MEDIA TANAM TANAMAN MELON

MEDIA TANAM TANAMAN MELON

 

Tanah yang baik ialah tanah liat berpasir yang banyak mengandung bahan organik seperti andosol, latosol, regosol, dan grumosol, asalkan kekurangan dari sifat-sifat tanah tersebut dapat dimanipulasi dengan pengapuran, penambahan bahan organik, maupun pemupukan. Tanaman melon tidak menyukai tanah yang terlalu basah, pH tanah 5,8-7,2. Media Tanaman (Keadaan Tanah)

Media tanam pada tanaman melon antara lain:

• Tanah yang baik untuk budidaya tanaman melon ialah tanah liat berpasir yang banyak mengandung bahan organik untuk memudahkan akar tanaman melon berkembang. Tanaman melon tidak menyukai tanah yang terlalu basah. Oleh karena itu, tanah untuk pertumbuhan melon tidak harus tanah sawah, tetapi bisa saja tanah darat yang sistem pengairannya bagus. Tanah yang bagis seperti itu dapat tercipta apabila sistem konservasi (perbaikan pengolahan) tanah dilakukan secara benar.

 

• Tanaman melon akan tumbuh baik apabila keasamaannya (pH tanah) 6,0 – 6,8. Tanah yang tingkat keasamaannya rendah akan menyebabkan tanman melon tumbuh tidak normal, karena kurangnya beberapa unsur hara yang diperlukan oleh tanaman. Tanaman bisa tumbuh tidak sehat, daunnya menguning, kemudian mengering, dan akhirnya mati. Begitu juga kalau tanah terlalu asam, maka sebagian unsur hara yang ada didalam tanah tidak akan terserap oleh akar tanaman, karena unsur hara yang ada diikat oleh aluminium (AL) dan besi (Fe). Nah jika pH tanah kurang, maka perlu dinaikkan pH-nya dengan pengapuran. Pengapudan untuk tanah asam dapat dilakukan dengan kapur dolomite atau CaMg (CO2)-3 yang dapat dibeli di toko-toko pertanian.

 

• Tanaman melon pada dasarnya membutuhkan air yang cukup banyak. Tetapi sebaliknya air itu berasal dari irigasi, bukan dari air hujan. Air yang mengenang akan menyebabkan pembusukan pada akar dan pasti akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan melon sendiri.

 

A. PENGOLAHAN MEDIA TANAM

Penyiapan lahan untuk penanaman terlebih dahulu dibersihkan dari sisa tanaman dan sampah, kemudian dilakukan pembajakan dengan kedalaman 20 – 30 cm. Lahan dikering-anginkan selama 5 – 7 hari. Bila masih ada bongkahan tanah, haluskan dan dibiarkan selama 4 – 5 hari.

Pembuatan bedengan dengan ukuran panjang maksimum 15 m, tinggi 30 – 50 cm, lebar 100 – 120 cm dan lebar parit 50 – 60 cm. Tinggi dan lebar parit disesuaikan dengan keadaan musim saat penanaman. Pada musim hujan, usahakan tinggi bedengan 50 cm, agar perakaran tanaman tidak terendam air sewaktu hujan.

Lakukan pengolahan lahan dengan cara dicangkul atau ditraktor, seperti yang biasa dilakukan, hingga lahan siap tanam, dengan jarak tanam (100×50) cm. Selanjutnya buat bedengan dengan panjang maksimum (16–18) m, tinggi (30-50) cm, lebar (100-110) cm; dan lebar saluran air (55-65) cm. Untuk mengurangi serangan penyakit dan menekan pertumbuhan gulma dianjurkan menggunakan mulsa (penutup tanah) plastik hitam atau perak. Pemasangan mulsa dilakukan setelah pemberian pupuk dasar.

 

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan terkait dengan pengolahan media tanam/ lahan untuk tanaman buah melon:

 

1. Pembukaan Lahan

Sebelum dibajak digenangi air lebih dahulu semalam, kemudian keesokan harinya dilakukan pembajakan dengan kedalaman sekitar 30 cm. Setelah itu dilakukan pengeringan, baru dihaluskan Pengukuran pH Tanah

 

2. Pembentukan Bedengan

Panjang bedengan maksimum 12-15 m; tinggi bedengan 30-50 cm; lebar bedengan 100-110 cm; dan lebar parit 55-65 cm.

 

3. Pengapuran

Penggunaan kapur per 1000 m2 pada pH tanah 4-5 diperlukan 150-200 kg dolomit , untuk antara pH 5-6 dibutuhkan 75-150 kg dolomit dan pH >6 dibutuhkan dolomit sebanyak 50 kg.

