RSS
 

Archive for the ‘Analisis Lanskap Terpadu’ Category

Materi Analisis Lanskap Terpadu M-3

28 Feb

Gunung Api dan Vulkanisme

Related image

1. Pengertian Gunung Api

Gunung berapi atau gunung api secara umum adalah istilah yang didefinisikan sebagai suatu saluran fluida panas (lava) yang memanjang dari bawah permukaan bumi sampai ke permukaan bumi, termasuk endapan hasil akumulasi material yang dikeluarkan saat dia meletus. Secara singkat, gunung berapi adalah sebuah bentukan lahan yan memiliki lubang dan masih aktif dalam mengeluarkan material di dalamnya (Mulya, 2004). Vulkanisme merupakan peristiwa yang berhubungan dengan keluarnya magma dari dalam perut bumi ke permukaan bumi. Atau segala kegiatan magma dari lapisan dalam litosfera ke lapisan yang lebih atas atau keluar permukaan bumi.

2. Struktur Gunung Api

Menurut Nursa’ban (2006) struktur gunung api meliputi hal sebagai berikut:

  1. Sejumlah ujud-ujud vulkanik, yang membentuk landform khas seperti: kepundan, kaldera, dan bentuk-bentuk gunung api.
  2. Batuan beku, baik intrusif maupun ekstrusif, dalam suatu lapisan/masa, membentuk komponen geologi lokal yang khusus yang kemudian dapat mendorong perkembangan landskap melalui proses erosi yang berbeda.

Batuan beku dapat dibedakan menjadi :

  1. Batuan beku yang berasal dari magma yang pembekuannya terjadi di permukaan bumi disebut dengan batuan beku luar. Biasanya proses pendinginan lava berlangsung dengan cepat sehingga pembekuan batuan terjadi secara merata. Adanya pembekuan lava secara cepat kadang-kadang menyebabkan gas-gas yang ada dalam lava belum sempat keluar sehingga terbentuk batu apung (pumise). Batu apung ini jika di taruh di air akan mengapung.
  2. Batuan beku yang terbentuk sebagai akibat pem bekuan magma yang melewati retakan di sela-sela kulit bumi disebut dengan batuan beku gang (korok). Jika penyusupan magma tersebut relatif tegak lurus terhadap lapisan kulit bumi, disebut dengan dike. Jika penyusupan magma ke atas dan kemudian membelok sejajar dengan lapisan kulit bumi, disebut dengan sill.
  3. Batuan beku yang proses pembekuannya berada jauh di bawah permukaan bumi disebut dengan batuan beku dalam. Proses pembekuan yang terjadi pada batuan ini berlangsung lambat sehingga terjadi pengkristalan. Inilah yang menyebabkan salah satu ciri dari batuan beku dalam berbentuk kristal-kristal besar (holo kristalin).

Related image

1) Batholit, yaitu batuan beku yang terbentuk dari dapur magma, terjadi karena penurunan suhu yang lambat

2) Lakolit, yaitu magma yang menyusup diantara lapisan batuan yang menyebabkan lapisan batuan diatasnya terangkat sehingga cembung, sedangkan alasnya rata.

3) Sill, adalah lapisan magma tipis yang menyusup diantara lapisan batuan diatas, datar dibagian atasanya.

4) Volcanic, adalah batuan dari intrusi magma yang memotong lapisan batuan yang berbentuk pipih atau lempeng.

5) Cone, merupakan cabang dari irupsi korok( gang)

6) Diatrema adalah batuan yang mengisi pipa letusan.

7) Dike adalah batuan beku yang dibentuk oleh magma yang menerobos melalui retakan yang memotong perlapisan batuan sedimen.

3. Sifat Magma dan Jenis Letusan

Menurut Nursa’ban (2006), berikut merupakan sifat dari magma, antara lain:

  1. Magma Granitik, memiliki karakteristik magma yang sangat kental sehingga tidak dapat mengalir dengan mudah, mudah membeku, kandungan Si yang tinggi, seringkali menjadi penghalang bagi lubang keluarnya magma, biasanya terjadi erupsi eksplosif, batuan yang dihasilkan berwarna lebih cerah, menghasilkan deposit piroklastik atau petra, daya jelajah magma tidak jauh hanya meleleh dipermukaan, zat yang dihasilkan miskin hara.
  2. Magma Basiltik, memiliki karakteristik mengalir dengan sangat mudah/cepat dan tidak selalu menghasilkan erupsi eksplosif dan membentuk deposit piroklastik. Kemudian lava cenderung menyebar dengan lereng landai. Membentuk gunung api tameng. Contoh yang terkenal terdapat di Hawaii, yang terdiri dari 5 gunungapi tameng yang saling bergandengan. Dimana gunung tertinggi adalah Mauna Loa.

