ANALISIS PUBLIC RELATIONS

Dzikrina Istighfar Zahrani

Ilmu Komunikasi

Dasar Public Relations D-2 (Kamis 09.40-12.10)

Kamis, 26 Maret 2020 09.00 WIB

195120200111029

 

ANALISIS PUBLIC RELATIONS

 

  1. Public Relations mesti lebih fokus pada publisitas dari pada iklan

Dalam Cutlip, Center, dan Broom (2016), dijelaskan bahwa public relations ialah fungsi pengelolaan pada suatu organisasi yang membangun dan mempertahankan hubungan baik antara organisasi dengan publiknya yang berpengaruh pada kelangsungan organisasi tersebut. Dalam menjalankan fungsinya sebagai pembangun hubungan baik, praktisi public relations perlu melakukan publisitas terkait organisasi atau perusahaan yang diwakilinya agar khalayak luar memiliki pandangan yang baik terhadap perusahaan atau organisasi tersbut. Dalam Kriyantono (2016), publisitas merupakan publikasi yang dimuat dalam media massa. Informasi yang dimuat dalam publisitas tersebut bertujuan untuk menyebarkan informasi. Dalam konteks public relations, informasi ini tentunya bertujuan agar perusahaan atau organisasi memiliki citra baik di mata masyarakat/khalayak luas. Public relations harus lebih fokus pada publisitas dari pada iklan karena fungsi utamanya adalah pada publisitas. Tugas periklanan atau advertising bukan ditekankan untuk dikerjakan oleh public relations, melainkan pada fungsi manajemen lainnya, misalnya advertiser, marketer, dll. Namun, pada akhirnya tetap ada relasi pada public relations dengan iklan. Akan tetapi, public relations tentu lebih luas dari sekedar publisitas.

2. Iklan yang mestinya dibuat oleh Public Relations

Meskipun publisitas dan advertising adalah komunikasi melalui media, advertising memiliki kontrol atas isi dan penempatan (Cutlip, dkk: 2016). Dalam membentuk citra, para praktisi public relations menggunakan iklan sebagai media penyampaian informasi. Public relations menggunakan periklanan ini untuk menjangkau audien yang lebih luas, bukan untuk sasaran marketing (Cutlip, dkk:2016). Misalnya pada majemen sdm, mereka menggunakan iklan untuk menyebarluaskan pembukaan lowongan pekerjaan.

Iklan bisa didefinisikan sebagai bentuk komunikasi nonpersonal yang menjual pesan-pesan persuasif dari sponsor yang jelas untuk memengaruhi orang membeli produk dengan membayar sejumlah biaya untuk media, dipergunakan untuk sewa kolom surat kabar atau majalah, slot waktu untuk televisi dan radio, serta sewa ruang untuk media luar ruangan seperti reklame. Ada beberapa jenis iklan antara lain, iklan informasi yang bertujuan untuk menjelaskan produk baru, iklan persuasi yang bertujuan untuk menganjurkan memilih produk tertentu, iklan pengingat yang bertujuan untuk menjalin hubungan baik dengan konsumen. Dalam melakukan aktivitasnya, sering kali praktisi public relations menggunakan strategi periklanan. Strategi ini digunakan untuk menjaga hubungan baik antara perusahaan dengan publiknya. Beda dengan periklanan yang dilakukan oleh praktisi pemasaran yang berupaya menjual produk secara langsung untuk mencapai target penjualan.

Ada dua macam iklan, yaitu hard selling dan soft selling. Iklan hard selling adalah iklan yang secara langsung menjual produk. Iklan ini biasanya ditandai dengan tampilan gambar atau kemasan produk secara jelas serta terdapat kata-kata yang menjual. Sedangkan iklan soft selling adalah iklan yang bertujuan untuk memfokuskan pada kesan umum yang hendak diraih untuk menjual citra korporat. Memang tujua akhirnya adalah memperoleh keuntungan, tetapi melalui penanaman citra korporat yang positif. Jenis iklan ini yang sebaiknya diterapkan oleh praktisi public relations. Meski tampilan iklan ini tidak secara langsung merangsang pembelian oleh konsumen, iklan public relations ini berfungsi mendukung strategi pemasaran perusahaan. Karena iklan public relations ini berfungsi atau bertujuan untuk membangun citra korporat. Karena tidak jarang factor reputasi atau citra perusahaan turut menentukan pembelian suatu produk.

