan menyerbuk sendiri secara buatan. Keberhasilan penyerbukan buatan sangat tergantung pada faktor internal (tanaman) dan faktor eksternal (cuaca). Faktor internal yang terpenting adalah saat masaknya kelamin. Penyerbukan buatan sebaiknya dilakukan pada saat serbuk sari (pollen) sudah masak tetapi belum mati dan putik siap untuk dibuahi (reseptif). Cuaca yang cerah dan tidak ada angin akan mendukung keberhasilan penyerbukan.

Secara umum tujuan dari pemuliaan tanaman adalah mendapatkan varietas-varieats baru yang lebih baik atau lebih unggul. Salah satu cara untuk mendapatkan varietas baru tersebut adalah dengan cara hibridisasi atau persilangan. Persilangan tersebut ditujukan untuk menghasilkan varietas baru dari tanaman yang kita silangkan, seperti persilangan pada tanaman jagung, ubi jalar, dan pacar air. Pada tanaman jagung kami ingin mendapatkan varietas baru yang bersifat manis dan bertongkol besar. Pada tanaman ubi jalar diharakan varietas baru yang berbunga putih keunguan. Sedangkan pada tanaman pacar air diharapkan varietas baru hasil persilangan mempunyai bunga putih keunguan.

1.2  Tujuan

  1. Mendapatkan varietas baru dengan sifat lebih baik
  2. Menghasilkan varietas ubi jalar baru dengan bunga putih keunguan
  3. Menghasilkan varietas pacar air baru berwarna putih keunguan

BAB II

 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Hibridisasi

  • Hibridisasi merupakan suatu perkawinan silang antara berbagai jenis spesies pada setiap tanaman. Yang mempunyai tujuan untuk memperoleh organisme dengan sifat-sifat yang diinginkan dan dapat berfariasi jenisnya.

(Tanto, 2002)

  • Hybridisation is the process of combining different varieties or species of organisms to create a hybrid

“Hibridisasi adalah proses penggabungan varietas yang berbeda atau spesies organisme untuk menciptakan hibrida”.

(Schlegel, 2009)

  • When a plant or animal is bred with a plant or animal from different stock, the process is known as hybridization

“Ketika tanaman atau hewan dibiakkan dengan tanaman atau hewan dari keturunan yang berbeda, proses ini dikenal sebagai hibridisasi”

(McCouch, 2004)

2.2  Tahapan Hibridisasi

  1. Persiapan
  • Menyiapkan seluruh peralatan yang dibutuhkan untuk persilangan
  • Menentukan induk/tetua jantan dan betina
  • Mengidentifikasi bunga betina
  • Menentukan waktu penyerbukan
  1. Emaskulasi

Emaskulasi adalah kegiatan membuang alat kelamin jantan (stamen) pada tetua betina, sebelum bunga mekar atau sebelum terjadi penyerbukan sendiri. Emaskulasi terutamadilakukan pada tanaman berumah satu yang hermaprodit dan fertil. Cara emaskulasitergantung pada morfologi bunganya.

Pada tanaman menyerbuk silang proses emaskulasi tidak perlu dilakukan. Hal tersebut berhubungan dengan karakter organ reproduksi dari tanaman menyerbuk silang. Misalnya letak organ jantan dan organ betina yang terpisah, masaknya polen tidak sama dengan kepala putik. Sehingga kontrol persilangan menjadi semakin lebih mudah jika dibandingkan tanaman menyerbuk sendiri.

  1. Isolasi

Isolasi dilakukan agar bunga yang telah diemaskulasi tidak terserbuki oleh serbuk sari asing. Dengan demikian baik bunga jantan maupun betina harus dikerudungi dengan kantung.

  1. Pengumpulan Serbuk Sari

Pengumpulan serbuk sari dari pohon tetua jantan dapat dimulai beberapa jam sebelumkuncup-kuncup bunga itu mekar. Bila letak pohon tetua betina jauh dari pohon tetua jantan,maka pengangkutan kuncup-kuncup bunga dari tetua jantan ke tetua betina akan memakan waktu yang lama. Agar kuncup bunga itu tidak lekas layu dan tahan lama dalam keadaan segar, hendaknya kuncup bunga itu dipetik dan diangkut pada pagi hari sebelum matahari terbit atau pada sore hari setelah matahari terbenam.

  1. Penyerbukan

Penyerbukan buatan dilakukan antara tanaman yang berbeda genetiknya. Pelaksanaannya terdiri dari pengumpulan polen (serbuk sari) yang viabel atau anter dari tanaman tetua jantan yang sehat, kemudian menyerbukannya ke stigma tetua betina yang telah dilakukan emaskulasi dengan cara mengguncangkan bunga jantannya.

  1. Penutupan bunga

Penutupan ini agar tanaman jagung tidak diserbuki oleh serbuk sari tanaman jagung lainnya.

  1. Pelabelan

Ukuran dan bentuk label berbeda-beda. Pada dasarnya label harus tahan air dapat terbuat dari kertas atau plastik.

(Mangoendidjojo, 2003)

 

2.3  Faktor Yang Mempengaruhi Hibridisasi

2.3.1 Internal

  • Waktu Tanaman Berbunga

Dalam melakukan persilangan harus diperhatikan:

  1. Penyesuaian waktu berbunga.

Waktu tanam tetua  jantan  dan betina harus diperhatikan supaya saat anthesis dan reseptif waktunya bersamaan.

  1. Waktu emaskulasi dan penyerbukan

Pada tetua betina waktu emaskulasi harus diperhatikan. Juga waktu penyerbukan harus tepat ketika stigma reseptif. Jika antara waktu anthesis bunga jantan dan waktu reseptif bunga betina tidak bersamaan, maka perlu dilakukan singkronisasi. Caranya dengan membedakan waktu penanaman antara kedua tetua, sehingga nantinya kedua tetua akan siap dalam waktu yang bersamamaan.

(Sujiprihati dkk., 2008)

       2.3.2 Eksternal

  • Cuaca Saat Penyerbukan

Cuaca sangat besar peranannya dalam menentukan keberhasilan persilangan buatan. Kondisi panas dengan suhu tinggi dan kelembapan udara terlalu rendah menyebabkan bunga rontok. Demikian pula jika ada angin kencang dan hujan yang terlalu lebat.

  • Pemilihan Tetua

Ada lima kelompok sumber plasma nutfah yang dapat dijadikan tetua persilangan, yaitu varietas komersial, galur-galur elit pemuliaan, galu-galur pemuliaan dengan satu atau beberapa sifat superior, spesies intoduksi tanaman dan spesies liar. Peluang menghasilkan varietas unggul yang dituju akan menjadi besar bila tetua yang digunakan merupakan varietas-varietas komersial yang unggul yang sedang beredar, galur-galur murni tetua hibrida, dan tetua-tetua varietas sintetik.

  • Pengetahuan Tentang Organ Reproduksi dan Tipe Penyerbukan

Untuk dapat melakukan penyerbukan silang secara buatan, hal yang paling mendasar dan yang paling penting diketahui adalah organ reproduksi dan tipe penyerbukan. Dengan mengetahui organ reproduksi, kita dapat menduga tipe penyerbukannya, apakah tanaman tersebut menyerbuk silang atau menyerbuk sendiri.

(Sujiprihati dkk., 2008)

 

2.4  Tanda Keberhasilan Hibridisasi

Keberhasilan suatu persilangan buatan dapat dilihat kira-kira satu minggu setelah dilakukan penyerbukan. Jika calon buah mulai membesar dan tidak rontok maka kemungkinan telah terjadi pembuahan. Sebaliknya, jika calon buah tidak membesar atau rontok maka kemungkinan telah terjadi kegagalan pembuahan. Keberhasilan penyerbukan buatan yang kemudian diikuti oleh pembuahan.

(Subekti, 2008)

2.5 Morfologi Bunga dan Masa Anthesis, Reseptif Bunga pada Ubi Jalar

2.5.1 Ubi Jalar

  • Morfologi Bunga Ubi Jalar

Ipomoea batatas (ubi jalar) adalah salah satu anggota dari suku kangkung-kangkungan (Convolvulaceae) yang dapat dimakan oleh manusia dan memiliki banyak manfaat bagi manusia, misalnya: Ipomoea aquatica (kangkung air), Ipomoea reptansi (kangkung darat), dan Ipomoea batatas (ubi jalar). Suku ini ditandai oleh bentuk bunganya yang menyerupai terompet.

Morfologi bunga ubi jalar, antara lain :

  • Bunga tumbuh pada ketiak daun
  • Berbentuk menyerupai terompet/canvonulatus
  • Tersusun dari 5 helai daun mahkota, 5 helai daun bunga, dan 1 tangkai putik
  • Kuncup di bagian pangkal dan mekar di bagian ujungnya
  • Mahkota bunga berwarna putih atau putih keungu-unguan
  • Bagian tepi  bunga bergelombang
  • Pada bagian mahkota terlihat berbentuk bintang
  • Posisi kepala putik lebih tinggi daripada kepala benangsarinya
  • Pada umumnya, jumlah putik=1 dan benangsari sekitar 5
  • Panjang tangkai sari berbeda-beda antara 1,5-2 cm

Gambar 1. Bunga ubi jalar

  • Fase anthesis dan fase reseptif Bunga Ubi Jalar

Fase Anthesis

Fase anthesis pada bunga ubin jalar (Ipomoeabatatas) ditandai dengan terjadinya pemekaran yang sempurna dari kuncup bunga dimana petal membuka secara sempurna sementara putik mulai keluar dari dalam selubung petal. Benang sari yang melekat pada petal sudah mulai kelihatan dari luar. Setelah tercapai secara penuh, maka tidak terjadi lagi pertumbuhan pada beberapa bagian bunga terutama dari segi panjang. Tanaman ubi jalar hanya Anmembutuhkan waktu sekitar 25-30 hari dari saat penyerbukan sampai buah masak. Pemanenan sebaiknya dilakukan 30 HAS (hari setelah anthesis) untuk menunggu kadar air yang cukup rendah dan kulit benih yang lebih mengeras sehingga dapat mengurangi resiko kerusakan fisik benih. Perkembanagan komponen penyusun bunga ubi jalar dapat dikelompokkan kedalam 7 stadia dan secara berurutan adalah terbentuknya kelopak bunga, kotak sari dan tangkai bunga, mahkota bunga, kepala putik, ovarium dan ovulum, tangkai putik, benang sari dan jaringan penghasil nektar.

(Rukmana, 2007)

 

Fase Reseptif

Keberhasilan reproduksi pada bunga ubi jalar dipengaruhi oleh suhu dan RH. Suhu yang rendah dan RH yang tinggi akan meningkatkan jumlah benih yan diperoleh dari hasil penyerbukan. Pengaruh suhu tinggi pada bunga ubi jalar dapat dengan mudah  diamati, yaitu kelopak bunga menjadi layu dan menutup serta kepala putik warnanya menjadi kuning kecoklatan, jika hal tersebut terjadi berarti masa reseptif  bunga telah berakhir.

(Rukmana, 2007)

2.5.2 Pacar Air

  • Morfologi Bunga Pacar Air

Tanaman ini memiliki aneka macam warna bunga. Ada yang putih, merah, ungu, kuning, jingga, dll. Jika pacar air yang berbeda warna disilangkan, maka akan terbentuk keturunan yang beraneka ragam. Bunga zygomorph, berkelamin 2, di ketiak. Daun kelopak 3 atau 5, lepas atau sebagian melekat, bertaji. Daun kelopak samping berbentuk corong miring, berwarna, dan terdapat noda kuning di dalamnya. Sedikit di atas pangkal daun mahkota memanjang menjadi taji dengan panjang 0,2-2 cm. Daun mahkota 5, lepas. Daun mahkota samping berbentuk jantung terbalik dengan panjang 2-2,5 cm, yang 2 bersatu dengan kuku, yang lain lepas tidak berkuku dan lebih pendek. Ada 5 benangsari dengan tangkai sari yang pendek, lepas, agak bersatu. Kepala sarinya bersatu membentuk tudung putih.Bunga terkumpul 1-3. Setiap tangkai hanya berbunga 1 dan tangkainya tidak beruas. Memiliki 5 kepala putik.

(Rukmana, 2007)

Gambar 2. Bunga Pacar air

2.5.3 Jagung

  • Ø Morfologi Bunga dan Masa Anthesis Jagung

Jagung disebut juga tanaman berumah satu (monoeciuos) karena bunga jantan dan betinanya terdapat dalam satu tanaman. Bunga betina, tongkol, muncul dari axillary apices tajuk. Bunga jantan (tassel) berkembang dari titik tumbuh apikal di ujung tanaman. Pada tahap awal, kedua bunga memiliki primordia bunga biseksual. Selama proses perkembangan, primordial stamen pada axillary bunga tidak berkembang dan menjadi bunga betina. Demikian pula halnya primordia ginaecium pada apikal bunga, tidak berkembang dan menjadi bunga jantan. Serbuk sari (pollen) adalah trinukleat. Pollen memiliki sel vegetatif, dua gamet jantan dan mengandung butiran-butiran pati. Dinding tebalnya terbentuk dari dua lapisan, exine dan intin, dan cukup keras. Karena adanya perbedaan perkembangan bunga pada spikelet jantan yang terletak di atas dan bawah dan ketidaksinkronan matangnya spike, maka pollen pecah secara kontinu dari tiap tassel dalam tempo seminggu atau lebih.

