reach

Clarity

adalah kemampuan untukberpikir jernih dimana sangat penting bagi seseorang, selalu memikirkan solusi apabila mendapatkan masalah yangbesar datang. Seseorang tidak akan mampu menyelesaikan masalah tersebutapabila tidak dengan fikiran jernih.Selain berarti pesan harus dapat dimengerti dengan baik, pesan harus jelas sehingga tidak menimbulkan arti ganda (multi interprestasi) atau berbagai penafsiran yang berlainan. Selain itu, clarity juga berarti isi pesan transparan atau terbuka, dengan sikap terbuka maka dapat menimbulkan kepercayaan dari orang lain maupun anggota atau rekan bisnis kita.

PROFIL KLENGER BURGER

 

 

I. ASPEK TEKNIS

LEGALITAS

• Bentuk izin usaha : SIUP Perorangan

  • Ijin Usaha : Telah memiliki ijin oleh Departemen Kehakiman dan Hak Cipta dengan nomor refistrasi : J00-2006009768 pada Bulan Februari 2006, Sertifikat Merek no : IDM000142431, bersertifikat halal dari MUI no : 013/TPH-KOTA/IX/2006 serta telah mendapatkan Surat Tanda Pendaftaran Waralaba dengan no : 0005/1.824.271 pada tanggal 12 Mei 2010.

•Jenis produk : Merupakan jenis barang konsumsi. Klenger Burger adalah makanan cepat saji yang terbuat dari roti yang lembut dan daging berurat serta saus spesial yang mengenyangkan dan spicy.

  • Tipe Usaha : Franchise

•Latar belakang pengusaha : Velly Kristanti (35) mengawali karirnya pada tahun 1996 sebagai seorang Senior Account Executive di sebuah perusahaan periklanan di Jakarta. Pilihan untuk keluar dari zona nyaman pekerjaan bukanlah perkara mudah. Namun asa untuk menjadi seorang pengusaha ternyata lebih dominan di dalam benaknya. Ibu dua orang anak ini pun akhirnya terjun bebas ke dunia bisnis bersama sang suami tercinta pada tahun 2004. Mulai dari bisnis di bidang periklanan, kerajinan tangan, IT, hingga akhirnya “tercemplung” ke dunia bisnis F & B yang ia lakoni sampai saat ini. Alhasil 68 outlet franchise bermerek Burger Instan, Klenger Burger Express, Klenger Kriuk, Foodteran, Kwekker, maupun Klenger Fried and Grilled menetas dari tangan dingin wanita berbintang capricorn ini. “Saya sudah mulai berbisnis pada tahun 2002. Bisnis pertama saya adalah Pondok Sayur Asem, sebuah rumah makan sunda yang terletak di Pekayon, Bekasi. Pada waktu yang sama, sebenarnya saya masih bekerja di sebuah kantor advertising. Dua tahun kemudian, suami yang bekerja di sebuah perusahaan Jepang datang membujuk saya untuk benar-benar terjun bebas ke dunia bisnis. Saya mengabulkan permintaannya, dan membangun sendiri sebuah perusahaan advertising. Saya juga sempat menjalankan bisnis di bidang IT dan kerajinan tangan. Segala macem bisnis lah saya jalanin. Tapi ternyata semua berjalan tidak semanis apa yang kita bayangkan. Sampai akhirnya saya mengalami krisis keuangan di tahun 2006. Punya duit tinggal sedikit. Karena takut hilang, duit yang tinggal sedikit itu akhirnya saya investasikan. Ternyata diinvestasikan malah hilang beneran. Jadi yang bener itu, ya kita ngga usah takut apa-apa (tertawa). Yang penting semangat harus terus kita jaga.” Papar wanita lulusan tahun 1993 Sastra Belanda Universitas Indonesia tersebut. Velly pun sempat melancarkan riset kecil-kecilan untuk menentukan jenis makanan apa yang hendak ia jual. Proses riset mengerucut setelah ia mendapatkan ide untuk menjual burger. Menurutnya makan burger adalah tren anak muda saat ini. Alhasil ide untuk menjual burger tersebut membawanya untuk menyelami berbagai resep burger dari seluruh dunia. “Padahal saya tidak punya pengalaman bekerja atau sekolah chef. Saya hanya belajar otodidak dari buku-buku resep burger. Saking banyaknya resep yang saya pelajari, buku resep burger yang sudah terkumpul pun menjadi tidak berguna. Saya buat sendiri burger versi saya. Versi lidah orang Indonesia.” Ungkap Velly”. Velly menggunakan jenis daging yang teksturnya lebih berurat sehingga rasanya lebih kenyal saat dikunyah. Selain itu, saus yang digunakan juga merupakan asli kreasi Velly yang diberi nama Klenger Mix. Alhasil didapatlah Burger mengenyangkan bercita rasa gurih dan spicy. Pada tahun yang sama setelah Grand Opening tanggal 10 Februari 2006, ternyata Velly sudah bisa meraih kepercayaan para franchisee hingga ia mampu mencabangkannya sebanyak 38 outlet. ”Padahal izin kami hanya SIUP Perorangan waktu itu. Surprise banget buat saya.” Lanjut Velly. Velly kini tersenyum manis. Walaupun ia mengaku sempat mengalami pencurian hak paten Klenger Burger di tahun 2008, tetap saja hal tersebut tak berhasil membendung perkembangan usahanya. Sebab hingga Februari 2010 , tak kurang dari 68 outlet sudah terdaftar dalam outlet list PT. Kinarya Anak Negeri.

tugas bisnis plan

               BAB  I 

Aspek Teknis

 

PT (Persero) Jakarta Industrial Estate Pulogadung atau PT. JIEP adalah perseroan terbatas milik Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Propinsi DKI Jakarta dengan porsi kepemilikan saham masing-masing 50%. PT. JIEP yang berlokasi di Pulogadung Jakarta Timur, didirikan pada tanggal 26 Juni 1973 dengan Akte nomor127 oleh Notaris Abdul Latief di Jakarta.

