Tugas TEKONOLOGI DAN MANAJEMEN PENGEMASAN

tugas Teknologi dan Menejemen Pengemasan terdiri dari Paper dan POWEW POINT ====>>> TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PENGEMASAN

tugas RO

tugas RISET OPERASI

dosen : Ika Atsari Dewi, STP, MP

dapat dilihat di bawah ini

TUGAS RO

TUGAS BESAR PPIC ” KOPER KULKAS” kelompok 09

TUGAS BESAR

PRODUCTION PLANNING AND INVENTORY CONTROL

KOPER KULKAS

Dosen Pengampu : Ika Atsari Dewi, STP, MP

Disusun oleh :

Fitra Anugerah P                                       105100307111003

Fery Agus Santoso                                    115100313111506

Muhammad Rusdi A                                115100302111002

Robert Chandra                                        115100307111013

Khoiru Arrijal                                             115100300111016

 

PENDAHULUAN

Pada masa sekarang ini, perkembangan teknologi modern semakin pesat. Otomatisasi serta fleksibilitas segala macam perangkat elektronika sudah semakin menguasai zaman. Sehingga tidak mengherankan kalau ada yang mengatakan bahwa peran elektronik sangat diperlukan dalam kehidupan. Akan tetapi semua kemajuan teknologi itu tergantung tujuan dan kepentingan, mengapa dan kenapa kecanggihan itu dibangun.

Lemari Es atau yang lebih dikenal dengan nama kulkas adalah sebuah alat rumah tangga yang umum digunakan untuk mendinginkan makanan dan minuman. Lemari Es ini berfungsi untuk mendinginkan atau menjaga kondisi makanan dan minuman agar lebih tahan lama dan tetap segar. Sebagian masyarakat di seluruh Indonesia memiliki kulkas. Umumnya kulkas hanya berada di pojok ruangan dalam sebuah rumah sehingga kurang maksimal pada sisi fleksibilitasnya.

Seiring dengan meningkatnya aktifitas manusia modern zaman sekarang, serta tuntutan pekerjaan dan kepuasan diri yang semakin tinggi, tentu dibutuhkan kepraktisan dan fleksibilitas tinggi dalam setiap komponen pendukung segala kegiatan manusia. Kita mengetahui bahwa bebrapa orang sering bepergian menggunakan koper serta dalam penggunaanya koper berfungsi sebagai tempat untuk menampung barang bawaan yang berupa barang kantor, alat tulis, baju, bahkan makanan dan minuman. Namun dari sisi keamanan dan kebersihan makanan serta minuman belum dapat dikatakan higienis apabila dicampur menjaadi satu dalam sebuah koper.

Maka dari itu perusahaan kami memberikan revolusi baru menunjang fleksibilitas dan kenyamanan bepergian dengan sebuah produk unik dengan nama “KOPER KULKAS”. Sebuah solusi praktis kami tawarkan dalam produk ini, koper yang dilengkapi dengan sistem refrigerasi untuk pendingin serta pengawetan makanan dan minuman sehingga tetap aman dikonsumsi. Tidak mengesampingkan fungsi koper itu sendiri yaitu sebagai tempat barang, kami memisahkan fungsi tersebut dalam sebuah tempat yang praktis yaitu “KOPER KULKAS”. Oleh karena itu produk dari perusahaan kami menarik dan perlu dikembangkan.

 

 


 

BAB I

PROFIL PERUSAHAAN

1.1 Deskripsi Perusahaan

PT Mantab Jaya (lahir di Malang, 4 februari 2008) adalah merupakan sebuah perusahaan yang bergerak dibidang packaging elektronik. Perusahaan ini melayani pembuatan alat-alat pengemas barang dari berbagai bahan baku dengan berbagai kecanggihan teknologi yang ada. Dengan berbekal visinya menjadi perusahaan pembuat kemasan terbaik di Indonesia, PT Mantab Jaya selalu berusaha menciptakan prduk unggulan yang disesuaika dengan target pangsa pasar Indonesia dan juga memimpin dalam marketing melalui strategi atau taktikdiferensiasi. Oleh karena itu pihak manajemen sangat berkomitmen dalam mengelola orang-orang yang memiliki talenta untuk mengembangkan dan meningkatkan tingkat kompetitif dalam perusahaan .

Nama Perusahaan PT Mantab Jaya
Berdiri 5 februari 2008
Alamat Kantor Jln. Joyo grand indah  lt 3 Malang, Jawa timur. Telp (0345) 5489076. Fax (0345) 5489077
Area Bisinis Packaging Tools Company
Produk Utama Koper Kulkas

 

Pada awalnya PT Mantab Jaya menggunakan merek Rustam packaging untuk pasar domestik Indonesia. Merek Rustam Packaging kemudian dikenal dengan baik oleh masyarakat indonesia. Setelah berjalan selama 2 tahun kemudian nama dicoba untuk dipasarkan di pasar regional Indonesia. Tanggapannya sungguh mengesankan dengan adanya pemesanan dengan jumlah yang cukup besar dari pasar tersebut.

1.2 Struktur Perusahaan

 

 1.3 Deskripsi Produk

BAB II

JADWAL INDUK PRODUKSI

BAB III

MANAJEMEN PERSEDIAAN

 BAB IV

ABC INVENTORY CLASSIFICATION

 BAB V

DISKON KUANTITAS

 BAB VI

PERSEDIAAN PROBABILISTIK

 BAB VII

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING

BAB VIII

JUST IN TIME

KESIMPULAN

Berdasarkan atas perencanaan terhadap proses produksi perusahaan didapatkan bahwa Total Ongkos Produksi sebesar Rp. 31.121.250,-. Dari perhitungan-perhitungan tersebut didapatkan total ongkos produksi dengan jadwal yang telah ditentukan sebelumnya dari perusahaan. Kriteria pengelompokkan berupa total rupiah konsumsi tahunan setiap inventory dengan rincian klasifikasi A adalah item bahan Alumunium yang harus tersedia dan dipentingkan karena alumunium ini digunakan sebgai kerangka koper sehingga jika alumunium yang dibutuhkan tidak sesuai dengan perencanaan maka produksinya tidak akan maksimal. Untuk klasifikasi B adalah Kompresor Mini, Kain Kulit, dan Batteray. Untuk klasifikasi C adalah item bahan Lapisan Freon, Busa, dan Kabel. Diskon kuantitas yang pertama memiliki total sebesar Rp. 3.240.450.000 pertahun. Untuk diskon yang kedua memiliki total sebesar Rp. 3.400.415.000. Untuk diskon yang ketiga memili

 

UNTUK  RINCIANNYA, SILAHKAN DOWNLOAD FILENYA DIBAWAH INI

tugas besar PPIC KOPER KULKAS

TUGAS TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PENGEMASAN KELAS C REVIEW JURNAL DESAIN KEMASAN “The Effect of Packaging Design on Impulsive Buying” Dosen Pengampu : IKA ATSARI DEWI, S.TP, M.P

