TUGAS TERSTRUKTUR ANALISIS LANSKAP TERPADU 2018

February 14th, 2018

TUGAS TERSTRUKTUR ANALISIS LANDSKAP TERPADU

“Analisis Lansekap Komplek Gunung Arjuna dan Klipping Bencana Alam di Malang Raya”

 

Disusun Oleh:

Kelompok V

                                   Clara Fetriza                       155040200111142

                                   Dita Nurul Khurniawati      155040200111098

                                   Eva Merianti Sitorus           155040201111237

                                  Mardiana Putri A.               155040201111300

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

 

 

TUGAS KULIAH ANALISIS LANSEKAP TERPADU

  1. Mengapa di Malang dikelilingi banyak gunung?

Gunung api (vulkan) merupakan suatu bentuk timbulan yang ada di muka bumi, yang pada umumnya berupa kerucut raksasa, kubah, kerucut terpancung ataupun bukit yang disebabkan karena adanya penerobosan magma ke permukaan bumi.

Sumber: http://file.upi.edu/

Umumnya, pada suatu gunung api terdapat pada jalur-jalur tertentu yang ada di muka bumi, diantaranya:

  • Pada jalur punggungan tengah samudera
  • Pada jalur pertemuan dua buah lempeng kulit bumi
  • Pada titik-titik panas di muka bumi tempat keluarnya magma di benua maupun di samudera.


Sumber: http://plate tectonics-Wikipedia, the free encyclopedia

Indonesia sendiri berada pada pertemuan antara Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia. Pergerakan diantara dua lempeng ini akan mempengaruhi pembentukan morfologi daratan. Lempeng ini bergerak sepanjang beberapa sentimeter setiap tahunnya. Lempeng ini terdiri atas lempeng daratan yang banyak disusun oleh granit, sedangkan lempeng samudra banyak disusun oleh basalt. Lempeng Eurasia merupakan lempeng daratan sedangkan lempeng Indo-Australia merupakan lempeng samudra, pergerakan  kedua lempeng ini akan mengarah pada lempeng yang lebih ringan yaitu Lempeng Eurasia. Lempeng Indo-Australia akan bergerak mendorong Lempeng Eurasia di Selatan Pulau Jawa sehingga mempengaruhi bentukan daratannya. Tumbukan tersebut mengakibatkan terjadinya tekanan sehingga mendorong lempeng Eurasia masuk lebih dalam mendekati inti bumi. Inti bumi yang panas ini menyebabkan lempeng disekitarnya mencair dan mengeluarkan gas, aktivitas tersebut menyebabkan tekanan yang kuat ke permukaan bumi dan membentuk gunung api. Serangkaian aktivitas tersebutlah yang  menyebabkan, Malang berada di antara gunung-gunung berapi, seperti Gunung Kelud, Gunung Kawi, Gunung Bromo, Gunung Semeru. Selain membentuk gunung berapi, lempeng yang mencair dan mengeluarkan gas namun dengan tekanan yang lebih rendah, menyebabkan terbentuknya pegunungan di sepanjang Pantai Selatan Pulau Jawa.

  1. Analisis Lansekap Komplek Gunung Arjuna, Welirang.

Permukaan bumi selalu mengalami perkembangan dan perubahan bentuk dari waktu ke waktu sebagai akibat adanya proses geomorfologi baik yang dikarenakan tenaga dari dalam (endogen) ataupun tenaga yang berasal dari luar (eksogen). Daerah Malang merupakan salah satu daerah dengan geomorfologi yang didominasi oleh adanya aktifitas vulkanik.Malang merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang terletak di bagian tengah propinsi Jawa Timur. Secara geografik, Malang terletak pada 112o17’10,90” hingga 112o57’00” Bujur Timur dan 7o44’55,11” hingga 8o26’35,45” Lintang Selatan (malangkabgoid, 2016). Malang dilalui oleh DAS Sumberbrantas yang dikelilingi oleh beberapa kompleks pegunungan volkanik yaitu Gunung Arjuno – Welirang di bagian timur laut, Gunung Anjasmoro di bagian barat laut dan Gunung Kawi Butak – Panderman di bagian barat daya. Berdasarkan adanya kompleks pegunungan volkanik tersebut, maka dapat diketahui bahwa sebagian besar wilayah Malang memiliki landform volkanik. Selain itu, dengan adanya bahan batuan yang tersusun berupa breksi gunung api, tuf breksi, lava, tuf dan aglomerat di sekitar DAS Sumberbrantas di daerah kota Batu juga menunjukkan bahwa landform yang terbentuk merupakan landform volkanik (Tim Pengampu Matakuliah Manajemen DAS, 2014).

