Subscribe to RSS Feed

ANALISIS PENGENDALIAN MUTU PADA PROSES PRODUKSI

AIR MINUM DALAM KEMASAN (AMDK) SBQUA

(STUDI KASUS di PT SINAR BOGOR QUA, PAJAJARAN – BOGOR)

1.      Profil Perusahaan

PT SBQUA didirikan pada bulan September 2001 di Jl. Pajajaran no 21 Warung Jambu Bogor dengan bentuk perusahaan perseorangan, merupakan perusahaan khusus yang memproduksi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) dengan jenis produksi kemasan galon. Untuk bahan baku produksi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) , pada tahun 2002 PT. SBQUA mengadakan kerjasama dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bogor tentang pengadaan air bersih dengan nomor perjanjian kerjasama No. 695.2/SPK.05-PDAM-SBQUA/2002. Pada Tahun 2003 bentuk perusahaan SBQUA berubah menjadi Perseroan Terbatas (PT). PT. SBQUA memiliki SNI 01-3553-1996 dengan sertifikat produk penggunaan tanda SNI nomor : 0283/PUSTAN/SNI-BW/X/2001 dan memiliki izin usaha industri dengan nomor tanda daftar industri 535/45.TDI-Diperindagkop, serta merek dalam negeri dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) MD. 249110001624. Bahan baku dalam produksi juga telah memenuhi syarat kualitas air minum Menkes R.I No. 907/Menkes/VII/2002 tanggal 26 Juli 2002.

PT. SBQUA dipimpin oleh seorang presiden direktur yang juga merupakan pemilik dari perusahaan. Saat ini PT. SBQUA memiliki tujuh orang karyawan. Pada perusahaan terdapat tiga bagian yaitu bagian produksi, bagian umum/personalia, dan bagian pembelian/pemasaran. Struktur organisasi PT. SBQUA :

a. Direktur

Tugas dari direktur yaitu memimpin manajemen perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan baik tujuan internal yang mencakup diterapkannya sistem mutu secara mantap dan berkesinambungan yang dapat meningkatkan kinerja perusahaan, tujuan eksternal yang meliputi tercapainya persyaratan pelanggan secara efektif dan efisien juga bertanggung jawab

dalam hal pembelian dan pengadaan sarana produksi, bertanggung jawab dalam pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia melalui program – program pelatihan untuk peningkatan kemampuan.

b. Kepala Bagian Produksi

Menjalankan fungsi manajemen bidang produksi, bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan pengendalian produksi.

c. Kepala Bagian Umum/Personalia

Tugasnya yaitu membantu direktur dalam melaksanakan pengawasan dan pengendalian bidang umum dan personalian, melaksanakan pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM), serta kegiatan hubungan masyarakat (humas) guna menunjang usaha perusahaan.

d. Kepala Bagian Pembelian/Pemasaran

Tugasnya yaitu merencanakan, menetukan harga, promosi, distribusi barang dan merencanakan/mengatur persediaan barang/bahan yang berkaitan dengan operasional perusahaan.

e. Kepala Seksi Laboratorium/Quality Control (QC)

Menjalankan fungsi manajemen bidang pengendalian/ pengawasan mutu terhadap bahan baku/pembantu yang digunakan dalam proses produksi, selama proses berlangsung, dan produk jadi untuk mencapai spesifikasi yang ditetapkan.

f. Kepala Seksi Gudang

Tugasnya yaitu menjalankan fungsi manajemen bidang pergudangan, bertanggung jawab dalam pelaksanaan penyimpanan, penanganan dan penyerahan bahan baku, penolong, dan produksi jadi.

g. Operator Produksi

Memiliki tugas menjalankan pelaksanaan produksi sesuai dengan peraturan yang ditetapkan perusahaan.

Fasilitas perusahaan merupakan bangunan dan peralatan yang terdapat diperusahaan yang menunjang proses produksi dan kesejahteraan karyawan. Fasilitas perusahaan pada PT. SBQUA terdiri dari fasilitas utama, fasilitas penunjang serta fasilitas umum. Fasilitas utama yaitu mesin – mesin produksi yang berfungsi dalam proses filtrasi dan sterilisasi pada air. Failitas penunjang yaitu  laboratorium QC (Quality Control) yang cukup memenuhi syarat untuk melakukan pengujian fisika dan kimia mulai dari air baku hingga AMDK, serta pengujian mikrobiologi untuk uji bakteri e-coli. Fasilitas umum yang meliputi kesejahteraan karyawan antara lain musholla,  kamar mandi yang berbeda untuk karyawan pria dan wanita, kantin khusus karyawan, serta tempat parkir.

