Nov

22

Undang-undang Nomor 4 TAhun 1950 yang merupakan pokok pertama undang-undang pendidikan dan pengajaran sesudah masa kemerdekaan tidak memberikan definisi tentang konsep pendidikan, konsep pendidikan nasional, maupun konsep sistem pendidikan nasional. Hanya saja, dalam pembukaannya yang ditulis oleh Mr. Muh. Yamin, Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan pada waktu itu dikemukakan bahwa pendidikan nasional merupakan landasan pembangunan masyarakat nasional, yaitu masyarakat yang berkesusilaan nasional. Oleh karena itu, sistem pendidikan dan pengajaran lama secara berangsur-angsur harus digantikan dengan sistem pendidikan dan pengajar nasional yang demokratis.

Pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian, pendidik (dosen, guru, instruktur, dan trainer) dituntut untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berguna.
Efektifitas pendidikan di Indonesia sangat rendah. Setelah praktisi pendidikan melakukan penelitian dan survey ke lapangan, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelm kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Hal ini menyebabkan peserta didik dan pendidik tidak tahu “goal” apa yang akan dihasilkan sehingga tidak mempunyai gambaran yang jelas dalam proses pendidikan. Jelas hal ini merupakan masalah terpenting jika kita menginginkan efektifitas pengajaran. Bagaimana mungkin tujuan akan tercapai jika kita tidak tahu apa tujuan kita.
Selama ini, banyak pendapat beranggapan bahwa pendidikan formal dinilai hanya menjadi formalitas saja untuk membentuk sumber daya manusia Indonesia. Tidak perduli bagaimana hasil pembelajaran formal tersebut, yang terpenting adalah telah melaksanak pendidikan di jenjang yang tinggi dan dapat dinaggap hebat oleh masyarakat. Anggapan seperti itu jugalah yang menyebabkan efektifitas pengajaran di Indonesia sangat rendah. Setiap orang mempunya kelebihan di bidangnya masing-masing dan diharapkan dapat mengambil pendidikaan sesuai bakat dan minatnya bukan hanya untuk dianggap hebat oleh orang lain.
Dalam pendidikan di sekolah menegah misalnya, seseorang yang mempunyai kelebihan di bidang sosial dan dipaksa mangikuti program studi IPA akan menghasilkan efektifitas pengajaran yang lebih rendah jika dibandingkan peserta didik yang mengikuti program studi yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Hal-hal sepeti itulah yang banyak terjadi di Indonesia. Dan sayangnya masalah gengsi tidak kalah pentingnya dalam menyebabkan rendahnya efektifitas pendidikan di Indonesia.

Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik jika kita memperhitungkan untuk memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses yang baik pula. Hal-hal itu jugalah yang kurang jika kita lihat pendidikan di Indonesia. Kita kurang mempertimbangkan prosesnya, hanya bagaiman dapat meraih stendar hasil yang telah disepakati.
Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia. Yang juga berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik.
Masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia sudah menjadi rahasia umum bagi kita. Sebenarnya harga pendidikan di Indonesia relative lebih randah jika kita bandingkan dengan Negara lain yang tidak mengambil sitem free cost education. Namun mengapa kita menganggap pendidikan di Indonesia cukup mahal? Hal itu tidak kami kemukakan di sini jika penghasilan rakyat Indonesia cukup tinggi dan sepadan untuk biaya pendidiakan.
Jika kita berbiara tentang biaya pendidikan, kita tidak hanya berbicara tenang biaya sekolah, training, kursus atau lembaga pendidikan formal atau informal lain yang dipilih, namun kita juga berbicara tentang properti pendukung seperti buku, dan berbicara tentang biaya transportasi yang ditempuh untuk dapat sampai ke lembaga pengajaran yang kita pilih. Di sekolah dasar negeri, memang benar jika sudah diberlakukan pembebasan biaya pengajaran, nemun peserta didik tidak hanya itu saja, kebutuhan lainnya adalah buku teks pengajaran, alat tulis, seragam dan lain sebagainya yang ketika kami survey, hal itu diwajibkan oleh pendidik yang berssngkutan. Yang mengejutkanya lagi, ada pendidik yang mewajibkan les kepada peserta didiknya, yang tentu dengan bayaran untuk pendidik tersebut.
Selain masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, masalah lainnya adalah waktu pengajaran. Dengan survey lapangan, dapat kami lihat bahwa pendidikan tatap muka di Indonesia relative lebih lama jika dibandingkan Negara lain. Dalam pendidikan formal di sekolah menengah misalnya, ada sekolah yang jadwal pengajarnnya perhari dimulai dari pukul 07.00 dan diakhiri sampai pukul 16.00.. Hal tersebut jelas tidak efisien, karena ketika kami amati lagi, peserta didik yang mengikuti proses pendidikan formal yang menghabiskan banyak waktu tersebut, banyak peserta didik yang mengikuti lembaga pendidikan informal lain seperti les akademis, bahasa, dan sebagainya. Jelas juga terlihat, bahwa proses pendidikan yang lama tersebut tidak efektif juga, Karena peserta didik akhirnya mengikuti pendidikan informal untuk melengkapi pendidikan formal yang dinilai kurang.
Selain itu, masalah lain efisienfi pengajarn yang akan kami bahas adalah mutu pengajar. Kurangnya mutu pengajar jugalah yang menyebabkan peserta didik kurang mencapai hasil yang diharapkan dan akhirnya mengambil pendidikan tambahan yang juga membutuhkan uang lebih.
Yang kami lihat, kurangnya mutu pengajar disebabkan oleh pengajar yang mengajar tidak pada kompetensinya. Misalnya saja, pengajar A mempunyai dasar pendidikan di bidang bahasa, namun di mengajarkan keterampilan, yang sebenarnya bukan kompetensinya. Hal-tersebut benar-benar terjadi jika kita melihat kondisi pendidikan di lapangan yang sebanarnya. Hal lain adalah pendidik tidak dapat mengomunikasikan bahan pengajaran dengan baik, sehingga mudah dimengerti dan menbuat tertarik peserta didik.
Sistem pendidikan yang baik juga berperan penting dalam meningkatkan efisiensi pendidikan di Indonesia. Sangat disayangkan juga sistem pendidikan kita berubah-ubah sehingga membingungkan pendidik dan peserta didik.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, kita menggunakan sistem pendidikan kurikulum 1994, kurikulum 2004, kurikulum berbasis kompetensi yang pengubah proses pengajaran menjadi proses pendidikan aktif, hingga kurikulum baru lainnya. Ketika mengganti kurikulum, kita juga mengganti cara pendidikan pengajar, dan pengajar harus diberi pelatihan terlebih dahulu yang juga menambah cost biaya pendidikan. Sehingga amat disayangkan jika terlalu sering mengganti kurikulum yang dianggap kuaran efektif lalu langsung menggantinya dengan kurikulum yang dinilai lebih efektif.