Dalam pengeluaran bahan induk atau erupsi, Menurut Nursa’ban (2006), gunung api memiliki dua tipe erupsi, yaitu

  1. Erupsi Eksplosif merupakan erupsi yang mempunyai tekanan gas magmatis yang sangat besar yang terdapat di dalam perut Bumi. Karena tekanan gas yang sangat besar, maka letusan yang dihasilkan pun sangat besar.
  2. Erupsi Efusif merupakan erupsi yang mempunyai tekanan gas magmatis yang tidak terlalu kuat sehingga tidak terjadi ledakan yang sangat kuat. Tidak hanya kekuatan ledakan yang berbeda dengan erupsi eksplosif, namun juga bentuk meterial yang akan dikeluarkan.
Related image

1. Erupsi Eksplosif

 

 

 

 

 

Related image

2. Erupsi Efusif

 

 

 

 

4. Bahaya Gunung Api

Menurut BNPB (2009), letusan gunungapi dapat berpengaruh secara langsung (primer) dan tidak langsung (sekunder) dan akan berdampak buruk bagi kehidupan manusia. Bahaya yang langsung (primer) oleh letusan gunungapi adalah :

– Leleran Lava

– Aliran Piroklastik (Awan Panas)

– Jatuhan Piroklastik

– Lahar Letusan

– Gas Vulkanik Beracun

Dibawah ini merupakan bahaya tidak langsung (sekunder) yang ditimbulkan dari adanya gunung api. Bahaya sekunder ini baru dirasakan saat atau setelah gunung api aktif.

– Lahar Hujan

– Banjir Bandang

– Longsoran Vulkanik

5. Tipe Letusan Gunung Api

Menurut Mulya (2004), gunung api memiliki beberapa tipe letusan antara lain

a). Hawaiian

Yaitu erupsi eksplosif dari magma basaltic atau mendekati basalt, umumnya berupa semburan lava pijar, dan sering diikuti leleran lava secara simultan, terjadi pada celah atau kepundan sederhana. Erupsi tipe Hawaiian merujuk pada Gunung Berapi Kilauea yang terkenal akan semburan lavanya yang spektakuler. Dua contoh erupsi jenis ini adalah letusan kawah Kilauea Iki di puncak Gunung Kilauea (1959) dan letusan Maula Ulu pada 1969-1974.

b). Strombolian

Nama Strombolian diadopsi dari letusan gunung berapi Stromboli di Italia. Beberapa letusan gunung berapi di Indonesia, seperti Gunung Raung di Bali dan Gunung Bromo, Jawa Timur dapat dikategorikan sebagai tipe Strombolian yang mengeluarkan lava yang cair tipis, tekanan gas yang sedang, material padat, gas, serta cairan. Letusan tipe ini tidak terlalu kuat, tetapi bersifat terus menerus, berlangsung dalam jangka waktu yang lama, serta tak dapat diperkirakan kapan berakhir.

c). Icelandic

Biasanya melibatkan letusan melalui rekahan, mengeluarkan aliran magma basalt bebas, tenang, gas sedikit, menghasilkan volume lava yang besar, lava mengalir seperti lapisan pada daerah yang luas, sehingga membentuk plato.

d). Pelean

Letusan tipe ini dinamai sesuai dengan letusan Gunung Pelee di Pulau Martinique, kawasan Karibia, tahun 1902. Jenis erupsi ini menyerupai letusan Vulkanian, hanya saja terdapat campuran gabungan lava dan tingkat gas yang tinggi. Saat erupsi, lava tersebut cenderung encer dan mengalir dengan kecepatan tinggi sehingga sangat membahayakan.

