Analisis Studi Kasus Melalui Teori Public Relations: Isu dan Krisis

No Comments

EVA RIANTI MANULLANG/145120201111092

avatar

 

 

source: oknews.co.id

source: oknews.co.id

source: youtube/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pendahuluan

Laurence Barton (1993) mendifinisikan sebuah krisis adalah peristiwa besar yang tak terduga yang secara potensial berdampak negatif terhadap baik perusahaan maupun publik. Peristiwa ini mungkin secara cukup berarti merusak organisasi, karyawan, produk dan jasa yang dihasilkan organisasi, kondisi keuangan dan reputasi perusahaan.

Setiap organisasi tidak akan terlepas dari adanya krisis. Hal ini dikarenakan setiap organisasi yang ingin bertahan dalam persaingan harus tetap memiliki sifat terbuka dan memiliki kerjasama dengan publik. Namun ketika harapan dan permintaan publik tidak dapat dipenuhi atau tidak sesuai ekspektasi dengan aktivitas yang dilakukan organisasi, maka akan timbul yang dimaksud dengan isu (Larkin, 2005). Menurut (Larkin, 2005), isu dapat didefinisikan sebagai sebuah kondisi atau peristiwa, baik internal dan eksternal organisasi, yang jika berlanjut akan mempunyai efek signifikan pada berfungsinya atau performa organisasi atau kepentingan organisasi di masa yang akan datang. Pada dasarnya, organisasi memiliki kesadaran yang tinggi tentang peristiwa – peristiwa yang berpotensi memengaruhi aktivitasnya. Hal ini tergantung pada kemampuan praktisi public relations  untuk dapat memonitor lingkungan sekitar organisasinya.

Isu yang ada di dalam organisasi merupakan salah satu tolak ukur peran dan fungsi public relations  dalam organisasi tersebut, Apakah praktisi public relations dalam organisasi tersebut dapat menjalankan peran dan fungsinya dengan baik atau tidak. Isu  yang tidak dikelola dengan baik maka akan memiliki potensi untuk menjadi krisis yang dapat mengancam reputasi dari organisasi.

Setiap organisasi kemungkinan mempunyai beberapa isu yang perlu ditanggapi agar isu tersebut tidak menjadi krisis. Chase (dalam Kriyantono, 2015) mengatakan bahwa isu adalah “an unsettled matter which is ready for decision”. Isu merupakan permasalahan yang belum selesai dan diperlukan keputusan yang cepat untuk mengatasinya. Isu muncul karena adanya gap antara harapan publik dengan aktivitas organisasi. Munculnya isu dapat mendorong tekanan-tekanan terhadap operasional organisasi. Seorang public relations harus memanajemen isu tersebut dengan baik. Jika tidak, isu bisa berpotensi menjadi penyebab krisis.

2. Deskripsi Kasus

2.1. BPLS Punya Tanggungan Rp. 700 Miliar

Presiden Joko Widodo (Jokowi) membubarkan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS). Padahal, permasalahan ganti rugi korban lumpur Lapindo yang sudah menginjak tahun ke-11 ini masih terkatung-katung, terutama bagi para korban di kalangan pengusaha. Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Korban Lumpur Lapindo (GPKLL), terdapat 30 pengusaha yang sampai saat ini belum mendapat kejelasan mengenai ganti rugi aset sebesar Rp 800 miliar. Namun, nilai kerugian kalangan pengusaha yang dimiliki BPLS hanya sekitar Rp 700 miliar (Syairwan, 2017)

Menurut salah satu anggota GPKLL, Joni Osaka keputusan pembubaran ini bernuansa politis karena pemilik utama Lapindo yang juga ketua salah satu partai itu masuk bergabung ke dalam koalisi pemerintahan. Menurut Joni pasal 5A Perpres pembubaran BPLS ini sangat tidak berpihak kepada para korban golongan pengusaha. Pasal tersebut berisi pembayaran ganti rugi kepada pengusaha korban lumpur akan dilakukan sepenuhnya oleh PT Minarak Lapindo Jaya (MLJ). Padahal berdasarkan putusan MK yang sudah inkracht alias berkekuatan hukum tetap, yaitu Nomor 83/2013 dan 63/2015, menyatakan pembayaran ganti rugi untuk pengusaha harus segera dilakukan dan tidak ada pembedaan perlakuan antara pengusaha dengan warga biasa yang menjadi korban lumpur Lapindo (Syairwan, 2017)

Menurut tulisan Syairwan (2017) , Hengky Listia Adi yang tadinya menjabat sebagai Subpokja Humas BPLS, menuturkan sudah lebih dari 98 persen pelunasan ganti rugi warga korban lumpur, baik di dalam peta area terdampak (PAT) maupun di luar PAT. Walaupun banyak persoalan yang belum tuntas terkait ganti rugi, Hengky menyatakan pihaknya masih tetap bekerja sebagaimana biasanya. Hengky menerangkan, Perpres pembubaran itu akan aktif satu tahun mendatang, karena masih harus menunggu transisi pembubaran.Dikutip dari mediaindonesia.com, Susetyo (2017) menulis bahwa pemerintah secara resmi membubarkan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo per tanggal 6 Maret 2017. Namun pembubaran tersebut masih meninggalkan sisa hutang kompensasi sebesar Rp. 957,7 miliar. Sementara itu dikutip dari kontan.co.id, Triyono (2017) menulis bahwa keputusan pemerintah untuk membubarkan BPLS adalah sebagai bentuk efisiensi pelaksanaan urusan pemerintah, sementara terkait masalah kompensasi tugas dan fungs BPLS akan tetap berjalan seperti biasa. Tugas BPLS tersebut akan dilebur ke Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dengan nama Pusat Penanggulangan Lumpur Sidoarjo.

2.2. F-16 Terbalik di Pekanbaru

Sebuah jet tempur F16 milik TNI Angkatan Udara tergelincir dan terbalik di Landasan Udara Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau, Selasa (14/3/2017) malam. Kecelakaan itu diduga terjadi akibat masalah pada sistem pengereman pesawat. Komandan Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin, Marsekal Pertama Henri Alfiandi, menjelaskan bahwa pesawat yang diterbangkan dua pilot, Mayor Penerbang Andri Setiawan dan Lettu Penerbang Marco Anderson awalnya mendarat dengan mulus pukul 16.55 WIB. Saat mendarat, pesawat F16 dengan nomor ekor TS1603 itu mengalami masalah pada sistem pengereman  Kedua pilot lantas berusaha menghentikan pesawat sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku hingga akhirnya tergelincir dan keluar landasan pacu sejauh 200 meter ( Jemadu, 2017).

