Comments Off on 3 Sektor Strategis Ekonomi Ramah Alam

3 Sektor Strategis Ekonomi Ramah Alam

2012
04.17

Ekonomi yang ramah alam berpotensi besar untuk memenuhi kebutuhan penduduk pada saat yang sama melestarikan lingkungan. Sistem ekonomi ini sangat penting terutama bagi negara-negara berkembang yang menghadapi ancaman eksploitasi dan kerusakan sumber daya alam. Ada tiga sektor yang menjadi kunci peralihan ke sistem ekonomi yang ramah alam di negara berkembang yaitu sektor pertanian, pengelolaan air dan kehutanan.

Tiga pendekatan ini sangat cocok diterapkan di negara tropis seperti Indonesia yang menjadikan pertanian, perairan dan kehutanan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. Berikut manfaat yang diperoleh suatu negara jika menerapkan pendekatan ramah lingkungan di ketiga sektor tersebut.

1. Sektor Pertanian dan Makanan

Menurut data Program Lingkungan PBB (UNEP), praktik pertanian yang berkelanjutan dan ramah alam bisa meningkatkan produksi pertanian antara 54% dan 179%, sehingga menambah nilai industri pertanian dalam perekonomi global sebesar US$1,5 trilyun hingga US$ 6,4 trilyun. Peningkatan produksi pertanian tidak hanya bisa memasok pangan yang cukup bagi petani dan keluarganya, namun juga bisa meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga.

Dan ada korelasi yang kuat antara peningkatan produksi pertanian dengan upaya mengurangi kemiskinan. Menurut UNEP, jika produksi pertanian naik sebesar 10%, tingkat kemiskinan di Afrika akan bisa dikurangi hingga 7% sementara di negara-negara Asia bisa dikurangi hingga 5%. Potensi ini akan lebih besar jika industri pertanian mampu mengurangi jumlah produk pertanian dan makanan yang terbuang baik dalam proses produksi, distribusi dan konsumsinya.

2. Sektor Kehutanan

Jika dunia mampu mengurangi kerusakan hutan dan sumber daya alam hingga separuh pada 2030, dunia akan mampu memangkas emisi gas rumah kaca sebesar 1,5- 2,7 gigaton CO2 per tahun. Nilai ini setara dengan memangkas 50% emisi CO2 Amerika Serikat pada 2008. Dan nilai manfaat dari upaya mencegah kerusakan perubahan iklim ini mencapai lebih dari US$3,7 trilyun.

3. Sumber Daya Air

Diperlukan investasi sebesar US$100-300 miliar per tahun untuk menjamin pasokan air yang berkelanjutan selama periode 2010-2050. Jika dilakukan, investasi ini akan bisa mengurangi permintaan air sebesar 20% pada 2050. Investasi ini juga bisa mengurangi eksploitasi air tanah (ground water) dan air permukaan (surface water) sekaligus menjamin pasokan air untuk kebutuhan rumah tangga maupun bisnis dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

India memanfaatkan strategi konservasi ini untuk melakukan reformasi pengelolaan sumber daya air sekaligus untuk membuka lapangan kerja. Melalui National Rural Employment Guarantee Act, India menjamin lapangan kerja selama 100 hari per tahun bagi penduduk di pedesaan untuk mengerjakan proyek konservasi air, irigasi dan pengolahan lahan. Proyek senilai US$6,4 miliar tersebut berhasil menyediakan lebih dari 3 miliar jam lapangan kerja dan bermanfaat bagi 60 juta keluarga.

Keberhasilan semua strategi di atas sangat tergantung pada regulasi dan komitmen dari pemerintah. Dukungan teknologi dan kemauan industri untuk berinovasi juga diperlukan, untuk menghemat sumber daya, meningkatkan ekonomi, sekaligus melestarikan lingkungan.

