iklan Oreo

March 18th, 2013

Oreo merupakan suatu produk yang sangat diminati oleh anak kecil, hampir banyak dari iklan oreo ini menampilkan anak kecil dan yang pasti iklan oreo ini tidak pernah lepas dengan tag line “diputar, dijilat, dan dicelup” lalu dimakan bersamaan. produk oreo ini juga memiliki banyak jenis dan banyak rasa yang dihadirkan di masyarakat.

menurut saya oreo memiliki 2 segementasi pasar yang berbeda ketika berada dimasyarakat iklanya. sebelumnya saya jelaskan dulu segmentasi itu apa, segmentasi adalah membagi kelompok – kelompok konsumen yang heterogen kedalam konsumen yang homogen.

segmentasi yang pertama adalah segmentasi yang mengarah kepada anak -anak, jelas sekali oreo adalah makanan ringan atau biskuit untuk konsumen anak kecil. dan segmen kedua yang diarahkan oleh oreo lebih kepada keluarga, yaitu yang menjelaskan kepada konsumen bahwa oreo bisa dinikmati bersama keluarga ketika sedang bersamaa. saat ini memang banyak sekali produk yang mengarah ke dua segmentasi tidak hanya oreo ada banyak lagi contohnya ice cream walls, dan ini tidak masalah selagi iklan yang dihadirkan etis, dan dapat meningkatkan pemasaran produk untuk penjualan produk pastinya.

metode budget marcom

March 18th, 2013

METODE ANGGARAN MARKETING COMMUNICATION

1. Affordable ( terjangkau )
Menetapkan anggaran promosi pada level yang dianggap manajemen mampu dikeluarkan perusahaan Hanya mengeluarkan sedikit dana, dari sisa dana operasional dan investasi
Mengabaikan dampak promosi pada penjualan.
Hanya mengandalkan pemasangan iklan.

2. Percentage of sales
Menetapkan anggaran promosi pada persentase tertentu dari penjualan sekarang atau yang diperkirakan/ menetapkan anggran promosi sebagai sebuah persentase dari harga jual per unit Mudah digunakan • Membantu manajemen memikirkan hubungan antara pengeluaran promosi, harga jual dan laba per unit
• Memandang penjualan sebagai sebab dari promosi dan bukannya sebagai hasil.
Metode ini hanya didasarkan pada ketersediaan dana, bukannya pada peluang yang ada
3. Competitive parity
Menetapkan anggran promosi untuk menandingi anggran para pesaing Membelanjakan sebesar belanja promosi pada pesaing sehingga membantu mencegah perang promosi.
Responsif terhdap kondisi pesaing Tidak selamanya valid, karena tidak semua perusahaan memiliki kebijakan yang sama
Kebutuhan promosi perusahaan kita belum tentu sama dengan kebutuhuan pesaing.
4. Objective and task
Membantu perusahaan secara focus menuju tujuan promosi perusahaan.
Menentukan tugas dan biaya yang diperlukan untuk mencapai tujuan promosi. Perusahaan sering sulit menentukan tugas apa yang dapat mencapai tujuan promosi.

BERIKLAN DI TELEVISI
1. Karakteristik Stasiun Televisi
Stasiun televisi yang menyiarkan khusus berita, Olahraga, Musik, atau film akan lebih menguntungkan advertiser, karena mereka bisa memilih stasiun tv yang sesuai dengan market. Untuk stasiun yang ber-rating tinggi, maka mematok biaya iklan tv cukup besar, sekitar 10 juta hingga 15 juta rupiah per 15 hingga 30 detik penayangan. Beda lagi tarif untuk tv lokal, biaya iklan tv hanya berkisar 50 ribu hingga 300 ribu rupiah per spot atau sekali tayang dengan durasi sekitar 30 detik.2. Rating Program Acara
Semakin tinggi sebuah rating acara, maka semakin mahal biaya yang dibandrol untuk iklan tv, contohnya acara Termehek-mehek di Trans TV mematok harga iklan Rp 5,5 juta per slot durasi 30 detik

3. Jenis Penyiaran Acara
Untuk acara yang disiarkan secara tunda atau langsung juga terdapat perbedaan dalam biaya iklan tv yang dipasang. Untuk siaran langsung, harga yang dipatok lebih mahal dibandingkan siaran tunda
.
4. Jam Penayangan
Pada trafik penonton yang ramai akan dipasang biaya iklan tv yang lebih mahal dibandingkan jam tayang yang diperkirakan tidak ramai penonton. Seputar Indonesia Pagi RCTI mematok Rp 8 juta, untuk Petang Rp 16 juta, sementara malam hanya Rp 5 juta.

5. Peletakan Iklan
Letak antara iklan dan program acara juga mempengaruhi harga. Iklan yang diputar setelah program acara berlangsung akan dianggap sebagai posisi pasang iklan yang paling strategis sehingga dipasang harga lebih mahal dibandingkan iklan yang dipasang di antara iklan lain. Hal ini berkaitan dengan penonton yang suka mengganti chanel siaran ketika iklan berlangsung.

Apabila dikalkulasikan, maka rata-rata tarif iklan tv terbagi dalam dua jenis, tarif murah berkisar 50 ribu hingga 350 ribu rupiah per spot (durasi 15-30 detik) dan tarif mahal berkisar 6 juta hingga 16 juta rupiah per spot (durasi 15-30 detik).
BERIKLAN DI RADIO

Untuk iklan jenis radio spot biasa dengan durasi sampai dengan 60 detik, biaya iklan radio mencapai Rp 150.000,00/spot. Biaya iklan ini berlaku untuk waktu prime time yang berlangsung antara jam 5 sampai 10 pagi serta jam 1 sampai 7 sore. Untuk waktu regular time yang berlaku antara jam 10 sampai jam 1 siang serta jam 7 sore hingga 1 pagi dikenakan biaya Rp 120.000,00.

Berbeda dengan jenis iklan radio spot incidental special feature, untuk prime time dikenakan biaya sebesar Rp 165.00,00 sementara untuk regular time berbiaya sebesar Rp 150.000,00. sedikit lebih mahal daripada iklan radio spot biasa.

Berbeda jika Anda ingin pasang iklan jenis radio lips advertisement atau iklan baca yang dilakukan oleh penyiar, Anda bisa mendapatkan harga yang lebih murah yaitu Rp 85.000,00 untuk untuk waktu prime time serta Rp 65.000,00 untuk regular time.

Jenis iklan radio lain yang bisa Anda manfaatkan untuk promosi adalah sponsor program. Pasang iklan jenis ini tentu saja lebih efektif untuk promosi karena Anda bisa mendapat jatah waktu satu jam atau bahkan lebih. Jenis iklan ini biasanya berhubungan dengan penelpon, dimana penelpon diharuskan menyebutkan kata-kata yang ada kata yang berhubungan dengan promosi Anda. Karena efektif, biaya iklan jenis ini tentu saja lebih mahal yaitu Rp 4.000.000,00 / 60 detik untuk jangka waktu prime time serta harga Rp 3.500.000,00 / 60 menit untuk regular time.

 

BERIKLAN DI KORAN

 

 

No.

 

Nama Koran

Jumlah Baris Minimal

Jumlah Karakter Per Baris

Jumlah Total Karakter Minimal Per Iklan

Harga Iklan

 

Keterangan

Baris

Kolom

Display

(Harga Per Baris)

(Harga Per mmk)

(Harga Per mmk)

1.

Berita Kota

4

30

120

Rp. 14.000,-

Rp. 22.000,-

Rp. 25.000,-

Paket 1 Bln Rp.720 rb

2.

Bisnis Indonesia

3

42

126

Rp. 33.000,-

Rp. 33.000,-

Rp. 36.000,-

3.

Indo Pos

3

45

135

Rp. 17.000,-

Rp. 23.000,-

Rp. 26.000,-

4.

a. Kompasb. Khusus

   Lowongan

3

3

30

30

90

90

Rp. 55.000,-

Rp. 60.000,-

Rp. 56.000,-

Rp. 67.500,-

Rp. 56.000,-

Rp. 67.500,-

5.

Koran Tempo

3

42

126

Rp. 27.000,-

Rp. 30.000,-

Rp. 34.000,-

6.

Lampu Merah

3

45

135

Rp. 14.000,-

Rp. 20.000,-

Rp. 18.000,-

7.

Media Indonesia

3

42

126

Rp. 28.000,-

Rp. 27.000,-

Rp. 48.000,-

8.

Pos Kota

4

30

120

Rp. 10.000,-

Rp. 18.000,-

Rp. 22.000,-

9.

Rakyat Merdeka

3

45

135

Rp. 16.000,-

Rp. 22.000,-

Rp. 29.000,-

10.