Komandan Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin mengatakan bahwa Kedua awak pesawat dalam kondisi selamat dan  pesawat tempur F16 langsung dievakuasi dari lokasi kecelakaan. Ia menjelaskan evakuasi dilakukan oleh tim khusus dan membutuhkan waktu agar kondisi pesawat tidak semakin rusak dengan harapan bisa diperbaiki kembali. Meski evakuasi masih berlangsung, ia mengatakan jadwal penerbangan komersil di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru tidak mengalami gangguan. Ia mengatakan sejumlah penerbangan memang sempat mengalami delay saat proses penyelamatan awak pesawat naas itu. Namun, gangguan jalur penerbangan hanya berlangsung sekitar 40 menit dan Bandara kembali normal ( Jemadu, 2017).

 

 

3. Analisis

3.1  Analisis Kasus 1 (BPLS Punya Tanggungan Rp.700 Miliar)

Dari kasus BPLS, kita bisa mengetahui bahwa isu sebagai unsettled matter. Menurut Kriyantono (2015), isu dianggap sebagai permasalahan yang belum terselesaikan dan butuh keputusan yang cepat untuk mengatasinya. Isu juga memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang harus dipecahkan. Sayangnya, pihak BPLS yang seharusnya menanggulangi isu akibat dari Lumpur Lapindo tidak mampu mengatasi isu tersebut dengan baik karena BPLS masih memiliki tanggungan pelunasan ganti rugi bagi korban Lumpur Lapindo.

Selain itu, isu ini telah sampai kepada tahap dormant stage. Kriyantono (2015) mengatakan bahwa di tahap dormant stage, isu telah melewati siklusnya dan organisasi pun telah melewatinya meski harus mengeluarkan energi, waktu, dan biaya yang besar. Organisasi pun mesti menerima kebijakan dari keputusan yang telah pemerintah buat. Dalam kasus ini, BPLS pun harus menerima kenyataan bahwa pemerintah telah membubarkan BPLS karena tidak efektif dalam pelaksanaan urusan pemerintah. Setelah menerima keputusan itu, BPLS tidak bisa berwenang lagi meskipun ada ganti rugi yang masih belum mereka selesaikan.

Isu yang tidak dapat dimanajemen dengan baik akan berpotensi menjadi krisis (Kriyantono, 2015). Tugas utama Public Relations adalah memanajemen isu dengan baik sehingga mencegah krisis yang terjadi. Akan tetapi, tim BPLS masih belum bisa memanajemen isu tersebut dengan baik sehingga terjadilah krisis seperti masih adanya hutang-hutang yang belum dibayarkan.

3.2  Analisis Kasus 2 (F-16 Terbalik di Pekanbaru)

Ada beberapa jenis kemungkinan krisis yang terjadi dari kasus tergelincirnya pesawat F-16 di Pekanbaru. Yang pertama adalah krisis teknologi. Kriyantono (2015) mengatakan bahwa krisis teknologi adalah krisis yang disebabkan karena adanya kesalahan penggunaan teknologi dalam operasionalnya. Berdasarkan jenis krisis, krisis yang dihadapi oleh TNI adalah krisis teknologi. Menurut Kriyantono (2015, h.206) krisis teknologi adalah “krisis yang disebabkan oleh penggunaan teknologi tertentu dalam operasional organisasi. Penyebab jatuhnya pesawat disinyalir karena adanya masalah pada sistem pengereman  pesewat sehinnga pesawat menjadi terbalik. Jenis krisis sendiri memengaruhi respon yang akan diberikan organisasi terhadap publiknya. Menurut Coombs (dalam Kriyantono, 2014) Kegagalan teknologi atau kecelakaan akibat teknologi masuk kedalam tipe accidental cluster maka  strategi respons yang bisa digunakan adalah dengan meminimalkan presepsi tentang kerusakan yang diakibatkan krisis.

Krisis ini bisa saja terjadi ketika ada bagian-bagian pesawat yang rusak. Bisa saja krisis ini terjadi akibat kesalahan dari manajemen atau disebut dengan krisis manajemen. Kriyantono (2015) mengatakan bahwa krisis manajemen terjadi karena kelompok manajemen yang gagal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Kasus ini kemungkinan terjadi karena kesalahan dalam perawatan pesawat F-16 yang tidak mengikuti prosedurnya dan kesalahan dari pilot yang tidak dapat mengoperasikan pesawat F-16 dengan baik.

Krisis ini pun tidak terjadi begitu saja, akan tetapi ada suatu proses kejadian. Fink (dalam Kriyantono, 2015) mengatakan bahwa ada tahapan model perkembangan krisis, yaitu prodromal, acute, chromic, dan crisis resolution. Prodromal adalah tanda-tanda yang dijadikan peringatan akan munculnya krisis. Prodromal yang muncul dari kasus pesawat F-16 ini kemungkinan karena pesawat F-16 yang tidak layak digunakan lagi karena pesawat ini dibeli pada tahun 1989 dan harus digantikan dengan pesawat tempur yang baru. Bisa saja dari bagian perawatan pesawat tidak menjalankan prosedurnya dengan baik sehingga ada beberapa bagian pesawat yang tidak diperhatikan. Lalu kemungkinan juga pilot pesawat yang tidak bisa mengontrol pesawatnya dengan baik sehingga gagal rem.

Tahap acute merupakan tahap krisis itu terjadi (Kriyantono, 2015). Dalam kasus ini, krisis terjadi ketika pesawat tempur F-16 tergelincir di bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Riau. Yang ketiga adalah tahap chronic, yaitu periode pemulihan dari sisa-sisa krisis. Di kasus ini, TNI AU Roesmin Mujadin mengevakuasi pesawat tempur yang tergelincir dan menginvestigasi penyebab dari krisis tersebut. Pihak TNI AU pun mengantisipasi kejadian ini dengan memberhentikan operasional pesawat tempur untuk sementara. Dan yang terakhir adalah tahap crisis resolution yang berarti orgnisasi dapat melakukan aktivitasnya dengan normal kembali (Kriyantono, 2015). Setelah semua upaya yang dilakukan TNI AU sudah berjalan dengan baik, maka TNI AU Roesmin Nurjadin bisa kembali normal dalam operasionalnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Barton, L. (1993). Crisis in Organizations: Managing and comunicating in the heat of chaos. Cincinnati: South-Western

Jemadu, L. (2017, Maret 15). Jet tempur  f16 terbalik di Pekanbaru. Suara.com. Diakses dari http://www.suara.com/news/2017/03/15/052400/jet-tempur-f16-terbalik-di-pekanbaru

Kriyantono, R. (2015). Public Relation, Issue & Crisis Management. Jakarta: Kencana

Syairwan I. (2017,  Maret 22). BPLS dibubarkan, tapi masalah ganti rugi belum tuntas.Tribunnews.com. Diakses dari http://surabaya.tribunnews.com/2017/03/14/bpls-dibubarkan-tapi-masalah-ganti-rugi-belum-tuntas?page=all

Regester and Larkin (2005). Risk issues and crisis management in public relations. London: Kogan Page.

