Archive for the ‘Teknologi’ Category

Comments Off on Mengelola Air dengan Kearifan Lokal

Mengelola Air dengan Kearifan Lokal


2012
04.17

Masyarakat Bali kembali menerapkan sistem tata kelola air terbaik berbasis kearifan lokal yang sempat rusak oleh ‘revolusi hijau’. Selama ratusan tahun para petani di Bali telah menerapkan sistem pengelolaan air yang mengatur penggunaan air dari hulu ke hilir. Sistem bernama subak ini melibatkan kelompok petani yang saling bermusyarah ketika musim tanam tiba untuk mengatur irigasi sesuai dengan keperluan mereka.

Komunitas petani di hulu dan hilir saling terhubung oleh fasilitas irigasi ini. Dengan mengatur kebutuhan air di hulu dan hilir para petani tidak hanya bisa menyuburkan tanaman namun juga bisa menjaga habitat alami yang bisa berfungsi mengontrol hama.

Dalam sistem ini, prioritas penggunaan air di lahan pertanian hanya akan dimaksimalkan pada waktu-waktu yang produktif. Anggota kelompok masyarakat saling bermusyawarah untuk mengelola dan mengaturnya. Melalui sistem ini lahan pertanian bisa dikelola sehingga bisa menciptakan sistem pertanian yang berkelanjutan dengan masa panen yang bisa diprediksi dan mampu menganggulangi masalah hama terutama hama tikus.

Namun menurut laporan Program Lingkungan PBB, sistem ini sempat rusak pada tahun 1970-an saat Bank Pembangunan Asia (ADB) menerapkan program peningkatan hasil panen yang menjadi bagian dari “Revolusi Hijau”.

“Revolusi Hijau” pada masa itu bertolak belakang dengan gerakan hijau saat ini yang kembali ke alam. “Revolusi Hijau” pada 1970-an hanya menekankan pada produktifitas tanpa memertimbangkan keberlangsungan ekosistem.

Para petani berhenti berkoordinasi dalam mengatur sistem irigasi hulu dan hilir dan menerapkan rekomendasi ADB yang memerkenalkan jadwal irigasi baru dan meningkatkan penggunaan pestisida. Selama beberapa tahun hasil panen di Bali meningkat, namun peningkatan hasil panen ini hanya berlangsung sementara. Bencana terjadi, hama merajalela, hasil panen pun anjlok. Para petani akhirnya kembali menerapkan sistem pengelolaan air tradisional dan ekosistem berbasis pertanian mereka sehingga hasil panen petani kembali stabil.

Sumber : http://www.hijauku.com/2012/03/16/belajar-mengelola-air-dari-bali/

Comments Off on Senter Tenaga Surya untuk Wilayah Tropis

Senter Tenaga Surya untuk Wilayah Tropis


2012
04.17

Penduduk di negara tropis yang kaya cahaya matahari seperti Indonesia, cocok menggunakan senter ini. Senter tenaga surya ini dikembangkan oleh perusahaan yang bernama bogolight.com. Tidak hanya menjual produk, perusahaan ini juga memiliki misi sosial. Nama “Bogo” yang dipakai sebagai merek produknya berarti “Buy one, Give one” atau “Beli Satu Sumbangkan Satu”.

Cukup dengan membeli satu senter seharga US$29 Anda akan menyumbang senter yang sama untuk penduduk di negara miskin dan berkembang. Program ini sangat bermanfaat bagi penduduk miskin yang tinggal di lokasi terpencil yang belum memiliki akses terhadap sumber energi. Cahaya matahari adalah sumber energi ideal mereka sehingga mereka tetap bisa beraktifitas di malam hari tanpa terganggu oleh pasokan listrik.

Lampu senter bertenaga surya ini juga bisa membantu anak-anak di negara berkembang untuk belajar dan membaca di malam hari. Wanita yang keluar pada malam hari juga lebih aman jika membawa lampu ini dan keluarga bisa mengurangi ketergantungan akan minyak tanah (kerosene) dan sumber penerangan lain yang tidak ramah lingkungan.

Berbeda dengan lampu senter bertanaga matahari biasa yang dijual di negara berkembang yang biasanya tidak tahan lama, lampu senter BoGo ini menurut situs perusahaan diklaim mampu bertahan hingga 20 tahun. Dibutuhkan waktu 8 jam untuk mengisinya dan senter ini siap dipakai selama 4-5 jam. Panel surya di senter ini memroduksi daya setara dengan 3 baterai isi ulang standar ukuran AA.

