Tambang Emas Tumpang Pitu Banyuwangi

May 22, 2013 in pariwisata by Moh Efendi

TAMBANG EMAS TUMPANG PITU BANYUWANGI:
BERKAH ATAU KUTUKAN?

Tambang emas di Petak 56 di lereng Bukit Tumpang Pitu, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran – Banyuwangi yang sempat ditutup setelah peristiwa pembakaran peralatan pertambangan milik PT IMN, serta terjadinya penembakan beberapa warga yang dilakukan oleh aparat kepolisian beberapa bulan belakangan, kini telah dibuka kembali. Berbondong-bondong manusia datang mencari keberuntungan karena sebelumnya pernah mendengar cerita dari mulut ke mulut tentang orang-orang yang diuntungkan dari hasil keringat mereka di tempat yang sama. Saat ini Petak 56 yang terkenal sebagai lahan penambangan rakyat bagi warga setempat, tetapi bagi P.T IMN adalah tambang liar, yang kemudian istilah ini diadopsi oleh aparat birokrasi. Di tempat ini kini telah berdiri beratus-ratus tenda dengan posisi berjubel dimana di bawahnya ada beratus-ratus lobang yang dikerjakan oleh ribuan penambang layaknya semut pekerja di depan sarangnya. Pemasangan berwarna warni tenda-tenda serta hiruk pikuk kegiatan yang ada mengingatkan penulis pada suasana musik-musik festival di negara-negara maju seperti Australia, Eropa, Amerika yang pernah penulis kunjungi. Motor-motor yang masuk ke lokasi harus melalui pintu tol serta dikenakan tiket dengan alasan sumbangan pembangunan. Pembangunan apa? Tidak jelas! Tempat parkiran motor para penambang menambah ramainya suasana mengesankan adanya energi manusia dalam ketergesaan.

Manusia berlomba-lomba mendapatkan keberuntungan di sebuah tempat yang awalnya tidak pernah dikunjungi oleh kebanyakan or`ng karena tempat ini sempat dimitoskan sebagai kawasan ‘wingit’, ‘angker’ yang dilindungi oleh bala tentara ghoib penguasa laut selatan Nyai Roro Kidul. Namun kini yang datang ke tempat itu bukan masyarakat lokal saja, tetapi dari seluruh pelosok tanah air yang pernah mencoba keberuntungannya di sektor penambangan. Bahkan yang luar biasa, di balik PT IMN sendiri berdiri kokoh korporasi asing di bawah bendera INTREPID MINES Co. dari Australia. Semua berlomba-lomba datang untuk mengeruk kandungan bumi di negeri ini. Dari jauh-jauh mereka datang untuk keberuntungan karena ini dianggap sebagai berkah yang disediakan oleh alam untuk keperluan manusia. Berkah sebagai sumber ekonomi untuk menggerakkan roda kehidupan.

Dari aspek perekonomian lokal, kegiatan pertambangan ini boleh dibilang cukup merangsang kelesuan pasar lokal yang sempat lesu ketika pertambangan rakyat ditutup karena kasus perusakan peralatan PT IMN dan penembakan aparat kepada beberapa penambang rakyat. Pasar kembali diramaikan oleh para penambang yang datang dari berbagai macam daerah. Para pedagang mulai dari sayur mayur sampai ke pedagang peralatan ringan yang dibutuhkan oleh para penambang untuk sementara boleh bergembira. Bahkan para pengijon yang menawarkan modal kepada para penambang dalam bentuk uang kontan sampai dalam bentuk kredit peralatan ringan, juga diuntungkan dengan dibukanya kembali pertambangan di Petak 56.

Orang lupa bahwa dalam konteks logika ekonomi segala kemungkinan hidup itu terbukti tidak pernah jauh dari hukum: siapa kuat-dia-menguasai. Dalam hal pencarian keberuntungan di Bukit Tumpang pitu inipun hukum yang sama masih berlaku. Jadi apakah Bukit Tumpang Pitu hanya akan memerikan berkah saja? Jawabnya tentu saja tidak! Tulisan ini berusaha mengupas tentang porsi berkah dan jumlah kutukan yang dengan pasti mengena pada sebagian besar penambang yang sedang mencari keberuntungan di tempat ini.

