Skip to content

Wind-borne Disease for Plant Pathogen

2018 April 27
by Dina Farahdilla

Tugas Epidemi Penyakit Tumbuhan mengenai Wind-borne disease (Penyakit oleh penyebaran angin) pada Tanaman.


TUGAS KULIAH EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TUMBUHAN

Penyakit-penyakit tanaman yang disebabkan oleh wind-borne disease

 

 

Oleh:

                                                Dina Farahdilla                    145040207111029

                                                Dita Chairunnisa                145040201111036

                                                Fiereza Bayu Putra             145040201111042

                                                Rizky Nanda G.P                 145040200111110

 Kelas : A

 

 

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

 


I. Mycospherella fijinensis

  •  Deskripsi singkat

Jamur Mycospherella fijinensis adalah jamur patogen yang menyebabkan penyakit sigatoka hitam pada tanaman pisang. Penyakit ini dapat menyebabkan penurunan kecepatan fotosintesis dan transpirasi. Infeksi M. fijiensis juga menurunkan kandungan kloro l, sukrosa, pati, dan gula pada daun pisang yang mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan produktivitas tanaman (Rodriguez-Gaviria dan Cayon 2008). Penyakit sigatoka menyebabkan daun meranggas, buah yang berukuran kecil-kecil, menyebabkan bakal buah rontok, menurunkan kualitas buah, pematangan buah lebih awal, hingga produksi pisang menurun sampai 50% (Ploetz 2007).

  • Penyebab penyakit

M. fijiensis bereproduksi secara seksual dan aseksual, dan baik konidia dan askospora penting dalam penyebarannya. Konidia terutama ditularkan melalui air untuk jarak pendek, sementara askospora dibawa oleh angin ke tempat-tempat yang lebih terpencil (jarak yang dibatasi oleh kerentanan mereka terhadap sinar ultraviolet).

II. Cercospora coffeicola atau Mycosphaerella coffeicola

  • Deskripsi singkat

Jamur Cercospora coffeicola (atau Mycosphaerella coffeicola pada fase seksualnya) menyerang pada tanaman kopi, terutama pada bagian daun. Jamur ini menyebabkan penyakit becak daun pada daun kopi. Pada daun-daun terdapat becak bulat berwarna cokelat kemerahan atau cokelat tua, berbatas tegas dan agak mengendap. Pada becak yang tua terdapat pusat berwarna putih kelabu, yang sering tampak ditaburi tepung hitam dari konidium jamur.

  • Penyebab penyakit

Konidia Mycosphaerella coffeicola diproduksi sepanjang tahun dan masuk ke tanaman kopi melalui stomata di bagian bawah daun, atau melalui kutik epidermis di permukaan daun bagian atas. Pertumbuhan hifa inter dan intraseluler menciptakan lesi vegetatif yang mana terjadi sporulasi. Konidiofor dan konidia terbentuk di sini, dan kemudian disebarkan oleh angin atau oleh air. Spora dapat memercik dari satu daun ke daun lainnya, atau ke bunga dan buah yang menyebabkan infeksi sekunder. Jamur ini merupakan penyebab utama penyakit becak daun yang sering timbul pada tanaman kopi (Gaitan, 2015).

III. Rhizoctonia solani

  • Deskripsi singkat

Rhizoctonia solani adalah jamur penyebab patogen tanaman dengan kisaran inang yang luas dan distribusi di seluruh dunia. Di Indonesia, penyakit ini banyak menyerang tanaman semusim seperti sawi, kubis, kedelai, kentang dan masih banyak lagi. R. solani dapat menyerang bibit tanaman di bawah permukaan tanah, tetapi juga dapat menginfeksi polong, akar, daun, dan batang. Gejala Rhizoctonia yang paling umum adalah “dumping off“, atau kegagalan benih yang terinfeksi dalam berkecambah. R. solani dapat menginvasi benih sebelum ia berkecambah dan menyebabkan kemerahan sebelum gejala meluas, atau dapat membunuh bibit muda setelah mereka keluar dari tanah. Biji yang berkecambah dapat layu oleh jamur memiliki lesi coklat kemerahan dan kanker pada batang dan akar (Cubeta dan Vilgalys, 2011).

