TUGAS KULIAH ANALISA LANSKAP

Dosen Pengampu:  Dr.Ir. Sudarto, SU

 

 

Oleh:

Nama              : Muhammad Firly Rizkyama

NIM                 : 155040201111190

Kelas               : C

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG

2018

 

 

 

GAYA EKSOGEN

DENUDASI DAN DEPOSISI

Secara sederhana proses eksogen dapat dijelaskan sebagai berikut.

Di permukaan bumi, bagian litosfer yang muncul akan mengalami penggerusan oleh tenaga eksogen yaitu dengan jalan pelapukan, pengikisan dan pengangkutan, serta sedimentasi. Misalnya di permukaan laut muncul bukit hasil aktivitas tektonisme atau vulkanisme. Mulamula bukit dihancurkannya melalui tenaga pelapukan, kemudian puing-puing yang telah hancur diangkut oleh tenaga air, angin, gletser atau dengan hanya grafitasi bumi. Hasil pengangkutan itu kemudian diendapkan, ditimbun di bagian lain yang akhirnya membentuk timbunan atau hamparan bantuan hancur dari yang kasar sampai yang halus.

(Gambar 1. Proses Eksogen)

 

DENUDASI

Proses ini ditandai dengan adanya pengikisan, pemindahan atau transportasi bahan yang ada di muka bumi yang selanjutnya akan di endapkan di tempat lain).

Proses denudasi terbagi menjadi 4

  1. Proses denudasi di Tropika Basah yang meliputi (Karakteristik lahan dan peranan vegetasi)
  2. Denudasi Kimia
  3. Eluviasi Mekanik
  4. Proses Pemindahan Fisik

 

  1. Proses denudasi di Tropika Basah

Proses ini meliputi beberapa tahapan yang melibatkan pelapukan batuan, pemindahan bahan, dan pengendapan. Ketiga proses tersebut dapat dikelompokan dalam dua kategori yakni proses kimiawi dan proses mekanik di bawah gaya berat dan aliran air. Seperti yang sudah dijelaskan di atas. Proses  denudasi di tropika basah meliputi karakteristik lahan dan peranan vegetasi.

  • Karakteristik Lahan

Ada beberapa faktor yang menyebabkan lahan berbeda-beda. Hal-hal tersebut meliputi curah hujan dan suhu yang tinggi. Sehingga dapat dikatakan bahwa jika curah hujan tinggi dengan dilakukannya penanaman secara intensif maka proses pelapukan baik itu kimia dan juga solumnya akan dalam.

Peranan aktivitas manusia juga mempengaruhi dalam peranannya jika tidak mengganggu, maka vegetasi yang ada seperti rumput, semak, pepohonan akan berkesinambungan.

  • Peranan Vegetasi

Peranan vegetasi dalam mempengaruhi geomorfologi di tropika basah  meliputi beberapa cara.

  1. Meredam energi tetesan tanah
  2. Menahan aliran air di permukaan
  3. Meningkatkan infiltrasi melalui berkurangnya aliran permukaan dan perbaikan struktur tanah.
  4. Pemakan air dan hara untuk proses-proses metabolisme
  5. Peningkatan kemampuan tanah menahan proses-proses pencucian hara / larutan tanah
  6. Mempengaruhi kesuburan tanah dan mempertahankan pertumbuhan penutup lahan
  7. Menahan bahan2 yang terangkut oleh aliran permukaan, lalu terjadi pengendapan
  8. Mengurangi pengaruh fluktuasi suhu udara, dan
  9. Mengurangi pengaruh erosi

 

  1. Denudasi Kimia

Dalam proses pelapukan terjadi pergerakan dan translokasi ion2 terlarut ke tempat lain. Prosesproses tersebut termasuk dalam denudasi kimia Proses denudasi kimia aktif di daerah tropika basah, karena :

  • curah hujan tinggi
  • vegetasi lebat
  • pelapukan intensif
  • solum tanah dalam

 

  1. Eluviasi Mekanik

Eluviasi merupakan proses pedogenik yang melibatkan pergerakan material tanah dari satu tempat ke tempat lain dalam profil tanah. Hal tersebut dapat terjadi apabila kelebihan air dan struktur tanah baik.