PT IMN didukung oleh INTREPID MINES adalah raksasa yang sangat kuat. Ia tidak taktt dengan Nyai Roro Kidul. Karena dengan modal, mereka bisa menguasai kekuatan di atas penguasa Lautan Selatan itu. Mereka bisa menguasai semua dukun yang bisa menjadi makelar iblis setan gentayangan, mereka bisa membayar semua preman yang bisa dibeli dengan uang, mereka bisa membayar aparat kepolisian untuk menjadi pelindung kegiatan modal asingnya, mereka bisa menyediakan tuntutan para komprador yang duduk dalam kekuasaan birokrasi dan politik, mereka bisa membeli informasi yang keluar dari mulut sampai keringat manusia dalam melakukan penelitian data-data lapangan, mereka bisa membeli perangkat canggih dari komputer sampai penggunaan satelit mata-mata, mereka bisa membeli peralatan lunak sampai yang terkasar dan terbesar untuk melaksanakan pekerjaan pertambangan. Mereka juga bisa membeli nyawa manusia jika itu diharuskan.

Sementara penambang rakyat dengan modal pas-pasan adalah kelompok lemah yang dikalahkan. Informasi tentang letak keberuntungan hanya mereka dapatkan dari mulut kemulut yang ditunjang oleh dupa dan doa para dukun makelar iblis yang pamrih materi hasil produksi ataupun pra produksi yang tidak jarang membuat para penambang jatuh miskin dari konsultasi semacam ini. Peralatan yang mereka miliki hanyalah betel palu dan peralatan sederhana yang hanya membutuhkan tenaga manual manusia. Kalupun mereka menggunakan pompa ‘submersiveble’yang tidak murah itu, itu pun hanya bisa dimiliki oleh mereka yang memiliki sedikit modal awal dari usaha lain sebelum mereka jadi penambang. Hal lain yang perlu dipahami adalah bahwa kebanyakan dari penambang rakyat ini tidak begitu mengerti tentang jenis perbatuan dalam konteks geologi. Sehingga sering mereka berhadapan dengan ketidak beruntungan setelah menghabiskan begitu banyak harta kekayaan mereka sebelum menjadi penambang dan pulang dengan tangan hampa sebagai orang yang lebih miskin.

Dalam pemahaman geologi, ada dua faktor yang perlu dipahami yaitu kawasan porphyry dan epithermal. Kawasan porphyry atau kawasan yang memiliki kandungan emas semburat rata itu biasanya untuk mendapatkan biji emasnya harus melalui beberapa prosedur yang tidak murah. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh perusahaan pertambangan yang memiliki modal besar. Karena dengan tersebarnya kandungan emas itu berarti bahwa posisi*emas tersebar rata mengakibatkan penipisan kandungan. Artinya emas dalam bahan mentah yang belum diolah dalam jumlah 1 ton jika diproses ddngan akumulasi modal pas-pasan bisa sangat merugikan penambang yang mengandalkan mdtode pertambangan manual. Karena emas dari batu-batu material dari kawasan porphyry hanya bisa lebih mudah diikat dengan cyanida dan hydropoxy. Bagi PT IMN dan INTREPID MINES pertambangan jenis ini akan lebih cocok dibandingkan dengan pertambangan rakyat yang mengandalkan kondisi epithermal.

Di kawasan Bukit Tumpang Pitu, daerah yang bisa dikatakan sebagai kawasan epithermal atau kawasan emas lepas, tertnyata kandungan emas lepasnya hanya terdapat pada beberapa titik saja. Salah satunya adalah berada di kawasan Petak 56 yang sekarang jadi kawasan perebutan pencarian keberuntungan ribuan orang dari berbagai pelosok tanah air. Emas lepas itu tidak tersebar rata, tetapi terkonsentrasi pada alur urat batu yang memiliki kandungan Au atau emas dengan kadar yang berbeda. Jadi dalam hal ini, dari ribuan orang yang mencari keberuntungan tersebut, hanya beberapa orang yang akan menabrak keberuntungan. Akibatnya bisa ditebak. Mayoritas dari mereka bisa dipastikan sebagai kelompok yang kalah. Apalagi bila mereka hanya didukung oleh modal pas-pasan dengan cepat mereka akan gulung tikar.

Dampak sosial dari perburuan keberuntungan ini ternyata begitu bervariasi. Dari hasil pengamatan serta wawancara dengan beberapa nara sumber formal dan informal, pertambangan di Bukit Tumpang Pitu bisa disimpulkan lebih banyak mengarah pada sisi ndgatif ketimbang dampak perekonomian lokal yang cenderung positif.