  • Penyebab penyakit

Patogen ini menyebabkan bercak cokelat pada beberapa tanaman inang. R. solani dapat bertahan hidup di tanah selama bertahun-tahun dalam bentuk sklerotia. Sklerotia Rhizoctonia memiliki lapisan luar yang tebal untuk memungkinkan kelangsungan hidup, dan mereka berfungsi sebagai struktur pelindung untuk patogen. Dalam beberapa kasus langka (seperti teleomorph) patogen juga dapat mengambil bentuk miselia yang berada di tanah juga. Patogen ini menyebar sebagai sklerotia, dan sklerotia ini dapat melakukan perpindahan melalui gerakan angin, air, atau tanah di antara tanaman inang (Ceresini, 2011).

IV. Venturia inaequalis

  • Deskripsi singkat

Venturia inaequalis adalah jamur patogen yang menyebabkan penyakit tanaman apel. Patogen ini menyebabkan penyakit kudis (scab) atau mempunyai nama lain sebagai black spot. Gejala yang ditimbulkan yakni terdapat bercak pada daun dan buah. Mula-mula timbul bintik-bintik kecil berwarna hijau olive atau lebih gelap daripada warna jaringan sehat, makin lama makin luas dan tertutup oleh lapisan seperti beludru yang berwarna coklat hitam, yang merupakan kumpulan miselium dan konidium jamur penyebab penyakit (Sastrahidayat, 2011).

  • Penyebab penyakit

Venturia inaequalis menyebabkan penyakit kudis pada apel. Penyebaran penyakit ini yakni spora yang terbentuk akan menyebar dengan perantara angin dan menempel pada permukaan daun, ataupun buah. Jamur ini menghasilkan dua macam spora, konidium atau spora musim dingin dan askospora atau spora musim panas (Sastrahidayat, 2011).

V. Podosphaera leucoticha

  • Deskripsi singkat

Podosphaera leucoticha menyerang pada tanaman apel, yang menyebabkan penyakit tepung atau sering disebut powdery mildew. Gejala yang khas dari penyakit ini yakni adanya warna putih seperti tepung pada permukaan bagian tanaman yang sakit (Sastrahidayat, 2011).

  • Penyebab penyakit

P. leucotricha memiliki siklus penyakit polisiklik. Pada musim semi, jamur yang sudah tua dan telah menjadi jamur ‘primer’ pada daun yang muncul dari tunas yang terinfeksi selama musim pertumbuhan sebelumnya (Urbanietz dan Dunemann, 2005). Konidia dilepaskan dari jamur utama selama koloni menyebar di udara dan memulai epidemi jamur ‘sekunder’ pada tunas yang tumbuh. Buah kecil yang sedang berkembang juga dapat terinfeksi (Xu, 2002). Intensitas infeksi harian pada daun terutama ditentukan oleh jumlah konidia yang mendarat, yang tergantung pada banyaknya konidia yang menyebar dan kecepatan angin di udara (Xu et al, 1995).

VI. Fusarium sp.

  • Deskripsi singkat

Penyakit lapuk batang dan cabang yang disebabkan oleh Fusarium sp. merupakan salah satu penyakit penting pada pembibitan karet di polibeg dan menyebar ke tanaman disekitarnya, disamping juga dapat menyerang tanaman karet yang telah ada di lapangan sehingga dapat mengakibatkan kerugian yang besar (Soepena, 1995). Lapuk batang dan cabang dapat mengakibatkan kerusakan pada kulit cabang dan batang sehingga tanamn tidak dapat disadap. Penyakit ini juga dapat mengakibatkan kerusakan pada benih,kebun entres dan kadangkala mengaakibatkan matinya tanaman (Balai Penelitian Sembawa, 2006). Infeksi Fusarium sp. dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti umur tanaman dan kondisi cuaca yang lembab. Cuaca lembab dan hujan yang terus menerus dapat merupaka faktor pendorong perkembangan penyakit. Penyakit ini sangat mudah berjangkit pada musim hujan. Penularan penyakit dapat terjadi melalui spora yang terbawa angin sehingga dapat menyebar jauh (Burgess, 1981).

