Kertas Seni

December 21st, 2012

TUGAS TEKNOLOGI KAYU BAMBU DAN SERAT

“KERTAS SENI”

Disusun oleh :

Nama                       : Eko Sunardiyanto

NIM                         : 0911030014

Mata Kuliah             : Teknologi Kayu Bambu dan Serat

Dosen Pengampu     : Ika Atsari Dewi STP, MP.

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012

 

 

LATAR BELAKANG

 

Kertas pertama kali ditemukan oleh Tsai Lun pada tahun 101 Masehi, bahan baku kertas dari bahan bambu yang mudah didapat di seantero China. Penemuan ini akhirnya menyebar ke Jepang dan Korea seiring menyebarnya bangsa-bangsa China ke timur dan berkembangnya peradaban di kawasan itu meskipun pada awalnya cara pembuatan kertas merupakan hal yang sangat rahasia. Pada akhirnya, teknik pembuatan kertas tersebut jatuh ketangan orang-orang Arab pada masa Abbasiyah terutama setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam Pertempuran Talas pada tahun 751 Masehi dimana para tawanan-tawanan perang mengajarkan cara pembuatan kertas kepada orang-orang Arab sehingga pada zaman Abbasiyah, muncullah pusat-pusat industri kertas baik di Bagdad maupun Samarkand dan kota-kota industri lainnya, kemudian menyebar ke Italia dan India, lalu Eropa khususnya setelah Perang Salib dan jatuhnya Grenada dari bangsa Moor ke tangan orang-orang Spanyol serta ke seluruh dunia.

Kertas merupakan bahan yang tipis dan rata, yang dihasilkan dengan kompresi serat yang berasal dari pulp. Serat yang digunakan biasanya adalah alami, dan mengandung selulosa dan hemiselulosa. Kertas dikenal sebagai media utama untuk menulis, mencetak serta melukis dan banyak kegunaan lain yang dapat dilakukan dengan kertas misalnya kertas pembersih (tissue) yang digunakan untuk hidangan, kebersihan ataupun toilet. Adanya kertas merupakan revolusi baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar dalam peradaban dunia. Sebelum ditemukan kertas, bangsa-bangsa dahulu menggunakan tablet dari tanah lempung yang dibakar. Hal ini bisa dijumpai dari peradaban bangsa Sumeria, Prasasti dari batu, kayu, bambu, kulit atau tulang binatang, sutra, bahkan daun lontar yang dirangkai seperti dijumpai pada naskah naskah Nusantara beberapa abad lampau.

Kertas seni merupakan salah satu jenis kertas dengan penampilan estetis yang kaya akan nuansa alami dan unik. Diolah secara khusus dengan buatan tangan (handmade), sehingga secara visual memiliki tampilan atau karakter spesifik baik dari segi tekstur, warna, corak maupun dimensinya. Kertas seni umumnya dimanfaatkan oleh disainer grafis maupun disainer produk kreasi seni.

 

 


 

PEMBAHASAN

 

Kertas seni merupakan salah satu jenis kertas dengan penampilan estetis yang kaya akan nuansa alami dan unik. Diolah secara khusus dengan buatan tangan (handmade), sehingga secara visual memiliki tampilan atau karakter spesifik baik dari segi tekstur, warna, corak maupun dimensinya. Kertas seni umumnya dimanfaatkan oleh disainer grafis maupun disainer produk kreasi seni.

Kertas seni berbeda dengan kertas pada umumnya seperti kertas HVS atau buram. Kertas seni atau biasa disebut art paper dapat dibuat dari limbah kertas HVS, buram, koran, tissu atau dari bahan lainnya misalnya limbah pertanian yang salah satunya sampah daun. Dalam penggunaan tertentu, kertas seni mempunyai nilai seni yang lebih dibandingkan kertas tipis biasa yang kebanyakan polos teksturnya. Dilihat dari teksturnya, tekstur kertas seni agak kasar dan seratnya terlihat. Hal ini dikarenakan bahan yang digunakan tidak seluruhnya hancur ketika dijadikan bubur kertas sehingga menghasilkan tekstur yang tidak merata dan ini menjadikan kertas tersebut menjadi lebih menarik untuk dibuat hiasan dengan berbagai bentuk.

1.       Kertas Seni Dari Jerami Padi

Jerami padi adalah bagian batang tanaman setelah dipanen butir-butirr buah bersama/tidak dengan tangkainya dikurangi akar dan bagian batang yang tertinggal setelah disabit batanganya. Jerami padi berpotensi dibuat untuk kertas seni.

Tekstur Adalah salah satu elemen yang penting di dalam seni. Tekstur adalah sesuatu yang bisa kita lihat, rasa (dengan jari) pada sesuatu permukaan. Jika kita rasakan, elemen tekstur ini sebenarnya amat menarik jika kita lihat secara dekat. Terutamanya jika kita melihat dari berbagai sudut.  Keretakan tidak mudah retak dan pecah jika tatakan kertas dengan perlakuan diberi perekat yang bisa meningkatkan daya rekat antara serat-serat jerami padi tersebut. Elastisitas adalah sesuatu yang bisa kita uji dengan melipat atau menekuk kertas tersebut. Jika kertas ditekuk atau dilipat tidak terjadi kerobekan.Berikut gambar dan diagram kertas seni dari jerami padi:

Gambar. Kertas Seni Dari Jerami Padi

 

 2.       Kertas Seni Dari Pelepah Pisang

Pelepah pisang yang digunakan untuk membuat kertas seni adalah pelepah pohon pisang biasa yang banyak kita jumpai. Proses pembuatannya, pelepah pisang dipotong kecil-kecil dengan ukuran berkisar 25 cm, lalu di jemur di bawah sinar matahari hingga kering. Setelah pelepah pisang yang sudah dipotong kering proses berikutnya adalah dengan cara direbus sampai menjadi lunak, namun pada saat proses perebusan sebaiknya di tambah dengan formalin atau kostik soda maksudnya adalah di samping untuk mempercepat proses pelunakan juga untuk menghilangkan getah-getah yang masih menempel pada pelepah. Pada proses berikutnya pelepah disaring dan dibersihkan dari zat-zat kimia tadi baru kemudian di buat bubur (pulp) dengan cara di blender.  Jika ingin mendapat serat yang sangat halus, maka proses penghancurannya akan lebih lama dibanding jika ingin mendapat serat yang kasar. Lalu proses selanjutnya adalah pencetakan dan penjemuran. Setelah kertas kering, kertas bisa digunakan langsung tetipi bisa ditambah warna. Untuk pewarnaannya, dapat menggunakan bahan dari alam seperti gambir, kunyit, atau daun pandan. Untuk pewarna buatan, dapat menggunakan sepuhan atau perwarna pakaian. Proses pewarnaannya pun ada dua macam, yang pertama dengan proses pencelupan dan yang kedua adalah dengan proses pentotolan menggunkan spons.

Gambar. Kertas Seni dari Pelepah Pisang

Karakter kertasnya adalah keras, liat, kuat dan berat. Paling cocok digunakan sebagai bahan pelapis (covering) untuk melapis kotak kado, cover buku, cover album, pigura foto, dll. Atau digunakan langsung sebagai produk, seperti kantong kertas (paper bag), kartu ucapan, kartu undangan, amplop surat, dll. Lem, perekat yang dapat digunakan adalah lem putih dengan bahan pengencer air, bisa juga lem kuning seperti lem aibon. Semua dapat digunakan tergantung kebutuhan. Aplikasi cetak yang dapat dilakukan adalah cetak manual seperti cetak sablon (screen printing), poly, emboss. Masih bisa dicetak dengan printer komputer tapi tidak bisa dicetak dengan cetak offset. Karena kertas daur ulang ini adalah buatan tangan, jadi permukaan kertasnya agak bergelombang dan kurang rapat sehingga hasilnya tidak akan maksimla jika dicoba cetak offset. Cetak komputer dengan printer dot matrix masih memungkinkan. Cetak dengan printer deskjet atau laserjet masih dapat dilakukan asalkan pinggiran kertasnya dirapihkan dulu supaya seratnya tidak tersangkut.