Bentang lahan (lanskap) di beberapa daerah di Malang seperti pada toposekuen Gunung Anjasmoro memiliki berbagai macam bentuk lahan antara lain di Desa Ngebrong mempunyai bentuk lahan berupa perbukitan vulkan, Desa Jombok mempunyai bentuk lahan berupa lembah koluvial volkan, Desa Jabon mempunyai bentuk lahan berupa dataran intervolkan, Desa Ngantang bentuk lahannya berupa dataran volkan, dan juga Desa Selorejo yaitu dataran intervolkan (Rayes, et. al. 2014). Pada dasarnya, Gunung Arjuno–Welirang secara geomorfologi merupakan bagian dari kelompok Arjuno yang terletak di zona tengah Jawa Timur. Komplek pegunungan di zona tengah ini berturut-turut dari barat ke timur adalah Gunung Merbabu – Merapi, Gunung Lawu, Gunung Wilis, Gunung Arjuno, kelompok pegunungan Tengger, kelompok gunung Lamoongan, kelompok pegununggan Iyang, dan kelompok pegunungan Ijen. Bagian yang paling tua dari kelompok-kelompok gunung tersebut adalah Gunung Anjasmoro yang telah mengalami pengikisan yang awalnya memiliki puncak teratur menjadi tidak teratur dan banyak punggung gunung yang berbelok menuju ke berbagai arah, selain itu juga banyak lubang kepundan dan bentuk kerucut asli telah menghilang. Adanya patahan di bagian timur laut kelompok Gunung Arjuno mengakibatkan tumbuhnya beberapa gunung api baru menjadi satu rangkaian di sepanjang bidang patahan. Patahan yang terjadi relatif kecil yang mengakibatkan jalur rangkaian gunung api yang terbentuk relatif pendek dan wilayahnya relatif sempit. Akibatnya titik pusat erupsi yang terbentuk nampak terhubung satu sama lain. Oleh karena itu sekilas hanya terlihat seperti satu gunung yang memiliki beberapa puncak.Di sepanjang jalur patahan terdapat empat puncak utama yang memiliki kepundan sebagai titik pusat erupsi (Rayes, et. al. 2014).

Selain Puncak Arjuno yang berupa lava dome diantara dua kaldera, terdapat pula beberapa patahan minor serta pusat erupsi berupa kawah yang lebih kecil. Di sebelah utara Puncak Arjuno terdapat Puncak Kembar II yang kedudukannya berhimpitan dengan lava dome yang lebih rendah dibatasi oleh patahan minor dengan arah tegak lurus patahan utama. Lereng Gunung Arjuno tua diliputi oleh material debu vulkanik, sedangkan lereng Gunung Kembar II dan lava dome di sebelahnya didominasi oleh material hasil longsor vulkanik. Gunung Kembar II di puncaknya terdapat kawah yang masih aktif mengeluarkan solfatara.

Gunung Welirang muda merupakan bagian paling utara dari rangkaian kerucut vulkanik di sepanjang patahan Arjuno-Welirang. Puncak gunung ini mempunyai ketinggian 3156 mdpl, lebih rendah dari Puncak Arjuno yang berada pada ketinggian 3339 mdpl. Gunung Welirang Muda merupakan yang paling aktif diantara semua pusat erupsi pada patahan Gunung Arjuno-Welirang. Puncak Welirang berada diantara kawah besar yang sudah tidak terlalu aktif, namun masih mengeluarkan solfatara. Bahkan di puncaknya terdapat beberapa celah kecil yang menjadi lubang keluarnya asap solfatara. Meskipun kawah di dekat puncak solfataranya tidak terlalu banyak tetapi situasi di puncak sangat pengap dengan solfatara yang kemungkinan berasal dari kawah utama yang terletak di bagian paling utara.