Republika

3

30

90

Rp. 20.000,-

Rp. 19.000,-

Rp. 42.000,-

Paket 3xRp.120 rb,6x Rp.210 rb, 12xRp.340 rb, 25xRp.560 rb

11.

Suara Pembaruan

3

29

87

Rp. 27.000,-

Rp. 36.000,-

Rp. 36.000,-

12.

Warta Kota

3

42

126

Rp. 17.000,-

Rp. 20.000,-

Rp. 24.000,-

13.

Jakarta Pos

3

36

108

Rp. 35.000,-

Rp. 30.000,-

Rp. 34.000,-

14.

Pikiran Rakyat

3

25

75

Rp. 36.000,-

Rp. 19.000,-

Rp. 37.000,-

15.

Jawa Pos

3

25

75

Rp. 135.000,-

16.

Tabloid Otomotif

3

30

90

Rp. 30.000,-

17.

Tabloid Nova

3

30

90

Rp. 35.000,-

18.

Tabloid Motor Plus

3

30

90

Rp. 30.000,-

Catatan :

  1. Harga iklan di atas belum termasuk PPN 10%.
  2. Batas pengiriman materi iklan & pembayaran : Senin-Jum’at jam 15.00 WIB, Sabtu jam 10.00 WIB.
  3. Untuk surat kabar Daerah (Contoh: Pikiran Rakyat Bandung) harap dikonfirmasi terlebih dahulu via telp/SMS.
  4. Rumus cara perhitungan iklan baris adalah : Jumlah Baris x Harga Iklan Per Baris + PPN 10% x Durasi Penerbitan Iklan.

Contoh :  Perhitungan untuk POS KOTA dengan jumlah 4 baris (120 karakter)

4 x Rp.10.000,- + 10% (PPN) x 1 = Rp.44.000,-

  1. Rumus cara perhitungan iklan kolom adalah :

Jumlah Kolom x Harga Iklan x Tinggi Iklan (jika dalam cm, maka dikalikan 10 untuk jadi mm) + PPN 10% x Durasi Penerbitan Iklan

Contoh :  Perhitungan untuk POS KOTA ukuran 1 Kolom x Tinggi iklan 5 cm (5 cmx10 =50 mm)

                        1 Kolom x 50 mm x Rp. 18.000,- + 10% (PPN) x 1 = Rp. 990.000,-

data demografis kependudukan di ajwa timur

March 18th, 2013

Penduduk JawaTimur    : 37.476.757 jiwa

Berdasarkan jenis kelamin :

  1. Laki Laki                       : 18.503.516
  2. Perempuan                 : 18.973.241

 

Berdasarkan pendidikan :

  1. SD            : 11.508.824
  2. SMP        :  6.958.691
  3. SMA       :  6.864.100
  4. PT            : 2.156.791

Berdasarkan Umur          :

  1. Balita                     : 1.989.873
  2. Anak                      : 6.192.787
  3. Remaja                 : 5.662.131
  4. Dewasa Awal     : 6.496.139
  5.  Dewasa               : 10.954.511
  6. Manula                 : 6.181.316

 

Jumlah Penduduk kota Malang : 820.073 jiwa

Berdasarkan jenis kelamin :

  1. Laki laki           : 404.329
  2. Perempuan     : 415.744

Berdasarkan tingkat pendidikan :

  1. SD                    : 76.841
  2. SMP                : 35.124
  3. SMA                : 34.869
  4. PT                     : 88.128

Pengeluaran (per bulan):

  1. <500.000                                      : 1,0 %
  2. 2 500.000 – 999.999                  : 5.5 %
  3. 1.000.000 – 1.499.999              : 16.1 %
  4. 1.500.000 -1.999.999                : 20 %
  5. 2.000.000 – 2.499.999              : 15.7 %
  6. > 2.500.000                                  : 42 %

Berdasarkan tingkat Umur :

  1. Balita                           :   58.530
  2. Anak Anak                  : 117.638
  3. Remaja                        :   81.483
  4. Dewasa Awal             :   78.195
  5. Dewasa                       : 372.749
  6. Manula                       : 111.478

kritik terhadap iklan “susu segar sari”

March 4th, 2013

saat ini banyak sekali iklan yang dapat kita tonton di televisi, dan salah satunya adalah iklan yang sering tampil di televisi yaitu iklan “susu segar sari”. susu segar sari merupakan produk yang ditawarkan untuk anak – anak bahkan remaja, namun sayangnya iklan yang ditampilkan beberapa waktu lalu sangat jauh untuk segmentasi anak kecil menurut saya.

iklan susu segar sari dengan produk saschet baru berasa strawbery ini pada awalnya menunjukan sachetan dan banyaknya anak kecil yang menunjukan bahwa target pasar ini untuk anak – anak agar dibeli oleh orang tua mereka, namun sayangnya tontonan tersebut tidak sesuai dengan hadirnya salah satu bintang iklan dalam video iklan tersebut yaitu “julia perez”

bukan suatu masalah untuk bintang iklan tersebut memasarkan produk anak – anak, atau membawa unsur komedi di dalam iklan tersebut. sayangnya, bintang iklan tersebut yang menggunakan baju warna merahmuda dan ketat ini sudah tidak sangat pantas untuk pandangan anak keil terhadap iklan tersebut, berikutnya ditambah lagi dengan lagu yang dinyanyikan bintan iklan tersebut dengan mengeluarkan suara mengoda yang dapat merubah mindset anak kecil terhadap iklan tersebut.

kita harus melihat kembali segmentasi, target, dan positioning sebuah produk dalam komunikasi pemasaran yang diambil jangan sampai melewati aturan atau segmen yang berlaku, akan merubah mindset untuk orang yang menontonya. maka disini tidak hanya orang tua yang harus sadar untuk berbagai iklan yang ada, namun juga perusahaan yang mengeluarkan iklan tersebut sebagai salah satu media komunikasi pemasaran yang ada.

 

komunikasi pemasaran yang efektif

March 4th, 2013

komunikasi pemasaran yang efektif penting untuk menciptakan penyampaian informasi dengan cepat, lugas , dan tegas. berikut adalah cara menentukan komunikasi pemasaran yang efektif:

1.Mengidentifikasi audiens yang dituju
2.Menentukan tujuan komunikasi tersebut
3.Merancang pesan
4.Memilih saluran komunikasi
5.Menentukan total anggaran promosi
6.Membuat keputusan atas bauran promosi (Marketing Mix)
7.Mengukur hasil promosi tersebut
8.Mengelola dan mengkoordinasikan proses komunikasi pemasaran terintegrasi

Keterangan:

1. Mengidentifikasi audiens yang dituju
Audiens dapat diartikan sebagai calon pembeli produk perusahaan, pemakai saat ini, penentu keputusan, atau pihak yang mempengaruhi.
Audiens itu dapat terdiri dari individu, kelompok, masyarakat tertentu atau masyarakat umum.

2. Menentukan tujuan komunikasi tersebut
Setelah pasar sasaran dan karakteristiknya di identifikasi, komunikator pemasaran harus memutuskan tanggapan yang diharapkan dari audiens. Tanggapan terakhir yang diharapkan dari audiens adalah pembelian, kepuasan yang tinggi dan cerita dari mulut ke mulut yang baik.

3. Merancang pesan
Setelah menentukan tanggapan yang diinginkan dari audiens komunikator selanjutnya mengembangkan pesan yang efektif. Idealnya, pesan itu harus menarik perhatian (attention),mempertahankan ketertarikan (interest), membangkitkan keingininan (desire), dan menggerakkan tindakan (action).

Memformulasikan pesan memerlukan pemecahan atas 4 masalah.

– Isi pesan -> apa yang akan dikatakan
– Struktur pesan -> bagaimana mengatakannya secara logis.
– Format pesan -> Bagaimana mengatakannya secara simbolis.
– Sumber pesan -> Siapa seharusnya mengatakannya.

4. Memilih saluran komunikasi
Saluran komunikasi terdiri dari 2 jenis yaitu:
– Saluran komunikasi personal.
Mencakup dua orang atau lebih yang berkomunikasi secara langsung satu sama lain

– Saluran komunikasi nonpersonal
Menyampaikan pesan tanpa melakukan kontak atau interaksi pribadi, tetapi dilakukan melalui media, atmosfer dan acara.

5. Menentukan total anggaran promosi
Bagaimana perusahaan menentukan anggaran promosinya?
Ada 4 metode utama yang digunakan dalam menyusun anggaran promosi.

