Jurnal Budidaya Hutan Dengan Teknik Reboisasi

BUDIDAYA HUTAN DENGAN TEKNIK REBOISASI

Erviani Marlitasari

Mahasiswa Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian

Universitas Brawijaya Malang

Jl. Veteran, Malang 65145, Telp. 0341-551611, 575777: Fax. 0341-565420

E-mail: 115040201111238@students.ub.ac.id

 

Abstract: Forest in Indonesia who recently less attention in the care and cultivation. When this function is the loss of forest and forest even more barren result of human behavior everyday doing illegal logging. To make the forest which has the function as it should. Good forest cultivation should follow all the provisions of the cultivation of forest with tree species appropriate to the condition of the forest. Indonesian’s forest have many kinds of different species in each type of forest, has a different way of farming as well.

Keywords: Forest, Farming, forest type.

Abstrak: Hutan di Indonesia yang belakangan ini kurang diperhatikan dalam perawatan dan pembudidayaannya. Saat ini fungsi hutan yang semakin hilang dan hutan pun makin gundul akibat dari perilaku manusia yang setiap harinya melakukan penebangan hutan secara liar. Untuk menjadikan hutan mempunyai fungsi sebagai mana mestinya. Budidaya hutan yang baik harusnya mengikuti semua ketentuan pembudidayaan hutan dengan jenis pohon yang sesuai dengan kondisi hutan. Hutan di Indonesia memiliki banyak macam jenis yang berbeda-beda spesies disetiap jenisnya. Tipe hutan yang berbeda, memiliki cara budidaya yang berbeda juga.

Kata kunci: Hutan, Budidaya, Tipe hutan.

 

 

 

A.    Pendahuluan

Separuh dari hutan yang ada di muka bumi tergolong sebagai hutan tropik. Hutan-hutan itu sangat beranekaragam terhadap tipe, komposisi, maupun strukturnya. Semua terjadi karena adanya variasi kondisi iklim dan tanah di setiap wilayah. Ada hutan yang tumbuh dengan baik sehingga memiliki struktur lengkap mulai dari tumbuhan tingkat bawah sampai pohon yang tingkat tinggi. Ada hutan yang tampak miskin dan tidak tumbuh dengan baik, sehingga produksi biomassa dalam setahun sangat rendah. Ada hutan rapat dengan tajuk pohon bertingkat-tingkat dan saling berdekatan. Di samping itu, ada juga hutan yang sangat jarang bahkan banyak kawasan hutan gundul (tidak berpohon) sehingga hutan tidak mampu menyajikan fungsinya secara optimal untuk kesejahteraan manusia.

Hutan tropik  di Indonesia banyak yang rusak akibat kesalahan dalam sistem pengelolaan maupun akibat berbagai aktivitas manusia. Bukti kerusakan hutan yang parah ditunjukan  oleh timbulya lahan kritis dalam kawasan hutan. Untuk menghindari terjadinya kerusakan hutan bahkan timbulnya lahan kritis yang perlu pertolongan untuk dibudidayakan sebagai hutan lindung, langkah awal yang perlu dilakukan dengan memanfaatkan hutan sesuai fungsi. Perlu diketahui bahwa tidak semua jenis hutan berfungsi sama. Lalu langkah selanjutnya yang perlu dilakukan dengan menerapkan konsep budidaya hutan secara tepat sesuai dengan jenis dan tipe hutannya.

  1. B.     Budidaya Hutan dengan Teknik Reboisasi

            Telah diketahui bagaimana hutan secara umum, yang dimaksud kawasan hutan adalah kawasan yang berhutan maupun yang tidak berhutan dan telah ditetapkan untuk dijadikan hutan tetap. Hutan tetap adalah hutan, baik yang sudah ada tanamannya maupun yang akan ditanam atau tumbuh secara alami di dalam kawasan hutan.