  1. Berita Bencana Alam yang Terjadi di Malang
  • Berita 1

Kota Malang Dilanda Banjir dan Longsor

Jumat 15 Desember 2017 18:26 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Nur Aini

Sejumlah titik di Kota Malang mengalami banjir setelah diguyur hujan berintensitas tinggi sejak Jumat siang (15/12).

Foto: dok. Istimewa

REPUBLIKA.CO.ID,MALANG — Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur Kota Malang dari Jumat siang (15/12) menyebabkan beberapa titik mengalami longsor dan banjir. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang, J Hartono mengatakan, terdapat sekitar enam titik mengalami banjir di Kota Malang.

“Untuk sementara yang terpantau itu,” ujar Hartono saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (15/12).

Adapun keenam titik tersebut, yakni di Jalan Klaseman, Bondowoso, Surabaya, Suhat, Veteran, dan Gajayana. Berdasarkan laporan, ketinggian banjir ada yang mencapai satu meter seperti yang ada di Jalan Surabaya. Meski demikian, beberapa di antaranya diinformasikan sudah mulai surut.

Warga Kota Malang, Dwi Ayu Lestari mengaku sangat terganggu dengan adanya banjir tersebut. Selama perjalanan dari Jalan Sukun sampai Dinoyo, dia menemukan beberapa titik banjir.Bahkan, banjir yang berada di Jalan Surabaya berhasil membuat motor matic-nya terendam hingga bagian jok. “Itu sepinggang saya, tapi untungnya motor saya tidak mati walau agak susah juga bawanya,” ujar perempuan lulusan Universitas Negeri Malang ini.

Sebelumnya, pada Kamis (14/12) pukul 15.00 WIB juga telah terjadi longsor pada tebing tanah di Kediaman Ibu Kastin, Jalan Slamet Riyadi Gang 8, RW 3/RT 5 Kelurahan Oro-oro dowo, Kecamatan Klojen. Sekretaris RT, Sugiyono mengatakan, kejadian tersebut berawal karena hujan dengan intensitas tinggi yang mengakibatkan terjadinya empat kali longsor. “Yang pertama pada pukul 15.00 WIB kemudian disusul pukul 20.00 WIB longsoran besar dan terakhir Jum’at dini hari pukul 03.00 WIB” ujar Sugiyono.

Menurut Sugiyono, kejadian longsor tersebut berdampak pada dua rumah yang saat ini harus diungsikan untuk sementara waktu demi menghindari bencana susulan. Berdasarkan data yang ada, panjang longsoran sekitar 15 meter dengan tinggi sekitar delapan meter.Kejadian ini dilaporkan tidak memakan korban jiwa maupun luka.

Sebagai informasi, berdasarkan hasil laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang, pada pertengahan Desember 2017 terdapat total 10 kejadian bencana. Jika diakumulasikan sejak Januari hingga pertengahan Desember 2017, terdapat 169 kejadian bencana yang terjadi di Kota Malang. Dari data itu, 44 di antaranya tanah longsor, 28 puting beliung atau angin kencang, 15 banjir, 35 kebakaran, lima gempa bumi dan 42 peristiwa bencana lainnya.

  • Berita 2

Hujan Abu Vulkanik Bromo Guyur Probolinggo dan Malang

Yuswantoro

Senin, 7 Desember 2015 – 18:38 WIB

www.richard-seaman.com

Hujan abu vulkanik Gunung Bromo, mulai menyelimuti beberapa desa di KabupatenMalang dan Probolinggo. Gunung Bromo. (Dok Koran SINDO)

MALANG – Abu vulkanik Gunung Bromo, mulai menyelimuti beberapa desa di Kabupaten Malang.Meski statusnya masih siaga, tetapi peningkatan aktivitas vulkanik dalam beberapa hari terakhir, dampaknya sudah dirasakan masyarakat yang tinggal di sekitar gunung berpemandangan alam eksotis tersebut.

Desa-desa di sekitaran Gunung Bromo, yang mulai mengalami hujan abu vulkanik, di antaranya Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.Sementara, di wilayah Kabupaten Malang, abu vulkanik mulai mengguyur wilayah Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo.