1.Metode sesuai kemampuan
2.Metode presentasi penjualan
3.Metode keseimbangan persaingan
4.Metode Tujuan dan tugas

6. Membuat keputusan atas bauran promosi (Marketing Mix)
Perusahaan harus mendistribusikan total anggaran promosi untuk lima alat promosi yaitu:
Iklan, merupakan model komunikasi yang dapat menjangkau public secara luas. Iklan dapat digunakan untuk membangun image jangka panjang dan juga mempercepat quick sales. Selain itu iklan juga bersifat baku dan dapat ditayangkan berulang-ulang serta dapat memperoleh efek dramatisasi dari iklan yang telah ditayangkan tersebut. Namun iklan hanya dapat membawa pesan secara monolog (komunikasi satu arah).
Promosi penjualan, alat promosi ini mempunyai 3 manfaat yaitu pertama, Komunikasi, dimana merupakan sarana untuk menarik perhatian dan memeberikan informasi yang akhirnya mengarahkan konsumen kepada produk. Hal tersebut memberikan kontribusi nilai tambah kepada konsumen dan juga dapat secara aktif mengajak konsumen membeli produk yang ditawarkan.

Public Relation dan publisitas, alat promosi ini dapat menarik perhatian khalayak ramai jika memiliki kredibilitas yang tinggi dan tidak memasukkan unsure penjualan, jadi hanya sebagai pemberi informasi. Public Relation dan publisitas juga dapat memperoleh efek dramatisasi seperti yang terjadi pada iklan.

Personal Selling, merupakan alat promosi yang paling efektif pada siklus terakhir dari proses pembelian. Hal ini terjadi karena personal selling dapat membuat hubungan interaktif secara dekat sehingga dapat mengnenal konsumen secara lebih dalam dan lebih baik sehingga dapat memberikan respon yang tepat.

Direct Marketing, alat promosi ini hanya dapat menjangkau konsumen yang spesifik. Namun pesan yang disampaikan melalui direct marketing dapat disesuaikan dengan karakter dan respon konsumen yang dituju serta dapat diperbaharui secara cepat pula.
Perusahaan selalu mencari cara untuk meperoleh efisiensi dengan mensubtitusi satu alat promosi dengan yang lainnya.

7. Mengukur hasil promosi tersebut
Setelah menerapkan rencana promosi, komunikator harus mengukur dampaknya pada audiens sasaran. Hal ini mencakup menanyakan audiens sasaran apakah mereka mengenali atau mengingat pesan yang telah disampaikan, beberapa kali mereka melihatnya, hal-hal apa saja yang mereka ingat, bagaimana perasaan mereka tentang pesan tersebut, dan sikap mereka sebelumnya dan sekarang tentang produk dan perusahaan itu.

8. Mengelola dan mengkoordinasikan proses komunikasi pemasaran terintegrasi.
Banyak perusahaan masih sangat mengandalkan satu atau dua alat komunikasi untuk mencapai tujuan komunikasinya. Praktik ini terus berlangsung, meski sekarang ini terjadi disintegrasi dari pasar massal ke banayak pasar kecil, masing-masing memerlukan pendekatan komunikasi tersendiri; berkembangannya berbagai jenis media baru dan semakin canggihnya konsumen. Alat komunikasi, pesan, dan audiens yang sangat lebih modern.

Bentuk – bentuk Promosi

February 18th, 2013

Promosi adalah kegiatan perusahaan mengkomunikasikan produknya. Komunikasi ini bisa dilakukan dengan cara advertising, direct marketing, sales promotion, dan public relation. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat komunikasi terhadap publik adalah pesan yang jelas, konsisten, dan berpengaruuh kuat terhadap organiasi dan produk serta merknya.

Advertising

Metode ini dapat menjangkau banyak orang dan bisa diulang beberapa kali. Advertising cocok digunakan untuk pasar umum. Sifat komunikasinya adalah satu arah. Dalam membuat iklan pertimbangkan tujuan promosi, biaya iklan, media yang dipilih, timing, dan evaluasi.
Tujuan promosi adalah memberikan informasi. Informasi yang membujuk, mengingatkan, dan memberi tahu. Tujuan iklan ini disesuaikan dengan strategi perusahaan. Iklan yang baik adalah iklan yang memiliki attention, interest, desire, dan action.

Ada beberapa cara menentukan biaya iklan yang akan dikeluarkan. Biaya iklan diukur berdasarkan kemampuan perusahaan untuk membiayai iklan tersebut. Pada dasarnya pengukuran ini dilakukan oleh baik perusahaan besar maupun perusahaan kecil. Kedua, biaya iklan dihitung dari persente penjualan produk perusahaan. Sejak awal perusahaan sudah menentukan bahwa sekian persen dari penjualan digunakan untuk membiayai iklan. Ketiga, perusahaan membandingkan biaya iklannya dengan biaya iklan perusahaan pesaing. Keempat, perusahaan menyesuaikan dengan tujuan dan tugas yang harus dilakukan.

Jumlah konsumen yang hendak dijangkau, berapa kali iklan akan tayang, dan bagaimana dampaknya terhadap konsumen adalah beberapa pertimbangan yang harus dipikirkan sebelum mengambil keputusan tentang media apa yang akan dipilih. Tiap media memiliki kemampuan yang berbeda dalam mempengaruhi dan menjangkau konsumen baik dari segi jumlah maupun karakteristik. Media-media tersebut yaitu koran, tv, surat langsung, radio, iklan di luar ruangan seperti spanduk/baligho, majalah, dan internet. Langkah selanjutnya adalah menentukan tempat media secara spesifik. Contoh sederhana jika perusahaan menjual berlian, perusahaan tersebut tentu akan menggunakan majalah untuk kalangan atas, yang tampak dari harganya, bukannya majalah remaja.

Public Relation

Public Relation digunakan untuk membangun hubungan baik dengan publik untuk mendapatkan publisitas yang menguntungkan, citra yang baik, dan meluruskan rumor yang kurang baik.

Public Relation raches people who avoid sales people and advertising, can dramatize a company or product, tends to be used ads an afterthought, planned use can be effective and economical. Metode ini tidak hanya iklan tapi juga menjadi memberitahukan visi misi perusahaan. Medianya adalah humas, sponsorship, dan pidato.

Personality symbol adalah imej orang yang digunakan untuk menggambarkan imej perusahaan. Namun, imej orang tersebut tidak menggantikan imej perusahaan maupun produknya. Orang yang imejnya digunakan untuk promosi macam ini disebut endorser.

Personal Selling

Personal Selling adalah presentasi personal oleh tenaga penjualan dan membangun hubungan dengan pelanggan. Cara ini melihatkan interaksi personal antar dua orang atau lebih, membangun hubungan, dan merupakan alat promosi yang mahal. Proses penjualan yang professional adalah sebagai berikut : prospecting, preapproach, approach, presentatioan, dealing with objections, closing the sale, follow up. Barang-barang yang cocok dijual oleh tenaga penjual adalah barang-barang yang harganya mahal.

Orang-orang yang mengerjakannya disebut dengan macam-macam nama : sales person, sales representatif, account executive, sales engineers, dan agen. Peran sales person yaitu menyelidiki masalah yang dimiliki konsumen, menentukan dan merekomendasikan produk yang tepat, menegosiasi ketentuan penjualan, dan membangun hubungan personal jangka panjang. Ada dua jenis tipe penjual order to take, orang yang menunggu pelanggan di toko

Sumber: http://id.shvoong.com/business-management/marketing/1912045-bentuk-bentuk-promosi/#ixzz2LBBdTxeS

Keinginan untuk belajar Marketing Communication

February 18th, 2013

Marketing communications (marcom) adalah proses menjalin hubungan yang saling menguntungkan antara perusahaan- karyawan -pelanggan dan merupakan upaya perusahaan memadukan dan mengkoordinasikan semua saluran komunikasi untuk menyampaikan pesannya secara jelas, konsisten dan berpengaruh kuat tentang organisasi dan produk-produknya.

ini merupakan salah satu pengertian dari Marcom yang saya cari dari sebuah situs, sebenarnya mengapa saya ingin mempelajari marcom?

simple saja, saya melihat perkembangan dunia yang sangat pesat dan juga segala yang instant sudah dapat dijangkau. saya melihat berbagai cara penyampaian yang menarik dari berbagai media untuk sebuah produk atau brand dan hebatnya, hal tersebut simple, kreatif dan membekas.

ini yang saya ingin pelajari lebih jauh, terkadang ke-instanan, membuat kita lupa akan dasar dan proses, dengan belajar lebih jauh akan “marcom” saya lebih tau dasar dan menjalaninya dengan praktik melalui proses sehingga banyak nilai tambah sebelum saya terjun ke masyarakat nantinya 🙂

Tugas Akhir perilaku konsumen

January 13th, 2013

Nama : Faris Huda Oktavian

Nim  : 105020207111024

 

konsumen merupakan salah satu hal yang penting bagi suatu pemasar, karena mereka memiliki persepsi dalam menyeleksi atau menentukan suatu produk untuk digunakan, atau alternative produk. Riset konsumen eksperimental mengungkapkan bahwa menyediakan pilihan bagi konsumen ketika sesungguhnya tidak ada satu pun pilihan, dapat dijadikan strategi bisnis yang tepat, strategi tersebut dapat meningkatkan penjualan dalam jumlah yang sangat besar.

