Dwi Christina Fauziyah DREAM, PRAY, ACTION

13Mar/18Off

KLASIFIKASI BENTUK LAHAN

Tugas ini dibuat untuk memenuhi matakuliah Analisis Lanskap dengan dosen pengampu Dr. Ir. Sudarto, MS.

Nama : Dwi Christina Fauziyah

NIM : 155040201111058

Kelas : Analisis Lanskap B

 

ISTILAH-ISTILAH

Dalam membahas klasifikasi bentuk lahan, terdapat beberapa istilah yang perlu diketahui terlebih dahulu sebagai berikut:

  • Fisografi merupakan ilmu yang mempelajari tentang genesis dan evolusi pada landform (bentuk lahan), dimana bentukan alam yang ada di permukaan bumi, baik daratan maupun yang ad di dasar laut dibedakan atas proses pembentukannya
  • Geomorfologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang sifat alami, penyebaran, dan sejarah bentuk lahan serta proses pelapukan, erosi dan sedimentasi yang dapat menyebabkan terbentunya landform tersebut
  • Proses geomorfik merupakan proses yang menyebabkan terbentuknya suatu landform, dimana proses tersebut disebabkan oleh adannya gaya yang berasal dari bawah kulit bumi dan yang berasal dari luar angkasa
  • Lansekap merupakan semua bentukan alam maupun buatan manusia yang ada dipermukaan bumi, contohnya seperti rawa, hutan, bendungan, jalan dll yang membedakan suatu hamparan dengan hamparan yang lain
  • Bentuk lahan (landform) merupakan suatu kenampakan medan/fisik yang terentuk oleh proses alami, memiliki komposisi tertentu dan karakteristik fisikal dan visual yang unik an berbeda sau sama lain
  • Relief merupakan keadaan suatu wilayah daratan di permukaan bumi yang ditinjau dari aspek lereng dan perbedaan tinggi(beda tinggi) yang ada
  • Terrain merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menyatakan keadaan medan suatu wilayah dipermukaan bumi yang mencakup keadaan relief, vegetasi (penggunaan lahan), perairan, batuan (tanah)

 

DASAR KLASIFIKASI BENTUK LAHAN

Dasar klasifikasi bentuk lahan, didasarkan kategori tertinggi berdasarkan atas proses, khususnya geomorfik, kategori selanjutnya didasarkan atas bentukan bentuk lahan itu sendiri, relief, lereng, litologi, tingkat erosi atau torehan, dll dilihat mana yang dominan di daerah tersebut.

 

KLASIFIKASI BENTUK LAHAN YANG DIKENAL

Klasifikasi bentuk lahan yang biasa digunakan sebagai patokan atau pedoman yakni sebagai berikut:

  1. Christian dan Steward, 1968, biasanya menggunakan pendekatan sistem lahan, yang sebagai dasarnya yaitu aspek geomorfologi, iklim dan penutupan lahan, dalam penulisannya biasanya menggunakan nama tempat, misalnya : ABG = Asembagus
  2. Desaunettes, 1977, biasanya menggunakan pendekatan fisiografk dan bentuk wilayah tetapi sering tidak konsisten
  3. Van Zuidam dan Zuidam-Cancelado, 1979, menggunakan dasar utama yaitu geomorfologi disertai dengan bentuk wilayah, stratigrafi dan keadaan medan
  4. Buurman dan Balsem, 1990, kategori tertinggi berdasarkan grup fisiografi (berdasarkan proses geomorfik), tetapi sering tidak konsisten
  5. Marsoedi, dkk, 1997, biasanya yang paling sering digunakan di Indonesia, kategori tertingginya didasarkan proses geomorfik yang selanjutnya berdasarkan relief, lereng, litologi, dll

 

GRUP UTAMA LANDFORM

  1. Grup Aluvial (A)
  2. Grup Marin (M)
  3. Grup Fluvio-Marin (B)
  4. Grup Gambut (B)
  5. Grup Eolin (E)
  6. Grup Karst (K)
  7. Grup Vulkanik (V)
  8. Grup Tektonik dan Struktural (T)
  9. Grup Aneka (X)
Filed under: Uncategorized No Comments
6Mar/18Off

Gaya Eksogen

Tugas ini dibuat untuk memenuhi matakuliah Analisis Lanskap dengan dosen pengampu Dr. Ir. Sudarto, MS.

