LET’S FIGHT PSEUDOSAINS!!

Presented by:

  1. Aurelia Khadijah /01/ 19512030111038
  2. Nabila Yunita Wulandari /04/ 195120300111041
  3. Robbi Riswanda /21/ 195120301111031
  4. Reinhard Alex S. B/ 25/ 195120301111035
  5. Edniz Putri / 30/ 195120301111040

Kelas : Psikologi C-1

 

AKTIVASI OTAK TENGAH UNTUK MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK?

 

Pseudosains berasal dari Bahasa Yunani, pseudo dengan arti semu dan Bahasa Latin, scientia yang memiliki arti pengetahuan. Secara umum pseudosains memiliki arti ilmu semu. Pseudosains merupakan sebuah konsep, teori, atau praktik yang diyakini merupakan suatu hal yang ilmiah tetapi pada faktanya hal tersebut tidak ilmiah.  Sunarya, pada tahun 2009 menyatakan bahwa Menurut Karl Popper (1920) suatu teori dianggap ilmiah jika telah diuji. Untuk sebuah pernyataan ilmiah, harus ada kemungkinan untuk dikritik, sebab hanya melalui proses dialektis, ilmu pengetahuan akan maju. Namun, dalam Stanford Encyclopedia of Philosophy dikatakan bahwa terdapat perbedaan antara sains dan pseudosains, salah satunya adalah sesuatu yang bersifat pseudosains biasanya akan memusuhi kritik karena dianggap merugikan, selain itu hanya memilih bukti yang dianggap menguntungkan, menggunakan metode yang tidak jelas, serta menggunakan logika yang tidak konsisten dan tidak valid. Praktik pseudosains saat ini beredar sangat luas di masyarakat, salah satunya adalah Aktivasi Otak Tengah atau disingkat AOT.

Klaim Hasil Aktivasi Otak Tengah

Aktivasi otak tengah, adalah pelatihan untuk mengaktifkan otak tengah anak, pelatihan ini biasanya berlangsung selama 2 hari, dengan target anak usia 7 – 15 tahun. Dalam praktik pseudosains, otak tengah digambarkan sebagai penghubung antara otak kanan dan otak kiri, jika otak tengah diaktivasi maka akan meningkatkan kemampuan kecerdasan yang dimiliki oleh seorang anak, dibandingkan anak yang belum diaktivasi otak tengahnya. Hal ini dibuktikan dengan mempertontonkan keahliannya melakukan sesuatu dengan mata tertutup. Seperti berjalan dengan mata tertutup, dapat mengurutkan kartu sesuai warna dengan mata tertutup, membaca dengan mata tertutup, dan bahkan dapat mengenali ayahnya dikeramaian dengan hanya mendengarkan suaranya.

 

Gambar Bagian Otak

Dalam (Pinel, 2015) dikatakan bahwa, Otak tengah dapat juga disebut mesencephalon merupakan bagian dari otak yang berada diantara forebrain (otak depan) dan hindbrain (otak belakang). Dalam klaim pseudosains, otak tengah dijelaskan sebagain penghubung antara otak kanan dan otak kiri, tetapi penghubung antara otak kanan dan otak kiri sebenarnya adalah corpus callosum. Otak tengah memiliki dua bagian yaitu  tegmentum dan tektum. Tegmentum adalah bagian otak tengah yang letaknya ventral terhadap tektum. Tegmentum berisi tiga hal, yakni periaqueductal gray, substantia nigra, dan red nucleus  bagian ini menjadi perantara dalam efek analgesik dan obat – obatan . Dalam tektum, terdapat dua pasang benjolan yang disebut colliculi. Inferior colliculi memiliki fungsi pendengaran, sedangakan superior colliculi memiliki fungsi visual. Jadi, fungsi otak tengah bukanlah sebagai penghubung, tetapi berfungsi dalam gerak visual serta motorik.

Tidak diperlukan adanya pelatihan untuk mengaktivasi otak tengah, karena pada kenyataanya otak tengah akan aktif dengan sendirinya jika diberikan stimulus yang berkaitan. Seperi contohnya, pada salah satu penelitian yang dilakukan oleh (Schott, 2004) dikatakan bahwa aktifitas otak tengah dapat dideteksi di manusia saat hipocampus mereka diaktifkan dengan pengkodean dari stimulus novel. Selain itu, dalam kedua studi yang dilakukan dalam penelitian ini, aktivasi otak tengah diikuti oleh aktivasi dari hipocampus, tetapi tidak terpengaruh oleh tugas belajar. Jadi, otak tenagh berpartisipasi secara selektif dalam ketergantungan hipocampus  yang berkaitan dengan proses pembaruan asosiatif serta pembentukan eksplisit, Namun ternyata aktivasi tersebut tidak relevan dengan tugas-tugas yang dipelajari.