Kepala Sub Seksi Penanggulangan Bencana PMI Kabupaten Malang, Mudji Utomo menyebutkan, hujan abu vulkanik mulai dirasakan masyarakat Desa Ngadas, pada hari Minggu malam 6 Desember.

“Hujan abu vulkanik, masih tipis, dan belum mengganggu aktivitas masyarakat.Abu vulkanik, sudah masuk ke permukiman penduduk, dan lahan pertanian,” ujarnya.Dia mengaku, telah membagikan masker ke penduduk desa. Sehingga apa bila setiap saat terjadi hujan abu pekat, masker bisa langsung digunakan untuk melindungi diri. Tercatat ada sebanyak 5.000 masker dibagikan di Desa Ngadas.

Selain itu, pembagian masker juga dilakukan di Desa Taji, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang.Ada sebanyak 2.000 masker yang telah dibagikan di desa tersebut.PMI Kabupaten Malang, menyiapkan 50.000 masker, untuk siaga menghadapi bencana letusan Gunung Bromo ini. Mereka juga menyiagakan 65 personel, dan dapur umum yang melayani 3.000 pengungsi.

Tercatat ada empat desa di wilayah Kabupaten Malang, yang rawan terdampak bahaya bencana letusan Gunung Bromo.Yakni Desa Duwet, Kecamatan Tumpang; Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo; Desa Kemiri dan Desa Taji di Kecamatn Jabung. Hujan abu vulkanik tipis, juga mulai dirasakan masyarakat Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo.

“Hujan abu di wikayah kami, masih terjadi tipis, dan melanda kawasan ladang milik masyarakat, belum masuk permukiman penduduk,” ujar Camat Sukapura, Bambang Julius Wijanarko.Hujan abu vulkanik ini, menurut laporan warga yang diterimanya, mulai terjadi pada hari Minggu malam 6 Desember.Untuk sementara, hujan abu vulkanik ini belum mengganggu tanaman pertanian, yang didominasi tanaman kentang dan wortel.

Tetapi, apabila hujan abu ini terjadi terus-menerus, dukawatirkan akan merusak tanaman pertanian tersebut. Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Bromo, Ahmad Subhan menyebutkan, saat ini tinggi kepulan asap kelabu kecokelatan yang keluar dari kawah, mengalami peningkatan. Apabila sebelumnya hanya mencapai antara 100-200 meter dari bibir kawah, sekarang sudah mencapai antara 200-400 meter dari bibir kawah.

Suara gemuruh dari dalam kawah, masih terus terdengar hingga ke pos pengamatan.“Untuk pantauan gempa tremor.Mencapai antara 3-16 milimeter (mm), tetapi dominan pada angka 6 mm. Masyarakat diminta tidak mendekat ke kawasan kaldera, karena bahaya hujan abu material vulkanik, dan lontaran batu pijar yang dapat terjadi setiap saat,” tandasnya

  • Berita 3

40 Persen Lahan Pertanian di Malang Kekeringan

Abdi Purnomo

Indramayu, Jawa Barat, 7 Juli 2015

Seorang petani menanam biji palawija di areal sawah yang mengering di Indramayu, Jawa Barat, 7 Juli 2015.Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Peternakan Kab.Indramayu, kekeringan mencapai 14.689 hektar dan terancam puso. ANTARA/Dedhez Anggara

TEMPO.CO, Malang – Kekeringan telah mencengkeram sekitar 40 persen areal pertanian yang ada di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Data itu dihimpun Dinas Pengairan serta Dinas Pertanian dan Perkebunan setempat dari total areal pertanian seluas 45.033 hektare di wilayah itu.

“Dari 18 ribu hektare lahan yang mengering itu, sekitar 10 ribu hektare dilaporkan sudah puso lantaran pasokan air dari jaringan irigasi menyusut drastis,” kata Kepala Dinas Pengairan Wahyu Hidayat, Kamis, 20 Agustus 2015.

Lahan pertanian terluas yang mengalami puso, sekitar 7.000 hektare, disebutkannya terdapat di Kecamatan Jabung.Selebihnya ada di empat kecamatan, yakni Sumbermanjing Wetan, Turen, Pakis, dan Gondanglegi.