TINGKAT PENGAMBILAN KEPUTUSAN KONSUMEN
Terdapat tiga tingkat pengambilan keputusan konsumen spesifik, yaitu:

  1. Pemecahan masalah yang luas, konsumen membutuhkan berbagai informasi untuk menetapkan serangkaian kriteria yang berguna menilai merek-merek tertentu dan banyak informasi yang sesuai mengenai setiap merek yang akan dipertimbangkan.
  2. Pemecahan masalah yang terbatas, konsumen tetal menetapkan criteria dasar untuk menilai kategori produk dan berbagai merek dalam kategori tersebut.
  3. Perilaku sebagai respon yang rutin, konsumen telah memepunyai beberapa pengalaman mengenai kategori produk dan serangkaian kriteria yang ditetapkan dengan baik untuk menilai berbagai merek yang sedang mereka pertimbangkan.

EMPAT PANDANGAN MENGENAI PENGAMBILAN KEPUTUSAN KONSUMEN
Teori-teori pengambilan keputusan konsumen bervariasi, tergantung kepada asumsi peneliti mengenai sifat-sifat manusia. Terdapat empat pandangan atas pengambilan keputusan konsumen:

  1. Pandangan ekonomi, konsumen sering dianggap sebagai pengambil keputusan yang rasional.
  2. Pandangan pasif, menggambarkan konsumen sebagai orang yang pada dasarnya tunduk pada kepentingan melayani diri dan usaha promosi para pemasar. Para konsumen dianggap sebagai pembeli yang menurutkan kata hati dan irasional.
  3. Pandangan kognitif, menggambarkan konsumen berada diantara pandangan ekonomi dan pandangan pasif yang ekstrim, yang tidak (atau tidak dapat) memperoleh pengetahuan yang mutlak mengenai semua alternatif produk yang tersedia dan karena itu tidak dapat mengambil keputusan yang sempurna, namun secara aktif mencari informasi dan berusaha mengambil keputusan yang memuaskan.
  4. Pandangan emosional, mengambil keputusan yang emosional atau impulsive (menurutkan desakan hati)

PENGAMBILAN KEPUTUSAN KONSUMEN
Model dalam pengambilan keputusan mempunyai tiga komponen utama yaitu:

  1. Masukan (input), komponen ini mempunyai berbagai pengaruh luar yang berlaku sebagai sumber informasi mengenai produk tertentu dan mempengaruhi nilai-nilai, sikap dan perilaku konsumen yang berkaitan dengan produk. Yang utama dalam faktor masukan ini adalah berbagai kegiatan bauran pemasaran dan pengaruh sosiobudaya di luar pemasaran.
  2. Proses, komponen ini berhubungan dengan cara konsumen mengambil keputusan. Tindakan pengambilan keputusan konsumen terdiri dari tiga tahap, yaitu: (a) Pengenalan kebutuhan, (b) Penelitian sebelum pembelian, dan (c) Penilaian berbagai alternatif. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan pencarian informasi sebelum pembelian, yaitu: (a) Faktor-faktor produk (lamanya waktu antar pembelian, perubahan model produk, perubahan harga, jumlah pembelian, harga yang tinggi, merk alternatif yang banyak, berbagai macam keistimewaan), (b) Faktor situasi (pengalaman, dapat diterima secara sosial, pertimbangan yang berhubungan dengan nilai), dan (c) Faktor produk (karakteristik demografis konsumen, kepribadian). Berbagai isu dalam mengevaluasi alternative, yaitu: (a) Rangkaian merek yang diminati, mengacu pada merk-merk khusus yang dipertimbangkan konsumen dalam melakukan pembelian dalam kategori produk tertentu, (b) Kriteria yang Dipakai untuk Mengevaluasi Merek, merupakan rangkaian merk yang mereka minati biasanya dinyatakan dari sudut sifat-sifat produk yang penting, (c) Consumer Desicion Rules, merupakan prosedur yang digunakan oleh konsumen untuk memudahkan pemilihan merk, (d) Gaya Hidup sebagai Suatu Strategi Pengambilan Keputusan Konsumen, berpengaruh pada berbagai perilaku khusus konsumen sehari-hari. (e) Incomplete Information and Noncomparable Alternatives, dalam berbagai situasi pilihan para konsumen menghadapi informasi yang tidak lengkap sebagaid asar keputusan dan harus menggunakan berbagai strategi alternative untuk mengatasi unsur-unsur yang hilang, (e) Series of Decisions (Serangkaian Keputusan), dalam suatu pembelian dapat mencakup sejumlah keputusan. (f) Aturan Pengambilan Keputusan dan Strategi Pemasaran, pengertian mengenai kaidah keputusan mana yang akan digunakan konsumen dalam memilih produk atau jasa tertentu sangat berguna bagi pemasar yang berkepentingan untuk merumuskan program promosi, (g) Visi Konsumsi, sebagai gambaran pengambilan keputusan yang tidak ortodoks, tetapi mungkin sekali akurat dalam situasi kurangnya pengalaman konsumen dan tidak terstrukturnya maslah dengan baik, maupun dalam situasi yang diliputi emosi yang dalam.
  3. Keluaran (output), komponen ini menyangkut dua kegiatan pasca pembelian yang berhubungan erat: perilaku pembelian dan penilaian pasca pembelian. Tujuan dari dua kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kepuasan konsumen terhadap pembeliannya.

PERILAKU KONSUMEN UNTUK MEMBERI HADIAH
Perilaku memberi hadiah didefinisikan sebagai proses pertukaran hadiah yang terjadi antara pemberi dan penerima. Proses pertukaran hadiah merupakan bagian perilaku konsumen yang penting. Terdapat lima jenis pemberian hadiah dan penerimaan hadiah, yaitu:

  1. Pemberian hadiah antar kelompok (sebuah kelompok memberikan hadiah kepada kelompok lain),
  2. Pemberian hadiah antar kategori (seorang individu memberikan hadiah kepada sebuah kelompok atau sebuah kelompok memberikan hadiah kepada seorang individu),
  3. Pemberian hadiah di dalam kelompok (sebuah kelompok memberikan hadiah kepada dirinya sendiri atau kepad para anggotanya),
  4. Pemberian hadiah antar perorangan (seorang individu memberikan hadiah kepada individu lain), dan
  5. Pemberian hadian pada diri sendiri (hadiah untuk diri sendiri).

HAL-HAL di LUAR KEPUTUSAN: MENGKONSUMSI dan MEMILIKI
Perilaku konsumen tidak hanya mengambil keputusan pembelian atau perbuatan membeli, ia juga mencakup berbagai pengalaman yang dihubungkan dengan pemakaian atau konsumsi berbagai produk dan jasa. Pengalaman memakai produk dan jasa maupun perasaan senang yang berasaldari memiliki, mengumpulkan atau mengkonsumsi barang-barang dan berbagai pengalaman menyumbang kepada kepuasan konsumen dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Pemasaran berdasarkan hubungan menjadi demikian penting karena konsumen sekarang ini kurang setia dibandingkan masa lalu, hal ini disebabkan enam kekuatan utama: berlimpahnya pilihan, tersedianya informasi, perasaan berhak, pengkomoditian, ketidakkokohan (masalah keuangan konsumen menurunkan kesetiaan) dan kekurangan waktu (tidak cukup waktu untuk setia).

Pemasaran berdasarkan hubungan mempengaruhi keputusan konsumen dan kepuasan konsumsi mereka. Pemasaran berdasarkan hubungan adalah hal-hal yang berhubungan dengan membangun kepercayaan dan memegang janji yang dibuat oleh para konsumen. Dalam hal ini digunakan untuk mengembangkan ikatan jangka panjang dengan para pelanggan dengan membuat mereka merasa istimewa dan memberikan berbagai pelayanan khusus kepada mereka.

Bilson Simamora (2003: 37) mengungkapkan bahwa merek memiliki image (brand image) dan untuk memudahkan deskripsi image, konsumen melakukan asosiasi merek. Asosiasi merek adalah sesuatu yang berkaitan dengan ingatan mengenai sebuah merek. Asosiasi ini tidak hanya ada tetapi mempunyai sebuah kekuatan (A.B Susanto & Himawan Wijanarko, 2004: 132). Merek yang kuat dapat menarik konsumen untuk menggunakannya sebagai faktor penentu dalam pemilihan keputusan pembelian, sedangkan syarat yang kuat adalah citra merek (brand image). Citra merek merupakan interprestasi akumulasi berbagai informasi yang diterima konsumen.Yang menginterpretasikan adalah konsumen dan yang diinterpretasikan adalah informasi. Hasil interpresentasi bergantung pada dua hal.