 

  1. Proses Pemindahan Fisik

Proses ini dibagi menjadi 3 yaitu, gerakan massa, erosi permukaan, dan erosi oleh sungai.

  1. Gerakan massa

Perpindahan beberapa atau sejumlah tanah dan juga batuan ke tempat yang lebih rendah (gerakan lambat&gerakan cepat).

(Gambar 2. Gerakan massa lambat)

(Gambar 3. Gerakan Massa Cepat)

Selain gerakan massa yang cepat dan lambat, terdapat gerakan massa yang lain seperti perpindahan massa landside yang di dalamnya meliputi slump, debris slide, rock slide, dan rock fall). Ada juga perpindahan massa yang berasal dari proses subsiden seperti solution dolin dan collaps dolin.

(Gambar 4. Perpindahan massa landside)

(Gambar 5. Perpindahan massa solution dolin)

(Gambar 6. Perpindahan massa colaps dolin)

  1. Erosi Permukaan

Erosi permukaan umumnya terjadi karena adanya intersepi hujan ke lahan pertanian tanpa adanya penutup tanah, sehingga air tidak dapat melanjutkan proses perkolasi ke dalam tanah dan akan melimpaskan air hujan terebut pada permukaan yang nantinya akan menimbulkan adanya erosi.  Erosi mula-mula akan mengikis horizon yang paling atas yaitu horizon A selanjutnya mengikis horizon B, lalu kemudian seterusnya. Macam-macam erosi yakni erosi percik, erosi alur, erosi lembar, dan erosi parit.

 

  1. Erosi Sungai

Erosi sungai merupakan proses naiknya aliran permukaan air pada sungai ke daratan, disebabkan karena debitnya terlalu tinggi sehingga erosi dapat mengikis daratan.

(Gambar 7. Erosi sungai)

 

DEPOSISI

Deposisi terbentuk karena ada endapan-endapan yang menyebabkan munculnya landform baru pada permukaan bumi. Macam-macam landform seperti Landform Alluvial, Marin, dan Flufio Marin. Sistem Fluvial dibagi menjadi 3 zone (zona produksi sedimen, zona transfer sedimen, dan zona deposisi sedimen).

1). Zone produksi sedimen: zone sungai bagian atas (biasanya pegunungan atau lahan kering)

2). Zone transfer sediment: zone pengangkutan (input = output)

3). Zone deposisi sedimen: umumnya terletak di sepanjang pantai dan membentuk delta atau dataran rendah di pantai

 

 

 

 

TUGAS KULIAH ANALISA LANSKAP

Dosen Pengampu:  Dr.Ir. Sudarto, SU

 

 

Oleh:

Nama              : Muhammad Firly Rizkyama

NIM                 : 155040201111190

Kelas              : C

 

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG

2018

 

Gunung Berapi

Bukit atau gunung yang

Gunung berapi ditandai dengan mempunyai lubang kepundan sebagai tempat keluarnya magma dan atau gas ke permukaan bumi. Di Indonesia jumlah bunung berapi kurang lebih sekitar 500 buah dengan 129 diantaranya masih aktif dan 70 diantaranya sering meletus.

Letusan gunung berapi dapat mengakibatkan timbulnnya suatu lahan baru pada lapisan atas permukaan tanah, atau biasa diebut dengan landform vukanik. Landform yang terbentuk karena aktivitas volkanik/gunung berapi (resen atau subresen). Landform ini dicirikan dengan adanya bentukan kerucut volkanik, aliran lahar, lava ataupun dataran yang merupakan akumulasi bahan volkanik. Landform dari bahan volkanik yang telah mengalami proses patahan – lipatan dan angkatan (sebagai proses sekunder) tidak dimasukkan dalam landform volkanik.