RESUME JURNAL Finite Capacity MaterialRequirement Planning System for a Multi-stage Automotive Part Assembly

tugas pengemasan jurnal desain kemasan

TUGAS TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PENGEMASAN KELAS C

REVIEW JURNAL DESAIN KEMASAN

The Effect of Packaging Design on Impulsive Buying

Dosen Pengampu : IKA ATSARI DEWI, S.TP, M.P

 

 

Disusun oleh;

Kelompok 8

Fatma Kurniawati                   (115100302111003)

Ryan Arif N.                             (115100301111007)

Dinar Arieka Adiswara                        (115100307111005)

M. Prasetyo Wignu                 (115100307111015)

Intan Nofita Sari                      (115100313111003)

Ritma Riesawati                      (115100313111005)

Fery Agus Santoso                   (115100313111006)

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2013

BAB I

PENDAHULUAN

 

Desain kemasan berperan penting sebagai sarana komunikasi pada pemasaran. Pada penelitian ini menguji tentang pengaruh dari ukuran desain kemasan Cokelat Monggo 40 gram pada pembelian impulsif di jakarta selatan dan juga untuk menguji dimensi dalam desain kemasan (desain grafis, desain struktur dan informasi produk) yang memiliki efek besar pada pembelian impulsif. Saat ini konsumen dapat memilih berbagai produk yang jumlahnya semakin meningkat. Peningkatan gaya hidup yang konsumtif juga memberikan kontribusi untuk meningkatkan produk, sebagai produsen untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan konsumen. Hal ini menunjukkan bahwa terlalu banyak produk yang dilihat oleh konsumen, sementara waktunya terlalu singkat bagi mereka untuk menguji produk secara individu. Dengan demikian, persaingan antara produsen untuk menarik perhatian konsumen berkembang dengan pesat. Kompetisi ini mendorong perlu adanya diferensiasi pasar dan kebutuhan untuk terlihat lebih unggul atau menonjol dalam kompetisi. Oleh karena itu, perusahaan diwajibkan untuk membedakan produk mereka dengan para pesaingnya antara lain melalui branding atau merk.

Berbagai macam alat komunikasi pemasaran dapat digunakan untuk menyampaikan pesan dari suatu merk tertentu. Diperkirakan 60 – 70% keputusan untuk membeli suatu produk tertentu terjadi pada saat konsumen berada di dalam toko. Oleh karena itu, perusahaan perlu memanfaatkan kesempatan komunikasi pemasaran di dalam toko, khususnya dalam toko ritel modern. Kemasan merupakan instrumen komunikasi dimana perusahaan dapat menyampaikan pesan mereknya. Dengan demikian, kemasan dianggap sebagai alat komunikasi pemasaran yang sangat penting dalam mengkomunikasikan pesan merek dan harus dimanfaatkan sepenuhnya pada titik pembelian untuk menarik perhatian konsumen. Sebagai alat komunikasi pemasaran saat ini, Kemasan harus mampu menyampaikan pesan merek kepada konsumen dengan desain. Desain Kemasan juga diperlukan untuk menjadi sesuatu yang unik dan semenarik mungkin, karena iklan akhir yang akan dilihat oleh konsumen sebelum mereka memutuskan merek yang untuk membeli.

Oleh karena itu, Desain Kemasan harus menarik perhatian konsumen dengan komponen yang unik dan menyampaikan pesan merek sesuai dengan tujuan perusahaan. Desain Kemasan merupakan kesempatan terakhir untuk mempengaruhi pembeli, khususnya mengenai barang-barang konsumen, di mana kebanyakan keputusan untuk membeli dibuat ketika konsumen ada di dalam toko. Desain Kemasan variabel dalam studi ini memiliki dimensi konstruktif sebagai berikut: desain grafis dengan nama merek, warna, tipografi, dan gambar sebagai subdimensions; desain struktur dengan bentuk, ukuran, dan materi sebagai sub-dimensions; dan informasi produk. Desain Kemasan terdiri dari berbagai elemen atau dimensi konstruktif yang fungsinya adalah untuk mempengaruhi konsumen dalam keputusan pembelian mereka. Sesuai dengan deskripsi yang ada di atas, penelitian ini bertujuan untuk menemukan efek dari desain Kemasan Cokelat Monggo (jenis 40 gram) pada impulsif membeli di Jakarta Selatan, serta untuk memahami mana dimensi Desain Kemasan Monggo 40 gram yang mempengaruhi impulsif membeli di Jakarta Selatan yang paling banyak. Paket 40-gram ini tersedia dalam tiga rasa: gelap, Praline, dan Caramello.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Responden merupakan konsumen Monggo 40 gram di Jakarta Selatan yang telah membeli produk merk tersebut secara impulsif dalam tiga hari terakhir. Hanya 100 responden yang dipilih sebagai sampel dari konsumen cokelat merk Monggo. Monggo ukuran 40 gram dipilih karena merupakan produk yang memiliki karakteristik lebih cenderung memicu pembelian impulsive, hal ini dikarenakan kemasan lebih kecil dan praktis, sehingga lebih murah, ada kebutuhan marjinal untuk produk, mudah untuk disimpan dan memiliki daya simpan pendek karena tanpa menggunakan bahan pengawet. Jakarta Selatan dipilih sebagai lokasi penelitian karena merupakan pusat pertokoan, supermarket dan hypermarket terbesar di DKI Jakarta pada akhir tahun 2009, dengan total 47 toko. Sampel dikumpulkan dengan menggunakan metode non-probability sampling dan diolah dengan metode regresi berganda.

Pada uji validitas dilakukan dengan menggunakan uji Kaiser-Meyer-Olkin dan menunjukkan bahwa setiap dimensi berlaku setelah memenuhi syarat setelah indikator dihilangkan. Tabel 1 menunjukkan bahwa ukuran Sampling kecukupan nilai dalam setiap dimensi memenuhi persyaratan fit secara keseluruhan. Nilai penting dalam tes Bartlett menunjukkan bahwa gambar dimensi desain kemasan tidak memenuhi persyaratan, seperti yang ditunjukkan oleh varians total menjelaskan tingkat yang lebih rendah dari 60%. Indikator dalam dimensi gambar memiliki faktor loading lebih rendah daripada 0.600, yang tidak memenuhi persyaratan; dengan demikian, indikator dihilangkan dari penelitian. Ini adalah keputusan yang benar karena akan meningkatkan total varians dimensi gambar menjelaskan tingkat 67,408% dan ukuran Kaiser-Meyer-Olkin Sampling rate sampai 0.538.

