Tugas Consumer Behavior : Subbudaya

May 29th, 2012

Nama : Rizky Andawasatya

NIM : 0910223099

Mata Kuliah : Consumer Behavior

Kelas : BB

Dosen : Nanang Suryadi

1. Pengaruh kelompok acuan terhadap minat beli

Kelompok referensi/acuan adalah individu/kelompok nyata atau khayalan yang memiliki pengaruh evaluasi, aspirasi, bahkan perilaku terhadap orang lain. Kelompok acuan (yang paling berpengaruh terhadap konsumen) mempengaruhi orang lain melalui norma, informasi, dan melalui kebutuhan nilai ekspresif konsumen.

Pemasar harus dapat mengidentifikasi peran seseorang di dalam kelompoknya dalam pengambilan keputusan, dan harus menekankan pada si pengambil keputusan. Penyesuaian dilakukan hanya untuk sekadar menyesuaikan diri agar diterima oleh kelompok atau penyesuaian yang mengubah kepercayaan. Orang butuh untuk menilai opini dan kemampuan mereka dengan membandingkannya dengan opini dan kemampuan orang lain. Dalam polarisasi kelompok, perbedaan pandangan antara kelompok dengan individu, dan kelompok dapat berubah pandangannya dikarenakan informasi dan budaya yang ada.

Kelompok acuan dapat berbentuk organisasi formal yang besar, terstruktur dengan baik, memiliki jadwal pertemuan rutin, dan karyawan-karyawan yang tetap. Di lain pihak, kelompok acuan juga dapat berbentuk kelompok kecil dan informal. Kelompok acuan terdiri dari orang-orang yang dikenal secara mendalam (seperti keluarga atau sahabat) atau orang-orang yang dikenal tanpa ada hubungan yang mendalam (klien) atau orang-orang yang dikagumi (tokoh atau artis). Karena orang cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain yang memiliki kemiripan, mereka sering kali terpengaruh dengan mengetahui bagaimana orang lain menginginkan mereka menjalani hidup.

Kecenderungan orang untuk menjadi bagian dari kelompok acuan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah keakraban, ekspos terhadap seseorang (Mere Exposure), dan kepaduan kelompok. Terdapat beberapa bentuk kelompok acuan yang dapat mempengaruhi konsumen dalam perilaku konsumsi, yaitu kelompok pertemanan, kelompok belanja, kelompok kerja, komunitas maya dan kelompok aksi konsumen.

Seorang pemberi opini ini adalah orang yang sering kali mampu mempengaruhi sikap atau perilaku orang lain. Opinion leader memiliki sumber informasi yang berharga. Yang biasanya menjadi opinion leader adalah artis, ahli atau pakar di bidang tertentu, orang awam (biasa), pimpinan perusahaan, dan karakter

2. Peta kelas sosial di Indonesia untuk menjadi target pasar

Kelas sosial dapat dianggap sebagai suatu rangkaian kesatuan yaitu serangkaian posisi sosial dimana setiap anggota masyarakatdapat ditempatkan, para peneliti membagi rangkaian kesatuan itu menjadi sejumlah kecil kelas sosial yang khusus atau strata. Konsep kelas sosial digunakan untuk menempatkan individu atau keluarga dalam suatu kategori sosial.

 

Kelas sosial didefinisikan sebagai pembagian anggota masyarakat ke dalam suatu hierarki status kelas yang berbeda, sehingga para anggota setiap kelas secara relative mempunyai status yang sama dan para anggota kelas lainnya mempunyai status yang lebih tinggi atau lebih rendah. Berikut ini klasifikasi kelas sosial :

  • Aristoteles membagi masyarakat secara ekonomi menjadi 3 kelas atau golongan. Aristoteles menggambarkan ketiga kelas tersebut seperti piramida:

1 = golongan sangat kaya
2 = golongan kaya
3 = golongan miskin
Golongan pertama merupakan kelompok terkecil dalam masyarakat. Mereka terdiri dari pengusaha, tuan tanah dan bangsawan. Golongan kedua merupakan golongan yang cukup banyak terdapat di dalam masyarakat. Mereka terdiri dari para pedagang, dan sebagainya. Golongan ketiga merupakan golongan terbanyak dalam masyarakat. Mereka kebanyakan rakyat biasa.

 

  • Karl Marx juga membagi masyarakat menjadi tiga golongan, yakni:

a. Golongan kapitalis atau borjuis adalah mereka yang menguasai tanah dan alat produksi.
b. Golongan menengah terdiri dari para pegawai pemerintah.
c. Golongan proletar adalah mereka yang tidak memiliki tanah dan alat produksi.

 

Termasuk didalamnya adalah kaum buruh atau pekerja pabrik. Menurut Karl Marx golongan menengah cenderung dimasukkan ke golongan kapatalis karena dalam kenyataannya golongan ini adalah pembela setia kaum kapitalis. Dengan demikian, dalam kenyataannya hanya terdapat dua golongan masyarakat, yakni golongan kapitalis atau borjuis dan golongan proletar.

 

  • Pada masyarakat Amerika Serikat, pelapisan masyarakat dibagi menjadi enam kelas yakni:

a. Kelas sosial atas lapisan atas ( Upper-upper class), yaitu keluarga-keluarga yang telah lama kaya.
b. Kelas sosial atas lapisan bawah ( Lower-upper class), yaitu keluarga-keluarga yang belum lama menjadi kaya.
c. Kelas sosial menengah lapisan atas ( Upper-middle class), yaitu pengusaha, kaum professional
d. Kelas sosial menengah lapisan bawah ( Lower-middle class), yaitu pegawai pemerintah, kaum semi profesional, supervisor, pengrajin terkemuka
e. Kelas sosial bawah lapisan atas ( Upper lower class), yaitu pekerja tetap (golongan pekerja)
f. Kelas sosial lapisan sosial bawah-lapisan bawah ( Lower-lower class), yaitu para pekerja tidak tetap, pengangguran, buruh musiman, orang bergantung pada tunjangan.

 

 

 

  •  Dalam masyarakat Eropa dikenal 4 kelas, yakni:
    1. Kelas puncak (top class)
    2. Kelas menengah berpendidikan (academic middle class)
    Kelas menengah ekonomi (economic middle class)
    3. Kelas pekerja (workmen dan Formensclass)
    4. Kelas bawah (underdog class)
  • Dalam masyarakat Indonesia hanya dikenal 3 kelas, yakni :

1)      Kelas atas

2)      Kelas menengah

3)      Kelas bawah

3.  Pergeseran budaya Indonesia dulu dengan sekarang, dan pandangan sebagai warga negara Indonesia.

 

Negara Kesatuan Republik Indonesia mempunyai aspek sosial budaya yang beragam banyaknya. Secara spesifik keadaan sosial budaya Indonesia sangat kompleks, mengingat penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 200 juta jiwa dalam 30 kesatuan suku bangsa. Indonesia memiliki 67 budaya induk yang tersebar dari barat sampai ke timur nusantara. Selain itu Indonesia terdiri atas 6000 buah pulau yang terhuni dari jumlah keseluruhan sekitar 13.667 pulau.

Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa Indonesia adalah negara yang kaya raya dengan sumber daya alam dan sumber daya budaya yang melimpah. Bangsa kita merupakan bangsa yang serba multi, baik itu multibahasa, multibudaya, maupun multiagama. Semua itu bila dikelola dengan baik dapat dijadikan sebagai potensi untuk memakmurkan rakyat dan memajukan bangsa kita.

