Pola Tanam

Pola Tanam adalah Suatau urutan pertama pada sebidang lahan selama periode tertentu (selama 1 tahun) termasuk tanah kosong.

 

 

 

 

 

 

Pola tanam berkembang sesuai dengan:

1)    Tanah dan Iklim

2)    Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

3)    Ekonomi

4)    Sosial budaya

Pola tanam terbagi atas:

A. Monokultur

Pertanaman tunggal atau monokultur adalah salah satu cara budidaya di lahan pertanian dengan menanam satu jenis tanaman pada satu areal. Cara budidaya ini meluas praktiknya sejak paruh kedua abad ke-20 di dunia serta menjadi penciri pertanian intensif dan pertanian industrial. Monokultur menjadikan penggunaan lahan efisien karena memungkinkan perawatan dan pemanenan secara cepat dengan bantuan mesin pertanian dan menekan biaya tenaga kerja karena wajah lahan menjadi seragam. Kelemahan utamanya adalah keseragaman kultivar mempercepat penyebaran organisme pengganggu tanaman (OPT, seperti hama dan penyakit tanaman).

Keuntungan Sistem Monokultur:

  • Pola tanam monokultur memiliki pertumbuhan dan hasil yang lebih besar daripada pola tanam lainnya. Hal ini disebabkan karena tidak adanya persainganantar tanaman dalam memperebutkan unsur hara maupun sinar matahari.
  • Teknis budidayanya relatif mudah karena tanaman yang ditanam maupun yang dipelihara hanya satu jenis.

Kerugian Sistem Monokultur:

  • Budidaya tanaman tunggal pada sebidang tanah dengan mengesampingkan tanaman lainnya. Ini umumnya membutuhkan jumlah besar pupuk buatan, herbisida, pestisida, nematosida, dan langkah-langkah lain beracun potentiall untuk membunuh bug dan meningkatkan hasil. Bahkan dengan alat bantu kimia.
  • Monokultur rentan terhadap wabah penyakit dan infestasi hama. Wes Jackson (Akar Baru Pertanian): pertanian mengarah ke monokultur Annuals, alam dengan polikultur tanaman menahun. Monokultur mengundang hama, penyakit, erosi.

Sistem Monokultur ini dibagi menjadi 2:

1. Sequential Cropping

Penanaman dua tanaman atau lebih pada sebidang lahan pada waktu yang berbeda dalam satu tahun. Tanaman kedua ditanam sesegera mungkin setelah tanaman pertama dipanen. Sistem ini bertujuan untuk meningkatkan intensitas lahan.

Keuntungan:

  • Hama bisa teratasi karena varietas tanaman pada suatu lahan berbeda-beda.
  • Ketersediaan bahan organik tanah lebih beragam karena varietas tanaman beragam

Kerugian:

  • Ekonomi atau biaya yang dikeluarkan tinggi.

 

2. Rotasi Tanam

rotasi tanaman ialah menanam tanaman secara bergulir di suatu lahan pertanian. tanaman ditanam secara berselang seling untuk memberikan waktu pada tanah mengembalikan kesuburannya. Tanah yang subur memberikan keuntungan yang banyak bagi makhluk hidup terutama yang tinggal di permukaan tanah.

Keuntungan:

  • Rotasi tanaman dapat meningkatkan struktur tanah dan kesuburan dengan bergantian tanaman berakar dan dangkal-berakar.
  • Rotasi Tanam bisa menghindari terjadinya peledakan hama

Kerugian:

  • Ketersediaan bahan organik tanah hanya seragam dari satu tanaman saja
  • Pengolahan tanah lebih intensif ketika harus berganti tanaman

B. Tumpang sari/intercropping

Tumpang sari adalah suatu bentuk pertanaman campuran (polyculture) berupa pelibatan dua jenis atau lebih tanaman pada satu areal lahan tanam dalam waktu yang bersamaan atau agak bersamaan. Tumpang sari yang umum dilakukan adalah penanaman dalam waktu yang hampir bersamaan untuk dua jenis tanaman budidaya yang sama, seperti jagung dan kedelai, atau jagung dan kacang tanah. Dalam kepustakaan, hal ini dikenal sebagai double-cropping. Penanaman yang dilakukan segera setelah tanaman pertama dipanen (seperti jagung dan kedelai atau jagung dan kacang panjang) dikenal sebagai tumpang gilir.

Prinsip Tumpang Sari

  • Tanaman sela/tumpangsari/intercropping =  untuk meningkatkan ouput/hasil produksi/perolehan (cash) per satuan luas lahan
  • Populasi tanaman pokok harus maksimal atau produksi atau perolehannya (cash) sudah  maksimal
  • Kebutuhan tanaman thd lingkungan tidak sama, mis C3 & C4, tan legum & non legum dsb.
  • Ketersediaan/luas lahan terbatas (0,2 – 1,0 Ha)

Menurut Suryanto (1990) dan Tono (1991) bahwa prinsip tumpangsari lebih banyak menyangkut tanaman diantaranya :

»      Tanaman yang ditanam secara tumpangsari, dua tanaman atau lebih mempunyai umur yang tidak sama

»      Apabila tanaman yang ditumpangsarikan mempunyai umur yang hampir sama, sebaiknya fase pertumbuhannya berbeda.

»      Terdapat perbedaan kebutuhan terhadap air, cahaya dan unsur hara.

»      Tanaman mempunyai perbedaan perakaran.

Macam dan Bentuk Pola Tanam Tumpang Sari:

1. Intercropping

Penanaman 2  tanaman atau lebih yang mempunyai umur relatif sama, pada saat yang bersamaan dengan  pengaturan jarak tanam.

2. Relay Cropping

Penanaman 2 tanaman atau lebih dimana tanaman yang kedua ditanam saat tanaman pertama telah melewati fase vegetatif atau pada fase generatif.

3. Alley Cropping

Penanaman tan tumpangsari yang berupa tanaman pohon legum pada kedua sisi tanaman pokok, sehingga terbentuk seperti pagar atau lorong.

4. Sistem Surjan

Sistem tumpangsari didaerah banyak air dg meninggikan sebagian lahan. Lahan yang tinggi ditanami tanaman semusim atau tanaman tahunan, sedangkan bagian yg bawah ditanam.

5. Agroforestry

Pripsipnya sama dengan Alleycropping bedanya hanya tanaman tahunannya adalah tanaman hutan seperti jati, pinus, damar.

6. Multi Strata Cropping

Penanaman tumpangsari berbagai tanaman dg ketinggian berbeda.

Dari semua sistem ini sistem ini memiliki beberapa manfaat yang sama yaitu sebagai penangugulaan hama dan hasil produksi pun bsa tidak hanya satu macam namun bermacam-macam sehingga hasil produksi pun tinggi, namun sistem ini cendrung mengeluarkan biaya yang relative tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>