 

3.       Kertas Seni Dari Eceng Gondok

Secara fisiologis, tumbuhan eceng gondok ini berkembang sangat cepat. Perkembangan dengan vegetatif sangat cepat yakni dapat melipat ganda dua kali dalam 7-10 hari. Eceng gondok pada pertumbuhan 6 bulan dapat mencapai 125 ton/ha dan dalam 1 ha diperkirakan dapat tumbuh sebanyak 500 kg/hari. Memang hal ini terbukti, walupun tumbuhan ini sering dibersihkan dari danau, keberadaannya terus-menerus masih melimpah. Sebagai contoh, tumbuhan ini yang sangat subur tumbuh di belakang Kantor Dinas Kehutanan dan Pertanian Tobasa. Ketersediaan bahan baku mutlak diperlukan dalam mengembangkan suatu bidang usaha. Dari segi bahan baku, dirasakan masih akan terus melimpah sampai waktu yang masih lama. Jadi belum dirasakan masalah akan pengadaan bahan baku eceng gondok ini. Untuk meningkatkan penampilan produk kertas seni yang dihasilkan perlu dicampur dengan kertas bekas. Sumber bahan limbah ini pun akan terus menerus tersedia semisal dari kantor-kantor, koran bekas, dan sebagainya. Berikut proses pembuatan kertas seni dari eceng gondok:

 \

Gamabar. Kertas seni dari eceng gondok

Pemanfaatan kertas seni umumnya sebagai kertas seni, sehingga penilaian kualitas kertas didasarkan pada keindahan relatif dari kertas. Kualitas kertas sebenarnya yang menilai kualitas dari kekuatan tarik, kekuatan sobek, gramatur, dan lain-lain. Kertas seni dengan campuran eceng gondok memiliki penampilan yang lebih indah karena menampilkan serat-serat yang muncul di permukaan kertas. Berbeda dengan kertas tanpa campuran eceng gondok, kurang memiliki nilai artistik yang tidak jauh beda dengan kertas-kertas biasa.

 

 

 

 

TUGAS TEKNOLOGI KAYU BAMBU DAN SERAT – POTENSI

October 16th, 2012

TUGAS TEKNOLOGI KAYU BAMBU DAN SERAT

“POTENSI”

Disusun oleh :

Nama                       : Eko Sunardiyanto

NIM                         : 0911030014

Mata Kuliah             : Teknologi Kayu Bambu dan Serat

Dosen Pengampu     : Ika Atsari Dewi STP, MP.

 

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 latar belakang

Indonesia memiliki sedikitnya 4.000 jenis kayu yang tersebar di seluruh hutan negeri ini. Beberapa di antaranya termasuk jenis kayu komersial, kurang dikenal, dan sangat kurang dikenal (Metrotvnews.com, 2014) . Dari 4.000 jenis kayu tersebut di atas diperkirakan 400 jenis di antaranya dianggap penting karena merupakan jenis yang sekarang sudah dimanfaatkan atau karena secara alami terdapat dalam jumlah besar sehingga mempunyai potensi untuk memegang peranan penting pada masa yang akan datang. kelompok kayu kurang dikenal merupakan kayu yang mempunyai potensi yang cukup besar serta cepat tumbuh. Kayu kurang dikenal jenisnya relatif banyak dan tumbuh tersebar dalam suatu areal hutan yang luas sehingga perlu pengelompokan dalam penyaluran dan pemanfaatannya. Untuk itu jenisnya perlu dikenal dengan baik.

Demikian juga rotan, sebagai salah satu jenis hasil hutan bukan kayu di Indonesia, memiliki 300–350 jenis rotan, tetapi  baru ± 51 jenis saja yang sudah dimanfaatkan dan diperdagangkan (Jasni dan Rachman, 2000). Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan rotan masih terbatas pada jenis-jenis yang sudah diketahui manfaatnya dan laku di pasaran. Jenis-jenis rotan ini sudah menipis persediaannya dan kalaupun ada sudah jauh terdapat ke dalam hutan. Konsekuensinya adalah semakin berkurangnya populasi jenis tersebut. Di sisi lain, penebangan rotan tidak diimbangi dengan usaha-usaha pembudidayaannya dan selama ini belum ada usaha-usaha untuk mencari alternatif jenis pengganti rotan, akibatnya pemenuhan kebutuhan semakin berkurang.

Bambu memegang peranan penting. Bambu mempunyai Sifat Dasar Kayu dan Bukan Kayu 507sifat yang baik untuk konstruksi rumah dan jembatan, barang kerajinan, bahan penghara industri alat musik, tirai, peralatan dapur, sumpit dan lain sebagainya. Kurang lebih 1000 species bamboo dalam 80 genera, sedangkan di Indonesia ditemukan sekitar 60 jenis. Dalam penggunaannya di masyarakat, bambu menemui keterbatasan dalam penggunaan. Faktor yang sangat berpengaruh adalah sifat fisik mekanik, ketidak seragaman panjang ruas dan ketidak awetan terhadap organisme perusak.   Demikian data sifat dasar yang sangat terbatas sehingga penggunaan bambu masih sangat terbatas dan tidak efisien.

Data jenis kayu dan rotan kurang dikenal serta bambu yang sudah terkumpul masih sangat minim dan jauh dari memadai, karena itu penelitian sifat dasar dan kemungkinan kegunaan dan pemanfaatan yang mencakup ciri-ciri jenis tersebut perlu digali. Pemanfaatan kayu, rotan dan bambu tidak hanya terbatas pada jenis tertentu, tetapi akan lebih meluas meliputi jenis yang kurang atau belum dikenal. Upaya ini dapat memberikan informasi mengenai pemanfaatan berbagai jenis kayu, rotan dan bambu yang selama ini tidak atau kurang digunakan sebagai penghara industri. Dengan demikian variasi jenis kayu, rotan dan bambu komersial menjadi lebih beraneka ragam untuk membantu penetapan pemungutan dan penggunaan jenis-jenis tersebut pada masa yang akan datang.

 

1.2 Tujuan

Menyediakan informasi mengenai potensi dari kayu, bambu dan serat berdasarkan sifat dasar kayu dan bukan kayu sebagai dasar diversifikasi penggunaan bahan baku untuk berbagai tujuan pemakaian. Dengan tersedianya informasi ilmiah mengenai jenis kayu dan rotan yang diteliti tersebut, diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam pemanfaatannya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Kayu

Kayu merupakan hasil hutan dari sumber kekayaan alam, merupakan bahan mentah yang mudah diproses untuk dijadikan barang sesuai dengan kemajuan teknologi. Kayu memiliki beberapa sifat sekaligus, yang tidak dapat ditiru oleh bahan-bahan lain. Pengetian kayu disini ialah sesuatu bahan, yang diperoleh dari hasil pemungutan pohon-pohon di hutan, yang merupakan bagian dari pohon tersebut, setelah diperhitungkan bagian-bagian mana yang lebih banyak dapat dimanfaatkan untuk sesuatu tujuan penggunaan. Baik berbentuk kayu pertukangan, kayu industri maupun kayu bakar (Ismeddiyanto, 2008).

Sepanjang menyangkut komponen kimia kayu, maka perlu dibedakan antara komponen-komponen makromolekul utama dinding sel selulosa, poliosa (hemiselulosa) dan lignin, yang terdapat pada semua kayu , dan komponen-komponen minor  dengan berat molekul kecil (ekstraktif dan zat-zat mineral), yang biasanya lebih berkaitan dengan jenis kayu tertentu dalam jenis dan jumlahnya. Perbandingan dan komposisi kimia lignin dan poliosa berbeda pada kayu lunak dan kayu keras, sedangkan selulosa merupakan komponen yang seragam pada semua kayu (Mardikanto, 2011).

