Analisis Berita Berdasarkan Teori Penulisan Berita

April 1st, 2020

Nama: Dzikrina Istighfar Zahrani

NIM: 195120200111029

Kelas: Dasar-dasar PR D-2/Kamis 09.40

Analisis Berita Berdasarkan Teori Penulisan Berita

Berita yang terbit dengan judul Hasil Rapid Test, 106 Orang Positif Corona di Tangerang dan Tangsel pada portal berita daring kompas.com (diakses 1 April 2020) apabila dianalisis berdasarkan teori penulisan berita, berita ini sudah dapat dikatakan memenuhi karakteristik berita yang berkualitas.

Karakteristik pertama, yakni objektivitas berita yang meliputi dimensi faktualitas dan imparsialitas. Berita ini telah memenuhi dimensi faktualitas karena informasi yang diberitakan bersumber dari observasi dan wawancara wartawan. Serta pada judul berita, tidak terdapat pemilihan kata yang menujukkan opini wartawan itu sendiri. Memenuhi dimensi imparsialitas karena berita tersebut independen, tidak ada tendensi untuk memihak suatu golongan.

Karakteristik yang kedua, yakni kredibilitas narasumber. Berita ini memuat keterangan dari pakar yang relevan dan kredibel di bidangnya, yakni Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Ati Pramudji. Sebagai kepala Dinas Kesehatan, tentunya beliau memiliki kompetensi dan menguasai topik berita tersebut. Serta tentu saja ia memiliki informasi kredibel sebagai narasumber.

Karakteristik yang keempat, yakni nilai berita (news value/news worthy). Berita ini dapat dikatakan informatif dan relevan dengan keadaan terkini, mengingat berita ini dipublikasikan pada tanggal 1 April 2020, yang tentu memenuhi kebutuhan informasi masyarakat tentang perkembangan kasus-kasus terkait Covid-19. Hal ini berkaitan dengan jenis nilai berita aktualitas. Angka yang digunakan dalam pada judul berita menggunakan jenis nilai berita magnitude. Serta tema tentang Covid-19 yang saat ini sangat menjual merupakan tema yang berkaitan dengan human interest. Berita ini dapat memunculkan empati dan simpati pembaca, bahkan meningkatkan kewaspadaan dan kesadaran pembaca akan isu kesehatan.

https://regional.kompas.com/read/2020/04/01/21472461/hasil-rapid-test-106-orang-positif-corona-di-tangerang-dan-tangsel

Objektivitas Berita Dalam Penulisan Berita Oleh Public Relations

April 1st, 2020

Nama: Dzikrina Istighfar Zahrani

NIM: 195120200111029

Kelas: Dasar-dasar PR D-2/Kamis 09.40

 

Seperti yang telah disinggung dalam video RACHMAT KRIYANTONO, PhD: KULIAH ONLINE-PUBLIC RELATIONS DAN BERITA pada kanal youtube (Bapak) Rachmat_kr Kriyantono, berita merupakan produk tulisan yang paling banyak diproduksi oleh seorang praktisi public relations. Karena pada dasarnya, produk-produk tulisan public relations, seperti press release, newsletter, maupun company profile merupakan bentuk-bentuk dari berita itu sendiri. Menurut Northcliffe (dalam Kriyantono, 2016), berita adalah sesuatu yang tidak biasa (news is anything out of ordinary). Dalam penulisan berita, para praktisi public relations ini dituntut untuk menjunjung tinggi aktualitas, kaidah jurnalistik, serta media relations. Praktisi public relations harus mampu menulis berita yang yang memenuhi prinsip-prinsip objektivitas berita. Kualitas berita ini merupakan goodwill dari pr itu sendiri. Berita yang berkualitas ini kemudian menjadi layak muat di media-media massa, seperti koran, radio, maupun televisi. Hal ini berkaitan dengan public relations sebagai sumber berita bagi publik, wartawan, jurnalis, serta media. Prinsip-prinsip objektivitas yang dimaksud di sini meliputi empat dimensi. Yakni faktualitas, imparsialitas, bersumber kredibel, serta mengandung news values. Berita yang berkualitas adalah berita yang memenuhi unsur-unsur keobjetivitasan. Pasal 3 Kode Etik Jurnalistik Wartawan Indonesia tahun 2006 merupakan patokan umum dalam menilai kualitas suatu berita; “wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang dan adil, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi serta menerapkan asas praduga tak bersalah.”