Jika kita ingin meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, kita juga berbicara tentang standardisasi pengajaran yang kita ambil. Tentunya setelah melewati proses untuk menentukan standar yang akan diambil.
Dunia pendidikan terus berudah. Kompetensi yang dibutuhka oleh masyarakat terus-menertus berunah apalagi di dalam dunia terbuka yaitu di dalam dunia modern dalam ere globalisasi. Kompetendi-kompetensi yang harus dimiliki oleh seseorang dalam lembaga pendidikan haruslah memenuhi standar.
Seperti yang kita lihat sekarang ini, standar dan kompetensi dalam pendidikan formal maupun informal terlihat hanya keranjingan terhadap standar dan kompetensi. Kualitas pendidikan diukur oleh standard an kompetensi di dalam berbagai versi, demikian pula sehingga dibentuk badan-badan baru untuk melaksanakan standardisasi dan kompetensi tersebut seperti Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP)
Tinjauan terhadap sandardisasi dan kompetensi untuk meningkatkan mutu pendidikan akhirnya membawa kami dalam pengunkapan adanya bahaya yang tersembunyi yaitu kemungkinan adanya pendidikan yang terkekung oleh standar kompetensi saja sehngga kehilangan makna dan tujuan pendidikan tersebut.
Peserta didik Indonesia terkadang hanya memikirkan bagaiman agar mencapai standar pendidikan saja, bukan bagaimana agar pendidikan yang diambil efektif dan dapat digunakan. Tidak perduli bagaimana cara agar memperoleh hasil atau lebih spesifiknya nilai yang diperoleh, yang terpentinga adalah memenuhi nilai di atas standar saja.
Hal seperti di atas sangat disayangkan karena berarti pendidikan seperti kehilangan makna saja karena terlalu menuntun standar kompetensi. Hal itu jelas salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia.
Selain itu, akan lebih baik jika kita mempertanyakan kembali apakah standar pendidikan di Indonesia sudah sesuai atau belum. Dalam kasus UAN yang hampir selalu menjadi kontrofesi misalnya. Kami menilai adanya sistem evaluasi seperti UAN sudah cukup baik, namun yang kami sayangkan adalah evaluasi pendidikan seperti itu yang menentukan lulus tidaknya peserta didik mengikuti pendidikan, hanya dilaksanakan sekali saja tanpa melihat proses yang dilalu peserta didik yang telah menenpuh proses pendidikan selama beberapa tahun. Selain hanya berlanhsug sekali, evaluasi seperti itu hanya mengevaluasi 3 bidang studi saja tanpa mengevaluasi bidang studi lain yang telah didikuti oleh peserta didik.
Banyak hal lain juga yang sebenarnya dapat kami bahas dalam pembahasan sandardisasi pengajaran di Indonesia. Juga permasalahan yang ada di dalamnya, yang tentu lebih banyak, dan membutuhkan penelitian yang lebih dalam lagi
Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia juga tentu tidah hanya sebatas yang kami bahas di atas. Banyak hal yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan kita. Tentunya hal seperti itu dapat kita temukan jika kita menggali lebih dalam akar permasalahannya. Dan semoga jika kita mengetahui akar permasalahannya, kita dapat memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia sehingga jadi lebih baik lagi.

Nov

15

Pesan singkat yang saya angkat menjadi judul dari post saat ini tentu bukan semata-mata karena tidak ada yang bermasalah atau baik-baik saja. Ada apa dengan urbanisasi yang terjadi di Indonesia? Apa sih urbanisasi itu? Apa dampaknya? Bagaimana penanggulannya? Saya akan membahasnya satu persatu.

Urbanisasi atau migrasi desa ke kota merupakan suatu kondisi dimana adanya perpindahan penduduk dari desa, kota kecil, dan pertanian ke pusat urban (kota) untuk mencari pekerjaan dan kehidupan yang lebih layak. Faktor pendorong adanya urbanisasi seperti perekonomian yang terjadi di desa tersebut stagnan atau bahkan tidak berjalan, sulitnya mencari pekerjaan atau mengembangkan usaha dan adapula karena cerita kesuksesan dari orang yang sudah berhasil melakukan migrasi dan ia berasal dari desa tersebut. Pola fikir masyarakat sampai saat ini masih berkutat dengan hal yang demikian. Padahal, tanpa disadari orang-orang yang berhasil melakukan migrasi dan sukses kehidupannya kita tidak tahu seberapa besar proses yang dihadapinya dan tantangan apa saja yang sudah dilewatinya.

Apa dampak yang ditimbulkan? Penduduk yang bermigrasi dengan tangan kosong akan menjadikan permasalahan baru di kota-kota besar tujuan karena tidak mempunyai keterampilan yang cukup, kurang bisa memanfaatkan peluang yang ada, dan pada akhirnya memilih untuk menjadi pemulung atau pengemis atau bahkan pekerjaan yang lainnya yang lebih parah. Hal ini juga akan berdampak pada peningkatan jumlah pengangguran dan tingkat kriminalitas yang semakin tinggi serta kepadatan penduduk yang belum tentu memberikan sumbangan yang baik bagi kota besar tapi malah memperparah dengan kondisi yang demikian adanya. Mendatangkan masalah bagi kota besar tujuan dan mendatangkan masalah bagi desa yang ditinggalkan, bertambah lagi masalah yang ditimbulkan perekonomian di desa akan semakin lambat dan bisa-bisa perekonomian di desa tersebut mati karena banyaknya penduduk yang bermigrasi.

Tujuan kota-kota besar yang menjadi sasaran penduduk untuk bermigrasi seperti contohnya Kota Jakarta atau Kota Surabaya dan kota besar lainnya. Mereka menganggap kehidupannya akan meningkat jika ia tinggal di kota besar dnegan gaji yang tinggi dan dengan teknologi serta pembaharuan yang cepat sekali terjadi. Apalagi jika dilihat pada saat menjelang lebaran atau arus balik lebaran, semakin meningkat angka urbanisasi yang terjadi di Indonesia. Indonesia juga dikategorikan sebagai negara dengan laju urbanisasi tercepat di Asia. Pada tahun 2011, tingkat urbanisasi mencapai 51% dan diprediksikan pada tahun 2025 akan meningkat hingga 68%. Jika hal ini tidak segera dikendalikan akan terjadi lonjakan tingkat pengangguran yang sangat besar.

Program yang sudah dicanangkan oleh Pak Jokowi-JK yaitu NAWACITA, dimana salah satu dari 9 program yang dicanangkan adalah membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Program merupakan suatu upaya yang baik dalam mendorong pengendalian urbanisasi. Program tersebut juga tidak akan terlaksana kalau tidak ada dukungan serta kerjasama dengan penduduk Indonesia tentunya. Adapun juga kiat-kiat dalam membangun serta memakmurkan daerah pinggiran atau daerah pedesaan yang sampai saat ini dinilai sebagai wilayah yang mengalami keterbelakangan, seperti:

1.Mengembangkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dari berbagai pedesaan

UMKM merupakan suatu hal yang dapat menjadi solusi dalam menggerakkan roda perekonomian desa. Dari keterampilan yang dimiliki masyarakat desa entah dari hasil kerajinan atau pun hasil kreatifitas lainnya yang nantinya akan meningkatkan daya jual suatu barang yang juga akan memunculkan adanya transaksi jual beli. Dari jual beli disini masyarakat akan mendapatkan keuntungan, keuntungan dan perputaran uang yang semakin cepat secara tidak disadari akan menumbuhkan perekonomian dan memajukan desa tersebut.

2. Membangun infrastruktur serta fasilitas umum agar mempermudah akses penduduk

Pembangunan infrastruktur serta fasilitas umum akan menjadikan desa atau daerah pinggiran menjadi maju dan semakin berkembang. Dari pembangunan serta perbaikan jalan yang ada di desa akan semakin mempermudah akses masyarakat saat beraktifitas, pembangunan serta perbaikan layanan publik seperti contohnya kesehatan dengan dibangunnya puskesmas, poliklinik atau posyandu. Fasilitas umum disini juga akan mempermudah masyarakat dalam mendapatkan kesehatan serta penanganan yang optimal dalam masalah kesehatan. Dengan tenaga kesehatan, bidan atau dokter yang mungkin bisa didatangkan dari kota ke desa untuk membantu menyelesaikan persoalan-persoalan kesehatan yang terjadi di desa. Selain itu, perbaikan serta membangun sarana pendidikan itu dirasa sangat penting, karena untuk bisa menjadi orang-orang yang berkualitas tentunya juga dengan ilmu yang didapatkan harus cukup tanpa adanya pemaksaan biaya atau sebagainya. Semakin banyak orang berkualitas yang dilahirkan dari desa maka secara tidak langsung akan memajukan desa tersebut dari keterbelakangan menjadi daerah yang samarata serta kedudukannya sama dengan kota besar lainnya.