VII. Mycosphaerella musicola

  • Deskripsi singkat

Mycosphaerella musicola adalah patogen penyakit pisang. Patogen ini dapat dibedakan secara morfologi dari Mycosphaerella fijiensis, yang menyebabkan penyakit beruntun daun hitam (BLSD), dengan karakteristik konidia dan conidiophore. Anamorph M. musicola, Pseudocercospora musae, tidak memiliki dinding sel menebal yang hadir di dasar dari konidia dari Cercospora fijien, yang anamorph M. fijiensis, dan lebih pendek dan kurang bergelombang. konidiofor M. musae yang berbentuk botol dan jauh lebih kecil dari konidiofor memanjang dari M. fijiensis yang sering membungkuk dan menanggung bekas luka konidia mencolok. Dua spesies juga dapat dibedakan dengan metode molekuler (Meredith, 1970). Mycosphaerella musicola pertama kali dilaporkan dari Jawa pada tahun 1902 dan tahun 1962 ditemukan di sebagian besar pisang tumbuh wilayah di dunia. Meskipun tersebar di jarak pendek oleh konidia dan askospora, jarak jauh itu adalah gerakan plasma nutfah yang terinfeksi seperti daun berpenyakit dan pengisap yang mungkin bertanggung jawab. Di pulau-pulau Pasifik dan di daerah dataran rendah dari Amerika Selatan dan Afrika, gejala SD sekarang jarang terlihat dan BLSD sebagian besar telah digantikan itu. SD lebih disesuaikan dengan daerah yang lebih dingin dan sering mendominasi di ketinggian lebih dari 1200 meter sedangkan BLSD jarang terlihat pada ketinggian tersebut. Persebaran spora Mycosphaerella musicola sangat dipengaruhi oleh pergerakan angin hal ini ditunjukan dengan perkembangan spora yang sangat nyata ketika terdapat gejala serangan penyakit ini di suatu lahan (Jones, 2000).

VIII. Alternaria Padwickii

  • Deskripsi singkat

Alternaria padwickii merupakan cendawan yang menyebabkan penyakit Stackburn dengan gejala khas adalah terjadinya bercak pada daun berbentuk oval atau bulat, berwarna coklat tua, mempunyai cincin yang melingkari bercak secara jelas. Bagian tengah bercak pada awalnya berwarna coklat muda kemudian berangsur-angsur menjadi putih dengan titik-titik hitam yang merupakan sklerotia. Ukuran bercak bervariasi antara 0,3-1 cm (Dirjen Pertanian Tanaman Pangan, 1989). Cendawan ini bertahan dalam tanah, pada benih serta sisa tanaman sakit sebagai sklerotium dan misellium. Infeksi penyakit ini terjadi melalui konidia yang terbawa angin. Infeksi pada benih sering kali menyebabkan infeksi pada pembibitan yang menyebabkan infeksi pada pembibitan yang mengakibatkan hawar bibit (Webster and Gunnell, 1992).

IX. Xanthomonas campestris pv. malvacearum

  • Deskripsi singkat

Xanthomonas campestris pv. malyacearum merupakan patogen penyebab penyakit hawar bakteri pada tanaman kapas. Gejala dari penyakit ini adalah pada kotiledon tanaman kecil timbul bercak kering bersudut, sedangkan pada tanaman dewasa selain bercak bersudut juga dapat berupa busuk pada tulang daun dan lamina di sekitarnya maupun dapat berkembang ke ranting. Pada buah berupa cokelat tidak beraturan dan mengakibatkan buah kapas menjadi busuk. Faktor luar yang mendorong perkembangan penyakit hawar bakteri tersebut adalah suhu antara 30-36oC dan kelembaban udara 80% (Pinckard et al., 1981).

