Salam Lestari

Blog mahasiswa Universitas Brawijaya

Category : Lingkungan

Sampah adalah emas

Semua orang membuang sampah, dan semua orang tidak mau ditempati sampah. Nah kalo semua g ada yang mau ditempati sampah, mau dikemanakan sampah? Saat ini memang masih banyak TPA, tapi kalo TPAnya sudah penuh dan semua lahan sudah jadi pemukiman mau dikemanakan sampahnya?

Sampah itu emas? Emang bisa ya? Emas kan sesuatu yang berharga dan dinilai tinggi sedangkan sampah sesuatu yang sering kita buang dan sering dianggap rendah. Eitss.. jangan salah dulu ya. Meskipun smpah sering kita buang, tapi sampah bisa jadi sumber penghasilan yang meyakinkan lho. Sampah juga bisa jadi barang yang kita sedekahkan, caranya kita ngumpulin sampah yang bisa dijual dan kita kasih ke pemulung. Pasti pemulungnya seneng karena tidak perlu mengorek-ngorek sampah didepan rumah kita yang bau itu. Read More…

Mengais Sampah, Meraup Emas

Mengais Sampah, Meraup Emas

Image by : Peter F.E/Redux

Dua mahasiswa iseng-iseng mengangkut sampah untuk mendapat uang jajan – namun  mereka justru berhasil membangun kerajaan bisnis.

Ada teriakan khas para orang tua yang biasa didengar di hari kedua libur kuliah: “Kerja, dong!” Ibunda Omar Soliman termasuk di antaranya. Ia tak ingin melihat anaknya hanya berenang saja sepanjang musim panas. “Harus ada yang kau kerjakan,” ia menyuruh anaknya.

Di tempat tinggalnya, Washington DC, teman-teman Soliman kebanyakan magang di tempat-tempat yang bergengsi. Tapi Soliman menyukai pesta. Tak terbayang di benaknya dia harus duduk di belakang meja sepanjang hari. Tapi dari pengalamannya selama bertahun-tahun membantu mengantarkan furnitur milik toko mebel ibunya, ia ingat banyak orang yang ingin membuang furnitur lama mereka. Kalau ia meminjam mobil van milik ibunya, tentu ia bisa mendapatkan uang untuk berfoya-foya dengan menawarkan jasa membuang furnitur lama tersebut.

Malam itu, Soliman menemukan nama untuk bisnisnya sendiri: College Hunks Hauling Junk. Keesokan harinya, dia menyebar flyer, dan hanya dalam hitungan jam, teleponnya berdering. Dia meminta bantuan sahabatnya, Nick Friedman. Setelah tiga jam membersihkan barang-barang tak terpakai di garasi milik seorang wanita, mereka mendapatkan 220 dolar AS.

Soliman dan Friedman mengantungi 10.000 dolar AS pada musim panas itu. Dan sekarang, hanya dalam waktu 4 tahun, bisnis mereka menjadi perusahaan nasional yang meraup untung 3 juta dolar AS pada 2008. College Hunks mempekerjakan 130 orang dan mempunyai 16 waralaba di 10 negara bagian dan Washington DC. Mereka mengangkut apa saja, mulai dari sofa rombeng sampai komputer kuno, dan menargetkan bisa mengembangkan 80 waralaba di  tahun 2012. “Orang-orang sangat senang dengan ide pengangkutan sampah yang dilakukan anak-anak muda yang bersih dan ramah,” kata Friedman.

Namun keduanya belum siap menjadi tukang sampah penuh waktu setelah lulus kuliah. “Kami harus menyelesaikan kuliah dan mencari pekerjaan yang bagus,” kata Soliman yang kemudian bekerja sebagai tenaga pemasaran untuk sebuah lembaga riset. Sementara Friedman menjadi analis ekonomi untuk sebuah lembaga konsultan. Dalam beberapa bulan, kata Friedman, “Kami merasa kurang senang. Aku mengirim e-mail ke Omar: ‘Kapan nih saat yang tepat untuk mulai berbisnis?’ Dia menjawab: ‘Sekarang.’”