Menurut definisi hutan itu bukan hanya sekumpulan individu pohon, tetapi sebagai masyarakat tumbuhan yang kompleks, terdiri atas pepohonan, semak, tumbuhan bawah, jasad renik tanah, dan hewan. Satu sama lain saling mengikat dalam hubungan yang bergantungan. Untuk dapat disebut sebagai hutan, sekelompok pepohonan harus mempunyai tajuk yang cukup rapat, sehingga merangsang pemangkasan alami dengan cara menaungi ranting dan dahan di bagian bawah, serta menghasilkan tumpukan bahan organik (seresah) yang sudah ternaungi maupun yang belum. Di dalam kawasan tersebut terdapat unsur-unsur lain yang bersatu misalnya tumbuhan yang lebih kecil dan bebagai bentuk kehidupan fauna.

Suatu lapangan yang ditumbuhi pepohonan dikatakan sebagai hutan apabila luas minimum lapangan yang ditumbuhi pohon sekitar ¼ hektar. Hutan seluas itu sudah dapat mencapai suatu keseimbangan persekutuan hidup yang diperlukan sehingga mampu memberikan manfaat produksi, perlindungan, pengaturan tata air, maupun pengaruh terhadap iklim.

Kehutanan itu dapat dikatakan sebagai ilmu, seni, dan praktik mengurus sumber daya hutan serta mengelola sumber daya hutan secara lestari agar bermanfaat untuk manusia (Kardi dkk., 1992:7). Jika di lihat dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 dituliskan  bahwa kehutanan ialah sistem pengurusan yang bersangkutan dengan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan yang diselenggarakan secara terpadu. Pengurusan hutan bertujuan untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dan lestari untuk kemakmuran rakyat seperti yang telah diberitakan bahwa terjadinya global warming dikarenakan penggundulan hutan secara liar.

Penerapan pengurusan hutan diantaranya sebagai berikut: a) Perencanaan kehutanan yang dimaksudkan untuk memberikan pedoman dan arah yang menjamin tercapainya tujuan penyelenggaraan kehutanan. Perencanaan kehutanan mencakup inventarisasi hutan, pengukuhan kawasan hutan, penatagunaan kawasan hutan, pembentukan wilayah pengelolaan hutan, dan penyusunan rencana kehutanan; b) Pengelolaan hutan yang mencakup kegiatan tata hutan dan penyusunan rencana pengelolaan hutan, pemanfaatan hutan dan pengunaan kawasan hutan, rehabilitasi dan reklamasi hutan, serta perlindungan hutan dan konservasi alat; c) Penelitian dan pengembangan, pendidikan dan latihan, serta penyuluhan kehutanan. Penelitian dan pengembangan kehutanan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pengurusan hutan dalam mewujudkan pengelolaan hutan secara lestari dan peningkatkan nilai tambah hasil hutan. Pendidikan dan latihan bertujuan untuk membentuk sumber daya manusia yang menguasai dan mampu memanfaatkan serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengurusan hutan secara adil dan lestari. Adapun penyuluhan kehutanan bertujuan untuk meningkatakan pengetahuan dan keterampilan serta untuk mengubah sikap dan perilaku masyarakat agar dapat dan mampu mendukung pembangunan kehutanan dengan kesadaran yang tinggi akan pentingnya sumber daya hutan untuk kehidupan manusia; d) Pengawasan kehuanan yang dimaksudkan untuk mencermati, menelusuri, dan menilai pelaksanaan pengurusan hutan, sehingga tujuannya dapat tercapai maksimal dan sekaligus merupakan umpan balik bagi perbaikan dan penyempurnaan pengurusan hutan dimasa mendatang.

Dengan penerapan pengurusan hutan tersebut berkaitan erat dengan aspek pengelolaan dan di dalamnya terdapat rangkaian kegiatan yang dilakukan berdasarkan ilmu pengetahuan dan pengalaman untuk menjamin serta mempertinggi pemanfaatan hutan secara lestari. Kelestarian hutan mengandung makna yang luas karena mencakup kelestarian ekosistem hutan dan fungsinya untuk kehidupan seluruh masyarakat, itu berarti bahwa semua komponen pembentuk ekosistem hutan harus ada dalam kondisi yang sempurna agar fungsi hutan menjadi sempurna. Salah satu komponen ekosistem hutan berupa tetumbuhan yang harus didominasi oleh pepohonan. Oleh karena itu, wujud hutan sangat bergantung kepada keberadaan komunitas tumbuhannya.