Nama : Dwi Christina Fauziyah

NIM : 155040201111058

Kelas : Analisis Lanskap B

 

 

Analisis Lanskap Gaya Eksogen (Denudasi & Deposisi)

 

Proses eksogen merupakan proses menyeimbangkan elevasi permukaan bumi, tenaga eksogen ini menyebabkan terjadinya pelapukan, erosi, gerak massa batuan, dan sedimentasi yang bersifat merusak bentuk permukaan bumi (Hardiyatmo, 2006),  proses eksogen dibagi menjadi 2 yaitu:

1. Gradesional/denusional

  • Denudasi merupakan proses pengikisan, pemindahan/transportasi bahan yang ada di muka bumi, yang selanjutnya akan diendapkan ditempat lain
  • Pelapukan, akibat dekomposisi batuan di tempatnya namun tidak melibatkan pemindahan material
  • Perpindahan massa karena gravitasi, merupakan proses yang dinamis dengan melibatkan perpindahan massa batuan ke lereng bawah karena pengaruh gravitasi
  • Erosi dan agen transportasi

2. Agradasi/deposisi

  • Deposisi atau disebut juga pengendapan dan apabila terjadi kenaikan dataran disebut agradasi
  • Proses deposisi terjadi akibat dari adanya proses degradasi lahan.
  • Proses diakibatkan adanya proses degradasi lahan
  • Dari proses ini akan mendaftarkan permukaan bumi

 

Proses denudasi :

  • Contoh di lahan tropika basah, hal ini bisa dilihat dari karakteristik lahannya dan peranan vegetasi yang ada
  • Denudasi kimia merupakan proses pelapukan karena adanya unsur hara, hal ini dipengaruhi tergantung keadaan iklimnya
  • Eluviasi mekanik terjadi akibat pengaruh gaya berat dan aliran air
  • Proses pemindahan fisik, karena adanya pemindahan bebatuan atau bahan yang lain
  • Proses denudasi biasanya melibatkan pelapukan batuan, pemindahan bahan dan pengendapan yang dapat dikelompokkan dalam 2 kategori yakni proses kimiawi dan proses mekanik, proses tersebut dipengaruhi iklim, vegetasi & lingkungan geokimia

Proses deposisi :

  • Terjadi akibat adanya proses defradasi lahan, dimana proses ini akan mendatarkan permukaan bumi.
  • Contoh dari landform deposisi dalah landform alluvial, marin dan fluvio-marin
Filed under: Uncategorized No Comments
27Feb/18Off

Vulkanisme (Gunung Berapi)

Tugas ini dibuat untuk memenuhi matakuliah Analisis Lanskap dengan dosen pengampu Dr. Ir. Sudarto, MS.

Nama : Dwi Christina Fauziyah

NIM : 155040201111058

Kelas : Analisis Lanskap B

 

Pendahuluan

Peristiwa vulkanisme merupakan peristiwa munculnya gunung berapi. Menurut Pratomo (2006), gunungapi adalah lubang kepundan atau rekahan dalam kerak bumi tempat keluarnya cairan magma atau gas atau cairan lainnya ke permukaan bumi.

Pembentukan gunung bukan hanya melalui proses vulkanisme saja, melainkan ada juga yang dipengaruhi oleh tektonik akibat patahan, lipatan, retakan dan pelengkungan.

