Home » Uncategorized » Masalah umum yang dihadapi para petani dalam budidaya padi

Masalah umum yang dihadapi para petani dalam budidaya padi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Negara Indonesia merupakan Negara agraris. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Sehingga, tanaman padi merupakan makanan pokok bagi Negara Indonesia. Namun, sering kali para petani mengalami gagal panen hal ini disebabkan karena adanya penyakit dan hama yang menyerang tanaman padi. Oleh karena itu, kami mengangkat masalah ini agar dapat mengetahui dampak-dampak dan faktor-faktor petani gagal panen.Jenis-jenis penyakit di antara lainnya adalah:

v Hawar Daun Bakteri (HDB) merupakan penyakit kresek yang pada umumnya dikenal oleh masyarakat. Penyakit telah berkembang pada musim hujan maupun musim kemarau yang basah.

v Tungro merupakan pertumbuhan tanaman yang terhambat, kerdil dan jumlah anakan berkurang.

v Blas merupakan penyakit busuk leher (Blas leher malai).

v Penggerek Batang Padi (PBP) merupakan hama yang sangat penting pada padi dan sering menimbulkan kerusakan yang menurunkan hasil secara nyat.

v Wereng Batang Coklat (WBC) muncul menjadi hama penting di Indonesia akibat penggunaan Insektisida secara berlebihan.

1.2  Perumusan Masalah

Dari penelitian yang kami lakukan dapat kami rumuskan sebagai berikut
1. Apa yang menyebabkan petani gagal panen?
2. Penyakit-penyakit apa saja yang menyerang tanaman padi?
3. Apa dampak dari terserangnya penyakit yang menyerang padi?
4. Bagaimana cara untuk mengatasi penyakit yang menyerang padi?

1.3  Tujuan Penelitian

Meningkatkan hasil panen agar para petani tidak mengalami gagal panen yang biasanya di sebabkan oleh penyakit-penyakit yang menyerang tanaman padi.

 

 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Mengenai Tanaman Padi

Tanaman padi merupakan tanaman pokok untuk keperluana hidup, namun ia harus menghadapi berbagai tantangan dan kendala.baik berupa fisik, sosial/ekonomi dan biologis yang mengancam keberhasilan produksinya1. Salah satu yang menyebabkan petani gagal panen adalah kendala biologis yag sangat penting ialah adanya berbagai spesies organisme, yang biasanya disebut organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang menyerang tanaman budidaya tersebut sehingga dapat mengakibatkan penurunan kualitas dan kuantitas produksi , atau bahkan meengalami gagal panen2. Dalam mengatisipasi terjadinya ledakan OPT maka perlu dilakukan pengamatam rutin, peramalan dan cara-cara pengendalian yang sesuai dengan konsep PHT 3.

Menanam padi sawah sudah mendarah daging bagi sebagian besar petani di Indonesia. Mulanya kegiatan ini banyak diusahakan di pulau Jawa. Namun, saat ini hampir seluruh daerah di Indonesia sudah tidak asing lagi dengan kegiatan menanam padi di sawah.
Sistem penanaman padi di sawah biasanya didahului oleh pengolahan tanah secara sempurna seraya petani melakukan persemaian. Mula-mula sawah dibajak, pembajakan dapat dilakukan dengan mesin, kerbau atau melalui pencangkulan oleh manusia. Setelah dibajak, tanah dibiarkan selama 2-3 hari. Namun di beberapa tempat, tanah dapat dibiarkan sampai 15 hari. Selanjutnya tanah dilumpurkan dengan cara dibajak lagi untuk kedua kalinya atau bahkan ketiga kalinya 3-5 hari menjelang tanam. Setelah itu bibit hasil semaian ditanam dengan cara pengolahan sawah seperti di atas (yang sering disebut pengolahan tanah sempurna, intensif atau konvensional) banyak kelemahan yang timbul penggunaan air di sawah amatlah boros. Padahal ketersediaan air semakin terbatas. Selain itu pembajakan dan pelumpuran tanah yang biasa dilakukan oleh petani ternyata menyebabkan banyak butir-butir tanah halus dan unsur hara terbawa air irigasi. Hal ini kurang baik dari segi konservasi lingkungan.

Padi merupakan tanaman yang membutuhkan air cukup banyak untuk hidupnya. Memang tanaman ini tergolong semi aquatis yang cocok ditanam di lokasi tergenang. Biasanya padi ditanam di sawah yang menyediakan kebutuhan air cukup untuk pertumbuhannya. Meskipun demikian, padi juga dapat diusahakan di lahan kering atau ladang. Istilahnya adalah padi gogo. Namun kebutuhan airnya harus terpenuhi.