 

2.2 Partikel Board

Papan partikel adalah suatu produk yang dihasilkan dari hasil pengempaan panas antara campuran partikel kayu atau bahan berligneselulosa lainnya dengan suatu perekat organik serta bahan pelengkap lainnya yang dibuat dengan cara 6 pengempaan mendatar dengan dua lempeng datar (SNI 03-2105-1996). Menurut  Ramakrishna  et al. (2008) papan partikel merupakan produk panil yang dihasilkan dengan memanfaatkan partikel-partikel kayu sekaligus mengikatnya dengan suatu perekat. Sementara itu Rombe (2009) mendefenisikan papan partikel sebagai salah satu jenis produk komposit atau panel kayu yang terbuat dari partikelpartikel kayu atau bahan berlignoselulosa lainnya yang diikat dengan menggunakan perekat sintesis atau bahan pengikat lainnya dan dikempa panas. Menurut ASTM D-1554 (2008) tipe-tipe partikel yang digunakan untuk bahan baku pembuatan papan partikel adalah  chips, curls, fibers, flake, shaving, slivers,  strand, and  wood wool (excelsior). Berdasarkan ukuran partikel dalam pembentukan lembarannya, Rombe (1993) membedakannya menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut:

1.  Papan partikel homogen (single-layer particleboard). Papan jenis ini tidak  memiliki perbedaan ukuran partikel pada bagian tengah dan permukaan

2. Papan partikel berlapis tiga (three-layer particleboard). Ukuran partikel pada bagian permukaan lebih halus dibandingkan ukuran partikel bagian tengahnya

3. Papan partikel bertingkat berlapis tiga (graduated three-layer particleboard). Papan jenis ini mempunyai ukuran partikel dan kerapatan yang berbeda antara bagian permukaan dengan bagian tengahnya.

 

2.3 Rotan

Rotan adalah sekelompok palma dari puak (tribus) Calameae yang memiliki habitus memanjat, terutama Calamus, Daemonorops, dan Oncocalamus. Puak Calameae sendiri terdiri dari sekitar enam ratus anggota, dengan daerah persebaran di bagian tropis Afrika, Asia dan Australasia. Ke dalam puak ini termasuk pula marga Salacca ( misalnya salak), Metroxylon (misalnya rumbia/sagu), serta Pigafetta yang tidak memanjat, dan secara tradisional tidak digolongkan sebagai rotan. Di Indonesia terdapat ± 300 – 350 jenis, tatapi yang sudah dimanfaatkan dan diperdagangkan baru sekitar 53 jenis (Januminro, 2000).

 

2.4 Bambu

Bambu merupakan tanaman sebangsa rumput yang banyak tumbuh dinegara kita.Tanaman ini dapat tumbuh di daerah beriklim panas maupun dingin. Kebanyakan didareah pedesaan tanaman bambu dibiarkan tumbuh liar, akan tetapi walaupun tidak mendapatkan perawatan, bambu dapat tumbuh dengan baik. Bambu tumbuh secara bergerombol membentuk rumpun, tunas-tunas mudanya keluar dari rimpang dan mementuk tanaman baru. Tanaman baru ini akan tumbuh bersama-sama dengan tanaman pendahulunyadan akhirnya akan membentuk suatu rumpun dengan banyak buluh bambu bambu berdaun tunggal tersusun berselang seling diujung buluh atau ranting-rantingnya. Perakaran bambu sangat kuat, karena rimpangnya bercabang cabang dan punya ikatan kuat yang sukar dipisahkan. Oleh karena itu bambu banyak ditanam didaerah-daearah miring atau pinggir-pinggir sungai untuk mencegah erosi atau tanah longsor (Hartanto, 2004).

Batang bambu bentuknya bulat,berongga, seluruhnya beruas, dapat dibelah kearah vertikal dan lentur. Adanya ruas akan menambah kuatnya batang bambu. Berat jenis bambu sekitar 0,6 samapai 0,9 ( kering udara ) lebih ringan dari air. Meskipun bambu cepat tumbuh namun tetap pada batas maksimumnya, yaitu untuk daerah tropis 6 bulan setelah tunas timbul. Ini merupakan suatu hal yang membedahkan bambu dengan pohon biasa. Bambu ditebang setelah berumur 4 tahun, jumlah bambu per hektar antara 100 – 500 rumpun atau 2000 – 14000 batang, tergantung jenis dan kesuburan tanahnya, sedangkan garis tengahnya antara 2 – 10 cm. Jenis bambu yang banyak dikenal di indonesia adalah : bambu tali ( Apus ), bambu Betung, Bambu Talang, bambu Ater bambu Tutul , bambu Wulung (Marah Raharjo, 2006).

 

2.5 Serat Alam

Serat pada umumnya dapat dibedakan atau diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu serat alam dan serat buatan (secara kimiawi). Serat alam terbagi kedalam tiga kategori besar, yaitu serat yang berasal dari tumbuhan, dari hewan dan materi anorganik. Kapas, rami, Jute, Kenap, Kapok adalah beberapa contoh serat alam yang berasal dari tumbuhan, sedangkan wol dan sutera adalah serat yang berasal dari hewan. Sementara serat asbes adalah contoh serat yang berasal dari mineral (Tarmansyah, 2007).

 

2.6 Serat Sintetis

Serat sintetis adalah serat buatan, yang diolah kembali dengan mesin dan bahan-bahan kimia, dan kemudian dicampur dengan serat alam (hewan dan tumbuhan). Serat buatan yang terkadang kita lihat pada label baju diantaranya adalah nilon, asetat, poliester, akrilik hingga spandeks. Untuk negara tropis seperti Indonesia, penggunaan serat sintetis bisa mengundang masalah. Karena, di dalam kandungan sintetis terdapat sekian persen kadar plastik dan karet. Serat sintetis ini sering digunakan untuk pakaian dalam (boxer dan pakaian dalam lain). Cukup berbahaya karena hal ini dapat menyebabkan gatal pada permukaan kulit. Selain itu, serat sintetis juga dapat memindahkan bakteri dari pakaian dalam ke -maaf- daerah genital. Dari pada menimbulkan penyakit yang berkepanjangan, pastikan pakaian dalam yang kita beli tidak panas dan kesat saat menyentuh kulit (Abdullah, 2000).

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

3.1 Potensi Kayu

Industri  kayu  merupakan  industri kehutanan  yang  penting  dalam rangka  pemanfaatan  sumber daya alam berupa  hutan.  Industri pengolahan kayu di dalam negeri baik primer maupun sekunder, yang tercatat saat ini hampir 2.000 unit, yang didominasi oleh industri kayu lapis dan penggergajian. Nilai  ekspor barang kayu dan hasil hutan lainnya pada tahun 2000 sebesar Rp 24.037.647 juta  atau  15,9% dari seluruh  nilai  ekspor Indonesia (Deperindag, 2002). Dari nilai ekspor tersebut sebesar Rp 1.655.295 juta (6,9%) disumbang dari  industri pengolahan kayu skala kecil dan menengah. Sedangkan sisanya sebanyak 93,1% oleh industri skala besar.  Potensi kayu di Indonesia dapat dilihat dari jenis pemanfaatannya yaitu sebagai  bangunan, papan, kayu bakar,  penumbuk padi, ganggang golok, papan cor, pangan, mainan anak, bingkai, furnitur, tiang pancang, kusen dan obat.

 

3.2 Potensi papan partikel

Libah industi penggergajian merupakan sisa proses penggergajian  yang memiliki potensi untuk dijadikan bahan baku papan partikel. Saat ini cadangan sumber kayu semakin menipis karena luas hutan sebagai sumber kayu semakin berkurang (Massijaya, 2004). Fenomena ini terjadi karena manajemen hutan yang salah dan eksploitasi secara besar-besaran pada masa yang lalu.  Pada  beberapa  tahun  mendatang,  produksi  kayu  dari  hutan  alam  akan mengalami penurunan secara signifikan.

Berkurangnya sumber kayu dapat menyebabkan industri pengolahan kayu semakin menurun di masa yang akan datang. Keadaan ini dapat menyebabkan sisa dari industri pengolahan kayu semakin berkurang. Berkurangnya sisa pengolahan kayu akan menimbulkan dampak  negatif pada industri yang memanfaatkan sisa pengolahan kayu, seperti industri papan partikel,  MDF, dan lain sebagainya. Sekitar 95% industri papan partikel menggunakan bahan baku dari sisa pengolahan kayu, sedangkan sisanya dibuat dari bahan serat bukan kayu, seperti bagas dari tebu, rami, dan  bambu. Penggunaan bahan-bahan, baik bahan kayu maupun  serat  non  kayu,  seringkali   mengalami  kendala  akibat  terbatasnya persediaan bahan baku.