 

3. Kaitan Prinsip Utama PR Tell The Truth Dengan Prinsip PR Based on Fact

   Prinsip dasar praktisi public relations ada 2 yaitu tell the truth dan building trust. Tell the truth bertujuan untuk membuat khalayak atau konsumen dapat percaya dengan produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Pentingnya mengatakan yang sebenarnya direpresentasikan dalam jeung leweh mah memperbaiki waleh (lebih baik untuk mengatakan sesuatu terus terang daripada menjaga kata karena tidak cukup berani untuk memberitahu). Dari perspektif ini, praktisi PR tidak perlu takut dipecat sebagai akibat dari mencoba untuk melakukan fungsinya dengan baik. Jika organisasi melakukan perbuatan yang salah, maka public relations akan memberikan saran berdasarkan sikap ulah unggut kalinduan, ulah gedag kaanginan, yang berarti bahwa harus ada konsistensi dalam kebenaran dan kesesuaian antara batin-diri dan rasionalitas. Namun demikian, tell the truth tidak sama dengan mengungkapkan semua fakta (based on fact) karena ada beberapa fakta yang jika diungkapkan maka kemudian akan menjadi bumerang bagi pr itu sendiri. Jadi, diperlukan pula kecakapan dalam mengelola informasi, mana informasi yang sebaiknya diungkapkan, mana yang tidak sesuai kebutuhan.

Dalam budaya Jawa, tell the truth dapat ditemukan dalam idiom aji ning diri soko lathi. Orang dapat disebut kredibel apabila mengatakan kebenaran. Kuncinya adalah kemampuan untuk berkomunikasi dan menggunakan kata yang tepat untuk membujuk manajemen dan masyarakat tanpa menyebabkan penghinaan. Ttruth atau kejujuran adalah sangat penting sebagai landasan hidup.

 

4. Prinsip Menulis Berita Berdasarkan Prinsip Objektivitas

Pada dasarnya, sebagian besar produk tulisan public relations adalah produk berita. Press release adalah berita, isi newsletter adalah berita, atau isi company profile adalah berita. Karena itu, produk tulisan public relations harus mengandung berita bagi publik.

            Berita adalah segala sesuatu yang hangat, faktual serta menarik perhatian sejumlah orang. Lord Northcliffe mengatakan berita adalah sesuatu yang tidak biasa, Walkley menyebut berita sebagai tulisan yang digabungkan dengan unsur kejutan. Berita harus menarik.

            Objektivitas berita adalah ukuran baik tidaknya sebuah berita sesuai kaidah-kaidah jurnalistik. Yang pertama faktualitas yaitu mengandung kebenaran. Kedua imparsialitas yaitu berita mesti seimbang.

5. Strategi PR Dalam Win The Editor’s Heart Melalui Media Relations

Menurut Rachmat Kriyantono dalam bukunya Public Relations Writing (2016, h. 70-72) menjelaskan bahwa publisitas menjadi peluang bagi seorang praktisi Public Relations untuk memanfaatkan media massa sebagai penyebar informasi dengan gratis. Namun juga menjadi tantangan. Tantangan-tantangan itu berkaitan dengan faktor-faktor yang menentukan dimuatnya atau tidaknya informasi dari seorang praktisi Public Relations tersebut. Artinya, dimuat atau tidaknya jenis isi informasi yang dimuat sepenuhnya merupakan wewenang media massa. Ada dua penentu publisitas, yaitu:

  1. Penulisan materi publisitas

Sebagai materi publishing, informasi yang ditulis oleh seorang praktisi Public Relations adalah informasi yang akan dikirim ke media agar dimuat. Jika akan dimuat, maka struktur penulisannya juga harus memenuhi kaidah-kaidah penulisan jurnalistik. Antara lain teknik mencari berita, teknik menulis berita, mengetahui teknik menulis untuk jenis media cetak maupun elektronik, serta etika jurnalistik. Namun tetap ada perbedaannya dengan penulisan kaidah-kaidah jurnalistik. Perbedaannya terletak pada tujuan pemberian informasi.

  1. Kualitas hubungan media

Semakin baik kualitas hubungan antara praktisi Public Relations dengan media, maka semakin besar pula informasi yang akan dimuat. Pada dasarnya sinergi antara seorang praktisi Public Relations dan media bersifat simbiosis mutualiasme. Media membutuhkan bahan-bahan informasi dari seorang praktisi Public Relations, dan sebaliknya praktisi Public Relations membutuhkan media sebagai sarana penyebaran informasi.

Seorang praktisi Public Relations seharusnya mempertimbangkan prinsip “win the editor’s heart and mind” (Anda harus memenangkan hati dan pikiran seorang editor). Pikiran diartikan bersifat rasional, sedangkan hati diartikan sebagai di luar kaidah penulisan.

 

Daftar Pustaka

Cutlip, Scot M., Center, Allen H. (2016). Effective Public Relations. Alih
Bahasa: Tri Wibowo. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Kriyantono, R. (2016). Public Relations Writing. Jakarta: Prenada Media.

Lattimore, dkk. (2010). Public Relations: The profession & the practice. New York: McGraw-Hill.