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Gagal Panen bagi para petani

Bercocok tanam padi tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Tanaman padi yang dibudidayakan belum tentu berhasil karena sewaktu-waktu bisa saja terjadi, kegagalan panen yang mengakibatkan kerugian dialami karena berbagai faktor yang berada di luar jangkauan petani. Bisa karena banjir, kekeringan, atau serangan hama dan penyakit tanaman. Tingkat kerugiannya sangat beragam, dari termasuk kategori rendah, menengah, sampai gagal total karena sama sekali tidak terpungut hasilnya atau puso.

Bagi petani, kegagalan panen bisa merupakan neraka kecil. Pertama, mereka sudah mengerahkan seluruh modal dan kemampuannya untuk tanaman padi musim tanam tersebut, termasuk modal pinjaman sekali pun. Yang kedua, kemampuan bertahan sebagian besar petani pada setiap musim tanam rata-rata berkisar antara dua dan tiga bulan. Bahkan, dengan bergesernya gaya hidup dan rendahnya nilai tukar petani, kemampuan itu menjadi lebih rendah lagi.

Kemampuan bertahan tersebut sangat dipertaruhkan, terutama pada musim paceklik. Musim ini ditandai dengan makin berkurangnya lapangan pekerjaan di sektor pertanian atau bahkan tidak tersedia sama sekali. Sementara harga kebutuhan pangan, terutama beras, makin meningkat akibat pasokan berkurang.

3.2  Faktor- faktor yang mempengaruhi hasil panen

a. Pengolahan lahan yang kurang baik
Cara mengolah lahan pertanian yang buruk dapat menyebabkan hasil panen yang kurang berkualitas dan bahkan dapat mengalami gagal panen.

b.Kondisi Air Di Daerah Sekitar Lahan Pertanian
Kekeringan sebagai akibat rendahnya curah hujan di berbagai tempat mengakibatkan debit air permukaan menyusut. Sungai-sungai mengering, bendungan tidak berfungsi optimal, dan volume air waduk menyusut. Gambaran itu merupakan isyarat lampu kuning untuk sektor pertanian. Air merupakan salah satu faktor penting dalam budidaya tanaman padi. Walau sampai sekarang belum ada penelitian, air memiliki kontribusi yang tidak kecil dalam menunjang tingkat produktivitas tanaman padi, selain bibit, pupuk, dan perawatan tanaman dari serangan hama dan penyakit tanaman. Kenyataan di lapangan menunjukkan, tanpa air, tanaman padi bisa mati karena kekeringan atau paling tidak produktivitasnya rendah.

 

 

c.Bibit padi

Salahnya pemilihan bibit padi saat penanaman taman padi dapat mengakibatakan kualitas dan kuantitas padi yang kurang baik.

d. Terserang hama dan penyakit-penyakit

  • Ø Penggerek Batang Padi
    Penggerek batang padi merupakan hama yang sangat penting pada padi dan sering menimbulkan kerusakan yang menurunkan hasil panen secar nyata.Terdapatnya penggerek di lapang dapat dilihat dari adanya ngengat dan kelompok telur di pertanaman,dan larva/ulat di dalam batang .Mekanisme kerusakannya adlah larva makan sistem pembuluh tanaman di dalam batang.
  • Ø Penyakit Blas (Priculria grisea)
    Penyakit Blas menginfeksi tanaman padi pada setiap fase pertumbuhan , gejala khas pada daun yaitu bercakberbentuk belah ketupat lebar ditengah dan dan meruncing di kedua ujungnya.Ukuran bercak kira-kira 1,5 x 0,3 , 0,5 cm berkembang menjadi berwarna abu-abu pada bagian tengahnya. Daun-daun pada varietas rentan bisa mati.Bercak penyakit blas sering sukar dibedakan dengan gejala bercak coklat Helminthosporium.
  • Ø Tungro
    Gejala serangan tungro berupa pertumbuhan tanaman terhambat , kerdil , dan jumlah anakan berkurang , daun menguning sampai jingga dari mulai pucuk ke arah pangkal .Tanaman muda lebih rentan.Semakin muda umur tanaman terinfeksi , tanaman semakin menjadi kerdil dan produksinya semakin rendah.

