Tentang Padi

KATA PENGANTAR

Pertama-tama puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan kepada penulis, baik kesehatan jasmani, rohani dan material sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah tentang “Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan padi “  ini dengan baik. Shalawat beriringan salam semoga slalu kita sampaikan kepada junjungan  nabi besar Muhammad SAW

Yang  telah membawa kita semua keluar dari zaman kebodohan ke zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan ini.

Dan tak lupa trimakasih penulis ucapkan kepadaibu Dr. Ir. Etti Swasti, MS selaku dosen yang mengasuh mata kulia Ekologi Pertanian Kelas P. Terimakasih juga kepada teman-teman, dan semua pihak yang telah banyak membantu dalam penyelesaian penulisan makalah  ini. Makalah ini sengaja penulis buat sebagai salah satu tugasdalam kegiatan kuliah mata Kuliah Ekologi Pertanian Kelas P yang telah diberikan oleh ibu Dr. Ir. Etti Swasti , M.S. 

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangannya, baik dari segi tulisan, penyampaian, lsi danbanyak lainnya. Untuk itu kritik dan saran yangmembangun sangat penulis harapkan dari para pembaca semua. Agar kedepannya penulisanmakalah ini dapat lebih baik lagi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. makalah ini dapat lebih baik lagi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

 

 

 

Malang, 4 Desember  2011

 

 

Penyusun

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR.. 1

DAFTAR ISI. 2

BAB I  PENDAHULUAN.. 3

1.1  Latar Belakang. 3

1.2 Tujuan. 4

BAB II  ISI. 5

2.1 Definisi Tanaman Padi 5

2.2 Keanekaragaman Tanaman Padi 6

2.3 Penyebaran dan adaptasi 9

2.4 Faktor – faktor yang Mempengaruhi pertumbuhan padi 9

BAB III  PENUTUP. 12

3.1 Kesimpulan. 12

3.2  Saran. 12

DAFTAR PUSTAKA.. 13

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Padi (bahasa latin: Oryza sativa L.) adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Padi merupakan tanaman yang paling penting di negeri kita Indonesia ini. Betapa tidak karena makanan pokok di Indonesia adalah nasi dari beras yang tentunya dihasilkan oleh tanaman padi dan beras merupakan makanan sumber karbohidrat yang utama di kebanyakan negara Asia. Negara-negara lain seperti di benua Eropa, Australia dan Amerika mengkonsumsi beras dalam jumlah yang jauh lebih kecil daripada negara Asia. Selain itu jerami padi dapat digunakan sebagai penutup tanah pada suatu usaha tani. . Selain di Indonesia padi juga menjadi makanan pokok negara-negara di benua Asia lainnya seperti China, India, Thailand, Vietnam dan lain-lain. Padi merupakan tanaman berupa rumput berumpun. Tanaman pertanian ini berasal dari dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropis. Bukti sejarah memperlihatkan bahwa penanaman padi di Zhejiang (Cina) sudah dimulai pada 3.000 tahun SM. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di Hastinapur Uttar Pradesh India sekitar 100-800 SM. Selain Cina dan India, beberapa wilayah asal padi adalah Bangladesh Utara, Burma, Thailand, Laos, Vietnam.

Hama yang banyak menyerang tanaman ini adalah tikus, orong-orong, kepinding tanah (lembing batu), walang sangit dan wereng coklat. Hama-hama itulah yang sering menyebabkan padi gagal panen dan tentunya membuat petani merugi. Negara produsen padi terkemuka adalah Republik Rakyat Cina (31% dari total produksi dunia), India (20%), dan Indonesia (9%). Namun hanya sebagian kecil produksi padi dunia yang diperdagangkan antar negara (hanya 5%-6% dari total produksi dunia). Thailand merupakan pengekspor padi utama (26% dari total padi yang diperdagangkan di dunia) diikuti Vietnam (15%) dan Amerika Serikat (11%). Indonesia merupakan pengimpor padi terbesar dunia (14% dari padi yang diperdagangkan di dunia) diikuti Bangladesh (4%), dan Brazil (3%).

Terdapat 25 spesies Oryza, yang dikenal adalah O. sativa dengan dua subspesies yaitu Indica (padi bulu) yang ditanam di Indonesia dan Sinica (padi cere). Padi dibedakan dalam dua tipe yaitu padi kering (gogo) yang ditanam di dataran tinggi dan padi sawah di dataran rendah yang memerlukan penggenangan. Varitas unggul nasional berasal dari Bogor: Pelita I/1, Pelita I/2, Adil dan Makmur (dataran tinggi), Gemar, Gati, GH 19, GH 34 dan GH 120 (dataran rendah). Varitas unggul introduksi dari International Rice Research Institute (IRRI) Filipina adalah jenis IR atau PB yaitu IR 22, IR 14, IR 46 dan IR 54 (dataran rendah); PB32, PB 34, PB 36 dan PB 48 (dataran rendah).