e). Vulcanian

Adalah erupsi magmatis berkomposisi andesit basaltic sampai dasit, umumnya melontarkan bom-bom vulkanik atau bongkahan di sekitar kawah dan sering disertai bom kerak-roti atau permukaannya retak-retak. Letusan tipe ini dicetuskan Guiseppe Mercalli yang menyaksikan letupan di Pulau Vulcano, sebelah utara Italia, tahun 1888-1890, dan Sakurajima (Jepang, 1985).

f). Plinian

Merupakan letusan paling eksplosif. Material yang dilontarkan bisa berupa gas dan abu setingi 50 kilometer dengan kecepatan beberapa ratus meter per detik. Biasanya erupsi tipe Plinian berwujud seperti jamur. Letusan jenis ini dinamai sesuai dengan sejarawan Romawi, Pliny, yang mencatat sejarah meletusnya Gunung Vesuvius pada tahun 79 Sesudah Masehi, Krakatau (Indonesia, 1883) dan Tambora (Indonesia, 1815).

Related image

 

Daftar Pustaka

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 2009, Potensi Ancaman Bencana, BNPB diakses dari http://www.bnpb.go.id/page/read/6/potensi-ancaman-bencana 27 Februari 2018.

Mulya, Agung. 2004. Pengantar Ilmu Kebumian. Penerbit: Pustaka Setia, Bandung.

Nursa’ban, Muhammad. 2006. Vulkanisme. Universitas Negri Yogyakarta. Yogyakarta.

 
Comments Off on Materi Analisis Lanskap Terpadu M-3

Posted in Analisis Lanskap Terpadu

 

Materi Analisis Lanskap Terpadu M-2

21 Feb

Dinamika dan Pembentukan Bumi

Related image

Teori Pembentukan Bumi

Menurut Noor (2014), berikut merupakan teori pembentukan bumi, antara lain:

1. Teori Kontraksi

Teori ini mengemukakan bahwa kerak bumi mengalami pengerutan karena proses pendinginan di bagian dalam bumi akibat konduksi panas.

2. Teori Laurasia-Gondwana

Mula- mula ada dua benua yang berlokasi di kedua kutub bumi, kemudian keduanya bergerak perlahan-lahan ke equator kemudian terpecah menjadi beberapa benua seperti yang ada sekarang.

3. Teori Lempeng Tektonik

Teori ini menyatakan bahwa kerak bumi & litosfer yang mengapung di atas astenosfer dianggap satu lempeng yang saling berhubungan.

4. Teori Konveksi

Terdapat adanya aliran konveksi yg merambat ke dalam kerak bumi menyebabkan batuan kerak bumi menjadi lunak dan tidak rata.

5. Teori Pergeseran Dasar Laut

Penelitian topografi dasar laut menemukan bukti-bukti tentang terjadinya pergeseran dasar laut dari arah punggung dasar ke kedua sisinya.

6. Teori Continental Drift

Teori ini mengemukakan bahwa benua bergeser secara perlahan ke arah ekuator & barat hingga mencapai posisi seperti sekarang.

  1. Kesamaan garis pantai Amerika bagian timur dengan Afrika bagian barat. Jika disatukan kembali seperti puzzle maka pasti akan cocok.
  2. Hewan yang ditemukan di kedua benua memiliki karakteristik yang sama.
  3. Fosil tanaman di India, Afrika Selatan, Australia, Antartika dan Amerika Selatan memiliki kesamaan.
  4. Fosil hewan yang sama juga ditemukan di benua tadi seperti Lystosaurus, Mesosaurus dan Cynognathus.
  5. Ada kesamaan struktur dan jenis batuan di Amerika selatan dan Afrika barat.

Image result for teori pembentukan muka bumi

2. Tenaga Endogen Pembentukan Bumi

Dalam proses pembentukan bumi terdapat tenaga yang membantu untuk melakukan perubahan maupun pembentukan, salah satu contohnya adalah Tektonisme, tektonisme merupakan peristiwa yang menyebabkan perubahan bentuk kulit bumi. Menurut Abdoel (2017), berikut pengertian dari gerak gerak tektonik

a. Gerak epirogenesa

Gerak epirogenesa adalah gerak atau pergeseran kulit bumi yang yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama dan meliputi daerah yang luas sehingga menyebabkan naik- turunnya daratan. Epirogenesa terbagi menjadi 2 yaitu epirogenesa positif dan negatif. Epirogenesa positif menyebabkan turunnya daratan sehingga permukaan laut naik. Sedangkan epirogenesa negatif adalah gerak naiknya daratan sehingga permukaan laut terlihat turun.

b. Gerak orogenesa

Gerak orogenesa merupakan gerak yang menyebabkan terjadinya relief muka bumi daratan seperti gunung dan pegunungan. Gerak ini relatif lebih cepat dari pada gerak epirogenesa. Gerak orogenesa juga menyebabkan tekanan pada kulit bumi secara vertikal maupun horizontal sehingga menyebabkan dislokasi atau perpindahan letak lapisan kulit bumi, seperti pembentukan horst dan graben.