2.      Permasalahan

  1. Bagaimana proses produksi air minum dalam kemasan (AMDK) di PT.Sinar Bogor Qua, dalam usaha menghasilkan air minum yang aman untuk dikonsumsi?
  2. Bagaimana pengendalian mutu pada proses produksi AMDK?
  3. Apakah sebab – sebab potensial yang mempengaruhi mutu air minum dalam kemasan di PT.Sinar Bogor Qua?
  4. Apakah pengendalian mutu pada proses produksi tersebut terkendali ataupun tidak terkendali?

Berdasarkan hasil penelitian pengendalian mutu pada proses produksi AMDK di PT Sinar Bogor QUA, maka dapat disimpulkan bahwa :

  1. Pada proses produksi, air baku akan diproses melalui beberapa tahap filtrasi yang bertujuan untuk menghilangkan bau dan kekeruhan serta melalui proses sterilisasi (ozonisasi dan ultra violet).
  2. 2.      Pengendalian mutu pada PT SBQUA terbagi menjadi empat tahap yaitu pengendalian mutu bahan baku, pengendalian mutu dalam proses, pengendalian mutu produk jadi, dan pengendalian mutu kemasan. Agar kualitas air tetap terjamin, PT. SBQUA dilengkapi dengan laboratorium QC (Quality Control) yang cukup memenuhi syarat untuk melakukan pengujian fisik, kimia dan mikrobiologi. AMDK yang diuji di laboratorium PT.SBQUA secara berkala akan dilakukan perbandingan dengan pengujian kembali di laboratorium yang sudah terakreditasi.
  3. Pada diagram sebab akibat diperoleh faktor – faktor yang mempengaruhi mutu dari AMDK, yaitu bahan baku, mesin / alat, kemasan, lingkungan, metode, dan karyawan.
  4. Pada grafik kendali pH, turbidity, TDS, dapat disimpulkan rata-rata pH, turbidity,TDS tersebut sesuai dengan standar yang ditetapkan perusahaan, meskipun terlihat bahwa proses produksi masih tidak terkendali, sekaligus menandakan bahwa terdapat variasi penyebab khusus dalam proses produksi. Berdasarkan hal tersebut, pihak perusahaan harus menghilangkan variasi penyebab khusus itu agar membawa proses kedalam pengendalian statistikal. Variasi penyebab khusus dapat berupa:

1) Kondisi Bahan Baku.

2) Mesin,seperti carbon active filter I, atau ressin filter tidak berfungsi dengan baik, sehingga operator harus melakukan backwash.

3) Filter Cartridge tidak berfungsi dengan baik atau tersumbat, sehingga operator harus melakukan penggantian filter tersebut.

4) Terjadi kesalahan pengujian, yang disebabkan oleh daya fungsi alat uji yang sudah tidak maksimal, atau kesalahan metode dari pertugas QC.

5) Lingkungan yang tidak steril dan bersih.

Diagram sebab akibat digunakan untuk menganalisis persoalan dan faktor-faktor yang menimbulkan persoalan tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan ditemukan faktor – faktor yang mempengaruhi mutu dari AMDK, yaitu bahan baku, mesin / alat, kemasan, lingkungan, metode serta karyawan.

1) Bahan Baku

Bahan baku utama dalam produksi AMDK SBQUA adalah air yang berasal dari PDAM. Kualitas/mutu air dipengaruhi oleh parameter mutu air, penyimpanan bahan baku air dan cuaca. Parameter mutu air terdiri dari pH, suhu, kekeruhan, TDS, chlorida, dan mikrobiologi. Cuaca berpengaruh pada bahan baku air, terutama jika musim hujan, kekeruhan air akan meningkat. Penyimpanan bahan baku tidak boleh terkena sinar matahari langsung oleh karena itu bahan yang digunakan adalah bahan yang kedap cahaya, karena jika suhu dari air meningkat maka akan mempermudah munculnya bakteri – bakteri pada air. Suhu maksimum yang diperbolehkan adalah 30°C.