Di Indonesia terdapat kurang lebih 500 gunung dengan 129 gunung berapi yang sampai sekarang masih aktif dan 70 diantaranya sering meletus. Hal ini juga didukung oleh catatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, gunung api aktif di Indonesia terbagi dalam tiga kelompok berdasarkan sejarah letusannya, yaitu tipe A (79 buah), adalah gunung api yang pernah meletus sejak tahun 1600, tipe B (29 buah) adalah yang diketahui pernah meletus sebelum tahun 1600 dan tipe C (21 buah) adalah lapangan solfatara dan fumarola (Bemmelen, 1949; van Padang, 1951; Kusumadinata 1979 dalam Pratomo, 2006).

 

Gambar 1. Penampang suatu gunungapi dan bagian-bagiannya. (Modifikasi dari Krafft, 1989)

 

Struktur Gunung Berapi

Struktur gunung berapi terdiri atas :

  1. Ujud-ujud vulkanik, yang dapat membentuk landform khas. Contohnya kepundan, kaldera, dll
  2. Batuan beku, yang membentuk komponen geologi local yang khusus dan dapat mendorong perkembangan lansekap melalui proses erosi yang berbeda.

 

Macam Magma

Macam-macam magma yakni sebagai berikut:

  1. Magma Granitik, biasanya sangat kental dan tidak dapat mengalir dengan mudah, memiliki sifat masam (memiliki kandungan silica yang tinggi), cepat mengalami pembekuan, sering terjadi penghalang keluar dan erupsi eksplosif, menghasilkan deposit piroklastik (abu pasir yang jatuh). Deposit ini mengandung fragmen volkanik berukuran mulai abu halus sampai bolder yang besar. Erupsi yang terus-menerus menyebabkan akumulasi batuan volkanik di sekitar lubang keluar, menghasilkan kerucut vulkanik. Kerucut vulkanik memiliki kepundan (contohnya gunung bromo) dan kaldera (terjadi karena ambles dan atau karena letusan yang hebat).
  2. Magma Basalitik, kebalikan dari magma granitik. Dimana magma mengalir sangat mudah atau cepat dan tidak selalu menghasilkan erosi eksplosif.

 

Tipe-Tipe Letusan Gunung Berapi

Tipe-tipe letusan gunung berapi ada 6, sebagai berikut:

  1. Icelandic, biasanya melibatkan semburan lava panas, agak cair dari sepanjang celah. Lava menyembur di sepanjang celah letusan yang berlanjut akan membentuk suatu dataran tinggi dengan lapisan tebal, dengan lapisan-lapisan lava yang mengeras. Celah keluarnya lava biasanya ditandai oleh “garis” lungur volkanik yang rendah.
  2. Plinian, merupakan erupsi yang sangat ekslposif dari magma berviskositas tinggi atau magma asam, komposisi magma bersifat andesitik sampai riolitik. Material yang dierupsikan berupa batuapung dalam jumlah besar
  3. Vulkanian, erupsi magmatis berkomposisi andesit basaltic sampai dasit, umumnya melontarkan bom-bom vulkanik atau bongkahan di sekitar kawah dan sering disertai bom kerak-roti atau permukaannya retak-retak. Material yang dierupsikan tidak melulu berasal dari magma tetapi bercampur dengan batuan samping berupa litik.
  4. Pelean, letusan tipe ini dinamai sesuai dengan letusan Gunung Pelee di Pulau Martinique, kawasan Karibia, tahun 1902. Jenis erupsi ini menyerupai letusan Vulkanian, hanya saja terdapat campuran gabungan lava dan tingkat gas yang tinggi. Saat erupsi, lava tersebut cenderung encer dan mengalir dengan kecepatan tinggi sehingga sangat membahayakan.
  5. Strombolian, erupsinya hampir sama dengan Hawaiian berupa semburan lava pijar dari magma yang dangkal, umumnya terjadi pada gunungapi sering aktif di tepi benua atau di tengah benua
  6. Hawaiian, yaitu erupsi eksplosif dari magma basaltic atau mendekati basalt, umumnya berupa semburan lava pijar, dan sering diikuti leleran lava secara simultan, terjadi pada celah atau kepundan sederhana.