3. Membangun jaringan komunikasi yang baik serta pemerataan teknologi di berbagai desa

Teknologi yang berkembang saat ini sangat pesat dan dapat diketahui terdapat sebagian masyarakat yang belum merasakan kemajuan teknologi karena keterbatasan kemampuan atau keterbatasan cakupan wilayah atau permasalahan lainnya. Masyarakat desa juga berhak untuk menikmati kemajuan teknologi yang ada agar pemerataan juga dapat terlaksana dengan baik.

4. Memanfaatkan sumber daya yang ada yang sekiranya mempunyai potensi dalam menggerakkan perokonomian desa

Setiap daerah pasti mempunyai potensinya sendiri-sendiri, tidak harus yang berasal dari alam tetapi juga bisa yang lainnya. Jika masyarakat dapat memanfaatkan peluang usaha tentunya akan berdampak baik pada perekonomian desa serta lingkungan sekitar. Para pengangguran di desa akan semakin besar memiliki kesempatan untuk bekerja dan mendapatkan pekerjaan yang tetap tanpa harus bermigrasi dan pastinya pendapatan yang diterima akan terus bertambah dan nantinya akan memajukan perekonomian di desa.

5. Mengupayakan pembangunan perumahan rakyat yang terjangkau

Sama saja jika pemerintah mengupayakan pembangunan desa tapi menyetujui para developer untuk membangun bisnis properti dengan harga yang jauh diatas jangkauan masyarakat desa. Hal ini menjadi tugas pemerintah bagaimana untuk menyeimbangkan agar kesenjangan tidak semakin meningkat. Kasus yang seperti ini yang terjadi di Indonesia saat ini, membeli tanah rakyat dengan iming-iming yang besar serta mendorong pemerintah untuk menyetujui proyeknya, setelah proyek tersebut terlaksana yang ada hanya hunian-hunian dengan kelas eksklusif yang masyarakat desa tidka mampu untuk membelinya ditambah lagi jika masyarakat tidak punya uang dan harus mengajukan KPR kepada bank yang didalamnya ada bunga tentunya. Kita ketahui riba itu haram dan tidak diperbolehkan dalam Islam.

Permasalahan diatas dapat dijadikan evaluasi pada pemerintah dan nantinya agar lebih memperhatikan bagaimana kondisi masyarakat desa dan bagaimana menciptakan pemerataan serta membangun negeri dengan seksama hingga menciptakan kemakmuran bagi bangsa.

Nov

8

Pertanyaan besar yang ditujukan bagi orang awam yang mungkin tidak mengerti dan kurang paham mengenai bonus demografi. Sebelum membahas secara jelas tentang bonus demografi di Indonesia alangkah baiknya, kita harus paham dulu apa itu bonus demografi. Kata bonus dipakai hanya lebih mensederhanakan kata saja, tetapi di sisi lain kata bonus disini lebih kepada pemikiran masyarakat yang berfikir secara positif serta optimis tentang bonus. Sedangkan kata demografi merupakan kata yang akrab dengan kependudukan. Pada kesimpulannya, bonus demografi adalah kondisi atau pencapaian suatu negara dimana negara tersebut memiliki angka ketergantungan yang rendah atau dibawah angka 50. Ini artinya, jumlah penduduk usia produktif dari 15-64 tahun lebih besar dibandingkan dengan jumlah usia non-produktif. Bonus demografi ini dijadikan sebagai peluang bagi suatu negara dalam menentukan arah perekonomiannya dalam jangka panjang nantinya bagaimana, apakah akan menguntungkan dan menjadi negara yang maju atau bahkan sebaliknya akan menjadi negara yang terpuruk dalam perekonomian. Lantas bagaimana dengan Indonesia?

Menurut buku yang diterbitkan KOMINFO pada tahun 2014 tentang Siapa Mau Bonus? Peluang Bonus Demorafi, menyatakan bahwa Indonesia sudah memulai bonus demografi pada tahun 2012 silam dan mengalami window of opportunity atau jendela kesempatan yang puncaknya yaitu pada tahun 2028 hingga 2031. Bisa dikatakan fenomena suatu bonus atau hadiah bagi Indonesia ini tidak terlepas juga dari keberhasilan program keluarga berencana dengan mencanangkan yaitu dua anak cukup pada tahun 1970-an masa pemerintahan Presiden Soeharto. Indonesia diprediksi akan mencapai titik terendah dari angka ketergantungan yaitu berada pada angka 46,9 dan angka tersebut akan terus naik setelah tahun 2031. Indonesia juga nantinya akan terus menekan angka kelahiran dengan program KB tersebut hingga mencapai piramida penduduk yang menggelembung di tengah.

Menurut KEMENKO Perekonomian, pada tahun 2045 diprediksi angka PDB per kapita menjadi US$29.000 yang mana akan menduduki peringkat 5 dunia, peringkat pendidikan menacapai 520, peringkat daya saing dari 30 pada tahun 2014 menjadi 11 pada tahun 2045, peringkat daya tarik investasi dari 40 pada tahun 2014 menjadi peringkat 15 pada tahun 2045 dan jumlah penduduk akan meningkat mencapai 318juta jiwa. Hal ini dapat dikatakan bahwa prediksi yang baik dan memberikan pencerahan bagi masyarakat Indonesia kalau Indonesia juga mampu bersaing di kancah internasional. Masa depan yang cerah tentunya tidak akan terwujud jika masyarakat tdak memiliki effort dalam mewujudkannya. Hal yang terjadi malah sebaliknya seperti angka pengangguran yang tinggi, tingkat kriminalitas yang tingg, ketimpangan semakin tinggi, dan kemiskinan semakin menjadi-menjadi. Dalam mencapai prediksi-prediksi diatas tentunya harus ada kiat-kiat yang harus dilakukan seperti kualitas penduduk yang baik, tersedianya lapangan pekerjaan yang berkualitas, meningkatnya tabungan keluarga yang nantinya pada saat lanjut usia tidak bergantung pada usia produktif, terus menggiatkan program KB yang sudah dicanangkan pemerintah, dan yang terakhir meningkatnya perempuan dalam pasar kerja yang mana mengubah pandangan perempuan bahwa semakin banyak anak akan semakin susah mengurusinya, akan menambah biaya pada keluarga saat pertumbuhannya yang nantinya juga akan menyita waktu produktif ibu dalam mendapatkan pekerjaan.

Dari beberapa artikel dan buku yang saya baca, menurut saya Indonesia memiliki potensi yang positif dan mampu untuk menghadapi bonus demografi yang sekarang tengah dialami. Dari prediksi yang dikemukakan menjadikan saya semakin optimis bahwa Indonesia bisa mencapainya jika prasyaratnya sudah bisa dilaksanakan dengan baik. Kualitas pendidikan yang baik, kualitas kesehatan yang baik yang nantinya juga berdampak pada kulitas SDM yang mampu bersaing di pasar asing, hal ini saya rasa tidaklah susah untuk mncapainya jika pemerintah mampu bersinergi yang baik dengan masyarakat serta memberdayakan masyarakat-masyarakat kreatif di Indonesia.