1.2 Tujuan

1. Untuk mengetahui definisi tanaman padi.

2. Untuk mengetahui latar belakang tanaman padi

3. Untuk mengetahui keanekaragaman  tanaman  padi.

4. Untuk mengetahui peran tanaman padi bagi kehidupan.

5. Untuk mengetahui penyebaran dan adaptasi tanaman padi.

6. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman padi.

BAB II
ISI

2.1 Definisi Tanaman Padi

Padi (bahasa latin: Oryza sativa L.) adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Padi merupakan tanaman pangan berupa rumput berumpun. Tanaman pertanian kuno berasal dari dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropis. Bukti sejarah memperlihatkan bahwa penanaman padi di Zhejiang (Cina) sudah dimulai pada 3.000 tahun SM. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di Hastinapur Uttar Pradesh India sekitar 100-800 SM. Selain Cina dan India, beberapa wilayah asal padi adalah, Bangladesh Utara, Burma, Thailand, Laos, Vietnam.

Padi banyak varietasnya yang ditanam di sawah dan di ladang, sampai ketinggian 1.200 m dpl. Tanaman semak semusim ini berbatang basah, tingginya 50 cm – 1,5 m. Batang tegak, lunak, beruas, berongga, kasar, warna hijau. Daun tunggal berbentuk pita yang panjangnya 15-30 cm, lebar mencapai 2 ern, perabaan kasar, ujung runcing, tepi rata, berpelepah, pertulangan sejajar, hijau. Bunga rnajemuk berbentuk malai. Buahnya buah batu, terjurai pada tangkai, warna hijau, setelah tua menjadi kuning. Biji keras, bulat telur, putih atau merah. Butir-butir padi yang sudah lepas dari tangkainya disebut gabah, dan yang sudah dibuang kulit luarnya disebut beras. Bila beras ini dimasak, maka namanya menjadi nasi, yang merupakan bahan makanan utama bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Umumnya beras berwarna putih, walaupun ada beras yang berwarna merah. Tangkai butir 9 padi setelah dirontokkan gabahnya dan dijemur sampai kering, disebut merang. Padi yang termasuk keluarga rumput-rumputan ini ditanam dari bijinya secara langsung atau melalui persemaian dahulu.

 

 

 

 

Gambar 2. (Photographer : Oliver spalt, 2002)

Gambar 1. Tanaman Padi

2.2 Keanekaragaman Tanaman Padi

Keanekaragaman genetik

Hingga sekarang ada dua spesies padi yang dibudidayakan manusia secara massal: Oryza sativa yang berasal dari Asia dan O. glaberrima yang berasal dari Afrika Barat.

Pada awal mulanya O. sativa dianggap terdiri dari dua subspesies, indica dan japonica (sinonim sinica). Padi japonica umumnya berumur panjang, postur tinggi namun mudah rebah, lemmanya memiliki “ekor” atau “bulu” (Ing. awn), bijinya cenderung membulat, dan nasinya lengket. Padi indica, sebaliknya, berumur lebih pendek, postur lebih kecil, lemmanya tidak ber-”bulu” atau hanya pendek saja, dan bulir cenderung oval sampai lonjong. Walaupun kedua anggota subspesies ini dapat saling membuahi, persentase keberhasilannya tidak tinggi. Contoh terkenal dari hasil persilangan ini adalah kultivar ‘IR8′, yang merupakan hasil seleksi dari persilangan japonica (kultivar ‘Deegeowoogen’ dari Formosa) dengan indica (kultivar ‘Peta’ dari Indonesia). Selain kedua varietas ini, dikenal varietas minor javanica yang memiliki sifat antara dari kedua tipe utama di atas. Varietas javanica hanya ditemukan di Pulau Jawa.