Rambut jagung (silk) adalah pemanjangan dari saluran stylar ovary yang matang pada tongkol. Rambut jagung tumbuh dengan panjang hingga 30,5 cm atau lebih sehingga keluar dari ujung kelobot. Panjang rambut jagung bergantung pada panjang tongkol dan kelobot Tanaman jagung adalah protandry, di mana pada sebagian besar varietas, bunga jantannya muncul (anthesis) 1-3 hari sebelum rambut bunga betina muncul (silking). Serbuk sari (pollen) terlepas mulai dari spikelet yang terletak pada spike yang di tengah, 2-3 cm dari ujung malai (tassel), kemudian turun ke bawah. Satu bulir anther melepas 15-30 juta serbuk sari. Serbuk sari sangat ringan dan jatuh karena gravitasi atau tertiup angin sehingga terjadi penyerbukan silang. Dalam keadaan tercekam (stress) karena kekurangan air, keluarnya rambut tongkol kemungkinan tertunda, sedangkan keluarnya malai tidak terpengaruh. Interval antara keluarnya bunga betina dan bunga jantan (anthesis silking interval, ASI) adalah hal yang sangat penting. ASI yang kecil menunjukkan terdapat sinkronisasi pembungaan, yang berarti peluang terjadinya penyerbukan sempurna sangat besar. Semakin besar nilai ASI semakin kecil sinkronisasi pembungaan dan penyerbukan terhambat sehingga menurunkan hasil. Cekaman abiotis umumnya mempengaruhi nilai ASI, seperti pada cekaman kekeringan dan temperatur tinggi.

Penyerbukan pada jagung terjadi bila serbuk sari dari bunga jantan menempel pada rambut tongkol. Hampir 95% dari persarian tersebut berasal dari serbuk sari tanaman lain, dan hanya 5% yang berasal dari serbuk sari tanaman sendiri. Oleh karena itu, tanaman jagung disebut tanaman bersari silang (cross pollinated crop), di mana sebagian besar dari serbuk sari berasal dari tanaman lain. Terlepasnya serbuk sari berlangsung 3-6 hari, bergantung pada varietas, suhu, dan kelembaban. Rambut tongkol tetap reseptif dalam 3-8 hari. Serbuk sari masih tetap hidup (viable) dalam 4-16 jam sesudah terlepas  shedding). Penyerbukan selesai dalam 24-36 jam dan biji mulai terbentuk sesudah 10-15 hari. Setelah penyerbukan, warna rambut tongkol berubah menjadi coklat dan kemudian kering.

(Allard, 1988)

 

  • Ø Reseptif Bunga Jagung

Perbungaan jantan berbentuk malai (tassel), yang terdiri dari bulir polos tengah dan cabang lateral. Poros tengah biasanya memiliki empat baris pasangan bunga (spikelet) atau lebih. Cabang lateral biasanya terdiri dari dua baris. Setiap pasanganbunga terdiri dari satu bunga duduk (tidak bertangkai) dan satu bunga bertangkai. Perbungaan betina tumbuh pada ujung tongkol samping batang yang berasal dari ketiak daun, biasanya pada sekitar pertengahan panjang batang utama. Batang lateral sangat pendek karena ruasnya yang pendek. Pada setiap buku batang lateral, tumbuh sehelai daun. Karena dekatnya jarak antar buku, daun-daun tersebut saling menutup membentuk kelobot yang membungkus tongkol yang sedang berkembang. Bunga betina terbentuk sebagai spikelet yang berpasangan pada poros tengah pada batang lateral, yang dikenal sebagai tongkol.

(Rubatzky, 1998).

   BAB III

   BAHAN DAN METODE

 

3.1 Alat, Bahan, dan Fungsi

Alat

  • Gunting                     : Untuk memotong induk jantan
  • Kertas sungkup          : Untuk menutup tanaman setelah diserbukan
  • Kertas label                : Untuk melabeli tanaman yang akan disilangkan
  • Bolpoin                      : Untuk memberi nama atau pelabelan
  • Pinset                         : Untuk menghilangkan benang sari (alat kelamin jantan)

 

Bahan

  1. Persilangan di lahan praktikum Jatikerto

Ubi jalar (bunga putih) : sebagai tetua betina

Ubi jalar (bunga ungu)  : sebagai tetua jantan

  1. Persilangan di lahan BP

Pacar air (bunga putih) : sebagai tetua betina

Pacar air (bunga ungu) : sebagai tetua jantan

  1. Persilangan di lahan praktikum Ngijo

Jagung manis                : sebagai tetua jantan

Jagung biasa                 : sebagai tetua betina

 

3.2 Waktu dan Tempat Praktikum

1. Waktu                        : 15 April 2012

Tempat Praktikum     : Lahan Praktikum Jatikerto

2. Waktu                        : 3 Mei 2012

Tempat                       : Lahan Praktikum BP

3. Waktu                        : 16 Mei 2012

Tempat                       : Lahan Praktikum Ngijo

 

 

 

 

 

 

3.3 Alur Kerja

  1. Cara kerja persilngan ubi jalar

 

Siapkan alat yang akan digunakan dalam praktikum

 

Pilih tanaman ubi jalar yang akan dijadikan sebagai tetua jantan (bunga ungu) dan tetua betina (bunga putih)

 

Potong tetua jantan (bunga ungu) dengan gunting, serbuk sari jangan sampai rontok terkena angin atau gerakan tubuh

 

Tutup tanaman dengan kertas atau plastik agar tidak dibuahi oleh tanaman ubi jalar yang lainnya

 

Setelah seminggu lakukan pengecekan keberhailan hibridisasi tanaman ubi jalar tersebut

 

Catat hasil

 

Buat laporan

  1. Cara kerja persilangan pacar air

Siapkan alat yang akan digunakan dalam praktikum

 

 

 

Pilih tanaman pacar air yang akan dijadikan sebagai tetua jantan (bunga ungu) dan tetua betina (bunga putih)

 

 

 

Potong tetua jantan (bunga ungu) dengan gunting, serbuk sari jangan sampai rontok terkena angin atau gerakan tubuh

 

 

 

Tutup tanaman dengan kertas atau plastik agar tidak dibuahi oleh tanaman pacar air yang lainnya

 

 

 

Setelah seminggu lakukan pengecekan keberhailan hibridisasi tanaman pacar air tersebut

 

 

 

Catat hasil

 

 

Buat laporan

  1. Cara kerja persilangan jagung

 

Siapkan alat yang akan digunakan dalam praktikum

 

Pilih tanaman jagung yang akan dijadikan sebagai tetua jantan (jagung manis) dan tetua betina (jagung biasa)

 

Sungkup tetua jantan (jagung manis) dengan kertas

 

Setelah seminggu sungkup tetua jantan dibuka dan apabila serbuk sari dari tetua jantan banyak maka jagung siap disilangkan

 

Pilih tetua betina yang dinginkan (jagung biasa) dan siap untuk diserbuki

 

Serbuki tetua betina (jagung biasa) dengan serbuk sari yang sudah diambil (jagung manis)

 

 

 

Sungkup tetua betina (jagung biasa) yang telah diserbuki

Catat hasil pengamatan setiap minggu

Buat laporan

 

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1 Hasil

4.1.1 Pengamatan Perkembangan Bunga

Nama tanaman : ubi jalar

Table 1. Perkembangan Bunga Ubi Jalar

Parameter Tetua jantan Tetua betina
Umur bunga (hari setelah tanam)    
Perkembangan bunga (dari kuncup hingga mekar)  

 

 

 

 

 

 

 

Morfologi bunga (gambar tangan)    

 

Table 2. Perkembangan Bunga Pacar Air

Parameter Tetua jantan Tetua betina
Umur bunga (hari setelah tanam)    
Perkembangan bunga (dari kuncup hingga mekar)  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Morfologi bunga (gambar tangan)    

 

Perkembangan bunga tetua jantan pacar air dimulai dari kuncup adalah kuncup berwarna kuncup yang berwarna putih kekuning-kuningan. Selanjutnya setelah itu, kuncup mulai membesar namun warna masih tetap putih kekuning-kuningan. Setelah itu, seiring dengan mulai membesarnya bunga pacar air yang akan mekar, warna kekuning-kuningan mulai memudar dan didominasi oleh warna putih. Setelah bunga pacar air mekar, warna bunga tersebut menjadi putih seluruhnya.

Kuncup tetua betina pacar air berwarna adalah berwarna ungu. Semakin membesar bunga tersebut, warna ungu menjadi semakin tampak jelas. Setelah bunga mekar, warna ungu pada tanaman tersebut menjadi semakin tua.

 

Table 3. Perkembangan Bunga Jagung

Parameter Tetua jantan Tetua betina
Umur bunga (hari setelah tanam)    
Perkembangan bunga (dari kuncup hingga mekar)  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Morfologi bunga (gambar tangan)    

 

4.1.2 Gambar Prosedur Persilangan

Komoditas                  : ubi jalar

Tujuan persilangan     : mendapatkan varietas baru ubi jalar yang berbunga putih (keunguan)

Tetua jantan                : ungu

Tetua betina                : putih

Tanggal persilangan   : 15 April 2012

Gambar Prosedur Persilangan Gambar Hasil Persilangan
  1. Emaskulasi

 

 

 

1 minggu setelah persilangan

 

  1. Persilangan

 

 

2 minggu setelah persilangan
  1. Penyungkupan

 

3 minggu setelah tanam
  1. Pelabelan

 

4 minggu setelah persilangan

Tabel 4. Cara Hibridisasi Ubi Jalar

Pertama-tama hal yang kami lakukan saat hibridisasi ubi jalar adalah emaskulasi bunga yang dijadikan tetua betina pada persilangan ubi jalar yaitu bunga yang berwarna putih. Emaskulasi ini bertujuan agar tidak terjadi penyerbukan sendiri dalam suatu tanaman tersebut. Pemilihan tetua jantan, harus tetua yang sudah siap dan nampak matang. Hal ini terlihat ketika bunga jantan tersebut digoyang- goyangkan, maka serbuk sari berwarna putih akan jatuh. Setelah diemaskulasi, pada pagi hari dilakukan persilangan antara bunga ubi jalar putih dan bunga ubi jalar ungu sebagai tetua. Setelah itu, bunga yang sudah disilangkan dibungkus menggunakan sungkup dan diberi label.

 

Komoditas                  : Pacar air

Tujuan persilangan     : Menghasilkan varietas bunga baru (putih keunguan)

Tetua jantan                : Putih

Tetua betina                : Ungu

Tanggal persilangan   : 3 Mei 2012

Gambar Prosedur Persilangan Gambar Hasil Persilangan
  1. Emaskulasi

 

 

1 minggu setelah persilangan

 

 

 

 

 

 

 

  1. Persilangan

 

2 minggu setelah persilangan

 

  1. Penyungkupan

 

 

 

3 minggu setelah persilangan

 

 

  1. Pelabelan

 

 

Tabel 5. Cara Hibridisasi Pacar Air

 

Hal yang pertama dilakukan adalah emaskulasi pada tetua yang akan dijadikan betina, dimana tetua betina terpilih dari pacar air berwarna putih, sedangkan tetua jantan berwarna ungu. Pemilihan tetua jantan harus benar- benar terpilih dari tetua yang sudah matang, sebagai tandanya adalah melekatnya serbuk sari saat disentuh. Langkah selanjutnya setelah emaskulasi ialah dilakukan persilangan langsung tanpa menunggu hari berikutnya. Langkah selanjutnya setelah emaskulasi ialah dilakukan persilangan langsung tanpa menunggu hari berikutnya. Setelah persilangan dilakukan, maka kegiatan selanjutnya adalah pembungkusan pelabelan.

 

Komoditas                  : Jagung

Tujuan persilangan     : mendapatkan jagung yang bertongkol besar dan rasa manis

Tetua jantan                : jagung manis

Tetua betina                : jagung biasa

Tanggal persilangan   : 16 Mei 2012

Gambar Prosedur Persilangan Gambar Hasil Persilangan
  1. Pemotongan rambut jagung

 

 

1 minggu setelah persilangan

Tanaman Pertama

 

Tanaman Kedua

 

  1. Persilangan

 

 

 

 

2 minggu setelah persilangan

Belum bisa dilakukan pengamatan karena waktu persilangan belum sampai 2 minggu.

  1. Penyungkupan

 

3 minggu setelah persilangan

Belum bisa dilakukan pengamatan karena waktu persilangan belum sampai 2 minggu.

  1. Pelabelan

 

4 minggu setelah persilangan

Belum bisa dilakukan pengamatan karena waktu persilangan belum sampai 2 minggu.

Tabel 6. Cara Hibridisasi Jagung

 

Pada hibridisasi jagung yang dilakukan di lahan Ngijo, hal pertama yang dilakukan adalah pemilihan tetua jantan. Tetua jantan dipilih berdasarkan fenotip. Jika bunga jantan tersebut sudah mekar sebagian, maka sudah memenuhi kriteria untuk dijadikan tetua persilangan. Langkah selanjutnya adalah penyungkupan terhadap bunga tersebut menggunakan kertas sungkup untuk dijadikan tetua persilangan pada esok harinya. Pada esok harinya dilakukan pemilihan tetua betina terlebih dahulu. Tetua betina juga dipilih berdasarkan fenotip dengan dicirikan tongkol jagung tersebut masih mempunyai rambut yang pendek. Sebelum polinasi dilakukan, terlebih dahulu rambut jagung dipotong hingga mendekati kulit jagung atau biasa disebut klobot jagung. Setelah itu, klobot jagung dibuka sedikit agar nanti saat polinasi, serbuk sari dapat masuk atau menyerbuk sempurna pada putik. Setelah itu, hal selanjutnya yang dilakukan adalah melakukan hibridisasi atau persilangan dengan cara menabur-naburkan serbuk sari dari tetua jantan diatas rambut jagung yang sudah dipotong tersebut. Setelah itu, sungkup jagung yang telah disilangkan dengan menggunakan kertas atau sungkup. Jika hal tersebut sudah dilakukan, hal selanjutnya adalah memberi label dan dokumentasikan langkah-langkah hibridisasi dari awal hingga akhir.