Perusahaan telah beberapa kali mengalami perubahan Anggaran Dasar, terakhir berdasarkan Keputusan Bersama para Pemegang Saham tanggal 8 Oktober 2004 dan diaktakan dengan Akte Notaris Betsail Mentajana, SH nomor 6 tanggal 21 Maret 2005 yang mencakup antara lain mengenai perubahan modal disetor perusahaan. Akte perubahan telah mendapatkan pengesahan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI. No C-08755 HT.01.04.TH.2005 tanggal    1 April 2005.

PT. JIEP merupakan perusahaan pengelola Kawasan Industri pertama di Indonesia, yang pada awalnya bertugas menyediakan Tanah Kapling Industri (TKI) dan semua fasilitas industri yang tertata dengan baik bagi para investor yang akan melakukan investasi di bidang manufacturing. Pada perkembangan selanjutnya dan sesuai dengan tuntutan pasar, PT. JIEP melaksanakan diversifikasi sekaligus perluasan usaha dengan membangun secara bertahap bangunan sewa seperti Bangunan Pabrik Siap Pakai (BPSP) 1 s/d 4 lantai, Pergudangan (tertutup dan terbuka), Transit Warehouse, Sarana Usaha Industri Kecil (SUIK), serta bangunan pendukung lainnya. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk lebih menjamin kelangsungan hidup perusahaan di masa depan. Untuk Tanah Kapling Industri berstatus dijual, untuk Bangunan Pabrik Siap Pakai (BPSP) berstatus disewakan, untuk Sarana Usaha Industri Kecil (SUIK) berstatus disewakan, untuk Pergudangan & Bangunan Kantor berstatus disewakan, dan untuk Real Estate berstatus dijual.

Pendahuluan

Sampai dengan tahun keempat Repelita III berbagai jenis industri hilir telah berkembang dengan pesat sehingga berbagai macam kebutuhan masyarakat banyak akan hasil industri telah dapat dipenuhi. Langkah-langkah yang telah diambil untuk memperkokoh landasan pembangunan dan pengembangan industri yang berakar pada kemampuan dalam negeri dilakukan melalui pendekatan sektoral dan regional. Pendekatan sektoral dilaksanakan melalui pembangunan proyek-proyek industri dasar/kunci/hulu dengan tujuan memberikan kedalaman-kedalaman pada struktur dan pola industri nasional. Industri dasar tersebut mengolah berbagai bahan mentah/kekayaan alam menjadi bahan baku, bahan/barang setengah jadi dan barang jadi, baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun ekspor. Dengan berbagai usaha pengolahan ini dapat dimantapkan dan diperkokoh struktur industri nasional hingga secara barangsur dapat dikurangi ketergantungan akan impor bahan baku dan komponen. Usaha-usaha ini sekaligus merupakan pemantapan persiapan untuk pembangunan industri dalam Repelita IV. Proyek-proyek industri dasar yang dibangun meliputi industri kimia dasar, industri logam dasar dan aneka industri. Sebagian dari proyek-proyek tersebut akan selesai pada akhir Repelita III dan sebagian lagi akan diselesaikan dalam kurun waktu Repelita IV. Beberapa proyek bahkan telah selesai dan mulai menghasilkan pada tahun 1982/83, seperti misalnya pabrik peleburan aluminium dan pabrik pembuatan besi, baik besi kasar, besi batangan maupun besi lembaran.

Sejalan dengan peningkatan pembangunan sektor industri tersebut, maka sejak pertengahan Repelita III telah dimulai pendekatan aecara regional. Dalam hubungan ini telah disusun kerangka pengembangan wilayah industri yang meliputi Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI), zona industri, kompleks industri, kawasan industri, Lingkungan Industri Kecil (LIK), Pemukiman Industri Kecil (PIK) dan Sarana Usaha Industri Kecil (SUIK). Hingga tahun 1982/83 telah diidentifikasi 5 WPPI yang dapat menjadi pusat-pusat pendorong utama dan penggerak pembangunan industri nasional.

 

 

Lingkungan industri kecil

 

LIK merupakan suatu daerah tertentu didalam atau diluar zona industri yang memiliki jaringan prasarana bagi sejumlah unit produksi, memiliki pelayanan bersama atau Common Service Facilities (CSF) dan fasilitas untuk memberikan pelayanan dan pembinaan.

CONTOH LINGKUNGAN INDUSTRI KECIL

INDUSTRI SERAT SABUT KELAPA”

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Sebagai negara kepulauan dan berada di daerah tropis dan kondisi agroklimat yang mendukung, Indonesia merupakan negara penghasil kelapa yang utama di dunia. Pada tahun 2000, luas areal tanaman kelapa di Indonesia mencapai 3,76 juta Ha, dengan total produksi diperkirakan sebanyak 14 milyar butir kelapa, yang sebagian besar (95 persen) merupakan perkebunan rakyat. Kelapa mempunyai nilai dan peran yang penting baik ditinjau dari aspek ekonomi maupun sosial budaya.

