dita yubi blog's

Blog mahasiswa Universitas Brawijaya

PENGEMBANGAN KEMASAN DAN LABELING PRODUK KERIPIK SINGKONG KHAS LAMPUNG

PAPER

PENGEMBANGAN KEMASAN DAN LABELING PRODUK KERIPIK SINGKONG KHAS LAMPUNG

(Disusun Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Mata Kuliah Teknologi dan Manajemen Kemasan Kelas F)

 

525526_3114392180413_1282688250_32270640_1284702049_n

 Disusun Oleh :

Faradita Nova W              (105100300111003)

Theresia Dyan T              (105100300111005)

Putri Siska W                   (105100300111025)

Reinhard Mangatur          (105100300111027)

Fatchul Rahman R           (105100300111038)

Dosen Pengampu : Dr. Ir. Maimunah Hindun Pulungan, MP.

 

 

 

 

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2013

I.    PENDAHULUAN

 

1.1   Latar Belakang

Negara Indonesia merupakan Negara yang kaya akan keanekaragaman, mulai dari keanekaragaman budaya, suku bangsa, bahasa, ras, serta sumber daya alamnya. Karena kemajemukan inilah Indonesia dijuluki sebagai sebutan “Zamrud Khatulistiwa”. Salah satu hasil dari bidang pertanian Indonesia adalah singkong.

Singkong merupakan produk pertanian yang cocok dijadikan unit bisnis karena manfaat yang diperoleh komoditi tersebut cukup banyak. Singkong (Manihot esculenta) dikenal sebagai ketela pohon atau umbi kayu. Singkong merupakan pohon tahunan tropika dan subtropika dari keluarga Euphorbiaceae. Umbinya dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya digunakan sebagai sayuran. Sejalan dengan permintaan pasar yang terus meningkat, maka beberapa singkong mulai dibudayakan di Indonesia.

Segmentasi pasar, khususnya makanan, erat kaitannya dengan penilaian konsumen terhadap keamanan produk dan nilai fungsionalnya untuk kesehatan. Selain itu faktor kemasan yang digunakan juga mempengaruhi selera konsumen terhadap produk. Keripik singkong merupakan salah satu alternative olahan pangan yang menyehatkan. Selain itu, keripik singkong memiliki umur simpan yang relative lama sampai bertbulan-bulan, sehingga mempunyai prospek ekonomi yang bagus. Pertimbangan lain dari usaha keripik singkong adalah karena waktu panen singkong yang relatif singkat, yaitu sekita 1 – 5 bulan. Salah satu daerah yang memiliki cirri khas sebagai daerah produsen keripik singkong adalah Lampung.

Pada tahun 2008 terbentuklah suatu kawasan sebagai Kawasan Sentra Industri Keripik Kota Bandar Lampung. Kawasan Sentra Industri Keripik Kota Bandar Lampung berdiri pada bulan Mei tahun 2008. Kota ini memiliki beberapa produk keripik yang menjadi unggulan. Namun sayangnya tidak semua masyarakat Indonesia mengenal berbagai macam keripik khas kota Lampung.  Salah satu jenis keripik yang masih kurang dikenal oleh masyarakat adalah keripik singkong.  Salah satu permasalahannya adalah karena desain kemasan dan strategi pemasaran yang masih kurang tepat sehingga menyebabkan keripik singkong ini kurang dikenal oleh masyarakat.,  Kemasan merupakan hal yang penting untuk diperhatikan, selain dapat menarik perhatian, kemasan juga mempengaruhi daya tahan produk, biasanya untuk kemasan plastik bening produk dapat bertahan selama 1,5 sampai 2 bulan, sedangkan untuk dalam kemasan karton, produk dapat bertahan selama 3 sampai 4 bulan. Salah satu UKM yang memproduksi keripik singkong adalah UKM ASA. UKM ASA memproduksi berbagai macam keripik, salah satunya adalah keripik singkong. KEripik singkong yang diproduksi memiliki varian rasa bermacam-macam dan beda daripada yang lain. Melihat potensi yang menjanjikan ini, maka pengembangan kemasan keripik singkong khas Lampung  untuk UKM ASA perlu untuk dilakukan guna meningkatkan perekeonomian produsen keripik serta menciptakan brand yang dapat dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat.