Arus globalisasi saat ini telah menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan budaya bangsa Indonesia . Derasnya arus informasi dan telekomunikasi ternyata menimbulkan sebuah kecenderungan yang mengarah terhadap memudarnya nilai-nilai pelestarian budaya. Perkembangan 3T (Transportasi, Telekomunikasi, dan Teknologi) mengkibatkan berkurangnya keinginan untuk melestarikan budaya negeri sendiri . Budaya Indonesia yang dulunya ramah-tamah, gotong royong dan sopan berganti dengan budaya (meminjam istilah Band Zamrud) yang `gaul`, `fungky` dan doyan ngucapin `ember`.

Di Tapanuli (Sumatera Utara) misalnya, duapuluh tahun yang lalu, anak-anak remajanya masih banyak yang berminat untuk belajar tari tor-tor dan tagading (alat musik batak). Hampir setiap minggu dan dalam acara ritual kehidupan, remaja di sana selalu diundang pentas sebagai hiburan budaya yang meriah. Saat ini, ketika teknologi semakin maju, ironisnya kebudayaan-kebudayaan daerah tersebut semakin lenyap di masyarakat, bahkan hanya dapat disaksikan di televisi dan Taman Mini Indonesi Indah (TMII). Padahal kebudayaan-kebudayaan daerah tersebut, bila dikelola dengan baik selain dapat menjadi pariwisata budaya yang menghasilkan pendapatan untuk pemerintah baik pusat maupun daerah, juga dapat menjadi lahan pekerjaan yang menjanjikan bagi masyarakat sekitarnya.

Gaya berpakaian remaja Indonesia yang dulunya menjunjung tinggi norma kesopanan telah berubah mengikuti perkembangan jaman. Ada kecenderungan bagi remaja putri di kota-kota besar memakai pakaian minim dan ketat yang memamerkan bagian tubuh tertentu. Budaya perpakaian minim ini dianut dari film-film dan majalah-majalah luar negri yang ditransformasikan kedalam sinetron-sinetron Indonesia . Derasnya arus informasi, yang juga ditandai dengan hadirnya internet, turut serta `menyumbang` bagi perubahan cara berpakaian. Pakaian mini dan ketat telah menjadi trend dilingkungan anak muda.

Boleh dikatakan bahwa budaya yang merupakan sistem simbol dan norma dalam masyarakat Indonesia yang ada sekarang ini macet. Kemacetan budaya ini karena masyarakat kurang mengantisipasi dengan baik pengaruh globalisasi terhadap budaya bangsa sendiri. Lihat saja bagaimana takjubnya kita dengan kesenian asal negeri barat. Kita seolah tidak menghargai kesenian tradisional kita. Dapat disimpulkan bahwa masyarakat kita kurang bisa mengantisipasi masuknya budaya asing.

Salah satu keberhasilan penyebaran kebudayaan Barat ialah meluasnya anggapan bahwa ilmu dan teknologi yang berkembang di Barat merupakan suatu yang universal. Masuknya budaya barat (dalam kemasan ilmu dan teknologi) diterima dengan baik. Pada sisi inilah globalisasi telah merasuki berbagai sistem nilai sosial dan budaya Timur (termasuk Indonesia ) sehingga terbuka pula konflik nilai antara teknologi dan nilai-nilai ketimuran.

Pengaruh globalisasi disatu sisi ternyata menimbulkan pengaruh yang negatif bagi kebudayaan bangsa Indonesia . Norma-norma yang terkandung dalam kebudayaan bangsa Indonesia perlahan-lahan mulai pudar. Gencarnya serbuan teknologi disertai nilai-nilai interinsik yang diberlakukan di dalamnya, telah menimbulkan isu mengenai globalisasi dan pada akhirnya menimbulkan nilai baru tentang kesatuan dunia. Radhakrishnan dalam bukunya Eastern Religion and Western Though (1924) menyatakan “untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, kesadaran akan kesatuan dunia telah menghentakkan kita, entah suka atau tidak, Timur dan Barat telah menyatu dan tidak pernah lagi terpisah. Artinya adalah bahwa antara barat dan timur tidak ada lagi perbedaan. Atau dengan kata lain kebudayaan kita dilebur dengan kebudayaan asing.

Apabila timur dan barat bersatu, masihkah ada ciri khas kebudayaan kita? Ataukah kita larut dalam budaya bangsa lain tanpa meninggalkan sedikitpun sistem nilai kita? Oleh karena itu perlu dipertahanan aspek sosial budaya Indonesia sebagai identitas bangsa. Caranya adalah dengan penyaringan budaya yang masuk ke Indonesia dan pelestarian budaya bangsa.

Bagi masyarakat yang mencoba mengembangkan seni tradisional menjadi bagian dari kehidupan modern, tentu akan terus berupaya memodifikasi bentuk-bentuk seni yang masih berpolakan masa lalu untuk dijadikan komoditi yang dapat dikonsumsi masyarakat modern. Karena sebenarnya seni itu indah dan mahal. Kesenian adalah kekayaan bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya dan tidak dimiliki bangsa-bangsa asing. Oleh sebab itu, sebagai generasi muda, yang merupakan pewaris budaya bangsa, hendaknya memelihara seni budaya kita demi masa depan anak cucu.

 

Referensi :

Schiffman Leon G., Kanuk Leslie Lazar : 2007, ” Consumer Behavior”, 9th Edition, Pearson Educational International, New Jersey – USA.

Solomon Michael R.: 2007, “Consumer Behavior ; Buying, Having and Being”, Seventh Edition, Pearson Prentice Hall, New Jersey – USA.

Poerwanto, “Hari Kebudayaan Dan Lingkungan dalam perspektif Antropologi”., Pustaka Pelajar, Yogyakarta: 2006

Widagdho, Djoko, “ILMU BUDAYA DASAR”, Bumi Aksara, Jakarta: 2004,

Hoyer, Wayne D; Maclnnis, Deborah J : 2008, “Consumer Behavior”. USA

Tugas Perilaku Konsumen : Kepribadian

March 27th, 2012

Nama : Rizky Andawasatya

NIM : 0910223099

Matkul : Perilaku Konsumen / Kelas : BB

Dosen : Nanang Suryadi 

1. Jenis-jenis kepribadian antara lain :

 

  • Gapasioneerden (orang hebat). Ciri dari orang yang memiliki kepribadian seperti ini aka terlihat sifat antara lain selalu bersikap keras, ambisius, egois, dan emosional. Selain itu sifat yang terlihat dari orang yang mempunyai kepribadian ini antara lain memiliki rasa kekeluargaan yang baik, dan suka menolong yang lemah.
  • Cholerici ( orang garang). Sifat yang terlihat dari orang yang memiliki kepribadian seperti ini antara lain orangnya agresif, giat bekerja, pemberani, optimistis,  dan suka pada hal hal yang bersifat nyata. Selain itu ciri lainnya adalah bahwa orang ini mempunyai sifat boros dan suka bertindak ceroboh.
  • Sentimentil (orang perayu) Ciri cirinya adalah emosional, pintar berbicara, senang dengan kehidupan alam, dan tidak suka keramaian.
  • Nerveuzen ( Gugup), Sifat yang terlihat dari kepribadian semacam ini adalah mudah naik darah,  suka memprotes, tidak mau berfikir panjang, dan tidak pendendam.
  • Flegmaciti (orang tenang) Sifat yang terlihat pada orang yang memiliki kepribadian ini adalah antara lain selalu bersikap tenang dan sabar, tekun bekerja, memiliki pemikiran yang luas, rajin dan cekatan.
  • Sanguinici ( Kekanak kanakan) Jika kita melihat seseorang memiliki sifat seperti anak anak, itulah orang yang berkepribadian sanguinici. Sifat yang terlihat antara lain sukar atau plinlan dalam mengambil keputusan, ragu ragu dalam bertindak dan suka menyendiri.
  • Amorfem (orang tak berbentuk) sifat yang terlihat dari tipe kepribadian ini adalah intelektualnya kurang, picik,  tidak praktis, tidak punya jati diri dan terombang ambing.

