Home » Uncategorized » KESANTUNAN BAHASA INDONESIA DALAM SINETRON DAN BERBAGAI ACARA DI TELEVISI

KESANTUNAN BAHASA INDONESIA DALAM SINETRON DAN BERBAGAI ACARA DI TELEVISI

Ditulis untuk memenuhi tugas akhir ujian semester Bahasa Indonesia Kelas J Agroekoteknologi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Televisi sebagai salah satu media komunikasi massa memiliki peran yang besar dalam menyebarkan informasi dan memberikan hiburan ke semua lapisan masyarakat. Televisi merupakan media massa audiovisual yang sifatnya berbeda dengan media lain. Media cetak mempunyai kekuatan pada sisi visualnya, media audio (radio) mempunyai kekuatan pada sisi suara dan media audiovisual memiliki kekuatan keduanya. Hampir setiap rumah di wilayah Indonesia terdapat televisi yang hampir selama 24 jam dinyalakan untuk menerima siaran dari berbagai stasiun televisi.

Dengan demikian media televisi memiliki kekuatan informatif persuasif yang lebih tinggi dibandingkan dengan media lainnya sehingga media ini dapat dikatakan lebih sempurna dan efek yang ditimbulkannya pun lebih dasyat baik yang positif maupun yang negatif bila dibandingkan dengan kedua media tersebut. Oleh karenanya, media komunikasi ini oleh para pengusaha dimanfaatkan sebagai sarana promosi yang dikemas dalam bentuk iklan televisi. Agar menarik perhatian, iklan televisi diusahakan untuk dibuat semirip mungkin dengan kejadian-kejadian kehidupan nyata masyarakat yang menjadi sasarannya. Sebuah paket iklan televisi sering menghadirkan fenomena kemasyarakatan yang tengah berlangsung dan menjadi tren di kalangan masyarakat. Untuk memberikan pengaruh yang kuat, dimunculkan beberapa peristiwa tutur yang dilakukan oleh para bintang iklan dan sinetron untuk menghadirkan gambaran kehidupan nyata yang ada di masyarakat, sehingga dapat mempengaruhi atau mempropaganda minat masyarakat untuk menjadi konsumen produk yang ditawarkan.

Iklan televisi semestinya dapat dikaji dari sudut pandang studi bahasa karena pada dasarnya, iklan televisi menggunakan bahasa sebagai sarana penyampai pesan kepada konsumen. Dengan kata lain terdapat penggunaan bahasa dalam sebuah paket iklan ataupun sinetron pada televisi.

 

 

1.2  Rumusan Masalah

Dalam penulisan makalah ini, masalah yang diambil adalah :

  1. Bagaimana prinsip kesantunan berbahasa?
  2. Bagaimana penggunaan bahasa Indonesia dalam sinetron dan berbagai acara di televisi?

 

1.3  Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :

  1. Untuk mengetahui prinsip kesantunan berbahasa.
  2. Untuk mengetahui penggunaan bahasa Indonesia dalam sinetron dan berbagai acara di televisi

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Prinsip Kesantunan Berbahasa

Kesantunan berbahasa pada hakikatnya harus memperhatikan empat prinsip. Pertama, penerapan prinsip kesopanan (politeness principle) dalam berbahasa, prinsip ini ditandai dengan memaksimalkan kearifan, rasa hormat, pujian, kecocokan, kesimpatikan kepada orang lain.

Kedua, penghindaran pemakaian kata tabu. Pada kebanyakan masyarakat, kata-kata yang berbau seks, kata-kata yang merujuk pada organ-organ tubuh, kata-kata yang merujuk pada suatu benda yang menjijikkan dan kata-kata kotor serta kasar, semua itu termasuk kata-kata tabu dan tidak lazim digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Sebagai contoh kata tabu yang diucapkan seorang mahasiswa kepada dosennya ketika perkuliahan berlangsung.

”Pak, mohon izin sebentar, saya mau buang air besar”

Ketiga, sehubungan dengan penghindaran kata tabu, penggunaan ungkapan penghalus harus digunakan guna untuk menghindari kesan negatif. Contoh kalimat mahasiswa yang tergolong tabu di atas akan menjadi ungkapan santun apabila diubah dengan penggunaan kata penghalus.

“Pak, mohon izin sebentar, saya mau ke belakang”

Keempat, penggunakan pilihan kata honorifik yaitu ungkapan hormat untuk berbicara dan menyapa orang lain. Penggunaan kata-kata honorifik ini tidak hanya berlaku bagi bahasa yang mengena tingkatan, tetapi berlaku juga pada bahasa-bahasa yang tidak mengenal tingkatan. Hanya saja, bagi bahasa yang mengenal tingkatan, penentuan kata-kata honorifik sudah ditetapkan secara baku dan sistematis untuk pemakaian setiap tingkatan. Misalnya, bahasa krama inggil dalam bahasa jawa perlu digunakan kepada orang yang tingkat social dan usianya lebih tinggi dari pembicara atau kepada orang yang dihormati oleh pembicara. Walaupun bahasa Indonesia tidak mengenal tingkatan, sebutan kata diri engkau, anda, saudara, bapak atau ibu mempunyai efek kesantunan yang berbeda ketika kita pakai untuk menyapa orang. Keempat kalimat berikut menunjukkan tingkat kesantunan ketika seseorang menanyakan kepada orang yang lebih tua.