Sabut kelapa merupakan hasil samping, dan merupakan bagian yang terbesar dari buah kelapa, yaitu sekitar 35 persen dari bobot buah kelapa. Dengan demikian, apabila secara rata-rata produksi buah kelapa per tahun adalah sebesar 5,6 juta ton, maka berarti terdapat sekitar 1,7 juta ton sabut kelapa yang dihasilkan. Potensi produksi sabut kelapa yang sedemikian besar belum dimanfaatkan sepenuhnya untuk kegiatan produktif yang dapat meningkatkan nilai tambahnya.

Serat sabut kelapa, atau dalam perdagangan dunia dikenal sebagai Coco Fiber, Coir fiber, coir yarn, coir mats, dan rugs, merupakan produk hasil pengolahan sabut kelapa. Secara tradisionil serat sabut kelapa hanya dimanfaatkan untuk bahan pembuat sapu, keset, tali dan alat-alat rumah tangga lain. Perkembangan teknologi, sifat fisika-kimia serat, dan kesadaran konsumen untuk kembali ke bahan alami, membuat serat sabut kelapa dimanfaatkan menjadi bahan baku industri karpet, jok dan dashboard kendaraan, kasur, bantal, dan hardboard. Serat sabut kelapa juga dimanfaatkan untuk pengendalian erosi. Serat sabut kelapa diproses untuk dijadikan Coir Fiber Sheet yang digunakan untuk lapisan kursi mobil, Spring Bed dan lain-lain.

Serat sabut kelapa bagi negara-negara tetangga penghasil kelapa sudah merupakan komoditi ekspor yang memasok kebutuhan dunia yang berkisar 75,7 ribu ton pada tahun 1990. Indonesia walaupun merupakan negara penghasil kelapa terbesar di dunia, pangsa pasar serat sabut kelapa masih sangat kecil. Kecenderungan kebutuhan dunia terhadap serat kelapa yang meningkat dan perkembangan jumlah dan keragaman industri di Indonesia yang berpotensi dalam menggunakan serat sabut kelapa sebagai bahan baku / bahan pembantu, merupakan potensi yang besar bagi pengembangan industri pengolahan serat sabut kelapa.

Hasil samping pengolahan serat sabut kelapa berupa butiran-butiran gabus sabut kelapa, dikenal dengan nama Coco Peat. Sifat fisika-kimianya yang dapat menahan kandungan air dan unsur kimia pupuk, serta dapat menetralkan keasaman tanah menjadikan hasil samping ini mempunyai nilai ekonomi. Coco Peat digunakan sebagai media pertumbuhan tanaman hortikultur dan media tanaman rumah kaca.

Dari aspek teknologi, pengolahan serat sabut kelapa relatif sederhana yang dapat dilaksanakan oleh usaha-usaha kecil. Adapun kendala dan masalah dalam pengembangan usaha kecil/menengah industri pengolahan serat sabut kelapa adalah keterbatasan modal, akses terhadap informasi pasar dan pasar yang terbatas, serta kualitas serat yang masih belum memenuhi persyaratan.

Dalam rangka menunjang pengembangan industri serat sabut kelapa yang potensial ini, diperlukan acuan yang dapat dimanfaatkan pihak perbankan, investor serta pengusaha kecil dan menengah sehingga memudahkan semua pihak dalam mengimplementasikan pengembangan usaha pengolahan serat sabut kelapa ini. Hasil penelitian yang disusun dalam bentuk Lending Model ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Tujuan

  1. Menyediakan rujukan bagi perbankan dalam rangka meningkatkan realisasi kredit usaha kecil, khususnya untuk komoditi serat sabut kelapa

  2. Menyediakan informasi dan pengetahuan untuk mengembangkan usaha kecil serat sabut kelapa terutama tentang aspek keuangan, produksi, dan pemasaran.

PROFIL USAHA

Berdasarkan studi kasus industri pengolahan serat sabut kelapa di Kabupaten Ciamis, usaha industri pengolahan serat sabut kelapa adalah dalam bentuk usaha kecil. Usaha ini awalnya berkembang sebagai wujud kemitraan dengan seorang pengusaha di kota Bandung pada tahun 1990, dimana pengusaha memberikan fasilitas mesin pemisah serat sabut kelapa dalam bentuk kredit dengan nilai sekitar Rp. 40 juta. Pengembalian kredit kepada pengusaha dilakukan melalui hasil penjualan produk serat sabut kelapa. Menurut Kandep Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Ciamis jumlah usaha kecil yang terlibat dalam skema kemitraan tersebut berjumlah 27 pengusaha. Informasi yang diperoleh dari responden pengusaha kecil yang melaksanakan kemitraan tersebut menyatakan bahwa pada umumnya kredit tersebut sudah lunas – walaupun demikian sebagian pengusaha kecil masih melaksanakan ikatan bisnis dengan pengusaha tersebut dalam bentuk penjualan hasil.

Berdasarkan kriteria Deperindag, di antara 27 pengusaha tersebut sebagian besar merupakan usaha kecil non-formal dan hanya 4 usaha yang tergolong dalam kelompok industri kecil formal, dalam pengertian mempunyai izin usaha dan persyaratan formal lain seperti NPWP. Selain ke-27 usaha kecil, di wilayah kasus terdapat 1 (satu) perusahaan yang dapat dikategorikan skala menengah/besar dan satu unit yang merupakan kegiatan usaha koperasi.