Untuk melawan dampak dari musim kemarau tahun ini, Wahyu menambahkan, Pemerintah Kabupaten Malang mengoptimalkan pemanfaatan embung atau kolam penampungan air hujan sebagai sumber pengairan. Dia mengatakan, Kabupaten Malang mempunyai 38 embung dan 26 embung di antaranya diyakini bisa diandalkan untuk menghindarkan lahan pertanian yang kekeringan dari ancaman gagal panen alias puso.

“Tahun lalu banyak embung yang nyaris tidak berfungsi karena sedimentasi dan kemudian dikeruk sehingga mayoritas embung (26 embung) bisa berfungsi dengan baik,” kata Wahyu.

Kendati begitu, Dinas Pengairan akan mengecek kondisi seluruh embung. Sebanyak 12 embung yang tidak berfungsi akan diperbaiki dengan cara mengeruk limbah dan timbunan lumpur yang memenuhi embung agar kedalaman embung bisa pulih.

Wahyu mencontohkan, dari hasil pengerukan tahun lalu, embung di Desa Sukodono, Kecamatan Dampit, bisa berfungsi normal dengan daya tampung 35.904 meter kubik dan mampu melayani kebutuhan air bagi 3.735 jiwa. Embung di Desa Kutukan, Kecamatan Bantur, juga mampu menampung 22.304 meter kubik air dan mencukupi kebutuhan air bagi 1.785 jiwa.

Sedangkan embung di Desa Gedangankulon, Kecamatan Gedangan, yang berkapasitas 35.688 meter kubik sanggup memenuhi kebutuhan air bagi 3.844 jiwa.”Selain mengoptimalkan fungsi embung, Dinas Pengairan menerapkan sistem bergilir dalam penggunaan air atas dasar kesepakatan dengan petani,” kata Wahyu.

Upaya tersebut diapresiasi positif Zia’ Ulhaq, Wakil Ketua Komisi A (Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Perundang-Undangan) parlemen setempat.Bahkan, agar ketersediaan air bagi lahan pertanian mencukupi di tahun-tahun berikutnya, Zia’ menyarankan kepada Pemerintah Kabupaten Malang untuk membangun banyak embung baru.

“Cukup embung mini saja, tapi jumlahnya perlu diperbanyak.Kami kira ketersediaan lahan untuk pembangunannya masih mencukupi,” kata Zia’, bekas koordinator Badan Pekerja Malang Corruption Watch.

  • Berita 4

Longsor di Kabupaten Malang Sebabkan Gagal Panen

Christiyaningsih

Selasa, 12 July 2016 16.36 WIB

Sumber: http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/16/07/12/oa741d361-longsor-di-kabupaten-malang-sebabkan-gagal-panen

Foto: Antara/Andreas Firtri Atmoko

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG — Bencana longsor yang melanda Desa Lebakharjo Kecamatan Tirtoyudo Kabupaten Malang menyebabkan gagal panen.Sejumlah lahan pertanian di beberapa dusun terendam air sehingga mustahil dipanen.

Air merendam lahan pertanian seluas 18 hektar di Dusun Sukomaju B. Tujuh hektar lahan pembibitan pohon jabon pun tak luput dari terjangan air. Di Dusun Krajan 2, lahan siap panen seluas 12 hektar juga ikut terendam air.

“Petani yang lahannya terendam air diperkirakan gagal panen,” kata Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, Endah Parminingtyas, Selasa (12/7).

Hujan deras yang mengguyur Desa Lebakharjo telah menyebabkan longsor pada Ahad (10/7). Air sungai mulai meluap pada Ahad malam dan merendam rumah warga serta lahan pertanian. Selain itu, longsor yang terjadi di delapan titik menyebabkan terputusnya akses jalan Sonowangi – Lebakharjo selama sekitar delapan jam.

Bencana ini juga merusak saluran irigasi dan dam.BPBD Kabupaten Malang mencatat, sebanyak enam rumah rusak berat, 13 rumah rusak sedang, dan 76 rumah rusak ringan.

Hingga Selasa (12/7), para personil BPBD dibantu anggota TNI masih bergotong royong membersihkan puing-puing bekas longsoran. “Total kerugian masih dihitung oleh BPBD bersama SKPD terkait,” kata Endah.