  1. Engkau mau kemana?
  2. Saudara mau kemana?
  3. Anda mau kemana?
  4. Bapak mau kemana?

Percakapan yang tidak menggunakan kata sapaan pun dapat mengakibatkan kekurang santunan bagi penutur. Percakapan via telepon antara mahasiswi dan istri dosen berikut merupakan cotoh tindakan yang kurang sopan.

Mahasiswi            : Halo, ini rumah Supomo ya?

Istri                       : Betul.

Mahasiswi            : Ini adiknya, ya?

Istri                       : Bukan, istrinya. Ini siapa?

Mahasiswi              : Mahasiswinya. Dia kan dosen pembimbing saya. Sudah janjian dengan saya di kampus. Kok saya tunggu-tunggu tidak ada.

Istri                       : Oh, begitu toh.

Mahasiswi            : Ya sudah kalau begitu. (Telepon langsung ditutup)

Istri dosen tersebut menganggap bahwa mahasiswi yang baru saja bertelepn itu tidak sopan, hanya karena si mahasiswi tidak mengikuti norma kesantunan berbahasa, yaitu tidak menggunakan kata sapaan ketika menyebut nama dosennya. Bahasa mahasiswa seperti itu bisa saja tepat di masyarakat penutur bahasa lain, tetapi di masyarakat penutur bahasa Indonesia dinilai tidak santun. Oleh karena itu, pantas saja kalau istri dosen tersebut muncul rasa jengkel setelah menerima telepon mahasiswi itu. Ditambah lagi tata cara bertelepon mahsiswi yang juga tidak mengikuti tata krama, yaitu tdak menunjukkan identitas atau nama sebelumnya dan diakhiri tanpa ucapan penutup terimakasih atau salam. Tujuan utama kesantunan berbahasa adalah memperlancar komunikasi. Oleh karena pemakaian bahasa yang sengaja dibelit-belitkan, yang tidak tepat sasaran atau yang tidak menyatakan yang sebenarnya karena enggan kepada orang yang lebih tua juga merupakan ketidak santunan berbahasa. Kenyataan ini sering dijumpai dimasyarakat Indonesia karena terbawa budaya. Dalam batas-batas tertentu masih bisa ditoleransi jika penutur tidak bermaksud mengaburkan komunikasi sehingga orang yang diajak berbicara tidak tau apa yang dimaksudkannya. Akan tetapi, terdapa juga masyarakat yang mengatasnamakan kebebasan berekspresi dan berpendapat sehingga melupakan teori-teori kesantunan tersebut. Sehingga sering muncul konflik-konflik yang sering terjadi di Indonesia.

2.2 Bahasa Indonesia dalam Sinetron dan Berbagai Acara di Televisi

Semenjak reformasi sistem perpolitikan di Indonesia, nasib bahasa Indonesia terancam oleh masuknya kosa-kata dan struktur bahasa asing dan bahasa daerah. Masuknya sistem bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia hampir tanpa melalui proses kesadaran sehingga dapat mengacaukan sistem bahasa Indonesia yang pada akhirnya dapat menggoyahkan kemampuan bahasa Indoneia sebagai penanda jati diri bangsa Indonesia. Pihak-pihak yang mempunyai peran sangat besar memajukan ataupun memundurkan bahasa Indonesia, antara lain, media massa, kaum terdidik, petinggi bangsa, dan tokoh masyarakat.

Hidup kita di Indonesia tidak didominasi oleh Jakarta, termasuk bahasa. Jika dicermati, tayangan televisi nasional banyak menggunakan bahasa Melayu-Jakarta. Pencampuran kosakata Melayu-Jakarta dengan bahasa Indonesia merupakan suatu bentuk penghilangan jati diri bahasa Indonesia. Kita ambil contoh 90% sinetron menggunakan bahasa Melayu-Jakarta. Sinetron “Untung Tidak Selalu Untung” (SCTV), “Soleha” (RCTI), “Hikayah” (Trans), dan “Candy” (RCTI) disebutnya sebagai contoh. cuplikan sinetron “Untung Tidak Selalu Untung” yang dapat saya dengar antara lain: “ya deh”, “gua blum bikin PR nih”, “udah deh, PR gua nggak perlu dibacain”, “baru tau rasak, lho”.

Jika bahasa ini diungkap kepada orangtua yang hanya mengerti bahasa Indonesia, tentu mereka tidak mengerti bahkan bahasa-bahasa itu biasanya digunakan dengan nada yang tidak halus jadi terlihat kasar.

