RSS
 

Buah Klimaterik dan Buah non Klimaterik

10 Sep

Apa sih buah klimaterik dan buah non klimaterik itu? Pasti pertanyaan itulah yang terbesit pertama kalinya. Dibawah ini akan dibahas secara tuntas mengenai kedua hal tersebebut. Sebenarnya, artikel ini dibuat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pengetahuan Bahan Agroindusti, Bab Karakteristik Material dan sub Bab Fase Komoditas, yang diampu oleh Ibu Nimas Mayang Sabrina S., STP, MP, MSc.

Pertama-tama, akan dijelaskan mengenai asal mula kenapa ada sebutan buah klimaterik dan buah non klimaterik. Seperti yang kita ketahui, setiap makhluk hidup mengalami fase atau siklus kehidupan, dimulai dari fase penyusunan zat-zat yang sederhana menjadi zat-zat yang lebih kompleks atau yang biasa disebut anabolisme. Sampai fase pemecahan zat-zat yang kompleks tersebut menjadi lebih sederhana atau yang biasa disebut katabolisme. Manusia, hewan, dan tumbuhan semuanya pasti mengalami fase tersebut. Dan yang akan dibahas lebih spesifik pada artikel ini adalah fase komoditas tumbuhan (lebih tepatnya buah dan sayuran). Seperti halnya manusia yang memiliki fase kehidupan, yaitu:

dimana fase anabolisme atau biasa disebut sebagai fase pertumbuhan dimulai mulai dari dalam kandungan -> bayi -> anak-anak -> remaja -> dewasa. Yang ditandai dengan bertambahnya tinggi, berat, pemadatan tulang, dan pemaksimalan fungsi atau kinerja dari organ-organ dalam tubuh. Dan fase katabolisme dimulai dari dewasa -> tua -> meninggal. Yang ditandai dengan mulai berkurangnya kinerja organ-organ dalam tubuh, sampai kahirnya tidak dapat berfungsi sama sekali dan mati.

Buah dan sayuran pun memiliki fase kehidupan seperti halnya manusia. Ada tiga fase pokok dari kehidupan buah dan sayuran, yaitu:

  1. Fase pra panen
  2. Fase pasca panen
  3. Fase penuaan

Fase anabolisme pada buah dan sayuran ini dimulai dari fase pra panen sampai setengah dari fase pasca panennya. Sedangkan fase katabolisme dari buah dan sayuran dimulai dari pertengahan fase pasca panen sampai fase penuaanya. Berikut ini adalah penjabaran dari fase pra panen dari buah dan sayuran:

Pada fase pra panen ini, buah dan sayuran sedang aktif-aktifnya melakukan fotosintesis untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dari tanaman tersebut, oleh karena itu sel-selnya terus aktif, membelah, dan semakin banyak. Kelebihan hasil fotosintesisnya akan disimpan sebagai cadangan makanan, yang biasanya dimanfaatkan oleh manusia sebagai sumber makanan dalam bentuk buah dan sayuran maupun umbi-umbian. Sedangkan berikut ini adalah siklus dari fase pasca panen:

Berdasarkan diagram alir fase pasca panen diatas dapat dilihat bahwa separuh dari fase pasca panen merupakan fase anabolisme dan separuhnya lagi fase katabolisme. Pada fase pasca panen ini, buah dan sayuran yang ada sudah memiliki tingkat kematangan buah yang tepat pada fase klimaterik dan fase praklimateriknya. Sedangkan pada fase klimaterik puncak, mulai terlihat fase katabolisme sebagai efek tidak adanya lagi asupan nutrisi dari hasil fotosintesis dan berhentinya asupan karbondioksida dengan digantikan oleh asupan oksigen. Sehingga buah dan sayuran tersebut mulai mengalami fase stress, kemudian fase penuaan yang ditandai oleh mengungingnya daun, keluarnya abicic acid dan penipisan dinding sel, sampai akhirnya menjadi busuk.

Dari fase kehidupan buah dan sayuran inilah dikenal dua buah jenis buah, yaitu buah klimaterik dan buah klimaterik. Buah klimaterik dan buah non klimaterik dibedakan dari lama laju respirasinya, atau dengan kata lain lamanya ketahanan buah tersebut tanpa penyimpanan khusus. Buah klimaterik akan mengalami laju respirasinya lebih cepat, dengan lonjakan waktu respirasi sangat ekstrim. Dan memiliki kandungan amilum yang banyak, cenderung memiliki kulit buah yang tipis, serta kebanyakan bukan termasuk buah yang harus masak pohon. Sehingga buah klimaterik cenderung akan memiliki masa simpan yang pendek atau mudah busuk. Sedangkan buah non klimaterik mengalami laju respirasi yang lebih lambat, dengan lonjakan waktu respirasi yang tidak seekstrim buah klimaterik. Dan memiliki kandungan amilum yang tidak sebanyak buah klimaterik, cenderung memiliki kulit buah yang tebal, serta beberapa diantaranya termasuk buah masak pohon. Sehingga buah non klimaterik akan cenderung memiliki masa simpan yang lebih lama atau tidak terlalu cepat busuk.

Berikut ini akan dibahas TOMAT sebagai contoh buah klimaterik, beserta penjabaran alasannya. Tomat (Licopersicum esculentum) merupakan buah yang sering kita jumpai sehari-hari, di Indonesia lebih tepatnya di Pulau Jawa, sering digunakan sebagai salah satu bahan baku sambal. Tomat sangat baik untuk tubuh manusia karena mengandung karotin yang berperan sebagai provitamin A, mineral, protein, lemak dan kalori. Vitamin C yang ada didalamnya juga bermanfaat untuk antioksidan dan antisclorisis. Buah tomat yang telah dipanen akan tetap melangsungkan respirasi. Proses respirasi pada tomat terjadi dengan cepat dan menyebabkan pembusukan. Hal ini terjadi karena perubahan-perubahan kimia dalam buah tomat dari pro-vitamin A menjadi vitamin A, pro-vitamin C-menjadi Vitamin C, dan dari karbohidrat menjadi gula, yang menghasilkan CO2, H2O, dan etilen. Akumulasi produk-produk respirasi inilah yang menyebabkan pembusukan. Selain respirasi, buah tomat juga masih melakukan transpirasi. Aktivitas tersebut tidak dibarengi oleh aktivitas fotosintesis sehingga senyawa tertentu dirombak dan air menguap tanpa ada pasokan baru. Karena itulah tomat dikenal sebagai buah klimaterik karena masa simpannya yang pendek.

 
 

Leave a Reply

 
*