Archive for April 16th, 2012

Comments Off on Energi Bersih Terangi Desa-desa Afghanistan

Energi Bersih Terangi Desa-desa Afghanistan


2012
04.16

Lebih dari 6.200 keluarga di wilayah pedesaan dan wilayah terpencil Afghanistan akan terhubung ke sumber energi bersih.

Mimpi tersebut terwujud dengan dimulainya proyek pembangkit listrik tenaga air mikro oleh Program Pembangunan PBB (UNDP).

Keluarga yang sebelumnya mengandalkan minyak tanah dan bahan bakar berpolusi lain untuk memasak, membina usaha dan memanaskan ruangan, akan mendapatkan pasokan listrik berdaya lebih dari 700 KW yang berasal dari 34 turbin listrik bertenaga air.

Masing-masing turbin listrik kompak ini dibangun di sepanjang sungai dan bendungan, mengubah tenaga air yang bebas polusi menjadi listrik untuk 40 hingga 1.000 keluarga.

Enam turbin listrik tenaga air yang dibangun setahun yang lalu sudah mulai beroperasi, memasok 153 KW listrik ke lebih dari 1.200 keluarga di lima provinsi di Afghanistan.

Sekitar 85% wilayah pedesaan di Afghanistan kekurangan pasokan listrik, sementara di wilayah perkotaan pasokan listrik tidak bisa diandalkan.

Komunitas di Afghanistan telah meminta bantuan sebanyak 150 unit pembangkit listrik tenaga air mikro dengan biaya antara US$25.000 hingga US$165.000, yang menunjukkan tinggginya kebutuhan negara yang didera oleh invasi dan perang berkepanjangan itu terhadap energi bersih.

Saat ini terdapat 28 pembangkit listrik tenaga air mikro yang tengah dibangun dengan kapasitas energi yang diharapkan mencapai 550 KW. Pembangkit-pembangkit listrik ini akan membantu memasok energi bersih ke lebih dari 5.000 rumah tangga di wilayah tersebut.

Proyek pembangunan energi ini juga berdampak pada dibangunnya fasilitas-fasilitas lain seperti pembangunan sekolah-sekolah baru, fasilitas sanitasi dan air bersih dan proyek-proyek irigasi bagi masyarakat sekitar.

Proyek Energi bagi Pembangunan Pedesaan dari UNDP ini adalah komponen penting dari Program Pembangunan Nasional Afghanistan yang saat ini berlangsung di tujuh provinsi yaitu: provinsi Badakhshan, Takhar, Samangam, Ghor, Herat, Bamiyan dan Panjshir.

Sumber : http://www.hijauku.com/2011/09/08/energi-bersih-terangi-desa-desa-afghanistan/

Comments Off on Memanen Energi Surya Dengan Lebih Efisien

Memanen Energi Surya Dengan Lebih Efisien


2012
04.16

Tenaga surya bisa “dipanen” secara lebih efisien dan dikirim dari jarak jauh menggunakan sirkuit molekular mikro.
Semua ini terungkap dari hasil penelitian terbaru yang terinspirasi oleh proses fotosintesis, sebagaimana dikutip dari laporan situs University College London.

Penelitian mengenai cara tanaman, alga dan sejumlah bakteri menggunakan proses mekanika kuantum guna meningkatkan produksi energi melalui proses fotosintesis ini diterbitkan oleh jurnal Nature Chemistry. Dalam laporan ini, ilmuwan juga mengungkapkan cara menciptakan sirkuit molekuler yang ukurannya 10 kali lebih kecil dibanding kabel listrik mini yang terdapat dalam prosesor komputer. Mereka juga menerangkan cara jaringan energi listrik molekuler menangkap, mengirim, mengatur dan meningkatkan produksi energi sinar surya.

Profesor Gregory Scholes, dari Universitas Toronto yang memimpin penelitian ini menyatakan: “Produksi energi surya (yang ada saat ini) dimulai dengan diserapnya energi cahaya oleh jaringan molekul. Energi ini kemudian disimpan sementara dalam bentuk elektron yang terus bergerak yang kemudian dikirim ke reaktor yang sesuai.”

“Proses ini mirip dengan proses biologis dalam fotosintesis. Dalam proses fotosintesis, jaringan antenna yang mengandung klorofil menangkap sinar dan mengarahkan energi ke protein khusus yang bertugas memroduksi oksigen dan gula. Proses ini seperti menancapkan protein-protein tersebut (sebagai pusat reaksi) ke colokan (sumber) energi surya.”