Studi kasus menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden pengusaha beragam dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Usaha industri serat sabut kelapa merupakan pekerjaan atau sumber penghasilan utama sebagian responden. Sebagian responden lain menyatakan usaha ini bukan merupakan satu-satunya usaha, dan sebagian besar dari responden kelompok ini menyerahkan operasional kegiatan industri (kecuali pemasaran) kepada orang lain.

POLA PEMBIAYAAN

Hasil wawancara dengan responden pengusaha kecil serat sabut kelapa menunjukkan bahwa keseluruhan kebutuhan biaya untuk operasi usaha berasal dari dana sendiri. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari responden bank umum yang beroperasi di Kabupaten Ciamis, tercatat hanya satu Bank yang memberikan fasilitas kredit kepada pengusaha kecil industri serat sabut kelapa, dan inipun terbatas hanya kepada 2 orang pengusaha. Kredit yang diberikan adalah berupa kredit investasi dengan jumlah masing-masing pengusaha Rp. 40 juta, dengan suku bunga 21 % dan jangka waktu pengembalian 3 tahun. Kredit investasi tersebut diberikan atas pertimbangan bahwa usaha industri sabut kelapa yang dibiayai layak dan menguntungkan serta adanya mitra sebagai penjamin pasar produk serat sabut kelapa, serta jaminan dalam bentuk sertifikat tanah/bangunan tempat usaha dan mesin yang dibiayai.

Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak responden perbankan diperoleh kesan bahwa pihak perbankan relatif bersifat “menunggu” untuk memberikan fasilitas kredit kepada usaha serat sabut kelapa ini serta terbatasnya informasi tentang prospek pasar dan kelayakan usaha serat sabut kelapa ini. Di lain pihak, hasil wawancara dengan pengusaha kecil menunjukkan bahwa pengusaha kecil serat sabut kelapa dihadapkan kepada kendala dalam memenuhi persyaratan dan prosedur untuk memperoleh kredit. Kendala tersebut menyebabkan pengusaha kecil “enggan” untuk mengajukan aplikasi kredit, walaupun dibutuhkan terutama untuk modal kerja. Kebutuhan modal kerja bagi pengusaha kecil merupakan hal yang penting, oleh karena pengusaha kecil memperoleh pembayaran dari hasil penjualan produk serat setelah 3 – 4 minggu.

PERSAINGAN DAN PELUANG PASAR

Potensi persaingan industri serat sabut kelapa dapat ditinjau dari aspek persaingan produk substitusi dan persaingan industri sejenis. Dari aspek persaingan produk substitusi, khususnya sebagai bahan baku untuk industri jok kursi (mobil dan rumah tangga), dash board mobil, tali dan produk sejenis, serat sabut kelapa menghadapi persaingan dengan industri produk sintetis seperti karet busa dan plastik. Walaupun demikian, karakteristik fisika-kimia serat sabut kelapa yang spesifik dan biodegradable serta berfungsi sebagai heat retardant menjadikan serat sabut kelapa mempunyai fungsi yang spesifik yang tidak dapat digantikan oleh produk sintetis. Selain itu kesadaran konsumen terhadap kelestarian akan lingkungan dan kecenderungan untuk kembali menggunakan produk alami, menyebabkan serat sabut kelapa mempunyai peluang pasar dan mampu bersaing dengan produk-produk sintetis. Selain itu karakteristik fisika-kimia serat sabut kelapa menjadikan serat sabut kelapa berpotensi sebagai bahan baku untuk pengembangan produk industri seperti geotextile.

Dari aspek persaingan industri sejenis, serat sabut kelapa Indonesia dihadapkan kepada negara-negara pesaing yang lebih maju dalam hal teknologi produksi serat sabut kelapa, sehingga mempunyai kualitas yang lebih unggul. Persaingan tersebut juga dihadapi oleh karena perkembangan aplikasi teknologi yang lebih maju dalam membuat produk industri dengan bahan baku serat sabut kelapa. Negara-negara pesaing Indonesia tersebut antara lain adalah Srilanka, India, Thailand dan Philipina.

Ditinjau dari kecenderungan permintaan dunia terhadap serat sabut kelapa yang meningkat, serta kontribusi Indonesia yang masih sangat kecil dalam perdagangan dunia, serat sabut kelapa Indonesia mempunyai keunggulan komparatif (potensi produksi sabut kelapa) dan mempunyai peluang yang besar. Peluang tersebut dapat diraih dengan syarat adanya perbaikan dan pengembangan teknologi proses sehingga menghasilkan serat yang memenuhi persyaratan kualitas yang diinginkan pasar.

JALUR PEMASARAN PRODUK

Rantai pemasaran serat sabut kelapa secara garis besar dapat dilihat pada Grafik 3.1. Usaha kecil serat sabut kelapa secara umum tidak dapat langsung memasarkan produknya kepada eksportir sabut kelapa. Hal ini karena persyaratan mutu produk usaha kecil masih belum dapat memenuhi persyaratan mutu yang diinginkan. Selain itu, ketiadaan fasilitas mesin pengepress sabut – menyebabkan biaya transportasi per Kg produk untuk dipasarkan langsung ke eksportir menjadi mahal dan tidak layak.