Untuk memulihkan kondisi hutan yang rusak (tidak bervegetasi sempurna) diperlukan kegiatan rehabilitasi lahan dalam kawasan hutan. Dalam kaitannya dengan kegiatan rehabilitasi lahan dalam kawasan hutan melalui upaya penanaman kembali pepohonan dalam kawasan hutan. Dalam kaitannya dengan kegatan rehabilitasi lahan hutan, diperlukan penguasaan aspek budi daya hutan agar tujuan pembangunan hutan dapat tercapai.

1. Tipe-Tipe Hutan di Indonesia

            Berdasarkan kepada proses terbentuknya hutan (suksesi hutan), maka hutan dikelompokkan atas dua tipe, yaitu hutan alam dan hutan antropogen (Arief, 1994:53). Sedangkan berasarkan faktor iklim, edafik, dan komposisi vegetasi, maka hutan dikelompokkan atas enam tpe, yaitu hutan hujan tropic (tropical rain forest), huta musim (monsoon forest), hutan gambut (peat forest), hutan rawa (swamp forest), hutan payau (mangrove forest), dan hutan pantai (littoral forest).

Hutan alam, yaitu hutan yang terjadi melalui proses suksesi secara alam. Hutan alam ini dibagi atas dua jenis yaitu sebagai berikut: a) Hutan alam primer merupakan hutan alam asli yang belum pernah dilakukan penebangan oleh manusia. Hutan itu dicirikan oleh pohon-pohon tinggi yang berumur ratusan tahun yang tumbuh dari biji. Hutan alam primer mencakup hutan perawan, hutan alam primer tua, dan hutan alam primer muda; b) Hutan alam sekunder merupakan hutan asli yang pernah mengalami kerusakan oleh kegiatan alam. Hutan ini dicirikan oleh pohon-pohon yang lebih rendah dan kecil apabila dibandingkan dengan pohon-pohon pada hutan alam primer. Akan tetapi, apabila umur pohon sudah mencapai ratusan tahun, hutan itu akan sulit dibedakan dengan hutan alam primer, kecuali diketahui sejarah proses suksesi yang terjadi. Hutan alam sekunder mencakup hutan vulkanogen, hutan kebakaran alam, dan hutan penggembalaan alam (Indriyanto, 2008:12).

Hutan antropogen merupakan hutan yang terjadi melalui proses suksesi komunitas tumbuhan dengan campur tangan manusia . hutan tersebut mencakup hutan trubusan, hutan tanaman, hutan penggembalaan antropogen, hutan ladang, dan hutan kebakaran antropogen.

Hutan hujan tropik merupakan bentuk hutan klimaks utama dari hutan-hutan di dataran rendah yang mempunyai tiga stratum (lapisan tajuk) pohon A, B, C, atau lebih. Curah hujan di derah tersebut  2.000-4.000 mm per tahun, suhu udara 250C-260C, dan rata-rata kelembapan relative udara 80 persen. Pepohonan tertinggi pada hutan hujan tropik dapat mencapai 40-55 meter (Arief, 1994:84). Di hutan hujan tropik terdapat strtifikasi tajuk pohn dari berbagai spesies pohon yang bebeda ketinggiannya. Tajuk pohon yang bersatu dan rapat ditambah dengan adanya tumbuh-tumbuhan pemanjat yang menggantung dan menempel pada daan pohon, misanya rotan, anggrek, dan paku-pakuan. Hal itu menyebabkan sinar matahari tidak dapat menembus samapai ke lantai hutan. Hal itu juga menyebabkan tidak memungkinkan semak-semak tumbuh dan berkembang, kecuali jenis cnedawan yang suka hidup di tempat yang kurang cahaya. Ciri-ciri khas tersebut dimilki oleh hutan hujan tropik. Di indonesia, hutan hujan tropik terdapat di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya. Hutan tersebut mempunyai lebih kurang 3.000 jenis pohon besar dan termasuk kedalam 450 marga atau genus (Arief, 1994:85). Berdasarkan ketinggian tempat tumbuhnya, hutan hujan tropik dibedakan menjadi tiga zona, yaitu: a) zona 1= 0-1.000 meter dari permukaan laut disebut hutan hujan bawah; b) zona 2 = 1.000-3.300 meter dari permukaan laut disebut hutan hujan tengah; c) zona 3 = 3.300-4.100 meter dari permukaan laut disebut hutan hujan atas.