Objektivitas Berita.

Objektivitas berita merupakan ukuran baik-tidaknya suatu berita berdasarkan kaidah-kaidah jurnalistik. Berikut cakupan objektivitas berita:

1. Menurut dimensi faktualitas, berita harus mengandung truth. Artinya berita harus benar, mengandung peristiwa yang nyata adanya, serta dapat dibuktikan. Dimensi ini juga membicarakan bahwa berita tidak boleh berbaur dengan opini wartawan. Fakta adalah hasil observasi dan wawancara oleh wartawan yang tidak dicampur dengan nilai-nilai pribadi wartawan. Berita juga harus memenuhi unsur-unsur berita yakni 5w+1h. Kelengkapan unsur ini dapat memberikan informasi yang jelas kepada pembaca. Selain itu, berita disebut faktual apabila memiliki unsur relevance yang berkaitan dengan bagaimana dampak berita kepada pembaca, apakah berdampak positif atau negatif, apakah berita tersebut penting atau tidak bagi pembaca. Tidak ketinggalan, berita juga harus informatif bagi pembacanya. Unsur informatif suatu berita secara langsung dipengaruhi oleh adanya penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan 5W+1H. Agar informatif, berita harus komprehensif di samping harus fokus, ringkas, jelas, dan mudah dipahami

Contoh: suatu berita terbit dengan judul: “Hasil Rapid Test, 106 Orang Positif Corona di Tangerang dan Tangsel” (kompas.com). Idealnya, untuk dapat dikatakan sebagai berita yang objektif, segala informasi yang dimuat dalam berita tersebut wajib berdasarkan fakta dan tidak berbaur dengan opini wartawan. Judul berita tersebut sudah mengandung truth karena berdasarkan data di lapangan yang diperoleh dengan wawancara wartawan dengan ahli (dalam kasus ini adalah seorang pejabat kesehatan). Serta pemilihan kata pada judul tidak menunjukkan nilai-nilai pribadi wartawan (opini wartawan). Berita ini dapat dikatakan informatif dan relevan dengan keadaan terkini, mengingat berita ini dipublikasikan pada tanggal 1 April 2020, yang tentu memenuhi kebutuhan informasi masyarakat tentang perkembangan kasus-kasus terkait Covid-19.

2. Menurut dimensi imparsialitas, berita harus independen, netral, tidak memihak, serta secara lengkap memberitakan peristiwa (tidak sepotong-sepotong). Setiap berita mestinya memiliki keseimbangan dalam pemberitaannya. Berita harus bercerita tentang apa yang terjadi selayaknya yang di lapangan. Prinsip keseimbangan ini populer dikenal dengan istilah “cover both sides”. Memberitakan atau meliput kedua belah pihak (atau lebih) secara seimbang dan tidak berat sebelah. Selanjutnya, berita harus netral. Kenetralan berita dapat ditunjukan dari pemilihan kata atau kalimat maupun pemilihan sudut pandang dan perspektif pemberitaan. Kemudian, berita seharusnya tidak diberitakan sepotong-sepotong. Hal ini dimaksudkan agar tidak tercipta mispersepsi dan penyerapan informasi yang sporadis. Pemberitaan yang tidak utuh dapat menimbulkan interpretasi yang merugikan bagi pihak yang terlibat.

Sebagai contoh, pemberitaan tentang partai A di saluran televisi M pada musim pesta demokrasi memiliki segmen khusus dan dengan penayangan berkala. Sementara, di saluran televisi M, berita tentang partai B, C, dan partai-partai lainnya yang juga berlaga dalam pesta demokrasi memiliki porsi pemberitaan yang sangat sedikit serta tidak diberitakan secara berkala seperti yang terjadi pada pemberitaan mengenai partai A. Peristiwa ini menunjukkan bahwa adanya ketidakseimbangan dalam pembagian porsi berita yang dapat membuat saluran televisi M dianggap tidak menjunjung prinsip cover both sides.