 

 

Crisis Management: Arla Foods Boycott

1 Comment

arlano

 

A.    PENDAHULUAN

Media massa memiliki peran yang amat penting dan seakan tak dapat terlepas dari apa yang kita lakukan dalam keseharian. Tak dapat dipungkiri Media menjadi sumber informasi terbesar era sekarang. Media dianggap memiliki power dalam menciptakan agenda. Masyarakat dalam hal ini merupakan publik dari media, media akan menyesuaikan informasi sesuai dengan keinginan publik untuk untuk mendapatkan timbal balik. Nurudin dalam bukunya Pengantar Komunikasi Massa (2011, h. 2) mengungkapkan dahsyatnya peran media massa mempengaruhi kebanyakan orang dalam menentukan apa yang baik dan tidak baik berdasarkan informasi dari media massa.

Media dapat berperan dalam membentuk sebuah isu. Menurut Larkin (2005) isu dapat didefinisikan sebagai sebuah kondisi atau peristiwa, baik internal dan eksternal organisasi, yang jika berlanjut akan mempunyai efek signifikan pada berfungsinya atau performa organisasi atau kepentingan organisasi di masa yang akan datang. Isu di dalam sebuah organisasi sangat penting untuk menentukan bagaimana efektifitas kinerja Public Relations di dalamnya, apakah isu di sekitar lingkungan organisasi akan berkembang menjadi krisis dan membuat reputasi organisasi hancur, atau dapat membuat isu berkembang menjadi krisis yang bisa menaikkan reputasi dan citra positif organisasi.

Arla foods menjadi contoh studi kasus bagaimana organisasi mendapatkaan terpaan isu yang berkembang menjadi krisis melalui efek media. Arla yang merupakan produsen produk dan susu yang distribusinya sangat besar terhadap Negara Timur Tengah harus rela mengalami sejumlah kerugian karena terkena dampak Jyllands-Posten(Koran Denmark) yang mepublikasikan kartun Nabi Muhammad yang membuat Denmark dikecam oleh Negara-negara Timur Tengah. Melalui studi kasus Arla foods, yang mulai mengalami terpaan isu pada tanggal 30 September 2006, akan dianalisis bagaimana orgnisasi dalam mengahadapi sebuah isu dan bagaimana kemudian isu-isu dapat berkembang menjadi sebuah krisis. Studi kasus Arla akan dianalisis menggunakan teori dan kajian dalam Manajemen krisis agar dapat dirasakan efeknya oleh praktisi PR di dunia organisasi dan organisasi akan lebih mengetahui langkah-langkah apa yang harus diambil ketika krisis menimpa dan membuat organisasi teguncang.

 

B.     DESKRIPSI KASUS

            Arla Food merupakan produsen susu asal Denmark yang mendapatkan penghasilan tinggi dari Negara Timur Tengah sebesar US$480 juta pertahun. Namun Arla food dilanda krisis, penjualan produk di Timur Tengah mendadak turun bahkan dilarang di beberapa daerah di Timur Tengah. Hal ini terjadi karena sebuah Koran asal Denmark, Jyllands-Posten mempublikasikan 12 kartun Nabi yang menggambarkan Nabi Muhammad dan dianggap penghinaan bagi umat muslim bahkan banyak orang menganggap hal tersebut sebagai Islamphobic dan rasis. Negara Timur Tengah langsung merespon tindakan Koran tersebut dengan melarang penjualan produk Denmark di wilayahnya masing-masing.

 

Kronologi Kasus

Waktu Kejadian
30 September 2005 Jyllands-Posten mempublikasikan 12 kartun Nabi Muhammad yang dianggap sebagai penghinaan umat muslim.
Oktober 2005 Jylland-Posten mencetak ulang kartun tersebut dan disebarkan di beberapa kota besar di Eropa, seperti Norwegia, Belanda, Jerman, Belgia dan Perancis.
20 Januari 2006 Tokoh agama Saudi Arabia memboikot produk-produk Denmark
27 Januari 2006 The Confederation of Danish Industries meminta Jyllands-Posten mencetak permohonan maaf.
31 Januari 2006 Koran Jyllands-Posten mengedarkan 2 surat terbuka di website untuk meminta maaf.
Akhir Januari Arla mengalami krisis besar karena penjualan seluruh produk di Timur Tengah sudah di boikot dan banyak pembatalan pesanan. Dan 2 karyawan Arla sempat mengalami penyerangan.
Februari 2006 Arla mengalami kerugian sebesar 1 juta Poundsterling setiap hari.
1 Maret 2006 Arla berusaha memasuki pasar Timur Tengah kembali
Akhir Maret 2006 Arla menampilkan iklan produk mereka di 25 koran Arab.
Awal April 2006 Produk Arla mulai kembali mencoba masuk ke posisinya semula.

C.    ANALISIS

Barton (1993, h.2) berpendapat bahwa sebuah krisis adalah peristiwa besar yang tak terduga yang secara potensial berdampak negatif, baik terhadap perusahaan maupun publik. Peristiwa ini mungkin dapat merusak organisasi, karyawan, produk dan jasa yang dihasilkan organisasi, kondisi keuangan, dan reputasi perusahaan. Berdasarkan pendapat Barton tersebut, peristiwa yang dialami oleh Arla dapat dikategorikan menjadi krisis. Hal tersebut karena peristiwa boikot yang dialami Arla oleh masyarakat Timur Tengah tidak disebabkan oleh kesalahan perusahaan. Sumber utama penyebab peristiwa tersebut adalah koran Jyllands-Posten yang telah menggambarkan Nabi Muhammad sehingga dianggap melecehkan kaum Muslim. Peristiwa tersebut juga telah merusak kondisi keuangan serta reputasi perusahaan. Arla mengalami kerugian yang tidak sedikit karena reputasinya menjadi negatif bagi warga Timur Tengah.

Krisis yang dialami oleh Arla sebenarnya bukan disebabkan oleh perusahaannya sendiri menurut Ruslan (1999, h. 99-100) menyatakan beberapa contoh peristiwa yang berperan menjadi krisis, salah satunya adalah peristiwa menakutkan yang disebabkan oleh masalah SARA. Dalam kasus Arla penyebab terjadinya krisis adalah oleh isu-isu SARA yang berkembang. Arla terkena dampak isu karena penjualan produknya yang terbesar berasal dari Negara Timur Tengah yang merupakan korban pelecehan isu SARA, yang membuat Negara Timur Tengah memeberikan persepsi public yang negative terhadap Denmark.