Pertama, bagaimana konsumen melakukan interpresentasi dan kedua, informasi apa yang diinterpresentasikan. (Bilson Simamora, 2003:92).

Menurut David A.Aker dalam Freddy Rangkuti (2002 : 45) citra merek terdiri dari dua faktor utama yaitu :

a. Faktor fisik, merupakan karakteristik fisik dari merek tersebut, seperti desain, kemasan, logo, nama merek, fungsi, dan kegunaan produk dari merek itu.

b. Faktor psikologis, dibentuk oleh emosi, kepercayaan, nilai dan kepribadian yang dianggap oleh konsumen dapat menggambarkan produk dari merek tersebut. Citra merek sangat erat kaitannya dengan apa yang orang pikirkan, rasakan terhadap suatu merek tertentu, sehingga dalam citra merek faktor psikologis lebih banyak berperan dibandingkan faktor fisik merek tertentu.

Menurut Fandy Tjiptono (2002:22) perilaku konsumen merupakan tindakan yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh, menentukan produk dan jasa, termasuk proses pengambilan keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan – tindakan tersebut. Dari pengertian ini dapat diketahui bahwa pemahama terhadap perilaku konsumen bukanlah pekerjaan yang mudah, tetapi cukup sulit dan kompleks, khususnya disebabkan oleh banyaknya variabel yang mempengaruhi dan variabel – variabel tersebut cenderung saling berinteraksi. Tahap – tahap proses keputusan pembelian menurut Philip Kotler (2008:179) adalah sebagai berikut :

1. Pengenalan masalah

Proses pembelian dimulai dengan pengenalan masalah atau kebutuhan. Kebutuhan itu dapat digerakkan oleh rangsangan dari dalam atau dari luar pembeli.

2. Pencarian informasi

Konsumen dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber, meliputi :

a. Sumber pribadi : keluarga, teman, tetangga, kenalan.

b. Sumber komersil : iklan, tenaga penjual, penyalur, kemasan, pameran.

c. Sumber publik : media massa, organisasi konsumen.

d. Sumber eksperensal : pernah menangani, menguji dan menggunaksn produk tersebut.

3. Evaluasi alternatif

Dalam tahap ini tidak ada suatu proses evaluasi yang mudah dan tunggal yang dapat dipergunakan untuk semua konsumen atau bahkan oleh seorag konsumen dalam semua situasi pembeliannya.

4. Keputussan pembelian

Tahap ini diawali dengan tahap penilaian berbagai alternatif yang dapat dilihat dari atribut – atribut yang melekat pada produk itu. Dengan indikasi itu konsumen membentuk pilihan. Namun ada dua faktor yang mempengaruhi pada saat memilih, yaitu sikap pada orang lain dan kejelekan suatu produk.

5. Perilaku setelah pembelian

Setelah membeli suatu produk, konsumen akan mengalami beberapa tingkat kepuasan atau ketidakpuasan. (Jurnal: Dessy Amelia Fristiana)

Beragam faktor dapat mempengaruhi konsumen dalam mempercayakan tempat berbelanja. Citra merek yang baik dapat dijadikan kekuatan oleh perusahaan ritel untuk menarik konsumen. Harga produk yang murah dan terjangkau dengan daya beli konsumen pun akan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian, untuk meningkatkan keputusan pembelian sebaiknya Ramai Swalayan Peterongan menjaga citra mereknya khususnya dalam kenyamanan dan pelayanan, dan mempertahankan harga yang murah.

Memahami persepsi konsumen merupakan hal yang penting bagi para pemasar dan produsen. Produsen dan pemasar selalu berharap bahwa para konsumen akan menyukai iklan produk yang mereka buat, kemudian menyukai produknya, dan membelinya. Produsen, pemasar, dan agen pembuat iklan tentunya tidak mau dana yang mereka keluarkan untuk promosi iklan terbuang percuma karena konsumen tidak memperhatikan, memahami, atau bahkan mengingat produk dan merek produk yang diiklankannya. Oleh karena itu, penting bagi pihak-pihak tersebut untuk memahami bagaimana konsumen mengolah informasi, supaya mereka dapat merancang proses komunikasi yang efektif bagi konsumen.

Engel, et.al. dalam Sumarwan (2002) mengutip pendapat William McGuire yang menyatakan bahwa ada lima tahap pengolahan informasi (the information processing model), yaitu sebagai berikut :

1. pemaparan (exposure) : pemaparan stimulus, yang menyebabkan konsumen menyadari stimulus tersebut melalui pancainderanya.

2. perhatian (attention) : kapasitas pengolahan yang dialokasikan konsumen terhadap stimulus yang masuk.

3. pemahaman (comprehension) : interpretasi terhadap makna stimulus.

4. penerimaan (acceptance) : dampak persuasif stimulus kepada konsumen.

5. retensi (retention) : pengalihan makna stimulus dan persuasi ke ingatan jangka panjang (long-term memory).

Tahap pemaparan, perhatian dan pemahaman oleh Mowen dalam Sumarwan (2002) disebut sebagai persepsi, dan kemudian didefinisikan sebagai perception is the process through which individuals are exposed to information, attend to that information, and comprehend it.

Menurut Sciffman dan Kanuk dalam Sumarwan (2002), perception is defined as the process by which an individual selects, organizes, and interprets stimuli into a meaningful and coherent picture of the world. Persepsi dapat dideskripsikan dengan bagaimana kita melihat dunia sekitar kita. Dua orang yang menghadapi objek atau stimuli yang sama, dalam kondisi yang sama pula, akan mengenali, memilih, menyusun, dan menginterpretasikan stimuli tersebut dengan cara berbeda sesuai dengan kebutuhan, nilai dan ekspektasi masing-masing.

Identitas merek adalah apa yang disodorkan oleh pemasar, sedangkan citra adalah apa yang dipersepsikan oleh konsumen. Identitas merupakan pendahuluan dari citra. Identitas merek bersama dengan sumber-sumber informasi yang lain dikirimkan kepada konsumen melalui media komunikasi. Informasi ini berfungsi sebagai stimulus yang diserap oleh indera, lalu ditafsirkan oleh konsumen. Proses penafsirannya dilakukan dengan membuat asosiasi berdasarkan pengalaman masa lalu dan kemudian mengartikannya. Proses ini disebut sebagai persepsi. Berdasarkan persepsi konsumen tersebut, citra merek terbentuk (Susanto dan Wijanarko, 2004).

Asosiasi merek adalah segala kesan yang muncul di benak seseorang yang terkait dengan ingatannya mengenai suatu merek. Asosiasi merek umumnya menjadi pertimbangan atau pijakan konsumen dalam keputusan pembeliannya. Berbagai asosiasi merek yang saling berhubungan akan menimbulkan suatu rangkaian yang disebut dengan brand image. Brand image yang ada di benak konsumen dapat terbentuk secara langsung melalui pengalaman konsumen dan kontak konsumen tersebut dengan produk, merek, pasar sasaran atau situasi pemakaian, maupun secara tidak langsung yaitu melalui iklan dan komunikasi gethok tular atau word of mouth. Kesan-kesan yang terkait akan semakin meningkat dengan semakin banyaknya pengalaman konsumen dalam mengkonsumsi suatu merek atau dengan semakin seringnya penampakan merek tersebut dalam strategi komunikasinya. Brand image atau brand association merupakan deskripsi tentang asosiasi dan keyakinan konsumen terhadap merek tertentu (Tjiptono, 2005).

Jefkins dalam Kembaren (2007) menyimpulkan bahwa secara umum citra diartikan sebagai kesan seseorang atau individu tentang sesuatu yang muncul sebagai hasil dari pengetahuan dan pengalamannya. Jefkins juga menyatakan bahwa citra adalah kesan yang diperoleh berdasarkan pengetahuan dan pengertian seseorang tentang fakta atau kenyataan. Menurut Jefkins ada beberapa jenis citra yaitu:

1. The mirror image (citra bayangan), yaitu bagaimana dugaan (citra) manajemen terhadap publik eksternal dalam melihat perusahaan.

2. The current image (citra yang berlaku), yaitu citra yang terdapat pada publik eksternal berdasarkan pengalaman atau menyangkut miskinnya informasi dan pemahaman publik eksternal. Citra ini bisa berbeda atau bahkan bertentangan dengan mirror image.

3. The wish image (citra yang diharapkan), yaitu citra yang diinginkan oleh pihak manajemen, yang juga bisa saja tidak sama dengan citra yang berlaku. Citra ini diterapkan untuk sesuatu yang baru sebelum publik eksternal memperoleh informasi secara lengkap. Biasanya citra yang diharapkan lebih baik atau lebih menyenangkan daripada citra yang ada. Namun secara umum, wish image memang selalu berkonotasi lebih baik.