 

3.3 Potensi Rotan                                                                                 

Katingan sebagai sentra produksi rotan di Kalimantan Tengah, rata-rata produksi rotan  asalan yang dipasarkan keluar dari wilayah Kabupaten Katingan perbulannya mencapai 600 – 800 ton. Lebih dari 51% Rumah Tangga (12.746 KK) atau seluas ± 325.000 Ha wilayah Kabupaten Katingan terdiri dari Kebun Rotan yang tersebar di 10 Kecamatan dengan jenis yang banyak ditanam adalah jenis rotan taman dan irit (Data Base Line TEROPONG, Tahun 2004) dan sesuai data prediksi sementara kepemilikan kebun rotan pada tahun 2008 meningkat menjadi 66% Rumah Tangga (21.778 KK). Daerah Kecamatan yang memiliki potensi Rotan dengan rata-rata prosentase rumah tangga yang memiliki mata encaharian pada komoditi rotan, meliputi :

1). Kecamatan Marikit (64,8%);

2). Kecamatan Katingan Hulu (83,8%);

3). Kecamatan Mantikei (61,6%), dengan luas kebun 3.758 Ha;

4). Kecamatan Katingan Tengah (38,5%), dengan luas kebun 1.514 Ha;

5). Kecamatan Pulau Malan 85,6%, dengan luas kebun 2.962 Ha;

6). Kecamatan Tewang Sangalang Garing (69,3%);

7). Kecamatan Katingan Hilir (95,9%), dengan luas kebun 3.338 Ha;

8). Kecamatan Tasik Payawan (77,4%), dengan luas kebun 3.125 Ha;

9). Kecamatan Kamipang (64,1%);

10). Kecamatan Mendawai (20,9%);

11). Kecamatan Katingan Kuala (15%), dengan luas kebun 920 Ha (Sumber data Disperindag Kab. Katingan, 2008 dan Booklet Dishut Kab. Katingan 2005).

Pengolahan bahan rotan lokal yang berorientasi pada kerajinan rumah tangga, telah dilakukan turun temurun dengan bentuk pembuatan keranjang, tas, tikar, lanjung, kursi dan lain-lain.

 

3.4 Potensi bambu

Potensi jenis bambu didunia dikenal dalam 75 genus dan terdiri atas 1500 spesies. Di Indonesia terdapat kira-kira 10 genus yaitu  Arundinaria, Bambusa, Dendrocalamus, Dinochloa, Gigantochloa, Melacanna, Nastus, Phyllostachys, Shizostachyum dan Thyrostachys. Di asia terutama didaerah Indo-Burma dikenal kira-kira 300 species, di India kira-kira 136 spesies, di Burma kira-kira 39 spesies,

Di Malaysia kira-kira 29 spesies, di Jepang 9 spesies, di Philipina 30 spesies. Selanjutnya dikatakan bahwa hanya 5 spesies saja (termasuk dalam 2 genus) yang tumbuh asli di Indonesia, sedangkan lainnya merupakan jenis eksotik. Kelima spesies ini termasuk dalam kualitas yang rendah. Adapun cirri-cirinya adalah berdinding tipis, tumbuh asli di Indonesia, sedangkan spesies yang berdinding tebal. Bambu juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan bakar alternatif atau biofuel yang ramah lingkungan. Pohon bambu juga berfungsi sebagai penjernih air, sebagai sumber bahan bangunan ( tiang rumah, atap rumah dan dinding rumah), bahan kerajinan tangan, makanan, obat-obatan  dan bahan selolosa pembuatan kertas serta produk ekonomis lainnya.

 

3.5 Potensi serat alami

Indonesia mempunyai kekayaan sumber daya alam serat non kayu yang melimpah dan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Serat non kayu merupakan serat yang berasal dari tanaman-tanaman serat alam (seperti sisal, rami, kenaf, nenas, dan lain-lain), bambu, serta limbah pertanian dan perkebunan. Serat non kayu belum banyak digali potensinya sehingga memerlukan penelitian dan pengembangan mulai dari penyiapan bahan sampai teknologi prosesnya (Tarmansyah, 2007).

Serat alam non kayu terdiri dari: (1) serat straw seperti jerami padi; (2) serat kulit batang (bast) seperti kenaf, rami, jute, hemp; (3) serat daun seperti sisal, nenas; (4) serat dari biji atau buah seperti sabut kelapa; (5) rumput-rumputan seperti bambu, rumput gajah.2 Indonesia merupakan penghasil serat kapok, kapas, kenaf, abaka, rami dan sisal dengan jumlah produksi yang masih sedikit (Tabel 1). Produksi utama adalah kapok sekitar 80 ribu ton/tahun, kapas 9 ribu ton/tahun, dan kenaf 6 ribu ton/tahun.3 Sisal banyak terdapat di Jawa Timur termasuk Madura, dan Jawa Tengah dengan produksi sekitar 500 ton/tahun.4 Rami dikembangkan di Wonosobo, Garut, Lampung, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Utara dengan luas sekitar 805 ha, dengan produksi 1.200 ton/tahun. Sekitar 400 ha abaka terdapat di Banyuwangi.5 Beberapa permasalahan pengembangan tanaman serat alam antara lain adalah minimnya varietas unggul, areal dan modal petani terbatas, harga rendah, pasar terbatas, teknologi pascapanen kurang, dan kebijakan pemerintah kurang mendukung.5

Tabel 1. Potensi serat alam non kayu di Indonesia.

Jenis Serat

Potensi/tahun

(x1000 ton)

Jenis Limbah

Potensi/tahun

(x1000 ton)

Kapok

79,9

Sekam padi

13.300

Kapas

8,9

Jerami padi

90.000

Kenaf

5,9

Bagas tebu

2.600

Rami

1,2

Batang sawit

16.400

Sisal

0,5

Pelepah sawit

80.000

Abaka

0,6

Tandan kosong sawit

37.000

Bambu

550

Serat sabut kelapa

1.800

Parenkim kelapa

3.300

 

3.6 Potensi serat sintetis

Konsumsi industri tekstil terhadap bahan baku serat sintetis diproyeksikan mencapai 650.000 ton pada tahun ini atau meningkat 8,3% dibandingkan dengan 2009 sebesar 600.000 ton per tahun. Peningkatan konsumsi tersebut disebabkan kestabilan harga yang dialami oleh salah satu bahan baku industri tekstil itu. Berdasarkan data Asosiasi Produsen Synthetic Indonesia (Apsyfi), harga serat sintetis sempat menyentuh US$1,4 per kilogram pada April dan Mei 2012. Akan tetapi, harganya turun menjadi US$1,3 per kilogram pada Juni lalu.  Kondisi tersebut, ujar Redma, berbeda dibandingkan dengan harga serat alami (cotton) yang cenderung fluktuatif. Pada April 2012, harga serat alami sempat menyentuh angka US$2,2 per kilogram. Setelah itu, harganya anjlok lumayan drastis menjadi US$1,95 per kilogram. Bahkan, pada Juni lalu harga serat alami mencapai US$1,8 per kilogram.

Pertumbuhan konsumsi terhadap bahan baku disebabkan harga yang cenderung stabil dari bulan ke bulan.  Pada tahun itu, konsumsi serat alami dan serat sintetis relatif seimbang, yakni 600.000 ton per tahun. Dengan kondisi pasar yang cenderung berubah-ubah, harga serat alami ikut terkontraksi sehingga pelaku industri tekstil berubah haluan ke serat sintetis yang memiliki harga cukup stabil. Saat ini, konsumsi serat sintetis mencapai 650.000 per tahun, sedangkan serat alami turun menjadi 550.000 per tahun. Serat sintetis lebih stagnan, sedangkan serat alami cenderung fluktuati. Meskipun konsumsi serat alami lebih sedikit dibandingkan dengan serat sintesis, setidaknya 98% pasokan serat alami masih bergantung pada produk impor. Adapun 2% lainnya diproduksi oleh industri dalam negeri.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdullah. 2000. Serat ijuk sebagai pengganti serat gelas dalam pembuatan komposit fiber glass. FT. Aceh.