 

Dalam Kriyantono (2015) terdapat beberapa tipe Isu berdasarkan sumber, aspek dampak dan aspek keluasan isu. Jika dilihat dari kronologi terjadinya krisis Arla maka dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Isu eksternal, yaitu Isu yang bersumber dari peristiwa atau fakta yang berkembang diluar organisasi yang berpengaruh langsung atau tidak langsung, pada aktivitas organisasi. Isu yang menimpa Arla berasal dari Isu Eksternal karena sumber isu berasal dari luar perusahaan Arla yaitu Koran Jyllands-Posten yang menerbitkan kartun Nabi Muhammad dan menghina kaum muslim. Sehingga berdampak pada perusahaan Arla yang berasal dari Denmark.

b. Isu Defensif, yaitu isu yang cenderung memunculkan dampak ancaman terhadap organisasi, sehingga organisasi harus mempertahankan diri agar tidak mengalami kerugian reputasi. Arla mengalami efek isu tersebut ketika Denmark mendapat kecaman dari seluruh umat muslim di dunia dan Arab memboikot seluruh produk yang berasal dari Denmark.

c. Isu Selektif, isu tersebut merupakan isu yang hanya memengaruhi kelompok tertentu. Isu tersebut bisa saja berkaitan dengan orang banyak namun hanya pihak tertentu yang lebih memerhatikan isu tersebut. Dalam kasus Arla, isu yang melibatkan kelompok atau orang tertentu adalah ketika isu bahwa perusahaan Arla merupakan perusahaan yang rasis dan anti-Islam. Hal ini meluas pada kalangan tertentu yaitu orang-orang Muslim.

 

Kasus yang menimpa perusahaan Arla dapat dijelaskan dengan issue life-cycle menurut Gaunt dan Ollenburger (dikutip dalam Kriyantono, 2015, h. 159-161) yang meliputi tersebut meliputi:

a. Tahapan Origin

Tahap awal atau Tahap Origin dimulai ketika Jyllands-Posten mempublikasikan kartun Nabi Muhammad, kemudian isu berkembang dan berpengaruh terhadap Arla. Ini terjadi karena PR perusahaan Arla tidak proaktif untuk melakukan scanning terhadap isu yang sedang berkembang di lingkungan sekitar sehingga perusahaan tidak menyadari bahwa isu yang sedang ada dapat mempengaruhi perusahaan. Akibatnya kondisi terdefinisi memiliki potensi untuk berkembang menjadi sesuatu yang penting.

b. Tahap Mediation

Tahap kedua ini isu berkembang karena isu-isu tersebut telah mempunyai dukungan publik, yaitu ada kelompok-kelompok yang lain saling mendukung dan memberikan perhatian pada isu tersebut. Dalam kasus Arla, tahap ini berada ketika banyak pihak yang memberikan kecaman pada Denmark. Kecaman tersebut dalam bentuk menyalakan api di depan kedutaan Norwegia dan Denmark yang berada di Beirut, menyerang kedutaan Denmark di Tehran, serangan senjata api di Gaza, namun saat kejadian tersebut PR perusahaan dianggap lebih fokus pada reputasi perusahaan sehingga perusahaan tidak menyadari bahwa kelompok tertentu (umat Islam) telah melakukan pertukaran informasi sehingga isu semakin menyebar bahkan tidak hanya memberikan dampak pada perwakilan Denmark di Negara Timur Tengah.

c. Tahap Organization

Tahap ini publik mulai mengorganisasikan diri dan membentuk jaringan-jaringan. Current stage, isu berkembang menjadi lebih populer karena media massa memberitakannya berulang kali dengan eskalasi tinggi dan ditambah interkasi di media sosial dan jaringan. Critical stage dimana ada pihak setuju dan menentang yang mana mereka saling mempengaruhi kebijakan untuk semakin terlibat. Pada tahap current stage, akibat dari kurangnya perhatian pemerintah Denmark dalam mengatasi isu yang ada, media secara terus menerus memberitakan isu bahwa kasus tersebut menyebabkan pemboikotan terhadap produk-produk yang berasal dari Denmark terutama Arla hingga mengalami kerugian. Hal ini disebut dengan crisis stage.

d. Tahap Resolution

Pada tahap ini, pada dasarnya perusahaan dapat mengatasi isu dengan baik (setidaknya, publik puas karena pertanyaan-pertanyaan seputar isu “dapat terjawab”, pemberitaan media mulai menurun, sehingga isu diasumsikan telah berakhir (Kriyantono, 2015) . dalam kasus Arla, tahap ini terjadi sekitar satu tahun berikutnya ketika pihak Jylland-Posten meminta maaf pada umat muslim diseluruh dunia. Resolusi persoalan diterima perhatian publik secara resmi dan memasuki proses kebijakan. Arla Foods sendiri mencoba menarik perhatian publik dengan melakukan remarketing dengan cara memasang iklan di 25 koran Arab dan produk-produknya telah memasuki kembali toko-toko di Timur Tengah kecuali Saudi Arabia.

 

Kapan isu berkembang menjadi krisis?

Menurut Kriyantono (2015), terdapat beberapa indikator untuk menuju dalam kategori krisis, dikutip

1.Peristiwa yang spesifik, yaitu: Pemboikotan Produk Arla Foods.

2.Krisis bersifat tidak diharapkan dan terjadi setiap saat: Terjadi akibat protes keras terhadap kartun Nabi Muhammad SAW, Arla dirugikan dengan adanya pemboikotan yang sebelumnya tidak terduga akan terjadi.

3.Krisis menciptakan ketidakpastian informasi: Ketika hubungan antara Timur Tengah dan Denmark memanas dan pemboikotan mulai diberlakukan sulit bagi Arla untuk menjelaskan bahwa tidak adanya hubungan antara produk Arla yang dipasarkan di Timur Tengah dengan adanya kartun Nabi Muhammad SAW.

4.Menimbulkan kepanikan: Rumor yang tidak jelas membuat konsumen Timur Tengah enggan membeli produk dari Arla Foods yang memberikan dampak bagi operasional yang dimana Arla Foods terpaksan mem-PHK 100 karyawan dan kerugian lainnya.

5.Berpotensi menimbulkan konflik: Pemboikotan produk Arla merupakan salah satu bentuk konflik yang terjadi.

 

Bagaimana Respon Arla dalam mengahadapi kasus tersebut?

Pada awalnya Arla kurang tanggap dalam menghadapi isu tersebut, seharusnya pada saat kartun Nabi Muhammad yang dianggap penghinaan beredar, Arla harus langsung sadar dampaknya terhadap perusahaan mereka, karena kedekatan wilayah antara Arla dan Jyllands-Posten tentu akan mempermudah Arla menanggapi isu yang beredar. Jadi Arla lalai dalam memprediksi isu yang dapat berkembang menjadi krisis untuk mereka.

Kemudian ketika akhirnya Arla mengalami kerugian, Arla berusaha mengembalikan kepercayaan konsumen Timur Tengah dengan memasang iklan di 25 koran Timur Tengah yang menunjukkan bahwa  mereka berpihak pada Islam, namun cara ini tetap tidak berhasil mengembalikan penjualan mereka. Akhirnya Arla tetap berusaha menjual dan mengiklankan produknya secara perlahan juga melakukan program kemanusiaaan untuk perlahan menarik kembali minat beli Timur Tengah. Arla gagal dalam mengahadapi krisis karena kurang aktif  dalam scanning isu dan terlalu membutuhkan waktu lama dalam mengahadapinya.