Menurut Burunda (1990), Struktur pelapisan yang disebabkan oleh gerak diastropik antara lain:

1. Pelengkungan (warping)

Pelengkungan merupakan bentukan lahan karena gerak vertikal yang tidak merata pada suatu daerah, khususnya yang berbatuan sedimen akan menghasilkan perubahan struktur lapisan yang mulanya horisontal menjadi melengkung. Jika melengkung ke atas menjadi kubah (dome), jika ke bawah menjadi cekungan (basin).

2. Pelipatan (fold)

Pelipatan merupakan bentukan permukaan bumi yang terjadi karena tekanan yang lemah, tetapi berlangsung secara terus menerus. Puncak lipatan disebut antiklinal dan lembah lipatan disebut sinklinal.

3. Retakan (joint)

Patahan terjadi ketika kulit bumi yang bersifat padat dan keras mengalami retak atau patah pada saat terjadi gerakan orogenesa. Gerakan ini menimbulkan terjadinya patahan dengan gaya tekan (compression) dan gaya regangan (tension).

4. Pengangkatan (fault)

Bentuk dari suatu lahan tergantung dari aktivitas bumi seperti bahan induk, relief, susunan lapisan bumi, dan topografi.

Related image

 

3. Terbentuknya “Ring of Fire

Image result for ring of fire

Cincin Api Pasifik atau Lingkaran Api Pasifik (bahasa Inggris: Ring of Fire) adalah daerah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik. Daerah ini berbentuk seperti tapal kuda biasa disebut sebagai sabuk gempa Pasifik. Indonesia masuk ke dalam Jalur Pasifik Ring of Fire yang merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di dunia. Cincin Api Pasifik ini membentang di antara subduksi maupun pemisahan Lempeng Pasifik dengan Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, Lempeng Amerika Utara dan Lempeng Nazca yang bertabrakan dengan lempeng Amerika Selatan. Jalur ini membentang mulai dari pantai barat Amerika Selatan, terus ke pantai barat Amerika Utara, lalu melingkar ke Kanada, semenanjung Kamsatschka, Jepang, melewati Indonesia, Selandia baru dan kepulauan di Pasifik Selatan.

 

 

Daftar Pustaka

Abdoel, Rauf. 2017. Pengertian Hasil Tektonisme (Epirogenesa, Orogenesa, Lipatan, dan Patahan): Kubangan Ilmu.

Buranda, JP.1990.Geologi Umum.Malang. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang

Noor, Djauhari. 2014. Pengantar Geologi. Yogyakarta: Deepublish Publisher.

 
Comments Off on Materi Analisis Lanskap Terpadu M-2

Posted in Analisis Lanskap Terpadu

 

Studi Kasus Bencana di Malang Raya dan Analisis Laskap

14 Feb

1. Kasus Kebencanaan

Hujan Deras Lima Jam, Tanah Logsor dan Banjir Serang Batu

Sabtu, 18-11-2017 – 20:59 WIB

Image result for hujan deras lima jam tanah longsor danbanjir

Salah satu kejadian banjir di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo terjadi pukul 15.00 (Foto: Pudalops PB BPBD Kota Batu for BatuTIMES)

JATIMTIMES, KOTA BATU – Hujan deras yang terjadi di Kota Batu selama lima jam mengakibatkan beberapa bencana di beberapa desa, Sabtu (18/11/2017). Yakni di Kelurahan Temas, Kecamatan Batu dan Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo.

Seperti tanah longsor pukul 15.10 WIB tepatnya di Jalan Wukir Gang 10 Kelurahan Temas, Kecamatan Batu. Hujan deras menyebabkan tebing setinggi lima meter longsor menimpa rumah. Kemudian lumpur mengalir ke jalan raya setinggi 10 cm dan membahayakan pengguna jalan raya khususnya kendaraan roda dua.