Pada penelitian lain yang dilakukan (Larsen, 2001) dalam laboratoriumnya, menjelaskan bahwa terdapat pola aliran simpatik yang ditimbulkan oleh stimulasi listrik di daerah periaqueductal gray yang terdapat di bagian tegmentum yang ada di otak tengah. Dalam penelitian ini, juga disebutkan bahwa bagian tersebut dapat diinduksi dengan bahan kimia. Jadi, otak tengah sebenarnya bisa aktif jika diberikan stimulus listrik dan juga stimulus obat obatan. Karena pada dasarnya, fungsi bagian periaqueductal gray yang ada di tegmentum adalah sebagai perantara dalam efek obat-obatan.

Dari penjelasan diatas, dapat kita katakan bahwa tidak perlu adanya aktivasi otak tengah, karena otak tengah akan berfungsi jika diberikan stimulus yang berkaitan. Selain itu, korelasi antara aktivasi otak tengah dan kecerdasan seseorang itu tidak relevan. Karena, otak tengah bukanlah penghubung antara otak kanan dan otak kiri yang apabila diaktifkan mampu meningkatkan kecerdasan seseorang.

Selain itu, terdapat bahaya yang ditimbulkan jika aktivasi otak tengah ini dilakukan secara berlebihan. Menurut (Critchley, 2004) dalam penelitian yang dilakukannya, saat dilakukan pengamatan terhadap pasien yang datang ke klinik kardiologi. Secara khusus, hasil nya adalah terdapat hubungan antara stress dan artimia yang mana asimetris aktivasi otak tengah, dikaitkan dengan input saraf ke jantung yang dapat meningkatkan artimia.

Jadi, berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada kaitannya antara kecerdasan anak, dengan cara aktivasi otak tengah. Karena, otak tengah akan aktif jika diberikan rangsangan yang sesuai dengan fungsi otak tengah tersebut. Selain itu, aktkvasi otak tengah yang berlebihan dapat menyebabkan bahaya bagi anak. Richard Claproth, seorang dokter terapi mengarang buku yang berjudul Bahaya Aktivasi Otak Tengah, yang diterbitkan oleh Grasindo pada tahun 2010, dalam awal buku ini ia menceritakan tentang seorang anak bernama Duncon  O’ Finioan yang merupakan salah satu contoh anak yang melakukan tindakan mirip aktivasi otak tengah pada zaman dahulu, yang membuat dia memiliki empat kepribadian yang berbeda pada akhir pelatihannya. Richard juga berkata, bahwa di zaman modern seperti ini pelatihan aktivasi otak juga hadir dengan cara yang lebih halus dibandingkan dahulu, namun pada hakikatnya tetap sama, bisa jadi hal ini memberikan efek buruk bagi anak.

 

References

Claproth, R. (2011). Dahsyatnya Bahaya Aktivasi Otak Tengah. Jakarta: Grasindo.

Critchley, H. D. (2004). Mental stress and sudden cardiac death: asymetric midbrain activity as a linking mechanism. Journal Brain Vol. 128 No. 1, 75-85.

Larsen, P. D. (2001). Symphatetic nerve and cardiovascular responses to chemical activation of the midbrain defense region. Journal Physiol Regulatory Integrative Comp Physol 280:, R1704-R1712.

Pinel, J. P. (2015). Edisi Ketujuh Biopsikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Schott, B. H. (2004, July). Activation of Midbrain Structures by Associative Novelty and the Formation of Explicit Memory in Humans. Retrieved from Learning & Memory: www.learnmem.org

Sunarya, Y. Y. (2009, October). Pembeda Sains dan Pseudo-Sains Pembeda Sains dan Pseudo-Sains Bagi Lakatos (Lanjutan Pendapat Popper dan Kuhn). Retrieved from Research Gate: https://www.researchgate.net/publication/305882551_Pembeda_Sains_dan_Pseudo-Sains_Pembeda_Sains_dan_Pseudo-Sains_Bagi_Lakatos_Lanjutan_Pendapat_Popper_dan_Kuhn, diakses pada 4 November 2019 Pukul 11.17

Categories: Biopsikologi | Comments Off on LET’S FIGHT PSEUDOSAINS!!

Hello world!

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!

Categories: Uncategorized | 1 Comment