 

1.2   Tujuan

Tujuan dari penulisan paper mengenai kemasan dan labeling keripik singkong khas Lampung adalah agar keripik singkong khas Lampung lebih dikenal masyarakat dalam negeri maupun luar negeri sebagai produk asli Indonesia terutama produk asli dari Lampung.

 

1.3   Manfaat

Manfaat dari penulisan paper ini adalah:

  1. Dapat meningkatkan brand keripik singkong khas Lampung supaya lebih dikenal masyarakat.
  2. Dapat membantu perekonomian masyarakat dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di lampung khususnya.
  3. Meningkatkan jiwa wirausaha kepada masyarakat agar dapat menciptakan lapangan pekerjaan melalui wirausaha,
  4. Menjadi market leader dengan brand keripik singkong khas Lampung.
  5. Meningktakan kualitas hasil produk dari usaha makanan ringan keripik singkong khas Lampung.

 

 

 

 

 

II.   ANALISIS TUJUAN

 

2.1 Analisis Posisi Brand

2.1.1 Identifikasi produk/ jasa

Posisi brand atau merek yang saat ini sedang berkembang, menjadi pertimbangan dalam usaha mengembangkan suatu produk. Salah satu UKM yang berkembang di Bandar Lampung adalah UMKM ASA milik Pak Sucipto Adi. Beliau sebagai Ketua KUB Telo Rezeki yang berdiri sejak tahun 1996 telah memiliki 3 outlet penjualan dan 1 dapur (pabrik) produksi, dengan jumlah karyawan 11 orang termasuk dengan Pak Sucipto dan istri. Tiga orang karyawan untuk menjaga 3 outlet, dan enam orang bertugas di dapur. Untuk produksi, biasanya dalam 1 minggu 2 hari untuk mengolah keripik singkong dan 2 hari lagi untuk mengolah keripik pisang atau 3 hari untuk mengolah keripik singkong dan 2 hari mengolah keripik talas atau keripik mantang. Rata-rata sekali produksi keripik pisang bisa mencapai 1-1,5 kwintal

Keripik singkong terdiri dari rasa gurih, tawar, jagung bakar, jagung manis, balado, kare, cokelat, kepiting dan keju; keripik talas terdiri dari rasa gurih, kare dan balado; serta keripik mantang dan keripik sukun. Rata-rata harga standar keripik singkong untuk konsumen Rp. 12.000/kg sampai Rp. 14.000/kg, sementara harga untuk distributor Rp. 8000/kg sampai Rp. 10.000/kg. Dalam kondisi normal pendapatan bersih dari satu kuintal singkong (setelah dikonversi ke keripik) berkisar Rp. 40.000 hingga Rp. 50.000. Pada hari raya, hari libur atau saat hajatan, pendapatan bersih bisa di atas Rp. 70.000/hari.

Posisi UKM Keripik di sentra Industri Keripik Kota Bandar Lampung merupakan UKM yang sedang berkembang. Salah satu kelemahan dari berbagai macam UKM di sentra industri tersebut adalah dari segi kemasan. Hal ini dapat dilihat dari contoh gambar kemasan keripik singkong yang diproduksi di Badar Lampung.

Gambar 2.1 Contoh Kemasan Keripik Singkong Jagung Bakar Khas Lampung

 

Keripik singkong di atas merupakan keripik singkong jagung bakar dengan harga jual Rp 20.000,- per dengan kemasan 500 gram. Dari segi harga, keripik singkong khas Lampung cukup terjangkau, namun dari segi estetika, keripik singkong khas Lampung masih kurang menarik terutama dari segi kemasan. Kemungkinan hal inilah yang menyebabkan perkembangan keripik singkong lebih lambat dibandingkan keripik pisang. Berikut ini merupakan brand keripik pisang yang diproduksi di kota Bandar Lampung dan dikenal di seluruh Indonesia yaitu keripik pisang Mr. Monkey.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.2 Keripik Pisang Mr Monkey            Gambar 2.3 Keripik Pisang Aneka

Dari segi kemasan, keripik pisang merek Mr Monkey lebih menarik dibandingkan keripik pisang merek Aneka. Kemasan inilah yang menjadi kunci dari berkembangnya Mr Monkey sebagai brand keripik pisang khas Lampung. Ha ini yang perlu untuk dikembangkan pada komoditas keripik singkong Khas Lampung.