4. The multiple image (citra yang majemuk),

yaitu sejumlah individu, unit, kantor cabang atau perwakilan perusahaan lainnya dapat membentuk citra tertentu yang belum tentu sesuai dengan keseragaman citra dari seluruh organisasi atau perusahaan. (jurnal: Mida Kusumah Eriquina)

Semakin banyak asosiasi yang saling berhubungan, semakin kuat brand image yang dimiliki oleh merek tersebut. Menurut Aaker dalam Durianto, dkk (2004) asosiasi-asosiasi yang terkait dengan suatu merek berhubungan dengan hal-hal berikut:

1. Product attributes (atribut produk)

Mengasosiasikan merek suatu produk melalui atribut atau karakteristik yang dimiliki oleh suatu produk. Asosiasi ini efektif untuk dikembangkan karena jika atribut tersebut bermakna, asosiasi dapat langsung menjadi dasar pengambilan keputusan pembelian. Pada produk SimCard yang tergolong atribut produk antara lain meliputi semua bentuk produk, fitur dan fasilitas utama yang disediakan oleh operator, seperti SimCard, sinyal, jaringan, fasilitas SMS, MMS, Internet, dsb.

2. Intangibles attribute (atribut tak berwujud)

Mengasosiasikan merek melalui atribut tak berwujud dari suatu produk. Pada produk SimCard yang tergolong atribut tak berwujud yaitu layanan customer service, pembayaran tagihan, fitur atau fasilitas tambahan seperti call barring, flexi combo, ring back tone, dsb.

3. Customer’s benefit (manfaat bagi pelanggan)

Mengasosiasikan merek melalui manfaat yang diberikan. Manfaat bagi pelanggan terbagi menjadi dua yaitu rational benefit (manfaat rasional) dan psychological benefit (manfaat psikologis). Manfaat rasional berkaitan erat dengan atribut dari produk yang dapat menjadi bagian dari pengambilan keputusan yang rasional. Manfaat psikologis merupakan konsekuensi ekstrem dalam proses pembentukan sikap, berkaitan dengan perasaan yang ditimbulkan ketika membeli atau menggunakan merek tertentu.

4. Relative price (harga relatif)

Evaluasi terhadap suatu merek melalui penentuan posisi merek dalam satu atau dua dari tingkat harga. Pada produk simCard, yang termasuk ke dalam atribut harga relatif adalah harga starterpack, harga vocher isi ulang, tarif percakapan, serta tarif SMS/MMS/Internet.

5. Application (penggunaan)

Mengasosiasikan merek tertentu dengan suatu penggunaan atau situasi tertentu.

6. User/customer (pengguna/pelanggan)

Mengasosiasikan sebuah merek dengan sebuah tipe pelanggan dari produk tertentu.

7. Celebrity/person (orang terkenal)

Mengasosiasikan sebuah merek dengan artis atau orang terkenal dimana artis atau orang terkenal tersebut dianggap dapat mentransfer asosiasi yang kuat ke dalam sebuah merek tertentu.

8. Life style (gaya hidup/kepribadian)

Mengasosiasikan sebuah merek dengan suatu gaya hidup. Asosiasi ini didasarkan pada suatu penemuan bahwa para pelanggan merek tertentu memiliki kepribadian dan karakteristik gaya hidup yang hampir sama.

9. Product class (kelas produk)

Mengasosiasikan sebuah merek menurut kelas produknya.

10. Competitors (para pesaing)

Mengasosiasikan sebuah merek secara sama dengan pesaing atau bahkan lebih unggul dari pesaing.

11. Country/geographic area (Negara/wilayah geografis)

Mengasosiasikan suatu merek dengan sebuah Negara. Sebuah negara dapat menjadi simbol yang kuat asalkan memiliki hubungan yang erat dengan produk, bahan, dan kemampuan.

Pada pasar yang sangat kompetitif, merek mempunyai peranan yang sangat penting sebagai pembeda. Produk yang ada, mudah sekali untuk ditiru. Namun merek, khususnya brand image (citra merek) yang terekam dalam benak konsumen tidak dapat ditiru. Tanpa citra yang kuat dan spesifik, sangatlah sulit bagi perusahaan untuk menarik pelanggan baru dan mempertahankan yang sudah ada serta meminta pelanggan membayar dengan harga tinggi.

Produk yang akan diluncurkan dipersiapkan dengan matang dan diberi nama yang sesuai agar dapat diterima oleh pasar. Berdasarkan hasil segmentasi, penetapan target, dan penempatan posisi, lalu dilakukan penempatan posisi merek (brand positioning). Merek yang mewakili produk ini diposisikan di benak konsumen. Merek ini diberi identitas (brand identity) yang didukung dengan kepribadian (strategic brand personality) agar mengena di hati konsumen yang menjadi sasarannya. Konsumen akhirnya mengenal merek itu (brand awareness) dan kemudian mempunyai kesan tertentu terhadapnya (brand image). Jika konsumen telah mengenal sebuah merek, maka konsumen tersebut akan mengasosiasikannya dengan serangkaian atribut dan meletakannya dalam ingatan mereka. Agar mempunyai brand image yang kuat, konsistensi dalam mengkomunikasikan kepribadian merek yang sesuai dengan penempatan posisi produk perlu diperhatikan (Susanto dan Wijanarko, 2004).

tugas perilaku konsumen “kelas sosial dan world entrepreneur UB’

November 28th, 2012
Kelas Sosial
Mempunyai kedudukan seimbang dalam masyarakat. Flemming Hansen mengemukakan kategori kelompok social sebagai berikut :Kelas Puncak Atas. Orang-orang ningrat, mempunyai banyak harta warisan, mempuyai reputasi internasional.
  • Kelas Puncak Bawah. Orang-orang kaya bukan ningrat, pemilik perusahaan, dokter dan ahli hukum yang kaya.
  • Kelas Menengah Atas. Orang-rang yang sukses dalam profesinya, dokter, professor, pengusaha yang cukup besar.
  • Kelas Menengah Bawah. Pekerja non manajerial, mempnyai usaha kecil-kecilan, mempunyai rumah yang sederhana.
  • Kelas Bawah Atas. Orang-orang berpenghasilan relatif cukup untuk kehidupan sehari-harinya pada umumnya isteri ikut aktif menambah penghasilan. Misalnya pedagang atau pengusaha ekonomi lemah dan pegawai biasa.
  • Kelas Bawah. Pekerja-pekerja kasar, hidup dengan penghasilan kurang.
Untuk memudahkan kita memahami kelas social tersebut dapat kita kategorikan sebagai berikut :
  1. Kelas sosial golongan atas
  2. Kelas sosial golongan menengah
  3. Kelas sosial golongan bawah
Dalam hubungan dengan perilaku konsumen dapat dikarakteristikkan sebagai berikut:
Kelas sosial golongan atas, memiliki kecenderungan membeli barang-barang yang mahal, cenderung untuk dijadikan warisan untuk keluarganya.
Kelas sosial golongan menengah, cenderung membeli barang untuk menampakkan kekayaannya dengan jumlah yang banyak dan kualitas cukup memadai, biasanya membeli barang yang mahal dengan sistem kredit.
Kelas sosial golongan bawah, dengan lebih mementingkan kuantitas daripada kualitasnya, memanfaatakan barang-barang yang diobral atau penjualn dengan harga promosi.

Aspek hierarkis kelas sosial penting bagi para pemasar. Para konsumen membeli berbagai produk tertentu karena produk-produk ini disukai oleh anggota kelas sosial mereka sendiri maupun kelas yang lebih tinggi, dan para konsumen mungkin menghindari berbagai produk lain karena mereka merasa produk-produk tersebut adalah produk-produk “kelas yang lebih rendah”.
Pendekatan yang sistematis untuk mengukur kelas sosial tercakup dalam berbagai kategori yang luas berikut ini: ukuran subjektif, ukuran reputasi, dan ukuran objektif dari kelas sosial.
Peneliti konsumen telah menemukan bukti bahwa di setiap kelas sosial, ada faktor-faktor gaya hidup tertentu (kepercayaan, sikap, kegiatan, dan perilaku bersama) yang cenderung membedakan anggota setiap kelas dari anggota kelas sosial lainnya.