Analisis data di atas menunjukkan bahwa tingkat setiap indikator anti-image matriks memenuhi quirements oleh yang lebih tinggi daripada 0.500. Namun, satu indikator dalam dimensi gambar tidak memenuhi syarat untuk faktor yang diharapkan loading. Indikator adalah gambar  manusia pada kemasan 40 g Cokelat Monggo mencerminkan karakteristik asli Indonesia. Peneliti menghilangkan indikator karena loading faktor yang jauh lebih rendah daripada 0.600-0.434 tepatnya. Kelalaian meningkatkan total varians dimensi gambar menjelaskan nilai dari 53,288% ke 67,408%. Untuk alasan ini, indikator tidak memenuhi syarat dihilangkan dari studi sehingga meninggalkan indikator yang valid. Tingkat realibilitas dalam studi ini menunjukkan bahwa semua indikator tersebut mencapai nilai batas keandalan 0.600; dengan demikian, Semua indikator telah valid.

Sedangkan untuk variabel Desain Kemasan terdiri dari 3 dimensi: desain grafis, desain struktur dan informasi produk. Desain grafis dan struktur masing-masing memiliki subdimensions mereka sendiri. Dimensi desain grafis adalah hiasan visual pada permukaan kemasan dan terdiri dari 4 sub-dimensions yaitu nama merek, warna, tipografi, dan gambar. Sedangkan dimensi desain struktur berkaitan dengan fitur fisik kemasan dan terdiri dari 3 sub-dimensions yaitu bentuk, ukuran, dan bahan.

Pada dimensi desain grafis adalah hiasan visual pada permukaan kemasan dan terdiri dari 4 sub-dimensions yaitu nama merek, warna, tipografi, dan gambar. Dapat diperoleh penjabaran pada hasil penelitian diantaranya adalah :

  • Nama merek memperoleh nilai dan frekuensi dengan rating sedikit tinggi. Brand dengan nama “ Monggo “ pada kemasan 40 g Cokelat Monggo mencerminkan karakteristik asli Indonesia. indikator ditempatkan dalam kategori yang sangat tinggi. Dengan alasan bahwa kata “monggo” berasal dari bahasa daerah Indonesia, sehingga dengan itu dapat membawa tradisional rasa yang kuat. Bahkan indikator dengan nilai terendah masih ditempatkan dalam kategori yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa, meskipun sudah ada berbagai merek cokelat di pasar sebelum “Monggo”, responden masih memberikan nilai tinggi untuk sub-dimension merek karena “Monggo “, selain daya  beli yang tinggi juga memiliki nama merek khas Indonesia dan keunikan ini membuatnya mudah diingat.
  • Sub-dimension kedua dalam dimensi grafis adalah warna. Analisis mendapat nilai rata-rata dan frekuensi jawaban responden mengenai sub-dimension warna menunjukkan bahwa indikator 2 ( komposisi warna pada kemasan 40 g Cokelat Monggo mudah diingat) dan indikator 1 ( komposisi warna kemasan  cokelat Monggo 40 g kemasan menarik perhatian) memiliki nilai rata-rata yang tinggi; ini berarti keseluruhan komposisi warna pada Kemasan coklat Monggo mudah diingat dan menarik perhatian konsumen. Oleh karena itu, elemen warna dalam kemasan Monggo dapat memperkuat kenangan konsumen Cokelat Monggo, sesuai dengan pernyataan Moriarty (1991) bahwa warna digunakan untuk menggaris bawahi dan meningkatkan kenangan. Analisis mengamati komposisi warna kemasan  pada cokelat Monggo 40 g lebih menonjol di rak-rak yang dibandingkan dengan merek lain. Komposisi warna Kemasan pada kemasan Cokelat Monggo 40 g menciptakan suasana hati yang baik. Menurut Nilsson & amp; Ostrom (2005), warna harus terlihat dan mencolok di rak-rak jika merek ingin bertahan hidup dalam persaingan yang ketat dalam lingkungan yang mandiri. Nilai distribusi frekuensi menunjukkan bahwa warna Monggo pada umumnya cukup mencolok, tetapi tidak lebih  dibandingkan dengan kemasan lain yang menggunakan warna-warna cerah. komposisi warna Kemasan Monggo secara umum dapat membuat suasana hati yang baik namun belum mencapai potensi maksimumnya.
  • Sub-dimension tipografi, menurut Klimchuck dan Krasovec (2007), tipografi adalah penggunaan font untuk berkomunikasi secara visual dalam  bahasa lisan. Rating responden untuk tipografi, berdasarkan sub-dimension tipografi nilai rata-ratanya pada umumnya agak tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa font yang digunakan pada Kemasan Monggo  cukup mampu menarik perhatian konsumen dan mudah dibaca dari kejauhan 1 meter. Font yang digunakan untuk informasi produk bahan ini juga mudah dibaca. Namun, temuan menunjukkan bahwa hanya tipografi nama merek yang memenuhi persyaratan ini, sedangkan font yang digunakan untuk nama-nama rasa (Caramello/Dark/Praline) pada panel layar utama, atau bagian depan kemasan hanya  dapat terlihat dari jarak dekat dan belum memenuhi persyaratan tipografi.
  • Sub-dimension dalam desain grafis selanjutnya adalah gambar. Gambar, menurut Klimchuk & amp; Krasovec (2007), termasuk foto, ilustrasi, ikon/simbol, dan karakter. Analisis nilai menunjukkan bahwa nilai dalam sub-dimension ini dikategorikan sebagai agak tinggi. Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa gambar dari biji kakao di Kemasan Monggo lebih menarik kepada konsumen dibandingkan dengan gambar lain di panel layar utama, yaitu cokelat. Alasannya adalah bahwa gambar dari biji kakao di bagian depan paket (indikator 3) lebih besar daripada gambar cokelat batangan (indikator 1). Respon terhadap gambar coklat  pada kemasan 40 g Cokelat Monggo cukup menarik selera, indikator juga menunjukkan bahwa cokelat bar pada layar utama panel (PDP) mampu merangsang nafsu makan responden. Namun, pengaruh tidak sangat tinggi, seperti yang tampak oleh yang agak tinggi berarti nilai dan kecenderungan tanggapan ke arah persetujuan.