Grafik 3.1. Rantai Tataniaga Serat Sabut Kelapa

KENDALA DAN HAMBATAN

Berdasarkan hasil studi kasus industri kecil pengolahan sabut kelapa di Kabupaten Ciamis, kendala dan hambatan yang dihadapi oleh pengusaha adalah relatif mahalnya biaya transportasi produk untuk pemasaran langsung ke industri pengguna serat sabut kelapa atau eksportir. Hal ini karena keterbatasan dan kendala modal untuk pengadaan mesin “press”. Akses terhadap informasi dan pasar ekspor merupakan salah satu kendala usaha kecil serat sabut kelapa pada aspek pemasaran ini. Hal ini juga berhubungan dengan kelengkapan mesin / peralatan produksi pada usaha kecil yang menyebabkan jumlah dan kualitas produk yang dihasilkan tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk ekspor langsung. Pada tingkat pemasaran lokal dan domestik yang terjadi selama ini, kendala yang dihadapi oleh pengusaha kecil adalah lamanya realisasi pembayaran hasil penjualan produk. Kendala ini semakin dirasakan oleh pengusaha kecil karena keterbatasan modal kerja.

ASPEK KEUANGAN KOMPONEN BIAYA

Analisa aspek keuangan diperlukan untuk mengetahui kelayakan usaha dari sisi keuangan, terutama kemampuan pengusaha untuk mengembalikan kredit yang diperoleh dari bank. Analisa keuangan ini juga dapat dimanfaatkan pengusaha dalam perencanaan dan pengelolaan usaha industri pengolahan serat sabut kelapa.

Perhitungan aspek keuangan terdiri dari dua skenario berdasarkan kelengkapan alat dan proses yang digunakan, yang berimplikasi kepada total kebutuhan dana, kapasitas, kualitas dan harga produk serta jangkauan pasar. Skenario teknologi -1, usaha dilengkapi dengan mesin pengering dan mesin pengepress, dengan kapasitas usaha yang lebih besar yaitu 1500 kg serat per hari. Pada skenario -2, pengeringan dengan cara penjemuran dan pengepressan dilakuan secara manual. Teknologi-2 yang sederhana ini sebagian besar diterapkan oleh usaha kecil di daerah penelitian (Kabupaten Ciamis). Ke dua skenario tersebut menggunakan sumber kredit yang sama, dengan tingkat bunga 24% per tahun.

Untuk penyusunan dan proyek kelayakan usaha diperlukan adanya beberapa asumsi mengenai parameter teknologi proses maupun biaya. Asumsi ini diperoleh berdasarkan kajian terhadap usaha industri serat sabut kelapa di daerah penelitian serta informasi yang diperoleh dari pengusaha dan pustaka. Asumsi tersebut disajikan pada Tabel 5.1.

Komponen biaya usaha industri pengolahan mencakup biaya investasi dan biaya operasi usaha. Biaya investasi mencakup (1) pengadaan alat dan mesin, (2) bangunan, dan (3) modal kerja. Modal kerja direncanakan untuk kebutuhan dana operasi selama 4 bulan. Perincian kebutuhan biaya investasi dan biaya operasi usaha yang dikelompokkan menjadi biaya tetap dan biaya tidak tetap dilihat pada Lampiran 1 dan Lampiran 2. Pada Tabel 5.2 disajikan total kebutuhan biaya untuk setiap skenario rencana usaha.

PENDAPATAN

Pendapatan usaha industri serat sabut kelapa diperoleh dari produk utama, yaitu serat dan hasil samping berupa gabus yang dikenal sebagai Coco Peat. Pendapatan usaha diproyeksikan dengan asumsi bahwa pada tahun pertama usaha beroperasi pada kapasitas 80% dan pada tahun kedua kapasitas 90%, dan pada tahun ke tiga dan seterusnya beroperasi pada kapasitas 100%.Pada skenario teknologi -1, kelengkapan mesin dan peralatan menyebabkan usaha diproyeksikan mampu menghasilkan produk dengan kualitas yang dapat diterima atau dipasarkan langsung ke konsumen industri pengguna atau eksportir. Pada skenario teknologi -2, teknologi yang sederhana menyebabkan produk yang dihasilkan tidak mempunyai mutu yang dapat diterima langsung oleh industri pengguna atau eksportir. Seperti dapat dilihat pada Tabel 5.3 serta Lampiran 4, keuntungan usaha industri pengolahan serat sabut kelapa dengan teknologi proses yang lebih baik dan pemasaran langsung ke industri pengguna atau eksportir memberikan keuntungan yang lebih baik dibandingkan dengan teknologi yang lebih sederhana (Teknologi-2).

HAMBATAN DAN KENDALA

Hambatan dan kendala yang dihadapi oleh industri serat sabut kelapa ini dari aspek keuangan menyangkut aspek arus kas masuk dan keluar keuangan. Pada aspek arus kas masuk adalah terjadinya penundaan pembayaran hasil penjualan produk yang menyebabkan akumulasi keuntungan usaha tidak dapat membiayai operasi usaha selama masa penundaan pembayaran. Walaupun demikian hambatan dan kendala ini dapat di atasi apabila pengusaha mempunyai “track record” yang baik di mata perbankan, sehingga dapat diatasi melalui kredit modal kerja yang dapat disediakan oleh perbankan. Pada aspek arus kas masuk, khususnya yang menyangkut dengan kebutuhan modal investasi, kendala yang dihadapi oleh pengusaha kecil adalah pada aspek administrasi dan persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh kredit dari perbankan. Di samping itu, hambatan dan kendala akan dihadapi oleh pengusaha dalam memperoleh kredit apabila perbankan belum mempunyai informasi yang lengkap tentang kelayakan dan prospek usaha ini, serta pengusaha atau calon pengusaha yang akan berinvestasi pada industri serat sabut kelapa ini belum pernah menjadi nasabah bank.