 

2. Kepribadian diciptakan atau berasal dari lahir?

 

Pada dasarnya, tiap insan yang terlahir di dunia akan selalu mewarisi gen-gen yang merupakan keturunan dari orang tuanya, dimana gen-gen inilah akan mempengaruhi watak dan kepribadian mereka. Namun ketika mereka menjalani kehidupan dengan gejala-gejala sosial yang dinamis, akan ada penyesuaian dari kepribadian mereka masing-masing terhadap perbuhan-perubahan yang ada. Kesimpulannya, kepribadian merupakan turunan dari masing-masing orang tua namun akan terasah pula sebagaimana manusia tersebut menjalani kehidupan.

 

3. Beberapa artikel yang menjelaskan pengaruh kepribadian terhadap perilaku konsumen :

a.      Pengaruh Perbedaan Individu Terhadap Pengambilan Keputusan Konsumen

 

PERBEDAAN INDIVIDU

Faktor internal yang dapat mempengaruhi konsumen adalah Sumber daya Konsumen, Motivasi dan Keterlibatan, Pengetahuan,Sikap serta kepribadian, Gaya Hidup dan Demografi.

 

  1. Sumber daya Konsumen

Konsumen mempunyai tiga sumber daya dalam setiap pengambilan keputusan, yaitu:

  1. Waktu
  2. Uang
  3. Perhatian (penerimaan informasi dan kemampuan pengolahan).

Misalnya wanita karier yang sibuk kerja, dimana dia sebagai seorang istri dan seorang ibu,akan memiliki pendapatan yang cukup besar untuk pembelian yang berupa pakaian ataupun peralatan rumah tangga yang mahal harganya,namun ada pembatasan dalam hal ketersediaan waktu untuk berbelanja serta mengalokasikan perhatian pada informasi mengenai produk yang akan dibelinya nanti.

  1. Motivasi dan keterlibatan

Motivasi adalah motor yang menggerakan konsumen, serta membangkitkan dan mengarahkan perilaku konsumen pada arah dan tujuan tertentu. Terdapat motif rasional dan motif emosional.

  1. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil ataupun proses yang didapat melalui proses belajar serta proses dalam memahami informasi yang sudah tersimpan dalam benak konsumen.

  1. Sikap

Sikap merupajan suatu evaluasi yang bersifat menyeluruh yang memungkinkan seseorang memberikan respon dalam bentuk respon yang bersifat menguntungkan dan yang tidak menguntungkan terhadap sesuatu hal. Sikap konsumen berkaitan dengan sikap positif dan negatif terhadap merek produk tertentu.

  1. Kepribadian, gaya hidup dan demografi

Kepribadian (personality) dikaitkan dengan citra sebuah merek, dimana produk juga mempunyai kepribadian sebuah merek, kepribadian disini berupa keberanian, kelembutan, kejantanan, dsbnya.

6. Gaya Hidup

Menurut James Engel adalah pola yang digunakan orang untuk hidup, menghabiskan uang serta menghabiskan waktu.

7. Demografi adalah pembagian sasaran berdasrkan pangsa konsumen, seperti usia, tingkat pendidikan, pendapatan, jenis kelamin, dsbnya.

 

Sumber : http://esty.staff.uns.ac.id/pengaruh-perbedaan-individu-terhadap-pengambilan-keputusan-konsumen/

 

b.      Faktor-faktor Penentu Perilaku Konsumen

 

Perilaku konsumen memiliki beberapa faktor, dan faktor tersebut sangat mempengaruhi seorang konsumen dalam mengambil keputusan. Faktor tersebut antara lain faktor internal dan eksternal. Perilaku konsumen dipengarahi oleh faktor budaya, sosial, kepribadian, dan kejiwaan. Berdasarkan faktor-faktor tersebut,
maka faktor kebudayaan dan sosial bisa dikategorikan dalam faktor eksternal, sedangkan faktor kepribadian dan kejiwaan bisa dikategorikan dalam faktor internal. Faktor-fakrtor tersebut yang dikategorikan sehagai faktor eksternal maupun internal, merupakan penentu perilaku seseorang dalam melakukan kegiatan investasi serta kegiatan ekonomi lainnya. Motivasi seseorang dalam melakukan sesuatu terkait dengan kondisi psikologinya, jika seseorang dalam melakukan suatu kegiatan ekonomi seperti menabung di bank syariah didorong oleh faktor agama dan kualitas pelayanan, hal ini sesuai dengan apa yang telah diatur oleh agama Islam. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang bersifat mukalah (yang memikul bebas keagamaan). Berdasarkan sifat ini maka manusia dalam melakukan suatu aktifitas sesuai dengan haluan agama.

 

Selain itu manusia memiliki nafsu yang selalu berusaha untuk memisahkannya. Kebebasan yang diberikan tersebut harus tetap mematuhi prinsip halal-haram, dalam ketentuan hukum-hukum Islam komitmen terhadap kewajiban yang telah ditentukan oleh syariah Islam tidak menimbulkan kemudhorotan bagi umat, dan adanya prinsip kebersamaan dalam mewujudkan kesejahteraan. Jadi perilaku konsumen dapat diartikan tentang studi yang menginvestigasikan proses pertukaran melalui individu dan kelompok mana yang memperoleh, mengkonsumsi dan mendisposisi barang, jasa, ide, serta pengalaman. Tiga perspektif riset perilaku konsumen:

1) Perspektif pengambilan keputusan
Yaitu menggambarkan seorang konsumen sedang melakukan serangkaian langkah-langkah tertentu pada saat melakukan pembelian atau transaksi.

2) Perspektif pengalaman
Yaitu menggambarkan seorang konsumen yang membeli produk dan jasa tertentu untuk memperoleh kesenangan, menciptakan fantasi, atau perasaan emosi saja.

3) Perspektif pengaruh perilaku
Yaitu diasumsikan bahwa kekuatan lingkungan memaksa konsumen untuk melakukan pembelian tanpa harus terlebih dahulu membangun perasaan atau kepercayaan terhadap produk.

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/economics/2242104-faktor-faktor-penentu-perilaku-konsumen/#ixzz1qErvQQZK

 

c.       FAKTOR-FAKTOR PERILAKU KONSUMEN

 

Pengertian perilaku konsumen pada bahasan sebelumnya, ada dua elemen penting yaitu elemen proses pengambilan keputusan dan elemen kegiatan secara fisik. Kedua elemen tersebut melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan serta menggunakan barang dan jasa.

Konsumen membeli barang dan jasa adalah untuk mendapatkan manfaat dari barang dan jasa tersebut. Jadi perilaku konsumen tidak hanya mempelajari apa yang dibeli atau dikonsumsi oleh konsumen saja, tetapi juga dimana, bagaimana kebiasaan dan dalam kondisi macam apa produk dan jasa yang dibeli.

Menurut Philip Kotler dan Gary Armstrong (1996) keputusan pembelian dari pembeli sangat dipengaruhi oleh faktor kebudayaan, sosial, pribadi dan psikologi dari pembeli.

Faktor Budaya

Faktor budaya memberikan pengaruh paling luas dan dalam pada perilaku konsumen.

Perusahaan harus mengetahui peranan yang dimainkan oleh budaya, subbudaya dan kelas sosial pembeli. Budaya adalah penyebab paling mendasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Budaya merupakan kumpulan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan dan perilaku yang dipelajari oleh seorang anggota masyarakat dari keluarga dan lembaga penting lainnya.