 

2.1.2 Segmentasi, Targeting, Positioning

Target pasar adalah sekelompok pembeli yang mempunyai sifat-sifat yang sama yang membuat pasar itu berdiri sendiri. Adanya sekelompok orang dengan cirri-ciri yang sama, belum berarti bahwa mereka membentuk pasar sasaran. Sasaran pasar untuk keripik singkong khas Lampung ini adalah masyarakat Lampung sendiri dan wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Kota Bandar Lampung. Selain itu, keripik singkong khas Lampung ini diharapkan mampu menguasai pasar Indonesia akan makanan khas dari Kota Bandar Lampung.

Kaum pendatang di Kota Bandar Lampung kebanyakan adalah kaum muda yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak kecil. Peluang ini dapat dimanfaatkan karena rata-rata anak-anak baik remaja dan dewasa biasanya lebih menyukai makanan ringan sebagai camilan sehari-hari saat santai serta dapat pula sebagai alternatif makanan ringan sebagai penunda lapar saat perut kosong. Peminat keripik singkong hampir merata di seluruh wilayah Indonesia.

Semakin banyaknya pesaing yang memproduksi keripik singkong, maka masyarakat semakin jeli dalam memilih produk. Dengan ini, maka keripik singkong khas Lampung memiliki keunggulan sebab keripik ini memiliki brand yaitu sebagai makanan khas kota Bandar Lampung. Target pasar yang dicari adalah masyarakat menengah hingga menengah ke atas di seluruh wilayah Indonesia pada umumnya, terutama di kota-kota besar di Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

2.1.3 Analisa SWOT

Untuk mengetahui strategi yang dapat digunakan untuk memasarkan keripik singkong khas Lampung , maka perlu dilakukan analisis SWOT. Berikut adalah tabel analisis SWOT untuk keripik singkong:

Tabel 2.1 Analisa SWOT Brand keripik singkong khas Lampung

              EKSTERNAL

 

 

 

INTERNAL

PELUANG (O)

  • Terbukanya peluang untuk mengembangkan komoditi lokal yang belum maksimal
  • Ketersediaan bahan baku melimpah
  • Tersedianya pasar potensial
  • Adanya dukungan dari pemerintah setempat

ANCAMAN (T)

  • Penentuan lokasi yang sulit
  • Sulitnya tenaga kerja ahli
  • Daerah pemasaran yang cukup luas

KEKUATAN (S)

  • Bahan baku melimpah yang belum dimanfaatkan secara maksimal
  • keinginan masyarakat dan pemerintah setempat dalam memajukan komoditi lokal

RENCANA STRATEGIS (SO)

  • pemantapan pemilihan bahan baku berkesinambungan
  • menggunakan tenaga kerja lokal
  • pemasaran produk secara global

RENCANA STRATEGIS (ST)

  • · melakukan pemantapan pemilihan lokasi perusahaan
  • · melakukan pelatihan tenaga kerja dari penduduk lokal
  • · melakukan pengkajian aliran distribusi

KELEMAHAN (W)

  • segmen pasar terbatas
  • lokasi bahan baku terpencil

 

RENCANA STRATEGIS (WO)

  • membuka area bahan baku untuk dikembangkan
  • fokus melayani kebutuhan pasar potensial

RENCANA STRATEGIS (WT)

  • · melakukan analisis pemilihan lokasi perusahaan dan bahan baku
  • · meningkatkan tingkat keterampilan tenaga kerja lokal
  • · melakukan analisis aliran distribusi dan segmen pasar

 

 

2.1.4 Existing Brand Identity

            Salah satu brand atau merk keripik singkong yang ada di Kota Bandar Lampung adalah merk “Karya Mandiri”. Keripik singkong Karya Mandiri memproduksi keripik singkong dengan rasa pedas balado, udang, sapi panggang, jagung bakar, jagung manis, dan asin. Sedangkan keripik singkong milik Pak Sucipto (UKM ASA) memproduksi rasa rasa gurih, tawar, jagung bakar, jagung manis, balado, kare, cokelat, kepiting, dan  keju. Dari segi varian rasa, UKM ASA memiliki rasa yang cukup beragam yang tidak diproduksi oleh UKM Karya Mandiri. Kelemahan lain dari UKM Karya Mandiri adalah dari segi kemasan (gambar 2.1). Kemasan yang digunakan serta warna kemasan kurang menarik sehingga produk khas Lampung ini masih kurang diketahui oleh masyarakat Indonesia.