Pada aspek arus kas keluar, tidak ada hambatan dan kendala pada aspek keuangan apabila penurunan harga jual dan kenaikan biaya operasi masih di dalam kisaran yang dimungkinkan untuk kelayakan finansial. Simulasi terhadap aspek finansial menunjukkan bahwa usaha ini akan menghadapi masalah finansial jika terjadi kenaikan biaya usaha lebih dari 40% atau penurunan harga jual produk mencapai lebih dari 25%.

ASPEK SOSIAL EKONOMI

Manfaat Sosial Ekonomi

Bahan baku sabut kelapa merupakan hasil samping dari industri pengolahan kopra atau petani / pedagang buah kelapa. Keberadaan industri pengolahan serat ini menjadikan hasil samping sabut kelapa memberikan nilai ekonomis yang lebih baik, sehingga meningkatkan pendapatan petani/pedagang buah kelapa. Pemanfaatan sabut kelapa sebagai bahan baku industri sehingga menjadi komoditi perdagangan menyebabkan terbukanya kesempatan kerja baru, yaitu dalam bentuk adanya pedagang pengumpul sabut kelapa serta usaha jasa transportasi.

Karakteristik usaha kecil industri pengolahan sabut kelapa secara umum tidak sepenuhnya menggunakan mesin / peralatan dalam proses produksinya, khususnya pada tahap pembersihan, penyaringan dan pengeringan. Pada kondisi teknologi produksi tersebut, usaha ini membutuhkan tenaga kerja paling sedikit sekitar 20 – 30 HOK, dengan jam kerja sekitar 6 – 8 jam per hari.

Manfaat Regional

Secara umum keberadaan dan pengembangan industri serat sabut kelapa memberikan dampak yang positif bagi wilayah. Terbukanya peluang kerja serta peningkatan pendapatan masyarakat dan sekaligus peningkatan pendapatan daerah merupakan dampak positif bagi pengembangan industri serat sabut kelapa.

Serat sabut kelapa merupakan komoditi ekspor, sehingga akan memberikan kontribusi bagi pendapatan devisa negara dan sekaligus juga menghemat devisa. Oleh karena serat sabut kepala merupakan bahan baku bagi industri matras, jok mobil, tali dan lain-lain, maka pengembangan industri ini dapat mendorong berkembangnya industri pengguna serat sabut kelapa.

ASPEK DAMPAK LINGKUNGAN

Industri pengolahan serat sabut kelapa tidak menghasilkan limbah cair maupun gas. Limbah yang terjadi adalah dalam bentuk fisik, yaitu berupa hasil samping gabus sabut kelapa dalam jumlah atau volume yang besar. Setiap 1000 butir sabut kelapa yang diproses akan menghasilkan sekitar 100 – 125 liter butiran gabus. Akan tetapi, hasil samping butiran gabus atau Coco Peat ini masih mempunyai nilai ekonomi, dalam pengertian dapat dijual apabila dilakukan proses penyaringan dan pengeringan serta dengan teknologi pengemasan sehingga memenuhi persyaratan mutu yang dikehendaki konsumen. Coco Peat dapat digunakan sebagai media tanam antara untuk tanaman jamur.

Gabus sabut kelapa dalam bentuk debu dari proses pemisahan dan sortasi serat berpotensi terhadap kesehatan tenaga kerja, apabila tenaga kerja tidak dilengkapi dengan pelindung atau masker. Akan tetapi karena ukuran partikelnya yang relatif besar, maka debu gabus kelapa ini tidak memberikan dampak yang negatif terhadap lingkungan sekitarnya.

Industri pengolahan serat memberikan dampak lingkungan fisik yang positif oleh karena dapat mengurangi limbah sabut kelapa sebagai hasil samping dari kegiatan usaha perdagangan buah kelapa dan usaha pengolahan kopra.

Perkampungan industri kecil

PIK merupakan suatu daerah tertentu yang mempunyai ja¬ringan prasarana, unit produksi yang menyatu dengan tempat tinggal pengusaha dan keluarganya

CONTOH PERKAMPUNGAN INDUSTRI KECIL

INDUSTRI REMPEYEK MINI”

Usahawan kecil yang berjaya. Ia mungkin jolokan yang paling sesuai diberikan kepada Tuan Haji Azhar Haji Yunus dan isterinya Hajah Maimon Haji Salleh yang berkecimpung dalam projek Industri Kecil dan Sederhana (IKS) iaitu pembuatan rempeyek mini. Usaha Tuan Haji Azhar menyahut seruan kerajaan tidak sia-sia kerana hasil titik peluhnya membuahkan hasil. Perusahaannya yang diberi nama M. Z Rezeki Enterprise sememangnya mendatangkan rezeki yang melimpah ruah kepada beliau sekeluarga.