 

Oct

25

Menurut pendapat saya, jika membahas tentang manfaat dari kuis yang diberikan oleh dosen mata kuliah Ekonomi Pembangunan sangat banyak yang saya dapatkan. Dari pertama tugas kuis itu diberikan, saya yakin kuis ini bertujuan untuk bagaimana kita bisa bekerja secara team dan praktiknya di lapangannya juga bagaimana. Kuis yang diberikan adalah setiap kelompok yang sudah dibagi wajib membuat project sosial mengenai apa saja yang menjadi penghambat pembangunan ekonomi di Indonesia. Tema yang saya ambil untuk kelompok awalnya berhubungan dengan pengangguran akan tetapi kelompok kami terkendala dengan narasumbernya. Kendala ini yang membuat kelompok kami ganti tema tentang kemiskinan. Menurut kami, kemiskinan di Kota Malang masih cukup tinggi dari beberapa daerah lainnya makanya kami memilih itu.

Menurut data dari BPS yang kelompok kami dapatkan, penduduk miskin menurut kabupaten atau kota pada tahun 2016 tercatat paling tinggi di Maluku yang mencapai 7,75%. Prosentase penduduk miskin di Malang sendiri tercatat 4,8% dan itu dirasa masih cukup tinggi karena lebih dari setengah prosentase yang paling tinggi. Prosentase 4,8% itu sama dengan 41.000 penduduk miskin yang tersebar di Malang. Dari angka yang disajikan oleh BPS mendorong kita untuk mencoba menanyakan bagaimana reaksi masyarakat Malang dengan data tersebut dan dengan realita yang ada. Tujuan dari project yang kita lakukan adalah masyarakat Malang mampu melihat dan menyadari penduduk di sekitar mereka yang masuk dalam kategori penduduk miskin dan aksi apa yang harus mereka lakukan untuk mengurangi angka kemiskinan yang ada di Kota Malang.

Manfaat dari tema kemiskinan disini yaitu kita mampu memahami sudut pandang orang mengenai kemiskinan sendiri. Masih banyak masyarakat yang kurang memahami betul apa yang dimaksud dengan kemiskinan dan siapa saja yang termasuk di dalamnya. Kurangnya pengetahuan ini, membuat kami juga harus memberikan penjelasan yang benar apa itu yang dimaksudkan dengan kemiskinan. Nah dari sini, masyarakat akhirnya mengetahui tentang kemiskinan dan kondisi kemiskinan yang ada di Malang.

Manfaat yang kita dapat mungkin memang tidak langsung menyentuh penduduk miskin yang ada di Malang tetapi kita menggerakan kesadaran masyarakat untuk paham tentang kemiskinan dan aksi apa yang harus dilakukan. Mungkin penjelasan manfaat yang dijelaskan hanya itu saja, selebihnya kami juga merasakan dari setiap individu dari kelompok kami dan masyarakat yang kami wawancarai pada waktu itu.

Oct

11

A. TEORI KLASIK PERTUMBUHAN EKONOMI DAN PEMBANGUNAN

Teori – Teori Klasik Empat Pendekatan :

  1. Model Tahapan Pertumbuhan Linear
  • Tahapan Pertumbuhan Rostow : Sebuah teori pembangunan ekonomi yang dicetuskan oleh sejarawan ekonomi Amerika Walt W. Rostow. Menurutnya, transisi dari keterbelakangan ke perekonomian maju dapat diuraikan dalam serangkaian langkah atau tahap yang harus dilalui semua negara. Dalam argumentasinya, negara – negara maju dinyatakan telah melewati semua tahap “lepas landas ke pertumbuhan yang berkelanjutan dengan sendirinya,” dan negara – negara terbelakang yang masih berada dalam tahap masyarakat tradisional atau dalam tahap “prakondisi” hanya perlu mengikuti seperangkat aturan pembangunan tertentu untuk lepas landas menuju masyarakat dengan pertumbuhan ekonomi. Strategi utama pembangunan yang diperlukan untuk dapat lepas landas adlah mobilisasi tabungan dalam dan luar negeri untuk menghasilkan investasi yang cukup guna mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.
  • Model Pertumbuhan Harrod-Domar Sebuah model hubungan ekonomi fungsional yang menyatakan bahwa tingkat pertumbuhan produk domestik bruto (g) bergantung langsung pada tingkat tabungan nasional neto (s) dan berbanding terbalik dengan rasio modal-output nasional (c). Tabungan netto (s) adalah bagian tertentu, dari pendapatan nasional (Y) [S=sY]. Investasi neto (I) ditetapkan sebagai perubahan yang terjadi dalam persediaan modal, K, dan dapat diwakili dengan  ΔK sehingga [I=ΔK]. Rasio modal output adalah rasio yang menunjukkan jumlah modal yang diperlukan untuk menghasilkan jumlah produk dalam periode waktu tertentu.

2. Teori dan Pola Perubahan Struktural : Hipotesis yang menyatakan bahwa keterbelakangan terjadi karena kurang didayagunakannya sumber daya yang berasal dari faktor – faktor struktural dan lembaga yang timbul dari dualisme domestik dan internasional.

Teori Pembangunan Lewis| Model Dua Sektor : Teori pembangunan yang mengemukakan bahwa surplus tenaga kerja dari sektor pertanian tradisional ditransfer ke sektor industri modern yang pertumbuhannya menyerap kelebihan tenaga kerja, mendorong indutrialisasi, dan menggerakan pembangunan berkelanjutan. Fokus utama dari model ini adalah pada proses transfer tenaga kerja serta pertumbuhan output dan kesempatan kerja di sektor modern. Transfer tenaga kerja dan pertumbuhan lapangan kerja di sektor modern disebabkan oleh ekspansi output di sektor tersebut. Kecepatan ekspansi tersebut ditentukan oleh tingkat investasi industri dan akumulasi modal di sektor modern. Investasi tersebut dimungkinkan oleh kelebihan keuntungan atas upah di sektor modern dengan asumsi kapitalis akan menginvestasikan kembali semua keuntungan mereka. Lewis mengasumsikan bahwa tingkat upah di sektor industri perkotaan adalah konstan dan ditentukan oleh premi yang diberikan melalui rata-rata tingkat upah tetap subsisten di sektor pertanian tradisional. Pada upah perkotaan yang konstan, kurva penawaran tenaga kerja pedesaan menuju sektor modern dianggap elastis sempurna.

3. Revolusi Ketergantungan Internasional

Model Ketergantungan Neokolonial merupakan perkembangan tidak langsung dari pemikiran Marxis. Model ini menghubungkan keberadaan dan kelangsungan dari keterbelakangan evolusi sejarah dari sistem kapitalis internasional dengan hubungan negara kaya-negara maju yang sangat tidak merata.

  • Model Paradigma Yang Salah

Pendekatan Ketergantungan Internasional kedua dan kurang radikal dalam pembangunan adalah model paradigma yang salah. Model ini menghubungkan negara terbelakang dengan saran yang salah dan tidak pantas yang diberikan oleh pihak bermaksud baik, tetapi kurang informasi, bias dan penasihat ahli etnosentris internasional dari lembaga bantuan di negara berkembang dan organisasi donor multinasional. Para ahli menawarkan model yang kompleks, tetapi akhirnya menyesatkan pembangunan yang mengakibatkan sering munculnya kebijakan yang tidak pantas atau tidak benar.