(Gambar 1. Terbentuknya landform vulkanik)

 

STRUKTUR GUNUNG BERAPI

Strukur gunung berapi dapat terbentuk oleh 2 faktor menurut geomorfologinya

  1. Ujud-ujud Volkanik: Sejumlah ujud-ujud volkanik yang membentuk landform yang khas, misalnya berbagai    macam bentuk gunungapi, kepundan, kaldera, dsb.
  1. Batuan Beku : Batuan beku, apakah intrusif atau ekstrusif, dalam lapisan atau dalam massa,  membentuk komponen geologi lokal yang khusus, yang dapat mendorong perkembangan lansekap melalui proses erosi yang berberbeda.

 

(Gambar 2. Struktur Gunung Berapi)

Tentunya gunung berapi dapat dibentuk oleh adanya suatu lelehan magma atau bahan-bahan lain yang keluar dari perut bumi. Sehingga gunung berapi memiliki beberapa bentuk kerucut yang berbeda-beda tergantung dari bahan induknya. Berikut tipe-tipe magma yang dapat mempengaruhi kondisi fisik gunung berapi.

  1. Magma Granitik

Sangat kental dan tidak dapat mengalirdengan mudah. di dekat permukaan magma ini cepat mengalami pembekuan, seringkali menjadi penghalang pada lubang keluar dan erupsi eksplosif, menghasilkan deposit piroklastik.

  1. Magma Basaltik cair

Mengalir dengan sangat mudah/cepat dan tidak selalu menghasilkan erupsi eksplosif dan membentuk deposit piroklastik. Lava cenderung menyebar dengan lereng landai. Membentuk gunungapi tameng (shield Volcanoes).Contoh yang terkenal adalah Hawaii, yang terdiri dari 5 gunungapi tameng yang saling bergandengan.

Tipe-tipe letusan menurut Lacroix (1908) seperti berikut:

  1. Icelandic
  2. Hawaiian
  3. Strombolian
  4. Vulcanian
  5. Pelean
  6. Plinian

 

(Gambar 3. Tipe-tipe Letusan)

 

  1. Icelandic eruptions

Biasanya melibatkan semburan lava panas, agak cair dari sepanjang celah. Lava menyembur di sepanjang celah.Letusan yang berlanjut akan membentuk suatu dataran tinggi dengan lapisan tebal, dengan lapisan-lapisan lava yang mengeras. Celah keluarnya lava biasanya ditandai oleh “garis” lungur volkanik yang rendah.

(Gambar 4. Tipe Letusan Icelandic)

  1. Hawaian

Lava basaltic cair keluar dari celah, jarang keluar dari kepundan, turun melalui atau mengisi celah-celah di sisi gunung.

(Gambar 5. Tipe Letusan Hawaian)

  1. Strombolian

Suatu gunung berbentuk kerucut curam. Letusan keluar melalui pipa saluran, tidak dari celah.

(Gambar 6. Tipe Letusan Strombolian)

  1. Volkanian

Letusan yang sangat kuat, letusan membentuk membentuk cerobong awan abu hitam yang terdiri dari gas, dan bahan fragmental padat dan tersebar luas.

(Gambar 7. Tipe Letusan Volkanian)

  1. Pelean

Lava yang kental membuat letusan ini bersifat sangat merusak karena cenderung menghasilkan longsoran abu panas dengan kecepatan sangat tinggi (>100 km/jam).

(Gambar 8. Tipe Letusan Pelean)

  1. Plinian

Gunung api yang letusannya sangat dahsyat karena memiliki tekanan gas yang sangat tinggi dan dapur magma yang sangat dalam.

(Gambar 9. Tipe Letusan Plinian)

 

BATUAN BEKU SEBAGAI KOMPONEN GEOLOGIK\

Selain adanya proses vulkan yang dapat membentuk adanya landform, batuan beku juga ikut membentuk geologi melalui 3 cara yakni.

  1. Pluton

Sebagian besar batuan beku adalah intrusif,bahan in terbentuk di bawah permukaan dan membentuk massa batuan yang secara kolektif dikenal sebagai plutons.