Rempeyek mini dari Kampung Batu 38 ini punya rasa yang tersendiri. Diberi nama Moonsnek, rempeyek mini keluaran syarikat M. Z Rezeki Enterprise ini memang enak dimakan pada bila-bila masa sahaja. Selain rasa, pembungkusannya yang menarik juga menjadikan rempeyek mini ini kelihatan “mahal” dan sesuai untuk dijadikan cenderahati.

M. Z Rezeki Enterprise memulakan operasi perniagaannya pada Jun 2001. Bermula secara kecil-kecilan namun kini pasangan suami isteri ini mampu tersenyum bangga apabila produknya, Moonsnek berjaya dipasarkan ke seluruh Malaysia. Beliau bersama isteri mendapat bimbingan dari Unit Perancang dan Ekonomi Negeri Selangor (UPEN), Jabatan Pertanian Sabak Bernam, Lembaga Pertubuhan Peladang Sabak Bernam dan Pertubuhan Peladang Kawasan Bernam Jaya.

Menurut Tuan Haji Azhar, selain daripada menyahut seruan kerajaan yang sering diuar-uarkan ‘Satu Kampung Satu Produk’, hasrat lainnya adalah untuk memberi peluang pekerjaan kepada wanita Kampung Batu 38. Sehingga hari ini beliau mempunyai 15 orang pekerja dan 10 daripadanya adalah penduduk dari Kampung Batu 38.

SARANA USAHA INDUSTRI KECIL

  • SUIK merupakan suatu sarana atau wahana yang dapat dimanfaatkan oleh pengusaha industri kecil dalam menjalankan usaha dalam kaitan dengan industri menengah atau besar (sub-con¬tracting)

PENDAHULUAN

Berangkat dari niat untuk mendalami dunia usaha yang terbuka lebar serta keinginan untuk memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat maka dengan segenap pengalaman, pengetahuan, dan berbagai hasil survey serta konsultasi, penulis menyusun proposal pengembangan usaha jamur tiram  ini. Pengembangan usaha ini dipilih atas beberapa pertimbangan diantaranya daya serap pasar yang masih sangat tinggi dan potensial, kebutuhan skill yang tidak begitu tinggi, biaya investasi yang relatif rendah serta telah tersedianya sarana dan prasarana utama sehingga investasi yang masuk akan dialokasikan untuk dana operasional usaha.

Sekilas tentang Jamur Tiram

Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jamur kayu yang sangat baik untuk dikonsumsi manusia. Selain karena memiliki cita rasa yang khas, jamur tiram juga memiliki nilai gizi yang tinggi. Jamur tiram mengandung protein sebanyak 19 – 35 % dari berat kering jamur, dan karbohidrat sebanyak 46,6 – 81,8 %. Selain itu jamur tiram mengandung  tiamin atau vit. B1, riboflavin atau vit. B2, niasin, biotin serta beberapa garam mineral dari unsur-unsur Ca, P, Fe, Na, dan K dalam komposisi yang seimbang. Bila dibandingkan dengan daging ayam yang kandungan proteinnya 18,2 gram, lemaknya 25,0 gram, namun karbohidratnya 0,0 gram, maka kandungan gizi jamur masih lebih lengkap sehingga tidak salah apabila dikatakan jamur merupakan bahan pangan masa depan.

Jamur tiram juga bermanfaat dalam pengobatan, seperti :

  • Dapat menurunkan tingkat kolesterol dalam darah.

  • Memiliki kandungan serat mulai 7,4 % sampai 24,6% yang sangat baik bagi pencernaan.

  • Antitumor, antioksidan, dll.

Budidaya jamur tiram memiliki prospek ekonomi yang  baik. Jamur tiram merupakan salah satu produk komersial dan dapat dikembangkan dengan teknik yang sederhana. Selain itu, konsumsi masyarakat akan jamur tiram cukup tinggi, sehingga produksi jamur tiram mutlak diperlukan dalam skala besar.

Jamur tiram tumbuh pada serbuk kayu, khususnya yang memiliki serat lunak seperti jenis kayu albasiah. Suhu optimum untuk pertumbuhan tubuh buah jamur tiram adalah 20 – 28°C, dengan kelembaban 80 – 90 %. Pertumbuhan jamur tiram membutuhkan cahaya matahari tidak langsung, aliran udara yang baik, dan tempat yang bersih.

ANALISIS PASAR

Deskripsi produk

Produk jamur tiram yang dihasilkan berupa :

–          Jamur Tiram segar

–          Produk turunan Jamur Tiram seperti kripik jamur, jamur goreng tepung, jamur siap masak dalam kemasan plastik, dll.

Prospek Pasar

Budidaya jamur tiram di Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung telah memiliki pasar yang jelas. Hampir semua petani jamur tiram memiliki hubungan dengan pedagang yang siap menerima hasil produksi jamur tiram dari petani dengan harga yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan tanaman sayuran lainnya. Hal ini diperkuat dengan beberapa alasan sebagai berikut:

  1. Permintaan jamur tiram di daerah Bandung dan sekitarnya mencapai 7 -10 ton /hari. Adapun produksi jamur tiram baru mencapai 2,5 – 3 ton /hari. Ini berarti terdapat gap sebesar 4 – 7 ton/hari, yang sedikitnya dapat diisi dalam rencana budidaya jamur tiram ini.

  2. Pasar jamur tiram saat ini telah meluas di sekitar Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten sehingga diperlukan produksi jamur tiram dalam skala besar.