Adanya kejadian tersebut, tim BPBD Kota Batu, Garda Relawan, perangkat desa dan warga sekitar langsung bertindak dengan membuat saluran air dan pembersihan material lumpur.

Kemudian kejadian banjir pukul 15.00 WIB di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo. Penyebabnya saat hujan deras mengakibatkan gorong-gorong tidak mampu memuat luapan air. Sehingga luapan air meluber ke perumahan dan pertanian warga. Akibatnya satu musala dan tiga rumah warga tergenang air.

Kemudian area pertanian tanaman salad, jagung, bawang merah milik warga dengan luas kurang lebih 800 meter persegi rusak terendam air. Tim BPBD Kota Batu, Garda Relawan, perangkat desa dan warga sekitar melakukan penyekatan luberan air dengan karung yang berisi pasir.

Di tempat lain terjadi bencana banjir, tepatnya pukul 15.00-19.30 WIB lokasinya di Jalan Wilis Gg.V RT 06 RW 08, Kelurahan Sisir Kecamatan Batu. Kronologinya, hujan deras yang terjadi membuat luapan air hingga 50 centimeter. Yang berimbas empat rumah tergenang air.

Kemudian tim BPBD Kota Batu, Garda Relawan, perangkat desa dan warga sekitar membuat dan pembersihan saluran air yang tersumbat sampah.

Ismu Buana Supervisor Pusdalops PB BPBD Batu mengatakan dalam kurun waktu lima jam ada tiga kejadian bencana. Mengetahui informasi dari warga sekitar tim BPBD Kota Batu langsung menuju lokasi untuk membantu masalah tersebut.

BPBD Kota Batu mengimbau kepada warga Kota Batu, jika terdapat bencana bisa langsung informasikan melalui RT/RW atau pihak desa. “Kalau ada musibah bisa diinformasikan kepada RT/RW atau desa setempat atau langsung menghubungi BPBD Kota Batu, nanti kita pasti akan datang ke lokasi,” ungkap Ismu.

2. Deskripsi Lanskap Pada Daerah Kasus Bencana

Dalam kasus yang diambil, lokasi bencana bertepatan pada daerah Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo. Kota Batu, wilayah Kota Batu sendiri secara geologis tersusun atas endapan gunung api yang aktif pada masa lampau. Secara berurutan (dimulai yang tertua), tata urutan stratigrafi tersusun atas: 1) Batuan Gunung Api Anjosmoro Tua, tersusun atas breksi gunung api, tufbreksi, tuf dan lava. 2) Batuan Gunung Api Kwarter Bawah, Batuan ini terbentuk hasil aktifitas Gunung Api Anjosmoro muda dan terdir atas breksi gunung api, tuf breksi, lava dan aglomerat. 3) Batuan Gunung Api Kwarter Tengah, terbentuk dari aktifitas Gunung Api Kawi-Butak dan aktifitas Gunung Api Ringgit yang terjadi di masa kwarter tengah. 4) Batuan Gunung Api Arjuno/ Welirang, terbentuk karena aktifitas Gunung Arjuno dan Gunung Welirang yang terjadi di masa kuarter dan tersusun oleh breksi gunung api, lava, breksi tufan dan tuf. 5) Batuan Gunung Api Kwarter Atas, terutama dibentuk oleh aktifitas Gunung Panderman pada masa kuarter atas dan tersusun oleh breksi gunung api, lava, tuf, breksi tufan, aglomerat dan lahar. Daerah yang termasuk daerah batuan gunung api kuarter atas atau Panderman ini adalah, meliputi: kelurahan Ngaglik, kelurahan Sisir, kelurahan Temas, desa Beji, desa Torongrejo, desa Mojorejo, desa Dadaprejo, desa Pendem, desa Oro-oro Ombo, sebagian utara desa Tlekung, kelurahan Songgokerto, desa Pesanggrahan, desa Junrejo.