Mereka lalu keluar dari pekerjaan, tapi sulit menemukan bank yang mau memberi kredit. “Kami dinilai tidak layak mendapatkan kredit,” ujar Soliman. Setelah lima kali ditolak, akhirnya sebuah bank memberikan pinjaman 50.000 dolar AS. Mereka lalu menambahkan dengan 60.000 dolar AS dari orang tua dan tabungan mereka sendiri. Tak menunggu lama, mereka membeli sebuah truk, menyewa seniman grafis untuk mendesain logo, memuat iklan di koran dan radio, dan merekrut tenaga angkut dari kampus-kampus. Mengenakan seragam baru — kaos polo berwarna hijau dan khaki — mereka menggelar presentasi di pameran-pameran lokal, kantor-kantor kamar dagang dan real estat.

“Pada awalnya, uang kami menyusut terus,” aku Friedman, “sebab kami mematok harga terlampau rendah.” Seorang pelanggan membayar mereka untuk membuang selusin tong sampah berisi puing-puing bangunan. Bukannya menghitung tarif berdasarkan berat barang-barang tersebut, mereka justru menghitung berdasarkan volume dan mematok harga hanya 130 dolar AS. “Barang-barang itu sangat berat, sehingga kami butuh waktu dua setengah jam untuk mengerjakannya,” kata Soliman. “Dan kami harus mengeluarkan 250 dolar AS untuk membuang muatan itu.”

Namun pengalaman mereka dengan tangan-tangan kekarnya mengajari tentang apa yang harus — dan tidak harus — dikerjakan. Untuk meringankan biaya sewa lahan pembuangan, mereka mendaur ulang logam dan barang elektronik, lalu menyumbangkan lebih dari 60 persen dari apa yang mereka dapatkan. Mereka menyewa tenaga konsultan untuk membantu mengembangkan waralaba berskala nasional, membeli nomor bebas pulsa, membuat situs (1800junkusa.com), dan mendirkan pusat informasi di Maryland. Tahun lalu, mereka memindahkannya ke Tampa, yang ongkos sewanya lebih murah.

Sekarang, Soliman, 26, menjadi seorang perencana, dan Friedman, 27, menjadi tukang bongkar. Mereka membeli sebuah buku yang mendorong sepasang wiraswasta muda itu untuk berani mengambil risiko. “Aku tidak ngeh kalau aku adalah wiraswastawan sampai aku mulai menyetir mobil van,” aku Soliman. “Begitu juga Nick. Aku baru tahu kalau aku ingin melakukan sesuatu sendiri. Bagi kami, apabila gagal, lebih baik kami mencoba bangkit dari kegagalan itu daripada tidak mencoba sama sekali.(L Rosellini)

Sumber: http://www.readersdigest.co.id/uang/investasi.dan.bisnis/mengais.sampah.meraup.emas/004/001/48

Fatmawati Uswatun H., Layyin Yeprila N., Ariani Eka Pratiwi

Program Studi Teknik Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

 

ABSTRAK

 

Kurangnya pengelolaan air secara efisien menyebabkan berbagai bencana seperti banjir tanah longsor yang sering terjadi di Indonesia. Permasalahan tersebut berdampak dengan menurunnya kemampuan daya dukung lingkungan dalam menyediakan sumber air bersih. Adapun solusi alternatif sebagai upaya dalam sanitasi dan pengolahan air bersih, maka dibuatlah sistem Water Treatment Two In One yang diharapkan mampu menyediakan air bersih berbasis skala rumah tangga yang ramah lingkungan. Sistem  water treatment two in one  ini terdiri dari rain water treatment dan waste water treatment.  Konsep rain water treatment mengubah air hujan menjadi air bersih dengan beberapa tahapan meliputi green roof sebagai penyaring, tank penampung sementara, tando bawah tanah dan sumur resapan dengan optimasi sisa penggunaan air di musim penghujan sekitar 57 m3 atau ± 57.000 liter air dapat digunakan lebih kurang selama 4 bulan pada musim kemarau. Pada konsep waste water treatment  air limbah rumah tangga diolah di bak sedimentasi kemudian dialirkan ke bak aerasi yang selanjutnya diproses di sandfilter menjadi air yang dapat dimanfaatkan kembali guna memenuhi kebutuhan air skala rumah tangga.