 

 

4.1.3 Pengamatan Keberhasilan dan Kegagalan Persilangan

4.1.3.1 Persilangan yang dilakukan di lahan praktikum Jatikerto pada tanggal 15 April 2012

Tetua persilangan ∑ keberhasilan ∑ kegagalan Dokumentasi keberhasilan (1 bunga) Dokumentasi kegagalan (1 bunga)
    : putih

: ungu

 

 

3 15  

 

 

 

Tabel 7. Dokumentasi Hasil Persilangan Ubi jalar

 

Berdasarkan Persilangan yang dilakukan di lahan praktikum Jatikerto pada tanggal 15 April 2012, diperoleh jumlah keberhasilan sebanyak 3 bunga, dan mengalami kegagalan pada 15 bunga lainnya, hal ini terjadi bisa diakibatkan beberapa factor, antara lain tumbang sebelum waktunya, kondisi lingkungan yang kurang mendukung seperti hujan dan sebagainya serta pelbagai kemungkinan-kemungkinan lainnya.

 

4.1.3.2 Persilangan yang dilakukan di lahan praktikum BP pada tanggal 3 Mei 2012

Tetua persilangan ∑ keberhasilan ∑ kegagalan Dokumentasi keberhasilan (1 bunga) Dokumentasi kegagalan (1 bunga)
    : putih

: ungu

 

 

18 0  

 

 

 

Tabel 8. Dokumentasi Hasil Persilangan Pacar Air

 

Hasil persilangan yang dilakukan dilahan praktikum BP pada tanggal 3 Mei 2012 berbeda dengan persilangan ubi jalar di kebun jatikerto sebelumnya, dimana tingkat keberhasilan pacar air di lahan BP ini mencapai 100%. Ciri keberhasilan yang dapat diamati adalah munculnya biji yang terlihat hijau kecil dan tidak berwarna hitam serta tidak jatuh dari tangkai pada hasil persilangan bunga pacar air tersebut. Kemudian pada minggu berikutnya, biji tersebut mulai terlihat membesar dan berwarna hijau segar.

 

4.1.3.3 Persilangan yang dilakukan di lahan praktikum Ngijo pada tanggal 16 Mei 2012

Tetua persilangan ∑ keberhasilan ∑ kegagalan Dokumentasi keberhasilan (1 bunga) Dokumentasi kegagalan (1 bunga)
: jagung biasa

: jagung manis

 

 

0 2  

 

 

 

Tabel 9. Dokumentasi Hasil Persilangan Jagung

 

4.2 Pembahasan

4.2.1 Ubi Jalar

Pada persilangan ubi jalar, tidak semua hasil menunjukkan keberhasilan. Kegagalan tersebut disebabkan karena ada beberapa faktor yaitu factor dari manusianya sendiri (yang melakukan persilangan), putik yang tidak terbuahi dengan sempurna, pada saat melakukan emaskulasi terlalu lama untuk disungkup sehingga putik mengalami stress.

Emaskulasi bertujuan untuk menghindari terjadinya penyerbukan sendiri. Emaskulasi dilakukan dengan cara menggunting sepertiga bagian bunga jantan kemudian diambil serbuk sarinya. Hibridisasi dilakukan dengan cara menempelkan atau memasukan bunga jantan kedalam bunga betina tepat pada putik. Tujuan dari hibridisasi adalah menggabungkan dua sifat dari dua varietas tanaman ke dalam satu tubuh tanaman. Oleh karena itu, sifat tanaman hasil persilangan (F1) merupakan gabungan sifat diantara kedua tetuanya. Faktor lain yang harus diperhatikan dalam melakukan hibridisasi adalah lamanya daya hidup (viabilitas) serbuk sari.

Tetapi setelah melakukan pengamatan bahwa hibridisasi yang dilakukan adalah ada yang berhasil dan ada juga yang gagal. Pada persilangan ubi jalar, keberhasilan hibridisasi yang dilakukan dicirikan dengan kelopak bunga luruh atau layu dan munculnya bakal biji, sedangkan kegagalan hibridisasi yang dilakukan dicirikan dengan putik kering kemudian mati dan bakal biji yang kering, setelah itu akan rontok.

Pada persilangan jagung, keberhasilan persilangan dicirikan silk pada tongkol jagung berwarna coklat. Sedangkan kegagalan persilangan dicirikan silk yang berukuran panjang dan berwarna putih.

Untuk mengetahui berhasil atau tidaknya suatu hibridisasi, maka harus dilihat dari tanda-tandanya. Apabila hibridisasi yang dilakukan berhasil, maka dapat dilihat adanya pembengkakan dari bakal buah, kelopak bunga layu dan bakal buah tetap segar. Keberhasilan suatu persilangan buatan dapat dilihat kira-kira satu minggu setelah dilakukan penyerbukan. Jika petal mengering namun bakal buah tetap segar kemudian bakal buah membesar atau memanjang kemungkinan telah terjadi pembuahan. Sebaliknya, jika bunga yang gagal mengadakan fertilisasi biasanya gugur atau kepala putiknya terlihat layu dan bakal buah rontok.

(Syukur, 2009)

 

4.2.2 Jagung

Hasil pesilangan yang telah dilakukan dari 2 persilangan jagung didapatkan hasil persilangan yang gagal. Kegagalan tersebut mungkin disebabkan oleh proses persilangan yang pada tongkol betinanya tidak terbuahi secara optimal sehingga tongkol tidak dapat terbuahi. Sedangkan tanda keberhasilan hibridisasi jagung dicirikan oleh mulai membesarnya tongkol jagung serta rambut jagung berwarna merah kecoklatan dan rontok serta warna silk pada tongkol jagung memanjang.

Setelah dilakukan pengamatan pada 1 minggu setelah persilangan, didapatkan hasil bahwa pada kedua tanaman hasil dari persilangan adalah gagal. Hal tersebut dicirikan oleh munculnya rambut pada tongkol yang berwarna putih kekuning-kuningan dan sudah ada biji tongkol. Sedangkan tanda keberhasilan hibridisasi jagung dicirikan oleh mulai membesarnya tongkol jagung serta rambut jagung berwarna merah kecoklatan dan rontok.

(Syukur, 2009)

 

4.2.3 Pacar Air

Pada persilangan pacar air yang dilakukan berhasil. keberhasilan tersebut dicirikan dengan munculnya bakal biji. Sedangkan kegagalan persilangan dicirikan tangkai bakal biji kering dan akhirnya terjatuh. Keberhasilan tersebut disebabkan karena putik terbuahi dengan sempurna sehingga putik dapat tumbuh menjadi bakal biji. Keberhasilan persilangan pacar air mencapai 100% atau semua berhasil.

Pada persilangan bunga pacar air putih dan ungu ini, pemeriksaan keberhasilan persilangan dilakukan seminggu kemudian.

Jika calon buah mulai membesar dan tidak rontok maka kemungkinan telah terjadi pembuahan. Sebaliknya, jika calon buah tidak membesar atau rontok maka kemungkinan telah terjadi kegagalan pembuahan

(Subekti,2008).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5. PENUTUP

 

5.1 Kesimpulan

-       Keberhasilan hibridisasi yang dilakukan pada ubi jalar dicirikan dengan kelopak bunga luruh atau layu dan munculnya bakal biji, sedangkan kegagalan hibridisasi yang kami lakukan dicirikan dengan putik kering kemudian mati dan bakal biji yang kering, setelah itu akan rontok.

-          Hasil hibridisasi tanaman jagung, setelah dilakukan pengamatan pada 1 minggu setelah persilangan, didapatkan hasil bahwa pada kedua tanaman hasil dari persilangan adalah gagal. Hal tersebut dicirikan oleh munculnya rambut pada tongkol yang berwarna putih kekuning-kuningan dan panjang. Padahal jika hibridisasi pada jagung itu berhasil, ciri-ciri yang dapat diamati adalah rambut jagung berwarna merah kecoklatan dan rontok serta mulai membesarnya tongkol jagung.

-          Hasil hibridisasi pacar air, keberhasilan persilangan pacar air mencapai 75%, beberapa mengalami kegagalan. Faktor yang paling berpengaruh terhadap kegagalan ini adalah cuaca yang sering hujan. Hujan menyebabkan bunga rontok, ataupun air hujan masuk kedalam sungkup sehingga menyebabkan bunga membusuk.


DAFTAR PUSTAKA

Allard, R.W. 1988. Pemuliaan Tanaman. Jakarta: Bina Aksara. 336 halaman

Departemen Agronomi dan Hotikultura IPB. Bogor. 356 hal.

Mangoendidjojo, W. 2003. Dasar-dasar Pemuliaan Tanaman. Yogyakarta: Kanisius.

McCouch, S. 2004. Diversifying Selection in Plant Breeding. PLoS Biol 2(10): e347.

Rubatzky, V.E and M. Yamaguchi. 1998. World Vegetable . Bandung: ITB

Rukmana, Rahmat. 2007. Ubi Jalar Budidaya dan Pasca Panen. Yogyakarta: Kanisius.

Schlegel,Rolf. 2009. Encyclopedic Dictionary of Plant Breeding 2nd ed. (ISBN 9781439802427). USA: CRC Press, Boca Raton, FL. pp 584.

Subekti, N. A., Syafruddin., Roy Efendi dan Sri Sunarti. 2008. Morfologi Tanaman dan Fase Pertumbuhan Jagung. Balai Penelitian Tanaman serealia. Maros.

Sujiprihati dkk. 2008. Pemuliaan tanaman. Bagian Genetika dan Pemuliaan Tanaman.

Tanto. 2002. Pemuliaan Tanaman dengan Hibridisasi (Allogam).Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Warsono dan Sukirman. 2010. Teknik Penyilangan Galur Mandul jantan dan Pelestarian Galur Pemulih Kesuburan untuk Menghasilkan Padi hibrida.  Bogor: Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sketsa mading

 

 

LAPORAN KEANEKARAGAMAN TERONG

26 June 2012
  1. BAB I
  2. PENDAHULUAN

 1.1  Latar Belakang

Terong merupakan tanaman yang belum banyak diminati oleh warga masyarakat pada umumnya karena tanaman ini masih kalah produksi dibandingkan dengan sayur sayuran yang lain seperti wortel, sawi, maupun sayuran yang lainya. Dilihat dari produksinmya tanaman terong ini juga sangat kurang, hal ini dapat dilihat dari konsumsi atau permintaan masyarakat yang masih minim.

Terong merupakan tanaman sayuran yang sangat popular di Indonesia. Terong juga dapat tumbuh dimana-mana, baik di dataran rendah sampai dataran tinggi. Terjadinya keragaman terong itu sendiri disebabkan karena sebagian besar petani menggunakan benih dari hasil seleksinya sendiri. (Hastuti, 2007)

Saat ini pengembangan maupun keragaman tanaman terong di Indonesia masih rendah sehingga produksi untuk menghasilkan tanaman terong hibrida juga sedikit. Tanaman terong merupakan salah satu tanaman yang melakukan penyerbukan sendiri dan silang, jika tanaman terong dibiarkan menyerbuk sendiri, maka keragaman varietas yang dihasilkan sedikit. Apabila tanaman terong satu spesies dengan tanaman terong spesies lainnya disilangkan secara buatan, maka varietas yang dihasilkan akan lebih banyak keragamannya.

Penyeleksian keragaman suatu varietas tanaman diperlukan dalam menghasilkan dan membentuk tanaman yang hibrida, bahwa semakin tinggi keragaman yang dihasilkan maka semakin tinggi pula galur varietas hibrida yang diharapkan sehingga dapat menghasilkan tanaman yang berkualitas.

 

1.2  Tujuan

Pengamatan keragaman ditujukan untuk mengetahui dan menganlisis keragaman tanaman terong melalui karakterisasi kualitatif dan kuantitatif.

 

 BAB II

 TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Pengertian Keragaman

  • Keragaman mengandung arti perihal beragam-ragam, berjenis-jenis; perihal ragam; perihal jenis.

(Mangoendidjojo, 2003)

  • Keragaman adalah suatu titik perbedaan pada sebuah varietas.

(Rahadian,2009)

  • Diversity is a statistic intended to assess the diversity of any population in which each member belongs to a unique group, type or species.

Keragaman adalah sebuah statistik yang dimaksudkan untuk menilai keragaman setiap populasi di mana setiap anggota memiliki satu tipe, kelompok unik atau spesies.

(Sutoro, 2006)

  • Diversity is the state or quality of being different or varied.

Keragaman adalah suatu keadaan atau kualitas yang berbeda atau bervariasi.

(Lakitan, 2011)

 

2.2 Macam Keragaman

  1. Keragaman akibat faktor lingkungan

Keragaman karena pengaruh lingkungan sering dikatakan non-heritable variation. Adanya variasi tersebut tidak diwariskan kepada keturunannya. Misal, sepuluh tongkol jagung yang dipanen dari perlakuan yang berbeda.Lima tongkol berasal dari tanaman jagung yang dipupuk secara teratur dan yang lima lagi dari tanaman jagung yang kurang pupuk.  Jadi perbedaan kondisi lingkungan memberikan peluang munculnya variasi yang menentukan kenampakan akhir tanaman tersebut. Oleh karena itu, pemuliaan tanaman harus mengetahui faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh dan cara mengendalikannya agar program pemuliaan berhasil.