Sumber : http://www.hijauku.com/2012/02/03/3-sektor-strategis-ekonomi-ramah-alam/

Comments Off on 5 Investasi Menuju Ekonomi Hijau

5 Investasi Menuju Ekonomi Hijau

2012
04.17

Ekonomi yang ramah lingkungan memerlukan infrastruktur guna mendukung praktik ekonomi yang berkelanjutan.

Berikut adalah lima bentuk investasi yang mendukung peralihan dan perkembangan ke ekonomi yang ramah alam. Masing-masing negara memiliki potensi yang berbeda. Memenuhi kelima syarat infrastruktur di bawah ini akan menjadi landasan ideal sebuah ekonomi yang berkelanjutan.

Energi bersih.

Sebuah ekonomi yang ramah lingkungan akan terus mencari peluang untuk memromosikan dan berinvestasi di energi bersih, energi yang ramah lingkungan, guna menjawab kebutuhan energi yang terus meningkat.

Pada praktiknya, peralihan ke energi bersih akan bisa mengurangi biaya energi pada saat yang sama mengatasi masalah perubahan iklim yang dipicu salah satunya oleh pembakaran bahan bakar fosil. Investasi ke energi bersih juga membuka peluang pengembangan energi baru dan terbarukan. Upaya menciptakan akses energi untuk semua bisa dilakukan melalui reformasi, peningkatan kapasitas dan tata kelola sektor energi yang lebih baik.

Kota yang layak ditinggali.

Menciptakan kota yang aman dan layak ditinggali membawa manfaat besar saat urbanisasi terus meningkat. Hal ini bisa diwujudkan dengan merancang kota secara terintegrasi yang mampu memberikan akses atas air bersih dan fasilitas sanitasi yang layak; memerbaiki pengelolaan limbah dan infrastruktur; menghemat energi baik di perumahan maupun gedung-gedung komersial; mengurangi risiko dan meningkatkan daya tahan wilayah perkotaan terhadap perubahan iklim.

Sistem transportasi hijau.

Merencanakan sistem tranportasi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan menjadi isu penting dalam tata kelola perkotaan. Insfratruktur transportasi di perkotaan – menurut laporan ADB, UNEP dan ESCAP yang berjudul Green Growth, Resources and Resilience Environmental Sustainability in Asia and the Pacific – tidak akan bisa menampung jumlah kendaraan pribadi berapapun kapasitas infrastruktur yang disediakan.

Kemacetan dan masalah polusi akan terus merugikan ekonomi nasional dan merongrong Pendapatan Domestik Bruto suatu negara. Beralih ke sistem transportasi hijau yang hemat energi dan berkelanjutan (contoh, kereta, bis kota dan kendaraan tanpa motor) akan memberikan manfaat besar bagi penduduk perkotaan.

Investasi harus difokuskan pada sistem transportasi yang bersih, rendah karbon, aman, efisien, mudah diakses, tahan segala cuaca, dan terjangkau oleh masyarakat. Untuk mewujudkannya, diperlukan perencanaan dan kebijakan transportasi yang menyeluruh yang mendukung pembangunan dan ekonomi perkotaan.

Air dan sanitasi.

Tata kelola air dan sanitasi memerlukan perbaikan saat permintaan air terus meningkat. Yang harus dilakukan adalah memberikan akses atas air dan sanitasi yang bisa layak dan terjangkau tanpa melupakan ancaman perubahan iklim dan bencana alam. Upaya menjaga kualitas air tanah (groundwater) dan air permukaan (surface water) melalui konservasi dan tata kelola sumber air yang terintegrasi menjadi sebuah keharusan.

Irigasi Pertanian.

Pertanian adalah sektor yang paling banyak mengonsumsi air. Untuk mengatasinya diperlukan sebuah sistem pertanian yang ramah lingkungan dan efisien yang tidak hanya bisa mengurangi penggunaan air, namun juga bisa mencegah pemakaian bahan kimia, energi dan sumber daya lain secara berlebihan.