 

Bahaya Letusan Gunung Berapi

Menurut BNPB (2009), bahaya letusan gunungapi dapat berpengaruh secara langsung (primer) dan tidak langsung (sekunder) yang menjadi bencana bagi kehidupan manusia. Bahaya yang langsung oleh letusan gunungapi adalah sebagai berikut:

  1. Leleran lava
  2. Aliran piroklastik (awan panas)
  3. Jatuhan piroklastik
  4. Lahar letusan
  5. Gas vulkanik beracun

Sedangkan untuk bahaya tidak langsung atau sekunder sebagai berikut:

  1. Lahan hujan
  2. Banjir bandang
  3. Longsoran vulkanik

 

Batuan Beku dari Komponen Geologik

Batuan beku berasal dari cairan magma yang membeku akibat mengalami pendinginan (Nandi, 2010). Menurut ilmu petrlogi semua bahan beku terbentuk dari magma karena membekunya lelehan silikat yang cair dan pijar. Dimana magma cair yang keluar cepat membeku karena adanya tekanan gas yang ada diluar. Batuan beku terdiri atas kristal-kristal mineral dan kadang-kadang mengandung gas. Mineral yang terbentuk ialah mineral yang berat jenisnya besar yaitu mineral yang berwarna tua. Karena kristalisasi, maka susunan magma akan berubah, mineral yang telah tengggelam tidak akan larut kembali, akan tetapi jenis itu tetap berada dibawah dari magma (Nandi, 2010)

 

Landform Vulkanik

Landform vulkanik adalah landform yan proses pembentukannya dikontrol oleh proses vulkanisme, yaitu proses keluarnya magma dari dalam bumi dan selalu dihubungkan dengan gerak-gerak tektonik. Macam-macam landform vulkanik berdasarkan Srijiono (1984) dalam Nandi (2010):

  1. Bentuk timbulan (Morfologi Positif/Kubah Vulkanik), merupakan morfologi gunung api yang mempunyai bentuk cembung ke atas.
  2. Depresi Vulkanik (Morfologi Negatif), merupakan bagian vulkan secara umum berupa cekungan.

 

 

Referensi

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 2009, Potensi Ancaman Bencana. Diakses di www.bnpb.go.id pada tanggal 27 Februari 2018.

Nandi, S.Pd M.T M.Sc., 2010 Handouts Geologi Lingkungan Batuan, Mineral dan Batubara. Jakarta : UPI.

Pratomo, Indyo, 2006 Klasifikasi Gunung Api Aktif di Indonesia, Studi Kasus dari Beberaa Letusan Gunung Api dalam Sejarah. Jurnal Geologi Indonesia no 4 (1).

Filed under: Uncategorized No Comments
21Feb/18Off

TEKTONISME

Tugas ini dibuat untuk memenuhi matakuliah Analisis Lanskap dengan dosen pengampu Dr. Ir. Sudarto, MS.

Nama : Dwi Christina Fauziyah

NIM : 155040201111058

Kelas : Analisis Lanskap B

 

Tektonisme adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang menyebabkan terjadinya dislokasi (perubahan letak) patahan dan retakan pada kulit bumi dan batuan (Anwas, 2008). Sedangkan kekuatan tektonis adalah kekuatan yang berasal dari energi dalam panas bumi yang menggerakkan lempeng-lempeng kerak bumi, merupakan gaya utama yang membentuk permukaan planet ini (Husein, 2008). Untuk bentuk lahan dimuka bumi berkaitan dengan aktivitas dari kulit bumi (bentuk, susunan, kulit bumi dan perubahan dalam bumi) dan aktivitas luar bumi (pelapukan, pengangkatan dan pengendapan).