Sedangkan untuk dimensi struktur memiliki 3 sub-dimensions yaitu ukuran, bahan dan bentuk. Pada hasil penelitian diperoleh penjelasan mengenai dimensi struktur diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Sub-dimension ukuran, sebagian besar responden mempertimbangkan ukuran paket Monggo 40 gram untuk memiliki nilai yang tinggi dan tanggapan cenderung ke arah agreeability. Oleh karena itu, ukuran-bijaksana, Monggo telah menggenapi tugasnya dengan baik dan bertemu dengan harapan konsumen. Menurut hasil analisis, responden merasa mudah untuk membawa Monggo cokelat di mana-mana karena ukurannya. Mereka juga menemukan bahwa produk tersebut sudah bisa  memenuhi kebutuhan mereka. Ukuran kecil membuatnya cocok untuk konsumsi pribadi, menurut sebagian besar responden (dari usia 18-21 tahun dan sebagian besar mahasiswa). Oleh karena itu paket ukuran kecil sesuai dengan kebutuhan responden dengan biaya bulanan yang cukup rendah.
  • Sub-dimension bahan, responden menempatkan  semua indikator dalam sub-dimension bahan dalam kategori yang tinggi. Nilai rata-rata semua kategori tergolong tinggi, membuktikan bahwa bahan yang digunakan cocok dan dengan demikian membuat persepsi produk berkualitas baik. Responden percaya bahwa kemasan Monggo ramah lingkungan dan unik, karena terbuat dari kertas daur ulang; di antara merek cokelat, bahan kemasan coklat Monggo adalah satu-satunya yang didominasi terbuat dari kertas daur ulang jenis dove.
  • Sub-dimension terakhir adalah bentuk. Bentuk kemasan Cokelat Monggo 40 g membuatnya mudah untuk menyimpan.  indikator ini memiliki nilai rata-rata tertinggi, diikuti oleh  bentuk kemasan 40 g Cokelat Monggo yang nyaman untuk jangka panjang dan bentuk kemasan Cokelat Monggo 40 g yang menarik perhatian. Ada sedikit nilai berarti dalam perbedaan antara indikator ini, oleh karena itu membuktikan bahwa, secara umum, sub-dimension bentuk telah memenuhi fungsinya, seperti yang ditunjukkan oleh nilai rata-rata yang tinggi. Responden mempertimbangkan bentuk kemasan Monggo agar mudah untuk menyimpan, nyaman untuk menahan, dan menarik.

Dimensi ketiga dalam variabel Desain Kemasan adalah informasi produk. Penilaian responden menunjukkan semua nilai dalam dimensi ini dikategorikan dalam kategori yang tinggi. Nilai rata-rata yang tinggi untuk semua indikator menunjukkan bahwa konsumen puas dengan informasi produk Desain Kemasan coklat Monggo. Informasi produk  pada kemasan  Cokelat Monggo 40g mengilhami kepercayaan untuk indikator produk yang  memiliki nilai rata-rata tertinggi. Berdasarkan Temuan ini, informasi yang tercantum pada Kemasan Coklat Monggo dianggap mampu menginspirasi kepercayaan konsumen terhadap produk, dan informasi ini juga digambarkan dengan jelas.

Variabel pembelian impulsif dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan delapan dimensi diantaranya adalah :

  • Dorongan spontan untuk membeli

Pembelian impulsif terjadi setelah seseorang merasakan perasaan tak terduga, dorongan spontan yang dalam banyak kasus merupakan respon terhadap iklan atau konfrontasi visual.

  • Kekuatan dan paksaan

Hal ini menggambarkan kekuatan yang mendasari dorongan untuk pembelian dan motivasi konsumen untuk membeli produk sementara mengabaikan aspek lainnya.

  • Kegembiraan

Dorongan untuk membeli yang dialami oleh konsumen bisa menjadi sumber kegembiraan pribadi dan terjadi dalam berbagai derajat/level di setiap konsumen. Kebahagiaan dan kegembiraan kemudian menyebabkan konsumen merasa seolah-olah mereka sedang jatuh hati dengan produk.

  • Sinkronisitas

Hal ini menggambarkan bahwa mereka berada di tempat yang tepat dan pada saat yang tepat, karena mereka menemukan produk dan memikirkan pertemuan sebagai kebetulan.

  • Animasi produk

Dimensi ini menunjukkan bahwa setiap produk memiliki daya tarik sendiri dan konsumen sering tertarik dan menyebabkan mereka untuk membeli produk itu.

  • Elemen hedonis

Dimensi ini telah membuktikan bahwa pembelian impulsif produk menyebabkan konsumen merasa puas, memperbaiki mood dan untuk memanjakan diri.

  • Konflik

Mereka mengalami dua konflik emosi, kesenangan dan rasa bersalah, karena pembelian spontan itu mungkin memerlukan aturan pribadi sendiri.

  • Mengabaikan konsekuensi

Menurut dimensi ini, dorongan yang kuat untuk membeli, terutama dalam pembelian impulsif, menyebabkan konsumen untuk mengabaikan konsekuensi yang mungkin terjadi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur pengaruh desain kemasan pada pembelian impulsif. Pengukuran didasarkan pada dua variabel: desain kemasan dan pembelian impulsif. Variabel desain kemasan terdiri dari tiga dimensi: desain grafis, desain struktur, dan informasi produk. Sedangkan variabel pembelian impulsif terdiri dari delapan dimensi. Dengan demikian, dari tiga dimensi desain kemasan (desain grafis, desain struktur, dan informasi produk), hanya satu dimensi mempengaruhi pembelian impulsif yaitu desain grafis. Struktur desain dan informasi produk Monggo pada desain kemasan ini tidak memiliki pengaruh terhadap pembelian impulsif, hal ini menunjukkan bahwa hanya aspek estetika desain kemasan Monggo yang mampu menciptakan dorongan kuat terhadap pembelian instan. Desain grafis mempengaruhi pembelian impulsif. Desain grafis terdiri dari empat sub-dimensi terpadu: nama merek, warna, tipografi, dan gambar. Sub-dimensi membentuk pengaruh desain grafis pada pembelian impulsif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa nama merek ‘Monggo’ memiliki nilai rata-rata tinggi. Selain nama merek, warna juga dianggap signifikan oleh responden: hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata dan kecenderungan respon. Tipografi sub-dimensi memiliki indikator dengan nilai rata-rata terendah dalam variabel desain kemasan, dalam font untuk ‘Caramello / Dark / Praline’ tidak sangat mudah dibaca dari jarak satu meter. Meski begitu, desain kemasan Monggo yang memegang peran penting dalam menyebabkan pembelian impulsif. Unsur terakhir yaitu gambar, memberikan kesan visual yang kuat dan dapat menarik perhatian konsumen, gambar pada paket makanan dapat merangsang nafsu makan. Oleh karena itu nama merek Monggo ini sudah efektif untuk dikembangkan secara besar-besaran.

 

ini file ppt jalur masuk PTN file.nya bisa di download di sini

Materi sosialisasi SNMPTN-2013(revisi Ketum)

dokumen ini untuk melengkapi tugas akhir dan UTS semester 3 mata kuliah Manajemen Pemasaran yang membahas tentang STP(Segmenting,Trgeting, dan Positioning) produk AQUA

TUGAS TERSTRUKTUR

DOSEN PENGAMPU : IKA ATSARI DEWI, STP. MP

MANAJEMEN PEMASARAN

“STP PRODUK AQUA”

Fery Agus Santoso

115100313111006

 

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1   Awal Berdiri

PT Aqua Golden Mississippi didirikan pada tahun 1973 di Indonesia. Ide mendirikan perusahaan AMDK timbul ketika Tirto bekerja sebagai pegawai pertamina pada awal tahun 1970-an. Ketika itu Tirto bertugas menjamu delegasi sebuah perusahaan Amerika Serikat. Namun jamuan itu terganggu ketika istri ketua delegasi mengalami diare yang disebabkan karena mengonsumsi air yang tidak bersih. Tirto kemudian mengetahui bahwa tamu-tamunya yang berasal dari negara Barat tidak terbiasa meminum air minum yang direbus, tetapi air yang telah disterilkan.