  • Tesis Pembangunan Dualistik

Dualisme mewakili keberadaan, kegigihan yang kuat dan divergensi yang meningkat antara negara maju dan miskin, masyarakat kaya dan miskin dalam berbagai level. Konsep dualisme mencakup empat argumen utama :

  1. Pihak yang superior dan pihak yang inferior dalam berbagai kondisi dapat hidup berdampingan dalam ruang tertentu
  2. Kekayaan dan kemiskinan internasional yang hidup berdampingan bukan hanya fenomena sejarah yang akan diperbaiki dalam kurun waktu tertentu. Meskipun teori tahap pertumbuhan dan model perubahan struktural secara implisit membuat asumsi seperti itu, pendukung tesis pembangunan dualistik dan fakta bahwa ketidaksetaraan internasional terus berkembang membuat mereka membantah asumsi tersebut
  3. Derajat superioritas atau inferioritas tidak menunjukkan tanda-tanda berkurang, tetapi justru memiliki kecenderungan untuk meningkat
  4. Saling keterkaitan antara unsur-unsur superior dan inferior membuat keberadaan elemen superior tidak berarti apa-apa untuk menarik elemen inferior

4. Kontrarevolusi Pasar Bebas Neo Klasik

Model Statis : Pendekatan Pasar Bebas, Pilihan Publik dan Pasar Yang Ramah

Argumen utama dari kontrarevolusi neoklasik adalah negara terbelakang merupakan hasil dari alokasi sumber daya yang miskin karena kebijakan harga yang salah dan intervensi pemerintah terlalu banyak. Kaum neoliberal berpendapat bahwa dengan mengizinkan pasar bebas yang kompetitif untuk berkembang, privatisasi BUMN, mempromosikan perdagangan bebas dan perluasan ekspor, menyambut investor dari negara-negara maju serta menghilangkan sejumlah peraturan pemerintah dan distorsi harga di pasar finansial, produk dan faktor produksi, maka akan mendorong efisiensi ekonomi dan pertumbuhan ekonomi. Berlawanan denggan teori ketergantungan, kelompok kontrarevolusioner neoklasik berpendapat bahwa negara-negara dunia ketiga terbelakang karena korupsi, inefisiensi dan kurangnya insentif ekonomi yang menembus negara-negara berkembang. Yang dibutuhkan hanyalah soal mempromosikan pasar bebas dan laissez-faire dalam konteks pemerintah yang memungkinkan keajaiban pasar dan tangan tak terlihat dari harga pasar untuk memandu alokasi sumber daya dan mendorong pembangunan ekonomi.

Kontrarevolusi neoklasik dapat dibagi menjadi tiga pendekatan, yaitu :

1.Pendekatan pasar bebas

Analisis pasar bebas berpendapat bahwa pasar saja sudah efisien, pasar tenaga kerja menganggap industri baru dengan cara yang tepat, produsen paling tahu apa yang akan diproduksi dan bagaimana memproduksinya secara efisien serta produk dan harga faktor produksi mencerminkan nilai kelangkaan barang dan sumber daya sekarang dan di masa depan.

2. Pendekatan pilihan publik

Pendekatan pilihan publik (pendekatan ekonomi politik baru), melangkah lebih jauh untuk menyatakan bahwa pemerintah dapat melakukan apapun yang benar. Hal ini karena teori pilihan publik mengasumiskan bahwa politisi, birokrat, warga negara dan negara bertindak semata-mata untuk kepentingannya sendiri dengan menggunakan kekuasaan dan kewenangan pemerintah. Hasil akhirnya tidak hanya kesalahan alokasi sumber daya, tetapi juga kebebasan individu yang semakin berkurang. Kesimpulannya adalah pemerintah yang minimal adalah pemerintah yang terbaik.

3. Pendekatan pasar yang ramah

Pendekatan pasar yang ramah mengakui bahwa ada banyak ketidaksempurnaan dalam produk LDC dan pasar faktor produksi, serta pemerintah memiliki peran penting dalam memfasilitasi operasi pasar melalui intervensi nonselektif. Pendekatan ini juga berbeda dengan pendekatan pasar bebas dan pilihan publik dari segi pemikiran yang menerima gagasan bahwa adanya kegagalan pasar yang lebih luas di negara-negara berkembang, seperti koordinasi investasi dan hasil lingkungan.

  • Teori Pertumbuhan Neoklasik Tradisional

Model pertumbuhan neoklasik Solow memperluas formulasi Harrod-Domar dengan menambahkan faktor kedua, yaitu tenaga kerja dan memperkenalkan teknologi sebagai variabel independen ketiga dalam persamaan pertumbuhan. Model pertumbuhan neoklasik Solow menunjukkan hasil yang menurun untuk tenaga kerja dan modal secara terpisah dan hasil yang konstan untuk kedua faktor secara bersama-sama. Kemajuan teknologi menjadi faktor residu yang menjelaskan pertumbuhan jangka panjang, dan tingkat ini diasumsikan oleh Solow dan teori-teori pertumbuhan neoklasik lainnya ditentukan variabel eksogen. Penulisan standar model pertumbuhan neoklasik Solow mengunakan fungsi produksi agregat dimana :

Y = produk domestik bruto (PDB)

K = persediaan modal

L = tenaga kerja

A = produktivitas tenaga kerja yang tumbuh pada suatu tingkat eksogen

Menurut teori pertumbuhan neoklasik tradisional, hasil pertumbuhan output dipengaruhi oleh satu atau lebih dari tiga faktor berikut :

  1. Peningkatan kualitas dan jumlah tenaga kerja
  2. Peningkatan modal
  3. Perbaikan dalam teknologi

Ekonomi tertutup dengan tingkat tabungan rendah tumbuh lebih lambat dalam jangka pendek dibandingkan dengan tingkat tabungan yang lebih tinggi dan cenderung untuk menurunkan pendapatan per kapita. Ekonomi terbuka memusatkan pendapatan pada tingkat arus modal yang lebih tinggi dari negara kaya menuju negara miskin yang memiliki rasio modal kerja yang lebih rendah dan pengembalian investasi yang lebih tinggi.

B. MODEL KONTEMPORER PEMBANGUNAN dan KETERBELAKANGAN

 

  1. Teori Pertumbuhan Baru : Pertumbuhan Endogen

Kinerja teori neoklasik yang tidak memuaskan dalam menjelaskan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi jangka panjang telah menyebabkan kekecewaan yang meluas terhadap teori pertumbuhan tradisional. Bahkan menurut teori tradisional, tidak terdapat karateristik intristik dari perekonomian yang menyebabkannya tumbuh dalam jangka panjang.

Sebaliknya, literature tersebut malah membahas proses dinamis yang membuat rasio modal-tenaga kerja mendekati tingkat keseimbangan jangka panjang. Jika tidak ada “guncangan” eksternal atau perubahan teknologi, yang tidak dijelaskan dalam model neoklasik, semua perekonomian akan menuju kepada pertumbuhan nol. Oleh akrena itu, peningkatan GNI per kapita dianggap merupakan fenomena sementara saja, yang bersumber dari perubahan teknologi atau proses penyeimbangan jangka pendek selama perekonomian mendekati ekuilibrium jangka panjangnya. Menurut teori ini, sebagian besar pertumbuhan ekonomi merupakan faktor eksogen atau proses yang independen dari kemajuan teknologi. Terdapat 2 kelemahan teori neoklasik, yaitu:

  1. Tidak dapat menganalisis penentu kemajuan teknologi
  2. Tidak dapat menjelaskan besarnya perbedaan residu antara negara yang memiliki teknologi yang sama.

Dalam teori neoklasikal, rasio modal dan tenaga kerja yang rendah pada negara-negara berkembang menjanjikan tingkat pengembalian investasi yang tinggi. Namun, pada kenyataannya banyak negara berkembang yang pertumbuhannya rendah dan gagal menarik investasi asing. Hal ini lah yang memicu munculnya teori pertumbuhan baru.

Teori pertumbuhan baru memberikan kerangka teoritis untuk menganalisis pertumbuhan endogen, yaitu pertumbuhan GNP yang persisten, yang ditentukan oleh sistem yang mengatur proses produksi. Tujuan utama dari teori pertumbuhan baru adalah untuk menjelaskan perbedaan tingkat pertumbuhan antar negara maupun faktor-faktor yang memberi proporsi lebih besar dalam pertumbuhan.