Sumber : http://www.hijauku.com/2012/02/22/5-investasi-menuju-ekonomi-hijau/

Comments Off on Mengelola Air dengan Kearifan Lokal

Mengelola Air dengan Kearifan Lokal

2012
04.17

Masyarakat Bali kembali menerapkan sistem tata kelola air terbaik berbasis kearifan lokal yang sempat rusak oleh ‘revolusi hijau’. Selama ratusan tahun para petani di Bali telah menerapkan sistem pengelolaan air yang mengatur penggunaan air dari hulu ke hilir. Sistem bernama subak ini melibatkan kelompok petani yang saling bermusyarah ketika musim tanam tiba untuk mengatur irigasi sesuai dengan keperluan mereka.

Komunitas petani di hulu dan hilir saling terhubung oleh fasilitas irigasi ini. Dengan mengatur kebutuhan air di hulu dan hilir para petani tidak hanya bisa menyuburkan tanaman namun juga bisa menjaga habitat alami yang bisa berfungsi mengontrol hama.

Dalam sistem ini, prioritas penggunaan air di lahan pertanian hanya akan dimaksimalkan pada waktu-waktu yang produktif. Anggota kelompok masyarakat saling bermusyawarah untuk mengelola dan mengaturnya. Melalui sistem ini lahan pertanian bisa dikelola sehingga bisa menciptakan sistem pertanian yang berkelanjutan dengan masa panen yang bisa diprediksi dan mampu menganggulangi masalah hama terutama hama tikus.

Namun menurut laporan Program Lingkungan PBB, sistem ini sempat rusak pada tahun 1970-an saat Bank Pembangunan Asia (ADB) menerapkan program peningkatan hasil panen yang menjadi bagian dari “Revolusi Hijau”.

“Revolusi Hijau” pada masa itu bertolak belakang dengan gerakan hijau saat ini yang kembali ke alam. “Revolusi Hijau” pada 1970-an hanya menekankan pada produktifitas tanpa memertimbangkan keberlangsungan ekosistem.

Para petani berhenti berkoordinasi dalam mengatur sistem irigasi hulu dan hilir dan menerapkan rekomendasi ADB yang memerkenalkan jadwal irigasi baru dan meningkatkan penggunaan pestisida. Selama beberapa tahun hasil panen di Bali meningkat, namun peningkatan hasil panen ini hanya berlangsung sementara. Bencana terjadi, hama merajalela, hasil panen pun anjlok. Para petani akhirnya kembali menerapkan sistem pengelolaan air tradisional dan ekosistem berbasis pertanian mereka sehingga hasil panen petani kembali stabil.

Sumber : http://www.hijauku.com/2012/03/16/belajar-mengelola-air-dari-bali/

Comments Off on Senter Tenaga Surya untuk Wilayah Tropis

Senter Tenaga Surya untuk Wilayah Tropis

2012
04.17

Penduduk di negara tropis yang kaya cahaya matahari seperti Indonesia, cocok menggunakan senter ini. Senter tenaga surya ini dikembangkan oleh perusahaan yang bernama bogolight.com. Tidak hanya menjual produk, perusahaan ini juga memiliki misi sosial. Nama “Bogo” yang dipakai sebagai merek produknya berarti “Buy one, Give one” atau “Beli Satu Sumbangkan Satu”.

Cukup dengan membeli satu senter seharga US$29 Anda akan menyumbang senter yang sama untuk penduduk di negara miskin dan berkembang. Program ini sangat bermanfaat bagi penduduk miskin yang tinggal di lokasi terpencil yang belum memiliki akses terhadap sumber energi. Cahaya matahari adalah sumber energi ideal mereka sehingga mereka tetap bisa beraktifitas di malam hari tanpa terganggu oleh pasokan listrik.