Proses yang berkaitan dengan pembentukan lahan berdasarkan lamanya proses meliputi hal berikut:

1. Proses endogen (tenaga dari dalam bumi), proses endogenik yang berlangsung di bawah permukaan bumi, menyebabkan terbentuknya pegunungan, daratan dan lautan (Husein, 2008).

Gambar 1. Proses Endogen

2. Proses eksogen (tenaga dari luar bumi), dimana dari proses eksogen ini seberapa cepat suatu lahan mengalami degradasi. proses eksogenik yang terjadi di atas permukaan bumi, berupa perubahan dan perpindahan material batuan oleh air, angin dan es (Husein, 2008).

Gambar 2. Proses Eksogen

3. Pengaruh topografi dan manusia, terkait hal ini dikarenakan perbedaan topografi dan bentukan lahan yang telah dibuat oleh manusia itu sendiri.

Gambar 3. Pengaruh Topografi dan Manusia

 

Teori Pembentukan Muka Bumi

Teori pembentukan muka bumi menurut Somantri (2007), sebagai berikut:

1. Teori Kontraksi (Contraction Theory / Theory of a Shrinking Earth)

Teori kontraksi  dikemukakan oleh James Dana di AS tahun 1847 dan Elie de Baumant di Eropa tahun 1852. Mereka berpendapat bahwa kerak bumi mengalami pengerutan karena terjadinya pendinginan di bagian dalam bumi akibat konduksi panas. Pengerutan- Dengerutan itu mengakibatkan bumi manjadi tidak rata. Keadaan itu dianggap sama seperti buah apel, yaitu jika bagian dalamnya mengering kulitnya akan mengerut.

2. Teori Laurasia-Gondwana

Eduard Zuess dalam bukunya The Face of the Earth (1884) dan Frank B. Taylor (1910) mengemukakan teorinya bahwa pada mulanya terdapat dua benua di kedua kutub bumi. Benua – benua tersebut diberi nama Laurentia (Laurasia) dan Gondwana. Kedua benua itu kemudian bergerak secara perlahan ke arah ekuator sehingga terpecah-pecah membentuk benua-benua seperti sekarang.

Amerika Selatan, Afrika, dan Australia dahulu menyatu dalam Gondwanaland, sedangkan benua- benua lainnya menyatu dalam Laurasia. Teori Laurasia-Gondwana diyakini oleh banyak ahli karena bentuk pecahan-pecahan benua tersebut apabila digabungkan dapat tersambung dengan tepat. Namun, penyebab pecahnya benua-benua tersebut belum dapat ditemukan.

3. Teori Pergeseran benua (Continental Drift Theory)

Teori apungan benua dikemukakan oleh Alfred Lothar Wegener tahun 1912 dalam bukunya The Origin of the Continent’s and Oceans. Wegener mengemukakan teori tentang perkembangan bentuk permukaan bumi berhubungan dengan pergeseran benua. Menurut Wegener, di permukaan bumi pada awalnya hanya terdapat sebuah benua besar yang disebut Pangea (dalam bahasa Yunani berarti keseluruhan bumi), serta sebuah samudra bernama Panthalasa. Benua tersebut kemudian bergeser secara perlahan ke arah ekuator dan barat mencapai posisi seperti sekarang. Teori apungan benua diperkuat dengan adanya kesamaan garis pantai antara Amerika Selatan dan Afrika, serta kesamaan lapisan batuan dan fosil-fosil pada lapisan di kedua daerah tersebut.

Gerakan tersebut menurut Wegener disebabkan oleh adanya rotasi bumi yang menghasilkan gaya sentrifugal sehingga gerakan cenderung ke arah ekuator, sedangkan adanya gaya tarik-menarik antara bumi dan bulan menghasilkan gerak ke arah barat. Gerakan ke arah barat tersebut terjadi seperti halnya pada saat terjadinya gelombang pasang, yaitu akibat revolusi bulan yang bergerak dari arah barat ke timur. Akan tetapi, sekitar tahun 1960-an muncul kritik terhadap teori itu yang mempertanyakan kemungkinan massa benua yang sangat besar dan berat dapat bergeser di atas lautan yang keras.