Desa Torongrejo menurut Hartono (2016), termasuk bekas endapan batuan gunung api Kwarter Atas, yaitu Gunung Panderman sehingga bentukan lahan (landform) dari desa tersebut adalah landform vulkanik dapat disebabkan oleh proses vulkanisme yang berbukit/lereng. Selain dari proses vulkanisme, geomorfologi kota batu yang sering terjadi adalah erosi. Erosi merupakan salah satu proses geomorfologi yang sering terjadi di Batu. Proses ini disebabkan oleh berbagai faktor. Erosi merupakan peristiwa yang sering berdampak negatif bagi masyarakat. Seperti halnya erosi tanah akan berpengaruh negatif terhadap produktivitas lahan yang meliputi kurangnya ketersediaan air, nutrisi, bahan organik, dan menghambat kedalaman perakaran. Sehingga kejadian banjir dari kasus diatas sangat dimungkinkan selain didukung oleh bentukan lahan yang fisiografinya berbukit/berlereng ditambah erosi yang terjadi pada lahan tersebut.

3. Mengapa Malang Raya Dikelilingi Oleh Gunung Api?

Pulau Jawa memiliki banyak gunung api, dari sebelah barat hingga Ujung timur berjejer gunung-gunung api. Bahkan sampai saat ini masih banyak gunung-gunung api tersebut yang aktif seperti Gunung Papandayan di Jawa Barat, Gunung Merapi di Jawa Tengah, dan Gunung Semeru di Jawa Timur. Terbentuknya gunung-gunung api di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara akibat dari adanya proses tabrakan antara lempeng Australia (dari sebelah selatan) dengan lempeng Eurasia (dari sebelah utara). Tabrakan kedua lempeng tersebut tepat berada sebelah selatan Pulau Jawa. Akibat tabrakan antara lempeng Australia dan Eurasia membentuk palung laut di sebelah selatan dan membentuk gunung api di sebelah utaranya. Lempeng Australia bergeser ke utara dan menabrak lempeng Eurasia yang bergeser ke selatan.

Lempeng Australia yang ada di selatan Pulau Jawa masuk ke dalam. Sementara, lempeng Eurasia yang ada di sebelah utaranya terangkat. Lempeng Australia yang masuk ke dalam bumi mengalami pelelehan (melting). Setelah meleleh menjadi magma. Kemudian magma tersebut naik membentuk kantong-kantong magma. Kantong-kantong magma tersebut yang nantinya membentuk gunung api. Tabrakan kedua lempeng tersebut terus terjadi sejak dulu kala. Sehingga, magma yang terbentuk dari hasil tabrakan naik ke atas. Hasilnya terbentuk jalur-jalur gunung api. Gunung-gunung di sepanjang Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara itu produk dari tabrakan antara lempeng Australia dengan lempeng Eurasia.

Malang sendiri adalah sebuah kawasan yang terletak pada bagian tengah selatan wilayah Propinsi Jawa Timur. Kondisi topografi Kabupaten Malang merupakan daerah dataran tinggi yang dikelilingi oleh beberapa gunung dan dataran rendah atau daerah lembah pada ketinggian 250-500 meter diatas perrnukaan laut (mdpl) yang terletak di bagian tengah wilayah Kabupaten Malang. Daerah dataran tinggi merupakan daerah perbukitan kapur (Pegunungan Kendeng) di bagian selatan pada ketinggian 0-650 mdpl, daerah lereng Tengger-Semeru di bagian timur membujur dari utara ke selatan pada ketinggian 500-3600 mdpl dan daerah lereng Kawi­ Arjuno di bagian barat pada ketinggian 500-3.300 mdpl.

 

Referensi

Angga. 2017. Hujan Deras Lima Jam, Tanah Logsor dan Banjir Serang Batu. http://www.jatimtimes.com/baca/162002/20171118/205913/hujan-deras-lima-jam-tanah-logsor-dan-banjir-serang-batu/ Diakses pada Senin, 12 Februari 2018 pukul 18.56

Hartono, Rudi. 2016. Identifikasi Bentuk Erosi Tanah Melalui Interpretasi Citra Google Earth Di Wilayah Sumber Brantas Kota Batu. Jurnal Pendidikan Geografi Vol. 21, No 1.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. http://www.vsi.esdm.go.id/ Diakses online pada tanggal 12 Februari 2018 pukul 19.23

 

 
Comments Off on Studi Kasus Bencana di Malang Raya dan Analisis Laskap

Posted in Analisis Lanskap Terpadu