  1. Flood Basalt (Basal banjir)

Aliran lava di permukaan cenderung sebagian besar menjadi basal, karena cairan mampu mengalir di area yang luas. terutama jika meletus dari fisura yang panjang bukan satu ventilasi tunggal letusan bentuk lava basaltik banjir dasar, yang bisa membangun

  1. Pyroclastic Flow Deposits (endapan aliran piroklastik)

Pyroclastic (abu, debu, batu) ketika mengalir dapat membentuk endapan tebal dan besar pada suatu daerah.

 

 

 

 

 

 

 

TUGAS KULIAH ANALISA LANSKAP
Dosen Pengampu: Dr.Ir. Sudarto, SU

Oleh:

Nama             : Muhammad Firly Rizkyama

NIM                 : 155040201111190

Kelas              : C

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG

2018

Dinamika Dan Pembentukan Muka Bumi

 

Pembentukan lahan pada muka bumi dapat dibentuk oleh dua aktivitas. Aktivitas ini yaitu aktivitas dari kulit bumi dan juga aktivitas dari luar bumi. Aktivitas kulit bumi mencangkup (lapisan bumi, bentuk, susunan, lapisan bumi, dan perubahan dalam bumi) dan pada aktivitas ini adanya dinamika. Sementara aktivitas dari luar bumi mencangkup (pelapukan, pengangkutan, dan juga pengendapan).

Dalam pembentukan lahan pada muka bumi membutuhkan proses yang lama yakni melibatkan proses eksogen dan eksogen serta pengaruh topografi dan juga manusia.

  • Proses Eksogen

Di permukaan bumi, bagian litosfer yang muncul akan mengalami penggerusan oleh tenaga eksogen yaitu dengan jalan pelapukan, pengikisan dan pengangkutan, serta sedimentasi.

  • Proses Endogen

Dalam proses pembentukan muka bumi, tenaga endogen dibagi menjadi tiga jenis. Yaitu tektonisme, vulkanisme, dan seisme

  • Pengaruh topografi dan manusia

Topografi dan aktivitas manusia merupakan faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan lahan pada muka bumi. Dengan adanya topografi seperti topografi yang bentuknya miring, maka akan memudahkan lahan tersebut mengalami proses erosi. Selain itu adanya aktivitas manusia dalam pengelolaan tanah termasuk ke dalam proses pembentukan lahan.

Proses pembentukan muka bumi mulai awal sampai terbentuknya relief muka bumi terdiri dari beberapa teori, berikut ialah 6 teori yang pembentukan relief bumi:

  1. Teori Kontraksi
  2. Teori laurasia-Gondwana
  3. Teori pergeseran benua
  4. Teori konveksi
  5. Teori pergeseran dasar laut
  6. Teori lempeng tektonik

 

 

Analisa  arah kemagnetan purba  yang  terekam  dalam  batuan  lava  yang  berasal  dari hasil  analisa batuan batuan di benua  Eropa dan Asia serta batuan batuan  yang berasal dari benua  Amerika  Utara.  Kedua  kurva  perpindahan  kutub  utara  magnet  bumi  membentuk  sudut  300  dan  apabila  dianggap  arah  kutub  utara  bumi  tetap  ditempatnya,  maka dengan   cara   menyatukan   ke   dua   kurva   tersebut   dapat   menjelaskan   adanya  perpindahan / pemisahan benua benua seperti posisi saat ini. Struktur dan Lapisan Bumi Ketebalan  kulit  bumi  berbeda  pada  setiap  wilayah  tergantung  ketinggian  wilayah  tersebut.

Pergeseran suatu benua ialah dampak dari adanya gaya tektonisme di bumi yang menyebabkan suatu benua dapat terpisah atau terbelah. Akibat dari adanya pergerakan lempeng tektonik selain berpisahnya benua, ada beberapa kemungkinan hal tersebut dapat terjadi yakni.

  1. Kecepatan sama tinggi
  2. Yang satu tinggi yang satu rendah
  3. Kecepatan sama-sama rendah

Batasnya dapat dibedakan menjadi

  1. Batas menyebar, semakin menjauh biasanya berupa rangkaian punggung dasar laut
  2. Batas terpusatkan, gerakan memusat/mendekat gunungapi dan palung laut yang sejajar dengan batas
  3. Batas menggunting, gerak lereng sejajar dengan arah berlawanan sepanjang perbatasan


 

Gaya Tektonik

Gaya tektonik dapat dibagi menjadi 2 yaitu tektonik epirogenesa dan tektonik orogenesa.

