RSS
 

Studi Kasus Bencana di Malang Raya dan Analisis Laskap

14 Feb

1. Kasus Kebencanaan

Hujan Deras Lima Jam, Tanah Logsor dan Banjir Serang Batu

Sabtu, 18-11-2017 – 20:59 WIB

Image result for hujan deras lima jam tanah longsor danbanjir

Salah satu kejadian banjir di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo terjadi pukul 15.00 (Foto: Pudalops PB BPBD Kota Batu for BatuTIMES)

JATIMTIMES, KOTA BATU – Hujan deras yang terjadi di Kota Batu selama lima jam mengakibatkan beberapa bencana di beberapa desa, Sabtu (18/11/2017). Yakni di Kelurahan Temas, Kecamatan Batu dan Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo.

Seperti tanah longsor pukul 15.10 WIB tepatnya di Jalan Wukir Gang 10 Kelurahan Temas, Kecamatan Batu. Hujan deras menyebabkan tebing setinggi lima meter longsor menimpa rumah. Kemudian lumpur mengalir ke jalan raya setinggi 10 cm dan membahayakan pengguna jalan raya khususnya kendaraan roda dua.

Adanya kejadian tersebut, tim BPBD Kota Batu, Garda Relawan, perangkat desa dan warga sekitar langsung bertindak dengan membuat saluran air dan pembersihan material lumpur.

Kemudian kejadian banjir pukul 15.00 WIB di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo. Penyebabnya saat hujan deras mengakibatkan gorong-gorong tidak mampu memuat luapan air. Sehingga luapan air meluber ke perumahan dan pertanian warga. Akibatnya satu musala dan tiga rumah warga tergenang air.

Kemudian area pertanian tanaman salad, jagung, bawang merah milik warga dengan luas kurang lebih 800 meter persegi rusak terendam air. Tim BPBD Kota Batu, Garda Relawan, perangkat desa dan warga sekitar melakukan penyekatan luberan air dengan karung yang berisi pasir.

Di tempat lain terjadi bencana banjir, tepatnya pukul 15.00-19.30 WIB lokasinya di Jalan Wilis Gg.V RT 06 RW 08, Kelurahan Sisir Kecamatan Batu. Kronologinya, hujan deras yang terjadi membuat luapan air hingga 50 centimeter. Yang berimbas empat rumah tergenang air.

Kemudian tim BPBD Kota Batu, Garda Relawan, perangkat desa dan warga sekitar membuat dan pembersihan saluran air yang tersumbat sampah.

Ismu Buana Supervisor Pusdalops PB BPBD Batu mengatakan dalam kurun waktu lima jam ada tiga kejadian bencana. Mengetahui informasi dari warga sekitar tim BPBD Kota Batu langsung menuju lokasi untuk membantu masalah tersebut.

BPBD Kota Batu mengimbau kepada warga Kota Batu, jika terdapat bencana bisa langsung informasikan melalui RT/RW atau pihak desa. “Kalau ada musibah bisa diinformasikan kepada RT/RW atau desa setempat atau langsung menghubungi BPBD Kota Batu, nanti kita pasti akan datang ke lokasi,” ungkap Ismu.

2. Deskripsi Lanskap Pada Daerah Kasus Bencana

Dalam kasus yang diambil, lokasi bencana bertepatan pada daerah Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo. Kota Batu, wilayah Kota Batu sendiri secara geologis tersusun atas endapan gunung api yang aktif pada masa lampau. Secara berurutan (dimulai yang tertua), tata urutan stratigrafi tersusun atas: 1) Batuan Gunung Api Anjosmoro Tua, tersusun atas breksi gunung api, tufbreksi, tuf dan lava. 2) Batuan Gunung Api Kwarter Bawah, Batuan ini terbentuk hasil aktifitas Gunung Api Anjosmoro muda dan terdir atas breksi gunung api, tuf breksi, lava dan aglomerat. 3) Batuan Gunung Api Kwarter Tengah, terbentuk dari aktifitas Gunung Api Kawi-Butak dan aktifitas Gunung Api Ringgit yang terjadi di masa kwarter tengah. 4) Batuan Gunung Api Arjuno/ Welirang, terbentuk karena aktifitas Gunung Arjuno dan Gunung Welirang yang terjadi di masa kuarter dan tersusun oleh breksi gunung api, lava, breksi tufan dan tuf. 5) Batuan Gunung Api Kwarter Atas, terutama dibentuk oleh aktifitas Gunung Panderman pada masa kuarter atas dan tersusun oleh breksi gunung api, lava, tuf, breksi tufan, aglomerat dan lahar. Daerah yang termasuk daerah batuan gunung api kuarter atas atau Panderman ini adalah, meliputi: kelurahan Ngaglik, kelurahan Sisir, kelurahan Temas, desa Beji, desa Torongrejo, desa Mojorejo, desa Dadaprejo, desa Pendem, desa Oro-oro Ombo, sebagian utara desa Tlekung, kelurahan Songgokerto, desa Pesanggrahan, desa Junrejo.