Teori pertumbuhan endogen menjelaskan faktor-faktor yang menentukan tingkat pertumbuhan GDP. Aspek yang paling menarik dalam teori pertumbuhan endogen yaitu dapat menjelaskan keanehan aliran modal internasional yang memperparah ketimpangan antara negara maju dan negara berkembang.

a. Model Romer

Model ini mengkaji imbasan teknologi yang mungkin terdapat dalam proses industrialisasi. Model tersebut mengasumsikan bahwa proses pertumbuhan berasal dari tingkat perusahaan atau industri. Setiap industri berproduksi dengan skala hasil yang konstan, sehingga model tersebut konsisten dengan asumsi persaingan sempurna.

Romer mengasumsikan bahwa cadangan modal dalam keseluruhan perekonomian, secara positif mempengaruhi output pada tingkat industri sehingga terdapat kemungkinan skala hasil yang makin meningkat (increasing return to scale-IRS) pada tingkat perekonomian secara keseluruhan.

Cadangan modal setiap perusahaan meliputi pengetahuan yang dimilikinya juga. Bagian pengetahuan yang terdapat dalam cadangan modal setiap perusahaan secara esensial adalah sebuah barang publik (public goods), seperti produktivitas tenaga kerja pada model Solow, yang merembes ke perusahaan lain di dalam perekonomian secara instan.

Hasilnya, model ini memperlakukan “belajar dari pengalaman (earning by doing)” sebagai “belajar dari investasi (earning by investment )”. Hal yang menarik dari model Romer adalah bahwa dengan pengaruh investasi dan teknologi, model tersebut menghindari penurunan investasi modal.

b. Kritik Terhadap Teori Pertumbuhan Baru

  • Kelemahan penting dari teori pertumbuhan baru adalah bahwa teori ini tetap tergantung pada sejumlah asumsi neoklasik yang sering tidak cocok dengan perekonomian negara berkembang.
  • Pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang sering terhambat oleh inefisiensi yang timbul karena infrastruktur yang jelek, tidak memadainya struktur kelembagaan, serta pasar modal dan pasar barang yang tidak sempurna.
  1. Keterbelakangan sebagai Akibat Kegagalan Koordinasi

Teori-teori ini menekankan bahwa dalam berbagai situasi yang penting, investasi harus dilaksanakan oleh banyak lembaga agar hasilnya bisa menguntungkan bagi setiap lembaga individu. Umumnya, ketika terdapat komplementaritas, tindakan yang diambil oleh sebuah perusahaan, pekerja, atau organisasi akan meningkatkan insentif bagi lembaga/agen pembangunan yang lain untuk melakukan tindakan serupa.

Kegagalan koordinasi adalah sebuah kondisi dimana ketidakmampuan berbagai lembaga untuk mengkoordinasikan perilaku atau tindakannya (pilihannya)  yang mengakibatkan semua lembaga tersebut berada dalam kondisi yang lebih buruk dari pada situasi alternatifnya.

Hal ini bisa terjadi meskipun semua lembaga tersebut mengetahui semua kondisi ekuilibrium alternatif yang lebih baik tadi: hanya saja mereka tidak dapat mencapainya karena sulitnya koordinasi, kadang-kadang karena setiap orang mempunyai harapan yang berbeda-beda, dan kadang-kadang karena orang merasa lebih baik menunggu orang lain bertindak lebih dulu.

Masalah koordinasi ini dapat menyebabkan perekonomian tejebak dalam ekuilibrium yang buruk, yaitu pada tingkat pendapatan rata-rata yang rendah atau pada tingkat pertumbuhan yang rendah, atau juga dengan penduduk yang berada dalam kondisi yang sangat miskin.

Meskipun semua pelaku ekonomi akan berada pada kondisi yang lebih baik jika para pekerja mempunyai keterampilan dan perusahaan berinvestasi, sepertinya ekuilibrium yang lebih baik ini tidak akan mungkin dapat dicapai tanpa bantuan pemerintah. Selanjutnya, masalah seperti itu diperumit oleh berbagai kegagalan pasar yang lain, khususnya yang mempengaruhi pasar modal.

  • Kegagalan Koordinasi Komplementer: Kebijakan Intervensi Mendalam

Kegagalan koordinasi yang mungkin timbul dengan adanya komplementaritas menegaskan kemungkinan adanya pembuatan kebijakan intervensi yang mendalam. Logikanya, sekali dorongan besar telah dilakukan, koordinasi pemerintah mungkin tidak akan diperlukan lagi. Kebijakan tersebut dapat menggerakkan perekonomian menuju ekuilibrium yang lebih baik, atau bahkan menuju tingkat pertumbuhan permanen yang lebih tinggi, yang pada saatnya nanti dapat mencukupi dirinya sendiri (self-sustaining). Pasar yang tidak lagi mendapatkan bantuan pemerintah itu sering kali dapat mempertahankan proses industrialisasi sekali proses tersebut telah dicapai, bahkan ketika pasar tersebut tidak dapat memulai atau melengkapi proses industrialisasi tersebut. Jika tidak terdapat dorongan untuk kembali ke perilaku yang terkait dengan ekuilibrium yang buruk, maka pemerintah tidak perlu lagi melanjutkan intervensi yang dirancang untuk mengatasinya. Alih-alih, pemerintah kemudian dapat memusatkan daya upayanya pada masalah krusial yang lain, yang memerlukan peran esensialnya. Di antara implikasi-implikasi yang lain, prospek adanya intervensi yang mendalam dapat berarti bahwa: Biaya penerapan kebijakan dapat dikurangi; Bantuan pembangunan yang ditargetkan secara saksama dapat memberikan hasil yang lebih efektif; Karakter penyembuhan-sekali-jadi dari beberapa masalah ekuilibria jamak sangat menarik perhatian, karena dapat membuat kebijakan pemerintah sangat ampuh dalam mengatasi permasalahan pembangunan ekonomi.

a) Kebijakan Intervensi Mendalam: Kegagalan Pemerintah

Di lain pihak, intervensi mendalam menyebabkan potensi biaya dari peran publik juga menjadi jauh lebih besar. Konsekuensi pilihan kebijakan menjadi lebih berat, karena kebijakan buruk yang dibuat pada masa kini dapat menjerumuskan perekonomian ke dalam ekuilibrium yang buruk selama beberapa tahun ke depan.

Kebijakan yang buruk bahkan dapat menggerakkan perekonomian ke dalam ekuilibrium yang lebih buruk daripada semula.  Hal buruk dari intervensi mendalam bisa terjadi misalnya karena: Pemerintah mungkin merupakan bagian terbesar dari masalah dan memainkan peran kunci dalam melestarikan ekuilibrium yang buruk, misalnya sebuah rezim yang sangat korup; Sejumlah pejabat pemerintah dan politisi mungkin mendapatkan keuntungan pribadi dari kebijakan terkait.

Pemerintah tidak selalu menjadi sumber reformasi yang dapat menggerakkan perekonomian menuju ekuilibrium yang lebih baik di negara-negara di mana pemerintahnya justru merupakan bagian dari kaitan kompleks ekuilibrium yang buruk. Bahkan bila pemerintahnya tidak korup, dampak potensial dari kebijakan pemerintah—yang sebenarnya bermaksud baik namun mengandung banyak kelemahan—dapat sangat besar.

Ini terjadi ketika kebijakan tersebut mendorong perekonomian menuju ekuilibrium yang secara fundamental berbeda, yang akan sulit untuk dibalik. Dalam banyak kasus, inilah problema “pentingnya sejarah” dalam perekonomian yang sedang berkembang—yaitu ketika kondisi-kondisi masa lalu menentukan apa yang mungkin terjadi hari ini.

b) Kebijakan Intervensi Mendalam: Sektor Publik dan Swasta

Kegagalan pemerintah maupun kegagalan pasar adalah hal yang nyata, namun kontribusi sektor publik dan swasta terhadap pembangunan juga merupakan hal yang vital. Oleh karena itu, kita harus bekerja membangun institusi yang mendorong para pelaku di dalam sektor publik dan swasta untuk bekerja bersama (langsung maupun tidak langsung) sedemikian rupa sehingga dapat menciptakan kondisi yang dibutuhkan untuk mematahkan jebakan kemiskinan

c) Kebijakan Intervensi Mendalam: Komunitas Internasional

Dalam mematahkan jebakan kemiskinan, komunitas internasional juga mempunyai peran penting, yaitu memberikan gagasan, model, serta berfungsi sebagai katalis perubahan, dan juga menyediakan dana yang dibutuhkan.