 

DAFTAR PUSTAKA:

Barton, L. (1993). Crisis in organizations: managing and communicating in the heat of chaos. Cincinnati: South-Western Publishing.

Kriyantono, R. (2015). Public relations & crisis management: pendekatan critical public relations etnografi kritis & kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media.

Nurudin. (2011). Pengantar komunikasi massa. Jakarta: Raja Grafindo Perkasa

Regester & Larkin (2005). Risk issues and crisis Mmanagement in public relations. London: Kogan Page.

Ruslan, R. (1999). Praktik dan solusi public relations dalam situasi krisis dan pemulihan citra. Edisi Kedua. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Publik & Stakeholder

No Comments

EVA RIANTI MANULLANG

145120201111092

DASAR-DASAR PUBLIC RELATION

 

Publik & Stakeholder

 

  • DEFINISI PUBLIK

 

  1. Menurut Kriyantono (2012,h.3-4), Publik merupakan sekumpulan orang atau kelompok dalam masyarakat yang memiliki kepentingan atau perhatian yang sama terhadap sesuatu hal. Publik (bisa juga disebut stakeholders) adalah sasaran kegiatan public relations.
  2. Menurut Baskin & Lattimore (1997, h.5), Publik adalah target dari kegiatan public relations dan sumber dari umpan balik untuk melakukan evaluasi.
  3. Menurut Seitel (dalam Kriyantono, 2014, h.56), Publik adalah kelompok individu yang tertarik dan berbagi terhadap suatu isu, organisasi, atau ide.
  4. Menurut Frank Jefkins (2003,h.80), Publik yaitu kelompok atau orang – orang yang berkomunikasi dengan suatu organisasi, baik secara internal maupun eksternal.
  5. Menurut  Meinanda (1989,h.5) , Public adalah sekelompok orang yang menaruh perhatian pada sesuatu hal yang sama, mempunyai minat dan kepentingan yang sama. Yang dimaksud dengan publik di dalam public relations adalah seseorang atau kelompok, misalnya para karyawan dalam suatu perusahaan yang disebut employee public atau internal public.

 

  • DEFINISI STAKEHOLDER

 

  1. Menurut Grunig & Repper (1992,h.126), Stakeholders adalah seseorang yang terpengaruh oleh keputusan yang diambil oleh organisasi atau keputusan-keputusan yang diambilnya dapat mempengaruhi organisasi.
  2. Menurut Cutlip, Center & Broom (2006, h.2), Stakeholder adalah sekelompok orang yang ikut andil atau saling tergantung dengan organisasi.
  3. Menurut Budimanta (2008,h.27) , Stakeholder merupakan individu, sekelompok manusia, komunitas atau masyarakat baik secara keseluruhan maupun secara parsial yang memiliki hubungan serta kepentingan terhadap perusahaan.
  4. Menurut Kasali (1992, h. 68), Stakeholder adalah setiap kelompok yang berada di dalam maupun luar perusahaan yang mempunyai peran dalam menentukan perusahaan. Stakeholders bisa berarti pula setiap orang yang mempertaruhkan hidupnya pada perusahaan. Penulis manajemen yang lain menyebutkan bahwa stakeholders terdiri atas berbagai kelompok penekan (pressure group) yang mesti di pertimbangkan perusahaan.
  5. Menurut Ruslan (2008,h.6), Stakeholder adalah khalayak sasaran yang terkait.

 

  • Perbedaan Publik dan Stakeholder dalam Public Relations

Berdasarkan definisi-definisi Publik dan Stakeholder diatas,sebenarnya dapat disimpulkan bahwa keduanya berbeda. Stakeholder bisa dikatakan lebih luas dari publik. Stakeholder bisa dikatakan sebagai sekelompok orang yang bisa atau memiliki peluang terkait dengan sesuatu sasaran atau organisasi tertentu namun tidak ada aktifitas atau tindakan nyata yang berkaitan dengan organisasi tersebut.

Bila sekelompok orang ini memiliki ketertarikan dan keterikatan pada sesuatu hal yang sama dengan organisasi tertentu dan berdasarkan tindakan dan aksi yang nyata,maka sekolompok orang yang tadinya disebut stakeholder bisa berubah menjadi publik.

  • Mengapa Publik dan Stakeholder penting?

Publik dan Stakeholder menjadi aspek penting dalam sebuah organisasi Public Relations. Ini dikarenakan aspek inilah yang akan menjadi penentu strategi komunikasi apa dan bagaimana yang akan dijalankan oleh suatu organisasi Public Relations. Maksudnya adalah,didalam menjalankan sebuah organisasi Public Relations tentu kita harus memperhatikan dan mengenali seperti apa ruang lingkup stakeholder dan publik organisasi kita. Karena setelah kita berhasil mengenalinya, kita bisa menentukan langkah apa yang akan diambil oleh organisasi.

Misalnya saja saat organisasi perusahaan mengalami sebuah masalah, jika kita sudah mengenali bagaimana publik perusahaan,tentu akan menjadi mudah dalam menganalisis isu yang berkembang dan cara menyelesaikan permasalahannya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Baskin, Otis & Lattimore.(1997). Public Relations The Profession and the Practice (4th ed.).United States of America: McGraw.Hill

Budimanta, A.(2008).Corporate Social Responsibility : alternative bagi pembangunan Indonesia.Jakarta: ICSD

Cutlip, Center, & Broom. (2006). Effective Public relations. Jakarta: Prenada

Grunig, JE dan Repper,F.C. (1992). Excellence in Pulic Relations and Communication Management. Laurence Erlbaum Associates

Jefkins,F. (2003). Public relation. Edisi kelima terjemahan (Yadin, D). Jakarta: Erlangga.

Kasali, R. (1992). Manajemen periklanan: konsep aplikasinya di Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama

Kriyantono, R.(2012).PR Writing : Teknik Produksi Media Public Relations dan Publisitas Korporat.Jakarta: Kencana Prenamedia Group

Kriyantono, R. (2014). Teori Public Relations Perspektif Barat dan Lokal Aplikasi Penelitian dan Praktik. Jakarta : Kencana Prenamedia Group

Meinanda, T.(1989). Tanya Jawab Dasar-Dasar Public Relations.Bandung: CV.Armico

Ruslan, R.(2008). Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations.Jakarta: PT  RajaGrafindo Persada

 

Analisis Jurnal The Dow Corning: A Benchmark.

No Comments

Tugas 4 menganalisis jurnal “THE DOW CORNING CRISIS: A BENCHMARK”

Septarini Della N.     (145120201111087)

Eva Rianti M.             (145120201111092)

Vienna Maulidya P. (145120201111093)

Elsa Ferdina               (145120201111076)

Dalam tulisan ini, kelompok kami menganalisis bagaimana peranan PR dalam penyelesaian masalah dan krisis yang terjadi pada perusahaan implant payudara yang dianggap memasarkan produk berbahaya bagi masyarakat.