Desa Torongrejo menurut Hartono (2016), termasuk bekas endapan batuan gunung api Kwarter Atas, yaitu Gunung Panderman sehingga bentukan lahan (landform) dari desa tersebut adalah landform vulkanik dapat disebabkan oleh proses vulkanisme yang berbukit/lereng. Selain dari proses vulkanisme, geomorfologi kota batu yang sering terjadi adalah erosi. Erosi merupakan salah satu proses geomorfologi yang sering terjadi di Batu. Proses ini disebabkan oleh berbagai faktor. Erosi merupakan peristiwa yang sering berdampak negatif bagi masyarakat. Seperti halnya erosi tanah akan berpengaruh negatif terhadap produktivitas lahan yang meliputi kurangnya ketersediaan air, nutrisi, bahan organik, dan menghambat kedalaman perakaran. Sehingga kejadian banjir dari kasus diatas sangat dimungkinkan selain didukung oleh bentukan lahan yang fisiografinya berbukit/berlereng ditambah erosi yang terjadi pada lahan tersebut.

3. Mengapa Malang Raya Dikelilingi Oleh Gunung Api?

Pulau Jawa memiliki banyak gunung api, dari sebelah barat hingga Ujung timur berjejer gunung-gunung api. Bahkan sampai saat ini masih banyak gunung-gunung api tersebut yang aktif seperti Gunung Papandayan di Jawa Barat, Gunung Merapi di Jawa Tengah, dan Gunung Semeru di Jawa Timur. Terbentuknya gunung-gunung api di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara akibat dari adanya proses tabrakan antara lempeng Australia (dari sebelah selatan) dengan lempeng Eurasia (dari sebelah utara). Tabrakan kedua lempeng tersebut tepat berada sebelah selatan Pulau Jawa. Akibat tabrakan antara lempeng Australia dan Eurasia membentuk palung laut di sebelah selatan dan membentuk gunung api di sebelah utaranya. Lempeng Australia bergeser ke utara dan menabrak lempeng Eurasia yang bergeser ke selatan.

Lempeng Australia yang ada di selatan Pulau Jawa masuk ke dalam. Sementara, lempeng Eurasia yang ada di sebelah utaranya terangkat. Lempeng Australia yang masuk ke dalam bumi mengalami pelelehan (melting). Setelah meleleh menjadi magma. Kemudian magma tersebut naik membentuk kantong-kantong magma. Kantong-kantong magma tersebut yang nantinya membentuk gunung api. Tabrakan kedua lempeng tersebut terus terjadi sejak dulu kala. Sehingga, magma yang terbentuk dari hasil tabrakan naik ke atas. Hasilnya terbentuk jalur-jalur gunung api. Gunung-gunung di sepanjang Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara itu produk dari tabrakan antara lempeng Australia dengan lempeng Eurasia.

Malang sendiri adalah sebuah kawasan yang terletak pada bagian tengah selatan wilayah Propinsi Jawa Timur. Kondisi topografi Kabupaten Malang merupakan daerah dataran tinggi yang dikelilingi oleh beberapa gunung dan dataran rendah atau daerah lembah pada ketinggian 250-500 meter diatas perrnukaan laut (mdpl) yang terletak di bagian tengah wilayah Kabupaten Malang. Daerah dataran tinggi merupakan daerah perbukitan kapur (Pegunungan Kendeng) di bagian selatan pada ketinggian 0-650 mdpl, daerah lereng Tengger-Semeru di bagian timur membujur dari utara ke selatan pada ketinggian 500-3600 mdpl dan daerah lereng Kawi­ Arjuno di bagian barat pada ketinggian 500-3.300 mdpl.