Faktor Sosial

Perilaku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor sosial, seperti kelompok kecil, keluarga serta peranan dan status sosial konsumen. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak kelompok kecil. Kelompok yang mempunyai pengaruh langsung.

Faktor Pribadi

Keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti umur dan tahapan daur hidup, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri pembeli.

Konsumsi seseorang juga dibentuk oleh tahapan siklus hidup keluarga. Beberapa penelitian terakhir telah mengidentifikasi tahapan-tahapan dalam siklus hidup psikologis.

Berdasarkan landasan teori, ada dua faktor dasar yang mempengaruhi perilaku konsumen yaitu faktor eksternal dan faktor internal.

Faktor eksternal

Faktor eksternal merupakan faktor yang meliputi pengaruh keluarga, kelas sosial, kebudayaan, marketing strategy, dan kelompok referensi. Kelompok referensi merupakan kelompok yang memiliki pengaruh langsung maupun tidak langsung pada sikap dan prilaku konsumen. Kelompok referensi mempengaruhi perilaku seseorang dalam pembelian dan sering dijadikan pedoman oleh konsumen dalam bertingkah laku.

Faktor internal

Faktor-faktor yang termasuk ke dalam faktor internal adalah motivasi, persepsi, sikap, gaya hidup, kepribadian dan belajar. Belajar menggambarkan perubahan dalam perilaku seseorang individu yang bersumber dari pengalaman. Seringkali perilaku manusia diperoleh dari mempelajari sesuatu.

Keputusan Pembelian

Keputusan seorang pembeli juga dipengaruhi oleh ciri-ciri kepribadiannya, termasuk usia, pekerjaan, keadaan ekonomi. Perilaku konsumen akan menentukan proses pengambilan keputusan dalam melakukan pembelian.

Menurut Kotler (1997) ada beberapa tahap dalam mengambil suatu keputusan untuk melakukan pembelian, anatara lain:

1. Pengenalan Masalah

Merupakan faktor terpenting dalam melakukan proses pembelian, dimana pembeli akan mengenali suatu masalah atau kebutuhan.

2. Pencarian informasi.

Seorang selalu mempunyai minat atau dorongan untuk mencari informasi. Apabila dorongan tersebut kuat dan obyek yang dapat memuaskan kebutuhan itu tersedia maka konsumen akan bersedia untuk membelinya.

3. Evaluasi Alternatif

Konsumen akan mempunyai pilihan yang tepat dan membuat pilihan alternatif secara teliti terhadap produk yang akan dibelinya.

4. Keputusan Pembeli

Setelah konsumen mempunyai evaluasi alternatif maka konsumen akan membuat keputusan untuk membeli. Penilaian keputusan menyebabkan konsumen membentuk pilihan merek di antara beberapa merek yang tersedia.

 

Sumber : http://www.ojimori.com/2011/10/01/faktor-faktor-perilaku-konsumen/

 

d.        Faktor Karakteristik Individu Seorang Konsumen

Berkaitan dengan aspek konsumsi khususnya bersamaan dengan berkembangnya dinamika permintaan pasar, baik pasar individu atau rumah tangga, perilaku konsumen menjadi sangat penting bersamaan dengan perubahan yang besar pada preferensi konsumen terhadap berbagai produk.

 

Perilaku keputusan pembelian konsumen salah satunya dipengaruhi oleh faktorkarakteristik individu. Karakteristik tersebut meliputi usia dan tahap dalam siklus hidup; pekerjaan, keadaan ekonomi; kepribadian dan konsep diri; serta nilai dan gaya hidup pembeli. Karena banyak karakteristik ini memiliki dampak sangat langsung pada perilaku konsumen, penting bagi pemasar untuk mengikuti mereka secara dekat.

 

Usia dan Tahap Siklus Hidup

Orang membeli barang dan jasa yang berbeda-beda sepanjang hidupnya. Seleraorang terhadap pakaian, perabot, dan rekreasi juga berhubungan dengan usia. Konsumsi juga dibentuk oleh siklus hidup keluarga dan jumlah, usia, dan genderorang dalam rumah tangga pada satu saat.

Para pemasar juga harus memberi perhatian yang besar pada peristiwa-peristiwa penting dalam hidup atau masa peralihan (menikah, kelahiran bayi, sakit, relokasi, bercerai, beralih kerja, menduda/menjanda) karena peristiwa-peristiwa tersebut memunculkan kebutuhan baru. Ini harus menyiagakan penyedia layanan untuk menemukan cara-cara yang dapat mereka tempuh untuk membantu.

Pekerjaan dan Lingkungan Ekonomi

Pekerjaan seseorang juga mempengaruhi pola konsumsinya. Para pemasar berusaha mengidentifikasi kelompok pekerjaan yang memiliki minat di atas rata-rata terhadap produk dan jasa mereka. Perusahaan bahkan dapat mengkhususkan produknya pada kelompok pekerjaan tertentu.

Pilihan produk sangat dipengaruhi oleh keadaan ekonomi seseorang: penghasilan yang dapat dibelanjakan, tabungan, utang, kemampuan untuk meminjam, dan sikap terhadap kegiatan berbelanja atau menabung. Para pemasar barang yang peka terhadap harga terus-menerus memperhatikan kecenderungan penghasilan pribadi, tabungan, dan tingkat suku bunga. Jika indikator ekonomi menandakan adanya resesi, para pemasar dapat mengambil langkah-langkah untuk merancang ulang, melakukan penempatan ulang, dan menetapkan kembali harga produk mereka sehingga mereka dapat terus menawarkan nilai kepada para pelanggan sasaran.

Kepribadian dan Konsep Diri

Masing-masing orang memiliki karakteristik kepribadian yang berbeda yang mempengaruhi perilaku pembeliannya. Yang dimaksud kepribadian adalah ciri bawaan psikologis manusia (human psychological traits) yang khas yang menghasilkan tanggapan yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap rangsangan lingkungannya. Kepribadian biasa digambarkan dengan menggunakan ciri bawaan seperti kepercayaan diri, dan kemampuan beradaptasi.

Para konsumen sering memilih dan menggunakan merek yang memiliki kepribadian merek yang konsisten dengan konsep diri aktual mereka sendiri (bagaimana seseorang memandang dirinya), walaupun dalam kasus yang sama pencocokan mungkin didasarkan pada konsep diri ideal (memandang dirinya ingin seperti apa) atau bahkan konsep diri orang lain (menganggap orang lain memandang dirinya seperti apa) dan bukannya citra diri aktual. Efek-efek ini mungkin juga lebih dimaklumkan untuk produk-produk yang dikonsumsi publik sebanding dengan barang-barang yang dikonsumsi secara pribadi. Di pihak lain melihat mereka, lebih mungkin memilih merek yang kepribadiannya cocok dengan situasi konsumsi.

Gaya Hidup dan Nilai

Orang-orang yang berasal dari sub budaya, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama dapat memilikin gaya hidup yang berbeda. Gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang terungkap pada aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan ”keseluruhan diri seseorang” yang berinteraksi dengan lingkungannya. Para pemasar mencari hubungan antara produk mereka dan kelompok gaya hidup. Para pemasar selalu menyingkapkan tren baru dalam gaya hidup konsumen.

Gaya hidup sebagian dibentuk oleh apakah konsumen itu dibatasi uang atau dibatasi waktu. Perusahaan bertujuan untuk melayani konsumen yang dibatasi uang akan menciptakan produk dan jasa berbiaya rendah.

Para konsumen yang mengalami kekurangan waktu cenderung melakukan lintas tugas, yakni melakukan dua atau lebih tugas pada saat yang sama. Perusahaan-perusahaan yang bertujuan melayani mereka akan menciptakan layanan yang nyaman untuk kelompok itu.