Hutan musim merupakan hutan campuranyang terdapat di daerah beiklim muson, yaitu daerah yang memiliki peredaan nyata antara musim kemarau dan musim basah (Arief, 1994:86). Hutan musim merupakan salah satu  tipe hutan yang terdapat pada daerah-daerah denga tipe iklim C dan D, dan rata-rata curah hujan setahun antara 1.000 milimeter dan 2.000 milimeter (Direktorat Jenderal Kehutanan, 1976). Di Indonesia, tiepe hutan musi terdapat di Pulau Jawa, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Nusa Tenggar, dan sebagian kecil terdapat di pulau-pulau lainnya. Tegakan hutan musim didominai oleh jenis-jenis pohon yang menggugurkan daun di musim kering. Di hutan musim terdpat dua lapisan tajuk yang jelas berbeda, juga kaya jenis tumbuh-tumbuhan merambat yang kayu maupun jenis herba. Berdasarkan pada ketinggian tempat tumbuhan, hutan musim dibedakan menjadi dua zona, yaitu: a) zona 1 = 0-1.000 meter dari permukaan laut disebut hutan musim bawah; b) zona 2 = 1.000-4.100 meter dari permukaan laut disebut hutan hujan musim tengah dan atas.

Hutan gambut merupakan hutan yang tumbuh di atas kawasan yang digenangi air dalam keadaan yang asam dibawah pH netral (Arief, 1994:86). Kondisi seperti itu menyebabkan tanahnya miskin hara. Hutan itu juga menjadi suatu ekosistem yang cukup unik karena tumbuhnya di atas tumpukan bahan organik yang melipah dan hidupnya bergantung kepada hujan. Sering kali daerah gambut mengalami genangan air tawar secara periodik dan mempunyai topografi bergeombang kecil serta menciptakan bagian-bagian cekungan tergenang air tawar. Gambut terjadi pada hutan karena pohon tumbang dan tenggelam dalam lumpur, di dalamnya terdapat seikit oksigen sehingga jasad renik tanah sebagai pembusuk tidak mampu melanjutkan proses pembusukan secara sempurana terhadap bahan-bahan tanaman tersebut. Bahan-bahan yang tidak mebusuk akan berubah menjadi gambut dan mampu mencapai ketebalan hingga 20 meter (Arief, 1994:86).

Hutan rawa terdapat di daerah-daerah yang selalu tergenang air tawar. Umunya terletak di belakang hutan payau, itu berarti hutan rawa terletak dari arah tepi laut sesudah hutan payau. Seperti pada hutan payau, hutan rawa dicirikan oleh adanya tempat tumbuh yang mempunyai aerasi buruk (Arief, 1994:87). Jenis tanah pada habitat hutan rawa dari jenis alluvial. Hutan rawa mempunyai beberapa tingkatan tajuk dan bentuknya hampir menyerupai hutan hujan. Daerah penyebaran hutan rawa di Indonesia meliputi Sumatra bagian timur, Kalimantan barat, Kalimantan Tengah, dan wilayah bagian selatan Irian Jaya (Indriyanto, 2005:17).

Hutan payau merupakan suatu ekosistem yang unik dengan bermacam-macam fungsi. Hutan payau terdapat pada daerah pantai yang selalu dan secara teratur tergenang air laut, dipengaruhi oleh pasang surut air laut, dan tidak terpengaruh oleh iklim. Kondisi tanah di hutan payau berupa tanah lumpur, pasir, atau lumpur berpasir. Pada hutan payau terdapat campuran air tawar dari sungai dengan air laut. Jika tidak terdapat ombak besar di tepi pantai, maka daerah tersebut akan terbentuk huta payau karena salah satu syarat terbentuknya hutan payau adalah ombak yang tergenang (Arief, 1994:89).