Saya mencoba mencermati penggunaan bahasa oleh para pesohor seni seperti pemain film, penyanyi, dan pembawa acara televisi. Saat mereka berbicara dalam acara televisi yang bersifat informal, mereka lebih menggunakan bahasa “gaul”. Mereka berbahasa seenaknya, tidak sadar bahwa mereka tidak terbatas berada di studio televisi. “Lu ngomong dong. Enak aja.”, “Gue ngadepin biasa aja.”, “Kayak gini, ngapain pegang-pegang.” merupakan contoh cuplikan pembawa acara dan pesohor yang saya lihat dalam acara “Infotainment” dan “Ada Gosip”.

Bahasa sinetron atau yang lainnya dalam acara televisi kita banyak yang salah digunakan pada tempatnya. Akibatnya masyarakat banyak yang meniru dengan berbagai motif seperti sekedar gaya atau ingin dikatakan modern.

Mengatur penggunaan bahasa merupakan hal yang sangat sulit dikarenakan beberapa faktor yaitu, yang pertama dialek daerah masing-masing yang sangat melekat tiap individu dan yang sekarang tengah berkembang di Indonesia adalah penggunaan bahasa gaul. Sulitnya melepaskan cara berbahasa ini diikuti dengan jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar maka akan sangat sulit bagi pemerintah untuk mengimplementasikan Undang-Undang Kebahasaan ini dalam masyarakat.

Sejumlah guru Bahasa Indonesia menyebutkan contoh beberapa film dan sinetron Indonesia disiarkan umumnya televisi swasta yang kerapkali menggunakan bahasa yang dinilai “vulgar”, serampangan, kasar, dan tidak layak didengar terutama oleh anak-anak dan generasi muda bertaburan setiap saat. Jika di biarkan bukan saja akan merusak kaidah Bahasa Indonesia, tapi bahkan bisa membuat anak-anak kita menjadi berbahasa dan berperilaku buruk. Fenomena tingginya angka kriminalitas dan kenakalan remaja menjadi sebuah bukti dari kegamangan tersebut. Hal itu tidak terlepas dari pandangan manusia sebagai substansi dan manusia sebagai makhluk yang mempunyai identitas.

Maka menurut saya sebaiknya tujuan pemerintah untuk mengatur penggunaan bahasa ini dimulai dari hal-hal yang sederhana, misalnya memulai penggunaan bahasa Indonesia yang baku dalam lingkungan pendidikan dimulai dari tingkat pendidikan yang rendah. Saya maksudkan di sini, kita melihat bahwa dalam lingkungan kampus mahasiswa yang menggunakan bahasa Indonesia yang baku sangat jarang bahkan tidak ada, oleh sebab itu Undang-Undang Kebahasaan ini sebaiknya mulai diimplementasikan dalam lingkungan pendidikan.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kesantunan berbahasa pada hakikatnya harus memperhatikan empat prinsip. Pertama, penerapan prinsip kesopanan (politeness principle) dalam berbahasa, kedua penghindaran pemakaian kata tabu yaitu kata-kata yang berbau seks, kata-kata yang merujuk pada organ-organ tubuh, kata-kata yang merujuk pada suatu benda yang menjijikkan dan kata-kata kotor serta kasar, semua itu termasuk kata-kata tabu dan tidak lazim digunakan dalam komunikasi sehari-hari, ketiga dengan  menggunakan ungkapan penghalus dan keempat  penggunakan pilihan kata honorifik yaitu ungkapan hormat untuk berbicara dan menyapa orang lain.

Namun disisi lain, jika kita melihat fenomena saat ini dimana Pihak-pihak yang mempunyai peran sangat besar, seperti media massa, kaum terdidik, petinggi bangsa, dan tokoh masyarakat mulai terlihat adanya pengaruh negatif yang dapat  memundurkan nilai kesantunan bahasa Indonesia.

Bahasa sinetron di acara televisi kita banyak yang salah digunakan pada tempatnya. Akibatnya masyarakat banyak yang meniru dengan berbagai motif seperti sekedar gaya atau ingin dikatakan modern.

 

3.2 Saran

Melihat akan bahayanya bahasa yang digunakan oleh pesinetron dan para pembawa acara televisi, saya menyarankan kepada pembaca agar selalu waspada terhadap pencemaran bahasa Indonesia yang dilakukan oleh para pesohor tersebut. Jika dibiarkan mereka akan lebih semena-mena melakukan “perkosaan” terhadap bahasa Indonesia. Untuk itu, pembaca harus lebih jeli lagi dalam menyeleksi bahasa yang digunakan sehari-hari. Agar norma kesopanan yang di miliki oleh masyarkat Indonesia selalu terjaga dan terpelihara dengan baik.

 

 

Akmal. 2006. Indonesia (super) ego. http : // opini pribadi. Blogspot. Com// diakses pada tanggal 6 Juni 2011.

Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik. Jakarta: Universitas Indonesia.

Sumarsono, dan Paina Partama. 2004. Sosiolinguistik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar dan Sabda.

 

 

 

Uncategorized

No Comments to “KESANTUNAN BAHASA INDONESIA DALAM SINETRON DAN BERBAGAI ACARA DI TELEVISI”

Leave a Reply

(required)

(required)


*