Comments Off on GREEN ROOF DI HUTAN BETON

GREEN ROOF DI HUTAN BETON

2012
04.03

Desain bangunan saat ini kian dinamis dan mulai mengacu pada isu lingkungan atau tema hijau. Sayangnya tema hijau yang sering membuat kebanyakan orang berpikir adalah sekedar menghijaukan bangunan secara keseluruhan, atau dengan kata lain sekedar memberi tambahan tanaman pada bangunan.Padahal tema hijau bukan terpaku pada fasade saja untuk menggambarkan tema hijau. Tapi pemakaian bahan bangunan yang ramah lingkungan dan desain yang pro lingkungan adalah lebih penting. Salah satu aplikasi tema lingkungan adalah menutup atap dengan tanaman.

Pada bagian atap rumah, selain pemakaian penutup atap yang terbuat dari material yang ramah lingkungan, kini dengan bahan yang benar-benar dari alam bisa di aplikasi pada bagian atap. Salah satu teknologi lingkungan yang ‘baru’ dan ikut berperan dalam mempengaruhi Bentung rancang bangun dan sekaligus mempengaruhi kualitas lingkungan hidup adalah konsep”GREEN ROOF” Apakah konsep ini merupakan hal yang baru ? karena istilah ‘Green Roof” kadang kalah pamor dengan istilah “Roof Garden” dan kadang juga seringkali disalah artikan dengan istilah “Vertical Landscape”.

“Green Roof” merupakan layer atau lapisan struktur konstruksi hijau yang terdiri dari media pertumbuhan/tanah dan media Tanaman diatas sebuah bangunan. Berbeda dengan istilah “Cool Roof” yang berarti lapisan material yang membalikan atu merefleksikan energi cahaya matahari daripada mengabsorsinya atau kita juga mengenal istilah ‘Bituminous Roof”.yang merupakan cara tradisional melapisi lapisan atap dengan bahan seperti aspalt atau tar.

Konsep “Green Roof” mulai dikenal manusia pada abad ke 7. “TAMAN GANTUNG BABYLON atau THE HANGING GARDEN BABYLON. Karya yang dipersembahkan raja pada istrinya yang berasal dari suatu kawasan yang hijau, maka raja berinisiatif untuk membuat suasana yang lebihnyaman agar sang istri merasa betah dan masih merasa tinggal didaerah seperti daerah asalnya.

Kini di zaman yang perhatian akan pemanasan global, kebangkitan taman gantung ini dikenal dengan nama “Green Roof Technology”. Teknologi ini bukan hanya sekedar gerakan penghijauan semata lebih dari itu teknologi ini dapat mempengaruhi kualitas lingkungan hidup
Di Eropa terutama di Jerman, taman atap sudah merupakan bukan hal yang baru lagi. Di kota Stuttgart, di beberapa daerah kota malah dibuat sistem Zoning yang mengharuskan gedung di daerah tersebut membuat Taman Atap. Mereka pun memberikan subsidi untuk gedung yang mau membuat Taman Atap.

Sebagai salah satu kota tua di Amerika yang terkenal dengan desain arsitekturnya yang indah danmenawan, Chicago merupakan kota pertama yang memulai gedung-gedung tinggi yang sekarang dikenal sebagai Skyscraper di kota-kota metropolitan di dunia. Setelah lebih dari satu abad, Chicago kembali membuat sensasi dengan arsitek Green Roof yang di mulai dari gebrakan Walikota Richard Daley setelah tertimpa gelombang hawa panas pada tahun 1995. Sejak tahun 1999, kota Chicago menanam 24.000 meter persegi atau 24 hektar Taman Atap Gedung yang tersebar di banyak gedung, pertokoan dan kantor.

Salah satu keuntungan yang terbesar dari adanya Taman Atap adalah Manajemen Air dimana Taman Atap dapat menyerap 50-60% air hujan yang turun. Setelah Taman Atap menyerap air hujan, maka sewaktu matahari bersinar, tanaman akan kembali bernafas dan mengembalikan air tersebut ke atmosfer kita. Beberapa persen air akan tetap di tanah untuk pertumbuhan tanaman, dan sisanya akan masuk ke saluran air secara perlahan, dimana hal ini sangat menguntungkan karena jadi tidak memberatkan sistem saluran air perkotaan dimana upgrading atau peremajaan dan pembesaran pipa sangat mahal.

Disebutkan bahwa daerah dengan temperatur hangat bisa mendapatkan faedah terbanyak dari penggunaan Atap Taman. Salah satunya adalah penghematan energi dari penggunaan AC. Keuntungan lainnya adalah atap yang lebih tanah lama, dimana biasa atap hanya tahan hingga 20 tahun bisa menjadi sampai 40/50 tahun karena dengan adanya Taman Atap, maka sinar ultraviolet matahari tidak mengenai langsung atap gedung dimana perbedaan temperatur antara siang dan malam yang cukup drastis bisa menyebabkan keretakan.

Memang banyak hal harus dimulai oleh pemerintah kota. Aksi ini mungkin harus dimulai dari pemerintah kita sendiri, baru kemudian dilanjutkan dengan peraturan perkotaan, khususnya Jakarta. Bukan untuk memberatkan para pengusaha atau pemilik gedung, tetapi hal ini dilakukan semata-mata untuk kepentingan bersama. Dari pada membuat lagi sarana infrastruktur seperti membuat Deep Water Tunnel yang menghabiskan biaya hingga Rp1.2 triliun. Dengan cara sederhana seperti ini semua orang bisa merasakan manfaat lebih dari aksi yang dilakukan.

Beberapa gedung perkantoran di Jakarta juga mulai melakukan penghijauan di bagian atap gedung untuk sedikit meredam hawa panas dan sekaligus memperindah tampilan atap yang dulu tidakpernah berfungsi sama sekali. Sebenarnya bukan saja untuk gedung melainkan rumah kita sendiri juga bisa melakukan hal seperti ini.

Membuat taman diatas atau pada bagian atas rumah yang datar dan memang bisa diletakkan tanaman bukan saja membuat atau rumah anda sedikit lebih indah tetapi juga dapat mengurangi suhu panas yang ada di dalam rumah. Menurut data yang ada, bila tanaman yang ada di bagian atap mempunyai tinggi sekitar 10 cm maka dapat mengurangi pemakaian AC sekitar 25%. Sebuah ruangan yang terletak tepat di bawah Green Roof mempunyai suhu udara lebih rendah yaitu sekitar 3-4° Celcius dibandingkan dengan suhu udara di luar ruangan.

Di sandur dari : http://www.rudydewanto.com/2011/01/green-roof-di-hutan-beton.html