Kredibilitas Narasumber

Menurut dimensi ini, berita dikatakan berkualitas apabila berasal dari sumber yang kredibel. Sumber yang kredibel dapat berasal dari para ahli atau pakar yang memiliki kapabilitas terkait topik pemberitaan. Ahli atau pakar yang dijadikan acuan haruslah dapat dipercaya. Sebagai contoh, dalam kasus kebakaran bukit di Pulau Kenawa, Sumbawa Barat, untuk mendapatkan informasi valid terkait kejadian maupun dampak peristiwa tersebut, informasi dapat diperoleh dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sumbawa Barat.

 

Nilai Berita (News Value/news Worthy)

Dimensi news value berkaitan dengan nilai berita; sesuatu yang dianggap menarik bagi pembaca. Semakin menarik suatu berita, semakin besar kemungkinan berita tersebut akan naik cetak atau dipublikasikan. Hal ini berlaku pula pada produk tulisan pr, press release. Nilai berita ada pada judul atau kepala berita (head news). Jika judul berita tersebut menarik minat pembaca, maka kemudian mereka akan tertarik untuk membaca keseluruhan berita. Antara praktisi public relations dengan praktisi media memiliki relasi yang saling menguntungkan. Public relations membutuhkan media/wartawan untuk menyebarkan informasi. Sementara wartawan/media membutuhkan public relations untuk mendapatkan informasi valid.

Jenis Nilai Berita

Berita diyakini dapat akan dapat merangsang orang untuk membaca jika:

  • Aktual: berita akan lebih menjual jika membahas peritiwa yang masih baru terjadi. Contohnya adalah pada harga koran yang semakin lama semakin menurun dari pagi hingga malam.
  • Proksimitas: berita yang cenderung menarik pemabaca adalah yang mengandung unsur kedekatan, baik secara emosional maupun geografis.
  • Magnitude: berita dianggap menarik karena ada unsur “kebesaran” di dalamnya.
  • Prominence: sebuah peristiwa akan diberitakan jika mengandung kemasyhuran, yang melahirkan konsep name make news.
  • Human interest: tema ini menarik karena akan menarik perasaan empati dan simpati orang.

Daftar Pustaka:

Kriyantono, Rachmat. (2016). Public Relations Writing. Jakarta: Kencana.

ANALISIS PUBLIC RELATIONS

March 26th, 2020

Dzikrina Istighfar Zahrani

Ilmu Komunikasi

Dasar Public Relations D-2 (Kamis 09.40-12.10)

Kamis, 26 Maret 2020 09.00 WIB

195120200111029

 

ANALISIS PUBLIC RELATIONS

 

  1. Public Relations mesti lebih fokus pada publisitas dari pada iklan

Dalam Cutlip, Center, dan Broom (2016), dijelaskan bahwa public relations ialah fungsi pengelolaan pada suatu organisasi yang membangun dan mempertahankan hubungan baik antara organisasi dengan publiknya yang berpengaruh pada kelangsungan organisasi tersebut. Dalam menjalankan fungsinya sebagai pembangun hubungan baik, praktisi public relations perlu melakukan publisitas terkait organisasi atau perusahaan yang diwakilinya agar khalayak luar memiliki pandangan yang baik terhadap perusahaan atau organisasi tersbut. Dalam Kriyantono (2016), publisitas merupakan publikasi yang dimuat dalam media massa. Informasi yang dimuat dalam publisitas tersebut bertujuan untuk menyebarkan informasi. Dalam konteks public relations, informasi ini tentunya bertujuan agar perusahaan atau organisasi memiliki citra baik di mata masyarakat/khalayak luas. Public relations harus lebih fokus pada publisitas dari pada iklan karena fungsi utamanya adalah pada publisitas. Tugas periklanan atau advertising bukan ditekankan untuk dikerjakan oleh public relations, melainkan pada fungsi manajemen lainnya, misalnya advertiser, marketer, dll. Namun, pada akhirnya tetap ada relasi pada public relations dengan iklan. Akan tetapi, public relations tentu lebih luas dari sekedar publisitas.