Sebagai contoh, kekayaan relative (banyaknya asset ekonomi), kekuasaan (tingkat pilihan atau pengaruh pribadi terhadap orang lain) dan martabat (tingkat pengakuan yang diperoleh dari orang lain) merupakan tiga faktor yang sering digunakan ketika menilai kelas sosial.
  • Kelas sosial merupakan bentuk segmentasi hirarkis dan alamiah
Kategori kelas sosial biasanya disusun dalam hierarki, yang berkisar dari status yang rendah sampai yang tinggi. Penggolongan kelas sosial berarti bahwa orang lain sama dengan mereka (dalam kelas sosial yang sama), superior dibandingkan mereka (kelas sosial yang lebih tinggi), maupun inferior dibandingkan mereka (kelas sosial yang lebih rendah
  • Kelas sosial dan segmentasi pasar
Keragaman strata kelas sosial menyediakan dasar dalam segmentasi pasar untuk beberapa produk dan jasa. Peneliti konsumen dapat menghubungkan pemakaian produk dengan keanggotaan kelas sosial.
  • Kelas sosial dan faktor perilaku
Klasifikasi anggota masyarakat ke dalam kelas sosial membuat peneliti untuk mencatat eksistensi dari nilai, tata krama,dan pola perilaku anggota dalam setiap kelas sosial.
  • Kelas sosial sebagai kerangka referensi
Keanggotaaan kelas sosial dipakai konsumen sebagai suatu kerangka rujukan (kelompok rujukan) untuk pengembangan sikap dan perilaku
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENENTUAN KELAS SOSIAL
Engel, Blackwell dan miniard (1995) mengemukakan pendapat Gilbert dan Kahl yang menyebutkan bahwa ada sembilan variabel yang menentukan status atau kelas sosial seseorang, kesembilan variabel tersebut digolongkan ke dalam tiga kategori, yaitu sebagai berikut :
1.      Variabel Ekonomi
a)      Status pekerjaan
b)      Pendapatan
c)      Harta benda
2.      Variabel Interaksi
a)      Prestis individu
b)      Asosiasi
c)      Sosialisasi
3.      Variabel Politik
a)      Kekuasaan
b)      Kesadaran kelas
c)      Mobilitas
PENGUKURAN KELAS SOSIAL
Meskipun banyak ahli setuju bahwa kelas sosial adalah konsep yang valid dan berguna, tapi tidak ada pernyataan umum bagaimana mengukurnya. Pendekatan yang sistematis untuk mengukur kelas sosial tercakup dalam berbagai kategori yang luas, meliputi ukuran subyektif, ukuran reputasi, ukuran obyektif dari kelas sosial.
1.    Ukuran Subyektif
Untuk mengukur kelas sosial dengan pendekatan ini, para individu diminta untuk menaksir kedudukan kelas sosial mereka masing-masing. Klasifikasi keanggotaan kelas sosial yang dihasilkan didasarkan pada persepsi partisipan terhadap dirinya atau citra diri partisipan. Kelas sosial dianggap sebagai fenomena “pribadi” yaitu fenomena yang menggambarkan rasa memiliki seseorang atau identifikasi dengan orang lain. Rasa keanggotaan kelompok sosial ini sering disebut kesadaran sosial.
2.    Ukuran Reputasi
Pendekatan reputasi untuk mengukur kelas sosial memerlukan informan mengenai masyarakat yang dipilih untuk membuat pertimbangan awal mengenai keanggotaan kelas sosial orang lain dalam masyarakat.
3.    Ukuran Obyektif
Ukuran obyektif terdiri dari berbagai variabel demografis atau sosioekonomis yang dipilih mengenai individu yang sedang dipelajari. Ukuran obyektif kelas sosial terbagi menjadi dua kategori pokok yaitu indeks variabel tunggal dan indeks variabel gabungan.
a)      Indeks Variabel Tunggal
Indeks variabel tunggal hanya menggunakan satu variabel sosial ekonomi untuk menilai keanggotaan kelas sosial. Beberapa variabel digunakan untuk tujuan sebagai berikut:
·         Pekerjaan, merupakan ukuran sosial yang diterima secara luas dan mungkin merupakan ukuran kelas sosial terbaik yang dapat didokumentasikan karena menggambarkan status yang berhubungan dengan pekerjaan.
·         Pendidikan, tingkat pendidikan formal seseorang merupakan perkiraan lain bagi kedudukan kelas sosial yang umum diterima. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin besar kemungkinan orang tersebut memiliki penghasilan yang tinggi dan juga kedudukan yang dikagumi atau dihormati.
·         Penghasilan, yaitu perorangan atau keluarga merupakan variabel sosial ekonomi lain yang sering digunakan untuk memperkirakan kedudukan kelas sosial.
·         Variabel Lain, yang digunakan sebagai sebuah indeks kelas sosial adalah barang yang dimiliki. Skema yang paling terkenal dan merupakan alat penilai yang paling rumit untuk mengevaluasi barang yang dimiliki adalah skala status sosial chapin.
WORLD ENTREPRENEUR UB

Universitas Brawijaya merupakan salah satu Universitas terbaik di Malang.  Yang dimana setiap tahunya Universitas Brawijaya menerima banyak Mahasiswa baru yang berkompeten dari lulusan SMA di berbagai penjuru Indonesia. Sebagai Universitas ternama di Indonesia, Universitas Brawijaya memiliki visi sebagai Universitas World Entrepreneur University. merupakan suatu hal yang baik ketika salah satu Universita terbaik di Indonesia, memiliki cita – cita go International. dalam perjalanannya Universitas Brawijaya sudah memulai berbagai pembenahan dalam fasilitas untuk kenyamanan mahasiswa Universitas Brawijaya sendiri dalam menambah ilmu. seperti perbaikan jalan, kemudian perbaikan gedung dan pembuatan cabang baru di daerah kediri, serta meng-upgrade berbagai  pelajaran di setiap fakultas.

Di lain hal banyak kerjasama yang dilakukan oleh Unversitas Brawijaya dalam pengembangan “World Entrepreneur University” tidak hanya dengan perusahaan go public di tingkat nasional saja, namun juga dengan perusahaan atau universitas di International. salah satu yang bisa ditemukan yaitu di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unoversitas Brawijaya, dimana akreditasi Internasional sudah di dapatkan dari ABEST 21 dengan nilai A, terlihat dari beberapa mata kuliah seperti Sumber Informasi manajemen menggunakan aplikasi SAP dan mendapatkan sertifikat dan nilai dari Australia. namun memang dalam pencapaian Visi UB yang dinilai sangat Luar biasa ini pasti melewati berbagai process yang panjang, tidak hanya cuman di akademik mahasiswa namun juga pada dosen dengan melaksanakan study tour keberbagai negara yang pada tahun ini ke Thailand, dalam pengembangan dan perbandingan serta pembelajaran sistem mengajar internasional.

Sekali lagi tidak hanya itu, kelas Internasional sudah di sediakan di berbaga fakultas dalam pengkhususan bsang internasional untuk anak yang masuk ke kelas internasional. Yang lebih harus diperhatikan disini untuk Universitas Brawijaya adalah bagaimana dengan menciptakan “entrepreneur Univesity” dan “Internasional University” bisa di rasakan oleh semua Fakultas dan mahasiswa Universitas Brawijaya, supaya tujuan Universitas Brawijaya dapat tercapai dan kualitas yang dihasilkan membentuk sebuah kepercayaan kepada Masyarakat dalam pembuktian slogan “world Entrepreneur University”.

tugas perilaku konsumen referensi group dan keluarga

November 21st, 2012

 

Faris Huda Oktavian

105020207111024

 

Jurnal 1

Self-Construal, Reference Groups, and Brand Meaning

JENNIFER EDSON ESCALAS*

JAMES R. BETTMAN

Kami mengusulkan bahwa para konsumen membeli brands di bagian untuk membangun self-concepts mereka dan, dalam jadi lakukan, membentuk self-brand koneksi. Kita fokus pada kelompok referensi sebagai sumber brand makna. Hasil dari dua mempelajari menunjukkan bahwa brands dengan gambar yang konsisten dengan ingroup meningkatkan self-brand koneksi untuk semua konsumen, padahal brands dengan gambar yang konsisten dengan sebuah outgroup sebuah negatif memiliki yang lebih kuat efek pada versus saling bergantung independen konsumen. Kita mengurus yang ini efek diferensial adalah karena untuk lebih kuat selfdifferentiation untuk konsumen dengan gol lebih independen self-concepts. Kami juga menemukan efek yang lebih besar untuk lebih simbolis daripada untuk kurang simbol merek.

Jurnal 2

Reference Group as Perspective

Tamotsu Shibutani

Terlepas dari ambiguitasm, kelompok referensi telah menjadi semakin populer sebuah konsep, dimanfaatkan dalam hipotesis mengenai berbagai fenomena sosial. Pembatasan konsep ini untuk sebuah rujukan tunggal, yaitu, kelompok yang perspektif ini digunakan sebagai kerangka acuan oleh aktor, akan meningkatkan kegunaan nya seperti sebuah tool. analytic Perspektif bersama bangunlah melalui partisipasi dalam komunikasi umum saluran, dan pluralisme budaya modern masyarakat massal muncul dari mudah aksesibilitas dari multiplisitas sebuah saluran. Konsep group, referensi jika yang didefinisikan dengan presisi yang lebih besar, dapat sangat memfasilitasi penelitian pada cara di mana setiap aktor ‘ s orientasi menuju dunianya adalah terstruktur.