  • Tektonik Epirogenesa

Gerakan vertikal yang lambat dan meliputi daerah yang luas

Epirogenesa Positif: ke dalam bumi, karena beban (sedimen, lava, dll)

Epirogenesa Negatif: ke luar, berupa pengangkatan.

  • Tektonik Orogenesa

Adalah pergerakan lempeng tektonis yang sangat cepat dan meliputi wilayah yang sempit. Tektonik Orogenesa biasanya disertai proses pelengkungan (warping) dan lipatan (folding) yang terjadi akibat adanya tekanan pada arah mendatar pada lapisan batuan yang lentur.

Struktur Diastropik

1.Pelengkungan

Pelengkungan (warping) adalah gerak vertikal yang tidak merata pada suatu daerah, khususnya yang berbatuan sedimen akan menghasilkan perubahan struktur lapisan yang mulanya horisontal menjadi melengkung. Jika melengkung ke atas menjadi kubah (dome), jika ke bawah menjadi cekungan(basin).

Bumi sebenarnya tersusun oleh sejumlah potongan daratan yang tersusun seperti mainan gambar potong (puzzle). Potongan-potongan ini disebut sebagai lempeng tektonik. Lempeng tektonik ini bersifat dinamis dan terus bergerak. Tabrakan antara dua lempeng tektonik dapat menyebabkan gempa tektonik

2. Pelipatan

Lipatan adalah bentuk gelombang pada suatu lapisan kulit bumi karena terdapat tekanan horisontal maupun vertikal pada kulit bumi yang bersifat liat (plastis). Lipatan terbentuk karena pergeseran lempeng tektonik. Pergeseran lempeng tersebut mengakibatkan adanya lapisan yang terdorong secara horizontal, baik pada salah satu tepi lapisan maupun pada kedua tepi lapisan. Lapisan batuan kemudian mengalami pelipatan atau pelengkungan.

3. Retakan

Retakan batuan pada bidang belah alaminya.

  • Bisa terbentuk karena peregangan batuan yang disebabkan pemuaian batuan (pengaruh panas)
  • Dapat membantu percepatan pelapukan batuan, karena air dapat masuk ke dalam batuan
  • Jika hubungan antar batuan cukup lemah, gaya gravitasi pada lereng curam dapat melepaskan batuan dari tempatnya

4. Patahan

Patahan atau retakan merupakan hasil dari gerakan tekanan horizontal dan tekanan vertikal yang menyebabkan lapisan kulit bumi yang rapuh menjadi retak dan patah.

TUGAS ANALISIS LANDSEKAP TERPADU
“Banjir Lumpur di Desa Sumber Brantas, Kec. Bumiaji, Kota Batu, Malang”

Disusun Oleh :
Nama : Muhammad Firly Rizkyama
NIM : 155040201111190
Kelas : C
Kelompok : 2