2. Iklan yang mestinya dibuat oleh Public Relations

Meskipun publisitas dan advertising adalah komunikasi melalui media, advertising memiliki kontrol atas isi dan penempatan (Cutlip, dkk: 2016). Dalam membentuk citra, para praktisi public relations menggunakan iklan sebagai media penyampaian informasi. Public relations menggunakan periklanan ini untuk menjangkau audien yang lebih luas, bukan untuk sasaran marketing (Cutlip, dkk:2016). Misalnya pada majemen sdm, mereka menggunakan iklan untuk menyebarluaskan pembukaan lowongan pekerjaan.

Iklan bisa didefinisikan sebagai bentuk komunikasi nonpersonal yang menjual pesan-pesan persuasif dari sponsor yang jelas untuk memengaruhi orang membeli produk dengan membayar sejumlah biaya untuk media, dipergunakan untuk sewa kolom surat kabar atau majalah, slot waktu untuk televisi dan radio, serta sewa ruang untuk media luar ruangan seperti reklame. Ada beberapa jenis iklan antara lain, iklan informasi yang bertujuan untuk menjelaskan produk baru, iklan persuasi yang bertujuan untuk menganjurkan memilih produk tertentu, iklan pengingat yang bertujuan untuk menjalin hubungan baik dengan konsumen. Dalam melakukan aktivitasnya, sering kali praktisi public relations menggunakan strategi periklanan. Strategi ini digunakan untuk menjaga hubungan baik antara perusahaan dengan publiknya. Beda dengan periklanan yang dilakukan oleh praktisi pemasaran yang berupaya menjual produk secara langsung untuk mencapai target penjualan.

Ada dua macam iklan, yaitu hard selling dan soft selling. Iklan hard selling adalah iklan yang secara langsung menjual produk. Iklan ini biasanya ditandai dengan tampilan gambar atau kemasan produk secara jelas serta terdapat kata-kata yang menjual. Sedangkan iklan soft selling adalah iklan yang bertujuan untuk memfokuskan pada kesan umum yang hendak diraih untuk menjual citra korporat. Memang tujua akhirnya adalah memperoleh keuntungan, tetapi melalui penanaman citra korporat yang positif. Jenis iklan ini yang sebaiknya diterapkan oleh praktisi public relations. Meski tampilan iklan ini tidak secara langsung merangsang pembelian oleh konsumen, iklan public relations ini berfungsi mendukung strategi pemasaran perusahaan. Karena iklan public relations ini berfungsi atau bertujuan untuk membangun citra korporat. Karena tidak jarang factor reputasi atau citra perusahaan turut menentukan pembelian suatu produk.

 

3. Kaitan Prinsip Utama PR Tell The Truth Dengan Prinsip PR Based on Fact

   Prinsip dasar praktisi public relations ada 2 yaitu tell the truth dan building trust. Tell the truth bertujuan untuk membuat khalayak atau konsumen dapat percaya dengan produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Pentingnya mengatakan yang sebenarnya direpresentasikan dalam jeung leweh mah memperbaiki waleh (lebih baik untuk mengatakan sesuatu terus terang daripada menjaga kata karena tidak cukup berani untuk memberitahu). Dari perspektif ini, praktisi PR tidak perlu takut dipecat sebagai akibat dari mencoba untuk melakukan fungsinya dengan baik. Jika organisasi melakukan perbuatan yang salah, maka public relations akan memberikan saran berdasarkan sikap ulah unggut kalinduan, ulah gedag kaanginan, yang berarti bahwa harus ada konsistensi dalam kebenaran dan kesesuaian antara batin-diri dan rasionalitas. Namun demikian, tell the truth tidak sama dengan mengungkapkan semua fakta (based on fact) karena ada beberapa fakta yang jika diungkapkan maka kemudian akan menjadi bumerang bagi pr itu sendiri. Jadi, diperlukan pula kecakapan dalam mengelola informasi, mana informasi yang sebaiknya diungkapkan, mana yang tidak sesuai kebutuhan.