3.3 Ccara mengatasi gagal panen
       Adapun usaha yang dilakukan agar tidak terjadi gagal panen adalah sebagai berikut:

3.3.1 Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah yang dilakukan oleh petani – petani tradisional di Indonesia biasanya menggunakan cangkul, Traktor Pembajak, Pembajak dg ditarik Kerbau/sapi.
pertama, tanah sawah yang akan dibajak di rendam air (biar lunak dan gampang nyangkulnya),kalo sudah selesai dibajak, dikasih herbisida, terus langsung ditanami padi, dibiarkan dulu 5-7 hari untuk menghilangkan racun di herbisida.

3.3.2 Pembuatan Benih dan persemaian.

benih unggul yang dibeli di toko pertanian biasanya harus direndam dengan air selama 24 jam, lalu ditiriskan biar hilang kandungan air berlebihnya, setelah itu di diamkan  48 jam, biar berkecambah dulu benihnya, baru disebar  dan di pupuk.

3.3.3 Penanaman

Pada fase ini, banyak yang perlu diperhatikan seperti cara tanam, jarak tanam, jumlah tanaman tiap lobang, dan kedalaman tanam dengan penggarap lahan yang lainnya.

3.3.4Pemeliharaan

Di fase ini yang paling lama dan paling berat, biasanya 2 bulan – 3 bulan baru bisa dipanen. dalam fase ini banyak yang harus dilakukan, mengairi sawah, menyiangi rumput (gulma), menjaga dari hama termasuk ulat dan tikus, menjaga dari burung, dan lain-lain.

3.3.5Cara Pemberian Pupuk

Yang perlu diperhatikan untuk mengurangi penurunan ketersediaan pupuk adalah waktu dan cara pemberian pupuk. Pemberian pupuk yang tepat selama pertumbuhan tanaman Padi sawah dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk. Sifat pupuk N umumnya mudah larut dalam air sehingga mudah hilang, baik melalui pencucian maupun penguapan. Untuk mengurangi kehilangan N, pupuk N sebaiknya diberikan secara bertahap, yaitu 1/2 bagian dosis pupuk N serta seluruh dosis pupuk P dan K diberikan pada awal tanam, sedangkan 1/2 dosis pupuk N diberikan pada umur 40 hari setelah tanam. Cara pemberian pupuk yang baik adalah dengan jalan menabur secara merata dipermukaan tanah/sawah dengan kondisi air + 5 cm. Penyusunan acuan rekomendasi pemupukan padi sawah didasarkan hasil-hasil analisa tanah dan hasil penelitian pemupukan padi sawah oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanaian Sultra dan Balai lainnya.

Penentuan rekomendasi pemupukan didasarkan atas status hara tanah dan kebutuhan tanaman. Filosopinya adalah pada tanah dengan status hara yang rendah, respon pemupukan sangat tinggi, status sedang sedikit respon dan pada status hara tinggi tanaman tidak respon lagi. Artinya, pada tanah yang berstatus hara tinggi pemberian pupuk tidak mempengaruhi produksi, status sedang mempengaruhi produksi dan pada status rendah nyata mempengaruhi produksi.

 

 

 

 

 

 

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Tanaman padi adalah makan padi khususnya negara indonesia ini namun banyak sekali hal-hal yang dapat menurunkan kualitas dan kuanlitas padi tersebut muali dari faktor bibit, linkungan, penyakit yang menyerang tanaman padi dan masih banyak lainnya. oleh karena itu kita harus mengetahui bagaimana caranya agar para petani mendapatkan kualitas dan kuantitasnya baik dan bermutu. Hal itu dapat dilakuakan dengan cara pemilihan bibit yang berkualitas, air dan tanah yang subur, penyemprotan obat padi agar tidak terserang penyakit, cara mengatasi padi yang terkena hama, dan faktor-faktor lainnya yang dapat menyebabkan petani gagal panen.

4.2 Saran

Para petani perlu mengetahui hal-hal yang menyebabkan gagal panen agar tidak mengalaminya. Dan tau bagaimana cara pengolahan atau membibitan taman padi yang benar sehingga dapat menghasilkan panen yang berkualitas dan kuantitas yang baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

-Buletin peramalan. Balai petanian.2006

-Herman Ahmad.Cara Menanam Padi/www.google.com/file:///D:/Hama-dan-Penyakit-Tanaman-Padi_files/ad_refresher.htm

-www.google.com/file:///D:/Hama-dan-Penyakit-Tanaman-Padi_files/like.htm

-www.google.com/file:///D:/Hama-dan-Penyakit-Padi_files/DocPage_BetweenPage.htm

 

 

 

 


Uncategorized

No Comments to “Masalah umum yang dihadapi para petani dalam budidaya padi”

Leave a Reply

(required)

(required)


*