Keputusan konsumen juga dipengaruhi oleh nilai inti, yaitu sistem kepercayaan yang melandasi sikap dan perilaku konsumen. Nilai inti itu jauh lebih dalam daripada perilaku atau sikap, dan pada dasarnya menentukan pilihan dan keinginan orang dalam jangka panjang. Pemasar yang menargetkan konsumen berdasarkan pada keyakinan nilai mereka dengan menarik bagi inner-selves orang sendiri, adalah mungkin untuk mempengaruhi outer-selves mereka (perilaku pembelian mereka).

 

Sumber : http://www.yousaytoo.com/faktor-karakteristik-individu-seorang-konsumen/1504638

e.         Selera Konsumen Dipengaruhi Oleh Faktor Genetis

 

Selera konsumen terhadap sesuatu ternyata bersifat genetis. “Apakah Anda suka fiksi ilmiah, mobil hibrida, musik jazz, mustard, opera, dan cokelat hitam, itu semua memiliki komponen genetis,” Aner Sela memaparkan hasil penelitiannya. Asisten profesor bidang pemasaran di University of Florida tersebut memublikasikan hasil penelitiannya dalam “Journal of Consumer Research” edisi April 2011.

 

“Di sisi lain, kami tidak menemukan efek serupa pada seni abstrak, seni tindik tubuh, dan cilantro, yang bisa dibenci atau disukai orang.”

 

Sementara itu, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ditemukan pengaruh turunan dalam hal kecerdasan, kepribadian, dan bahkan perceraian, kecanduan obat-obatan dan pola pemilihan umum, ini merupakan penelitian pertama yang menunjukkan bahwa genetika memberi pengaruh dalam pilihan konsumen, lanjut Sela.

“Menarik untuk diketahui bahwa banyak yang kita lakukan dan kita hendaki sebenarnya berakar dari nenek moyang kita,” jelas Sela.  Sela dan Itamar Simonson, profesor marketing di Stanford University, melakukan survei terhadap 110 pasang kembar identik dan kembar paternal berjenis kelamin sama tentang kecenderungan produk yang disukai dan pola belanja mereka, seperti apakah mereka lebih memilih untuk membelanjakan uang demi barang kebutuhan sehari-hari atau untuk menjalani perawatan spa mewah. Pilihan yang sama lebih umum ditemukan dalam pasangan kembar identik yang kode genetikanya identik daripada pada kembar paternal yang memiliki lingkungan tempat tinggal yang serupa tetapi hanya memiliki setengah DNA yang sama.

 

Temuan bahwa selera konsumen sering ditentukan oleh faktor bawaan menyiratkan bahwa perusahaan bisa mengetahui lebih baik mengenai bagaimana melayani konsumen dalam menyatakan kecenderungan ekspresifnya dan kemudian bereaksi dengan produk tertentu daripada mengandalkan taktik pasar agar bisa mengubah perilaku konsumen.

 

“Penelitian konsumen sering menunjukkan bahwa konsumen berperilaku secara irasional dan memilih dengan pola yang acak,” katanya.

 

“Meskipun terkadang simpulan ini benar, kami menunjukkan bahwa orang tidak hanya seperti domba yang hanya bisa menjadi subjek dari pengaruh manipulatif orang lain tetapi sebenarnya telah memiliki suatu kualitas kepribadian yang menentukan proses pembuatan keputusan, kecenderungan bawaan dan kegemaran sejak lahir.”

 

Temuan tersebut menyiratkan bahwa kecenderungan dalam memilih yang kurang masuk akal bisa jadi berakar dari kecenderungan genetis. Di luar kesukaan dan ketidaksukaan produk tertentu, terdapat basis genetis untuk memilih sebuah kompromi atau opsi tengah, memilih antara sebuah kepastian dan perjudian yang penuh risiko.

 

Sumber : http://jpmi.or.id/2011/09/17/selera-konsumen-dipengaruhi-faktor-genetis/

 

 

Perilaku Konsumen (Consumer Behavior) : Teori Motivasi

March 20th, 2012

Nama : Rizky Andawasatya

NIM : 0910223099

Mata Kuliah : Perilaku Konsumen Kelas BB

Dosen : Nanang Suryadi

 

Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).

Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya.. Kajian tentang motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya pencapaian kinerja (prestasi) seseorang. Dalam konteks studi psikologi, Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan bahwa untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya:

(1)    durasi kegiatan;

(2)    frekuensi kegiatan;

(3)    persistensi pada kegiatan;

(4)    ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan;

(5)     devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan;

(6)     tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan;

(7)    tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan;

(8)    arah sikap terhadap sasaran kegiatan.

Untuk memahami tentang motivasi, kita akan bertemu dengan beberapa teori tentang motivasi, antara lain :

1. Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)

Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex; kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual; kebutuhan akan kasih sayang (love needs); kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status; dan aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.

2.     Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi)

Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat;  menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain, seperti kemujuran misalnya; dan menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah.

3.     Teori Clyton Alderfer (Teori “ERG)

Teori Alderfer dikenal dengan akronim “ERG” . Akronim “ERG” dalam teori Alderfer merupakan huruf-huruf pertama dari tiga istilah yaitu : E = Existence (kebutuhan akan eksistensi), R = Relatedness (kebutuhanuntuk berhubungan dengan pihak lain, dan G = Growth (kebutuhan akan pertumbuhan). Tampaknya pandangan ini didasarkan kepada sifat pragmatisme oleh manusia. Artinya, karena menyadari keterbatasannya, seseorang dapat menyesuaikan diri pada kondisi obyektif yang dihadapinya dengan antara lain memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang mungkin dicapainya.

4.     Teori Herzberg (Teori Dua Faktor)

Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang. Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain. Sedangkan faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku.

5.     Teori Keadilan

Inti teori ini terletak pada pandangan bahwa manusia terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima.

6.     Teori penetapan tujuan (goal setting theory)

Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni tujuan-tujuan mengarahkan perhatian; tujuan-tujuan mengatur upaya; tujuan-tujuan meningkatkan persistensi; dan tujuan-tujuan menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan. Bagan berikut ini menyajikan tentang model instruktif tentang penetapan tujuan.

7.     Teori Victor H. Vroom (Teori Harapan )

Menurut teori ini, motivasi merupakan akibat suatu hasil dari yang ingin dicapai oleh seorang dan perkiraan yang bersangkutan bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang diinginkannya itu. Artinya, apabila seseorang sangat menginginkan sesuatu, dan jalan tampaknya terbuka untuk memperolehnya, yang bersangkutan akan berupaya mendapatkannya. Dinyatakan dengan cara yang sangat sederhana, teori harapan berkata bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Sebaliknya, jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis, motivasinya untuk berupaya akan menjadi rendah.

8.    Teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku

Teori ini menyatakan bahwa manusia cenderung untuk mengulangi perilaku yang mempunyai konsekwensi yang menguntungkan dirinya dan mengelakkan perilaku yang mengibatkan perilaku yang mengakibatkan timbulnya konsekwensi yang merugikan.

9.     Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi.

Menurut model ini, motivasi seorang individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Termasuk pada faktor internal adalah persepsi seseorang mengenai diri sendiri; harga diri; harapan pribadi; kebutuhaan; keinginan; kepuasan kerja; prestasi kerja yang dihasilkan. Sedangkan faktor eksternal mempengaruhi motivasi seseorang, antara lain ialah jenis dan sifat pekerjaan; kelompok kerja dimana seseorang bergabung; organisasi tempat bekerja; situasi lingkungan pada umumnya; sistem imbalan yang berlaku dan cara penerapannya.