 

2.2 Formulasi Rancangan, Perencanaan dan Startegi Brand

2.2.1 Projected Brand Identity

Brand atau merk dagang dari keripik singkong yang dikembangkan adalah ‘ASA’. ASA merupakan nama UKM yang sudah berkembang di wilayah Bandar Lampung dengan nama pemilik Pak Sucipto. Kemudian nama produk dari keripik singkong khas Lampung ini adalah ‘KingKong’. Nama produk ini didasarkan pada keinginan perusahaan untuk menjadikan keripik singkong merk ‘KingKong’ ini sebagai market leader (ditunjukkan dengan kata ‘King’ yang berati ‘raja’) dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan keripik singkong khas Lampung. Kemudian kata ‘Kong’ diambil dari empat huruf terakhir dari kata ‘singkong’. Nama produk ini diharapkan mudah untuk dihafal dan memiliki makna sesuai dengan harapan perusahaan. Nama produk ‘KingKong’ juga diharapkan mampu membantu perusahaan dalam segmentasi pasar, membangun citra perusahaan, dan mampu membantu produk ini diterima dengan mudah oleh pasar.

2.2.2 Marketing Mix (4p / 7p)

1. Product

Produk yang dikembangkan dan ditawarkan berupa produk singkong yang memiliki kualitas terbaik dengan kadar gizi yang tinggi. Keripik singkong yangditawarkan memiliki 8 varian rasa. Keripik singkong KingKong ini diproduksi dengan bersih, sehat, dan terhindar dari jangkauan yang berbahaya pada kesehatan sehingga konsumen dapat menikmati produk ini.

2. Price

Umumnya konsumen lebih tertarik dengan produk yang memiliki harga murah namun berkualitas. Price bukan hanya semata-mata mencari keuntungan perusahaan melainkan juga sebuah nilai yang mencerminkan value proposition. Harga yang tepat akan memiliki ikatan yang erat antara pembeli dan produsen. Harga yang ditawarkan per 100 gram nya adalah Rp 8.000,- . Harga sebesar itu tergolong terjangkau dan sesuai dengan produk yang ditawarkan.

3. Promotion

            Strategi mengenai bagaimana produk yang dikembangkan dapat dikenal oleh konsumen melalui cara personal selling yaitu promosi melalui penjualan langsung ke tempat konsumen berada dengan menawarkan dan mencoba produk langsung. Selain itu, produk ini diharapkan dapat dikenal masyarakat melalui pemasaran dari mulut ke mulut. Pemasaran dapat melalui social media seperti Twitter dan Facebook yang saat ini masih digemari oleh kalangan remaja hingga dewasa.

4. Placement

Merupakan cara untuk mendistribusikan produk kita untuk sampai ke tangan konsumen. Sistem distribusi yang dilakukan secara langsung ke konsumen dan ke distributor.

5.People

Merupakan criteria sumber daya manusia secara umum yang dapat meningkatkan penjualan produk kek konsumen secara langsung ataupun tidak langsung. Direncanakan, usaha ini dilaksanakan oleh pemilik sendiri dan dibimbing mengenai desain kemasan oleh pembimbing (mahasiswa). Sedapat mungkin pemiliki mengutamaan pelayanan dengan sikap yang ramah, sopan, bersahabat dan mencerminkan masyarakat Lampung.

  1. 6.   Process

Proses yang ditampilkan kepada konsumen agar konsumen tertarik untuk membeli. Proses yang ditampilkan seperti proses produksi, pelayanan terhhadap konsumen baik melalui online ataupun offline, serta kemasan yang merupakan salah satu cara menarik pembeli pertama kali. Operasional usaha dituntut untuk menjaga kualitas produksi seperti mengutamakan kebersihan, langkah kerja yang efektif dan tangkas menanggapi permintaan.