X. Erysiphe polygoni

  • Deskripsi singkat

Jamur ini merupakan patogen dari penyakit embun tepung pada tanaman kacang hijau. Serangan penyakit pada tanaman kacang hijau dapat terjadi pada daun, batang, dan polong. Bagian tanaman yang terserang berupa bercak yang tertutup oleh tepung berwarna putih yang terdiri dari miselium dan spora jamur. Bila serangannya berat, daun yang terserang kemudian mengering dan rontok, dan polong tidak terbentuk. Jika polong telah terbentuk maka pertumbuhannya berhenti, bentuknya tidak sempurna sehingga jumlah biji per polong berkurang dan menghasilkan biji yang kecil-kecil. Jika terjadi hujan spora putih akan luruh dan daun menjadi warna kecoklatan. Semakin muda umur tanaman kacang hijau semakin rentan terhadap penyakit embun tepung (Suryanto, 2010).

(b) Penyebab Penyakit

Penyakit embun tepung disebabkan oleh jamur Oidium sp. tingkat sempurna dari jamur tersebut adalah Erysiphe polygoni. Jamur E. polygoni memiliki miselium, berwarna putih, rapat, berkembang baik pada daun, batang, dan polong. Konidium berbentuk tunggal atau dalam rantai pendek, berbentuk tabung atau bulat telur. Konidium dapat dengan mudah terbawa angin. Perkembangan penyakit dibantu oleh suhu udara 22-26oC, dengan kelembaban 80-88% (Suryanto, 2010).

XI. Puccinia striiformis

  • Deskripsi singkat

Patogen Puccinia striiformis adalah patogen penyebab penyakit karat bergaris pada tanaman gandum. Gejala penularan penyakit karat bergaris pada tanaman gandum sama pada barley. Pustul berwarna kuning dapat terjadi pada semua permukaan tanaman, namun yang paling sering nampak pada daun (CABI 2004). Uredia berbentuk melingkar dengan diameter 0,5-1 mm. Pustul-pustul tersebut seringkali membentuk garis-garis sempit pada daun. Pada kecambah, pustul lebih sering nampak secara individu daripada membentuk garis. Pustul juga dapat ditemukan pada pelepah, leher, dan malai. Infeksi awal disebabkan oleh urediospora yang diterbangkan angin dari jarak yang jauh. Penyakit ini dapat berkembang cepat jika kelembaban mendukung dan suhu berkisar antara 10-200 C. Suhu di atas 250 C, produksi urediospora akan berkurang dan cenderung terbentuk teliospora yang berwarna hitam (Chen, 2005).

XII. Alternaria triticina

  • Deskripsi singkat

Jamur ini adalah patogen penyebab hawar daun Alternaria. Tanaman inang A. triticina meliputi Triticum spp., triticale, dan kemungkinan barley yang dapat tertular pada kondisi tertentu. Tanaman mulai kehilangan ketahanannya pada umur 4 minggu dan gejala penularan tidak berkembang hingga tanaman berumur 7-8 minggu. Gejala awal ditandai dengan lesion kecil berbentuk oval dan menyebar secara tidak beraturan pada permukaan daun. Seiring dengan perkembangannya, lesio berbentuk tidak bearaturan dan berwarna cokelat tua (HGCA, 2014.). Menurut Wiese, 1987 lesio sulit dibedakan dengan gejala hawar daun Helminthosporium. Infeksi penyakit ini diawali pada daun bagian bawah, namun gejala ini bisa ditemukan pada seluruh bagian tanaman, termasuk pada pelepah dan dan malai. Sporulasi yang terjadi pada daun bagian bawah mengakibatkan inokulum dapat menyebar melalui angin.

XIII. Microsphaera diffusa

  • Deskripsi singkat

Jamur ini adalah patogen penyebab penyakit embun tepung pada tanaman kedelai. Bercak putih akan meluas ke seluruh daun, bahkan pada varietas rentan, polong dan batang juga memutih. Penyakit yang menyerupai tepung tersebut adalah konidifor dan konidia cendawan penyebab embun tepung. Konidium akan membentuk haustorium yang berkembang di dalam sel-sel daun, menghisap cairan nutrisi tanaman, sehingga proses metabolisme terganggu. Selain itu, konidium dan konidiofor di permukaan atas daun akan menghambat fotosintesis dan transpirasi (Mignucci dan Boyer,1979 dalam Sumartini dan Rahayu, 2017). Faktor yang mempengaruhi penyakit embun tepung antara lain suhu, kelembaban, terbawa angin dan sinar matahari.