 

Hartanto. 2004. Budidaya Bambu. Dahara Price. Semarang.

 

Ismeddiyanto. 2008. Penelitian Pemanfaatan Serbuk Gergaji Kayu Jati (Tectonagrandis L-F) Untuk Bata Beton. Jurusan Teknik Sipil FakultasTeknik UGM. Yogyakarta.

 

Januminro. 2000. Rotan Indonesia. Kanisius. Jogjakarta.

 

Marah Raharjo. 2006. Tanaman Bambu. PT. karya Nusantarara. Jakarta.

 

Mardikanto. 2011. Sifat Mekanis Kayu. IPB Press. Bogor.

 

Ramakrishna. 2008. An introduction to elektrospininng and Nanofiber. Wiley. New York.

 

Rombe. 2009. Inventaris Potensi Rotan Indonesia. Departemen kehutanan. Jakarta

 

Tarmansyah. 2007. Pemanfaatan Serat Rami Untuk Pembuatan Selulosa. STT. Jakarta.

TUGAS PENGEMASAN – LABELLING

June 26th, 2012

KUIS

TEKNOLOGI DAN MENEJEMEN PENGEMASAN

NAMA                           : EKO SUNARDIYANTO

NIM                                : 0911030014

MATA KULIAH           : TEKNOLOGI DAN MENEJEMEN PENGEMASAN

JUDUL TUGAS            : LABELLING

DOSEN PENGAMPU              : IKA ATSARI DEWI, STP, MP

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

 MALANG

 2012

 

Selain organik: minat konsumen dalam pelabelan baru
skema di Central Coast California

 

Identifikasi

Produsen tertarik untuk mengembangkan skema pelabelan yang go ‘di luar organik’ untuk mengatasi kriteria etis tidak termasuk Departemen Pertanian standar organik. Namun kepentingan konsumen, label yang tidak banyak tersedia sebagai organik di pasar yang kurang dipahami. Penelitian ini melaporkan hasil kelompok fokus penelitian dan survei terhadap 1000 rumah tangga di kawasan Central Coast California untuk menentukan standar konsumen paling tertarik dalam mendukung melalui pembelian mereka. Itu Hasil penelitian menunjukkan bahwa standar untuk pengobatan manusia untuk hewan memiliki tingkat dukungan tertinggi, diikuti dengan standar untuk asal lokal, dan untuk upah layak bagi pekerja terlibat dalam memproduksi makanan. Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa manusia lebih mungkin untuk dipilih oleh perempuan, Eropa-Amerika, orang yang lebih muda dan sering membeli organik. Perkembang lokal lebih disukai oleh tua orang dan rumah tangga dengan anak-anak. Sebuah upah layak untuk pekerja yang terlibat dalam produksi pangan dipilih lebih sering oleh Latin. Meskipun karakterisasi tren tidak memungkinkan karena desain cross-sectional, hasil menunjukkan beberapa potensi arah bagi produsen di daerah ini yang bersedia untuk memasok kebutuhan konsumen yang belum terpenuhi untuk kriteria etis. Ada tiga arah dasar yang baru dan label yang muncul dapat mengambil sehubungan dengan nasional AS organik standar: terpisah dari organik, kelembagaan terpisah, tetapi terintegrasi dengan organik, dan dimaksudkan untuk menggantikan organik. Keberhasilan dari masing-masing strategi akan tergantung pada seberapa banyak konsumen kepercayaan terus menempatkan dalam pengawasan pemerintah terhadap makanan organik. Itu Hasil studi juga menunjukkan bahwa gerakan untuk lebih sistem pangan berkelanjutan akan mendapat manfaat dari mengabdikan lebih memperhatikan isu-isu hak asasi hewan dan keadilan sosial.

Label makanan organik adalah salah satu cara yang paling tua dan paling sukses dalam penerapan eko-label, datang kembali ke 1970-an di Amerika Serikat, dan konsumen telah merespon cukup positif untuk itu. Penjualan makanan organik di AS telah meningkat pada tingkat 20% atau lebih sejak 1990 (Dimitri dan Greene, 2002), dan tingkat pertumbuhan yang sama telah diamati di beberapa negara Eropa dan Jepang (Kortbech-Oleson, 2003). Ini booming di pasar organik, sementara positif dalam banyak hal, telah menciptakan satu masalah dan gagal untuk memecahkan lain. Masalah diciptakan adalah hilangnya pendapatan untuk petani perintis dari gerakan pertanian organik. Masalah yang tetap belum terselesaikan adalah makna yang sebenarnya dan pentingnya label organik sedangkan pertumbuhan pasar organik telah menghasilkan peningkatan pendapatan bagi produsen secara umum, sebagian besar petani skala kecil yang memelopori gerakan organik yang menemukan itu semakin sulit untuk mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan ini, baik dalam hal harga atau premi pangsa pasar. Sementara makanan organik sekali dijual untuk harga yang jauh lebih tinggi dari yang sama, makanan yang diproduksi secara konvensional, harga-harga telah menurun baru-baru ini di beberapa sektor. Misalnya, premi organik rata-rata untuk konsentrat anggur Concord di AS menurun dari 40% pada 2000 menjadi hanya 16% 2004 (Gauley, 2004). Lebih dari separuh responden dalam survei 2004 dari petani organik AS melaporkan bahwa mereka tidak menjual semua produk mereka dengan premi (Pertanian Organik Research Foundation, 2004).

Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kecenderungan ini. Salah satunya adalah bahwa petani dan prosesor telah tertarik dengan premi harga dan meningkatkan jumlah lahan di produksi organik, baik di AS dan di negara lain memasok pasar AS. Akibatnya, pasokan beberapa produk telah melampaui jumlah konsumen bersedia membayar lebih untuk makanan organik. Harga yang kemudian diturunkan untuk mendorong konsumen untuk membeli lebih banyak, dan membawa permintaan lebih dekat dengan tingkat produksi, terutama pada puncak produksi (Carman dan Klonsky, 2004). Faktor lain dalam penurunan harga adalah masuknya perusahaan besar, seperti General Mills, Danone dan Coca-Cola ke dalam industri organik (Sligh dan Christman, 2003). Perusahaan-perusahaan multinasional menikmati skala ekonomi yang memungkinkan mereka untuk menghasilkan produk yang sama dengan biaya lebih rendah. Selain itu, pengecer organik besar, seperti Whole Foods Market Inc dan Wild Oats, telah memperoleh rantai yang lebih kecil, dan rantai pasokan mereka sentralisasi. Mereka semakin membeli produk hanya dalam volume cukup besar untuk memasok pusat distribusi mereka, bukan toko individu. Ini memiliki efek memotong saluran pemasaran yang sebelumnya tersedia untuk skala kecil, petani organik.

Hilangnya pendapatan bersama dengan makna palsu dari label organik telah mendorong banyak pelopor gerakan pertanian organik untuk mencari cara untuk membedakan produk mereka. Sebagai contoh, petani, pengecer dan pedagang besar di California telah mengadakan sejumlah pertemuan sejak tahun 2002 untuk mendiskusikan kemungkinan untuk menciptakan sebuah label baru, karena akan tidak praktis untuk masing-masing untuk membedakan dan memasarkan produk mereka secara individual. Upaya ini bertepatan dengan peningkatan yang fenomenal dalam minat konsumen dalam membeli produk makanan dibedakan. Selain pasar berkembang untuk makanan organik disebutkan di atas, produk perdagangan vegetarian dan wajar juga terbukti populer dengan konsumen. Selama periode lima tahun yang berakhir pada tahun 2003, penjualan makanan vegetarian dua kali lipat di Amerika Serikat (Tatge, 2004). Perdagangan kopi Fair, baru-baru ini diperkenalkan di AS, mengalami pertumbuhan tahunan rata-rata penjualan 72% (TransFair USA, 2005). Jenis kekhawatiran konsumen meningkat tentang praktik produksi produk selama dua dekade terakhir ini juga tercermin dalam data survei longitudinal (Imkamp, 2000;. Stolle et al, 2005).