4. Teori Konveksi (Convection Theory)

Teori konveksi mengemukakan bahwa terjadi aliran konveksi ke arah vertikal di dalam lapisan astenosfer yang agak kental. Aliran tersebut berpengaruh sampai ke kerak bumi yang ada di atasnya. Aliran konveksi yang merambat ke dalam kerak bumi menyebabkan batuan kerak bumi menjadi lunak. Gerak aliran dari dalam mengakibatkan permukaan bumi menjadi tidak rata.

5. Teori Pergeseran Dasar Laut

Robert Diesz, seorang Ahli Geologi dasar laut Amerika Serikat mengembangkan teori konveksi yang dikemukakan Hess. Penelitian topografi dasar laut yang dilakukannya menemukan bukti-bukti baru tentang terjadinya pergeseran dasar laut dari arah punggung dasar laut ke kedua sisinya.

Penyelidikan umur sedimen dasar laut mendukung teori tersebut, yaitu makin jauh dari punggung dasar laut umurnya makin tua. Hal itu rerarti ada gerakan yang arahnya dari punggung dasar laut. Beberapa contoh punggung dasar laut adalah cost Pacific Rise, Mid Atlantic Ridge, Atlantic Indian Ridge, dan Pacific Atlantic Ridge.

6. Teori Lempeng Tektonik

Teori lempeng tektonik dikemukakan oleh ahli geofisika Inggris, Me Kenzie dan Robert Parker. Kedua ahli itu menyampaikan teori yang menyempurnakan teori-teori sebelumnya, seperti pergeseran benua, pergeseran dasar laut, dan teori konveksi sebagai satu kesatuan konsep yang sangat berharga dan diterima oleh para ahli geologi.

Kerak bumi dan litosfer yang mengapung di atas lapisan astenosfer dianggap satu lempeng yang saling berhubungan. Aliran konveksi yang keluar dari punggung laut menyebar ke kedua sisinya, sedangkan di bagian lain akan masuk kembali ke lapisan dalam dan bercampur dengan materi di lapisan itu. Daerah tempat masuknya materi tersebut merupakan patahan (transform fault) yang ditandai dengan adanya palung laut dan pulau vulkanis.

Dari keenam teori pembentukan muka bumi yang telah disebutkan diatas, teori yang dianggap paling valid yakni teori lempeng tektonik. Menurut Noor (2014) teori tektonik lempeng pada dasarnya adalah suatu teori yang menjelaskan mengenai sifat-sifat bumi yang mobil/dinamis yang disebabkan oleh gaya yang berasal dari dalam bumi. Konsep dari tektonik lempeng adalah bahwasanya lapisan kerak bumi (litofir) terpecah-pecah dalam 13 lempeng besar dan beberapa lempeng kecil.

Gambar 4. Lempeng Tektonik

Dari gambar diatas dapat dlihat bahwasannya terdapat beberapa lempeng dan juga terdapat ring of fire. Menurut Noor (2014) lempeng-lempeng tersebut sebagai berikut: 1) Lempeng pacific (pacific plate); 2) Lempeng Eurasia (Eurasian plate); 3) Lempeng India-Australia (Indian-Australia plate); 4) Lempeng Afrika (African plate); 5) Lempeng Amerika Utara (North American plate); 6) Lempeng Amerika Selatan (South American plate); 7) Lempeng Antartika (Antartic plate) serta beberapa lepeng kecil seperti: 1)Lempeng Nasca (Nasca plate), 2) Lempeng Arab (Arabian plate), 3) Lempeng Karibia (Carabian plate), 4) Lempeng Phillippines (Philippines plate), 5) Lempeng Scotia (Scotia plate), 6) Lempeng Cocos (Cocos plate).