Peranan PR perusahaan Dow Corning, terlihat tidak menjalankan tugas PR sebagaimana mestinya. PR dikatakan berhasil apabila mampu melakukan tugas dan kewajibannya dengan baik, berguna bagi perusahaan, dan menjamin kepentingan public (Kriyantono, 2012: 21). Tetapi pada kenyataannya, PR perusahaan Dow Corning tidak menjalankan tugas dan kewajibannya dalam melayani public. Terlihat dari bagaimana perusahaan menghindari media dan tidak peduli terhadap konsumen yang menjadi korban implant berbahaya tersebut.

Sesuai pendapat Rachmat Kriyantono (2012: 21) peran PR adalah:

  1. Memelihara komunikasi yang harmonis antara perusahaan dengan publiknya.
  2. Melayani kepentingan public dengan baik.
  3. Memelihara perilaku dan moralitas perusahaan dengan baik.

Tetapi pada kenyataannya, perusahaan Dow Corning tidak menjalankan itu semua. Dow Corning tidak memelihara komunikasi yang harmonis dengan publiknya. Terlihat dari respon public yang menuntut perusahaan tersebut karena diklaim memasarkan produk implant payudara yang berbahaya dan mengancam keselamatan banyak wanita. Citra perusahaan Dow Corning sudah turun dihadapan publiknya, yakni konsumen dan masyarakat yang mengetahuinya. Dow Corning juga melakukan penolakan untuk memberikan informasi seputar kejelasan perusahaan mengenai kasus implant berbahaya tersebut kepada media.

Dari awal, langkah yang diambil oleh Dow Corning sudah salah sehingga perbaikan image yang dilakukan tidak berdampak apapun pada public. Bahkan image dari Dow Corning semakin buruk karena membawa nama FDA dan media.  Dow Corning melakukan upaya perbaikan citra perusahaan dengan dua acara, yakni meninggalkan bisnis implant payudara dan mengumumkan bahwa perusahaan ini bangkrut. Namun, strategi ini tidak mengubah citra dari perusahaan ini didepan public.

Krisis merupakan suatu masa yang kritis berkaitan dengan suatu peristiwa yang kemungkinan pengaruhnya bersifat negative terhadap perusahaan (Kriyantono, 2012: 74). Selama 3 periode krisis itu, pada periode ketiga Dow Corning mulai berupaya mengubah citra dengan berbagai cara seperti menerima berbagai masukan untuk masalah-masalah dan mengambil langkah untuk memperbaiki permasalahan tersebut. Selain itu, Dow Corning juga mengumumkan pada public bahwa produknya aman. Tetapi tetap saja public tidak menanggapi perubahan itu sehingga Dow Corning dinyatakan gagal mengangkat kembali citra perusahaan.

Dalam hal ini tentunya peran PR untuk membentuk citra korporat yang baik dihadapan public tidak terbentuk sempurna. Pembentukan citra adalah pembentukan persepsi public pada perusahaan mengenai pelayanannya, produk, maupun yang menyangkut perusahaan tersebut. Sehingga pada akhirnya persepsi akan mempengaruhi sikap public, apakah mendukung, netral, atau memusuhi (Kriyantono, 2012: 9-10)

Apabila dikaji melalui prinsip-prinsip public relations yang ada, yakni :

  1. Tell the truth

Dow Corning tidak menerapkan prinsip ini, terlihat dari bagaimana perusahaan ini tidak mendeklarasikan pada public apa yang sebetulnya terjadi.

  1. Prove it with action

Dow Corning telah berusaha mencoba mengembalikan citra baik mereka dengan mengatakan bahwa produk implant payudara mereka aman menurut riset dari Dow Corning. Namun pada kenyataannya,Dow Corning tidak dapat ‘prove it with action” atau membuktikan bahwa apa yang mereka katakan adalah benar adanya, karena Dow Corning cenderung tidak membuka diri terhadap public sehingga public masih berpikiran negative.

  1. Listening to the public

Terlihat jelas pada kasus itu, Dow Corning tidak mendengarkan publiknya dalam permasalahan tersebut. Sehingga, tidak terjalin hubungan yang baik anata perusahaan dengan public karena perusahaannya tidak menerima kritik ataupun saran yang membangun.

  1. Managing for tomorrow

Dow Corning tidak memiliki rencana-rencana antisipasi atas keadaan yang mereka alami. Sehingga mereka tidak siap menghadapi segala macam kejadian yang tidak terduga. Dan akhirnya tidak ada progress yang tercapai oleh Dow Corning dalam menyelasaikan krisis managemen yang mereka alami.

  1. Conducting public relations as if the whole organization depend on PR

PR adalah mengenai hubungan manajemen dimana seakan semua bagian perusahaan bergantung pada PR. PR benar-benar berfungsi besar dalam sebuah perusahaan. Namun tugas PR dalam Dow Corning tampak tidak terlaksana dengan baik karena fungsi manajemen mereka tidak terlaksana.

  1. Remind calm passion and good humor

Di dalam penjalanan peran PR,sebenarnya dibutuhkan sikap yang tenang,sabar dan perlu juga memiliki rasa humor. PR dalam Dow Corning seharusnya menunjukkan bahwa mereka bias konsisten dalam setiap informasi yang diberikan, serta mereka harus tetap terlihat tenang dalam menghadapi krisis yang mereka alami.

 

Daftar Pustaka

LaPlant, K. (1999). The Dow Corning Crisis: A Benchmark. Public Relations Quarterly, 44(2), 32

Kriyantono, R. (2012). Public Relations Writing. Jakarta: Kencana

Public Relations sebagai Kajian Ilmu

No Comments

Tugas Kelompok

 

Oleh:

Septarini Della                     145120201111087

Eva Rianti Manullang         145120201111092

Vienna Maulidya P              145120201111093

 

Public Relations sebagai Kajian Ilmu

 

 

Ilmu bukan sekedar pengetahuan (knowledge) , tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmutertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi. (Bertens,1989)

 

Kemudian berdasarkan definisi ilmu,itu berarti sekumpulan pengetahuan memiliki teori-teori. Di dalam PR  dapat dibuktikan bahwa PR memiliki teori-teori.

Menurut Kriyantono,2015. PR memiliki 2 jenis teori,yaitu teori pinjaman dan teori original. Teori pinjaman maksudnya bahwa teori PR telah dipinjam dari disiplin ilmu yang lain dan langsung diterapkan. Sedangkan teori original maksudnya adalah bahwa teori tidak langsung diterapkan meskipun tidak benar-benar diproduksi sendiri karena PR termasuk Ilmu Sosial dan Ilmu Sosial bersifat multidisiplin.

 

Berikut adalah teori-teori PR menurut Kriyantono,2014:

  • Lack of theory or theoretical lateness
  • Borrowed theories
  • Directly applied:
  • Agenda setting
  • Uses & gratification
  • Spriral & Silence
  • Cognitive Dissonance
  • Elaborated Likelihod Model
  • Apologia
  • Atribution
  • Uncertainty Reduction, etc
  • System Theory
  • Impression management
  • Critical PR

Kemudian selain memiliki teori-teori,syarat Ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut:

1.Objektif,

2.Metodis,

3.Sistematis,

4.Universal.