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018

SOAL A. Kliping berita bencana


Hujan deras yang melanda Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaj, Kota Batu, Malang pada pukul 15.00 WIB pada hari sabtu (03/02/2018) membawa bencana bagi warga sekitar, karena hujan yang deras mengakibatkan banjir lumpur. Penyebab terjadinya banjir lumpur pada daerah tersebut yaitu meningkatnya debit air di lahan pertanian warga pasca hujan lebat yang mengguyur Desa Sumber Brantas selama 3 jam yang mengakibatkan plengsengan penahan lahan pertanian ambrol karena tidak kuat menahan intensitas curah hujan yang tinggi, sehingga terjadi banjir lumpur yang mengalir dari lahan pertanian warga hingga ke jalan raya.
Derasnya aliran air yang mengalir dari saluran air menuju ke lahan pertanian yang lebih rendah mengakibatkan ambrolnya sebagian bahu jalan di kawasan tersebut karena tanah yang berada di bagian bawah jalan ikut tergerus terbawa aliran air. Selain plengsengan warga setempat juga mengalami kerugian karena lahan pertanian mereka rusak, sehingga mereka tidak dapat melakukaan penanaman tanaman pada awal musim tanam, dan terganggunya aktifitas di sepanjang jalan yang menyebabkan banjir lumpur, disebabkan oleh hujan yang deras.
Peristiwa ini bukan kali pertama terjadi di Desa Sumber Brantas, bencana banjir lumpur yang tidak hanya menggenangi jalan raya dan lahan pertanian milik warga saja, namun banjir lumpur ini juga menerjang hingga ke rumah-rumah warga. Jalur penghubung Kota Batu-Pacet-Mojokerto tertutup lumpur hingga sepanjang 50 meter, sehingga pengendara yang hendakkanmelintasi jalur tersebut dihimbau untuk putar arah karena kondisi jalan yang sangat membahayakan.
Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu Achmad Rochim menjelaskan , banjir bandang yang terjadi pada bulan November lalu terjadi karena hujan lebat, debit air di lahan pertanian warga meningkat. Akibatnya, plengsengan penahan lahan pertanian warga ambrol sehingga terjadi banjir lumpur. Hal ini menunjukkan bahwa hujan yang lebat menjadi faktor pemicu utama banjir lumpur di Desa Sumber Brantas yang terjadi pada bulan November dan 3 Februari lalu.
Oleh sebab itu dengan adanya peristiwa banjir lumpur akibat hujan yang lebat, maka diperlukan penanaman pengalihfungsian hutan kembali dari lahan hutan menjadi lahan tanaman hortikultura dan diperluakan tindakan penggunaan pohon khususnya di wilayah hutan agar akar tanaman tersebut mampu menahan permukaan tanah dari pukulan air hjan, sehingga tidak terjadi erosi yang kemudian jika tingkat erosi semakin besar makan longsor akan terjadi.

BAGIAN DARI SOAL A. Mengapa Malang Raya Banyak Dikelilingi Gunung Api ?

Indonesia adalah negara kepulauan yang kaya akan gunungapi. Tidak kurang dari 130 gunungapi aktif atau kurang lebih 17 persen dari jumlah gunungapi di dunia terdapat di Indonesia. Gunung-gunung tersebut tersebar di pulau-pulau besar seperti Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Irian serta pulau-pulau kecil seperti Pulau Bali, Lombok, Sumba, Sumbawa dan Flores, Kepulauan Banda, Maluku Utara, Sangihe bahkan ada yang terdapat di laut seperti Gunung Krakatau.
Ada tiga jalur sistem gunungapi di Indonesia, yaitu:
1. Gunung api yang termasuk jalur Pegunungan Mediterania yang terbagi dalam dua rangkaian yaitu:
– Gunung-gunung yang terletak pada suatu jalur gunung api busur dalam (inner arc) yang merupakan jalur vulkano
aktif yang melewati kepulauan Andaman, Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Sumba, Flores, Alor, Wetar, Damar
dan Laut Banda.
– Jalur gunung api busur luar (outer arc) yang melewati pulau-pulau Simeuleue, Nias, Batu. Mentawai, Enggano,
selatan Pulau Jawa, kemudian muncul di Pulau Sawu, Roti, Timor, Sermata, Buru dan sekitarnya
2. Gunung api yang termasuk jalur pegunungan (sirkum) Pasifik yakni Gunung Lompo batang di Sulawesi Selatan, terus ke Sulawesi Utara yakni Gunung Lokon, Soputan, dan Klabat, terus melewati Kepulauan Sangihe, Talaut, Tidore dan Ternate.
3. Gunung api yang termasuk jalur pegunungan lingkar Australia yaitu yang melewati Pulau Halmahera dan Papua.
Persebaran gunung api ini tersebar merata di daerah pulau jawa, yang mana Kabupaten Malang juga dilewati oleh gunung api dengan jalur mediterania gunung-gunung yang terletak pada suatu jalur gunung api busur dalam (inner arc) maupun jalur gunung api busur luar (outer arc). Hal tersebut mengakibatkan Kabupaten Malang dikelilingi oleh gunung api. Aktifitas lava dari gunung api inilah yang nantinya akan membentuk anakan gunung dan bukit-bukit disekitarnya. Gunung api yang berada di daerah Malang antara lain : Gunung Arjuno Welirang, Gunung Bromo, Gunung Kawi, Gunung Anjasmoro dan Gunung Kelud. Gunung-gunung yang sudah lama tidak mengeluarkan lava sebenarnya lava didalamnya masih aktif namun tidak ada celah keatas untuk keluar, maka dari itu lava dari gunung api tersebut mencari jalan dan akhirnya memunculkan gunung baru. Seperti akibat dari aktivitas lava gunung Kawi yang tidak dapat keluar keatas maka lava tersebut mencari celah kesamping dan memunculkn gunung baru, yaitu gunung Wukir. Hal seperti inilah yang mengakibatkan kabupaten Malang dikelilingi oleh banyak gunung.