2) Mesin/Alat

Mesin atau peralatan memiliki peranan penting agar dapat dihasilkan produk yang bermutu. Mesin/peralatan yang dimiliki oleh PT SBQUA antara lain adalah carbon active filter I, resin filter, carbon active filter II, filter cartridge, pump, ozon generator, ozon reactor, Ultra Violet (UV), dan mesin filler (pengisi kemasan). Mesin pendukung produksi AMDK yaitu alat pencuci kemasan. Peralatan lain yang dimiliki oleh PT SBQUA yaitu peralatan laboratorium yang mampu menganalisa parameter uji mikrobiologi dan uji fisika-kimia yang minimal dibutuhkan. Mesin/peralatan memerlukan perawatan agar kinerjanya tetap terkontrol dan berada dalam standar, perawatan yang dilakukan antara lain penggantian filter dan backwash pada mesin produksi serta kalibrasi untuk peralatan pengujian.

3) Kemasan

Bahan kemasan, terdiri dari galon, tutup galon, tissue, serta segel SBQUA. Bahan kemasan tersebut diperoleh dari pemasok dan sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan. Galon dan tutup galon harus melewati tahapan pencucian kemasan dari pemberian sabun khusus kemasan (teepol), hingga pembilasan sesuai dengan instruksi kerja pencucian galon.

4) Lingkungan

Kebersihan lingkungan meliputi ruang produksi dan tempat penyimpanan produk jadi, serta laboratorium harus diperhatikan, karena memiliki pengaruh terhadap mutu air. Sterilisasi ruangan harus dilakukan terutama pada ruang filler dan juga laboratorium. Suhu ruangan tidak boleh terlalu tinggi, agar mencegah timbulnya bakteri – bakteri pada air.

5) Metode

AMDK yang terjamin harus melewati tahap pengujian parameter mutu air, agar air yang dihasilkan terbebas dari rasa, bau, dan warna, serta baketeri-bakteri yang merugikan. Perawatan untuk mesin/alat yang dimiliki antara lain dilakukan backwash atau penggantian filter, agar kinerja mesin tetap stabil dalam menghasilkan air yang berkualitas. Kalibrasi pada peralatan uji laboratorium, dilakukan sebelum menguji air, hasil pengukuran air tersebut akurat. Kemasan yang digunakan juga harus melewati tahapan pencucian kemasan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

6) Karyawan

Karyawan memiliki pengaruh yang penting terhadap mutu produk yang dihasilkan. Karyawan produksi / operator bertugas menjaga dan mengendalikan mesin agar tetap berjalan sesuai dengan fungsinya, serta melakukan pencucian galon, pengisian galon, sampai pemberian seal segel galon. Karyawan bagian QC bertanggungjawab dalam pengujian mutu air. Kedisiplinan karyawan dibutuhkan untuk menjaga kestabilan mutu air, seperti pengecekan mesin setiap akan berproduksi, pengecekan sampel air, serta penggunaan pakaian khusus, penutup kepala, dan penutup mulut pada ruang filler.

3.         Kurs

Grafik kendali adalah grafik yang digunakan untuk menentukan apakah suatu proses berada dalam keadaan in control atau out control. Batas pengendalian yang meliputi batas atas (upper control limit) dan batas bawah (lower control limit) dapat membantu untuk menggambarkan performansi. yang diharapkan dari suatu proses. Kondisi ini yang menunjukkan bahwa proses tersebut konsisten. Dengan mengetahui kondisi proses, maka dapat diketahui berbagai sumber dari variasi proses. Yang pada dasarnya variasi adalah ketidakseragaman dalam sistem sehingga menimbulkan perbedaan dalam kualitas pada produk yang sama. Terdapat dua sumber atau penyebab timbulnya variasi, yaitu :

1) Penyebab umum (common cause) adalah faktor-faktor didalam sistem atau yang melekat pada proses operasi yang menyebabkan timbulnya variasi dalam sistem serta hasil-hasilnya. Penyebab umum menimbulkan variasi acak (random variation) dalam batas-batas yang dapat diperkirakan, dan sering disebut penyebab acak (random cause) atau penyebab sistem (system cause).