Hutan pantai terdapat di daerah kering di tepi pantai. Hutan tersebut tidak terpengaruh oleh iklim, pada daerah dengan kondisi tanah berpasir dan berbatu-batu, serta terletak di atas garis pasang tertinggi. Hutan pantai biasanya tidak lebar terdapat di pantai yang agak tinggi dan kering. Daerah tersebut jarang digenangi air laut. Akan tetapi, sering terjadi angin kencang dengan hembusan garam.

2. Peranan Budidaya Hutan Dalam Kehidupan

            Budi daya hutan berkaitan erat dengan kontrol terhadap proses pembentukan tegakan hutan, pertumbuhan pohon, komposisi jenis tumbuhan, dan kualitas tegakan hutan atau vegetasi (Baker dkk., 1979:56). Pengetahuan tentang sifat-sifat hutan dan pohon hutan, seperti bagaimana mereka tumbuh, bereproduksi, dan berkaitan terhadap perubahan lingkungan, dipelajari dalam bidang kehutanan yang disebut dengan silvika. Silvika merupakan dasar bidang ilmu budaya pohon karena budi daya pohon mengandung aspek-aspek penerapan metode penanganan hutan berdasarkan pandangan teori silvika yang dimodifikasi sesuai dengan keadaan dan tujuan pengelolaan hutan. Silvika membicarakan hokum-hukum pertumbuhan dan perkembangan dari setiap pohon dalam hutan sebagai suatu kesatuan biologis. Di dalam budidaya hutan, keterangan yang diperoleh dari silvika digunakan untuk memproduksi hutan. Selain itu, prinsip-prinsip dan prosedur teknis dikembangkan untuk melakukan pemeliharaan dan pemudaan hutan secara ilmiah.

Untuk dapat menguasai seni menghasilkan hutan, tidak cukup hanya mengetahui prinsip dan cara teknis budi daya pohon secara terinci untuk semua jenis kayu yang berharga dan juga tipe-tipe hutannya. Karena ada ribuan jenis kayu yang tumbuh di hutan Indonesia dan belum semua diketahui mengenai syarat tumbuh maupun aspek budi daya lainnya.

Pengendalian dan kontrol terhadap struktur tegakan hutan menghendaki kaidah-kaidah yang memadukan pengetahuan biologi, pengelolaan, dan ekonomi. Kaidah tersebut harus sesuai dengan kerangka yang dapat diterima oleh masyarakat karena tidak ada sesuatu yang benar-benar merupakan system budi daya pohon yang baik pada saat itu pula tidak mengandung pengertian pengelolaan dan nilai sosial yang baik.

Konsep dasar budi daya pohon adalah bahwa pemilihan perlakuan silvikultur yang tepat, baik pada hutan alam maupun pada hutan tanaman, bergantung pada tingkat control interaksi genotip lingkungan terhadap perkembangan fisiologis tegakan (Indriyanto, 2008:19)

3. Peranan Daerah Aliran Sungai pada Tanaman Hutan

Penutupan vegetasi disuatu wilayah DAS (Daerah Aliran Sungai) berkaitan erat dengan masalah konservasi tanah dan air. Dalam hal ini, hutan sebagai salah satu penyangga utama dalam sistem DAS (Indriyanto, 2008:92). Oleh karena itu, tindakan mengelola hutan secara baik juga merupakan upaya konservasi tanah dan konservasi air. Perusakan hutan dan vegetasi lainnya, terjadinya erosi tanah, timbulnya lahan kritis, berkurangnya persediaan air tanah, dan menurunnya produktivitas lahan merupakan masalah alam yang saling berkaitan. Umumnya hal itu terjadi karena aktivitas manusia dalam mengeksploitasi sumber daya hutan dan sumber daya pertanian tanpa memelihara kelestariannya.