Ini mengikuti, kemudian, bahwa skema pelabelan baru dengan minat konsumen yang kuat dapat memberikan jalan bagi petani berkomitmen untuk praktek ekologi dan etika untuk mengatasi industri organik berubah. Label tersebut dapat memberikan alternatif saluran pemasaran yang berharga bagi para produsen dan memungkinkan penentuan prioritas tujuan sosial tambahan, seperti pengecer terus merespon untuk kebutuhan konsumen untuk produk yang etis. Mereka mungkin juga mengumpulkan harga premium, yang akan membantu produsen etis untuk mempertahankan kelangsungan hidup ekonomi mereka dalam menghadapi meningkatnya persaingan dari perusahaan multinasional. Namun, sementara ada penelitian yang berlimpah di jenis konsumen lebih memilih organik dan mengapa mereka memilih label ini (misalnya Jolly dkk, 1989;. Goldman dan Clancy, 1991; Thompson, 1998; Williams dan Hammitt, 2000; Lockie et al,. 2002), ada kekurangan informasi mengenai preferensi konsumen untuk berbagai jenis label. Secara khusus, beberapa studi, untuk pengetahuan kita, telah meneliti preferensi relatif konsumen untuk kriteria etis yang mulai muncul di pasar. Jenis penelitian ini bisa berguna bagi mereka yang bekerja dalam gerakan pangan pertanian alternatif. Misalnya, salah satu alasan kurangnya konsensus di antara mereka yang bekerja untuk mengembangkan label yang berlangsung ‘di luar organik’ adalah bahwa ada informasi terbatas pada kriteria di mana konsumen yang paling tertarik dalam mendukung melalui pembelian mereka. Mengingat peran peningkatan konsumerisme politik, sangat penting untuk memahami kriteria mungkin menarik bagi orang yang tertarik dalam aksi politik melalui pasar.

Pada artikel ini kami melaporkan hasil penelitian pada preferensi relatif rakyat untuk kriteria pelabelan berbagai. Kami pertama lay out penelitian kami metode dan pendekatan analitis, kemudian mempresentasikan hasil kami pada preferensi konsumen selama lima label: lokal, manusiawi, upah layak, AS-tumbuh dan skala kecil. Kami menunjukkan faktor-faktor demografis dan lainnya dikaitkan dengan preferensi yang kriteria, dan mendiskusikan implikasi bagi upaya saat ini untuk mengembangkan eco-label. Kami menemukan pola yang menarik dan tak terduga baik di label yang lebih disukai secara keseluruhan, serta perbedaan yang khas berdasarkan jenis kelamin, etnis dan variabel lainnya.

Metode

Penelitian dilakukan di kawasan Central Coast California. California menjadi minat khusus untuk mempelajari tren konsumsi dan makanan karena terdiri
dunia ekonomi terbesar keenam dan peringkat keenam di antara negara sebagai pengekspor produk pertanian. Telah lama menjadi pemimpin dalam gerakan pangan pertanian alternatif, dan 1978 hukum organik digunakan sebagai model untuk aturan yang menjadi kebijakan federal pada tahun 2002 (Allen, 2004). Wilayah Pesisir Tengah khususnya memiliki kepadatan sangat tinggi konsumen organik dan petani, serta organisasi melayani kelompok ini. Akibatnya, kemungkinan untuk berada di tepi terkemuka pembelian selektif makanan yang didasarkan pada lain eko-label, selain organik.

Pemilihan kriteria label  

Sebelum merancang survei, kami melakukan lima kelompok fokus di musim semi 2003. Sebagai tujuan dari kelompok fokus adalah untuk meningkatkan relevansi dan resonansi dari kriteria untuk memasukkan hasil survei, tidak kami laporkan secara luas pada kelompok fokus temuan dalam artikel ini. Tujuh puluh persen dari peserta adalah perempuan, dan 30% peserta diklasifikasikan diri dalam kelompok etnis minoritas. Pertanyaan yang diajukan untuk fokus kelompok peserta dieksplorasi konsumen yang belum terpenuhi kebutuhan tentang sistem pangan. Kami meminta mereka apa yang baik tentang sistem pangan saat ini, apa yang buruk tentang sistem pangan saat ini dan informasi apa yang mereka ingin tahu, jika tersedia. Diskusi ini adalah audio yang direkam, ditranskripsi, dan kemudian Laporan keuangan tersebut dikodekan ke dalam kategori. Transkrip ini kemudian dianalisis untuk tema yang menghubungkan kategori-kategori, dan yang dibahas di semua lima kelompok. Tema diidentifikasi keselamatan termasuk, gizi, dampak lingkungan, perlakuan yang manusiawi dari binatang, lokal berkembang, upah hidup untuk pekerja, kondisi kerja yang aman bagi pekerja dan AS-tumbuh.

Berdasarkan analisis lebih lanjut hasil ini, kami memilih lima standar potensi yang saat ini tidak diatasi dengan standar organik USDA, tetapi berpotensi dapat diterapkan oleh pelopor organik dan mereka dengan operasi serupa. Kami secara singkat mendefinisikan standar yang dihasilkan, berdasarkan kelompok fokus peserta deskripsi dari konsep. Ini adalah:

• Humane: daging, produk susu atau telur dari hewan yang belum diperlakukan dengan kejam.

• Hidup upah: menyediakan atas kemiskinan upah untuk pekerja yang terlibat dalam memproduksi makanan.

• Lokal tumbuh: tumbuh dalam waktu 50 mil dari titik pembelian;

• Kecil: mendukung pertanian kecil atau bisnis;

• AS-tumbuh: tumbuh di Amerika Serikat.

Kami tidak menyertakan label yang menggabungkan semua standar karena kami ingin mencari tahu di mana komponen ini potensi peringkat relatif satu sama lain dengan konsumen.

 Diskusi dan implikasi

Hasil kami menunjukkan bahwa, untuk populasi ini, manusiawi, lokal berkembang dan hidup upah kriteria label di mana konsumen yang paling mungkin untuk tertarik. Selain itu, kriteria tertentu lebih mungkin untuk menarik orang-orang dengan karakteristik demografis yang berbeda. Humane lebih mungkin lebih disukai oleh perempuan, Eropa-Amerika, orang yang lebih muda dan pembeli organik sering. Lokal lebih mungkin untuk dipilih oleh orang tua dan rumah tangga dengan anak-anak. Upah layak lebih mungkin untuk dipilih oleh orang-orang Latino, etnis berpenghasilan tinggi rumah tangga dan konsumen yang tidak berpikir bahwa orang lain peduli bagaimana makanan mereka diproduksi. Mereka yang mempertimbangkan lingkungan ketika membuat pembelian tertarik untuk upah baik manusiawi dan hidup, dan tidak menunjukkan preferensi ketika kedua secara langsung dibandingkan. Secara keseluruhan, USgrown dan skala kecil mendapat dukungan jauh lebih sedikit dari responden kami. Ini tidak berarti, bagaimanapun, bahwa kriteria ini tidak penting bagi responden kami, hanya saja mereka kurang penting dibandingkan dengan kriteria lain.

Upaya pelabelan percontohan menangani kriteria upah manusia, lokal dan hidup saat ini dalam pengembangan, dan hasil ini dapat membantu mereka yang bekerja pada label untuk maju dan target usaha mereka. Meskipun mereka belum banyak tersedia untuk konsumen, mereka menggambarkan tiga arah potensial yang label ini dapat berlangsung sehubungan dengan nasional organik standar (sambil tetap secara kelembagaan terpisah dari program USDA): (1) label yang mungkin berlaku untuk baik organik atau produk makanan konvensional, (2) label yang akan melengkapi dan mengintegrasikan sama dengan organik; dan (3) label yang dimaksudkan untuk menggantikan organik menggunakan pedoman USDA sebagai dasarnya, tetapi juga termasuk kriteria yang lebih ketat dan tambahan.