Batas-batas dari ke 13 lempeng tersebut dapat dibedakan berdasarkan interaksi antara lempengnya menurut Noor (2014), sebagai berikut:

1. Batas Konvergen

Batas konvergen adalah batas antar lempeng yang saling bertumbukan. Batas lempeng konvergen dapat berupa batas subduksi (Subduction) atau Obduksi (Obduction). Batas subduksi adalah batas lempeng yang berupa tumbukan lempeng dimana salah satu lempeng menyusup ke dalam perut bumi dan lempeng lainnya terangkat ke permukaan.

2. Batas Divergen

Batas divergen adalah batas antar lempeng yang saling menjauh satu dan lainnya. Pemisah ini disebabkan karena adanya gaya tarik (tensional force) yang mengakibatkan naiknya magma ke permukaan berdampang pada lempeng yang saling menjauh.

3. Batas Transform

Batas transform adalah batas antar lempeng yang saling berpapasan dan saling bergeser satu dan lainnya menghasilkan suatu sesar mendatar jenis Strike Slip Fault.

 

Ring Of Fire

Menurut Safitri (2015), Ring of Fire (Cincin Api) adalah zona dimana terdapat banyak aktifitas seismik yang terdiri dari busur vulkanik dan parit-parit (palung) di dasar laut. Cincin Api memiliki panjang lebih dari 40000 km memanjang dari barat daya Amerika Selatan dibagian timur hingga ke sebelah tenggara benua Australia di sebelah barat. Pada zona yang disebut Cincin Api inilah banyak terjadi gempa dan letusan gunung berapi. Sekitar 90% dari gempa bumi yang terjadi dan 81% dari gempa bumi terbesar di dunia terjadi di sepanjang Cincin Api ini. Antar lempeng tersebut berubah posisi dan ukuran dengan kecepatan 1-10 cm per tahun, jika terjadi desakan antar lempeng secara horizontal, maka terjadi gempa bumi, namun apabila terjadi desakan antar lempeng secara vertikal maka akan terjadi letusan gunung berapi. Aktivitas magmatik ini berpotensi menyebabkan gempa bumi. Ring of Fire terbentuk akibat pergesekan lempeng tektonik, dapat dilihat digambar berikut:

Gambar 5. Pergesekan Lempeng Tektonik

 

Gaya Tektonik

Gaya tektonik  ada 2, sebagai berikut:

1. Tektonik epirogenesa

Merupakan gerakan vertical yang lambat dan meliputi daerah yang luas. Macam-macam dari tektonik epirogenesa yakni epirogenesa positif kedalam bumi, karena beban (sedimen, lava, dan lain-lain) dan epirogenesa negatif yakni keluar, berupa pengangkatan. Macam dari gerakan epirogenesa yakni epirogenesa positif dan epirogenesa negatif.

2. Tektonik orogenesa

Merupakan gerakan tektonik yang meliputi wilayah yang sempit, sebagai contoh yakni pembentukan pegunungan.

 

Struktur diastropik meliputi:

1. Pelengkungan

2. Pelepasan

3. Peretakan

4. Pengangkatan

 

Cara Melihat Info Gempa di Seluruh Dunia

Info gempa dapat dilihat di earthquick.km2, jika memiliki warna merah maka ditempat tersebut terjadi gempa sekitar 1 jam yang lalu, jika memiliki warna kuning maka ditempat tersebut terjadi gempa sekitar sehari yang lalu dan jika memiliki warna orange, maka ditempat tersebut telah terjadi gempa sekitar 1 minggu yang lalu.

 

REFERENSI

Anwas, Oos, M., 2008 Bentuk Muka Bumi. Yogyakarta : Kanisius.

Husein, Salahuddin, 2008 Seminar Nasional Ilmu Kebumian “Tantangan dan Strategi Pendidikan Geologi dalam Pembangunan Nasional” 15 Februari 2008 - Jurusan Teknik Geologi FT UGM Yogyakarta

Noor, Djauhari. 2014. Pengantar Geologi. Yogyakarta : Deepublish.