Kajian dengan bantuan teknik biologi molekular sekarang menunjukkan bahwa selain dua subspesies O. sativa yang utama, indica dan japonica, terdapat pula subspesies minor tetapi bersifat adaptif tempatan, seperti aus (padi gogo dari Bangladesh), royada (padi pasang-surut/rawa dari Bangladesh), ashina (padi pasang-surut dari India), dan aromatic (padi wangi dari Asia Selatan dan Iran, termasuk padi basmati yang terkenal). Pengelompokan ini dilakukan menggunakan penanda RFLP dibantu dengan isozim.[4] Kajian menggunakan penanda genetik SSR terhadap genom inti sel dan dua lokus pada genom kloroplas menunjukkan bahwa pembedaan indica dan japonica adalah mantap, tetapi japonica ternyata terbagi menjadi tiga kelompok khas: temperate japonica (“japonica daerah sejuk” dari Cina, Korea, dan Jepang), tropical japonica (“japonica daerah tropika” dari Nusantara), dan aromatic. Subspesies aus merupakan kelompok yang terpisah.[5]

Berdasarkan bukti-bukti evolusi molekular diperkirakan kelompok besar indica dan japonica terpisah sejak ~440.000 tahun yang lalu dari suatu populasi spesies moyang O. rufipogon. Domestikasi padi terjadi di titik tempat yang berbeda terhadap dua kelompok yang sudah terpisah ini. Berdasarkan bukti arkeologi padi mulai dibudidayakan (didomestikasi) 10.000 hingga 5.000 tahun sebelum masehi.

Keanekaragaman budidaya

Padi gogo

Di beberapa daerah tadah hujan orang mengembangkan padi gogo, suatu tipe padi lahan kering yang relatif toleran tanpa penggenangan seperti di sawah. Di Lombok dikembangkan sistem padi gogo rancah, yang memberikan penggenangan dalam selang waktu tertentu s  ehingga hasil padi meningkat.

 

 

 

 

Gambar 2.1. Padi Gogo

Padi rawa

Padi rawa atau padi pasang surut tumbuh liar atau dibudidayakan di daerah rawa-rawa. Selain di Kalimantan, padi tipe ini ditemukan di lembah Sungai Gangga. Padi rawa mampu membentuk batang yang panjang sehingga dapat mengikuti perubahan kedalaman air yang ekstrem musiman.

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.2. Padi Rawa

      Keanekaragaman tipe beras/nasi

Padi pera

Padi pera adalah padi dengan kadar amilosa pada pati lebih dari 20% pada berasnya. Butiran nasinya jika ditanak tidak saling melekat. Lawan dari padi pera adalah padi pulen. Sebagian besar orang Indonesia menyukai nasi jenis ini dan berbagai jenis beras yang dijual di pasar Indonesia tergolong padi pulen. Penggolongan ini terutama dilihat dari konsistensi nasinya.

 

 

 

 

Gambar 2.3 Padi Pera.

Padi Ketan

Ketan (sticky rice), baik yang putih maupun merah/hitam, sudah dikenal sejak dulu. Padi ketan memiliki kadar amilosa di bawah 1% pada pati berasnya. Patinya didominasi oleh amilopektin, sehingga jika ditanak sangat lekat.

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.4 Padi  Ketan

 

 

Padi wangi

Padi wangi atau harum (aromatic rice) dikembangkan orang di beberapa tempat di Asia, yang terkenal adalah ras ‘Cianjur Pandanwangi’ (sekarang telah menjadi kultivar unggul) dan ‘rajalele’. Kedua kultivar ini adalah varietas javanica yang berumur panjang.

 

 

 

 

Gambar 2.5 Padi Wangi.

2.3 Penyebaran dan adaptasi

Asal-usul padi budidaya diperkirakan berasal dari daerah lembah Sungai Gangga dan Sungai Brahmaputra dan dari lembah Sungai Yangtse. Di Afrika, padi Oryza glaberrima ditanam di daerah Afrika barat tropika.

Padi pada saat ini tersebar luas di seluruh dunia dan tumbuh di hampir semua bagian dunia yang memiliki cukup air dan suhu udara cukup hangat. Padi menyukai tanah yang lembab dan becek. Sejumlah ahli menduga, padi merupakan hasil evolusi dari tanaman moyang yang hidup di rawa. Pendapat ini berdasar pada adanya tipe padi yang hidup di rawa-rawa (dapat ditemukan di sejumlah tempat di Pulau Kalimantan), kebutuhan padi yang tinggi akan air pada sebagian tahap kehidupannya, dan adanya pembuluh khusus di bagian akar padi yang berfungsi mengalirkan udara (oksigen) ke bagian akar.

2.4 Faktor – faktor yang Mempengaruhi pertumbuhan padi

1. Curah Hujan

Padi dibudidayakan pada lahan kering. Selama pertumbuhan, semua kebutuhan air sepenuhnya tergantung dari curah hujan. Curah hujan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan padi, yaitu curah hujan lebih dari 200 mm selama 3 bulan berturut-turut (De Datta 1981). Namun demikian, walaupun jumlah curah hujan dalam satu bulan mencapai 200 mm, tetapi jika distribusi curah hujan per bulan dalam satu periode kurang dari 10 hari maka pertumbuhan padi akan mengalami gangguan akibat kekurangan air (De Datta & Vergara 1975; De Datta 1981).