(Sunarto, 1997)

  1. Keragaman karena faktor genetik

Keragaman akibat faktor genetik dinamakan heritable variation, yaitu variasi yang diwariskan kepada keturunannya. Variasi ini dapat dilihat ketika kondisi lingkungan sama, namun timbul variasi, maka variasi tersebut merupakan variasi genetik karena berasal dari genotip individu pada populasi tersebut. Variasi ini diwariskan sehingga menjadi perhatian utama pemulia tanaman. Variasi genetik dapat terjadi akibat pencampuran material pemuliaan, rekombinasi genetik sebagai akibat adanya persilangan, mutasi, atau pun poliploidisasi.

(Wantoha, 2011)

  1. Keragaman fenotip

Keragaman fenotip yang disebabkan oleh keragaman genetik dan lingkungan secara bersamaan. Keragaman fenotip yang terjadi pada suatu populasi dapat   diketahui secara langsung perbedaannya, misalnya seperti warna bunga, warna daun,   bentuk biji, terdapatnya bulu pada batang.

(Wantoha, 2011)

 

2.3 Macam-Macam Karakterisasi

  1. Karakter kualitatif, karakter yang secara kualitatif berbeda sehingga mudah dikelompokkan dan biasanya dinyatakan dalam kategori. Contohnya: warna bunga,   warna daun, bentuk biji, terdapatnya bulu pada batang.
  2. Karakter kuantitatif, karakter yang variasinya dinyatakan dalam besaran kuantitatif   sehingga untuk membedakannya diperlukan pendekatan analisis data. Contohnya: tinggi tanaman, tingkat produksi, panjang malai.

(Rahadian,2009)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3. BAHAN DAN METODE

 

3.1 Alat, Bahan, dan Fungsi

Alat:

  • Buku panduan karakterisasi    : sebagai panduan
  • Kamera                                    : untuk dokumentasi
  • Alat tulis                                 : mencatat hasil pengamatan

 

Bahan:

  • Terong                                     : sebagai bahan tanam

 

3.2 Cara Kerja

 

Menyiapkan alat dan bahan

Mencari tempat atau daerah yang terdapat tanaman terong

Mengamati tanaman terong tersebut

Mengidentifikasi tanaman terong berdasarkan karakteristik tanaman tersebut

Mendokumentasikan tanaman terong yang telah diidentifikasi

Mencatat hasil pengamatan

 

 

 BAB IV

  HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1 Data hasil pengamatan

            Pengamatan keragaman tanaman terong dilakukan dengan mengakarkterisasi tanaman terong melalui kegiatan karakterisasi. Karakterisasi yang dilakukan meliputi karakterisasi secara kualitatif yang terdir dari warna bunga, warna buah,     ujung daun, dan permukaan daun serta lekukan tepi daun. Sedangkan berdasarkan karakterisasi kuantitatif terdiri dari ukuran buah, ukuran daun, dan jumlah bunga dalam satu tangkai.

 

Tabel 1. Karakteristik Kualitatif Terong

Karakteristik

Hijau bundar

Terong hijau panjang

Terong

Pipit

Terong ungu panjang

Terong ungu biasa

Warna bunga

 

Merah muda

Ungu

Putih

Ungu kemerahan

Ungu kebiruan

Warna buah

 

Hijau

Hijau

Hijau

ungu

Ungu

Ujung daun

 

Tumpul

Runcing

Sedang

Sedang

Runcing

Permukaan daun

 

Agak kasar

Berbulu halus

Kasar

Berbulu halus

Berbulu halus

Lekukan tepi daun

 

Sedang

Sedang

Kuat

Sedang

Sedang

 

Berdasarkan pengamatan karakteristik terong didapat bahwa pada terong hijau bundar warna bunga merah muda, pada terong hijau panjang warna bunganya ungu, pada terong pipit warna bunganya putih, pada terong ungu pangjang warna bunganya ungu kemerahan, dan pada terong ungu biasa warna bunga ungu kebiruan. Berdasarkan warna buah, pada terong hijau bundar, terong hijau panjang, dan terong pipit berwarna hijau sedangkan pada terong ungu dan terong biasa berwarna ungu.

Berdasarkan karakterisasi ujung daun, pada terong hijau panjang dan terong ungu biasa mempunyai ujung daun runcing. Pada terong pipit dan terong ungu panjang mempunyai ujung daun sedang. Sedangkan pada terong hijau bundar mempunyai ujung daun tumpul.

Berdasarkan permukaan daun, pada terong hijau panjang, terong panjang dan terong ungu biasa mempunyai permukaan daun berbulu halus. Pada terong hijau bundar mempunyai permukaan daun agak kasar. Pada terong pipit mempunyai permukaan kasar.

Berdasarkan lekukan tepi, pada terong hijau bundar, terong hijau panjang, ungu panjang dan ungu biasa mempunyai lekukan tepi sedang. Pada terong pipit mempunyai lekukan tepi daun kuat.

 

Tabel 2. Karakteristik Kuantitatif Terong

Karakteristik

Hijau bundar

Terong hijau panjang

Terong

Pipit

Terong ungu panjang

Terong ungu biasa

Ukuran buah

 

Bulat sedang

Panjang

Bulat kecil

panjang

Panjang melengkung

Ukuran daun

 

Besar

Besar

Sedang

Sedang

Kecil – sedang

Jumlah bunga dalam satu tangkai

 

Satu

Satu

Lebih dari tiga

Satu

Satu

 

4.2 Pembahasan Hasil Pengamatan dan Dokumentasi

            Berdasarkan hasil pengamatan, didapatkan 5 varietas terong diantaranya adalah terong hijau bundar, terong hijau panjang, terong pipit atau terong pokak, terong ungu panjang, dan terong ungu biasa. Dari masing-masing terong tersebut terdapat ciri dan karakteristiknya.

Berdasarkan dokumentasi yang diperoleh: setiap terong memiliki warna bunga yang khas, ketika bunga tersebut berkembang menjadi buah, warnanya berubah menjadi warna yang berbeda, mungkin karena perubahan ini dipengaruhi oleh sifat gen pada terong tersebut.

Dilihat dari karakteristik jumlah bunga dalam satu tangkai, pada terong ini berjumlah satu bunga, hal ini akan mempengaruhi ukuran buah. Menurut gambar yang diperoleh semakin sedikit bunga yang dihasilkan semakin besar pula ukuran buah yang diperoleh yaitu dimana hasil fotosintesis disimpan secara maksimal dalam satu buah tanpa membagi hasil fotosintat ke buah yang lainnya.

Pada umumnya ujung daun, permukaan daun, ukuran daun dan lekukan tepi daun berguna untuk proses fotosintesis yaitu semakin besar penampang daun semakin besar juga reaksi fotosintesis yang dihasilkan. Ujung daun dan ukuran daun dapat mempengaruhi kualitas ukuran buah karena daun merupakan proses pertama fotosintesis yang menghasilkan fotosintat dan salah satunya pada buah terong ini.

Hasil identifikasi terong hijau bundar, didapatkan data warna bunga merah muda, buahnya berbentuk bulat sedang, daun berukuran besar dengan permukaan agak kasar, ujung daun tumpul, dan lekukan tepinya sedang, serta jumlah bunga dalam satu tangkai sebanyak satu.

Pada terong hijau panjang, didapatkan data bahwa bunganya berwarna ungu, buah berwarna hijau, buah berukuran panjang, daun berukuran besar dengan permukaan berbulu halus, berujung runcing, dan lekukannya sedang, serta jumlah bunga dalam satu tangkai adalah satu.

Pada terong ungu panjang, hasil identifikasi yang didapat adalah bunganya berwarna ungu kemerahan, buahnya berwarna ungu, buahnya panjang, daun berukuran sedang dengan permukaan berbulu halus, berlekuk tepi sedang, berujung tepi sedang, dan jumlah unga dalam satu tangkai sebanyak satu.

Bunga terong ungu biasa berwarna ungu kebiruan, dengan warna buah ungu, dan buahnya panjang melengkung. Daun terong ungu biasa berukuran kecil sampai sedang, dengan permukaan berbulu halus, daun berlekuk sedang dan serta daun berujung runcing.

Beberapa varietas tersebut, yang paling berbeda adalah terong pokak atau terong pipit dengan karakteristik warna bunga terong putih, warna buah hijau, ukuran dan bentuk buah kecil dan bundar (bulat), ukuran daun sedang dengan permukaan kasar, lekukan tepi kuat, dan ujungnya sedang. Jumlah bunga dalam satu tangkai adalah lebih dari tiga, sehingga memungkinkan buah terong pipit atau pokak nantinya dalam satu tangkai juga lebih dari tiga.

Berdasarkan keterangan beberapa ciri-ciri atau karakteristik dari beberapa varietas terong dapat diketahui bahwa banyaknya variasi buah terong sebagian besar hanya terdapat pada variasi bentuk, ukuran maupun warna kulit. Dari segi bentuk ada yang bulat, ada yang kecil, ada yang panjang hingga melengkung. Ukuran buahnya dari kecil, sedang hingga panjang. Selain itu, warna kulit buah umumnya ungu, hijau, atau hijau keputih-putihan.

(Hastuti, 2000)

BAB V

PENUTUP

 

5.1 Kesimpulan Hasil Praktikum

- Pengamatan keragaman terong di dapatkan 5 jenis terong antara lain terong hijau bundar, terong hijau panjang, terong pipit, terong ungu panjang dan terong ungu biasa.

- Setiap jenis terong yang diamati memilki perbedaan, terutama pada bentuk buah, ukuran buah dan warna buah.

- keragaman fenotip terong dapat diamati pada semua wilayah pengamatan seperti terong hijau panjang dan terong ungu biasa, selain keragaman fenotip yang ada, keragaman berdasarkan faktor lingkungan juga mempengaruhi adanya keragaman terong tersebut karena pertumbuhan terong tersebut telah tumbuh baik pada wilayah tertentu, seperti terong hijau bundar yang dapat tumbuh baik di daerah Tulungagung.

- keragaman tinggi dikarenakan sifat menyerbuk silang dari beberapa varietas terong serta intraksinya dengan lingkungan tumbuh

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Hastuti, Liana Dwi Sri. 2007. Terung-Tinjauan Langsung ke Beberapa Pasar di Kota Bogor. USU Repository.

Lakitan, B. 2011. Dasar – Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Rajawah Press.

Mangoendidjojo, M. 2003. Dasar-Dasar Pemuliaan. Yogyakarta: Kanisius.

Rahadian, Putri DK. 2009. Pendidikan IPA. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Sunarto. 1997. Pemuliaan Tanaman. Semarang: IKIP Semarang Press. 52 halaman.

Sutoro,dkk. 2006. Parameter Genetik Jagung Populasi Bisma pada Pemupukan Berbeda. I.Ragam Aditif-Dominan Bobot Biji Jagung. Jurnal AgroBiogen 2(2):60-67.

LAPORAN POLA TANAM

26 June 2012

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang

Sektor pertanian di indonesia memang bisa dikatakan cukup luas, hal ini dapat dibuktikan dengan terdapatnya lahan-lahan pertanian yang terletak di berbagai tempat, oleh sebab itu rata-rata penduduk indonesia berprofesi sebagai petani. Dalam hal ini tentu tujuan utama mereka melakukan tanam adalah untuk memperoleh hasil yang maksimal supaya dapat memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari dengan menggunakan hasil mereka dari bekerja. Untuk menghasilkhan hasil yang maksimal maka salah satu faktor yang harus di perhatikan adalah pola tanam. Pelaksanaan pola tanam juga harus mengkondisikan tempat/lokasi dimana tanaman itu akan tumbuh nantinya.

Pola tanam yang paling banyak di gunakan adalah sistim monokultur, sedang Monokultur adalah salah satu cara budidaya di lahan pertanian dengan menanam satu jenis tanaman pada satu areal. Monokultur menjadikan penggunaan lahan efisien karena memungkinkan perawatan dan pemanenan secara cepat dengan bantuan mesin pertanian dan menekan biaya tenaga kerja karena wajah lahan menjadi seragam. Selain itu ada juga faktor yang harus diperhatikan lagi, yakni sifat fisika maupun kimia dari tanah tersebut. Dengan memperhatikan faktor-faktor yang ada maka pelaksanaan pola tanam tentu akan mempunyai hasil yang baik dan nantinya akan berdampak pada hasil ahir dari tanaman tersebut.

 

1.2  Tujuan
• Untuk mengetahui pengertian dari pola tanam
• Untuk mengetahui potensi dan dampak pengenbangan pola tanam
• Untuk mengetahui macam-macam sistem pola tanam

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian tanam

  • tanam adalah menempatkan bahan tanam berupa benih atau bibit pada media tanam baik media tanah maupun media bukan tanah dalam suatu bentuk pola tanam.  (Musyafa, 2011)
  • melakukan pekerjaan tanam-menanam: petani daerah ini umumnya. (Anonymous, 2012)

 

2.2 Pengertian Pola tanam

  • Pola tanam atau (cropping patten) iyalah suatu urutan pertanaman pada sebidang tanah selama satu periode. Lahan yang dimaksut bisa berupa lahan kosong atau lahan yang sudah terdapat tanaman yang mampu dilakukan tumpang sirih. (saiful anwar, 2011)
  • Pola tanam adalah usaha yang dilakukan dengan melaksanakan penanaman pada sebidang lahan dengan mengatur susunan tata letak dari tanaman dan tata urutan tanaman selama periode waktu tertentu, termasuk masa pengolahan tanah dan masa tidak ditanami selama periode tertentu. (Musyafa’,2011)

2.3 Faktor yang mempengaruhi pola tanam :

1. Ketersediaan air dalam satu tahun
2. Prasarana yang tersedia dalam lahan tersebut
3. Jenis tanah setempat
4. Kondisi umum daerah tersebut, misal genangan
5. Kebiasaan dan kemampuan petani setempat      (Wirosoedarmo, 1985)

2.4 Macam-Macam Pola Tanam

Pola penanaman dapat dengan dua sistem yaitu sistem monokultur dan polikultur. Monokultur adalah penanaman satu jenis tanaman pada lahan dan waktu penanaman yang sama. Sedangkan polikultur adalah penanaman lebih dari satu jenis tanaman pada lahan dan waktu yang sama.