2) Penyebab khusus (special cause) adalah kejadian-kejadian diluar sistem yang mempengaruhi variasi dalam sistem. Penyebab khusus dapat bersumber dari faktor seperti, manusia, peralatan, material, lingkungan, metode kerja, dll.

Penyebab khusus ini dapat diidentifikasikan/ditemukan, sebab mereka tidak selalu aktif dalam proses tetapi memiliki pengaruh yang lebih kuat pada proses sehingga menimbulkan variasi. Grafik kendali (control chart) dapat digunakan untuk memperoleh informasi berikut:

1) Kemampuan proses produksi, artinya apakah mesin-mesin masih berjalan baik     sesuai rencana atau tidak.

2). Pengendalian produk akhir, agar produk akhir tetap baik mutunya.

Jadi, kegunaan control chart adalah untuk membatasi toleransi penyimpangan (variasi) yang masih dapat diterima, baik karena akibat tenaga kerja, mesin, dan sebagainya. Keuntungan dari grafik kendali atau BKM (Bagan Kendali Mutu) adalah:

(1) mengendalikan produksi secara on process,

(2) memantau proses secara terus menerus agar tetap stabil,

(3) meningkatkan produksi,

(4) pengendali efektif dalam pencegahan cacat,

(5) mencegah penyesuaian yang tidak perlu, dan

(6) memberikan informasi yang diagnotis.

BKM dapat disebut juga pengendalian kualitas statistikal, atau Statistical Quality Control (SQC), yang merupakan teori probabilitas dalam pengujian atau pemeriksaan sampel. SQC merupakan metode statistik untuk mengumpulkan dan menganalisis data hasil pemeriksaan terhadap sampel dalam kegiatan pengawasan kualitas produk. SQC dilakukan dengan pengambilan sampel kualitas produk. SQC dilakukan dengan pengambilan sampel (sampling) dari “populasi” dan menarik kesimpulan berdasar karakteristik sampel tersebut secara statistik (statistical inference). SQC tidak menciptakan resiko, ataupun menghilangkan resiko. Tujuan SQC adalah untuk menunjukkan tingkat reliabilitas sampel dan bagaimana cara mengawasi resiko. Pengendalian kualitas statistik (statistical quality control) secara garis besar digolongkan menjadi dua, yaitu pengendalian pengendalian proses statistik (statistical process control) atau yangsering disebut control chart dan rencana penerimaan sampel produk atau yang sering dikenal dengan acceptance sampling.

Prosedur – prosedur SQC yang memeriksa produk jadi disebut acceptance sampling, dan dapat digunakan untuk mengawasi proses selama barang – barang sedang dibuat sekaligus kualitas produk yang sedang dikerjakan. Acceptance sampling berarti penerimaan atau penolakan keseluruhan kumpulan produk jadi atas dasar jumlah cacat dalam sampel.

4.      Perbaikan yang Timbul

Pada berbagai macam proses yang dilakukan,pengendalian yang timbul untuk perbaikan yaitu antara lain:

  1. Pengendalian Derajat Keasaman (pH) Air yaitu berupa , Kendali pH Air pada Tank Penampungan Bahan Baku (BB), Kendali pH pada Carbon Active Filter I (CF1), Kendali pH pada Ressin Filter (RF), Kendali pH pada Carbon Active Filter II (CF2), Kendali pH Setelah Melewati Filter Cartridge (SC), Kendali pH pada Mesin Filler
  2. Pengendalian Kekeruhan (Turbidity) yaitu antara lain ,Pengendalian Kekeruhan pada Carbon active filter I, Pengenendalian Kekeruhan pada Ressin Filter (RF), Pengendalian Kekeruhan pada Carbon Active Filter II (CF2) , Kendali Kekeruhan Setelah Melewati Filter Cartridge (SC) , Kendali Kekeruhan pada Mesin Filler
  3. Pengendali Total Dissolved Solid (TDS) dalam Air yaitu berupa , Kendali TDS Air pada Tank Penampungan Bahan Baku (BB), Kendali TDS pada Carbon Active Filter I (CF1), Kendali TDS pada Ressin Filter (RF), Kendali TDS pada Carbon Active Filter II (CF2), Kendali TDS Setelah Melewati Filter Cartridge (SC), Kendali TDS pada Mesin Filler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*


Stay in Tune

    Twitter

    Follow Me on Twitter!