  1. 7.   Physical Evidence

Penampilan fisik  dari fasilitas pendukung atau sarana dalam menjual produk yang dapat dilihat langsung oleh konsuen. Logo official dari Keripik Singkong ‘KingKong’ dibuat dengan bentuk yang menarik hati konsumen untuk membelinya.

 

 

2.2.3 Visual Design

Desain kemasan pada dasarnya harus menjual, menarik perhatian, sesuai isi produk, penataan yang seimbang, unik dan ergonomis, dan sesuai dengan regulasi. Pemilihan warna pada desain kemasan juga memiliki arti dan makna dari tujuan perusahaan. Desain labeling harus mampu menarik calon pembeli, informatif dan komunikatif, siap jual, serta menciptakan rasa ‘butuh’ terhadap produk. Warna merah-kuning melambangkan warna keberuntungan, kemgahan dan terkesan resmi. Warna merah-oranye (jingga) melambangkan rasa senang dan lebih mudah diingat. Sedangkan warna emas melambangkan kemakmuran.

Produk keripik singkong Lampung ‘KingKong’ menggunakan perpaduan warna merah-oranye-kuning-emas dengan tujuan agar produk lebih mudah diingat. Kemasan produk terdiri dari kemasan primer dan kemasan sekunder/tersier. Kemasan sekunder menggunakan perpaduan warna merah-oranye-dan kuning. Sedangkan kemasan sekunder berupa tas karton berwarna cream. Kemasan karton ini hanya digunakan untuk konsumen yang membeli langsung produk ‘KingKong’ di toko-toko di Lampung. Sedangkan apabila dipasarkan di luar kota, menggunakan kemasan tersier karton coklat untuk memudahkan distribusi barang.

2.2.4 Message Design and Planning

Desain kemasan memiliki pesan yang ingin disampaikan kepada konsumen. Gambaran dari varian rasa khas keripik singkong khas Lampung terdapat pada kemasan. Varian rasa keripik singkong ‘KingKong’ berbeda dari merk keripik singkong pada umumnya. Hal inilah yang menjadi ciri khas ‘KingKong’ sebagai keripik singkong khas Lampung. Desain kemasan primer ‘KingKong’ menggunakan kemasan komposit. Lapisan terluar kemasan merupaka plastik jenis PET dan lapisan terdalam merupakan campuran alumunium foil. Kemasan ‘KingKong’ tidak menggunakan alumunium foil murni sebab harga kemasan yang mahal. Karena itu, penggunaan kemasan disiasati dengan menggunakan plastik PET di lapisan terluarnya.

Warna tinta yang digunakan perpaduan warna merah-oranye-kuning dengan maksud agar konsumen tertarik akan produk ‘KingKong’, mudah diingat, serta diharapkan keripik ‘KingKong’ membawa keberuntungan terhadap produsen yaitu dengan omset penjualan yang tinggi. Pesan lain yang dilambangkan pemilihan kata ‘KingKong’ adalah agak produk ini  dapat menjadi market leader keripik singkong khas Lampung. Pada desain kemasan primer, dicantumkan saran penyimpanan produk agar kerenyahan juga tetap terjaga. Kemasan ‘KingKong’ diharapkan mampu mewakili berbagai macam info yang dibutuhkan oleh konsumen.

Kemasan tas karton berbentuk kotak dengan dominan warna cream dan dengan desain unik agar produk ‘KingKing’ mudah diingat. Kemasan tas karton ini diberikan pada konsumen yang membeli ‘KingKong’ langsung dari outlet-outlet UKM ASA. Kemudian kemasan tersier terbuat dari kemasan karton coklat dengan fungsinya untuk mempermudah proses distribusi.

 

2.2.5 Media Planning dan Media Placement

Perencanaan media pemasaran merupakan hal yang penting dilakukan. Marketing juga mempengaruhi berkembangnya UKM ini. Strategi marketing yang akan dilakukan adalah lebih memasarkan usaha ini dengan membuat brosur, poster, dan flyer serta media sosial seperti blog, twitter, dan facebook. Dalam persaingan bisnis yang semakinj keras dan ketat saat ini, IT memegang peranan penting dalam pengembangan bisnis. Yang menjadi poin penting adalah bagaimana teknologi dapat digunakan dan apa yag perlu diketahui bisnis mengenai teknologi sehingga member dampak terhadap strategi bisnis dan selalu terlibat dalam berbagai perencanaan serta pengkajian strategi bisnis.