Senter ini juga menggunakan 6 buah lampu Light Emitting Diodes (LEDs) yang lebih terang dan hemat energi sehingga nyaman saat digunakan untuk membaca pada malam hari.

Sumber : http://www.hijauku.com/2012/03/04/senter-tenaga-surya-untuk-wilayah-tropis/

Comments Off on Menghijaukan Hutan di Gurun Sahara

Menghijaukan Hutan di Gurun Sahara


2012
04.17

Sebentar lagi, gurun tak lagi menjadi tempat berpasir yang membosankan namun akan menjadi tempat yang bisa menghasilkan makanan, energi bahkan air bersih. Mimpi-mimpi tersebut akan terwujud sebentar lagi melalui Proyek Hutan Sahara (The Sahara Forest Project) hasil kerja sama antara Yara International ASA dan perusahaan pupuk asal Qatar, Qafco. Dalam proyek perdana ini mereka ingin mengubah gurun di Qatar menjadi ruang hijau.

Perjanjian kerja sama proyek ditandatangani antara CEO Qafco, Khalifa A. Al-Sowaidi, CEO Yara International, Jørgen Ole Haslestad dan CEO The Sahara Forest Project, Joakim Hauge pada 2009. Qafco dan Yara International bersama-sama akan mendanai proyek bernilai US$ 5,3 juta ini. Masing-masing pihak telah melakukan persiapan dan proyek perdana ini ditargetkan akan beroperasi pada Desember 2012.

Proyek Hutan Sahara di Qatar ini akan menyediakan fasilitas riset unik yang menjadi ajang pembuktian teknologi lingkungan yang mampu menghijaukan wilayah gurun di seluruh dunia. Proyek di atas lahan seluas 10.000 m2 ini dirancang untuk memroduksi makanan, air dan energi, pada saat yang sama mampu menyerap emisi karbon dioksida dari atmosfer.

Di dalamnya akan dilengkapi fasilitas rumah kaca dengan sistem irigasi air laut, pembangkit energi tenaga surya untuk pemanas dan sumber kelistrikan, serta kolam untuk memroduksi garam dan mengolah air laut menjadi air tawar.
Pusat penelitian dan pengembangan alga juga akan dibangun di lokasi ini. Dengan volume 50 m3, fasilitas penelitian alga ini bisa memroduksi alga dalam skala komersial yang bisa digunakan sebagai bahan baku obat, biofuel serta makanan hewan dan ikan.

Di luar ruangan, akan dikembangkan ruang terbuka hijau dengan menggunakan tanaman produktif yang tahan air asin. Ruang terbuka hijau ini juga berfungsi sebagai peneduh dan penjaga kelembapan suhu udara sekitar. Tanaman juga berfungsi sebagai sumber makanan ternak dan bahan baku energi biologi (bio energy).

Proyek Hutan Sahara kedua saat ini juga tengah berlangsung di wilayah Aqaba, di dekat Laut Merah, Yordania. Proyek yang didanai oleh pemerintah Norwegia ini ditargetkan akan menyelesaikan ruang hijau seluas 200.000 meter persegi pada tahun ini.

Sumber : http://www.hijauku.com/2012/03/12/menghijaukan-hutan-di-gurun-sahara/

Comments Off on Energi Bersih Terangi Desa-desa Afghanistan

Energi Bersih Terangi Desa-desa Afghanistan


2012
04.16

Lebih dari 6.200 keluarga di wilayah pedesaan dan wilayah terpencil Afghanistan akan terhubung ke sumber energi bersih.

Mimpi tersebut terwujud dengan dimulainya proyek pembangkit listrik tenaga air mikro oleh Program Pembangunan PBB (UNDP).

Keluarga yang sebelumnya mengandalkan minyak tanah dan bahan bakar berpolusi lain untuk memasak, membina usaha dan memanaskan ruangan, akan mendapatkan pasokan listrik berdaya lebih dari 700 KW yang berasal dari 34 turbin listrik bertenaga air.

Masing-masing turbin listrik kompak ini dibangun di sepanjang sungai dan bendungan, mengubah tenaga air yang bebas polusi menjadi listrik untuk 40 hingga 1.000 keluarga.

Enam turbin listrik tenaga air yang dibangun setahun yang lalu sudah mulai beroperasi, memasok 153 KW listrik ke lebih dari 1.200 keluarga di lima provinsi di Afghanistan.

Sekitar 85% wilayah pedesaan di Afghanistan kekurangan pasokan listrik, sementara di wilayah perkotaan pasokan listrik tidak bisa diandalkan.