Dalam pola tanam polikultur terdapat beberapa macam istilah dari sistem ini, yang mana pengertiannya sama yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada lahan yang sama tetapi alasan dan tujuannya yang berbeda, yaitu :

  1. Tumpang Campuran yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada satu lahan dan  dalam waktu yang sama dan umumnya bertujuan mengurangi hama penyakit dari jenis tanaman yang satu atau pendampingnya.
  2. Tumpang Sari yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada satu lahan dan dalam waktu yang sama dengan barisan-barisan teratur.
  3. Tumpang Gilir yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada satu lahan yang sama selama satu tahun untuk memperoleh lebih dari satu hasil panen.
  4. Tanaman Pendamping yaitu penanaman dalam satu bedeng ditanam lebih dari satu tanaman sebagai pendamping jenis tanaman lainnya yang bertujuan untuk saling melengkapi dalam kebutuhan fisik dan unsur hara.
  5. Penanaman Lorong yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada suatu lahan dengan penanaman tanaman berumur pendek diantara larikan atau lorong tanaman berumur panjang atau tanaman tahunan.
  6. Pergiliran atau Rotasi Tanaman yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman yang tidak sefamili secara bergilir pada satu lahan yang bertujuan untuk memutuskan siklus hidup hama penyakit tanaman. (Wirosoedarmo, 1985)

 

2.5 Macam-macam Sistem pola tanam tumpang sari

Penggolongan sistem pola tanam tumpangsari antara lain :

1. Mixed Cropping merupakan penanaman jenis tanaman campuran yang ditanam dilahan yang sama, pada waktu yang sama atau dengan jarak/interval waktu tanam yang singkat, dengan pengaturan jarak tanam yang sudah ditetapkan dan populasi didalamnya sudah tersusun rapi. Kegunaan sistem ini dalam substansi pertanian adalah untuk mengatur lingkungan yang tidak stabil dan lahan yang sangat variable, dengan penerapan sistem ini maka dapat melawan/menekan terhadap kegagalan panen total. Pada lingkungan yang lebih stabil dan baik total hasil yang diperoleh lebih tinggi pada lahan tersebut, sebab sumber daya yang tersedia seperti cahaya, unsur hara, nutrisi tanah dan air lebih efektif dalam penggunaannya.

2. Relay Cropping merupakan sistem pola tanam dengan penanaman dua atau lebih tanaman tahunan. Dimana tanaman yang mempunyai umur berbuah lebih panjang ditanam pada penanaman pertama, sedang tanaman yang ke-2 ditanam setelah tanaman yang pertama telah berkembang atau mendekati panen. Kegunaan dari sistem ini yaitu pada tanaman yang ke dua dapat melindungi lahan yang mudah longsor dari hujan sampai selesai panen pada tahun itu.

3. Strip Cropping/Inter Cropping adalah sistem format pola tanam dengan penanaman secara pola baris sejajar rapi dan konservasi tanah dimana pengaturan jarak tanamnya sudah ditetapkan dan pada format satu baris terdiri dari satu jenis tanaman dari berbagai jenis tanaman. Kegunaan sistem ini yaitu biasanya digunakan pada tanaman yang mempunyai umur berbuah lebih pendek, sehingga dalam penggolahan tanah tidak sampai membongkar lapisan tanah yang paling bawah/bedrock, sehingga dapat menekan penggunaan waktu tanam.

4. Multiple Cropping merupakan sistem pola tanam yang mengarahkan pada peningkatan produktivitas lahan dan melindungi lahan dari erosi. Teknik ini melibatkan tanaman percontohan, dimana dalam satu lahan tumbuh dua atau lebih tanaman budidaya yang mempunyai umur sama serta pertumbuhan dari tanaman tersebut berada pada lahan dan waktu tanam yang sama, dalam satu baris tanaman terdapat dua atau lebih jenis tanaman (Romulo A. del Castillo, 1994).

2.6 Kelebihan dan kekurangan monokultur

Monokultur menjadikan penggunaan lahan efisien karena memungkinkan perawatan dan pemanenan secara cepat dengan bantuan mesin pertanian dan menekan biaya tenaga kerja karena wajah lahan menjadi seragam. Kelemahan utamanya adalah keseragaman kultivar mempercepat penyebaran organisme pengganggu tanaman (OPT, seperti hama dan penyakit tanaman). (Wirosoedarmo, 1985)

2.7 Kelebihan dan kekurangan polikultur

Pada sistem polikultur ini akan memberikan bermacam keuntungan, diantaranya adalah :

  • Dapat menambah kesuburan tanah. Menanam tanaman kacang-kacangan berdampingan dengan tanaman jenis lainnya dapat menambah kandungan unsur Nitrogen dalam tanah karena pada bintil akar kacang-kacangan menempel bakteri Rhizobium yang dapat mengikat Nitrogen dari udara. Dan menanam secara berdampingan tanaman yang perakarannya berbeda dapat membuat tanah menjadi gembur.
  • Meminimalkan hama dan penyakit tanaman. Sistem polikultur dibarengi dengan rotasi tanaman dapat memutuskan siklus hidup hama dan penyakit tanaman. Menanam tanaman secara berdampingan dapat mengurangi hama penyakit tanaman salah satu pendampingnya, misalnya : bawang daun yang mengeluarkan baunya dapat mengusir hama ulat pada tanaman kol atau kubis.
  • Mendapat hasil panen beragam yang menguntungkan. Menanam dengan lebih dari satu tanaman tentu menghasilkan panen lebih dari satu atau beragam tanaman. Pemilihan ragam tanaman yang tepat dapat menguntungkan karena jika satu jenis tanaman memiliki nilai harga rendah dapat ditutupi oleh nilai harga tanaman pendamping lainnya.

Sistem penanaman polikultur juga memiliki kekurangan terutama jika tidak sesuai dengan pemilihan jenis tanaman, diantaranya adalah :

  • Persaingan antara tanaman dalam menghisap unsur hara dalam tanah.
  • Dengan beragam jenis tanam maka hama penyakit juga semakin banyak atau beragam.
  • Pertumbuhan tanaman akan saling menghambat.               (Harjadi, 1979)

2.7 Starat yang Harus diperhatikan dalam pola tanam.

1. Tanah

Kondisi tanah harus diatur agar fungsi tanah dapat berperan sebagaimana mestinya. Karena peranan tanah yang sangat penting, maka kondisi tanah harus benar-benar dijaga dengan cara pengolahan tanah yang baik. Yang mana tujuan dari pengolahan tanah itu sendiri antara lain:

-          Mengetahui suhu, peredaran air dan udara dalam tanah

-          Meningkatkan sifat fisik tanah

-          Mempermudah penggunaan obat-obatan dan pupuk dalam tanah.

2. Jenis tanaman yang diusahakan

Setiap jenis tanaman memiliki cara penanaman yang berbeda-beda. Ada jenis tanaman yang bijinya di tanam langsung, ada juga yang disemaikan terlebih dahulu sebelum ditanam di lapang.

3. Bahan Tanam yang Digunakan

Bahan tana menentukan cara menanam dan pertumbuhan tanaman, baik biji atau dengan stek dan lain sebagainya.

4. Musim dan Waktu Tanam

Tanaman harus di tanam di musim yang tepat. Tanaman yang ditanam pada musim yang tidak tepat pertumbuhannya akan lambat atau mudah terserang serangan hama atau penyakit sehingga produksinya akan berkurang. Tiap tanaman memiliki waktu tanam yang berbeda ada yang baik di tanam pada musim hujan, kemarau dan akhir musim hujan atau akhir musim kemarau. (Harjadi, 1979)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI

3.1  Alat dan bahan

±  Alat  :                                        ±  Bahan  :

-          Tugal                                       – Benih jagung

-          Pancong                                  – Pupuk urea , SP36 dan KCl

-          Tali raffia

-          Gembor

-          Cangkul

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Tinggi Tanaman

Minggu ke-

Petak 1

rata-rata

/min-ggu

Sampel 1

Sampel 2

Sampel 3

Sampel 4

Sampel 5

Sampel 6

A

B

A

B

A

B

A

B

A

B

A

B

4

32

19

35

22

28

24

21

18

26

21

27

26

24,9

5

56

38

63

49

54

53

62

56

61

48

60

59

54,9

6

82

56

105

78

84

83

100

87

95

83

98

94

87

7

85

73

155

122

136

135

145

130

122

98

136

134

122,6

8

96

75

195

170

182

167

186

168

140

213

192

182

163,9

 

Minggu ke-

Petak 2

Rata-rata

Sampel 1

Sampel 2

Sampel 3

Sampel 4

Sampel 5

Sampel 6

A

B

A

B

A

B

A

B

A

B

A

B

4

25

18

22

21

28

23

26

29

33

32

29

27

26

5

59

42

51

36

60

57

58

66

68

53

58

44

54,3

6

78

70

86

69

89

79

99

95

102

95

75

mati

78

7

132

124

126

112

140

120

130

116

147

120

110

mati

114,7

8

186

175

168

146

158

150

173

164

190

156

156

mati

151,9

 

Minggu ke-

Petak 3

Rata-rata

Sampel 1

Sampel 2

Sampel 3

Sampel 4

Sampel 5

Sampel 6

A

B

A

B

A

B

A

B

A

B

A

B

4

25

24

25

15

26

Mati

13

29

23

25

25

35

22

5

55

39

51

31

60

Mati

25

60

46

48

47

60

43,5

6

82

71

81

61

93

Mati

49

89

71

77

78

89

70,0

7

111

102

130

87

143

Mati

70

105

104

116

108

135

100,9

8

180

160

127

102

197

Mati

181

110

162

135

169

159

140,1

 

 

4.1.2 jumlah daun (rata2 tiap minggu)

Minggu ke-

Petak 1

Rata-rata /minggu

Sampel 1

Sampel 2

Sampel 3

Sampel 4

Sampel 5

Sampel 6

A

B

A

B

A

B

A

B

A

B

A

B

4

6

5

5

5

5

4

6

5

5

4

5

5

5

5

6

6

6

6

7

4

8

5

6

4

6

6

5,83

6

9

8

11

8

9

9

9

8

9

9

10

10

9,08

7

4

4

11

8

7

9

9

8

11

10

9

8

8,17

8

5

6

13

8

11

10

10

8

11

9

10

10

9,25

 

Minggu ke-

Petak 2

Rata-rata /minggu

Sampel 1

Sampel 2

Sampel 3

Sampel 4

Sampel 5

Sampel 6

A

B

A

B

A

B

A

B

A

B

A

B

4

5

4

5

4

6

4

6

6

6

6

5

5

4,75

5

6

5

7

6

7

6

4

7

7

7

6

4

6

6

9

8

10

9

9

9

8

10

7

8

7

mati

7,8

7

7

7

7

6

6

5

6

6

6

5

6

mati

5,58

8

8

8

9

9

8

8

9

9

10

8

8

mati

7,83

 

Minggu ke-

Petak 1

Rata-rata

Sampel 1

Sampel 2

Sampel 3

Sampel 4

Sampel 5

Sampel 6

A

B

A

B

A

B

A

B

A

B

A

B

4

4

4

6

3

5

mati

3

5

4

5

5

5

4,45

5

6

5

9

2

8

mati

5

7

6

8

7

6

6,27

6

8

7

7

6

11

mati

5

10

7

7

9

7

7

7

9

7

7

6

10

mati

5

9

6

6

6

7

6,5

8

8

8

8

7

11

mati

10

5

7

7

8

8

7,9

 

 

 

 

4.1.3 jumlah tongkol

Didapat saat jagung pada minggu ke-9

Petak 1

Sampel 1

0

Sampel 4

2

Sampel 2

2

Sampel 5

1

Sampel 3

2

Sampel 6

2

Petak 2

Sampel 1

2

Sampel 4

1

Sampel 2

1

Sampel 5

2

Sampel 3

0

Sampel 6

1

Petak 3

Sampel 1

2

Sampel 4

1

Sampel 2

0

Sampel 5

0

Sampel 3

1

Sampel 6

0

 

4.1.4 saat muncul x malai

Berdasarkan hasil pengamatan malai jagung mulai terlihat pada minggu ke-7, apalagi pada minggu ke-8 sudah terlihat bunga yang mekar, bahkan sudah bertongkol  yakni pada sampel 3B dan 2A dalam petak 1. Sehingga pada minggu ke-9 kita dapat menghitung jumlah tongkol disetiap sampel pada masing-masing petak.