Dalam proses alami, energi surya ditangkap oleh molekul “berwarna” atau molekul yang mengandung pigmen, namun energi itu hanya disimpan selama sepermilar detik, sehingga waktu untuk mengirim energi dari pigmen ke mesin molekuler yang memroduksi bahan bakar atau listrik sangat singkat. Kunci untuk menyimpan dan mengirim energi dengan sangat cepat adalah dengan mengumpulkan penciptaan energi melalui proses kuantum dari antenna yang hanya tersusun dari puluhan pigmen.

Dr Alexandra Olaya-Castro, ilmuwan dari jurusan Fisika dan Astronomi yang turut meneliti proses ini menyatakan: “Saat matahari bersinar terang, lebih dari 100 juta milliar partikel cahaya “berwarna” merah dan biru menyinari daun setiap detiknya.

“Dalam kondisi seperti ini, tanaman dituntut untuk bisa menggunakan energi itu untuk tumbuh dan membuang kelebihan energi yang bisa merusak. Menyalurkan energi dengan cepat dan teratur adalah kunci dari sistem ‘pemanenan’ energi surya.

“Dengan memastikan semua indikator energi dalam proses penyaluran energi turut terlibat, antenna alami berhasil menggabungkan fenomena klasik dan kuantum untuk memastikan proses pengumpulan dan distribusi energi surya dilakukan secara efisien dan terstruktur.”

Sumber : http://www.hijauku.com/2011/10/11/memanen-energi-surya-dengan-lebih-efisien/

Comments Off on Belajar dari Kegagalan Revolusi Hijau di Indonesia

Belajar dari Kegagalan Revolusi Hijau di Indonesia


2012
04.16

Revolusi Hijau memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia untuk mengelola sektor pertanian dengan lebih ramah lingkungan.

Indonesia pertama kali menerapkan Revolusi Hijau pada 1968, saat Presiden Suharto meluncurkan program BIMAS atau Bimbingan Masyarakat untuk menggenjot produksi pertanian di Tanah Air. Situasi ekonomi dan politik saat itu sangat berperan mempengaruhi terciptanya keputusan ini. Tren Revolusi Hijau regional ditambah dukungan negara barat dalam bentuk kucuran dana dan bantuan teknis, membantu program nasional ini bergulir.

Setahun setelah program BIMAS diluncurkan, Departemen Pertanian “memandu” petani menerapkan program ini untuk menggenjot produksi beras di Tanah Air. Upaya tersebut melibatkan sejumlah lembaga penelitian termasuk International Rice Research Institute (IRRI). Teknik-teknik baru Revolusi Hijau pun secara resmi digunakan. Petani “dianjurkan” menanam beras varietas baru hasil pengembangan IRRI. Para petani juga menerima bantuan dana dari pemerintah (yang berasal dari pinjaman donor internasional) guna menerapkan sistem yang revolusioner ini.

Masih ingat dengan IR 36 dan IR 64? Kedua jenis padi hasil pengembangan IRRI inilah yang ditanam oleh petani. Padi ini diklaim sebagai padi varietas unggul tahan wereng. Pemerintah juga mendorong petani menggunakan pupuk kimia seperti Urea, TSP, NPK dan KCL. Untuk mengontrol hama, petani diperkenalkan dengan pestisida dan dianjurkan menggunakan herbisida untuk mengontrol gulma. Mereka juga diperkenalkan dengan peralatan pertanian mekanis menggantikan alat pertanian tradisional seperti ani-ani.

Memasuki era 1980-an, program BIMAS semakin digalakkan melalui program INSUS dan SUPRA INSUS. Melalui program INSUS, pemerintah menargetkan 2-3 kali masa panen di hamparan atau lahan pertanian padi yang sudah mendapatkan fasilitas irigasi. Sementara dalam program SUPRA INSUS, petani diharuskan menggunakan hormon pertumbuhan khusus untuk menggenjot hasil produksi padi.

Hasilnya menakjubkan. Setelah menerapkan kedua program tersebut, produktifitas lahan pertanian Indonesia, khususnya lahan padi, melonjak hingga mencapai rekor 7000 kg per hektar. Dan pada 1984, pemerintah menyatakan, Indonesia berhasil meraih status swasembada pangan. Sayang kesuksesan itu tak berlangsung lama. Pada tahun yang sama, bencana pertanian terjadi. Hama wereng (brown plant hopper) merajalela. Jutaan hektar lahan padi hancur diserang oleh hama ini – walau petani telah menanam padi varietas unggul tahan wereng hasil pengembangan IRRI.