 

4. Pemupukan Dasar

Pupuk
Kandang
(ton/ ha)
Dosis Pupuk Makro 
( gram/ pohon )
Dosis POC NASA
Urea  SP36 KCl 
4-5 12 20 8 30-60 tutup /1000 m2
+ air secukupnya (siramkan)

Hasil akan lebih baik jika pada pemupukan dasar, POC NASA diganti SUPER NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis 1-2 botol/1000 m2 dengan cara :
Alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
Alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 meter bedengan.

 

5. Pengukuran pH tanah

Pengukuran pH tanah dengan menggunakan alat pH meter. Tanah yang akan di ukur dibasahi terlebih dahulu. Pengambilan sampel dilakukan di 10 titik yang berbeda, kemudian dihitung pH rata-rata.

6. Analisis Tanah

Berdasarkan fakta di lapangan tanaman melon dapat ditanam pada berbagai jenis tanah terutama tanah andosol, latosol, regosol, dan grumosol, asalkan kekurangan dari sifat-sifat tanah tersebut dapat dimanipulasi dengan pengapuran, penambahan bahan organik, maupun pemupukan.

7. Penetapan Waktu/Jadwal Tanam

Penetapan waktu tanam berkaitan dengan perkiraan waktu panen suatu varietas melon yang ditanam dan waktu panen varietas melon lainnya. Misalnya waktu tanam melon pada bulan Maret adalah varietas ten me, April varietas aroma, Mei varietas new century (hamiqua) dan seterusnya sehingga petani/pengusaha agribisnis perlu menjadwal waktu tanaman varietas melon yang dikehendaki pelanggan.

 

8. Penetapan Luas Areal Penanaman

Penetapan luas penanaman berkaitan erat dengan pemilikan modal, luas lahan yang tersedia, musim dan permintaan pasar. Tanaman melon yang diusahakan di lahan terbuka di musim hujan akan rusak terserang penyakit karena terguyur hujan terus-menerus. Maka penanaman melon di musim hujan lebih diarahkan dengan sistem hidroponik.

9. Pengaturan Volume Produksi

Pengaturan volume produksi berkaitan erat dengan perkiraan harga pada saat panen dan permintaan pasar. Cara penanaman melon dilakukan secara bertahap. Misalnya penanaman pertama 20% di lokasi A, kedua 40% di lokasi B, dan ketiga 40% di lokasi C. Interval penanaman berkisar 2 minggu. Pengaturan ini lazim dilakukan pada agribisnis melon dengan sistem hidroponik. Untuk menjaga kontinuitas produksi, biasanya interval tanamnya berselang 1-2 minggu.

10. Pemberian Natural GLIO

Untuk mencegah serangan penyakit karena jamur terutama penyakit layu, sebaiknya tebarkan Natural GLIO yang sudah disiapkan sebelum persemaian. Dosis 1-2 kemasan per 1000 m.
11. Pemasangan Mulsa Plastik Hitam-Perak (PHP)

Pemasangan mulsa sebaiknya saat matahari terik agar mulsa dapat memuai sehingga menutup bedengan dengan tepat. Biarkan bedengan tertutup mulsa 3-5 hari sebelum dibuat lubang tanam.

B. PEMBERIAN PUPUK

Untuk pertumbuhan vegetatif bibit dapat di pacu dengan penyemprotan pupuk daun yang mengandung unsur nitrogen tinggi. Pupuk daun cukup dilakukan satu kali, yaitu pada saat umur bibit 7 – 9 HSS dengan konsentrasi 1,0 – 1,5 gram/liter. Jenis pupuk yang dapat dilakukan selain pupuk kandang adalah pupuk NPK yang telah dicairkan dengan konsentrasi 5 g NPK/liter air (setiap bibit memerlukan 12 – 20 ml pupuk cair) dan disiramkan pada media tanah.

Artinya pemberian pupuk anorganik tidak mutlak harus dilakukan atau bahkan diusahakan untuk dihindari. Lebih baik menggunakan pupuk organik (pupuk kandang) yang tidak meninggalkan sisa berbahaya pada hasil panen nantinya. Jika tanah masih menyediakan unsur haara, itu saja sudah cukup.

 

1. Budidaya dengan menggunakan mulsa.

  1. Pupuk dasar.

Pupuk yang digunakan, untuk lahan seluas 1 ha, adalah campuran (2–5) ton pupuk kandang + (100–200) kg ABG-Bios + (10–20) kg campuran media semai dan ABG-BIO, yang telah diaktifkan (seperti tersebut di atas). Sebarkan campuran pupuk ini pada bedengan, atau diberikan dalam lubang tanam, sekitar (1–3) hari sebelum tanam. Setelah penanaman berikan campuran (100–200) kg ABG-Bios + 100 kg Urea + 200 kg SP-36 + 100 kg KCl. Pupuk ditempatkan dalam lubang tugal dengan kedalaman 5 cm, berjarak sekitar 10 cm dari tanaman, atau disebar merata pada larikan tanam.