Komunitas di Afghanistan telah meminta bantuan sebanyak 150 unit pembangkit listrik tenaga air mikro dengan biaya antara US$25.000 hingga US$165.000, yang menunjukkan tinggginya kebutuhan negara yang didera oleh invasi dan perang berkepanjangan itu terhadap energi bersih.

Saat ini terdapat 28 pembangkit listrik tenaga air mikro yang tengah dibangun dengan kapasitas energi yang diharapkan mencapai 550 KW. Pembangkit-pembangkit listrik ini akan membantu memasok energi bersih ke lebih dari 5.000 rumah tangga di wilayah tersebut.

Proyek pembangunan energi ini juga berdampak pada dibangunnya fasilitas-fasilitas lain seperti pembangunan sekolah-sekolah baru, fasilitas sanitasi dan air bersih dan proyek-proyek irigasi bagi masyarakat sekitar.

Proyek Energi bagi Pembangunan Pedesaan dari UNDP ini adalah komponen penting dari Program Pembangunan Nasional Afghanistan yang saat ini berlangsung di tujuh provinsi yaitu: provinsi Badakhshan, Takhar, Samangam, Ghor, Herat, Bamiyan dan Panjshir.

Sumber : http://www.hijauku.com/2011/09/08/energi-bersih-terangi-desa-desa-afghanistan/

Comments Off on Memanen Energi Surya Dengan Lebih Efisien

Memanen Energi Surya Dengan Lebih Efisien


2012
04.16

Tenaga surya bisa “dipanen” secara lebih efisien dan dikirim dari jarak jauh menggunakan sirkuit molekular mikro.
Semua ini terungkap dari hasil penelitian terbaru yang terinspirasi oleh proses fotosintesis, sebagaimana dikutip dari laporan situs University College London.

Penelitian mengenai cara tanaman, alga dan sejumlah bakteri menggunakan proses mekanika kuantum guna meningkatkan produksi energi melalui proses fotosintesis ini diterbitkan oleh jurnal Nature Chemistry. Dalam laporan ini, ilmuwan juga mengungkapkan cara menciptakan sirkuit molekuler yang ukurannya 10 kali lebih kecil dibanding kabel listrik mini yang terdapat dalam prosesor komputer. Mereka juga menerangkan cara jaringan energi listrik molekuler menangkap, mengirim, mengatur dan meningkatkan produksi energi sinar surya.

Profesor Gregory Scholes, dari Universitas Toronto yang memimpin penelitian ini menyatakan: “Produksi energi surya (yang ada saat ini) dimulai dengan diserapnya energi cahaya oleh jaringan molekul. Energi ini kemudian disimpan sementara dalam bentuk elektron yang terus bergerak yang kemudian dikirim ke reaktor yang sesuai.”

“Proses ini mirip dengan proses biologis dalam fotosintesis. Dalam proses fotosintesis, jaringan antenna yang mengandung klorofil menangkap sinar dan mengarahkan energi ke protein khusus yang bertugas memroduksi oksigen dan gula. Proses ini seperti menancapkan protein-protein tersebut (sebagai pusat reaksi) ke colokan (sumber) energi surya.”

Dalam proses alami, energi surya ditangkap oleh molekul “berwarna” atau molekul yang mengandung pigmen, namun energi itu hanya disimpan selama sepermilar detik, sehingga waktu untuk mengirim energi dari pigmen ke mesin molekuler yang memroduksi bahan bakar atau listrik sangat singkat. Kunci untuk menyimpan dan mengirim energi dengan sangat cepat adalah dengan mengumpulkan penciptaan energi melalui proses kuantum dari antenna yang hanya tersusun dari puluhan pigmen.

Dr Alexandra Olaya-Castro, ilmuwan dari jurusan Fisika dan Astronomi yang turut meneliti proses ini menyatakan: “Saat matahari bersinar terang, lebih dari 100 juta milliar partikel cahaya “berwarna” merah dan biru menyinari daun setiap detiknya.

“Dalam kondisi seperti ini, tanaman dituntut untuk bisa menggunakan energi itu untuk tumbuh dan membuang kelebihan energi yang bisa merusak. Menyalurkan energi dengan cepat dan teratur adalah kunci dari sistem ‘pemanenan’ energi surya.

“Dengan memastikan semua indikator energi dalam proses penyaluran energi turut terlibat, antenna alami berhasil menggabungkan fenomena klasik dan kuantum untuk memastikan proses pengumpulan dan distribusi energi surya dilakukan secara efisien dan terstruktur.”

Sumber : http://www.hijauku.com/2011/10/11/memanen-energi-surya-dengan-lebih-efisien/