Public relations dikatakan sebagai ilmu pengetahuan karena public relations memenuhi syarat adanya ilmu pengetahuan. Disini, yang kita tahu adalah public relation sebagai ilmu terapan. Yang mana banyak perusahaan memahami prinsip-prinsip, teori-teori yang diterapkan dalam kasus actual.

  1. Objektif : Public Relations mengkaji manusia dan public sebagai objek material. Sedangkan objek formalnya adalah hubungan antara organisasi dengan publiknya. Public Relations memenuhi syarat ini karena apa yang dikaji juga didukung dengan fakta-fakta empiris. Objek Public disini ada 2 kategori, yakni internal dan eksternal. Public internal adalah public yang ada dalam wilayah organisasi, seperti karyawan, manager, maupun staff. Sedangkan eksternal adalah public yang berada diluar organisasi. Seperti pelanggan, pemerintahan, dsb.

 

  1. Metodis: Dalam melakukan penelitian, tentunya  public relations dapat menggunakan metode kualitatif maupun kuantitatif.

 

 

  1. Sistematis : PR sebagai ilmu tentunya bersifat sistematis. Yang dikatakan sebagai sistematis adalah proses yang dilakukan dalam penelitian menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis. PR bersifat sistematis karena dalam tahapan penelitian dimulai dari latar belakang penelitian hingga kesimpulan penelitian maupun saran penelitian.

 

  1. Universal : PR bersifat universal karena secara umum dapat dilakukan oleh siapa saja asalkan sesuai dengan prosedur penelitian ilmiah. Saat ini, banyak perusahaan yang menerapkan penelitian PR dalam kegiatan komunikasinya. Hal itu membuktikan sifat PR yang universal.

Meskipun PR sebagai ilmu masih relatif baru,namun menurut fakta-fakta yang ada,dapat disimpulkan bahwa PR memenuhi seluruh kriteria untuk menjadi sebuah kajian ilmu. Karena sudah memiliki teori dan memenuhi syarat sebagai Ilmu Pengetahuan.

 

Daftar Pustaka:

Bertens,K. (1989) Susunan Ilmu Pengetahuan Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu. Jakarta:Gramedia

Kriyantono,R. (2014). Teori Public Relations Perspektif Barat dan Lokal. Jakarta:Kencana.

 

 

PR Functions and Goals of PR.

No Comments

 

Public Relations Functions

Menurut Maria (2002, p.31), “Public relation merupakan satu bagian dari satu nafas yang sama dalam organisasi tersebut, dan harus memberi identitas organisasinya dengan tepat dan benar serta mampu mengkomunikasikannya sehingga publik menaruh kepercayaan dan mempunyai pengertian yang jelas dan benar terhadap organisasi tersebut”.

Pengertian diatas memberikan gambaran  fungsi public relation yaitu:
1. Kegiatan yang bertujuan memperoleh itikad baik, kepercayaan, saling adanya pengertian dan citra yang baik dari publik atau masyarakat pada umumnya.
2. Memiliki sasaran untuk menciptakan opini publik yang bisa diterima dan menguntungkan semua pihak.
3. Unsur penting dalam manajemen guna mencapai tujuan yang spesifik, sesuai harapan publik, tetapi merupakan kekhasan organisasi atau perusahaan. Sangat penting bagaimana organisasi memiliki warna, budaya, citra, suasana, yang kondusif dan menyenangkan, kinerja meningkat, dan produktivitas bisa dicapai secara optimal.
4. Usaha menciptakan hubungan yang harmonis antara organisasi atau perusahaan dengan publiknya, sekaligus menciptakan opini publik sebagai efeknya, yang sangat berguna sebagai input bagi organisasi atau perusahaan yang bersangkutan.
Dapat disimpulkan bahwa public relation lebih berorientasi kepada pihak perusahaan untuk membangun citra positif perusahaan, dan hasil yang lebih baik dari sebelumnya karena mendapatkan opini dan kritik dari konsumen. Tetapi jika fungsi public relation yang dilaksanakan dengan baik benar-benar merupakan alat yang ampuh untuk memperbaiki, mengembangkan peraturan, budaya organisasi, atau perusahaan, dan suasana kerja yang kondusif, serta peka terhadap karyawan, maka diperlukan pendekatan khusus dan motivasi
dalam meningkatkan kinerjanya. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa fungsi public relation adalah memelihara, mengembangtumbuhkan, mempertahankan adanya komunikasi timbal balik yang diperlukan dalam menangani, mengatasi masalah yang muncul, atau meminimalkan munculnya masalah (Black, 2002).

Adapun fungsi dari Public Relations menurut Bettrand R. Canfield ( 1964 : 6 ) adalah sebagai berikut :
a. Mengabdi kepada kepentingan umum
Jika tidak untuk kepentingan publik baik itu internal maupun eksternal, maka tidak mungkin akan tercipta suatu hubungan yang menyenangkan. Sebaliknya suatu badan / perusahaan akan dapat sukses apabila segala tindakannya adalah sebagai pengabdian kepada kepentingan umum.

b. Memelihara komunikasi yang baik
Seorang pimpinan yang melakukan kegiatan Public Relations akan berhasil di dalam kepemimpinannya, apabila ia ikut bergaul dengan para karyawannya. Ia harud melakukan kegiatan komunikasi bukan saja dalam hubungan dinas tetapi juga diluar dinasnya. Misalnya dengan mengadakan pertandingan olahraga, kegiatan anjangsana dan lain – lain.

c. Menitik beratkan kepada moral dan tingkah laku yang baik
Seorang pemimpin yang baik dalam tingkah lakunya akan menitik beratkan kepada moralitas, ia juga akan mempunyai wibawa apabila tidak cacat moral dan tingkah lakunya. Ia harus menjadi teladan bagi bawahannya.
            Kemudian ada pula PR functions menurut Kriyantono (2008,p18.)

  • Secara garis besar, public relations memiliki fungsi:
  1. Memelihara komunikasi yang harmonis antara perusahaan dengan publiknya.

Dalam hal ini, public bisa public internal maupun eksternal. Dan PR memiliki tugas menjaga hubungan diantara keduanya

  1. Melayani kepentingan public dengan baik.
  2. Memelihara perilaku dan moralitas perusahaan dengan baik.

Sedangkan menurut Cutlip dan Center, yang dikutip dari Kriyantono, 2008. Publik relations memiliki fungsi:

  1. Menunjang kegiatan manajemen dan mencapai tujuan organisasi
  2. Menciptakan komunikasi 2 arah secara timbal balik dengan menyebar informasi dari perusahaan kepada public dan menyalurkan opini public kepada perusahaan.
  3. Melayani public dan memberikan nasehat kepada pimpinan perusahaan untuk kepentingan umum.
  4. Membina hubungan secara harmonis antara perusahaan dan public, baik internal ataupun eksternal.