  1. Pupuk susulan.

Pupuk susulan sebaiknya diberikan dalam bentuk larutan, yaitu dengan melarutkan pupuk Urea + SP-36 (harus ditumbuk dulu) + KCl, atau pupuk majemuk NPK (dengan formula 12-12-17) + pupuk organik ABG-Bios. Pemberian dilakukan dengan sistem cor mulai 20 HST, yaitu larutkan 1 kg Urea + 1 kg SP-36 + 1 kg KCl, atau gunakan 2 kg pupuk majemuk NPK (dengan formula 12-12-17) + (1–2) kg ABG-Bios + (5–10) tutup ABG-B, dalam 100 liter air (aduk secara merata). Selanjutnya siramkan sekitar 200 cc/tanaman (satu gelas aqua) pada perakaran tanaman, setiap interval (7–10) hari.

  1. Pupuk ABG.

Penyemprotan pupuk ABG-D, dengan konsentrasi (2-3) cc/liter air, dilakukan pada 10 HST, 20 HST, sedangkan pemberian pupuk ABG-B, dengan konsentrasi (2–3) cc/liter air, dilakukan pada 30 HST, 40 HST,. Untuk mencegah penyakit layu dan mengurangi serangan penyakit lainnya, berikan ABG-BIO setiap 2 minggu. Caranya: Larutkan (1–2) bungkus ABG-BIO + 1 kg dedak + 2 kg ABG-Bios + (5–10) tutup ABG-B, dalam (50-100) liter air, aduk secara merata, dan biarkan sekitar (2-4) jam. Lalu siramkan sebanyak (25–50) cc/tanaman, pada perakaran tanaman

2. Budidaya konvensional (tanpa mulsa).

  1. Pupuk dasar.

Pupuk yang digunakan, untuk lahan seluas 1 ha, adalah campuran (2–5) ton pupuk kandang + (10–20) kg campuran media semai dan ABG-BIO yang telah diaktifkan (seperti tersebut di atas). Sebarkan campuran pupuk ini pada bedengan, atau diberikan dalam lubang tanam, sekitar (1–3) hari sebelum tanam, Atau larutkan (1-2) bungkus ABG-BIO + 1 kg dedak + 5 tutup ABG-D, dalam 100 liter air. Kemudian siramkan secara merata pada bedengan, atau ke lubang tanam berisi pupuk kandang. Setelah penanaman, berikan campuran (100–200) kg ABG-Bios + 100 kg Urea + 100 kg SP-36 + 100 kg KCl, atau (15–25) gram/tanaman. Pupuk ditempatkan dalam lubang tugal dengan kedalaman 5 cm, berjarak sekitar 10 cm dari tanaman.

  1. Pupuk susulan.

Sebagai pupuk susulan gunakan campuran 100 kg Urea + 50 kg SP-36 + 100 kg KCl + (100–200) kg ABG-Bios, atau sekitar (15–20) gram/tanaman, diberikan 20 HST, atau campuran 200 kg pupuk majemuk NPK (dengan formula 12-12-17) + (100–200) kg ABG-Bios. Pupuk ditempatkan di sekeliling tanaman, dan selanjutnya dilakukan pembumbunan.

  1. Pupuk ABG.

Pemberian pupuk ABG-D, dengan konsentrasi (2-3) cc/liter air, dilakukan pada 10 HST, 20 HST, sedangkan pupuk ABG-B, dengan konsentrasi (2-3) cc/liter air, dilakukan pada 30 HST, 40 HST, dengan cara disemprotkan pada tanaman secara merata. Untuk mencegah penyakit pada tanaman melon, berikan ABG-BIO setiap 2 minggu. Caranya: Larutkan (1–2) bungkus ABG-BIO + 1 kg dedak + 2 kg ABG-Bios, dalam 50 liter air, aduk secara merata, dan biarkan sekitar (2-4) jam. Lalu siramkan sebanyak (25–50) cc/tanaman, pada perakaran tanaman.

  1. Pemupukan dengan ABG-Tablet.

Alternatif pemupukan adalah dengan menggunakan pupuk tablet ABG. Pupuk dasar terdiri dari pupuk kandang (2–5) ton/ha + (100–200) kg ABG-Bios + (1–2) bungkus ABG-BIO (diaktifkan terlebih dulu). Diberikan (1–3) hari sebelum penanaman. Sekitar (1–7) hari setelah penanaman, diberikan (2–3) tablet ABG-Tablet per tanaman. Selanjutnya hanya dikombinasikan dengan ABG-D dan ABG-B sebagai pupuk susulan seperti di atas.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>