Dampak sosial bisa dibagi dua. Yaitu bagi mereka yang mendapat keberuntungan dan mereka-mereka yang gagal mendapatkannya. Bagi yang beruntung, akan mengangkat status sosial mereka pada jenjang yang lebih tinggi dari sebelumnya. Namun ketika hal itu tidak dibarrengi oleh kecerdasan emosi, spiritual dan intelektual, berkah keberuntungan bisa menjadi kebalikan dalam kehidupan berkeluarga mereka. Contohnya, ketika seseorang mendadak kaya, mereka akan membelanjakan hasil keberuntungan pada benda-benda prestise yang belum tentu menjadi kebutuhan sehari-hari. Misalnya dengan membeli mobil-mobil mewah yang beaya perawatannya akan menfuras kocek yang hanya diisi oleh ketidakpastian nasib dalam bergulat sebagai penambang. Akibatnya keberuntungan menjauh dari mereka dalam waktu yang relatif singkat mereka kembali menjadi lebih miskin dari sebelumnya. Kemiskinan mana juga menciptakan masalah lain dalam berumah tangga mereka. Dari data yang penulis dapat dari catatan sipil KUA daerah Kecamatan Pesanggaran dan sekitarnya mengalami kenaikan tingkat perceraian sejak tiga tahun belakangan dengan tren semakin meningkat hari ini.

Gambaran suram lain dari para penambang rakyat yang*gagal adalah mereka-mereka yang memulai perburuan emas dengan modal paspasan dari menjual tanah atau benda-benda lain yang menjadi andalan keluarga dalam menyambung hidup. Tergiur dengan iming-iming penghasilan milyaran rupiah, mereka melakukan perjudian nasib. Namun ketika tidak dibekali oleh ilmu pengetahuan geologi yang memadai, mereka menggunakan jasa para dukun untuk menentukan titik gali dan kebanyakan dari mereka menemukan kegagalan dan tentunya kebangkrutan. Ada yang tidak mampu meneruskan penggalian karena modal mereka macet ditengah jalan, dan ada pula yang gagal karena memang salah dalam menentukan titik gali. Konsekuensinya, banyak dari mereka menjadi nekad dan menggunakan metode kekerasan dalam mencapai tujuannya.

Kebanyakan dari mereka lalu berkolaborasi dengan para aparat militer maupun kepolisian untuk memaksa para penambang yang lobangnya terdengar ada tanda-tanda sudah menghasilkan biji-biji emasnya atau yang dikenal dengan sebutan lobang ‘cair߿�$99 untuk diminta memberikan sebagian hasil lobangnya kepada mereka. Mereka-mereka ini kemudian mendapat sebutan sebagai ‘pengamen’ karena tidak mau disebut kelompok ‘peminta-minta’ atau ‘perampok’ lobang. Bahkan bukan rahasia lagi jika banyak para oknum aparatpun mendeklarasikan diri sebagai oknum pelindung atau pengaman yang menghendaki setoran jatah keamanan dari para pdmilik lobang galian. Dan bagi pemilik lobang, banyak dari mereka juga berlomba-lomba untuk melakukan pendekatan kepada para aparat yang lebih tinggi pangkatnya untuk mendapat legitimasi perlindungan dari oknum-oknum aparat yang lebih rendah pangkatnya tapi lebih serakah dari atasannya.

Bagi para penambang gagal yang kemudian menjadi pengamen, boleh dibilang perekonomian mereka agak sedikit tertolong dari kebangkrutan yang menyolok. Tetapi bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan sebagai ‘pengamen’, nasib mereka sangat tragis. Sudah kehabisan dana dan di rumahpun mereka tidak diterima oleh keluarganya. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor pemicu kenaikan angka perceraian dan angka transmigrasi ke lain daerah. Bahkan tidak jarang dari mereka yang memilih jadi TKI atau TKW legal maupun illegal di negeri orang.

Dari pengamatan singkat ini, tentunya, dan seharusnya bisa menjadikan kepedulian para pembuat kebijakan daerah maupun pusat yang mengemban amanah dari rakyat untuk memperhatikan dan menimbang kembali keputusan-keputusan yang sudah diambil maupun yang akan dibuat dalam menangani masalah pertambangan ini. Pertambangan di Bukit Tumpang Pitu akan menjadi berkah dan bukan kutukan apabila pemerintah daerah maupun pusat mau duduk bersama merancang kebijakan untuk kepentingan bersama dengan membentuk badan pengelolaan pertambangan Bukit Tumpang Pitu dalam bentuk BUMD atau BUMN serta melibatkan rakyat sebagai share-holder yang diperlukan untuk mengakumulasi modal dan sistem check and balance yang sangat dibutuhkan dalam membangun kehidupan sehat sebuah perusahaan negara.

sumber : http://akafile.blogspot.com/2012/01/tambang-emas-tumpang-pitu-banyuwangi.html