Ia dan saudara-saudaranya mulai mempelajari cara memproses air minum dalam kemasan. Ia meminta adiknya, Slamet Utomo untuk magang di Polaris, sebuah perusahaan AMDK yang ketika itu telah beroperasi 16 tahun di Thailand. Tidak mengherankan bila pada awalnya produk Aqua menyerupai Polaris mulai dari bentuk botol kaca, merek mesin pengolahan air, sampai mesin pencuci botol serta pengisi air.

Tirto mendirikan pabrik pertamanya di Pondok Ungu, Bekasi, dan menamai pabrik itu Golden Mississippi dengan kapasitas produksi enam juta liter per tahun Tirto sempat ragu dengan namaGolden Mississippi yang meskipun cocok dengan target pasarnya, ekspatriat, namun terdengar asing di telinga orang Indonesia. Konsultannya, Eulindra Lim, mengusulkan untuk menggunakan nama Aqua karena cocok terhadap imej air minum dalam botol serta tidak sulit untuk diucapkan. Ia setuju dan mengubah merek produknya dari Puritas menjadi Aqua. Dua tahun kemudian, produksi pertama Aqua diluncurkan dalam bentuk kemasan botol kaca ukuran 950 ml dengan harga jual Rp.75, hampir dua kali lipat harga bensin yang ketika itu bernilai Rp.46 untuk 1.000 ml.

 

1.2   Perkembangan dan akuisisi oleh Danone

Pada tahun 1982, Tirto mengganti bahan baku (air) yang semula berasal dari sumur bor ke mata air pegunungan yang mengalir sendiri (self-flowing spring) karena dianggap mengandung komposisi mineral alami yang kaya nutrisi seperti kalsium, magnesium, potasium, zat besi, dan sodium.

Willy Sidharta, sales dan perakit mesin pabrik pertama Aqua, merupakan orang pertama yang memperbaiki sistem distribusi Aqua. Ia memulai dengan menciptakan konsep delivery door to door khusus yang menjadi cikal bakal sistem pengiriman langsung Aqua. Konsep pengiriman menggunakan kardus-kardus dan galon-galon menggunakan armada yang didesain khusus membuat penjualan Aqua Secara konsisten menanjak hingga akhirnya angka penjualan Aqua mencapai dua triliun rupiah pada tahun 1985.[1]

Pada tahun 1984, Pabrik AQUA kedua didirikan di PandaanJawa Timur sebagai upaya mendekatkan diri pada konsumen yang berada di wilayah tersebut. Setahun kemudian, terjadi pengembangan produk Aqua dalam bentuk kemasan PET 220 ml. Pengembangan ini membuat produk Aqua menjadi lebih berkualitas dan lebih aman untuk dikonsumsi.

Pada tahun 1995, Aqua menjadi pabrik air mineral pertama yang menerapkan sistem produksi in line di pabrik Mekarsari. Pemrosesan air dan pembuatan kemasan AQUA dilakukan bersamaan. Hasil sistem in-line ini adalah botol AQUA yang baru dibuat dapat segera diisi air bersih di ujung proses produksi, sehingga proses produksi menjadi lebih higienis.

Pada tahun 1998, karena ketatnya persaingan dan munculnya pesaing-pesaing baru, Lisa Tirto sebagai pemilik Aqua Golden Mississipi sepeninggal suaminya Tirto Utomo, menjual sahamnya kepada Grup Danone pada 4 September 1998. Akusisi tersebut dianggap tepat setelah beberapa cara pengembangan tidak cukup kuat menyelamatkan Aqua dari ancaman pesaing baru. Langkah ini berdampak pada peningkatan kualitas produk dan menempatkan AQUA sebagai produsen air mineral dalam kemasan (AMDK) yang terbesar di Indonesia. Pada thaun 2000, bertepatan dengan pergantian milenium, Aqua meluncurkan produk berlabel Danone-Aqua.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

STP PRODUK AQUA

 

Dalam ilmu marketing kita mengenal STP dan 4P sebagai strategi pemasaran produk ataupun jasa. STP adalah singkatan dari Segmentation, Targeting dan Positioning sedangkan 4P adalah singkatan dari keempat unsur dalam marketing mix, yakni Product, Price, Place dan Promotion. STP dan 4P akan selalu muncul dalam marketing, apa pun konteksnya. Segmentation: Adalah upaya memetakan atau pasar dengan memilah-milahkan konsumen sesuai persamaan di antara mereka. Pemilahan ini bisa berdasarkan usia, tempat tinggal, penghasilan, gaya hidup, atau bagaimana cara mereka mengkonsumsi produk.

  • Targeting: Setelah memetakan pasar, tahap targeting seperti namanya adalah membidik kelompok konsumen mana yang akan kita sasar.
  • Positioning: Apabila target pasar sudah jelas, positioning adalah bagaimana kita menjelaskan posisi produk kepada konsumen. Apa beda produk kita dibandingkan kompetitor dan apa saja keunggulannya.

Dalam rangkaian proses marketing, STP ini ada di tahap awal yang paling penting yakni mengidentifikasikan customer value. STP ada di level strategis karena menentukan bagaimana kita menggarap pasar.

  • Product: Pertama-tama, untuk masuk ke pasar, kita harus memiliki produk yang bagus sesuai dengan target pasarnya
  • Price: Produk tersebut harus memiliki harga yang sesuai dengan target pasar.
  • Place: Lokasi atau tempat yang kita masuki juga menentukan keberhasilan menggarap target pasar.
  • Promotion: Ketiga P yang lain tak akan berarti tanpa promosi, yakni mengkomunikasikan produk kita kepada target pasar. Jika STP ada di level strategis, 4P bermain di level eksekusi.

Dalam proses marketing, 4P ini ada pada tahap menyalurkan customer value dan mengkomunikasikan customer value kepada pasar.

 

Analisa produk : AQUA

Aqua adalah sebuah merek air minum dalam kemasan (AMDK) yang diproduksi oleh PT Aqua Golden Mississippi di Indonesia sejak tahun 1973. Selain di Indonesia, Aqua juga dijual di Singapura. Aqua adalah merek AMDK dengan penjualan terbesar di Indonesia dan merupakan salah satu merek AMDK yang paling terkenal di Indonesia, sehingga telah menjadi seperti merek generik untuk AMDK. Saat ini, terdapat 14 pabrik yang memproduksi Aqua dengan kepemilikan berbeda-beda (10 pabrik dimiliki oleh PT Tirta Investama, 3 pabrik dimiliki oleh PT Aqua Golden Mississippi, dan pabrik di Brastagi, Sumatera Utara dimiliki oleh PT Tirta Sibayakindo).

