Curitiba, Kota Ramah Lingkungan dari Brasil

2012
05.23

Pertumbuhan pesat di wilayah perkotaan membawa tantangan sosial, ekonomi dan lingkungan yang berat bagi penduduk, perusahaan dan pemerintah kota. Curitiba berhasil mengatasi semuanya. Tanpa perencanaan dan pembiayaan yang memadai yang mengakomodir terus bertambahnya jumlah penduduk, kota akan menghadapi berbagai macam masalah dari mulai pemukiman kumuh, hingga ketergantungan pada kendaraan pribadi akibat fasilitas transportasi publik yang kurang memadai.
Brasil adalah negara dengan populasi perkotaan terbesar no.4 di dunia setelah China, India, dan AS. Penduduk Brasil tumbuh 1,8% setiap tahun antara tahun 2005 dan 2010. Namun di kota Curitiba, ibu kota negara bagian Parana, Brasil, tantangan ini berhasil diatasi dalam beberapa dekade terakhir dengan menggunakan sistem yang inovatif sehingga Curitiba menjadi inspirasi kota-kota lain di negara itu bahkan di dunia.
Melalui perencanaan, pengelolaan dan penciptaan sistem transportasi perkotaan yang inovatif sejak tahun 1960-an, Curitiba berhasil mengatasi masalah pertumbuhan penduduk dari 361.000 (pada 1960) ke 1,828 juta (pada tahun 2008), tanpa masalah yang berarti terkait emisi, polusi dan berkurangnya ruang publik.
Kepadatan populasi dalam kota meningkat tiga kali lipat dari tahun 1970 ke 2008. Namun pada saat yang sama, rata-rata ruang hijau juga meningkat dari 1 km² per penduduk menjadi lebih dari 50 km² per penduduk. Salah satu unsur terpenting dalam rencana pembangunan perkotaan di Curitiba adalah pemilihan strategi pertumbuhan yang bisa mensiasati kepadatan penduduk sekaligus melindungi ruang hijau.
Curitiba memakai pola pembangunan “radial segaris-bercabang” (radial linear-branching pattern) yang – melalui kombinasi pengaturan zona lahan dan infrastruktur transportasi publik – berupaya mengalihkan lalu lintas dari pusat kota dan membangun perumahan, pusat layananan dan industri dalam lokasi sumbu radial.
Manfaat Bagi Ekonomi dan Lingkungan
Kota bisa membantu mengurangi emisi CO² jika mereka berhasil menerapkan kebijakan pengurangan emisi yang terkoordinasi di sektor transportasi dan properti, dua sumber utama emisi di perkotaan. Curitiba berhasil membuktikan hal ini. Tingkat penggunaan transportasi publik di Curitiba tertinggi di Brasil (45% dari total perjalanan). Curitiba juga menjadi salah satu kota dengan tingkat polusi terendah di Brasil.
Kota ini juga meraih manfaat lain berupa efisiensi ekonomi dan sumber daya. Konsumsi BBM di Curitiba 30% lebih rendah dibandingkan kota-kota besar lain di Brasil. Pemborosan BBM per kapita akibat kemacetan lalu lintas – nilainya di Curitiba diperkirakan mencapai US$1 juta pada tahun 2002 – 13 dan 14 kali lebih rendah dibanding di Sao Paulo dan Rio de Janeiro. Waktu yang terbuang akibat kemacetan di Curitiba, 11 dan 7 kali lebih rendah dibanding di dua kota tersebut.
Kebijakan dan perencanaan infrastruktur ekologis dan aktivitas industri
Curitiba berhasil mengatasi masalah banjir dengan mengubah area yang rawan menjadi taman dan menciptakan danau buatan untuk menampung banjir. Biaya yang dibutuhkan untuk strategi ini – termasuk untuk merelokasi wilayah pemukiman kumuh – diperkirakan lima kali lebih rendah dibanding ketika kota harus membangun saluran kanal banjir. Efek positif lain yang patut diperhitungkan; nilai properti dan penerimaan pajak di wilayah ini juga terus naik.
Pemerintah lokal membangun Kota Industri Curitiba (Curitiba Industrial City) di sebelah barat kota dengan mempertimbangkan arah angin agar pusat kota terhindar dari polusi. CIC menerapkan aturan lingkungan yang ketat. Industri yang menimbulkan polusi tidak diijinkan beroperasi di wilayah ini. Setelah tiga dekade, CIC sekarang dihuni oleh lebih dari 700 perusahaan, termasuk produsen mobil yang memroduksi bis BRT (mirip dengan bis Trans Jakarta) dan sejumlah perusahaan teknologi dan informasi.
CIC juga berhasil membuka 50.000 lapangan kerja langsung dan 150.000 lapangan kerja tidak langsung dan menyumbang 20% dari nilai ekspor negara bagian. Hal lain yang patut dicontoh, Curitiba memerkenalkan sistem pengelolaan limbah dan mendorong warga melakukan pemisahan sampah dan mendaur ulang. Kini, 70% warga Curitiba aktif mendaur ulang. Sebanyak 13% sampah padat didaur ulang di dalam kota, jumlah ini jauh lebih banyak dibanding di Sao Paulo yang hanya 1%. Curitiba adalah contoh sebuah kota yang – dengan perencanaannya yang cerdas – berhasil menghindari kerugian sosial, ekonomi dan lingkungan akibat pertumbuhan ekonomi, sekaligus berhasil meningkatkan efisiensi, produktifitas dan kualitas hidup penduduknya. Seandainya semua kota di Indonesia bisa seperti ini

Sumber : http://www.hijauku.com/2011/10/27/curitiba-kota-ramah-lingkungan-dari-brasil/