Safitri, Dita (2015) Analisis Kandungan Hara Tanah Lapisan Atas Di Lereng Tenggara Gunungapi Sinabung Pasca Erupsi 2013-2014. Undergraduate thesis, UNIMED.

Somantri, Lili. 2007. Bentuk-Bentuk Muka Bumi.  Malang : Jurusan Pendidikan Geografi UPI.

Filed under: Uncategorized No Comments
14Feb/18Off

Bencana Longsor di Bantaran Sungai Brantas Malang

Bencana alam seperti banjir dan longsor merupakan bencana yang sering kali melanda wilayah Indonesia. bencana banjir menjadi permasalahan setiap daerah di Indonesia. hal tersebut karena saat musim hujan bencana ini sering terjadi. Banyak faktor yang menyebabkan bencana banjir dan longsor terjadi, bukan hanya faktor alam namum faktor manusia juga kianmemperparah bencana ini. banjir dan longsor yang semakin meluas umumnya terjadi karena adanya kerusakan ekologis di daerah Aliran sungai (DAS) (Kementerian Kesehatan RI, 2016) . Bantaran sungai merupakan salah satu wilayah yang rawan tertimpa bencana baik banjir maupun tanah longsor. Hal ini dikarenakan bantaran sungai yang berbatasan langsung dengan sungai yang ditempatinya. Kerusakan ekologis yang terjadi di daerah aliran sungai yang biasanya terjadi karena banyak alih fungsi lahan di kawasan turut memperparah kondisi. Bencana longsor bisa terjadi kapanpun dan dipinggiran sungai manapun. Seperti longsor yang terjadi di bantaran Sungai Brantas, tepatnya Jl Brigjen Slamet Riadi Gang 3, RT 1/RW 6, Oro-Oro Dowo, Malang. Kejadian longsor terjadi pada Jumat, 19 Januari 2018 pukul 04.00 pagi dinihari. Longsor yang terjadi mengakibatan tiga rumah milik warga rusak, yaitu Idam Choliq, Budi Hari Permana dan Bu Jum. Ketiga warga mengalami kerugian sekitar 120 juta akibat hilangnya peralatan dapur yang jatuh ke sungai. Peristiwa longsor bermula ketika hujan turun dengan intensitas tinggi yang terjadi pada dini hari. Akibatnya, debit dan arus sungai meningkat. Menurut Kepala BPBD Kota Malang J Hartono(2018) dalam Surya Malang (2018), aliran air menggerus plengsengan yang menyebabkan plengsengan ambrol dan berdampak pada tiga rumah yang berada di atasnya. Mengantisipasi longsor susulan, warga yang mengalami musibah tanah longsor sudah di minta mengungsi. Sementara 15 Kepala Keluarga yang berada di lingkungan RT 01 di sepanjang bantaran sungai Brantas diminta tetap waspada. Kedepannya diharapakan warga dapat lebih mengutamakan keselamatan diri dan keluarganya. PP No 38/2011 menegaskan larangan untuk membangun rumah sepanjang pinggir sungai. Bupati Pesisir Selatan, Nasrul Abit di Painan menjelaskan jika masih ada masyarakat yang mau mendirikan rumah di pinggir sungai karena tidak ada lagi lokasi lain, maka berilah jarak minimal 50 meter dari bibir sungai.

 

Sumber:
Kementerian Kesehatan RI, 2016 Penyebab Terjadinya Longsor di Daerah Aliran Sungai (DAS).
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 38/2011 tentang Sungai.
Surya Malang (2018) Longsor di Bantaran Sungai Brantas Kota Malang Sejumlah Warga di Ungsikan. Dikutip di http://suryamalang.tribunnews.com/2018/01/19/longsor-di-bantaran-sungai-brantas-kota-malang-sejumlah-warga-diungsikan pada tanggal 9 Februari 2018.

Filed under: Uncategorized No Comments
14Feb/18Off

Hello world!

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!

Filed under: Uncategorized 1 Comment