Dalam pemanfaatan IT, keripik ‘KingKong’ menggunakan jaringan media sosial seperti facebook, twitter, dan blog. Hal ini dilakukan karena mayoritas masyarakat Indonesia menggunakan media sosial sebagai alat komunikasi serta mencari informasi. Informasi yang didapatkan dari internet lebih cepat dibanding informasi yang didapatkan dari media lain. Usaha ini dipasarkan dengan media internet dengan harapan bahwa pengunjung ‘outlet online ASA’ tidak hanya masyarakat lokal Kota Bandar Lampung, melainkan pengunjung dari wilayah lain.

 

2.3 Implementasi Brand Planning

Brand atau merk bagi suatu produk adalah penting untuk dapat diterima secara mudah oleh masyarakat luas dan menjadi gambaran utama produk tersebut. Dalam membangun brand, diperlukan konsistensi agar konsumen tidak mudah berpindah ke lain hati. Konsistensi pada brand sendiri bisa dimulai dari implementasi visualnya, kemudian dilanjutkan dengan konsistensi pada janji dan cara penyampaian pesannya, hingga konsistensi dalam kualitas produk dan service pelayanan. Implementasi brand dapat diibaratkan sebagai wajah dari sebuah brand, suatu alat identifikasi yang pertama kali dilihat, dikenali serta diingat oleh konsumen. Implementasi itu mencakup keseluruhan aplikasi visual identity, mulai dari printed collateral seperti stationery, hingga signage dan seragam karyawan. Implementasi brand merupakan jembatan yang menghubungkan nilai dan esensi brand yang diciptakan dengan konsumen. Implementasi dilakukan dengan repetisi brand secara konsisten kepada konsumen hingga konsumen familiar dengan brand yang telah diciptakan.

 

2.4 Monitoring dan Evaluasi

            Monitoring merupakan fungsi berkelanjutan yang menggunakan pengumpulan data secara sistematis berdasarkan indikator untuk memberikan informasi pada manajemen yang berhubungan dengan kemajuan atau hasil yang diraih setelah menggunakan dana yang telah dialokasikan. Evaluasi merupakan penilaian yang sistematis dan objektif yang berkaitan dengan pelaksanaan atau hasil dari program, kebijakan berdasarkan perecanaan implementasi dan hasilnya. Tujuannya untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi hasil, dampak maupun keberlanjutannya.

Monitoring produk kripik singkong ini dilakukan dengan kerangka melihat pangsa pasar yang tertarik dengan produk ‘KingKong’. Monitoring ini dilakukan dengan mendata tingkat penjualan keripik singkong dalam  waktu 3 bulan. Apabila terjadi peningkatan omset penjualan, maka pengembangan produk dari sisi kemasan berhasil dilakukan.  Namun bila selama waktu 3 bulan kemasan sulit diterima oleh konsumen maka akan dilakukan tindakan lebih lanjut seperti sosialisai dan lain sebagainya.

 

 

 

 

 

 

 

 III.           GAMBAR KEMASAN

 

3.1   Desain Kemasan Primer

 

 

3.2   Desain Kemasan Sekunder

 

 

 

 

3.3   Kemasan Tersier

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi:

http://www.warintek.ristek.go.id/pangan_kesehatan/pangan/ipb/Kripik%20singkong%20simulasi.pdf

 

http://economy.okezone.com/read/2012/04/18/23/613699/redirect

 

http://www.lontar.ui.ac.id/file?file=digital/122881-T%2026129-Strategi%20Pengembangan-Analisis%201.pdf

 

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27739/4/Chapter%20I.pdf

 

http://blog.suryamasgrafika.co.id/tips-mendesain-box-makanan/

 

http://www.warintek.ristek.go.id/pangan_kesehatan/pangan/ipb/Kripik%20singkong%20simulasi.pdf

 

http://www.pemetaanttg.com/?op=pdf&mode=print&section=detailttg-pdf&id=50

 

http://www.keripik-lampung.com/product/73/121/Sanjai-Padang-Sarina-500-gr/?o=default

silakan download disini…. PENGEMASAN BU HINDUN- SINGKONG LAMPUNGfix

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*