4.1.5 Bobot tongkol jagung pertanaman

Berat tongkol

PETAK 1

Sampel 1

Sampel 2

Sampel 3

Sampel 4

Sampel 5

Sampel 6

Dg klobot   150 400 250 350 300 75 350 350 160 100 400 300 275
Tanpa klobot   11 300 150 260 240 50 225 200 100 40 300 200 190
Berat tongkol

PETAK 2

Sampel 1

Sampel 2

Sampel 3

Sampel 4

Sampel 5

Sampel 6

Dg klobot 230 300 110 350 125 160 160 110 300 150 200 50
Tanpa klobot 150 200 90 220 60 110 160 75 200 100 150 20

 

Berat tongkol

PETAK 3

Sampel 1

Sampel 2

Sampel 3

Sampel 4

Sampel 5

Sampel 6

Dg klobot

300

200

50

350

250

50

50

100

75

Tanpa klobot

200

150

25

300

200

25

25

25

50

4.1.6 Bobot jagung per petak

  • Jumlah berat tongkol pada petak 1 :
    1. Dengan klobot        = 3.460 gr

2. Tanpa klobot           = 2.266 gr

  • Jumlah berat tongkol pada petak 2 :
    1. Dengan klobot        = 2.245 gr

2. Tanpa klobot           = 1.535 gr

  • Jumlah berat tongkol pada petak 3 :
    1. Dengan klobot        = 1.425 gr

2. Tanpa klobot           = 1000  gr

4.1.7 Konversi per hektar (10.000 m2)

Luas lahan seluruhnya = 3,5 m x 21 m

= 73,5 m2

= 7,35 x 10-3 ha

Jika 7,35 x 10-3 ha à 57,3 kg (dengan klobot dari seluruh tanaman)

Maka 1 ha à x kg

X =  = 7796 kg = 7,8 ton

 

4.1.8 Data kelompok lain (yang sama jenis pola tanamnya, namun berbeda perlakuan pemberian pupuk dasar)  terlampir

 

4.2  Pembahasan

4.2.1        Tinggi tanaman

Minggu ke-4

Rata-rata tinggi tanaman =  =  = 25,06 cm

Minggu ke-5

Rata-rata tinggi tanaman =  =  = 52,37 cm

Minggu ke-6

Rata-rata tinggi tanaman =  =  = 80,65 cm

Minggu ke-7

Rata-rata tinggi tanaman =  =  = 117,37 cm

Minggu ke-8

Rata-rata tinggi tanaman =  =  = 155,71 cm

        Pada tinggi tanaman terlihat bahwa pada patak 1 dari masing-masing sampel mulai dari 1 sampai 6 terlihat pertumbuhan tinggi tanaman jagung A terus meningkat dengan nilai presentase yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman jagung B, dalam perkembangannya menunjukkan hasil yang selalu meningkat sampai dengan minggu ke-8, ditunjukkan juga dengan nilai rata-rata tinggi tanaman yang setiap minggu mengalami kenaikan mulai dari 24,9 – 54,9 – 87 – 122,6 dan pada minggu ke 8 mencapai 163,9.

Kemudian pada petak 2, tidak jauh berbeda dengan petak ke 1. Jadi setiap hari perkembangan pertumbuhan tinggi tanaman jagung semakin meningkat hingga 190 m (tanaman jagung paling tinggi pada sampel 5) tetapi pada sampel ke-6 pada tanaman B mulai minggu ke-6 sampai minggu ke-8 mati.

Selanjutnya pada petak ke 3, terlihat bahwa mulai minggu ke 4 sampai minggu ke 8 mengalami kenaikan tinggi tanaman tetapi berbeda dengan sampel ke 3 yang tanaman B, terlihat tumbuhan itu mati dari minggu ke-4 dan seterusnya, dilhat dari kondisinya memang dari awal tanaman jagung ini tidak mengalami pertumbuhan sama-sekali jadi hanya satu biji jagung yang tumbuh di sampel 3 ini.

 

4.2.2        Jumlah daun

Mingu ke-4

Rata-rata jumlah daun =  =  = 4,88 daun = 5 daun

Minggu ke-5

Rata-rata jumlah daun =  =  = 6,03 daun = 6 daun

Minggu ke-6

Rata-rata jumlah daun =  =  = 8,44 daun = 8 daun

Minggu ke-7

Rata-rata jumlah daun =  =  = 7,14 daun = 7 daun

Minggu ke-8

Rata-rata jumlah daun =  =  = 8,6 daun = 9 daun

Pada tanaman jagung yang kita tanam di Ngijo, sesuai dengan tabel di atas terlihat jumlah daun yang paling banyak ada pada minggu ke-8, memang pada sebelumnya dapat dilihat bahwa terjadi penurunan jumlah daun dari minggu ke 6 ke minggu 7 dengan presentase yang awalnya 9,08 menjadi 8,17, penurunan ini sangat menonjol di sampel 1 baik tanaman jagung A maupun B jumlah daun berkurang, begitu juga di sampel 3 dan sampel 6, hal ini terjadi sebab memang ada daun yang mati dari tangkainya sehingga tidak terhitung pada minggu ke 7.

Kemudian untuk petak 2 dari minggu ke 4 sampai minggu ke 6 terlihat mengalami kenaikan baru ketika minggu ke 7 mengalami penurunan dengan rata-rata jumlah daun yang awalnya 7,8 menjadi 5,58 dan ketika minggu ke 8 kembali mengalami kenaikan bahkan diminggu ke 8 memiliki rata-rata daun tertinggi yakni 7,83. Untuk jumlah daun yang ada dipetak 3, terlihat tidak ada penurunan, jadi mulai minggu ke 4 sampai minggu ke 8 terus mengalami peningkatan jumlah daun, pada tabel terlihat untuk sampel 4 yang B , dinyatakan mati karena memang dari awal sudah tidak ada pertumbuhan jagung, jadi di sampel 3 itu hanya ada satu yang tumbuh.

4.2.3 Perbandingan dengan kelompok lain

  1. a.      Jumlah tongkol

Dengan melihat perbandingan yang ada :

  1. Data monokultur jagung milik kelompok lain

Data ini diambil dari kelas agribisnis yang menyatakan bahwa tongkol jagung ini dapat diamati ketika mulai minggu ke 9, dengan total tongkol jagung 9 buah, berbeda dengan kelompok kami yang menyatakan bahwa tongkol yang kita amati pada minggu ke 9 terhitung sebanyak 20 buah.

  1. Data jagung dengan pola tanam tumpang sari

Data ini kami ambil saya ambil dari kelas M yang menyatakan bahwa jumlah tongkol jagung juga hanya 10 buah pada minggu ke 9, beda lagi dengan kelompok kami yang sudah dapat diamati sebanyak 20 buah. Hali ini mugkin saja terjadi sebab dalam pola tanam tumpang sari disitu terdapat persaingan unsure hara juga cahaya matahari dan factor pertumbuhan yang lainyya sehingga menimbulkan perbedaan banyaknya tongkol yang ada di lahan.

  1. b.      saat muncul x malai

Dengan melihat perbandingan yang ada :

  1. Data monokultur jagung milik kelompok lain

Berdasarkan data yang saya dapat dari kelas agribisnis ini, terlihat bahwa malai jagung tumbuh pada hari-hari di miggu ke 9 (tepatnya akhir hari pada inggu ke 9) , begitupun dengan jagung kami muncul malai juga ketika akhir-akhir hari pada minggu ke 9, Cuma yang berbeda adalah jumlah malai di kelompok kami lebih banyak.

  1. Data jagung dengan pola tanam tumpang sari

Berdasarkan data yang kami peroleh dari kelompok ini dapat dinyatakan bahwa saat munculnya malai juga sama seperti pada pola tanam jagung monokultur, jadi pada saat minggu ke 9 atau pada bulan ke 3 akhir malai jagung di lahan tumpang sari ini tumbuh, dan lagi-lagi yang membedakan hanyalah banyaknya malai saja.

  1. c.       bobot tongkol jagung pertanaman

Melihat data dari kelompok dengan pola tanam tumpang sari bobot tongkol jagung dengan klobot menyatakan rata-rata kurang lebih 200 gr dari masing-masing sampel jagung yang diambil dan saya lihat sepertinya setiap satu tanamn jagung dari masing-masing sampel hanya 1 tongkol jagung, dalam artian dalam satu sampel hanya 1 tanaman jagung yg menghasilkan tongkol itupun hanya 1, berbeda dengan milik kelompok kami yang mana pada bobot tongkol jagung dengan klobot rata-rata kurang lebih 350 dan itu setiap sampel disa ditemukan 3 tongkol.

Kemudian berat jagung jika dihitung tanpa klobot, rata-rata dari kelompok yang memakai pola tanam tumpang sari adalah sekitar 120 gram, sedangkan pada kelmpok kami rata-rata bobot jagungnya adalah sekitar 200 gram.

  1. d.      bobot jagung per petak

Kemudian dari bobot jagung per petak sudah dapat dilihat dari penjelasan point c, jadi dengan presentase banyaknya tongkol jagung yang ada pada lahan monokultur kami dan bobot yang lebih tinggi juga dari kelompok tumpang sari, dapat dijelaskan bahwa bobotnya lebih tinggi kelompok jagung dengan pola tanan monokultur, dengan perincian:

 

Pada lahan monokultur =

  • Jumlah berat tongkol pada petak 1 :
    1. Dengan klobot        = 3.460 gr

2. Tanpa klobot           = 2.266 gr

  • Jumlah berat tongkol pada petak 2 :
    1. Dengan klobot        = 2.245 gr

2. Tanpa klobot           = 1.535 gr

  • Jumlah berat tongkol pada petak 3 :
    1. Dengan klobot        = 1.425 gr

2. Tanpa klobot           = 1000  gr

Pada lahan  tumpang sari =

  • Jumlah berat tongkol pada petak 1 :
    1. Dengan klobot        = 860 gr

2. Tanpa klobot           = 595 gr

  • Jumlah berat tongkol pada petak 2 :
    1. Dengan klobot        = 955 gr

2. Tanpa klobot           = 725 gr

  • Jumlah berat tongkol pada petak 3 :
    1. Dengan klobot        = 470 gr

2. Tanpa klobot           = 280  gr

 

  1. e.       konversi per hektar

Konversi per hektar pada lahan kami:

Luas lahan seluruhnya = 3,5 m x 21 m

= 73,5 m2

= 7,35 x 10-3 ha

Jika 7,35 x 10-3 ha à 57,3 kg (dengan klobot)

Maka 1 ha à x kg

X =  = 7796 kg = 7,8 ton

 

Kelompok lain:

 

         X =  = 7199 kg = 7,2 ton

Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa lahan yang dapat menghasilkan jagung paling bayak adalah kelompok kami.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Pada praktikum Dasar Budidaya tanaman ini kami menaman jagung dengan pola tanam monoultur di lahan Ngijo milik Universitas brawijaya, setelah kami tanam bibit jagung itu dan mengamati pertumbuhan hingga saatnya panen pada minggu ke 10, dan dengan perbandingan dari kelompok lain,  dapat disimpulkan bahwa system monokultur jagung menghasilkan hasil yang banyak dari pada system tumpang sari dari kelas M, dengan data yang tertulis mulai dari jumlah tongkol sampai bobot tongkol enunjukkan angka yang tinggi pada jagung yang di tanam dengan monokultur, Hal ini bias saja dikarenakan pada system tumpang sari terjadi persaingan unsur hara, cahaya matahari yang tinggi atau mungkin karena faktr yang lain misalnya kebutuhan air yang kurang dan kondisi tanah pada lahan yang bagian bawah di lahan Ngijo tersebut lebih baik dari pada yang bagian atas, misal aerasi, pengairan, drainase dan lain sebagainya.

5.2 Saran

Mohon pada praktikum Dasar Budidaya Selanjutnya, format laporan sudah ditempel langsung setelah praktikum selesae (jauh-jauh hari) karena apa, seperti ini sangat-sangat berat apalagi laporannya banyak sekali sub bab.

Penambahan kesan sedikit dari saya, dimana saya punya kesan yang amat lucu ketika praktikum Dasar Budidaya Tanaman ini waktu di Ngijo mulai dari kebersamaan buat membersihkan gulma, Friska yang lagi ultah waktu itu, asisten yang lucu sampai si Anto yang kejebur di pengairan irigasi lahan. Tertawa ngakak_ heheheheeee

Dan yang paling membuat saya kaget dan kagum waktu itu adalah ketika jagung yang sudah siap dipanen terlihat begitu besar dan bahkan ada yang satu tongkol sudah tua itu terlihat kayak ada malai lagi yang muncul di tongkol tua itu, baru kali ini memiliki rasa senang dan bangga dengan hasil pertanaman sendiri bersama teman-teman kelas j yang amat-amat  menakjubkan. Thank’s to Asisten.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2012. http://www.artikata.com/arti-353188-tanam.html. diakses pada tanggal 15 Juni 2012

Anonymous, 2012. http://semutuyet.blogspot.com/2011/12/pengertian-dan-tujuan-pola-tanam.html. diakses pada tanggal 15 Juni 2012

Anonymous, 2012. http://abdee-jurnal.blogspot.com/2010/02/macam-pola-tanam-tumpangsari.html. diakses pada tanggal 15 Juni 2012

Aulia, 2012. http://aulia-nm.blogspot.com/2010/02/pola-tata-tanam-pola-tanam-adalah.html. diakses pada tanggal 15 Juni 2012

Harjadi, 1979. http://pdf.kq5.org/doc/. diakses pada tanggal 15 Juni 2012

Musyafa’. 2012. http://Musafa’ _Al ihyar.blogspot.com// diakses pada tanggal 15 Juni 2012

Romulo A. del Castillo, 1994. Terjemahan Budiono. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Saiful Anwar, 2011. http://lampung.litbang.deptan.go.id/i. diakses pada tanggal 15 Juni 2012

wirosoedarmo. 1985. Dasar-dasar Irigasi Pertanian. universitas brawijaya: malang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

 

LAPORAN PANEN DAN PASCA PANEN

26 June 2012

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Karakteristik penting produk pascapanen sayuran adalah bahan tersebut masih  hidup dan masih melanjutkan fungsi metabolisme. Akan tetapi metabolisme tidak sama  dengan tanaman induknya yang tumbuh dengan lingkungan aslinya, karena produk yang telah dipanen mengalami berbagai bentuk stress seperti hilangnya suplai nutrisi, proses panen sering menimbulkan pelukaan berarti, pengemasan dan transportasi dapat menimbulkan kerusakan mekanis lebih lanjut, orientasi gravitasi dari produk pascapanen umumnya sangat berbeda dengan kondisi alamiahnya, hambatan ketersediaan CO2 dan O2, hambatan regim suhu dan sebagainya.