Tahun 1975, Foundation for Public Relations Research and Education menyimpulkan fungsi public relations. Yakni :

  1. Membantu memelihara dan menjaga komunikasi,pengertian penerimaan dan kerjasama antara organisasi dan publiknya.
  2. Mencakup manajemen masalah dan isu-isu.
  3. Membantu manajamen selalu memberikan informasi pada dan responsive terhadap opini public.
  4. Mendefinisikan dan menekankan pada tanggung jawab manajemen untuk melayani kepentingan public.
  5. Membantu manajemen untuk selalumengikuti dan memanfaatkan perubahan.
  6. Melayani sistem pencegahan awal untuk mengantisipasi tren.
  7. Menggunakan riset dan teknik komunikasi yang beretika sebagai alat-alat pokok.

 

Goals of Public Relations

 

Berikut adalah tujuan-tujuan PR menurut Kriyantono,2008:

  1. 1.      Menciptakan pemahaman antara perusahaan dan publiknya

Tujuan PR adalah menciptakan saling pengertian antara perusahaan dan publiknya melalui komunikasi yang akhirnya terciptalah kecukupan informasi. Kecukupan informasilah yang mencegah kesalahan persepsi karena kesalahan persepsi merupakan kesalahan yang mendasar dalam proses komunikasi.

Ketercukupan informasi terwujud bila PR menyediakan saluran terbuka yang memungkinkan untuk terjadi secara dua arah agar informasi terhindar dari ketidakpastian dan kesimpangsiuran informasi. Contohnya, komunikasi dengan public internal, yakni karyawan. Karyawan diharuskan mengerti visi misi perusahaan, manajemen, masalah-masalah perusahaan , kondisi terkini perusahaan, hak-hak karyawan, dan sebagainya.

Public relation juga harus menyampaikan informasi tentang karyawan kepada pihak manajemen agar manajemen dapat memperhatikan proses pengambilan kebijakan-kebijakan yang dibuatnya. Informasi tentang karyawan bisa berupa motivasi kerja, produktivitas kerja. Kebutuhan, keluhan, saran, dan sebagainya. Disini artinya public relations adalah fasilitator / mediator komunikasi antara perusahaan dengan publiknya.

  1. 2.      Membangun citra korporat

Citra adalah gambaran public terhadap perusahaan. Citra adalah persepsi public yang menyangkut pelayanan, kualitas produk, budaya, perilaku perusahaan maupun perilaku individunya.Persepsi publik lah yang akan mempengaruhi sikap yang akan ditunjukkan publik. Tujuan PR sendiri adalah untuk membangun citra positif. Citra positif mengandung arti kredibilitas yang baik didepan public. Kredibilitas mencakup dua hal. Yakni:

  1. Kemampuan : persepsi public bahwa perusahaan dirasa mampu memenuhi kebutuhan dan kepentingan public. Seperti produk murah, berkualitas, ramah lingkungan dan sebagainya.
  2. Kepercayaan : persepsi public bahwa perusahaan dapat dipercaya untuk tetap komitmen menjaga kepentingan bersama.

Semua unsur yang ada dalam perusahaan tersebut harus ikut membangun citra perusahaan. Seperti karyawan, manajer, dsb juga turut andil dalam pembentukan citra perusahaan.

Citra bermula dari identitas korporat,misalnya logo perusahaan, brosur, kemasan, newsletter, iklan, dll. Kemudian Smith menggambarkan kaitan identitas korporat dengan citra korporat.

Corporate image dibangun dalam 4 area. Yaitu

  1. Produk/service (kualitas produk, customer care)
  2. Social responsibility, corporate citizenship, ethical behavior dan community affairs.
  3. Environtments (kantor, showrooms, pabrik)
  4. Communications (iklan, public relations, personal communication, brosur)

Karena semua komponen perusahaan berpotensi menciptakan citra, maka kegiatan public relations dapat bersifat:

  1. PR sebagai metode komunikasi yaitu kegiatan PR yang dilakukan melalui divisi Public Relations. Perusahaan memiliki divisi PR dengan program kerja tertentu yang dirancang secara sistematis dan terencana yang dipimpin manajer PR.
  2. PR sebagai teknik komunikasi yaitu setiap orang adalah public relation untuk dirinya sendiri dan perusahaan tempat ia bekerja.

 

 

  1. 3.      Citra korporat melalui CSR

Corporate Social Responsibility (CSR) adsalah program PR untuk mengatasi masalah sosial di lingkungannya. CSR disini memiliki peranan ikut memberikan kontribusi positif dengan cara meningkatkan kesejahteraan sosial.

CSR adalah investasi sosial perusahaan yang bersifat jangka panjang. Beberapa kegiatan bias menjadi trademark perusahaan yang berpengaruh dalam memperkuat merek produk. Contohnya seperti PT. Sampoerna yang mempunyai program bimbingan anak yang mana ikut berperan dalam mencerdaskan bangsa, seperti pemberian beasiswa kepada putera puteri Indonesia.

  1. 4.      Membangun citra public yang favourable

Sikap public terhadap perusahaan bila diekspresikan disebut sebagai opini public. Opini public adalah ekspresi public mengenai persepsi dan sikapnya terhadap perusahaan. Ada 3 jenis opini. Yakni opini positif (mendukung atau favourable), negative (menentang), dan netral.

Dalam hal ini PR ditutuntut untuk memelihara komunikasi persuasif yang ditujukan untuk :

  1. Menjaga opini yang mendukung.
  2. Menciptakan opini yang masih tersembunyi atau yang belum diekspresikan.
  3. Menetralkan opini yang negative.

 

  1. 5.      Membentuk goodwill dan kerjasama

Pada tahap ini, PR sudah pada tahap tindakan nyata. Artinya, sudah tercipta jalinan kerjasama dalam bentuk perilaku yang mendukung keberhasilan perusahaan. Dalam tahap ini diharapkan public secara nyata mendukung program-program perusahaan . misalnya public turut serta menyukseskan kampanye PR atau tetap loyal mengonsumsi produk perusahaan.

Goodwill dan kerjasama dapat terwujud karena ada inisiatif yang dilakukan berulang-ulangoleh PR untuk menanamkan saling pengertian dan kepercayaan kepada publiknya. Tujuan menciptakan kerjasama adalah membantu perusahaan dan public untuk saling beradaptasi satu sama lain.

 

Daftar Pustaka

Bertrand R. Canfield, Public Relations, Principles and Problem, dikutip oleh Roland E. Wolseley & Laurence R. Campbell, Third Editions, Exploring Journalism, Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs, N.J., 1959, hal. 468

Kriyantono, R. 2008. Public Relations Writing : Media Public Relations Membangun Citra Korporat. Jakarta : Kencana Prenada Media Grup

Rumanti, M. (2002). Dsar-dasar Public Relations (Teori dan Praktik). Jakarta : PT Grasindo

 

 

Hello world!

1 Comment

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!