Kata kunci : pengolahan, air bersih, air limbah rumah tangga, air hujan

 

 

Cinta Bumi? Lakukan hal ini!!!

Indonesia merupakan Negara yang kaya akan Sumberdaya Alamnya. Hutan tropis yang luas sangat kaya dengan ribuan jenis burung, ratusan jenis mamalia dan puluhan ribu jenis tumbuhan. Perairan yang luas menjadi tempat berkembangnya populasi ikan dan hasil perairan yang lain. Selain itu bumi mengandung berbagai mineral yang cukup banyak. Dengan sumberdaya alam yang melimpah ini, kita dapat melaksanakan pembangunan tanpa rasa takut untuk kekurangan modal. Namun jika kita mengeksploitasi secara berlebihan tanpa perencanaan, maka kemakmuran dan kesejahteraan yang ingin kita capai berubah menjadi malapetaka.

Akibat dari pengelolaan Sumberdaya yang tidak memperhatikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan dapat dilihat dari kondisi lingkungan yang mengalami degradasi baik kualitas maupun kuantitas. Hutan tropis di Indonesia setiap tahunnya berkurang sangat cepat, sehingga jenis flora dan fauna didalamnya sebagian besar sudah terancam punah. Perairan yang luas telah tercemar sehingga ekosistemnya terganggu. Jika perairan terus tercemar seperti ini diperkirakan tahun 2050 akan terjadi kelangkaan air. Demikian juga dengan dampak eksploitasi mineral yang terkandung didalam perut bumi juga mulai merusak keseimbangan lingkungan kita akibat proses penggalian, pengolahan dan pembuangan limbah tanpa perlakuan yang benar. Pengelolaan Sumberdaya Alam yang tidak memperhatikan AMDAL menimbulkan berbagai dampak dan permasalahan di daerah seperti lahan kritis, bencana alam, kecemburuan social dan masalah perselisihan yang akan menjadi beban pemerintah.

Berdasarkan masalah-masalah tersebut maka dapat diterapkan cara pemanfaatan sumberdaya yang bijaksana agar daya dukung lingkungan berkelanjutan dapat terpelihara dan dapat dijadikan sebagai warisan untuk anak cucu kita. Terdapat banyak cara untuk memanfaatkan sumber daya secara bijaksana terutama untuk air. Air merupakan komponen penting yang keberadaannya harus dijaga agar 50 tahun kedepan tidak terjadi kelangkaan air. Berikut cara-cara untuk menghemat air:

Mandi selama 5 menit.Seperti yang telah diterapkan di Negara tetangga yaitu singapura. mandi orang singapura yang biasanya sekitar 5-10menit, saat ini Pemerintah menerapkan peraturan mandi tidak boleh lebih dari 5 menit. Hal ini dilakukan untuk menekan penggunaan air rumah tangga dari 153 liter per hari menjadi 147 liter per hari.setiap kamar mandi diberi alarm pengatur waktu. Jika alarm telah berbunyi berarti orang tersebut sudah mandi selama lima menit. Jika orang tersebut tetap ngotot tidak mau keluar, maka pintu kamar mandi akan terbuka secara otomatis. Untuk melancarkan program ini, pemerintah singapura akan mengajarkan tarian mandi yang efektif dan nyaman walaupun hanya lima menit. Cara ini sangat efektif untuk mengurangi penggunaan air hingga 9 liter perhari. Metode mandi selama ini seharusnya juga diterapkan di Indonesia untuk mengurangi kelangkaan air di tahun 2050. Read More…

Indonesia “Tong Sampah Limbah B3 Dunia” di Masa Mendatang?

Belum lama ini kita sempat dihebohkan dengan berita masuknya limbah B3 ke Indonesia.  Beberapa waktu yang lalu Dinas Bea Cukai mendapati sebanyak 113 kontainer yang berisi limbah scrap logam yang terkontaminasi limbah B3 (Republika Online, Kamis 1/3).

Limbah B3 adalah Limbah bahan berbahaya dan beracun disingkat Limbah B3 adalah sisa suatu usaha dan / atau beracun yang karena sifat dan / atau konsentrasinya dan / atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan / atau merusakkan lingkungan hidup dan / atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain (PP No. 18 1999 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun). Read More…