  3. Masyarakat semakin sadar pentingnya mengkonsumsi jamur untuk tujuan kesehatan.

  4. Jamur saat ini dikonsumsi sebagai pengganti daging selain dari beralihnya pola makan masyarakat kepada bahan pangan organik.

Kebutuhan dan Kecenderungan Pasar

Target ‘market’ usaha ini adalah konsumen jamur dari ‘house need’ sehingga kebutuhan akan jamur tiram masih tergolong tinggi dan pemenuhannya masih terbatas pada pasar tradisional pada umumnya dan beberapa ‘retail’ pada beberapa kota besar.

Sementara itu kecenderungan pasar akan jamur tiram masih tergolongkan pada secondary goods, namun permintaan pasar masih tinggi. Sebaliknya pada segmen hotel dan restoran yang kebutuhan akan jamur tiramnya cukup tinggi ‘suppliers’ jamur tiram masih minim dan masih sangat dibutuhkan.

Kecenderungan dari hotel dan restoran yang paling penting untuk disikapi adalah pelayanan akan faktor ‘satisfaction’ penyediaan barang, mulai dari ketepatan waktu, jenis pambayaran, layanan purna jual, dan yang paling utama penurunan harga jual.

Target Pasar

Pada tahun-tahun awal, pemasaran produk  difokuskan pada pasar domestik, ‘traditional market’,  dan ‘house need’.

Produk jamur segar yang dihasilkan akan dipasarkan ke / melalui :

  1. Agen baik dalam skala besar maupun kecil, yang selanjutnya akan dikirim ke berbagai wilayah Bandung dan sekitarnya maupun luar Bandung seperti Jakarta, Tangerang, Bogor, Cibitung, dll.

  2. Pasar tradisional  Bandung dan sekitarnya. Sebagai gambaran, permintaan pasar induk seperti pasar  Caringin atas produk jamur tiram ini sangat tinggi sehingga untuk skala produksi yang direncanakan dalam proposal ini pemasarannya sudah cukup melalui pasar induk.

  3. Pasar swalayan, restoran, dan hotel. Pemasaran direncanakan akan dilaksanakan melalui sektor tersebut apabila produksi telah stabil serta sarana dan prasarana telah memadai.

Proyeksi Pengembangan Usaha

Usaha ini diorientasikan sebagai usaha kecil menurut banyak pakar ekonomi, namun usaha tersebut dipandang sebagai tulang punggung dalam salah satu pemulihan ekonomi Indonesia. Untuk itu pengembangan budidaya jamur ini akan dibagi dalam tiga tahap, yaitu: tahap industri kecil awal, tahap industri kecil lanjut, dan tahap industri menengah. Penjelasan mengenai ketiga tahap industri tersebut adalah sebagai berikut :

A. Tahap Industri Kecil Awal

  • Tahap ini merupakan langkah awal menuju terbentuknya industri padat karya yang kuat dan kokoh

  • Menerapkan standar produksi yang tepat untuk mengoptimalkan hasil budidaya jamur.

  • Penyempurnaan sistem produksi, keuangan dan distribusi.

  • Penambahan tenaga kerja.
  • Pencarian investor

Tahap industri kecil awal ini merupakan jembatan menuju berdirinya industri kecil yang kokoh. Investasi yang dibutuhkan untuk tahap industri kecil awal diperkirakan berkisar antara 25 hingga 100 juta rupiah.

B.   Tahap Industri Kecil Lanjut

Tahap ini merupakan pengembangan dari tahap industri kecil awal. Setelah kebutuhan dana mencukupi, dan seluruh kekurangan telah dapat diatasi, maka dimulailah industri kecil lanjut yang ditargetkan untuk memiliki perijinan dan pembentukan badan usaha. Industri ini diharapkan mampu menyerap banyak tenaga kerja, mulai dari pekerja kasar di bagian produksi hingga profesional di bidang pemasaran, R & D dan administrasi.

Tahap industri kecil lanjut ini merupakan jembatan menuju berdirinya industri menengah nasional yang produksinya diperkirakan mencapai sedikitnya 100.000 baglog  produksi per musim. Tahap industri kecil lanjut itu sendiri diharapkan mampu memproduksi hingga 9 ton per bulan. Investasi yang dibutuhkan untuk tahap industri kecil lanjut ini diperkirakan berkisar antara 150 hingga 200 juta rupiah.

C. Tahap Industri Menengah Nasional

Secara umum, tahap industri menengah adalah perluasan dari industri kecil, mulai dari sistem, kapasitas produksi hingga ekspansi distribusinya. Tidak tertutup kemungkinan untuk melakukan ekspor. Tahap ini diharapkan mampu menyerap sedikitnya 50 tenaga kerja. Investasi yang diperlukan masih dalam analisis.

 

 

 

KESIMPULAN

Dari pengertian dan contoh-contoh di atas, kita mengerti tentang apa yang dinamakan LIK (lingkungan Industri Kecil), PIK (Perkampungan Industri Kecil), dan SUIK (Sarana Usaha Indutri Kecil) dan bagaimana proses, kerugian dan keuntungan yang bisa dihasilkan dari 3 macam industri kecil tersebut. Jadi, bukan karena indutri kecil kita tidak bisa menghasilkan pendapatan yang besar tapi dengan hal ini adalah lahan kita untuk berbisnis dan bisa menghasilkan pendapatan yang bisa dinilai pendapatan cukup besar.

 

 


ppt REACH

KELOMPOK 9 ma ppt

Hello world!

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!