2. Ketinggian Tempat

Pertumbuhan padi sangat dipengaruhi oleh lingkungan tumbuhnya. Selain ketersediaan air, faktor lingkungan lain seperti ketinggian suatu daerah dann intensitas cahaya matahari juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Tanaman padi dapat tumbuh pada ketinggian 0 – 1300 m dpl, akan tetapi tidak semua tanaman padi dapat tumbuh  pada dataran tinggi. Intensitas cahaya minimum yang dibutuhkan untuk pertumbuhan padi sebesar 265 cal/cm2/hari. Intensitas cahaya kurang dari intensitas cahaya minimum akan menghambat pertumbuhan tanaman padi tersebut (Las & Muladi 1986).

3. Asupan Organik

Asupan organik dapat meningkatkan hasil panen padi, asupan organik dapat berupa kompos. Kompos dapat dibuat dari macam-macam sisa tanaman (seperti jerami, serasah tanaman, dan bahan dari tanaman lainnya), dengan tambahan pupuk kandang bila ada.  Daun pisang bisa menambah unsur potasium, daun-daun tanaman kacang-kacangan dapat menambah unsur N, dan tanaman lain seperti Tithonia dan Afromomum angustifolium, memberikan tamabahan unsur P.  Kompos menambah nutrisi tanah secara perlahan-lahan dan dapat memperbaiki struktur tanah.  Di tanah yang miskin jika tidak di pupuk kimia, secara otomatis perlu diberikan masukan nutrisi lain.

4.   Kondisi Tanah Tetap Lembab Tapi Tidak Tergenang Air

Secara tradisional penanaman padi biasanya selalu digenangi air.  Memang benar, bahwa padi mampu bertahan dalam air yang tergenang. Namun, sebenarnya air yang menggenang membuat sawah menjadi hypoxic (kekurangan oksigen) bagi akar dan tidak ideal untuk pertumbuhan.  Akar  padi akan mengalami  penurunan bila sawah digenangi air, hingga mencapai ¾ total akar saat tanaman mencapai masa berbunga.  Saat itu akar mengalami die back (akar hidup tapi bagian atas mati). Keadaan ini disebut juga “senescence”, yang merupakan proses alami, tapi menunjukkan tanaman sulit bernafas, sehingga menghambat fungsi dan pertumbuhan tanaman.

5. Jarak Tanam yang Lebar

Dibandingkan dengan baris yang sempit, bibit lebih baik ditanam dalam pola luasan yang cukup lebar dari segala arah.  Biasanya jarak minimalnya adalah 25 cm x 25 cm. Karena jarak tanam yang optimum (yang mampu menghasilkan rumpun subur tertinggi per m2) tergantung kepada struktur, nutrisi, suhu, kelembaban dan kondisi tanah yang lain. Pada prinsipnya tanaman harus mendapat ruang cukup untuk tumbuh.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Sebagai penutup dari makalah kami ini dapat kami simpulkan bahwa :

1. Tanaman padi merupakan salah satu tanaman yang perkecambahan digolongkan kedalam tipe hipogeal dimana munculnya radikel diikuti dengan pemanjangan plumula,hipokotil tidak memanjang ke atas permukaan tanah sedangkan kotiledon berada didalam kulit biji di bawah permukaan tanah.

2. Pada tanaman padi, proses perkecambahannya terdiri dari beberapa tahap yaitu imbibisi,aktivasi enzim, perombakan simpanan cadangan, inisiasi pertumbuhan embrio, pemunculan radikel, dan pemantapan kecambah.

3. Adapun faktor yang mempengaruhi perkecambahan padi ialah fakor internalnya yangterdiri dari kemasakan benih, ukuran benih, dormansi dan fitohormon, serta dipengaruhi juga oleh faktor eksternalnya yaitu air, temperatur, oksigen, dan cahaya.

3.2  Saran

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca khususnya dapat menambah wawasan.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://htn-alatpertanian.blogspot.com/2011/03/sekilas-tentang-tanaman-padi.html

http://agromaret.com/artikel/607/mengenal_tanaman_padi_di_indonesia

http://hifzhanberau.wordpress.com/2009/04/19/padi-dan-manfaatnya/

http://pangansehatalami.blogspot.com/2006/01/manfaat-padi.html

http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/50741/2011var_BAB%20II.%20Tinjauan%20Pustaka.pdf?sequence=3

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>