Gambar Sebaran Gunung Api di Jawa Timur

SOAL B. Mendeskripsikan kondisi lansekap pada suatu daerah yang dipilih (berkaitan dengan bentuk lahan dan proses geomorfologinya)

Pada Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Malang terletak di bagian tengah Provinsi Jawa Timur, dengan luas sekitar 3.534,86 km2 (353.486 hektar). Terdapat DAS sumber brantas, Wilayah DAS ini sebagian besar berada di Kota Madya Batu dan sebagian kecil berada di Kabupaten Malang (Kecamatan Pujon dan Karangploso). Bagian hulu termasuk kawasan Taman Hutan Raya (Tahura Suryo). Secara geografik terletak pada 115017‟0‟$E2 hingga118019‟0‟‟ Bujur Timur dan 7055‟30‟‟ hingga 7057‟30‟‟ Lintang Selatan. DAS Sumber Brantas ini berada di wilayah pegunungan vulkanik yang mengelilinginya, yaitu Gunung Arjuna-Welirang, Gunung Anjasmara dan Gunung Kawi-Butak.

1.Kondisi Landform
Kondisi geologi dan proses pembentukan lahan menghasilkan bentuk lahan yang dipengaruhi oleh proses vulkanisme. Landform vulkanik yang terjadi akibat pergerakan lempeng yang terus menekan sejak jutaan tahun lalu hingga sekarang. Gunung api terbentuk pada empat busur, yaitu busur tengah benua, terbentuk akibat pemekaran kerak benua; busur tepi benua, terbentuk akibat penunjaman kerak samudara ke kerak benua, busur tengah samudera, terjadi akibat pemekaran kerak samudera dan busur dasar samudera yang terjadi akibat terobosan magma basa pada penipisan kerak samudera.

Pergerakan antar lempeng ini menimbulkan empat busur gunungapi berbeda :
a.Pemekaran kerak benua, lempeng bergerak saling menjauh sehingga memberikan kesempatan magma bergerak ke
permukaan, kemudian membentuk busur gunungapi tengah samudera.
b.Tumbukan antar kerak, dimana kerak samudera menunjam di bawah kerak benua. Akibat gesekan antar kerak tersebut
terjadi peleburan batuan dan lelehan batuan ini bergerak ke permukaan melalui rekahan kemudian membentuk busur
gunungapi di tepi benua.
c.Kerak benua menjauh satu sama lain secara horizontal, sehingga menimbulkan rekahan atau patahan. Patahan atau
rekahan tersebut menjadi jalan ke permukaan lelehan batuan atau magma sehingga membentuk busur gunungapi tengah
benua atau banjir lava sepanjang rekahan.
d.Penipisan kerak samudera akibat pergerakan lempeng memberikan kesempatan bagi magma menerobos ke dasar samudera,
terobosan magma ini merupakan banjir lava yang membentuk deretan gunungapi perisai.
Berdasarkan reliefnya, bentuk lahan di wilayah Malang dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu jalur pelembahan
sempit dan jalur aliran lahar, lalu dataran, perbukitan, dan pegunungan, dimana, berdasarkan posisinya pada
suatu lereng dan kemiringan lerengnya, masih dapat dibagi lagi menjadi berbagai macam bentuk lahan. Jalur
perlembahan tersebar di seluruh lokasi merupakan hasil proses denudasional/ pengikisan dari bentuk lahan asalnya.
Pada beberapa jalur, ditumpuki oleh sedimentasi lahar tua atau debris. Kedalaman, lebar dan bentuknya tergantung
lokasi jalur ini. Di bagian lereng atas pegunungan umumnya cukup lebar dan dalam dengan lemah bentuk V. Di bagian
dataran, tidak terlalu lebar, tidak terlalu dalam dan berbentuk U.

