Peran Mahasiswa dalam Mengakhiri Krisis kelaparan Melalui Gerakan Lembaga Sosial

October 6th, 2021

Jeritan warga bagian timur Indonesia akibat kelaparan tidak bisa terelakkan. mereka mengalami kelaparan bahkan sampai gizi buruk terutama pada NTT (Nusa Tenggara Timur), Maluku, dan Papua. Hal ini menjadi sorotan pemerintah karena berdasarkan Indeks Kelaparan Global (Global Hunger Index atau GHI) pada tahun 2020, Indonesia mengalami penurunan dari skor 20,1 pada tahun 2019 menjadi sebesar 19,1 pada tahun 2020. Indonesia juga tidak termasuk dalam kategori serius. Namun, masuk ke dalam kategori moderat untuk pertama kalinya.

Indonesia bisa berbangga dengan adanya penurunan tersebut, tetapi mengapa di Indonesia bagian timur khususnya NTT (Nusa Tenggara Timur), Maluku, dan Papua mengalami kelaparan sehingga menyebabkan gizi buruk? Ternyata, menurut FAO (Food and Agriculture Organization) Indonesia telah berhasil menurunkan angka kelaparan hingga 50 persen dari jumalh penduduk Indonesia, tetapi masih terdapat penduduk yang tidak memiliki makanan yang cukup khususnya di wilayah Indonesia bagian timur seperti Papua Barat, NTT, Maluku, dan sebagian Kalimantan.

Tentu, ini dapat menjadi kabar gembira dan buruk bagi Indonesia karena disatu sisi menurunnya angka kelaparan di Indonesia menjadi salah satu tulang punggung dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Dimana sebuah negara dapat memenuhi semua kebutuhan masyarakatnya sehingga dapat membantu dan melanjutkan tujuan pembangunan berkelanjutan lainnya yang terdapat dalam SDGs (Substainable Development Goals) guna menyongsong negara-negara maju. Pertumbuhan ekonomi yang pesat juga membantu Indonesia dalam menurunkan angka kelaparan. Hal ini merupakan suatu perkembangan bagi Indonesia.

Disisi lain, Indonesia merasa sedih karena masyarakat bagian timur Indonesia khususnya NTT (Nusa Tenggara Timur), Maluku, dan Papua mengalami kelaparan bahkan sampai gizi buruk. Menurut PPN atau Bappenas, banyak faktor penyebab terjadinya kelaparan seperti kurangnya ekonomi pada masyarakat, tidak teraturnya perubahan dalam pemerintah, berlebihan dalam menggunakan sumber daya alam (SDA), perbedaan SARA, dan kelemahan yang dimiliki oleh anak-anak, wanita, dan lansia.

Kasus kelaparan di Maluku menurut Abraham Utama di BBC News Indonesia, pada Juli 2018, yaitu kendala yang terjadi pada warga dari suku Mause Ane ini mengalami kesulitan dalam mendapatkan akses bantuan dari luar karena kecenderungan sikap mereka yang mencurigai orang yang bukan berasal dari suku mereka. Kemudian, NTT (Nusa Tenggara Timur) kasus tersebut disebabkan oleh  masih banyaknya petani yang belum menanam karena adanya pergeseran musim hujan sehingga curah hujan jarang terjadi yang dikemukakan oleh Dr. Leta Rafael Levis dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang berdasarkan pengamatannya dalam masalah pertanian, pada tahun 2020.

Ironisnya, Indonesia adalah negara bahari yang mempunyai segudang kekayaan alam bahkan hewan dan tumbuhan dapat tumbuh dan berkembang di Indonesia. Meskipun, tidak semua tempat di Indonesia memiliki tingkat kesuburan tinggi. Setidaknya, ada beberapa tempat di Indonesia yang memiliki tingkat kesuburan yang baik, kemudian dapat dikembangkan secara maksimal. Indonesia juga mempunyai potensi sumber daya laut yang luar biasa. Terutama luas laut Indonesia yang lebih besar daripada luas daratannya. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat luas total perairan pada Januari 2021 mencapai 6,4 juta km2 dibandingkan dengan luas total negara Indonesia, baik di daratan dan perairan yang mencapai 8,3 juta km2. Dalam hal ini artinya luas perairan Indonesia lebih luas dibandingkan dengan daratannya.

Kondisi ini sangat memprihatinkan apalagi menyangkut masalah kualitas sumber daya manusia kedepannya. Dalam FAO (Food and Agriculture Organization)  Direktur Program Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat dari Millenium Challenge Account Indonesia, Minarto, mengemukakan bahwa terdapat 7,6 juta balita di Indonesia mengalami kekurangan gizi sehingga menderita stunting atau terhambat pertumbuhannya. Selain itu, kelaparan kronis juga berdampak buruk bagi kesehatan yang mana nantinya akan memberatkan masyarakat kedepannya.

Masalah tersebut seharusnya menjadi rasa empati bagi mahasiswa. Di sini, juga seharusnya peran mahasiswa muncul. Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa seharusnya lebih cepat tanggap dalam menghadapi masalah tersebut. Mahasiswa dapat melakukannya dengan cara gerakan lembaga sosial. Gerakan lembaga sosial bertujuan untuk membantu masyarakat yang sedang mengalami kesulitan terutama dalam kasus kelaparan. Mahasiswa dapat memberikan ilmunya selama menempuh pendidikan di jenjang universitas, yaitu dengan cara memberi penyuluhan tentang masalah pertanian agar mendapatkan hasil yang berkualitas dan bermanfaat bagi kesehatan tubuh, memberi bantuan berupa makanan yang bergizi dan berserat tinggi khususnya untuk anak balita, melakukan sosialisasi terhadap warga yang enggan menerima bantuan karena mencurigai orang yang bukan berasal dari suku mereka dan memberi pemahaman bahwa kita tidak akan menyakiti mereka. Mahasiswa sebagai penemu inovasi baru dalam masalah pangan terutama dibidang pertanian dapat diterapkan langsung untuk mengatasi masalah tersebut. Bukan hanya sekedar dijadikan tulisan atau angan-angan semata, tetapi lakukan dengan tindakan.

Mengakhiri krisis kelaparan memang tidak mudah. Butuh pikiran, waktu, dan tenaga yang dapat menguras energi, tetapi semua akan terbayar apabila kita bekerja sama. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita sebagai mahasiswa menjalankan peran secara maksimal dalam meneruskan bangsa sehingga peran tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi yang cemerlang.