TUGAS KULIAH

TUGAS TERSTRUKTUR SISL ATAU SIG UNTUK MSLB 2018

February 14th, 2018

TUGAS TERSTRUKTUR

MATA KULIAH SISL ATAU GIS UNTUK MSLB

“Studi Kasus Permasalahan di Bidang Pertanian di Malang”

 

Disusun oleh:

                                                          Nama              : Dita Nurul Khurniawati

                                                          NIM                : 155040200111098

                                                          Kelas               : C

 
 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

MINAT MANAJEMEN SUMBERDAYA LAHAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

 

40 Persen Lahan Pertanian di Malang Kekeringan

Seorang petani menanam biji palawija di areal sawah yang mengering di Indramayu, Jawa Barat, 7 Juli 2015. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Indramayu, kekeringan mencapai 14.689 hektar dan terancam puso. ANTARA/Dedhez Anggara
TEMPO.CO, Malang – Kekeringan telah mencengkeram sekitar 40 persen areal pertanian yang ada di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Data itu dihimpun Dinas Pengairan serta Dinas Pertanian dan Perkebunan setempat dari total areal pertanian seluas 45.033 hektare di wilayah itu.
“Dari 18 ribu hektare lahan yang mengering itu, sekitar 10 ribu hektare dilaporkan sudah puso lantaran pasokan air dari jaringan irigasi menyusut drastis,” kata Kepala Dinas Pengairan Wahyu Hidayat, Kamis, 20 Agustus 2015.
Lahan pertanian terluas yang mengalami puso, sekitar 7.000 hektare, disebutkannya terdapat di Kecamatan Jabung. Selebihnya ada di empat kecamatan, yakni Sumbermanjing Wetan, Turen, Pakis, dan Gondanglegi.
Untuk melawan dampak dari musim kemarau tahun ini, Wahyu menambahkan, Pemerintah Kabupaten Malang mengoptimalkan pemanfaatan embung atau kolam penampungan air hujan sebagai sumber pengairan. Dia mengatakan, Kabupaten Malang mempunyai 38 embung dan 26 embung di antaranya diyakini bisa diandalkan untuk menghindarkan lahan pertanian yang kekeringan dari ancaman gagal panen alias puso.
“Tahun lalu banyak embung yang nyaris tidak berfungsi karena sedimentasi dan kemudian dikeruk sehingga mayoritas embung (26 embung) bisa berfungsi dengan baik,” kata Wahyu.
Kendati begitu, Dinas Pengairan akan mengecek kondisi seluruh embung. Sebanyak 12 embung yang tidak berfungsi akan diperbaiki dengan cara mengeruk limbah dan timbunan lumpur yang memenuhi embung agar kedalaman embung bisa pulih.
Wahyu mencontohkan, dari hasil pengerukan tahun lalu, embung di Desa Sukodono, Kecamatan Dampit, bisa berfungsi normal dengan daya tampung 35.904 meter kubik dan mampu melayani kebutuhan air bagi 3.735 jiwa. Embung di Desa Kutukan, Kecamatan Bantur, juga mampu menampung 22.304 meter kubik air dan mencukupi kebutuhan air bagi 1.785 jiwa.
Sedangkan embung di Desa Gedangankulon, Kecamatan Gedangan, yang berkapasitas 35.688 meter kubik sanggup memenuhi kebutuhan air bagi 3.844 jiwa. “Selain mengoptimalkan fungsi embung, Dinas Pengairan menerapkan sistem bergilir dalam penggunaan air atas dasar kesepakatan dengan petani,” kata Wahyu.
Upaya tersebut diapresiasi positif Zia’ Ulhaq, Wakil Ketua Komisi A (Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Perundang-Undangan) parlemen setempat. Bahkan, agar ketersediaan air bagi lahan pertanian mencukupi di tahun-tahun berikutnya, Zia’ menyarankan kepada Pemerintah Kabupaten Malang untuk membangun banyak embung baru.
“Cukup embung mini saja, tapi jumlahnya perlu diperbanyak. Kami kira ketersediaan lahan untuk pembangunannya masih mencukupi,” kata Zia’, bekas koordinator Badan Pekerja Malang Corruption Watch.
Sumber:
https://nasional.tempo.co/read/693651/40-persen-lahan-pertanian-di-malang-kekeringan

TUGAS KULIAH