Perlu disadari, bahwa bertambahnya penduduk di muka bumi dan meningkatnya standar kehidupan manusia menyebabkan meningkatkan pula kebutuhannya. Secara otomatis, aktivitas manusia dalam mengeksploitasi sumber daya alam, termasuk sumber daya hutan dan sumber daya pertanian, juga terus meningkat. Aktivitas manusia seperti itu jika tidak dibarengi dengan usaha rehabilitasi lahan hutan dan lahan pertanian, maka keberadaan sumber daya tersebut tidak akan lestari, hal itu berarti bahwa  kerusakanlah yang senantiasa terjadi. Menghadapi masalah seperti diatas hanya akan terselesaikan dengan cara mempertahankan keseimbangan alam yang masih utuh. Tanpa upaya rehabilitasi lahan dan kesadaran mempertahankan keseimbangan alam, maka besar atau kecil kerusakan akan terus terjadi.

Segala bentuk kerusakan vegetasi pelindung tanah dalam suatu wilayah DAS, baik dalam kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan harus diperbaiki melalui kegiatan reboisasi dan penghijauan. Kegiatan reboisasi dan penghijauan harus dilakukan secara sungguh–sungguh untuk menanggulangi dan memperbaiki hutan yang gundul, serta lahan–lahan kritis di luar kawasan hutan.

 

 

4. Reboisasi pada Hutan yang Gundul

Ditinjau dari aspek rehabilitasi atau pemulihan lahan kritis, arti reboisasi dan penghijauan hampir sama. Perbedaan arti kedua istilah tersebut pada sasaran lokasi dan kesesuaian jenis tanaman yang ditanam pada masing–masing lokasi kegiatan.

Reboisasi merupakan kegiatan penghutanan kembali kawasan hutan bekas tebangan maupun lahan–lahan kosong yang terdapat di dalam kawasan hutan (Manan, 1978:10). Reboisasi meliputi kegiatan pemudaan pohon, penanaman dengan jenis pohon lainnya di area hutan Negara dan area lain sesuai rencana tata guna lahan yang diperuntukkan sebagai hutan. Dengan demikian, membangun hutan baru pada area bekas tebang habis, bekas tebang pilih, atau pada lahan kosong lain yang terdapat di dalam kawasan hutan termasuk reboisasi (Kadri dkk., 1992:129).

Penghijauan merupakan kegiatan penanaman pada lahan kosong di luar kawasan hutan, terutama pada tanah milik rakyat dengan tanaman keras, misalnya jenis-jenis pohon hutan, pohon buah, tanaman perkebunan, tanaman penguat teras, tanaman pupuk hijau, dan rumput pakan ternak. Tujuan penanaman penanaman agar lahan tersebut dapat dipulihkan, dipertahankan dan ditingkatkan kembali kesuburannya (Manan, 1986:11). Menurut Kardi dkk. (1992:136) upaya yang termasuk dalam rangkaian kegiatan penghijauan, yang sudah disebutkan berupa pembuatan bangunan pencegah erosi tanah, misalnya pembuatan sengkedan (teras) dan bendungan (check dam) yang dilakukan pada area di luar kawasan hutan.

5. Tujuan Reboisasi Dan Penghijauan pada Hutan

Hutan harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, tanpa mengubah kaidah-kaidah yang ada. Oleh karena itu, selain memanfaatkan hasil hutan untuk pembangunan, perlu juga memberikan perhatian secara penuh untuk upaya pembelajaran tegakan hutan agar potensi hutan dan fungsinya dapat dimanfaatkan sepanjang masa.

Adapun kegiatanreboisasi dalam rangka pembangunan hutan tanaman industry dilaksanakan pada wilayah hutan produksi, baik di dalam maupun di luar area hak pengusahaan hutan (HPH). Menurut Mangundikoro dan Arisman (1986:5) tujuan utama reboisasi yaitu untuk menjamin penyediaan bahan baku industry hasil hutan nberupa kayu konstruksi, pulp, rayon, kertas, kayu energi, dan kayu mewah. Tujuan pemanfaatan area hutan tersebut untk pembangunan hutan tanaman industry dalam rangka meningkatkan potensi tegaka, meningkatkan produktivitas hutan, seta memenuhi bahan baku kayu yang dibutuhkan oleh industry perkayuan. Egiatan reboisasi dengan tujuan tersebut dilakukan melalui penerapan budidaya utan secara intensif, mencakup penggunaan jenis pohon unggul, melakukan pengolahan tanah secara baik dan hati-hati, dan pemeliharaan tanaman secara teratur.