Para petani di sentra-sentra penghasil padi, terutama di Pulau Jawa, mengalami kerugian besar. Mereka menderita gagal panen tiga kali berturut-turut yang memicu kelaparan dan kemiskinan di wilayah ini. Setahun kemudian, Indonesia kembali menjadi salah satu negara pengimpor beras terbesar di Asia Tenggara. (Bersambung)

Sumber : http://www.hijauku.com/2012/03/20/belajar-dari-kegagalan-revolusi-hijau/

Comments Off on Mesir Ubah Merang Menjadi Kertas

Mesir Ubah Merang Menjadi Kertas


2012
04.16

Sebuah teknologi kimia baru mampu mengubah merang menjadi kertas dan insektisida murah guna mengatasi hama nyamuk. Teknologi ini juga bisa memangkas emisi karbon dioksida. Pembangunan fasilitas industri pertama yang mengadopsi teknologi ini rencananya akan dimulai pada bulan Desember mendatang di dekat ladang padi di wilayah Noubariya, 120 kilometer dari Ibu Kota Mesir, Kairo.

Menurut analisis Hazem Badr yang diterbitkan di Scidev.net, teknologi dan fasilitas baru ini diperkirakan mampu memberikan manfaat ekonomi yang nilainya mencapai US$85 juta per satu juta ton merang yang didaur ulang, setiap tahun. Teknologi baru ini juga bisa membuka 100.000 lapangan kerja baru dan mengurangi 85.000 ton karbon dioksida akibat pembakaran merang yang sudah tidak terpakai.

Penelitian yang dilakukan oleh Divisi Penelitian Industri Kimia, Pusat Penelitian Nasional Mesir ini masuk dalam program pengembangan riset dan inovasi (Research Development and Innovation, RDI Program) yang didanai oleh Uni Eropa. Program ini bertujuan untuk memajukan transfer inovasi dan teknologi di Mesir dengan memberikan bantuan dana sebesar US$500.000 guna membangun fasilitas industri.

Teknologi baru ini sudah memperoleh hak paten dari Kantor Paten Mesir (Egyptian Patent Office) pada 2010. Galal A. Nawwar, yang memimpin divisi penelitian ini mengatakan, teknologi pengolahan merang ini adalah salah satu penelitian unggulan terkait sampah pertanian di Mesir.

“Setiap tahun, empat juta ton merang dibakar di Mesir, menimbulkan masalah sampah dan lingkungan terutama polusi udara,” ujarnya.

Metode baru ini mampu mengurai lebih dari 65% merang untuk digunakan sebagai bubur di industri kertas dan karton. “Teknologi yang ada saat ini hanya mampu mengubah 30% merang menjadi bubur kertas sehingga masih menyisakan banyak limbah,” ujar Nawwar.

Maha Al Khatib, peneliti yang terlibat dalam program ini menyatakan, teknologi baru ini mengurai selulosa dari merang untuk kemudian dibuat menjadi kertas dan produk-produk resin lain yang berbahan baku alami. Bahan-bahan resin ini kemudian dimurnikan dan digunakan untuk memproduksi insektisida “alami dan tidak beracun”, namun fektif untuk memberantas serangga dan nyamuk yang banyak ditemui di Mesir, dan negara-negara di Afrika yang bisa menularkan penyakit bernama “lymphatic filariasis” — penyakit infeksi mematikan yang bersumber dari cacing.

Gamal M. Siam, profesor ekonomi pertanian di Universitas Kairo, memeringatkan, keberhasilan manfaat dari teknologi baru ini tergantung pada cara sosialisasi dan penerapan teknologi ini ke petani. Menurut Gamal: “Setiap ide yang tidak memberikan solusi cara memindahkan merang dari ladang pertanian ke lokasi industri akan gagal. Walau mereka menggunakan teknologi baru yang efektif sekalipun.” Syarat lain agar teknologi ini berhasil adalah metodologi ini juga harus memberikan nilai tambah pada 4,5 juta petani padi di Mesir agar tak lagi membakar merang di ladang mereka.

