Ekowisata Selamatkan Alam Kamboja

2012
05.08

Konservasi keragaman hayati dan insiatif ekowisata di wilayah Kamboja bagian utara berhasil meningkatkan pendapatan penduduk miskin dan menghindari punahnya salah satu spesies penting dunia yaitu burung Ibis (Kuntul) berpundak putih.
Inisiatif – yang didanai oleh Global Environment Facility (GEF) melalui UNDP dan dilaksanakan oleh pemerintah Kamboja bekerja sama dengan Wildlife Conservation Society yang berbasis di Amerika Serikat – ini berhasil meningkatkan jumlah kunjungan wisata ke Desa Tmatboey, di Provinsi Preah Vihear, Kamboja, sebesar lebih dari 25% setiap tahun sejak proyek ini diluncurkan pada tahun 2004.
Selama tujuh tahun terakhir, perkembangan industri wisata di wilayah tersebut telah membantu membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan taraf hidup masyarakat Desa Tmatboey yang terdiri dari 237 keluarga yang sebelumnya bergantung dari menanam padi, menjual hasil hutan, hewan liar serta beternak ikan musiman. Praktik perburuan dan penjualan hasil hutan illegal ini mengancam kelestarian margasatwa di wilayah itu, termasuk keberadaan 40 spesies yang masuk dalam daftar ancaman kepunahan dari International Union for Conservation of Nature, salah satunya adalah burung Kuntul berpundak putih yang masuk dalam kategori “sangat terancam”.
“Memakan burung hanya akan mengeyangkan perut sekali ,” ujar Yin Sary, mantan pemburu liar yang kini menjadi pemandu wisata. “Tapi saya mendapat bayaran lima dollar dengan mengantar turis menyaksikan burung-burung itu, dan masyarakat kami memperoleh ribuan dollar dengan memandu turis melihat obyek yang sama.”
Dana yang diperoleh dari industri wisata itu kemudian dikelola bersama oleh masyarakat. Dana yang jumlahnya kini mencapai US$26.000 tersebut digunakan untuk proyek pembangunan desa termasuk untuk membantu industri pertanian, memperbaiki jalan dan membangun sumur dan pompa air baru.
Dengan berkurangnya praktik perdagangan dan perburuan hewan liar, proyek konservasi di wilayah ini berhasil menambah jumlah burung Kuntul berpundak putih produktif yang bersarang dari hanya satu sarang pada tahun 2002 menjadi lima sarang pada tahun 2010.
Di bawah proyek UNDP-GEF, anggota masyarakat – yang dibina oleh Wildlife Conservation Society dan mitra LSM lain – kini terjun langsung mengelola akomodasi pengunjung, dengan menyediakan fasilitas konsumsi dan memandu wisata.
Diantara mereka yang terlibat dalam proyek ekowisata tersebut adalah Shreng Chriang. Gadis berusia 20 tahun ini kehilangan pendapatan tetap setelah keluarganya menjual sawah guna menutup biaya pengobatan ayah mereka yang sakit-sakitan. Dari pekerjaannya di industri ekowisata, Chriang berhasil memeroleh tambahan pendapatan sebesar US$190 per tahun. Berkat kesuksesan program konservasi di wilayah Tmatboey ini, Kementrian Lingkungan Hidup Kamboja berencana menerapkan model bisnis ekowisata itu ke wilayah lain di Negeri Pagoda tersebut.

Sumber : http://www.hijauku.com/2011/09/09/ekowisata-selamatkan-kekayaan-alam-kamboja/