 

Contoh Iklan yang berhubungan dengan teori-teori motivasi di atas :

1.       Adidas Adizero MiCoach ii

 

[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=oAtf3Yta96o&feature=fvwrel[/youtube]

 

Iklan ini menggunakan beberapa teori motivasi seperti Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi), Teori Herzberg (Teori Dua Faktor), Teori penetapan tujuan (goal setting theory), Teori Victor H. Vroom (Teori Harapan).  Dalam iklan tersebut terdapat pemain sepakbola terbaik dunia Lionel Messi yang menggunakan produk terbaru Adidas Adizero MiCoach ii dimana dalam sepatu tersebut terdapat chip untuk menyimpan statistik pemain seperti kecepatan berlari, jarak tempuh berlari, waktu, ketahanan, dan lain-lain. Dengan iklan ini, audience diharapkan akan termotivasi untuk menggunakan produk tersebut dalam tujuan meraih prestasi dan mensinergikan kekuatannya dengan keadaan lingkungan yang ada.

2.      Mie Sedap Rasa Ayam Spesial

 

[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=uOeF2_T6_j4&feature=related[/youtube]

 

Iklan ini menggunakan beberapa teori motivasi seperti Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan), Teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku, Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi, Teori Victor H. Vroom (Teori Harapan ),Teori Clyton Alderfer (Teori “ERG). Dalam iklan tersebut terdapat seorang anak kecil yang memelihara seekor ayam hendak bersekolah. Sepulang sekolah, ia merasa lapar, namun mencari-cari ayam kesayangannya. Kemudian ibunya membujuknya untuk segera makan siang. Ia memakan mie instant rasa ayam dengan lahap, kemudian ia tersadar bahwa ayamnya tak kunjung datang. Ia curiga jangan-jangan ayam-ayamnya dijadikan bahan makanan yang baru saja ia makan. Kemudian ibunya menjelaskan bahwa yang baru saja ia makan bukan berasal dari ayam-ayamnya, melainkan mie instant rasa ayam. Melalui iklan ini, audience diharapkan ikut merasakan emosi yang dirasakan anak tersebut, dan juga memiliki harapan-harapan untuk memberikan rasa kenyang ketika memakan mie instant rasa ayam spesial.

3.      Iklan Toyota New Yaris 2012

 

http://www.youtube.com/watch?v=yInFREhUlxU&feature=related

 

Iklan ini menggunakan beberapa teori motivasi antara lain Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan), Teori Herzberg (Teori Dua Faktor), Teori Victor H. Vroom (Teori Harapan ), Teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku,Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi. Dalam iklan tersebut tampil seorang wanita cantik yang berada di kantor, dimana ia merupakan pusat perhatian di kantornya. Ada 3 lelaki yang sangat berambisi kepadanya, sedangkan wanita tersebut lebih memilih pergi bersama lelaki pilihannya. Di perjalanan, wanita bersama pria pilihannya (mengendarai New Yaris 2012) dibuntuti oleh ketiga lelaki tersebut (mengendarai Starlet). Kedua mobil tersebut sama-sama produk toyota, namun dalam iklan ini menonjolkan bahwa mobil New Yaris terlihat lebih cepat, eksplosif, dan memiliki handling yang baik. Melalui iklan ini audience diharapkan terbujuk untuk membeli dan mengendarainya, dengan segmen pasar yaitu kaum muda. Perilaku kaum muda sekarang ini memang sangat mudah dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan yang ada. Eksistensi, harapan, dan prestasi merupakan tujuan mereka sebagai kaum yang haus pencapaian.

 

 

 

Tugas Perilaku Konsumen : Segmentasi Data Kependudukan Prov Jatim

March 14th, 2012
Nama : Rizky Andawasatya
NIM : 0910223099
Kelas BB
Dosen : Nanang Suryadi

 

  • Data Kependudukan Provinsi Jawa Timur berdasarkan aspek-aspek demografis :

a)      Jumlah Penduduk dan Penyebarannya

 

Provinsi Jawa Timur didiami oleh penduduk sebesar 37.476.757 jiwa, yang tersebar di wilayah desa sebesar 19.644.024 jiwa (52,42 persen) dan di wilayah kota sebesar 17.832.733 jiwa (47,58 persen).

 

b)      Jenis Kelamin Penduduk

 

Provinsi Jawa Timur didiami oleh penduduk berjenis kelamin laki-laki sebesar 18.503.516 jiwa dan perempuan sebanyak 18.973.241 jiwa. Seks Rasio adalah 98, berarti terdapat 98 laki-laki untuk setiap 100 perempuan.

 

c)      Umur Penduduk

 

Provinsi Jawa Timur tahun 2010 memiliki rentang tengah usia selama 31,03 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa penduduk Provinsi Jawa Timur termasuk kategori tua. Penduduk suatu wilayah dikategorikan penduduk muda bila rentang tengah usia kurang dari 20 tahun, penduduk menengah jika rentang tengah usia 20-30, dan penduduk tua jika rentang tengah usia lebih dari 30 tahun.

 

d)     Pendidikan yang Ditamatkan

 

Kualitas SDM dapat dilihat dari pendidikan yang ditamatkan. Gerakan wajib belajar 9 tahun (1994) menargetkan pendidikan yang ditamatkan minimal tamat SMP. Persentase penduduk usia 5 tahun ke atas yang tidak/belum pernah sekolah sebesar 12,37 persen, tidak/belum tamat SD 17,67 persen, tamat SD/MI/sederajat 32,02 persen dan tamat SMP/MTs/sederajat sebesar 16,88 persen.

 

Kualitas SDM daerah perdesaan lebih rendah dibandingkan daerah perkotaan. Persentase penduduk uisa 5 tahun ke atas berpendidikan minimum tamat SMP/MTs/sederajat di perdesaan 26,43 persen lebih rendah dibandingkan perkotaan 50,69 persen. Pendidikan perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Persentase penduduk perempuan usia 5 tahun ke atas berpendidikan minimum tamat SMP/MTs/sederajat 34,94 persen lebih rendah dibandingkan laki-laki 41,05 persen.

 

e)      Ketenagakerjaan

 

Jumlah penduduk yang merupakan angkatan kerja di Provinsi Jawa Timur sebesar 18.637.791 orang, di mana sejumlah 18.239.857 orang diantaranya bekerja, sedangkan 397.934 orang merupakan pencari kerja. Dari hasil SP 2010, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Provinsi Jawa Timur sebesar 66,44 persen, di mana TPAK laki-laki lebih tinggi daripada TPAK perempuan, yaitu masing-masing sebesar 82,35 persen dan 51,35 persen.

 

Sementara itu, bila dibandingkan menurut perbedaan wilayah, TPAK di perkotaan lebih rendah daripada perdesaan, masing-masing sebesar 61,96 persen dan 70,46 persen. Tiga kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur dengan TPAK tertinggi berturut-turut adalah Kabupaten Pacitan (78,86), Kabupaten Magetan (73,61), dan Kabupaten Trenggalek (73,36). Dengan jumlah pencari kerja sejumlah 397 934 orang, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di provinsi ini mencapai 2,14 persen.