Penangan pasca panen merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam rangka kualitas hasil yang baik, sehingga akan disenangi oleh konsumen dan memperoleh harga yang sampai ke tangan konsumen cukup baik. Pada praktikum kali ini dibahas tentang bagaimana hasil uji coba penanganan pasca panen dengan perlakuan pembungkusan wortel dalam ruang yang berbeda-beda.

1.2 Tujuan

  1. Mengetahui pengertian panen dan pasca panen
  2. Mengetahui Kriteria Panen
  3. Mengetahui tahapan penanganan pasca panen produk sayuran dan tujuan tahapan.
  4. Mengetahui perubahan fisiologis selama masa penyimpanan.
  5. Mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi kerusakan produk sayuran.

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Pengertian Panen

  • Panen merupakan pekerjaan akhir dari budidaya tanaman (bercocok tanam), tapi merupakan awal dari pekerjaan pascapanen, yaitu melakukaan persiapan untuk penyimpanan dan pemasaran. (Ina Yunita dkk,2011)
  • penen adalah kegiatan pemungutan (pemetikan) hasil sawah atau lading (Anonymous,2012)
  • Harvest is the process of gathering mature crops from the fields. (Wikipedya, 2012)
  • harvest is to reap the rewards of the activity that has sufficient crop physiological age. (anonymous, 2012)

 

2.2  Pengertian Pasca Panen

  • penanganan pasca panen adalah tindakan yang disiapkan atau dilakukan pada tahapan pascapanen agar hasil pertanian siap dan aman digunakan oleh konsumen dan atau diolah lebih lanjut oleh industri ( Anonimous, 2012)
  • Definisi pasca panen menurut pasal 31 UU No.12/1992, adalah “suatukegiatan yang meliputi pembersihan, pengupasan, sortasi, pengawetan, pengemasan, penyimpanan, standarisasi mutu, dan transportasi hasil budidaya pertanian”.( Ina Yunita dkk,2011)
  • In agriculture, post harvest handling is the stage of crop production immediately following harvest, including cooling, cleaning, sorting and packing.( Wikipedia,2012)

 

2.3  Kriteria Panen

  • Warna daun hijau tua tetapi tidak terlalu tua
  • Ukuran daun sudah berukuran besar atau berkembang penuh
  • Ukuran batang sudah mulai membesar
  • Pada tanaman sayuran sudah berkembang penuh tetapi belum berbunga.

(Munggarati, 2011)

2.4  Tahapan Penanganan Pasca Panen Produk Sayuran dan Tujuan Tahapan.

Penanganan  sayur dilakukan untuk tujuan penyimpanan, transportasi dan kemudian pemasaran.  Seperti halnya pada buah, langkah yang harus dilakukan dalam penanganan  sayur setelah dipanen meliputi pemilihan (sorting), pemisahan berdasarkan umuran (sizing), pemilihan berdasarkan mutu (grading), dan pengepakan (packing). Namun demikian, untuk beberapa komoditi atau jenis sayur tertentu memerlukan tambahan penanganan seperti pencucian, penggunaan bahan kimia, pelapisan (coating-waxing), dan pendinginan awal (pre-cooling), serta pengikatan (bunching), pemotongan bagian-bagian yang tidak penting (trimming).

1. Sorting

Setelah pencucian dengan menggunakan air yang diberikan clorin, maka proses selanjutnya adalah pemilahan. Pemilahan terhadap  sayur dilakukan untuk memisahkan  sayur-sayur yang berbeda tingkat kematangan, berbeda bentuk (mallformation), dan juga berbeda warna maupun tanda-tanda lainnya yang merugikan (cacat) seperti luka, lecet, dan adanya infeksi penyakit maupun luka akibat hama.

2. Sizing

Pengukuran  sayur dimaksudkan untuk memilah-milah  sayur berdasarkan ukuran, berat atau dimensi terhadap sayur-sayur yang telah dipilih (proses di atas – sorting).  Proses pengukuran  sayur dapat dilakukan secara manual maupun mekanik.

3. Grading

Pada tahapan ini,  sayur-sayur dipilah-pilah berdasarkan tingkatan kualitas pasar (grade). Tingkatan kualitas dimaksud adalah kualitas yang telah ditetapkan sebagai patokan penilaian ataupun ditetapkan sendiri oleh produsen. Pemilihan kualitas sayuran dapat berdasarkan ukuran, bentuk, kondisi, dan tingkat kemasakan. Tahapan ini tentunya sangat penting bagi sayuran yang ditujukan untuk pasar segar. Namun tahapan ini tidak  perlu dilakukan bilamana sayuran ditujukan untuk proses pengolahan.

4. Trimming, waxing, coating, dan curing

Trimming diartikan sebagai pemotongan bagian-bagian sayur yang tidak dikehendaki karena mengganggu penampilannya. Bagian yang dipotong tersebut biasanya perakaran maupun daun-daun tua maupun mongering seperti pada lobak, wortel, bayam, seledri, dan selada.  Sedangkan  curing merupakan tindakan penyembuhan luka pada komoditi panenan. Luka dapat disebabkan karena pemotongan maupun luka goresan dan benturan saat panen. Curing sering diterapkan pada sayuran seperti bawang-bawangan dan kentang, yaitu dengan cara membiarkan komoditi terkena sinar matahari sejenak setelah panen atau dengan perlakuan pemanasan dengan menggunakan uap secara terkendali. Waxing atau  coating merupakan pelapisan permukaan sayuran agar menambah  baik  penampilannya.  Pelapisan dimaksudkan untuk melapisi permukaan sayur dengan bahan yang dapat menekan laju respirasi maupun menekan laju transpirasi sayur selama penyimpanan atau pemasaran. Pelapisan juga bertujuan untuk menambah perlindungan bagi sayur terhadap pengaruh luar. Beberapa penelitian membuktikan bahwa pelapisan dapat memperpanjang  masa simpan dan menjaga produk segar dari kerusakan seperti pada tomat, timun, cabe besar, dan terong. Pelilinan (waxing) merupakan salah satu pelapisan pada sayur untuk menambah lapisan lilin alami yang biasanya hilang saat pencucian, dan juga untuk menambah kilap sayur. Keuntungan lain pelilinan adalah menutup luka yang ada pada permukaan sayuran. Pelilinan  atau pelapisan  digunakan untuk memperpanjang masa segar komoditi  sayur atau memperpanjang daya tahan simpan sayur bilamana fasilitas pendinginan (ruang simpan dingin) tidak tersedia.

5. Packing

Pengepakan  sayur untuk konsumen sering dilakukan dengan membungkus  sayur dengan plastik ataupun bahan lain yang kemudian dimasukkan ke dalam wadah (kontainer) yang lebih besar. Bahan pembungkus lainnya dapat berupa bahan pulp maupun kertas. Sayur-sayur dalam wadah disesuaikan dengan kualitas yang diinginkan. Dalam satu wadah dapat terdiri hanya satu sayur atau terdiri dari banyak sayur. Sayur-sayur tersebut diatur peletakannya secara rapi sehingga kemungkinan berbenturan satu sama lainnya tidak terjadi. Sedangkan bahan wadah yang dapat digunakan dapat berupa kertas kanton (dalam berbagai tipe dan jenis), peti kayu, ataupun plastik. Pada sayur yang ditujukan untuk para konsumen, pengepakan sering dilakukan dengan membungkus sayur dengan plastik ataupun bahan lain yang kemudian dimasukkan ke dalam wadah (kontainer) yang lebih besar. Bahan pembungkus lainnya dapat berupa bahan  pulp,  polyethilen maupun kertas. Kemudian dimasukkan dalam suatu wadah. Dalam satu wadah dapat terdiri hanya satu sayur atau terdiri dari banyak sayur. Bahan wadah yang digunakan dapat berupa kertas kanton (dalam berbagai tipe dan jenis), peti kayu, ataupun plastik. Faktor penting dalam pengepakan yang perlu diperhatikan adalah bahwa bahan pembungkus setidaknya memiliki permeabilitas terhadap keluar masuknya oksigen dan karbondioksida.  Seringkali atmosfir dalam ruang pak yang menggunakan plastic tercapai kestabilan udara yang cukup terkendali.

 

Pada kondisi tersebut biasanya kandungan oksigen rendah sedangkan karbondioksidanya lebih tinggi baik terhadap oksigen maupun udara di luar pak (dos). Tekanan uap air relative stabil sehingga menguntungkan untuk mempertahankan kualitas sayur dalam simpanan.

6. Pre-cooling

Usaha menghilangkan panas lapang pada  sayur akibat pemanenan di siang hari disebut  pre-cooling atau pendinginan awal. Seperti diketahui suhu tinggi pada sayur yang diterima saat pemanenan akan merusak sayur selama penyimpanan sehingga menurunkan kualitas. Makin cepat membuang panas di lapang, makin baik kemungkinan menjaga kualitas komoditi selama disimpan. Pre-cooling dimaksudkan untuk memperlambat respirasi, menurunkan kepekaan terhadap serangan mikroba, mengurangi jumlah air yang hilang melalui transpirasi, dan memudahkan pemindahan ke dalam ruang penyimpanan dingin bila sistim ini digunakan. (Munggarati, 2011)

 

2.5  Perubahan Fisiologis Selama Masa Penyimpanan.

Penyimpanan  sayur yang telah dipak dalam berbagai macam wadah tentunya menunggu beberapa saat untuk dipasarkan. Bagi  sayur-sayur yang dipasarkan secara local, mungkin saja tidak diperlukan sistim penyimpanan yang berfasilitas pendingin namun bagi pemasaran yang berjarak jauh, maka penyimpanan yang memiliki fasilitas  pendingin sangat diperlukan. Fasilitas pendingin tersebut diperlukan untuk menjamin agar suhu dalam ruang simpan tetap stabil.

Bilamana dipilih metode penyimpanan dingin, maka beberapa teknik penyimpanan dingin untuk sayur yang dapat digunakan meliputi ;

a. pendinginan ruang (cooling room),

b. pendinginan tekanan udara (forced-air cooling),

c. pendinginan menggunakan air (hydro cooling),

d. pendinginan vacuum (vacuum cooling), dan

e. pendinginan menggunakan es batu (package icing).

Proses respirasi yang mengendalikan pematangan dan penuaan  sayur dapat lebih dihambat dengan penyimpanan dingin yang disertai penurunan kadar oksigen dan/atau peningkatan kadar karbondioksida dalam ruang penyimpanan. Namun demikian, kondisi penyimpanan seperti kadar oksigen, karbondioksida dan suhu untuk masing-masing jenis  sayur berbeda satu dengan lainnya. (Munggarati, 2011)

 

2.6  factor-faktor yang mempengaruhi kerusakan produk sayuran

  1. Faktor internal
    1. Respirasi : Makna dari terjadinya respirasi pada organ panenan adalah Kehilangan nilai gizi bagi konsumen dan berkurangnya mutu rasa, khususnya rasa manis, dan juga Kehilangan berat kering ekonomis.
    2. Transpirasi atau hilangnya air : Kehilangan air dapat merupakan penyebab utama deteriorasi karena  tidak saja berpengaruh langsung pada kehilangan kuantitatif (bobot) tetapi juga menyebabkan kehilangan kualitas dalam penampilannya (dikarenakan layu dan pengkerutan), kualitas penampilan (lunak, mudah patah) dan kualitas nutri Perubahan komposisi
    3. Perubahan Komposisi: Tidak saja perubahan fisik yang terjadi selama proses pemasakan  setelah panen. Perubahan kimiawi yang sekaligus merupakan komposisi dari komoditi panenan juga mengalami perubahan. Keduanya terjadi secara simultan, artinya apabila terjadi perubahan fisik pasti disertai terjadinya perubahan kimiawi.Perubahan-perubahan tersebut meliputi :
  • Kehilangan kloropil (warna hijau) dikehendaki pada buah tetapi tidak pada sayuran,
  • Perubahan asam organik, protein, asam amino dan lipid dapat mempengaruhi kualitas rasa pada kebanyakan komoditi,
  • Kehilangan asam askorbat (vitamin C) merugikan kualitas nutrisi, dll
  1. Prduksi Etilen

Etilen dinyatakan sebagai hormon yang mengatur penuaan dan

pemasakan serta secara fisiologi aktif pada jumlah yang sangat kecil

(kurang dari 0,1 ppm).