2.Kondisi Lereng
Kemiringan lereng di wilayah Malang khususnya daerah DAS Brantas sangat bervariasi dari datar sampai sangat curam. Lereng datar dijumpai pada dataran antar gunung api di bagian tengah, termasuk dataran sempit antara Gunung Arjuna dan Anjasmara. Lereng terjal umumnya dijumpai pada tebing lereng hampir di semua lokasi. Lereng datar sampai agak datar (<8%) sekitar 19.18% luas areal berada pada dataran vulkanik antar pegunungan. Sebagian besar berada di Kecamatan Junrejo dan Batu dan sebagian kecil di Kecamatan Bumiaji. Di Kecamatan Bumiaji biasanya diusahakan untuk tanaman pangan (padi dan jagung), sedangkan di Kecamatan Batu dan Bumiaji untuk tanaman sayuran. Lereng landai (8-15%) sekitar 16.8% luas wilayah pada dataran berombak di kaki perbukitan yang dimanfaatkan untuk lahan budidaya (tanaman pangan di Kecamatan Bumiaji dan Batu), dan sayuran dan/ atau buah-buahan di Kecamatan Bumiaji. Lereng curam (25-40) sekitar 15.47 % luas wilayah pada kawasan kaki perbukitan atau tebing lembah yang ada di DAS Sumber Brantas. Penggunaan lahan berupa kebun campuran, tanaman pangan atau sayuran.

3.Proses Geomorfologi
Seiring dengan keberagaman sumber daya alam di wilayah Kota Batu, prosesproses geomorfologi di setiap desanya juga sangat beragam. Dari keberagaman inilah tentunya banyak hal yang sangat perlu dikaji khususnya dalam ilmu kegeografian. Salah satu proses geomorfologi yang menjadi fenomena dan sering terjadi yaitu erosi. Erosi merupakan salah satu proses geomorfologi yang sering terjadi di Batu. Proses ini disebabkan oleh berbagai faktor. Erosi merupakan peristiwa yang sering berdampak negatif bagi masyarakat. Seperti halnya erosi tanah akan berpengaruh negatif terhadap produktivitas lahan yang meliputi kurangnya ketersediaan air, nutrisi, bahan organik, dan menghambat kedalaman perakaran (Herlambang, 2011).
Faktor yang berpengaruh terhadap erosi tanah di Desa Tulungrejo Batu yang diduga berperan adalah curah hujan, kemiringan lereng, dan penggunaan lahan, Faktor curah hujan tidak bisa diubah sedangkan faktor kemiringan lereng dapat diatasi dengan teknik konservasi yaitu pembuatan teras dan juga teknik vegetatif. Faktor penggunaan lahan berperan dalam tindakan konservasi yang dilakukan di Tulungrejo. Sebagai contoh, untuk lahan tanaman ketang maka petani membuat kontur searah lereng dengan tujuan drainase pada lahan itu bagus sehingga tanaman kentang tidak busuk. Oleh karena itu, penggunaan lahan menentukan praktek konservasi yang ada pada lahan itu (Herlambang, 2011).

DAFTAR PUSTAKA
Angga, 2017. Banjir Jalan Penghubung Batu Pacet Tertutup Lumpur. Jati Times. Malang
Herlambang, Sudarno. 2011. Garis Besar Geomorfologi Daerah Lintang Rendah. Malang: UniversitasNegeri Malang.

Hello world!

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!