Contoh pertama diilustrasikan oleh pemula upaya manusia dalam pelabelan yang fokus hanya pada manusiawi dan tidak terbatas pada produk organik. Percontohan upaya untuk membuat label pihak ketiga bersertifikat manusiawi yaitu meliputi AS Bersertifikat manusiawi ‘dan’ ternak Gratis ‘. Ternak Gratis ini dikelola oleh American Humane, dan mereka saat ini menyatakan sembilan operasi. Bersertifikat Humane didanai oleh koalisi kelompok-kelompok perlindungan hewan, termasuk Masyarakat Humanis Amerika Serikat, dan saat ini menyatakan 34 operasi.

Pilihan kedua adalah yang digunakan oleh Grup Perdagangan Amerika Serikat Domestik Cukup Kerja, yang bekerja menuju standar-pihak ketiga yang bersertifikat akan mewakili kriteria keadilan sosial, termasuk upah layak, namun tetap terintegrasi dengan praktik organik. Tujuan mereka adalah untuk membuat label ‘yang konsisten dengan nilai-nilai dasar pergerakan perdagangan internasional yang adil, dan dibangun di atas nilai-nilai gerakan pertanian organik dan berkelanjutan’ (Domestik Perdagangan Group Adil Kerja, 2005, hal. 1). Anggota koalisi ini saat ini sedang menguji proyek percontohan di Minnesota dan Florida.

Keberhasilan strategi ini berbagai kemungkinan akan bergantung tidak hanya pada konsumen bunga dalam kriteria etika tambahan, tetapi pada petani dan tingkat konsumen kepuasan dengan standar USDA juga. Kedua kelompok telah menyatakan keprihatinan atas upaya terakhir untuk melemahkan standar ini, seperti Perda yang disahkan oleh Kongres yang memungkinkan zat lebih sintetis dalam makanan organik olahan (Deardorff, 2005). Jika konsumen organik kehilangan kepercayaan dalam pengawasan pemerintah  dari program nasional, mereka mungkin lebih bersedia untuk mencari alternatif non-pemerintah, seperti label Renegade Mendocino. Jika konsumen terus percaya peraturan USDA organik, maka strategi sertifikasi pelengkap, seperti yang dari Grup Perdagangan Dalam Negeri Pameran Kerja, dapat bertemu dengan lebih sukses.

Salah satu batasan dari penelitian ini adalah bahwa desain dari penelitian ini adalah cross-sectional, dan kepentingan konsumen bisa berubah dari waktu ke waktu. Selain itu, itu terbatas pada wilayah geografis yang kecil, sehingga tidak masuk akal untuk menarik kesimpulan tentang bagaimana hasil dapat diterapkan secara nasional maupun internasional. Dan, meskipun format pertanyaan itu mirip dengan pilihan konsumen membuat di gerai ritel, perilaku pembelian yang sebenarnya mungkin berbeda dari preferensi lain. Sebagai contoh, sementara tingkat dukungan konsumen untuk perdagangan yang adil dinyatakan dalam survei di Eropa sangat tinggi, pangsa pasar produk perdagangan yang adil masih cukup kecil di banyak negara (Krier, 2001; De Pelsmacker et al, 2005.). Di sisi lain, preferensi konsumen tidak dapat dipastikan secara akurat melalui perilaku pembelian mereka, baik, mengingat faktor pembaur seperti rasa atau merek (de Boer, 2003).

Dengan demikian, penelitian masa depan diperlukan untuk mengevaluasi potensi pasar dari label tersebut melalui pengamatan longitudinal tren, perbandingan dengan daerah lain (terutama negara-negara lain), dan evaluasi kesediaan konsumen untuk membayar lebih untuk kriteria tersebut. Selain itu, penelitian kualitatif seperti wawancara individu atau kelompok akan berguna untuk mendapatkan alasan mengapa orang lebih memilih satu jenis kriteria yang lain. Misalnya, mengapa wanita jauh lebih mungkin dibandingkan pria lebih suka manusiawi lebih lokal? Mengapa orang muda lebih mungkin dibandingkan orang tua untuk memilih manusiawi lebih lokal? Memang, mengapa manusiawi sehingga sangat mendukung secara umum, dibandingkan dengan kriteria lain? Anotherarea untuk mengejar dalam penelitian masa depan adalah ketegangan antara idealisme dan realisme. Kami pra-tes menunjukkan bahwa orang terkadang memilih satu kriteria di atas yang lain hanya karena mereka tidak melihat yang kedua sebagai ‘realistis’. Hal ini konsisten dengan temuan penelitian lain yang California pada-pemerintah fokus pada topik tertentu (tidak harus orang yang mereka anggap paling penting) karena mereka dianggap adalah mungkin untuk bekerja pada topik ini dalam ekonomi politik saat ini, sementara yang lain berada di luar jangkauan (Allen et al., 2003).

Kesimpulan

Keberhasilan eko-label seperti organik dan fair trade menunjukkan kekuatan konsumen untuk mempengaruhi praktek produksi pangan melalui pembelian mereka. Konsumen dapat memberikan kontribusi bagi pelembagaan kriteria etika tambahan dalam sistem pangan dengan mendukung upaya percontohan untuk menciptakan ‘luar organik’ eko-label melalui pembelian mereka. Perkembangan label ini harus dipisahkan dari label Organik USDA, tetapi bisa hidup berdampingan, sebanyak organik dan fair trade lakukan saat ini. Penelitian yang dilakukan di kawasan Central Coast California mengidentifikasi tiga standar yang memiliki bunga paling potensial dari konsumen, dan mungkin lebih mungkin label yang sukses. Humane menarik minat sebagian besar, terutama dari wanita, Eropa-Amerika, orang yang lebih muda dan pembeli organik sering. Lokal berkembang adalah pilihan kedua yang paling populer, dan disukai oleh orang tua dan rumah tangga dengan anak-anak. Sebuah upah hidup untuk pekerja yang terlibat dalam produksi pangan merupakan pilihan yang paling populer ketiga, dan terpilih lebih sering dengan Latin. Label yang membahas kriteria etis tidak termasuk dalam standar organik AS, dapat menguntungkan konsumen dan ‘ekologi’ petani, serta asuh sosial yang progresif berubah tujuan gerakan pangan pertanian alternatif di Amerika Serikat. Penelitian kami menunjukkan bahwa sementara penekanan pada lokal ini tentunya tidak salah tempat, pertimbangan harus diberikan untuk pelatardepanan masalah standar hewan manusiawi dan keadilan sosial, mengingat tingkat tinggi mereka dari dukungan oleh konsumen.

 

JURNAL LABELLING DAPAT DI DOWNLOAD DI LABELLING

 

Re-Desain Kemasan

June 6th, 2012

DESAIN KEMASAN

–       Profil Produk

          Kookii adalah sebuah jajanan dari ayam yang di potong-potong dan diberi variasi rasa seperti garlic, cilli, blackpepper, original dan curry.  Kookii berdiri di beberapa stand  foodcourt di daerah malang. Pengamatan kali ini, kookii yang diamati adalah kookii yang berada di foodcourt Matos. Proses pembuatan Kookii yaitu ayam fillet pertama digoreng, setelah matang dipotong kecil-kecil dan diberi bumbu sesuai pesanan.  Produk ini masukkan ke dalam kemasan kantung kertas dan sebuah tusukan untuk memudahkan konsumen memakannya.

–        Desain Lama

Kemasan kertas yang digunakan tipis sehingga minyak dari ayam mudah terserap, sehingga kertas kemasan menjadi basah karena minyak tersebut. Kemasan produk Kookii didominasi dengan warna putih dan orange, dilengkapi dengan gambar ayam di pinggirnya. Desain lama dari kemasan Kookii dapat dilihat di Gambar 1.

Gambar 1. Desain Lama Kemasan Kookii

 Kelebihan dan kekurangan desain lama:

Desain kemasan lama yang terbuat dari kertas tipis ini lebih murah sehingga menekan biaya kemasan. Desain kemasan lama yang didominasi warna orange membuat kemasan terkesan monoton dan tidak menarik. Kemasan yang tipis dan terlalu tinggi ini tidak ergonomis saat dibawa karena minyak dari produk tembus ke kemasan meskipun kemasannya sudah dilapisi semacam kertas buram.