Jurnal 3

Adolescents’ influence in family purchase decisions: A socialization perspective

Pengaruh remaja dalam pengambilan keputusan keluarga dipelajari dalam konteks sosialisasi konsumen. Sejauh mana remaja mempengaruhi keputusan keluarga ditemukan akan terpengaruh oleh lingkungan keluarga komunikasi, sumber daya pribadi remaja ‘, dan pengetahuan produk yang dirasakan dan pentingnya. Ibu, ayah, dan remaja ditemukan berbeda dalam menilai dari jumlah remaja pengaruh yang, baik dalam pilihan keluarga produk tertentu dan dalam proses keputusan pembelian keluarga umum.

Jurnal 4

The influence of family on Thai students’ choices of international education

Mahasiswa internasional adalah protagonis utama dalam sistem pendidikan Australia. Meskipun banyak penelitian telah dilakukan untuk lebih memahami berbagai aspek yang berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan mereka pendidikan internasional, mengherankan sedikit perhatian telah dibayarkan kepada pengaruh sumber pribadi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif untuk menjelaskan masalah penelitian. Tahap kualitatif mengidentifikasi pengaruh dari keluarga Thai ke dalam lima kategori: keuangan, informasi, harapan, persuasi, dan persaingan. Tahap kuantitatif meneliti pengaruh dari lima faktor pada lima pilihan pendidikan internasional. Studi ini diakhiri dengan diskusi tentang implikasi dari temuan untuk pemasaran pendidikan internasional ke Thailand.

Jurnal 5

Reference Group influence product and brand purchase decisions

Wiliam O. Bearden and Michael J. Etzel

konsumen preceptions reference group mempengaruhi pada produk dan merek keputusan diperiksa menggunakan 645 anggota pannel konsumen dan 151 responden dalam tindak lanjut studi. perbedaan untuk 16 produk ini informasi, mempengaruhi nilai ekspresif, dan utilitarian diselidiki dalam desain bersarang mengulangi measures. hasil dukungan dihipotesiskan perbedaan dalam referensi kelompok pengaruh antara produk dikonsumsi publik dan swasta dan luxires dan necessities

Jurnal 6

Eye of the Beholder: The Individual and Dyadic Contributions of Empathic Accuracy and Perceived Empathic Effort to Relationship Satisfaction

Robert J. Waldinger

Studi ini diperiksa yang menghubungkan antara dua aspek yang berbeda empati empatik keakuratan dan empatik yang dirasakan usaha dan satu sendiri dan satu partner kepuasan hubungan. Menggunakan sebuah video mengingat prosedur, peserta ( n 156 pasangan dalam hubungan berkomitmen ) melaporkan dalam emosi mereka sendiri dan persepsi mereka dari mitra emosi dan partners niat empatik selama momen-momen tinggi diskusi-diskusi mempengaruhi dalam laboratory-based dari menjengkelkan peristiwa. Partners data sedang berkorelasi sebagai ukuran dari bagaimana akurat mereka mampu untuk membaca apa yang lain merasa dan untuk apa gelar mereka merasa yang lain berusaha untuk menjadi empatik di saat-saat itu. Persepsi dari upaya empatik oleh salah satu  partner lebih kuat dihubungkan dengan kedua laki-laki dan perempuan kepuasan hubungan daripada akurasi. empatik Laki-laki kepuasan hubungan adalah terkait dengan kemampuan untuk membaca mitranya emosi positif akurat, sedangkan perempuan kepuasan hubungan berhubungan dengan mitra mereka kemampuan Untuk membaca perempuan emosi negatif akurat. Perempuan kemampuan untuk membaca suami-suami mereka emosi negatif itu positif terkait dengan laki-laki dan perempuan hubungan kepuasan. Temuan menyarankan bahwa persepsi pasangan empatik usaha yang berbeda dari empatik akurasi yang sangat informatif dalam memahami bagaimana mungkin memperoleh kepuasan dari mitra hubungan empatik proses. Ketika bekerja dengan pasangan dalam pengobatan, mitra heightening persepsi satu sama lain empatik usaha, dan membantu mitra belajar untuk menunjukkan usaha, dapat mewakili terutama kuat kesempatan untuk meningkatkan kepuasan dalam hubungan.

Jurnal 7

Parental style and adolescent influence in family consumption decisions: An integrative approach

Penelitian ini mengambil pendekatan integratif untuk memeriksa pengaruh gaya orangtua pada anak-anak remaja pengaruh dalam keputusan konsumsi keluarga. Hasil empiris mendukung bahwa gaya pengasuhan mempengaruhi pilihan kedua anak-anak dari strategi pengaruh dan tingkat pengaruh mereka tidak langsung melalui persepsi anak-anak dari kekuasaan orang tua. Selanjutnya, kedua strategi pengaruh dan tingkat pengaruh mempengaruhi kepuasan resultan anak dengan keputusan. Hal ini menunjukkan kurangnya mediasi variabel dalam penelitian sebelumnya mungkin telah menyebabkan inkonsistensi dalam hubungan antara gaya orangtua dan pengaruh anak-anak. Daya teori relasional muncul untuk melengkapi teori konsumen sosialisasi dalam menjelaskan keuntungan anak-anak pengetahuan konsumen dan keterampilan dari orang tua mereka.

Jurnal 8

Children’s influence on family decision-making: a restaurant study

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur anak-anak dan persepsi orang tua ‘dari pengaruh anak-anak pada proses pengambilan keputusan untuk pengalaman bersantap-out keluarga, dan untuk memverifikasi apakah persepsi bervariasi sesuai dengan jenis rumah tangga. Bertentangan dengan studi sebelumnya, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak meremehkan pengaruh mereka dalam keputusan untuk pergi ke sebuah restoran. Namun, mereka menunjukkan persepsi yang sama dengan orang tua mereka dari pengaruh mereka dalam pilihan restoran.

Jurnal 9

Intensity use english: cases smas efl school teachers in east timor west nusa tenggara

Intensitas penggunaan bahasa Inggris, Guru-guru bahasa Inggris sebgai bahasa asing, preferensi individu. Para siswa di kelas umumnya bisa belajar bahasa Inggris dengan mendengar bahasa Inggris gurunya. Karena itulah para ahli sangat menuntut para guru untuk selalu menggunakan bahasa Inggris sebagai medium pembelajarang di kelas. Tingkat pendidikan guru-guru bahasa dianggap factor utama untuk menggunakan bahasa Inggris secara aktif. Dengan kata lain tingkat pendidikan mempengaruhi intensitas penggunaan bahasa Inggris yang lebih tinggi dari biasanya. Namun, yang terjadi pada guru-guru bahasa Inggris di Sekolah Menengah Atas (SMA) sedaratan Timur Barat tidak mendukun pernyataan itu. Dengan Uji- T, Semiun (2009) laporkan bahwa tidak ada perbedaan secara signifikan dalam hal intensitas penggunaan bahasa Inggris menurut jenjang pendidikan. Jadi guru-guru tamatan S1 tidak berbeda secara signifikan dengan yang Non-S1 (D3 dan tanpa jalur pendidikan bahasa Inggris). Dia menemukan factor guru dan “individual preference” yang menyebabkan gejala ini. Artikel ini mencoba menjelaskan bagaimana kedua factor itu mempengaruhi tidak adanya perbedaan secara signifikan dalam hal intensitas penggunaan tersebut. Dari penjelasannya disimpulkan bahwa jenjang pendidikan formal tidak selamanya menunjang tingkat intensitas, asalkan para guru memunyai kebiasaan berbahasa Inggris.

Jurnal 10

Reflection in the relationship between ethics and human family Abstrak

Etika Mudah dipahami bila hanya ditulis dan berkata, tetapi sulit untuk menjadi merasa lebih dari apa pun dilakukan. Hal ini tidak lepas dari manusia mana yang berada di yang selalu berhubungan dengan masalah ruang tempat dan waktu, dirumuskan dengan judul mana menginjak ada langit menjunjung tinggi. etika merupakan paksaan dipahami oleh masing-masing, setiap manusia dalam kehidupan bermasyarakat tanpa saksi mata. Ini adalah refleksi yang diambil dari sebuah bangunan suci seperti Temple dari Sukuh dan beberapa ornamen dalam bentuk naturalis raksasa dan yoni di gerbang lantai.