Daftar Pustaka

Balai Penelitian Sembawa. 2006. Sapta bia usaha tani karet rakyat. Balai Penelitian Karet. Sembawa.

Burgess, L. W. 1981. General ecology, in Fusarium: Diseases, biology ad taxonomy (eds: Nelson, P. E., T. A. Toussoun and R. J. Cook). The Pennsylvania Sates University Press.

CABI. 2004. Crop protection compendium 2004 edition. CAB International.         Wallingford, UK

Ceresini, P. 2011. Rhizoctonia Solani. NC State University: United States.

Chen, X. (2005). Epidemiology and control of stripe rust [Puccinia striiformis f.    sp. tritici] on wheat. Canadian Journal of Plant Pathology 27: 314‐337.

Cubeta, M. A., and R. Vilgalys. 2011. Population Biology of the Rhizoctonia         Solani  Complex. Population Genetics of Soilborne Fungal Plant     Pathogens 87.4            (1997):            480–84. The American Phytopathological       Society.

Dirjen Pertanian Tanaman Pangan. 1989. bercak daun Alternaria padwickii tanaman padi. Jakarta

Gaitan, A.L. 2015. Compendium of Coffee Disease and Pests. St. Paul, MN:         American         Phytopathological Society. pp. 27–28.

HGCA. 2014. Wheat disease management guide. Agriculture and Horticulture        Development Board. p. 27.

Jones, D.R. 2000. Sigatoka. In ‘Diseases of Banana, Abacá and Enset’. (Ed. DR Jones) pp. 79-92. (CABI Publishing: Wallingford)

Meredith, D.S. 1970. Banana leaf spot disease (Sigatoka) caused by Mycosphaerella musicola Leach.’ Commonwealth Mycological Institute, Kew, Surrey, England.

Pinckard, J.A., L.J. Ashworth, J.F. Snow, T.E Russel, R.W. Roncandori, dan G.L. Sciumbato. 1981. Boll rots. In Watkins, G.M. (ed) Compendium of cotton disease. p. 20-24

Ploetz RC. 2007. Diseases of tropical perennial crops: challenging problems in       diverse environments. Plant Dis. 91(6):644-663.

Rodriguez-Gaviria PA, Cayon G. 2008. Physiological e ect of Mycosphaerella       jiensis in banana leaves. Agron Colomb. 26(2):256–265.

Sastrahidayat, I.R. 2011. Fitopatologi: Ilmu penyakit tumbuhan. UB          Press:Malang.

Semangun, H. 1990. Penyakit tanaman kebun di Indonesia. UGM   Press:Yogyakarta

Soepena, . 1995. Penyakit barck necrotic pada tanaman karet. Kumpulan makalah lokakarya pengendalian penyakit penting tanaman karet. Puslit Karet:20-23.

Sumartini dan M. Rahayu. 2017. Penyakit Embun Tepung Dan Cara           Pengendaliannya Pada Tanaman Kedelai Dan Kacang Hijau.

Suryanto, W.A. 2010. Hama dan penyakit tanaman pangan, hortikultura dan          perkebunan serta masalah dan solusinya. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.

Sweets. L.E. and A. Wrather. 2000. Soybean diseases. Integrated pest         management manuals. Plant protection programs of the University of            Missouri. Columbia. 26 pp.

Urbanietz, A., and F. Dunemann. 2005. Isolation, identification and molecular        characterization of physiological races of apple powdery mildew         (Podosphaera leucotricha). Plant Pathology: Wiley Online Library

Webster RK, and Gunnell PS (Ed). 1992. Compendium of Rice Diseases. APS Press. The Americ. Phytopath. Soc. St Paul, Minnesota, USA. p. 33-46.

Wiese, M.V. 1987. Compendium of wheat diseases. American Phytopathological Society. p. 124.

Xu, X.M., et al. 1995. Temporal patterns of airborne conidia of Podosphaera        leucotricha,     causal agent of apple powdery mildew. Plant Pathology:      Wiley Online Library.

Xu, X.M. 2002. Modelling and forecasting epidemics of apple powdery mildew    (Podosphaera leucotricha). Plant Pathology: Wiley Online Library.