 

f)       Pendapatan

  1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur pada triwulan IV tahun 2011 mengalami kontraksi sebesar – 0,31 persen terhadap triwulan III tahun 2011 (q-to-q). Penurunan hanya terjadi di sektor pertanian sebesar 19,31 persen, sedangkan peningkatan terjadi pada hampir semua sektor dengan pertumbuhan tertinggi di sektor industri pengolahan sebesar 4,47 persen dan terendah di sektor pengangkutan dan komunikasi 1,81 persen.
  2. Bila dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2010 (y-on-y), PDRB Jawa Timur Triwulan IV-2011 tumbuh sebesar 7,11 persen. Semua sektor tumbuh positif dan yang tertinggi terjadi di sektor pengangkutan dan komunikasi 9,86 persen, diikuti sektor perdagangan, hotel & restoran sebesar 9,69 persen, sedangkan terendah di sektor pertanian sebesar 1,64 persen.
  3. Secara kumulatif (triwulan I s/d triwulan IV), pertumbuhan PDRB Jawa Timur hingga triwulan IV-2011 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010 (c-to-c) tumbuh 7,22 persen, dimana semua sektor mengalami pertumbuhan positif dan tertinggi di Sektor Pengangkutan dan Komunikasi sebesar 11,44 persen, sedangkan terendah di sektor pertanian sebesar 2,53 persen.
  4. Besaran PDRB Jawa Timur atas dasar harga berlaku pada triwulan IV tahun 2011 sebesar Rp 229,76 triliun, sehingga kumulatif sampai dengan triwulan IV tahun 2011 mencapai Rp. 884,14 triliun. Dengan jumlah penduduk pertengahan tahun 2011 sebanyak 37.687.622 jiwa, PDRB per kapita Jawa Timur mencapai Rp. 23,46 juta, atau naik 12,95 persen dibanding PDRB perkapita tahun 2010 yang sebesar Rp. 20,77 juta.
  5. Struktur perekonomian Jawa Timur sampai dengan Triwulan IV-2011 masih didominasi Sektor Perdagangan, Hotel & Restoran dengan kontribusi sebesar 30,00 persen, diikuti sektor industri pengolahan 27,13 persen dan sektor pertanian 15,39 persen.

 

 

Sumber  : http://sp2010.bps.go.id/index.php/site?id=35&wilayah=Jawa-Timur

: http://jatim.bps.go.id/?cat=67

 

 

  • Segmentasi yang dapat dilakukan berdasarkan aspek-aspek demografis di atas antara lain :

 

  1. Usia, yang terbagi atas beberapa kategori antara lain :
    1. Usia di bawah umur, dengan rentang usia 0-16 tahun
    2. Usia produktif, dengan rentang usia 17-59 tahun
    3. Usia lanjut, dengan rentang usia 60 tahun ke atas
  2. Pendidikan, yang terbagi atas beberapa kategori antara lain :
    1. Gerakan Wajib Belajar 9 Tahun (dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Pelajar)
    2. Golongan Belajar Lanjutan (Sekolah Menengah Atas hingga Sarjana 1, 2, dan 3.
  3. Ketenagakerjaan, yang terbagi atas beberapa kategori antara lain :
    1. Pekerja Tetap
    2. Pencari Kerja
    3. Pengangguran

 

  • Karakteristik dari masing-masing segmen di atas :

 

  1. Pada usia di bawah umur, yakni dari usia 0-16 tahun, memiliki karakteristik konsumtif dan cenderung boros, terlalu mudah mengikuti alur kehidupan yang keras, dan masih belum memiliki pedoman hidup. Sedangkan usia produktif dan usia lanjut cenderung hemat dan mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan yang ada.
  2. Program Wajib Belajar 9 tahun berhubungan dengan segmen usia di bawah umur yaitu 0-16 tahun, kemudian golongan belajar lanjutan berhunbungan dengan segmen usia produktif dan lanjut. Masyarakat pada usia di bawah umur lebih cenderung menerima pendidikan yang berisikan ilmu atau teori-teori dasar, sedangkan masyarakat pada usia produktif dan lanjut cenderung menerima pendidikan ilmu praktisi dan lanjutan yang berhubungan dengan pengalaman dan implementasi hidup.
  3. Golongan pengangguran memiliki hubungan dengan segmen usia di bawah umur dan segmen program wajib belajar. Sedangkan golongan pencari kerja dan pekerja tetap berhubungan dengan segmen belajar lanjutan dan segmen usia produktif. Masyarakat pengangguran belum memiliki pekerjaan sebab belum memiliki modal berupa skill untuk bekerja, sedangkan masyarakat pekerja tetap dan pencari kerja telah memiliki modal berupa skill dasar.

 

  • Artikel Jurnal yang membahas segmentasi

Segmentasi Pasar Konsumen

May 6th, 2009 | Umum |

Segmentasi Pasar Konsumen

Heru Sukarno (06019025)

Teknik Industri, Universitas Ahmad Dahlan

 

Tidak ada cara tunggal untuk membuat segmen pasar. Pemasar harus mencoba variabel segmentasi yang berbeda, secara sendiri atau kombinasi untuk mencari cara terbaik untuk memetakan struktur pasar. Terdapat beberapa variabel utama yang sering digunakan untuk menentukan segmentasi pasar, yakni variabel geografik, demografik, psikografik, dan tingkah laku tertentu.

Segmentasi Geografik

Segmentasi geografik membagi pasar menjadi beberapa unit secara geografik seperti negara, regional, propinsi, kota, wilayah kecamatan, wilayah kelurahan dan kompleks perumahan.

Demografi

Segmentasi pasar demografik membagi pasar menjadi kelompok berdasarkan pada variabel seperti jenis kelamin, umur, status perkawinan, jumlah keluarga, umur anak, pendapatan, jabatan, lokasi geografi, mobilitas, kepemilikan rumah, pendidikan, agama, ras atau kebangsaan.

Segmentasi Psikografik

Segmentasi psikografik membagi pembeli menjadi kelompok berbeda berdasarkan pada karakteristik kelas sosial, gaya hidup atau kepribadian. Dalam kelompok domografik, orang yang berbeda dapat mempunyai ciri psikografik yang berbeda.

Segmentasi Tingkah Laku

Segmentasi tingkah laku mengelompokkan pembeli berdasarkan pada pengetahuan, sikap, penggunaan atau reaksi mereka terhadap suatu produk. Banyak pemasar meyakini bahwa variabel tingkah laku merupakan awal paling baik untuk membentuk segmen pasar.

Pendapat Saya :

Menurut saya, penjelasan di atas benar. Pendapat saya tentang segmentasi pasar itu sendiri yakni segmentasi pasar adalah suatu tindakan membagi pasar menjadi segmen–segmen pasar tertentu yang dijadikan sasaran penjualan yang akan dicapai dengan marketing mix. Banyaknya perusahaan yang melakukan segmentasi pasar atas dasar pengelompokkan variabel tertentu. Dengan menggolongkan atau mensegmentasikan pasar seperti itu, dapat dikatakan bahwa secara umum perusahaan mempunyai motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat penjualan dan yang lebih penting lagi agar operasi perusahaan dalam jangka panjang dapat berkelanjutan dan kompetitif (Porter, 1991).

Manfaat yang lain dengan dilakukannya segmentasi pasar, antara lain:

  1. Perusahaan akan dapat mendeteksi secara dini dan tepat mengenai kecenderungan-kecenderungan dalam pasar yang senantiasa berubah.
  2. Dapat mendesign produk yang benar-benar sesuai dengan permintaan pasar.
  3. Dapat menentukan kampanye dan periklanan yang paling efektif.
  4. Dapat mengarahkan dana promosi yang tersedia melalui media yang tepat bagi segmen yang diperkirakan akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar.
  5. Dapat digunakan untuk mengukur usaha promosi sesuai dengan masa atau periode-periode dimana reaksi pasar cukup besar.

Pengusaha yang melakukan segmentasi pasar akan berusaha mengelompokkan konsumen kedalam beberapa segmen yang secara relatif memiliki sifat-sifat homogen dan kemudian memperlakukan masing-masing segmen dengan cara atau pelayanan yang berbeda.