Dalam budaya Jawa, tell the truth dapat ditemukan dalam idiom aji ning diri soko lathi. Orang dapat disebut kredibel apabila mengatakan kebenaran. Kuncinya adalah kemampuan untuk berkomunikasi dan menggunakan kata yang tepat untuk membujuk manajemen dan masyarakat tanpa menyebabkan penghinaan. Ttruth atau kejujuran adalah sangat penting sebagai landasan hidup.

 

4. Prinsip Menulis Berita Berdasarkan Prinsip Objektivitas

Pada dasarnya, sebagian besar produk tulisan public relations adalah produk berita. Press release adalah berita, isi newsletter adalah berita, atau isi company profile adalah berita. Karena itu, produk tulisan public relations harus mengandung berita bagi publik.

            Berita adalah segala sesuatu yang hangat, faktual serta menarik perhatian sejumlah orang. Lord Northcliffe mengatakan berita adalah sesuatu yang tidak biasa, Walkley menyebut berita sebagai tulisan yang digabungkan dengan unsur kejutan. Berita harus menarik.

            Objektivitas berita adalah ukuran baik tidaknya sebuah berita sesuai kaidah-kaidah jurnalistik. Yang pertama faktualitas yaitu mengandung kebenaran. Kedua imparsialitas yaitu berita mesti seimbang.

5. Strategi PR Dalam Win The Editor’s Heart Melalui Media Relations

Menurut Rachmat Kriyantono dalam bukunya Public Relations Writing (2016, h. 70-72) menjelaskan bahwa publisitas menjadi peluang bagi seorang praktisi Public Relations untuk memanfaatkan media massa sebagai penyebar informasi dengan gratis. Namun juga menjadi tantangan. Tantangan-tantangan itu berkaitan dengan faktor-faktor yang menentukan dimuatnya atau tidaknya informasi dari seorang praktisi Public Relations tersebut. Artinya, dimuat atau tidaknya jenis isi informasi yang dimuat sepenuhnya merupakan wewenang media massa. Ada dua penentu publisitas, yaitu:

  1. Penulisan materi publisitas

Sebagai materi publishing, informasi yang ditulis oleh seorang praktisi Public Relations adalah informasi yang akan dikirim ke media agar dimuat. Jika akan dimuat, maka struktur penulisannya juga harus memenuhi kaidah-kaidah penulisan jurnalistik. Antara lain teknik mencari berita, teknik menulis berita, mengetahui teknik menulis untuk jenis media cetak maupun elektronik, serta etika jurnalistik. Namun tetap ada perbedaannya dengan penulisan kaidah-kaidah jurnalistik. Perbedaannya terletak pada tujuan pemberian informasi.

  1. Kualitas hubungan media

Semakin baik kualitas hubungan antara praktisi Public Relations dengan media, maka semakin besar pula informasi yang akan dimuat. Pada dasarnya sinergi antara seorang praktisi Public Relations dan media bersifat simbiosis mutualiasme. Media membutuhkan bahan-bahan informasi dari seorang praktisi Public Relations, dan sebaliknya praktisi Public Relations membutuhkan media sebagai sarana penyebaran informasi.

Seorang praktisi Public Relations seharusnya mempertimbangkan prinsip “win the editor’s heart and mind” (Anda harus memenangkan hati dan pikiran seorang editor). Pikiran diartikan bersifat rasional, sedangkan hati diartikan sebagai di luar kaidah penulisan.

 

Daftar Pustaka

Cutlip, Scot M., Center, Allen H. (2016). Effective Public Relations. Alih
Bahasa: Tri Wibowo. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Kriyantono, R. (2016). Public Relations Writing. Jakarta: Prenada Media.

Lattimore, dkk. (2010). Public Relations: The profession & the practice. New York: McGraw-Hill.

Hello world!

March 26th, 2020

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!