SEGMENETING

                Demografi, penjualan produk Aqua ditujukan untuk para penduduk di Negara maju maupun berkembang yang mulai memberikan perhatian lebih terhadap minuman suplemen guna meningkatkan daya tahan. Aqua tidak menetapkan wilayah sasaran geografik. Dapat melayani semua segmen pasar. Untuk mendukung keberadaan barang Aqua banyak menyebar dipasar-pasar eceran dibandingkan pedagang besar. Ditujukan untuk pria dan wanita. Produk AQUA adalah air mineral sehingga diperuntukkan untuk semua konsumen berbagai usia, kecuali bagi bayi yang masih mengkonsumsi ASI.

`Geogarafis, AQUA ditujukan untuk semua wilayah Indonesia dan untuk daerah perkotaan dan pinggiran kota. Psikografis, Segmen AQUA ditujukan untuk kalangan kelas sosial menengah. Tetapi tidak menutup kemungkinan bagi kalangan kelas sosial bawah  untuk mengkonsumsinya, karena ada beberapa harga kemasan yang masih bisa dijangkau seperti kemasan cup 240 ml Rp. 500,00, botol  330 ml Rp. 1.500,00, botol 600 ml Rp. 2.500,00 dan 1500 ml Rp. 3.000,00.

 

TARGETING 

Targeting berdasarkan iklan tersebut adalah masyarakat metropolitan yang aktif, dan dinamis. Hal ini terlihat dari visual iklan yang menampilkan pergerakan waktu, tempat, dan orang-orang dari berbagai aktifitas secara cepat. Selain itu, pemeran dalam iklan tersebut juga mewakilitarget yang ingin “ditangkap” oleh AQUA. Iklan diperankan oleh public figure dari berbagai latar belakang dan aktifitas masing-masing yang memilki mobilitas yang tinggi.

Jika ditilik lebih jauh lagi, berdasarkan jenis kelamin dan umur, target audience dari iklan ini adalah pria dan wanit dewasa berumur 22 tahun ke atas. Berdasarkan pendidikan dan pekerjaan, target audiensce-nya adalah orang-orang berpendidikan tinggi yang level pekerjaan di menengah ke atas. Begitu juga dari segi life style, target audience-nya yakni masyarakat metropolitan yang aktif, dinamis, dan memiliki mobilitas yang tinggi.

 

POSITIONING

                Segmen AQUA ditujukan untuk kalangan kelas sosial menengah. Tetapi tidak menutup kemungkinan bagi kalangan kelas sosial bawah  untuk mengkonsumsinya, karena ada beberapa harga kemasan yang masih bisa dijangkau seperti kemasan cup 240 ml Rp. 500,00, botol  330 ml Rp. 1.500,00, botol 600 ml Rp. 2.500,00 dan 1500 ml Rp. 3.000,00.  Minuman kemasan Aqua memiliki positioning yang baik yakni jika anda ingin minum air sehat, sayang (perhatian) dengan keluarga maka minumlah Aqua karena telah diproses 27 kali secara sistem komputer. Iklan ini melekat dibenak pelanggan. Sehingga walaupun banyak pesaing yang harganya lebih murah, konsumen tetap saja membeli Aqua. Brand Positioning adalah penetapan arti produk di dalam pikiran konsumen menurut ciri atau arti pentingnya berdasarkan perbandingan dengan produk pesaing.[1] Dapat disimpulkan, kuat tidaknya positioning dapat diuukur saat apa yang ada di benak masyarakat ketika teringat akan produk tertentu. Hasil akhir dari positioning adalah keberhasilan menciptakan fokus di benak konsumen serta alasan yang kuat mengapa konsumen harus membeli produk.

Berdasarkan penjelasan di atas, menurut penulis, AQUA memiliki positioning yang kuat di benak masyarakat. Selain karena AQUA adalah merek air minum dalam kemasan (AMDK) yang telah berdiri di Indonesia sejak 1973, AQUA juga memiliki penjualan terbesar di Indonesia. AQUA merupakan salah satu merek AMDK yang paling terkenal di Indonesia. Di Indonesia, terdapat 14 pabrik yangmemproduksi AQUA.[2]

Dalam kehidupan sehari-hari, AQUA telah menjadi seperti merek generik untuk AMDK. Hal ini terlihat saat masyarakat membeli air minum kemasan dengan menyebut nama “AQUA”, padahal yang mereka beli adalah air minum kemasan merek lain. Selain itu, penulis pernah meminta beberapa orang teman untuk memikirkan merek apa yang terlintas dipikran mereka saat penulis menyebut “air mineral”. Mereka tanpa ragu langsung menyebut “AQUA”.

Dari tampilannya pun AQUA cukup mudah menempatkan posisinya di benak masyarakat. Hal ini dilakukan AQUA lewat positioning melalui ciri produk. Di setiap iklan-iklannya, AQUA selalu menonjolkan warna biru yang khas, sebagai lambang air (hydro) dan kesejukan. Warna dapat menjadi petunjuk memori sehingga memudahkan masyarakat untuk mengingat sebuah produk.

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Aqua adalah sebuah merek air minum dalam kemasan (AMDK) yang diproduksi oleh PT Aqua Golden Mississippi di Indonesia sejak tahun 1973. Aqua sudah dimiliki oleh perusahaan multinasional dalam bidang makanan dan minuman asal PerancisGrup Danone, hasil dari penggabungan PT Aqua Golden Mississippi dengan Danone. Dari analisa STP tentang produk AQUA, produk AQUA memiliki pemasaran yang sangat besar dan pasarnya adalah mengah samapai internasional.

 

 

 

 

 

MAKALAH MANAJEMEN PEMASARAN

 “YLKI”

(Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia)

Dwi Ari Febriyanto                 (115100307111004)

Dio Giski                                 (115100707111013)

Fajar Narta O.                         (115101000111004)

Fery Agus Santoso                  (115100313111006)

Khoiru Arrijal                          (115100300111016)

Enggar Wanu F                       (115100300111018)

Febry Aryvyanto                     (115100300111006)

 

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Saat ini ada saja para produsen yang tidak mementingkan kesehatan dan keselamatan konsumennya karena sering kita jumpai pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pihak produsen kepada pihak konsumen. Beberapa conohnya seperti, masih banyak ditemukan  makanan danminuman kadaluarsa yang terdapat dalam parcel-parcel. Produk susu China yang mengandung melamin juga sempat menggemparkan masyarakat Indonesia danChina. Zat melamin memang akan meningkatkan kandungan protein jikadicampurkan dengan susu, namun hal ini tidak menguntungkan konsumen tapi malah merugikan produsen karena banyak bayi yang mengalami penyakit – penyakit sepertigagal ginjal, bahkan tidak sedikit dari mereka yang meniggal dunia setelahmengkonsumsi susu yang mengandung zat melamin ini.