Ekuilibria Jamak : Pendekatan Diagramatis

Gagasan dasar dalam ekuilibria jamak adalah  bahwa manfaat yang diterima oleh sebuah lembaga yang mengambil suatu tindakan bergantung secara positif pada seberapa banyak lembaga lain yang diharapkan akan melakukan tindakan yang sama, atau pada dampak dari tindakan-tindakan tersebut. Contohnya, harga produk yang dihasilkan petani bergantung pada jumlah pedagang perantara di daerah tersebut, dan juga bergantung pada jumlah petani yang menghasilkan barang yang sama.

Dalam kelompok kecil, koordinasi tidak menjadi masalah yang besar karena pihak-pihak yang terkait saling mengetahui satu sama lain dan mempunyai kepentingan yang sama. Namun, untuk masalah yang lebih kompleks maka pemecahan masalah korrodinasi akan lebih sulit.

Titik ekuilibrium pada ekuilibrium jamak terjadi ketika jumlah yang diharapakan untuk melakukan sesuatu sama dengan jumlah yang benra-benar melakukan tindakan tersebut.

Contohnya  dalam masalah pembangunan ekonomi adalah ketika tingkat pengembalian dari suatu investasi bergantung pada keberadaan investasi lain. Penyelesaiannya akaln lebih mudah jika terdapat banyak investor, namun pasar tidak akan dengan sendirinya menuju kondisi tersebut tanpa peran dari pemerintah.

Hal ini menjelaskan mengapa potensi keberadaaan ekuilibria jamak sangat penting. Kekuatan pasar mungkin dapat menghasilkan suatu titik ekuilibria tapi belum tentu bahwa titik ekuilibria yang terbaiklah yang akan tercapai.

Memulai Pembangunan Ekonomi: Model Dorongan Besar

Model dorongan besar adalah sebuah model yang menunjukkan bagaimana kegagalan pasar dapat menimbulkan kebutuhan akan perekonomian yang terencana dan juga kebutuhan akan berbagai upaya yang dicetuskan oleh kebijakan publik, agar proses pembangunan ekonomi yang panjang dapat berjalan atau dipercepat.

Dengan kata lain, masalah kegagalan koordinasi akan menghambat keberhasilan industrialisasi dan merupakan kendala bagi dorongan pembangunan.

4 kondisi yang memerlukan dorongan besar:

  1. Efek intertemporal.

Investasi harus dimulai dari sekarang untuk meningkatkan produksi yang lebih efisien dimasa depan agar equilibria jamak tercapai.

  1. Efek urbanisasi.

Efek urbanisasi diperlukan untuk mendorong terjadinya industrialisasi. Misalnya di perkotaan banyak industry manufaktur yang memberikan skala hasil yang meningkat, berarti penduduk perkotaan itu sendiri mengkonsumsi barang-barang manufaktur.

  1. Efek infrastruktur.

Jika disebuah daerah infrastrukturnya (jalan raya, pelabuhan, rel kerata api)  sudah memadai akan memudahkan perusahaan melakukan investasidan biaya yang harus mereka keluarkan juga berkurang.

  1. Efek pelatihan.

Para pengusaha perlu menambah investasi dalam fasilitas pelatihan untuk meningkatkan kinerja pekerja mereka.

Teori Pembangunan Ekonomi Cincin-O dari Kremer

Menurut teori ini, pembangunan modern mensyaratkan bahwa berbagai kegiatan ekonomi harus dilakukan dengan baik dan bersama-sama, agar proses produksi dapat menghasilkan nilai yang tinggi. Hal ini merupakan dasar dari spesialisasi dan pembagian tenaga kerja.

Dalam suatu kegiatan ekonomi, jika tingkat keterampilannya semakin tinggi maka produk yang dihasilkan akan semakin baik. Salah satu fitur yang paling penting dalam proses produksi adalah positive aasortative matching.

Hal ini berarti para pekerja yang mempunyai keterampilan tinggi akan bekerja bersama dan pekerja yang berketerampilan rendah pun akan bekerja bersama. Jenis pencocokan seperti ini akan menyebabkan produk yang bernilai tinggi akan terkonsentrasi di negara-negara yang mempunyai pekerja dengan keterampilan tinggi.

Teori Cincin-0 mempunyai beberapa implikasi penting, yaitu:

  1. Perusahaan cenderung mempekerjakan karyawan yang mempunyai keterampilan yang serupa.
  2. Pekerja yang melakukan tugas yang sama di perusahaan dengan pekerja berketerampilan tinggi akan mendapatkan upah yang lebih tinggi dibandingkan rekannya diperusahaan yang mempunyai pekerja berketerampilan rendah.
  3. Tingkat upah akan jauh lebih tinggi di negara-negara maju.  Model-model Baru Pembangunan:
  • Kontribusi

Kontribusi model-model baru pembangunan mencakup pemahaman yang lebih baik terhadap berbagai penyebab dan efek jebakan kemiskinan. Pemahaman itu diperoleh dengan cara: Memberi penekanan yang lebih rinci terhadap peran jenis-jenis komplementaritas strategis yang berbeda; Menjelaskan peran ekspektasi; Menyoroti cakupan potensial intervensi mendalam; Memperbaiki pemahaman kita tentang potensi peran pemerintah dan kendala terhadap efektivitas peran tersebut.

Pendekatan baru dengan lebih jernih menunjukkan potensi kontribusi yang sesungguhnya dari; Bantuan pembangunan dari luar yang melampaui penyediaan modal; Pemodelan cara-cara baru untuk mengerjakan sesuatu.

  • Keterbatasan

Keterbatasan utama model baru hingga sekarang mungkin adalah bahwa analisis model tersebut memang mendalam, namun implikasinya pada kebijakan praktis masih belum diketahui.  Namun, mungkin memang masih terlalu awal untuk mengharapkan rekomendasi kebijakan yang terinci dari pendekatan-pendekatan ini.

  1. Pemahaman Jebakan Pembangunan

Seiring dengan semakin meluasnya pemerintahan yang demokratis di seluruh dunia, pemahaman baru terhadap jebakan pembangunan dapat memberikan panduan bagi rancangan kebijakan yang lebih efektif daripada beberapa tahun yang lalu.

Dengan cerdas, Karla Hoff dan Joseph Stiglitz menyimpulkan: “Dalam kondisi demokratis pun, pemerintah bisa gagal, demikian pula pasar. Namun perkembangan positif yang terjadi pada tahun-tahun terakhir ini adalah untuk mencoba intervensi yang lebih terbatas demi memanfaatkan imbasan antarlembaga, dan untuk mencoba merancang tahapan-tahapan reformasi kebijakan yang akan mempermudah tercapainya ekuilibria yang baik.”

Mengatasi Keterbelakangan

Dalam banyak hal, adanya komplementaritas menciptakan masalah klasik: mana yang lebih dulu (dalam hal ini, keterampilan atau permintaan terhadap keterampilan tersebut)?