Reboisasi dan penghijauan memiliki tujuan uatama antara lain sebagai berikut: a.) untuk membangu usaha ekonomi yaitu pembangunan diarahakan pada pola hutan industry atau hutan tanaman industry yang diharapkan dapat menyuplai bahan baku industry perkayuan yang dibangun dekat lokasi pembangunan hutan yang bersangkutan: b.) Untuk memperbaiki kondisi hidro-orologi suatu wilayah yaitu penanaman pohon bertujuan untuk mencegah terjadinya banjir, erosi, tanah longsor, serta melestarikan sumber daya air; c.) untuk memperbaiki dan mempertahankan kesuburan tanah yaitu dalam rangka pengembalian unsur hara ke tempat tumbuh secara baik dari produk serasah hutan, serta tajuk pohon yang selalu hijau disertai produk seresah yang banyak membuat tanah hutan tidak mudah rusak akibat kekuatan proses hidrologi dalam hutan; d.)Untuk menjaga kelestarian suatu jenis pohon yaitu merencanakan dengan baik dalam rangka menjaga kelestarian suatu jenis pohon yang termasuk lanka atau terancam punah. Hal itu dikarenakan pengadaan bahan tanaman untuk pengembangan jenis langka pada umumnya mengalami kesulitan.

Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan reboisasi agar digalakan dalam kawasan hutan konservasi dengan melakukan pengembangan jenis-jenis pohon setempat sebagai upaya konservasi jenis pohon secara in situ, serta mengembangkan jenis pohon langka yang ada di dalam kawasan hutan produksi untuk itu menunjang pengadaan bahan tanaman terhadap jenis pohon langka sangat diperlukan upaya membangun bank klon atau kebun benih.

  1. C.    Penutup

Hutan merupakan kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi oleh pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Hutan memiliki berbagai tipe antara lain: Hutan alam, Hutan Antropogen, Hutan hujan tropik, Hutan musim, Hutan gambut, Hutan rawa, Hutan payau, Hutan pantai. Peranan budidaya kehutanan dalam kehutanan adalah untuk mengendalikan dan mengontrol terhadap struktur tegakan hutan menurut aturan atau kaidah yang menyatukan pengetahuan biologi, pengelolaan, dan ekonomi. Dengan kerusakan hutan di Indonesia yang begitu memprihatinkan, yang harus dilakukan untuk mengembalikan fungsi hutan adalah penghijauan kembali dan reboisasi. Reboisasi dan penghijauan memiliki tujuan yaitu untuk membangun usaha ekonomi, untuk memperbaiki kondisi hidro-orologi suatu wilayah, untuk memperbaii dan menjaga kesuburan tanah dan untuk menjaga kelestarian suatu jenis pohon.

 

Daftar Pustaka

Arief, A.1994. Hutan: Hakikat dan Pengaruhnya terhadap Lingkungan. Jakarta: Penerbit Yayasan Obor Indonesia.

Baker, F. S.,T. W. Daniel, dan J. A. Helms. 1979. Principles of Silviculture. New York: McGraw-Hill Inc. Book Co.

Indriyanto. 2005. Ekologi Hutan. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Indriyanto. 2008. Pengantar Budidaya Hutan. Jakarta: Bumi Askara.

Kardi, W. dkk.1992. Manual Kehutanan. Jakarta: Departemen Kehutanan Republik Indonesia.

Manan, S. 1978. Masalah Pembinaan Kelestarian Ekosistem Hutan. Bogor: Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Mangundikoro, A dan H. Arisman. 1986. Pemilihan jenis Pohon Hutan Tanaman Industri. Sekertariat pengendalian Pembangunan Hutan Tanaman Industri. Departemen Kehutanan. Jakarta: Prosiding Pembangunan Hutan Tanaman Industri bulan April 1986.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>