Sumber : http://www.hijauku.com/2011/10/07/teknologi-mesir-ubah-merang-menjadi-kertas/

Comments Off on Dinginkan Atap, Sejukkan Bumi

Dinginkan Atap, Sejukkan Bumi


2012
04.16

Dr. Art Rosenfeld, ilmuwan dari Lawrence Berkeley National Laboratory menemukan solusi untuk mengatasi panas tinggi yang selalu memanggang penduduk dan pengunjung kota-kota di dunia saat musim panas.

Konsepnya sebagaimana ditulis oleh Bari Greenfeld, aktivis Sierra Club Labor Program di Compass, berawal dari suhu permukaan. Pada dasarnya, permukaan yang gelap, seperti aspal dan acuan semen menyerap radiasi cahaya matahari dalam jumlah besar.

Jika tidak ada bantuan efek pendinginan dari pepohonan yang teduh dan rindang, wilayah yang ditutupi oleh aspal di perkotaan akan menjadi layaknya tempat penampungan dan penyerapan panas raksasa. Akibatnya, saat tengah hari, suhu di perkotaan bisa mencapai 10 derajat lebih tinggi dibanding wilayah-wilayah di sekitarnya. Fenomena ini oleh Dr Rosenfeld disebut dengan “efek pulau panas atau heat island effect.”

Solusinya, menurut Dr. Rosenfeld bisa dimulai dari atap. Jika Anda mengecat atap Anda dengan warna putih sebagai ganti warna hitam, sinar matahari akan dipantulkan kembali ke angkasa, tidak disimpan di dalam bangunan. Hal itu karena permukaan berwarna putih memiliki tingkat “albedo” (daya refleksi) yang lebih tinggi dibanding permukaan yang berwarna hitam.

Masyarakat di wilayah Mediterania telah mengetahui konsep ini selama berabad-abad. Hal ini bisa kita lihat dari desain kota-kota kuno di perbukitan Yunani. Saat ini, atap-atap bangunan di wilayah perkotaan mewakili 20% dari total wilayah permukaan. Jika semua atap di perkotaan berwarna putih, suhu di perkotaan bisa dikurangi hingga 1-1.5 derajat.

Bagi kota metropolis modern, memutihkan atap memiliki banyak manfaat. Pertama, suhu permukaan yang lebih rendah akan membuat kota lebih nyaman dan aman untuk ditinggali – baik di dalam ruangan maupun di lingkungan sekitar. Saat kota Chicago di AS dilanda gelombang panas pada 1995, 739 orang meninggal dunia. Sebagian besar korban berasal dari mereka yang tinggal di bangunan-bangunan yang beratap hitam.

Kedua, atap yang lebih dingin bisa mengurangi jumlah energi yang dibutuhkan untuk mendinginkan ruangan. Dengan mengubah atap menjadi putih, pemilik gedung dan penghuninya bisa menghemat biaya listrik hingga 15%.

Yang terakhir, atap yang lebih dingin bisa mengurangi efek perubahan iklim. Selain secara langsung mengurangi emisi karbon melalui penghematan energi, efek “albedo” dari atap putih bisa mencegah terperangkapnya panas yang akan meningkatkan efek rumah kaca dan pemanasan global.

Penelitian Dr. Rosenfeld menemukan, jika seluruh atap bangunan di perkotaan dicat warna putih, upaya itu akan bisa mengurangi emisi karbon sebesar 24 juta ton. Hal ini setara dengan menyingkirkan 300 juta mobil dari jalanan setiap tahun selama 20 tahun! Nilai tambah lain proses pendinginan atap ini bisa dikombinasikan dengan sel-sel energi dan pemanas bertenaga surya.

High Desert Government Center di California, telah menerapkan konsep ini sehingga mampu memenuhi 70% kebutuhan energi gedung tersebut dari tenaga surya. Anda juga bisa memanfaatkan atap sebagai lahan berkebun. Walau tidak memiliki efek pendinginan sebesar atap yang berwarna putih namun konsep tersebut mampu mengurangi suhu wilayah dan menjadi sumber bahan pangan bagi penduduk lokal.

Pendinginan atap adalah solusi hemat biaya dengan beragam manfaat. Negara bagian California saat ini telah memiliki peraturan yang mengharuskan semua gedung beratap putih. Di Kota New York, para aktifis turun ke jalan bersenjatakan kuas dan pamflet guna mengampanyekan gerakan ini.

Sumber : http://www.hijauku.com/2011/08/04/dinginkan-atap-sejukkan-bumi/