Dari kedua contoh diatas kita dapat mengetahui bahwa konsumen lah yangmenjadi pihak yang dirugikan. Hal tersebut disebabkan mingkin karena kurangnya pengawasan dari pihak pemerintah , polisi dan dinas-dinas terkait setempat. Eksistensikonsumen tidak sepenuhnya dihargai oleh pihak produsen karena tujuan utama dari produsen adalah memperoleh untung sebanyak-banyaknya dalam jangka pendek  bukan jangka panjang.Oleh karena itu saya menyusun makalah ini yang berisi tentang eksistensi hukum perlindungan konsumen dalam dunia usaha.

Di Indonesia, gerakan perlindungan konsumn menggema dari gerakan serupa di Amerika Serikat. YLKI yang secara populer dipandang sebagai perintis advokasi konsumen di Indonesia berdiri pada kurun waktu itu, yakni 11 Mei 1973. Gerakan di Indonesia ini termasuk cukup responsive terhadap keadaan, bahkan mendahului Resolusi Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC) No. 2111 Tahun 1978 tentang Perlindungan konsumen. Lembaga Yayasan Konsumen Indonesia yang memegang peran penting di Indonesia dalam perlindungan ini. Untuk lebih jelasnya, YLKI akan di bahas lebih rinci pada bab selanjutnya mengenai profil YLKI, tujuan YLKI, dan lainnya yang bersangkutan dengan YLKI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah YLKI

Pendirian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) didasari pada perhatian atas kelangkaan produk nasional yang berkualitas dan kecenderungan memilih dan berbelanja produk impor di era tahun 70an, serta perhatian terhadap perlunya pemberdayaan bangsa dan produksi dalam negeri. Kelembagaannya disahkan melalui Akte Notaris Loemban Tobing,S.H pada tanggal 11 Mei 1973.

YLKI diprakarsai oleh figur-figur yang telah ikut berjasa dalam masa perjuangan kemerdekaan, sebagian besar diantaranya adalah para tokoh perempuan pejuang seperti Ibu Sujono Prawirabisma, Ibu SK Trimurti, Ibu Soemarno serta Ibu Lasmidjah Hardi (yang kemudian menjadi Ketua YLKI pertama).

Keberadaan YLKI diharapkan tidak hanya dapat mendorong penggunaan produk dalam negeri ditengah maraknya keberadaan produk impor, tetapi juga memperkuat posisi konsumen.

Pertumbuhan ekonomi nasional pada era tahun 70an sampai awal tahun 80an diwarnai dengan perkembangan yang pesat dalam sektor industri, tetapi belum disertai dengan peningkatan kualitas barang dan jasa. Dalam masa kini, YLKI memusatkan kegiatannya untuk melakukan pengawasan atas kualitas berbagai barang dan jasa yang beredar di pasaran, yang sebagian besar masih belum memenuhi standar. Berbagai masukan yang diberikan YLKI bagi Pelaku Usaha dan Pemerintah sangat penting bagi perbaikan dan penetapan standar mutu.

Selama dekade 80an, YLKI mengembangkan kesadaran baru atas pentingnya melibatkan masyarakat secara langsung dalam upaya memperkuat jaringan yang diperlukan bagi pelaksanaan kegiatan perlindungan konsumen. Pada periode ini YLKI mengerahkan segala upayanya untuk pembangunan jaringan, pengembangan institusi serta pemahaman ideologi gerakan konsumen /konsumerisme. Selama dekade ini, kekuatan YLKI juga difokuskan untuk mendesakkan sebuah kebijakan strategis dan mendasar agar negeri ini mempunyai Undang-undang Perlindungan konsumen.

Pada dekade 90an, ketika Undang-undang Perlindungan Konsumen (UUPK) telah menjadi hukum positif di Indonesia, agenda terbesar YLKI adalah agar UUPK mampu menjadi produk hukum yang efektif untuk melindungi konsumen. Periode ini juga merupakan masa di mana YLKI menjalankan peranan penting dalam pengawasan atas efek negatif dari pemberlakuan perdagangan bebas dalam era globalisasi, antara lain dalam menghadapi privatisasi berbagai komoditas publik yang berpotensi menjadi instrumen efektif untuk mereduksi hak-hak konsumen.

 

2.2 Profil YLKI

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) merupakan sebuah organisasi masyarakat yang bersifat nirlaba dan independen yang didirikan  pada tanggal 11 Mei 1973. Keberadaan YLKI diarahkan pada usaha meningkatkan kepedulian kritis konsumen atas hak dan kewajibannya, dalam upaya melindungi dirinya sendiri, keluarga, serta lingkungannya. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia disingkat YLKI adalah organisasi non-pemerintah dan nirlaba yang didirikan di Jakarta pada tanggal 11 Mei 1973. Pada awalnya, YLKI berdiri karena keprihatinan sekelompok ibu-ibu akan kegemaran konsumen Indonesia pada waktu itu dalam mengkonsumsi produk luar negeri. Terdorong oleh keinginan agar produk dalam negeri mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia maka para pendiri YLKI tersebut menyelenggarakan aksi promosi berbagai jenis hasil industri dalam negeri.

 

 

 

 

 

2.3 Tujuan YLKI

Berdirinya Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia atau dikenal dengan YLKI pada 11 Mei 1973 berawal dari kepedulian sekelompok masyarakat akan penggunaan produk-produk dalam negeri serta bagaimana melindunginya. Sedangkan tujuannya adalah memberi bimbingan dan perlindungan kepada masyarakat konsumen menuju kesejahteraan keluarga. Tujuan berdirinya YLKI adalah untuk meningkatkan kesadaran kritis konsumen tentang hak dan tanggung jawabnya sehingga dapat melindungi dirinya sendiri dan lingkungannya.

2.4 Visi dan Misi

Visi YLKI adalah tatanan masyarakay yang adil dan konsumen berani memperjuangkan hak-haknya secara individual dan berkelompok. Adapun misi-misi yang dirancang oleh YLKI, yakni:

1. Melakukan pengawasan dan bertindak sebagai pembela konsumen.

2. Memfasilitasi terbentuknya kelompok-kelompok konsumen

3. Mendorong keterlibatan masyarakat sebagai pengawas kebijakan publik

4. Mengantisipasi kebijakan global yang berdampak pada konsumen.

Nilai-nilai dasar yang dianut YLKI adalah non profit, non partisan, tidak diskriminatif, demokratis, keadilan sosial, keadilan gender, keadilan antar generasi, hak asasi, solidaritas konsumen, dan independen

 

2.5 Bidang dan Bentuk Kegiatan

Bidang kegiatan utama lembaga ini adalah perlindungan konsumen, di samping bidang lainnya seperti kesehatan, air bersih dan sanitasi, gender, dan hukum sebagai penunjangnya. Bidang-bidang ini dilaksanakan terutama z. Program-programnya adalah Program-program yang telah dilakukan lembaga adalah advokasi, penerbitan majalah dan pemberdayaan perempuan.