 

  1. Factor eksternal
  2. suhu,
  3. kelembapan
  4. atmosfer

 

(Munggarati, 2011)

 

BAB III

METODOLOGI

3.1  Alat dan Bahan

  1. Alat    :

-          Pisau

-          Kertas Pembungkus Bening

-          Steroform

-          Solasi

-          Timbangan

-          Kulkas / Ruang dingin

  1. Bahan :

-          Wortel segar 10 buah baru panen

 

3.2 Cara Kerja

Siapkan 10 wortel yang baru di panen dengan kondisi yang segar

 

Bagilah wortel dengan jumlah seimbang ke dalam 4 steroform

Tutup masing-masing steroform dengan kertas bening

dan rapatkan dengan solasi

Kasih label a, b, c, dan d kemudian timbang masing-masing

Taruh 2 bungkus di dalam ruang yang kamar biasa dan 2 bungkus

di dalam kulkas atau ruang dingin

Amati perubahan fisik yang terjadi dan selalu timbang

karena pasti ada kemungkinan perubahan berat.

   Catat Hasil

3.3  Ananlisis Perlakuan

Pada praktikum pasca panen kali ini dilakukan pengamatan pada wortel, pertama siapkan 10 buah wortel yang masih segar yang baru dipanen dan siap diproduksi, selanjutnya taruh secara merata (ada yang 2 dan ada yang 3 wortel) ke dalam 4 steroform, tutup dengan kertas bening secara rapat (untuk merapatkan solasilah ujung kertas bagian bawah steroform) hingga udara sudah tidak dapat masuk lagi.

Timbang masing-masing steroform kemudian tarung 2 steroform di kulkas dan yang 2 dalam ruang kamar biasa, lakukan pengamatan setiap hari mulai dari perubahan berat,warna dll

 

BAB 1V

PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Pengamatan

HARI

KAMAR I

KAMAR II

KULKAS I

KULKAS II

Sabtu 110 gram 90 gram 100 gram 100 gram
Ahad 110 gram 85 gram 100 gram 100 gram
Senin 110 gram 85 gram 98 gram 100 gram
Selasa 100 gram 83 gram 98 gram 100 gram
Rabu 100 gram 83 gram 98 gram 97 gram
Kamis 85 gram 60 gram 95 gram 75 gram
Jum’at 50 gram 30 gram 90 gram 45 gram
Sabtu 30 gram 20 gram 84 gram 19 gram
Ahad 30 gram 8 gram 80 gram 19 gram
Senin 25 gram 5 gram 80 gram 15 gram

 

No Tanggal Kenampakan J1 J2 J3 J4
1. 16 April 2012 Warna Orange muda Orange muda Orange menyala Orange menyala
Bau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau
Kesegaran Segar Segar Segar Segar
2. 17 April 2012 Warna Orange muda Orange muda Orange menyala Orange tua
Bau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau
Kesegaran Segar Segar Segar Segar
3. 18 April 2012 Warna Orange muda Orange muda Orange menyala Orang Segar e tua
Bau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau
    Kesegaran Segar Segar Segar Segar
4. 19 April 2012 Warna Orange muda Orange muda Orange menyala Orange kecoklatan
Bau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau
Kesegaran Segar Segar Segar Agak tidak Segar
5. 20 April 2012 Warna Orange tua Orange tua Orange menyala Orange kecoklatan
Bau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau
Kesegaran Sedikit layu Sedikit layu Segar Tidak segar
6. 21 April 2012 Warna Orange tua Orange tua Orange menyala Orange kecoklatan
Bau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Berbau tidak sedap
Kesegaran Sedikit layu Sedikit layu Segar Tidak segar
7. 22 April 2012 Warna Orange tua Orange tua Orange menyala Orange kecoklatan
Bau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Berbau tidak sedap
Kesegaran Sedikit layu Sedikit layu Segar Tidak segar
8. 23 April 2012 Warna Orange kehitam-hitaman Orange kehitam-hitaman Orange kecoklatan Orange kecoklatan, dan ada bercak putih
Bau Agak busuk Agak busuk Tidak berbau Berbau tidak sedap
Kesegaran Layu Layu segar Tidak segar
9. 24 April 2012 Warna Orange kehitam-hitaman, pucat Orange kehitam-hitaman, pucat Orange kecoklatan Orange kecoklatan, dan ada bercak putih, ujung wortel busuk
  24 April 2012 Bau Bau busuk Agak busuk Tidak berbau Berbau tidak sedap
Kesegaran Agak layu Layu dan kering segar Layu
10. 25 April 2012 Warna Kehitam-hitaman, orange pucat Kehitam-hitaman, orange pucat Orange kecoklatan Orange kecoklatan, dan ada bercak putih, ujung wortel busuk
Bau Bau busuk Agak busuk Tidak berbau Berbau tidak sedap
Kesegaran Layu dan kering Layu dan terdapat jamur Agak tidak segar Layu

Dokumentasi Pasca Panen (terlampir)

4.2 Analisis Hasil Pengamatan

Pengamatan wortel yang dilakukan selama 2 minggu dengan beberapa aspek pengamatan mulai dari warna, kenampakan, bobot, kadar air, aroma, dan kerusakan lainnya yang di amati berdasarkan kemasan yang ditaruh di dalam ruang kamar dan di dalam lemari es memiliki banyak sekali perbedaan.

Pada perlakuan 1 (wortel A di dalam ruang kamar) dapat diamati bahwa warna adasar wortel yang semula orange segar berubah menjadi orange kehitaman pucat, berat wortel juga berkurang karena adanya penyusutan, hal ini disebabkan karena kadar air wortel menguap tetapi tidak menembus plastik kemas, sehingga air mengembun kemudian membasahi kemasan, hal lain yang terjadi wortel terlihat lembek, busuk dan beraroma tidak sedap pada hari terakhir pnengamatan. Begitupun dengan hasil ke-2 (wortel B di dalam ruang kamar) yang awalnya warna wortel orange segar dalam kemasan selanjutnya berubah orange kehitaman bahkan terlihat hari terakhir selain adanya perubahan bobot dan warna seperti halnya pada sampel 1, bau busuk di sampel ke-2 ini lebih terasa dan terlihat jamur di bagian wortel.

Untuk sampel C yang ditaruh di dalam lemari es, terlihat pada hari pertaman masih segar, warna wortel masih orange menyala dan tak ada sama sekali tercium bau busuk, keadaan itu terus bertahan sampai pada hari ke-4, baru setelah mulai hari ke-8 terjadi perubahan disana, warna wortel mulai orange kecoklatan dan pada akhir hari pengamatan sudah mulai terlihat tidak segar. Kemudian untuk sampel D yang juga dalam lemari es terlihat segar, warna orange menyala dan belum terasa adanya bau yang tidak sedap, seperti itu selanjutnya sampai hari ke-4 baru terlihat adanya perubahan warna menjadi agak keclokatan hingga pada tanggal 23 April terlihat adanya bercak putih pada wortel dan ada bau agak busuk dari wortel pada tanggal 24 Aprilnya, hingga dapat terlihat bahwa pada akhir pengamatan didapat wortel dalam keadaan layu dan bau semakin tidak sedap.

 

4.3 Gejala-Gejala Kerusakan (Dibandingkan dengan Literatur)

4.3.1 Warna

Pada awal pengemasan warna wortel terlihat orange segar dan cantik dalam pengemasan, baru ketika dilakukan percobaan antara wortel yang dikemas ditaruh dalam ruangan kamar biasa dengan yang ditaruh dalam lemari es terlihat untuk 2 sampel yang di taruh dalam ruang kamar warnanya hanya bertahan sampai 4 hari dan setelah itu sudah berubah menjadi kecoklatan hingga pada akhirya warna menjadi kehitam-hitaman, berbeda dengan yang ditaruh dalam lemari es terlihat kesegaran atau keawetan warnanya bisa bertahan sampai satu minggu baru pada hari ke-9, ke-10 berubah kecoklatan.

Terjadinya perubahan warna disebabkan karena adanya perubahan suhu. Wortel sangat sensitive terhadap etilen, apabila disimpan dengan komoditas pertanian yang memproduksi etilen tinggi, seperti pisang, apel, dan melon yang matang, dapat mengubah warna, rasa, dan tekstur yang tidak diingikan (Kitinoja, 2002).

4.3.2 Kenampakan

Kenampakan wortel mengalami penurunan selama penyimpanan. Wortel yang semula mengalami penyusutan terutama wortel yang tidak dikemas dan diletakkan disuhu kamar. Berdasarkan literatur buah-buahan atau sayur-sayuran umbi akar mengalami pembusukan mayoritas disebabkan oleh infeksi jamur (Erwina carotavora), kenampakan wortel yang dikemas diletakkan disuhu kamar kenampakanyya layu, begitu pula wortel yang diletakkan suhu kulkas.

Menurut Kitinoja (2002), buah-buahan atau sayur-sayuran dari umbi akan mengalami pembusukan mayoritas disebabkan oleh infeksi jamur (Erwinia carotovora). Kenampakan wortel yang dikemas diletakkan pada suhu kamar, terlihat lembek. Wortel yang tidak dikemas, diletakkan di suhu kamar terlihat layu, begitu juga pada wortel yang diletakkan di suhu Lemari es.

4.3.3 Bobot

Keempat perlakuan terlihat selama penyimpanan wortel menunjukkan hasil penurunan bobot selama penyimpanan, apa lagi sangat terlihat bagi sampel yang ditaruh dalam ruang kamar biasa banyak penurunan bobot yang terjadi. Hal ini terjadi dimungkinkan kadar air yang berkurang sehingga bobot wortelpun berkurang. Penurunan bobot ini dikarenakan adanya peningkatan suhu yang menyebabkan penguapan/transpirasi wortel. Pada suhu yang tinggi, terjadi penurunan kandungan O2, sedangkan pada saat itu kandungan CO2 naik.

Dan pada umumnya, tanda-tanda kerusakan pada buah ata sayuran jelas terlihat bila kehilangan air antara 3-8% dari beratnya. (Anonymousb. 2012)

4.3.4 Kadar Air

Dalam masa penyimpanan, kadar air akan mengalami penurunan karena kelembapan udara yang didukung oleh temperatur tinggi, kadar air yang hilang disebabkan karena kadar O2 yang menurun sedangkan CO2 bertambah. Hali ini terbukti dengan adanya penyusutan yang terjadi yang pada akhirnya mempengaruhi bobot wortel, apalagi hal ini semakin terbukti dengan adanya perubahan bobot yang menonjol pada sampel-sampel yang ditaruh di dalam ruang kamar biasa.

4.3.5 Aroma

Pada proses penyimpanan wortel dalam kemasan baik yang ditaruh dalam ruang kamar biasa denagn yang di lemari es, menunjukkan perubahan aroma atau bau yang semakin hari semakin busuk, hal ini disebabkan karena adanya aktifitas jamur Erwina carotavora yang ditunjukkan dengan adanya miselia jamur berwarna putih.

 

4.3.6 Kerusakan Lain

Dari keempat sampel (2 ditaruh dalam ruang kamar dan 2 di lemaries) tidak ditemukan kerusakan lain selain warna, penampakan, bobot, kadar air dan aroma atau bau. Selain itu, adanya Mikroorganisme pembusuk yang menyebabkan susut pasca panen buah dan sayuran secara umum disebabkan oleh jamur dan bakteri juga tidak ditemukan dimana jika mikroorganisme ini  menginfeksi, maka bisa jadi untuk infeksi pertama ditemukan selama pertumbuhan dan perkembangan produk tersebut masih dilapangan akibat adanya kerusakan mekanis selama operasi pemanenan, atau melalui kerusakan fisiologis akibat dari kondisi penyimpanan yang tidak baik.

 

BAB 1V

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

 Dari praktikum panen dan pasca panen ini dapat disimpulkan bahwa bahwa wortel sebagai jenis sayur-sayuran ketika sudah memenuhi ciri-ciri criteria panen maka harus diberikan perlakuan pasca panen yang sesuai agar kondisi wortel tetap stabil sampai ke tangan konsumen.

Untuk itu dalam praktikum ini wortel diberi beberapa perlakuan yang pertama wortel dibungkus dengan plastik dan ditaruh dalam suhu ruangan dan yang satu dalam lemari es, pada masing-masing tempat diberikan 2 sampel jadi ada 4 sampel yang diamati.

Setelah sepuluh hari diamati, ternyata terlihat bahwa yang memeiliki ketahanan dan masih bagus untuk di konsumsi adalah yang berada di dalam lemari es, jadi sudah berarti bahwa suhu sangat memepengaruhi kondisi penyimpanan saat masa pasca panen disisi lain juga dipengaruhi oleh plastik pembungkus wortel.

4.2 Saran

Untuk asisten keep smile dan untuk praktikum, supaya lebih optimal dalam penyampaian materi, mohon untuk tahun depan disediakan modul yang sudah di print tinggal dibagi ke anak-anak. heheheeee

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous,2012. Pengertian panen. http: //www. Definisi  panen, Arti Kata  panen.htm// diakses tanggal 30 Mei 2012.

Anonymous,2012. Pengertian Panen. http:// www.artikata.com/arti-343516-panen.html// diakses tanggal 30 Mei 2012

Anonymous,2012. Pengertian Pasca Panen. http:// www.artikata.com/arti-343516-panen.html// diakses tanggal 30 Mei 2012

Kitinoja, 2002. -

Munggarati,2011. Kriteria Panen. http://munggaranti.wordpress.com/2011/05/23/page/2/ diaksestanggal 30 Mei 2012

Yunita Ani,2011. http://www.collectionscanada.gc.ca/webarchives/ diakses tanggal 30 Mei 2011

Wikipedia,2012. http://www.wikipedia.org// diakses tanggal 30 Mei 2012