 

  • Position Iklan
[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=ZQnC_ot5fAg[/youtube]

 

Saya mengambil sebuah contoh iklan yaitu iklan honda beat versi Cherrybelle ft RAN. Disini mereka berperan sebagai kaum muda yang enerjik, kreatif, dan produktif. Mereka menjadi ikon yang membujuk kaum muda untuk ikut mengendarai motor Honda Beat. Dalam iklan tersebut, mereka menunjukkan bahwa dengan mengendarai motor Honda Beat, mereka mampu mengeluarkan ide-ide kreatif dalam keseharian dan menjadi kaum produktif.

 

Perusahaan Honda mampu memposisikan produknya secara tepat. Dengan mencocokkan karakteristik produk mereka dengan selera dan kebutuhan kaum muda, bukan tak mungkin penjualan motor Honda Beat akan meningkat dikarenakan iklan tersebut yang berhasil membujuk kaum muda untuk membeli dan mengendarai ketika menjalani kehidupan sehari-hari.

 

Tugas Perilaku Konsumen

March 7th, 2012

Nama : Rizky Andawasatya R

NIM : 0910223099

Mata Kuliah : Perilaku Konsumen

Dosen : Pak Nanang Suryadi

Kelas : BB

 

  1. Menjelaskan evolusi pemikiran pemasaran

 

Terdapat beberapa konsep di dalam pemasaran yaitu :

 

a)      Fokus pada produksi, dimana pada konsep ini pemasar lebih berfokus untuk menekan biaya produksi sebuah produk dengan tujuan barang dan jasa yang diproduksi berharga murah dan tersedia dimana-mana sehingga konsumen akan membelinya.

b)      Fokus pada produk, dimana pada konsep ini pemasar lebih berfokus untuk pengembangan kualitas pada produk untuk mempengaruhi pengambilan keputusan pembelian.

c)      Fokus pada pelanggan, dimana pada konsep ini pemasar lebih berfokus untuk memberikan layanan tambahan kepada konsumen dalam mengkonsumsi produk yang diproduksi pemasar dengan tujuan memberikan kepuasan berlebih kepada konsumennya.

d)     Fokus kepada pasar, dimana pada konsep ini pemasar selain berfokus kepada kepuasan konsumen tetapi juga berfokus kepada pesaing-pesaing yang ada dengan menciptakan keunggulan bersaing untuk menjadi leader di pasar yang ada.

e)      Fokus kepada pemasaran sosial, dimana pada konsep ini pemasar berfokus untuk memberikan kepuasan penggunaan produk tetapi juga memberikan kesejahteraan sosial serta memberi sinergi yang baik kepada lingkungan.

2. Menjelaskan Marketing Mix

 

Marketing Mix diberlakukan oleh perusahaan dengan tujuan untuk mempengaruhi beberapa proses pengambilan keputusan pada pembeli, yang akan selalu memperhitungkan variabel-variabel seperti product, place, price, dan promotion. Marketing Mix sendiri merupakan upaya penggabungan variabel-variabel tersebut untuk membuat suatu model pemasaran yang efektif dan efisien.

3. Menjelaskan Segmenting, Targeting, and Positioning (STP)

 

a)      Segmenting artinya mengelompokkan pembeli-pembeli berdasarkan pada demografi, pendidikan, kebutuhan, karakteristik, kelas ekonomi dan bahkan perilaku-perilaku tiap-tiap pembeli yang beraneka ragam.

b)      Targeting artinya membidik kelompok pasar yang akan kita pilih, berdasarkan pertimbangan pada segmenting.

c)      Positioning artinya pemasar berusaha untuk menciptakan brand image produk yang diproduksi dalam persepsi konsumen. Persepsi yang baik terhadap konsumen akan sangat mempengaruhi pembeli dalam pengambilan keputusan pembelian.

 

4. Menjelaskan Kepuasan dan Loyalitas Konsumen

Konsumen yang puas dalam mengonsumsi produk belum tentu akan loyal terhadap produk tersebut. Oleh karena itu pemasar harus memberikan layanan lebih dari cukup untuk memberikan kebutuhan-kebutuhan tambahan kepada konsumen ketika mengonsumsi produk mereka. Ketika konsumen menilai produk yang dikonsumsi mampu memberikan manfaat tambahan selain memenuhi kebutuhan utama, disitulah konsumen akan loyal untuk melakukan pembelian berulang. Pemasar harus mampu memenuhi harapan-harapan konsumen untuk mencapai loyalitas konsumen.

5. Menjelaskan Etika dan Tanggung Jawab Sosial

 

Dalam konsep pemasaran, etika dan tanggung jawab sosial harus diperhatikan. Etika dan tanggung jawab sosial nantinya akan sangat mempengaruhi citra dan persepsi masyarakat terhadap perusahaan. Etika dan tanggung jawab sosial pada dasarnya dijadikan perusahaan untuk menjembatani lingkungan internal dan eksternal perusahaan. Tanggung jawab sosial memang selalu dilaksanakan berdasarkan etika-etika yang sudah ditetapkan untuk menghindari pelanggaran norma-norma di lingkungan perusahaan.

6. Menjelaskan Pengaruh Teknologi dan Informasi Konsumen

 

Globalisasi sangat mempengaruhi perubahan pola hidup manusia sekarang ini. Penyebaran informasi yang cepat, proses kerja yang praktis, penggunaan sumber daya yang lebih efektif dan efisien, merupakan tanda berhasilnya globalisasi dalam mengubah pola hidup manusia. Begitu pula dalam pemasaran. Aktivitas jual beli terasa makin mudah dan praktis. Sarana teknologi menjadi media penting di dalamnya. Jarak dan waktu tidak diperhitungkan lagi. Apapun dapat dilakukan. Apalagi perilaku konsumen yang cenderung dinamis sangat bergantung pada teknologi dan informasi konsumen.

7.  Menjelaskan Perbedaan Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

 

Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dibedakan berdasarkan :

 

a)      Jenis data

Penelitian kuantitatif menggunakan data yang bersifat kualitatif, sedangkan penelitian kualitatif menggunakan data yang bersifat kuantitatif.

b)      Proses penelitian

Penelitian kuantitatif memiliki proses deduktif dan induktif, sedangkan penelitian kualitatif hanya memiliki proses induktif saja.

c)      Jumlah responden

Penelitian kuantitatif menggunakan responden yang berjumlah banyak dan beranekaragam, sedangkan penelitian kualitatif hanya menggunakan responden yang berjumlah sedikit dan fokus.

d)     Sumber data

Penelitian kuantitatif memperoleh data berasal dari kuesioner, survey, dan instrumen lainnya, sedangkan penelitian kualitatif memperoleh data berasal dari hasil-hasil penelitian terdahulu.

e)      Tujuan penelitian

Tujuan penelitian kuantitatif adalah mengkonfirmasi kebenaran dari hipotesis yang ada, dan menjadikan hasil penelitian sebagai dasar suatu konsep pemasaran yang akan dijalankan perusahaan, sedangkan tujuan penelitian kualitatif hanya untuk eksplorasi dari hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.

8. Menjelaskan Skala Pengukuran

 

Skala pengukuran ada 4 yaitu nominal, ordinal, interval dan ratio. Berikut penjelasannya :

 

a)      Nominal, dimana dalam skala ini dilakukan penggolongan antara kategori yang satu dengan yang lainnya.

b)      Ordinal, yang serupa dengan skala nominal.

c)      Interval, dimana dalam skala ini memiliki ciri-ciri yang sama dengan skala ordinal, bedanya pada skala interval tingkat perbedaan dapat diketahui.

d)     Rasio, dimana dalam skala ini terdapat rasio nol yang menjelaskan ketidakadaan suatu kondisi.

 

 

 

 

Hello world!

March 7th, 2012

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!