 

Referensi

Angga. 2017. Hujan Deras Lima Jam, Tanah Logsor dan Banjir Serang Batu. http://www.jatimtimes.com/baca/162002/20171118/205913/hujan-deras-lima-jam-tanah-logsor-dan-banjir-serang-batu/ Diakses pada Senin, 12 Februari 2018 pukul 18.56

Hartono, Rudi. 2016. Identifikasi Bentuk Erosi Tanah Melalui Interpretasi Citra Google Earth Di Wilayah Sumber Brantas Kota Batu. Jurnal Pendidikan Geografi Vol. 21, No 1.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. http://www.vsi.esdm.go.id/ Diakses online pada tanggal 12 Februari 2018 pukul 19.23

 

 

Studi Kasus Bencana Alam di Malang Raya dan Metode Pemetaan

13 Feb

Kota Malang Terancam Banjir Akibat Degradasi Lahan Pertanian

Image result for Kota Malang Terancam Banjir

 

Kejadian banjir yang terjadi baik di Kota Malang maupun di lahan pertanian yang ada di Kota Malang terjadi akibat adanya perubahan atau alihfungsi dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) dimana RTH memiliki fungsi sebagai daerah resapan air (Oktavia, 2016). Sehingga ketika daerah resapan hilang akibat dari alihfungsi lahan maka tidak menutup kemungkinan beberapa tahun ke depan Kota Malang akan terancam banjir. Menurut Satriawan (2012), Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan tempat tumbuhnya vegetasi-vegetasi, apabila dialih fungsikan maka vegetasi yang merupakan penutup tanah untuk mengurangi dampak dari hujan akan menghilang sehingga akan mengakibatkan bencana seperti erosi dan banjir. Hal ini didukung pula oleh Irwan (2005) yang menyatakan bahwa faktor utama banjir adalah hujan dengan intensitas tinggi dan berlangsung lama, sehingga apabila tidak ada daerah resapan air maka volume air akan terus meningkat dan terjadi banjir.

Dalam upaya untuk mengantisipasi banjir, perlu adanya kajian mengenai kerentanan daerah sering terkena banjir. Pemetaan daerah rawan tergenang banjir perlu dilakukan pemerintah agar dapat mengambil kebijakan yang tepat dalam menanggulai banjir serta mengurangi kerugian yang dialami. Metode skoring adalah sebuah metode yang menggunakan skor terhadap masing-masing kategori untuk menentukan tingkat kemampuannya dalam kasus banjir adalah kemampuan merusak. Menurut Sholahuddin (2016), penggunaan metode soring mampu memberikan pilihan baik dalam hal pengambilan kebijakan maupun pengantisipasian wilayah rawan banjir.

Menurut Sholahuddin (2016), tahapan dalam pemetaan dengan menggunakan metode skoring dapat dilakukan dengan melakukan pengolahan data curah hujan dengan analisis keruangan berupa interpolasi terhadap data curah hujan dari setiap wilayah kecamatan. Kemudian pengolahan data ketinggian wilayah rata-rata per kecamatan. Pengolahan data sungai dan luas daerah resapan air. Setelah itu, dilakukan analisis atribut berupa pemberian nilai skor untuk masing-masing parameter banjir dan nilai bobot untuk tiap kelas kerawanan. Dari hasil analisis atribut, dilanjutkan dengan analisis keruangan berupa tumpang susun peta-peta hasil analisis atribut, dan analisis kelas kerawanan banjir. Setelah itu, didapatkan peta dengan skoring daerah rawan terkena banjir, diharapkan pemerintah dapat mengambil kebijakan dan melakukan antisipasi setelah didapatkannya peta derah rawan banjir.

 

Daftar Pustaka

Irwan, Djamal. 2005. Tantangan Lingkungan & Lansekap Hutan Kota. Jakarta. Bumi Aksara.

Satriawan, Halus dan F. Zahrul. 2012. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. Yogyakarta. Deepublish Publisher.

Solahuddin, Muhamad. 2016. SIG Untuk Memetakan Daerah Banjir Dengan Metode Skoring dan Pembobotan (Studi Kasus Kabupaten Jepara). Fakultas Ilmu Komputer Universitas Dian Nuswantoro. Semarang.

Oktavia Hanum. 2016. Degradasi Lahan Pertanian Kota Malang Terancam Banjir. Diakses Online pada 12 Februari 2018. http://www.rri.co.id/post/berita/242758/daerah/degradasi _lahan_pertanian_kota_malang_terancam_banjir.html