Seringkali jawabannya adalah bahwa investasi-investasi komplementer tersebut harus muncul pada saat yang sama, melalui koordinasi. Hal ini benar khususnya ketika terdapat kesenjangan antara membuat suatu investasi dan memetik hasil dari investasi tersebut. Dalam kasus ini, meskipun semua pihak mengharapkan perubahan ke ekuilibrium yang lebih baik, mereka masih cenderung menunggu hingga pihak lain berinvestasi lebih dulu.

Oleh karena itu, kebijakan pemerintah berperan penting dalam mengoordinasikan investasi gabungan ini pemerintah harus bisa menjembatani para pekerja yang menginginkan keterampilan yang bisa dimanfaatkan oleh perusahaan dan perusahaan menginginkan peralatan yang dapat digunakan para pekerja untuk berkarya. Kedua belah pihak mungkin berada pada posisi (atau berinisiatif) untuk mengambil langkah pertama; masing-masing merasa lebih baik menunggu yang lain untuk berinvestasi lebih dulu.

Sep

20

Pertanyaan yang sederhana tetapi membawa pengaruh yang sangat besar dalam jangka panjang. Beberapa pendapat, mengatakan Indonesia akan menjadi negara maju pada tahun 2030 mendatang. Indonesia juga akan dinilai mampu berdampingan dengan negara – negara maju seperti Amerika Serikat, China, Inggris, dll pada tahun 2030 nanti. Pendapat ini akan benar – benar bisa dibuktikan jika seluruh komponen dan seluruh masyarakat mampu untuk mewujudkannya. Begitu juga sebaliknya akan menjadi nasib yang buruk bila tidak adanya cita – cita yang besar dalam diri masyarakat Indonesia. Tentunya kita tidak akan mau mendapat nasib yang buruk seperti itu.

Sebelum melangkah lebih jauh, dapat dilihat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai berada pada posisi yang stabil dalam kurun waktu 5 tahun terkahir. Dalam sektor penduduk, Indonesia memiliki bonus demografi yang cukup banyak dalam usia produktif. Pada saat ini tingkat pengangguran di Indonesia selalu mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Tingkat inflasi juga menurun dari tahun ke tahun. Menurut BPS, nilai ekspor meningkat sebesar 19,24% begitu pun juga impor meningkat sebesar 8,89%. Hal ini merupakan upaya – upaya yang dilakukan Indonesia untuk menjadi negara maju.

Potensi lainnya juga dapat dilihat dari letak geografis, Indonesia memiliki iklim tropis yang memiliki pengaruh besar dalam pertanian dan perkebunan. Sebagian besar macam buah – buah an dan sayuran dapat ditanam di Indonesia karena memiliki curah hujan dan suhu yang cukup untuk pertumbuhan dalam sektor pertanian dan perkebunan. Di sisi astronomis, Indonesia dilewati jalur perdagangan laut internasional yang sangat ramai. Pada sisi geologis, Indonesia menjadi pertemuan antara tiga lempeng yang menjadikan Indonesia kaya akan sumber mineral, batu bara, serta bahan tambang yang sangat besar. Di sisi lain, terdapat tiga hutan di dunia yang sampai saat ini menjadi penopang atau paru – paru dunia dan salah satunya di Indonesia. Begitu melimpah ruah sumber daya alam yan kita miliki, sekaran yang kita fikirkan adalah bagaimana seluruh potensi ini dapat menjadikan Indonesia menjadi negara maju. Selain sumber daya alam yang melimpah, sumber daya manusia di Indonesia juga cukup banyak. Saat ini, sudah banyak bermunculan inovasi dan kreatifitas anak bangsa yang tak kalah jika dibandinkan dengan negara maju.

Potensi yang sangat tinggi seharusnya mampu menjadikan Indonesia sebagai negara maju, hanya perlu merubah kebijakan – kebijakan pemerintahan yang lebih baik. Adapun beberapa pendorong pertumbuhan ekonomi yaitu pembangunan infrastruktur secara merata, peningkatan inovasi teknologi, peningkatan kualitas SDM, dll. Infrastruktur yang merata dan meningkat akan mendorong investasi yang besar.

Dari semua potensi yang ada masih saja ada yang menjadi kendala di Indonesia ini. Pemikiran masyarakat Indonesia hanya bertumpu pada hasil yang cepat dan tidak melihat proses. Hal ini menjadi penyakit yang dapat melumpuhkan perekonomian. Seperti contohnya saja, kita banyak mengekspor bahan baku ke luar negeri, oleh negara asing bahan tersebut di olah menjadi barang jadi dan dipasarkan ke Indonesia. Karena masyarakat Indonesia sangat konsumtif maka mereka suka membeli barang – barang tersebut daripada barang – barang dari Indonesia sendiri. Hal ini dapat disimpulkan bahwa masih kurangnya tingkat kerja keras dan disiplin masyarakat.

Pandangan positif dan negatif yang saya paparkan diatas, bertujuan untuk mengubah pola hidup kita menjadi lebih baik. Tanpa kita sadari, perilaku kita sehari – hari juga akan berdampak pada Indonesia di masa mendatang. Menurut saya, Indonesia mampu menjadi negara maju hanya dengan mengubah pemikiran individu menjadi satu pemikiran dan satu visi yang sama.

Sep

6

Output atau tujuan dari mempelajari mata kuliah Ekonomi Pembangunan menurut saya adalah mahasiswa atau siapa saja yang mempelajarinya mampu mengidentifikasi serta mampu berfikir secara sistematis tentang persoalan – persoalan atau isu ekonomi yang sedang terjadi. Setelah kita tahu apa saja persoalan serta isu ekonomi yang terjadi, tentu saja kita harus memberikan solusi – solusi yang terbaik yang relevan dan dapat diterima oleh masyarakat. Isu ekonomi yang terjadi saat ini sangat luas sekali cakupannya. Oleh karena itu, kita sebagai mahasiswa atau orang yang mempelajari ekonomi pembangunan harus mengerti apa yang dimaksud dengan ekonomi pembangunan terlebih dahulu.

Ilmu Ekonomi Pembangunan menurut Michael P. Todaro, yaitu memiliki ruang lingkup yang sangat luas. Selain mengupas cara – cara alokasi sumber daya produktif langka seefisien mungkin serta kesinambungan pertumbuhannya dari waktu ke waktu, ilmu ekonomi pembangunan juga memberi perhatian pada mekanisme – mekanisme ekonomi, sosial, politik, dan kelembagaan, baik yang terkandung dalam sektor swasta maupun yang terdapat dalam sektor pemerintah atau publik.

Jika ditelaah lebih dalam lagi, sangat banyak sekali isu perekonomian yang sudah terjadi terutama di Indonesia. Permasalahan ekonomi yang terjadi di Indonesia sejak dahulu mengenai ketimpangan, pengangguran, kemiskinan, pertumbuhan ekonomi yang rendah, kurang mampu dalam mengalokasikan sumber daya yang ada, hutang luar negeri yang tinggi, pembangunan yang kurang merata, dan masih banyak lagi permasalahan ekonomi lainnya yang terjadi di Indonesia. Satu permasalahan ekonomi yang bagi saya sudah membaik yaitu rendahnya inflasi. Pada kepemimpinan Presiden Jokowi saat ini, salah satu tujuannya adalah untuk menekan angka inflasi. Terjadi penurunan jika dibandigkan dengan tingkat inflasi tahun lalu.

Sebagai mahasiswa, kita dituntut untuk mampu memecahkan persoalan – persoalan ekonomi yang terjadi di negara ini serta mampu memberikan solusi yang tidak menguntungkan salah satu pihak tetapi yang dapat mensejahterakan masyarakat Indonesia. Solusi yang diberikan juga diharapkan dapat terealisasi serta dapat diterapkan di Indonesia yang nantinya akan menjadikan Indonesia ini sebagai negara yang sejahtera masyarakatnya.

Mar

20

MENGUKUR KELAYAKAN INVESTASI

Mar

20

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!