2.6  Strategi dan Kegiatan YLKI

2.6.1 Advokasi

Mempengaruhi para pengambil keputusan di sektor industri dan pemerintahan agar memenuhi kewajibannya terhadap konsumen, pada tingkat lokal dan nasional.

2.6.2 Penggalangan Solidaritas

Meningkatkan kepedulian kritis konsumen melalui penggalangan solidaritas antar konsumen, serta melalui prasarana kegiatan berbagai kelompok konsumen.

2.6.3 Pengembangan Jaringan

Memperkuat kerjasama antar organisasi konsumen dan juga dengan organisasi kemasyarakatan lainnya pada tingkat lokal, nasional, regional dan internasional.

2.6.4 Penyebaran Informasi yang Tidak Memihak

Mengimbangi informasi yang telah ada dengan informasi dan data objektif lainnya yang diperoleh berdasarkan kajian dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

 

2.6 Contoh Studi Kasus YLKI

Banyaknya mainan yang beredar dipasaran dengan harga yang bervariasi merupakan salah satu perhatian YLKI. Pada bulan Maret 2011, YLKI melakukan pengujian beberapa macam mainan edukasi yang dibeli di beberapa tempat penjualan mainan, seperti pasar mainan, ITC dan mal/pusat perbelanjaan di 5 wilayah DKI Jakarta. Dari hasil pengujian, ditemukan produk mainan edukasi yang mengandung zat-zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan, sebut saja : timbal (Pb), mercuri (Hg), cadmium (Cd) dan chromim (Cr).  Selain kandungan zat-zat kimia ini, tampilan fisik mainan edukasi ini pun tidak aman untuk anak-anak, cat yang mudah terkelupas, bau dan warna cat yang sangat menyolok serta kurangnya informasi yang jelas dalam kemasan mainan edukasi ini. Berdasarkan UU No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen menyatakan bahwa konsumen berhak mendapatkan informasi yang benar, jelas dan jujur; berhak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang.  Oleh karena itu, diperlukan peraturan dan pengawasan yang ketat dari pihak-pihak yang terkait  terhadap produk mainan tersebut, baik mainan lokal maupun impor. Mengingat produk tersebut digunakan oleh anak-anak dengan berbagai jenjang usia, mulai dari 2 tahun hingga 5 tahun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

            YLKI adalah organisai sosisalis berdasarkan pada perhatian atas kelangkaan yang didirikan  pada tanggal 11 Mei 1973. Produk nasional. Selain itu, YLKI juga diprakasi oleh figur-figur para tokoh perempuan pejuang seperti Ibu Sujono Prawirabisma, Ibu SK Trimurti, Ibu Soemarno serta Ibu Lasmidjah Hardi (yang kemudian menjadi Ketua YLKI pertama). YLKI bukan sekedar organisasi yang biasa tapi organisasi dengan memiliki visi dan misi serta tujuan yang jelas. Selain itu, YLKI juga memiliki bidang dan bentuk kegiatan yang direalisasikan dalam permasalahan yang terjadi di Indonesia. Dalam menjalankan kegiatannya, YLKI me iliki strategi dalam pelaksanaannya dengan cara advokasi, penggalangan solidaritas, pengembangan jaringan dan penyebaran informasi yang tidak memihak.

 

 

resume pkl

REVIEW

Persediaan bahan baku merupakan suatu hal yang harus ada dalam sebuah perusahaan untuk menunjang kelangsungan hidup dari perusahaan tersebut. Pada dasarnya persediaan akan mempermudah jalannya operasi perusahaan yang harus dilakukan secara berturut-turut untuk memproduksi barang. Pengadaan bahan baku harus dikendalikan dan direncanakan agar tercapai efisiensi dari persediaan bahan baku. Pengendalian persediaan yang diadakan mulai dari bahan baku sampai bahan jadi, antara lain berguna untuk menghilangkan resiko barang yang rusak, mempertahankan stabilitas operasional perusahaan, mencapai penggunaan mesin yang optimal, dan memberi pelayanan yang sebaik-baiknya kepada konsumen.

Pada praktek kerja lapang kali ini dilaksanakan di UD. Sumber Rejo, yang merupakan suatu perusahaan yang memproses ketela pohon menjadi tepung tapioka di daerah Kandangan kabupaten Kediri, dimana perusahaan ini adalah perusahaan perseorangan yang didirikan oleh Bapak Fenny Hermawan yang sekaligus pemimpin perusahaan yang berdiri sejak tahun 1974 ini. Kebijakan manajemen bahan baku pada UD. Sumber Rejo tidak memakai metode apapun dalam pengadaan bahan baku. Jumlah tepung tapioka yang dihasilkan tergantung dari jumlah ubi kayu yang mampu dikirimkan oleh supplyer. Pada saat panen raya UD. Sumber Rejo mampu meningkatkan hasil produksinya, tapi pada saat paceklik hasil produksinya sangat terbatas. Pemesanan dilakukan berdasarkan kapsitas pabrik untuk mengolah tepung tapioka.

Bahan baku utama dari industri tepung tapioka adalah ubi kayu (Manihot esculenta) dalam segala jenisnya dari yang varietas manis sampai pahit. Namun biasanya industri tapioka lebih memilih varietas pahit karena kandungan patinya lebih banyak dibandingkan dengan varietas yang manis. Tapi bagi perusahaan ini,tidaklah penting varietas dari ubi kayu tersebut, yang terpenting ubi kayu harus dalam keadaan segar dan bagus. UD.Sumber Rejo mengambil tempat di Kandangan karena beberapa hal, diantaranya : sarana transportasi  lebih mudah dan lancar; dekat dengan saluran limbah yaitu sungai Konto yang dapat menyalurkan limbah cairnya yang telah diproses untuk kemudian digunakan mengairi sawah disekitarnya; selain itu letak perusahaan ini sangat strategis dari daerah penghasil ubi kayu yaitu Bareng, Wonosalam, Malang Selatan, Trenggalek, Nganjuk, Kandat, Blitar, Plosoklaten, Ngadiluwih, dan Grogol. Lokasi ini dapat dengan mudah dicapai dengan alat transportasi, sehingga memudahkan pendatangan bahan baku ataupun pengiriman produknya. Pengiriman bahan baku dilakukan oleh pemasok sendiri. Pertimbangan aspek sosial juga dilaksanakan antara lain untuk membantu masyarakat sekitar pabrik dalam hal hal pemasaran ketela pohon dan juga dapat menciptakan lapangan kerja. Pabrik ini akan beroperasi bila bahan baku sudah mencapai 100 ton per harinya.