Lampu senter bertenaga surya ini juga bisa membantu anak-anak di negara berkembang untuk belajar dan membaca di malam hari. Wanita yang keluar pada malam hari juga lebih aman jika membawa lampu ini dan keluarga bisa mengurangi ketergantungan akan minyak tanah (kerosene) dan sumber penerangan lain yang tidak ramah lingkungan.

Berbeda dengan lampu senter bertanaga matahari biasa yang dijual di negara berkembang yang biasanya tidak tahan lama, lampu senter BoGo ini menurut situs perusahaan diklaim mampu bertahan hingga 20 tahun. Dibutuhkan waktu 8 jam untuk mengisinya dan senter ini siap dipakai selama 4-5 jam. Panel surya di senter ini memroduksi daya setara dengan 3 baterai isi ulang standar ukuran AA.

Senter ini juga menggunakan 6 buah lampu Light Emitting Diodes (LEDs) yang lebih terang dan hemat energi sehingga nyaman saat digunakan untuk membaca pada malam hari.

Sumber : http://www.hijauku.com/2012/03/04/senter-tenaga-surya-untuk-wilayah-tropis/

Comments Off on Menghijaukan Hutan di Gurun Sahara

Menghijaukan Hutan di Gurun Sahara

2012
04.17

Sebentar lagi, gurun tak lagi menjadi tempat berpasir yang membosankan namun akan menjadi tempat yang bisa menghasilkan makanan, energi bahkan air bersih. Mimpi-mimpi tersebut akan terwujud sebentar lagi melalui Proyek Hutan Sahara (The Sahara Forest Project) hasil kerja sama antara Yara International ASA dan perusahaan pupuk asal Qatar, Qafco. Dalam proyek perdana ini mereka ingin mengubah gurun di Qatar menjadi ruang hijau.

Perjanjian kerja sama proyek ditandatangani antara CEO Qafco, Khalifa A. Al-Sowaidi, CEO Yara International, Jørgen Ole Haslestad dan CEO The Sahara Forest Project, Joakim Hauge pada 2009. Qafco dan Yara International bersama-sama akan mendanai proyek bernilai US$ 5,3 juta ini. Masing-masing pihak telah melakukan persiapan dan proyek perdana ini ditargetkan akan beroperasi pada Desember 2012.

Proyek Hutan Sahara di Qatar ini akan menyediakan fasilitas riset unik yang menjadi ajang pembuktian teknologi lingkungan yang mampu menghijaukan wilayah gurun di seluruh dunia. Proyek di atas lahan seluas 10.000 m2 ini dirancang untuk memroduksi makanan, air dan energi, pada saat yang sama mampu menyerap emisi karbon dioksida dari atmosfer.

Di dalamnya akan dilengkapi fasilitas rumah kaca dengan sistem irigasi air laut, pembangkit energi tenaga surya untuk pemanas dan sumber kelistrikan, serta kolam untuk memroduksi garam dan mengolah air laut menjadi air tawar.
Pusat penelitian dan pengembangan alga juga akan dibangun di lokasi ini. Dengan volume 50 m3, fasilitas penelitian alga ini bisa memroduksi alga dalam skala komersial yang bisa digunakan sebagai bahan baku obat, biofuel serta makanan hewan dan ikan.

Di luar ruangan, akan dikembangkan ruang terbuka hijau dengan menggunakan tanaman produktif yang tahan air asin. Ruang terbuka hijau ini juga berfungsi sebagai peneduh dan penjaga kelembapan suhu udara sekitar. Tanaman juga berfungsi sebagai sumber makanan ternak dan bahan baku energi biologi (bio energy).

Proyek Hutan Sahara kedua saat ini juga tengah berlangsung di wilayah Aqaba, di dekat Laut Merah, Yordania. Proyek yang didanai oleh pemerintah Norwegia ini ditargetkan akan menyelesaikan ruang hijau seluas 200.000 meter persegi pada tahun ini.

Sumber : http://www.hijauku.com/2012/03/12/menghijaukan-hutan-di-gurun-sahara/