Desain baru

            Desain baru dari kemasan Kookii yaitu mempertebal ketebalan kertas dan kekakuan kertas, memotong panjang kertas sehingga tidak terlalu tinggi, memperkaya warna kemasan sehingga warna lebih menarik. Desain baru kemasan Kookii dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Desain Baru

 Kelebihan dan kekurangan:

Desain baru dari kemasan Kookii ini terbuat dari kertas tebal sehingga kemasan Kookii ergonomis saat dibawa karena minyak tidak tembus keluar kemasan. pembaharuan ukuran Kookii yang dijadikan lebih pendek dari semula sehingga mudah untuk mengkonsumsi ayam fillet. Desain kemasan diperkaya warna dan gambar sehingga lebih informatif dan menarik konsumen dari segi kemasan.  tetapi dengan banyak warna dan tebal kertas dipertebal membuat biaya kemasan lebih tinggi dari semula tetapi jika dibandingkan dengan kemasan lain dengan produk yang sama tidak berpengaruh karena kemasan lain dengan jenis produk yang sama menjual dengan harga yang sama dengan harga Kookii saat memakai kemasan lama. Perubahan desain ini hanya akan menurunkan sedikit keuntungan dari produsen tetapi jika produk bisa bersaing maka tidak akan rugi.

Cara produsen menentukan daya simpan produk.

Kookii yang merupakan  makan cepat saji yang berbahan baku ayam maka untuk menentukan daya simpan produk yang dijual produsen dari Kookii ini menetapkan daya simpan kookii yang masih mentah relatif lama jika disimpan di dalam freezer jadi produsen membuat produk jadi setelah ada pesanan. Produk yang sudah jadi bertahan satu hari disuhu ruangan, karena tekstur dari produk tersebut kering. Berdasarkan produk yang dibuat itulah Kookii memilih kemasan paper bag, karena produk yang dijual merupakan produk cepat saji yang bisa langsung dimakan. Agar mudah dibawa konsumen, maka digunakan paper bag yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil

Produsen menganggarkan untuk biaya kemasan sekitar 30% ini bisa dilihat dari kemasan kookii yang sederhana dan cenderung biasa saja dibanding dengan kemasan yang lainnya. Kemasan Kookii ini juga bahan kertasnya tipis dan desainnya tidak terlalu rumit yang melibatnya banyak warna atau garis.

Untuk powerpoint presentasi dapat di download disini

 

KEMASAN PET COCA-COLA

March 19th, 2012

BAB I

DISKRIPSI PRODUK

               Coca-cola merupakan produk minuman yang berbasis minuman berkarbonasi yang diinjeksi dengan gas CO2. Bahan baku utama dari coca-cola yaitu air, gula, CO2 dan konsentrat. Konsentrat ini di impor langsung dari coca cola company. CO2 merupakan gas yang mudah melepaskan diri dari produk yang diinjeksinya jika kesalahan dalam pemrosesan dan penyimpanan produk. Berikut adalah standar nasional kualitas CO2.

Tabel 3. Standar Nasional Kualitas CO2

No

Kriteria

Parameter

1

2

3

4

5

Rasa dan Bau

Kemurnian

Kadar Air

H2O

SO2

Normal

< 99,98 %

< 5 ppm

< 0,02 ppm

< 0,02 ppm

 

            Coca-cola dikemas dalam kemasan botol dengan ukuran 350 ml, 1000 ml, 1500 ml. Coca-Cola  ini di kemas dengan menggunakan kemasan PET (Poly Ethylene Terephthalate) yang masih setengah jadi (preform) sehingga perlu adanya pengolahan preform hingga menjadi botol. Pembentukan preform menjadi botol menggunakan sistem tiup dan cetak. Blow mould merupakan mesin untuk pembentukan preform, sistem kerjanya adalah memanasi preform hingga preform menjadi lunak dilanjutkan dengan peniupan dengan pipa dan pembentukan botol, pembentukan botol ini didalam cetakan botol. tahap terakhir dari sistem kerja blow mould adalah rinse, yaitu menyemprotkan air pada dasar botol bertujuan menjadikan botol kuat saat pengisian. Coca-Cola memiliki cari-ciri berbotol PET dengan label vertikal (ada sekat pemisah).

 

Coca-cola dikemas dengan botol PET, PET itu sendiri banyak digunakan sebagai (pelapisan), terutama untuk bagian luar suatu kemasan sehingga kemasan memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap kikisan dan sobekan. PET juga digunakan sebagai kantong makanan yang memerlukan perlindungan, seperti makanan beku dan permen. PET memiliki sifat :

  • tembus pandang, bersih dan jernih.
  • Permeabilitas uap air dan gas sangat rendah.
  • Memiliki sifat beradaptasi terhadap suhu tinggi (300°C) yang sangat baik.
  • Tahan terhadap pelarut organic, seperti asam-asam dari buah-buahan, sehingga dapat digunakan untuk mengemas produk sari buah.
  • Tidak tahan terhadap asam kuat, fenol dan benzyl alkohol.
  • Kuat, tidak mudah sobek. Botol plastik yang menggunakan PET mampu menahan tekanan yang berasal dari minuman berkarbonat.

 

gambar produk Coca-Cola

BAB II

PENYIMPANGAN PRODUK

 

2.1 Perubahan Produk secara Mekanis

Perubahan mekanis ini disebabkan oleh faktor teknis atau saat pengiriman, seperti getaran, tekanan serta benturan. Perubahan produk secara makanis ini berpengaruh terhadap kemasan coca-cola yang terbuat dari PET. Kemasan PET yang berkarakteristik transparan dan berpori dapat membuat botol mudah peyok karena takanan tinggi. Penyimpanan disuhu beku dapat menyebabkan botol coca-cola pecah.


2.2 Perubahan Produk secara Kimiawi

Perubahan produk secara kimia ini disebabkan oleh faktor kimiawi yang menyebabkan perubahan kimia pada produk yang dikemas. Perubahan produk secara kimia yaitu botol tidak tahan terhadap sinar ultivuolet sehingga CO2 mudah hilang. Penyimpanan yang salah dapat menyebabkan perubahan rasa. Perubahan rasa dapat mengurangi rasa sparkling yang memberi efek rasa segar.


2.3 Perubahan Produk secara Mikrobiologis

Perubahan produk secara mikrobiologi ini tidak begitu terlihat pada produk coca-cola. Mikrobiologi ini timbul dari penyimpanan yang tidak sesuai, seperti udara yang begitu lembab dan kotor. Mikroorganisme yang timbul dari kondisi seperti ini yaitu bakteri patogen dan salmonella. Bakteri ini akan mengkontaminasi produk coca-cola, sehingga produk tidak layak dikonsumsi.

 

 

BAB III

KESIMPULAN

            Coca-cola merupakan produk minuman yang berbasis minuman berkarbonasi yang diinjeksi dengan gas CO2. Bahan baku utama dari coca-cola yaitu air, gula, CO2 dan konsentrat. Coca-cola dikemas dalam kemasan botol dengan ukuran 350 ml, 1000 ml, 1500 ml. Coca-Cola  ini di kemas dengan menggunakan kemasan PET (Poly Ethylene Terephthalate) yang masih setengah jadi (preform) sehingga perlu adanya pengolahan preform hingga menjadi botol.

Penyimpangan produk dapat dilihat dari perubahan produk secara mekanis, secara kimiawi, dan secara mikroorganisme. Untuk penyimpangan produk secara mekanis pada coca-cola yaitu botol pecah dan botol peyok. Untuk penyimpangan produk secara kimia yaitu perubahan rasa dan berkurangnya CO2. Sedangkan perubahan secara mikroorganisme yaitu produk terkontaminasi oleh bakteri patogen dan salmonella sp.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonymousb. 2008. How It’s Made : Carbonated Soft Drink. http://www.restau-rantedge.com/index.phtml?catid=814. Tanggal akses 11 januari 2012

 

Blog resmi coca-cola amatil indonesia. http://www.coca-colaamatil.co.id. tanggal akses 19 maret 2012

Hello world!

March 12th, 2012

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!