Nama : Deya Daniel Bagus A.

NIM : 0910220077

Tugas : Perilaku Konsumen

Dosen : Pak Nanang Suryadi

1. Pengaruh kelompok acuan terhadap minat beli

Dalam kehidupan sehari – hari kita tidak mungkin sendirian dalam melakukan sebuah kegiatan. Oleh karena itu kita butuh teman ataupun orang – orang lain untuk menemani kita, ahkirnya terjadilah kelompok – kelompok yang tumbuh didalam kehidupan kita karena kepentingan – kepentingan yang berbeda. Begitu pula dengan kelompok konsumen pemasaran, mereka juga membutuhkan sebuah kelompok untuk memilih sebuah produk. Salah satunya kelompok acuan. Kelompok acuan merupakan kelompok atau individu yang memiliki pengaruh secara langsung (tatap muka) atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang. Seorang anak sebagai konsumen akan memperoleh sosialisasi dan pengaruh baik dari anggota keluarga maupun teman-temannya, mereka akan mempengaruhi seorang anak dalam membeli produk dan jasa, dan pemilihan merek maupun selera terhadap suatu produk dan jasa. Jelas kelompok acuan ini mempunyai pengaruh yang besar ke masyarakat karena kelompok ini adalah kelompok terdekat dalam seseorang, contohnya keluarga.

Dari pandangan preferensi konsumen, Cowan et al. (1997) membagi menjadi tiga referensi grup yaitu peer group, contrast group dan inspirational group. Blackwell et al. (2001) membagi menjadi delapan tipe kelompok acuan diantaranya : primary, secondary, formal, informal, membership, inspirational, dissociative dan virtual group

Mengenai pengaruh dari tipe – tipe dari kelompok acuan, park dan lessig (1997) mengidentifikasi lagi menjadi empat ukuran penting. Pengaruh informasi didasarkan dari keinginan untuk membuat keputusan yang telah diinformasikan. Pengaruh kelompok Referensi yang bermanfaat dicerminkan melalui sebuah usaha untuk memenuhi sebuah keinginan dengan harapan dari orang lain untuk mendapatkan hadiah atau menghindari hukuman. Pengaruh ketiga adalah nilai yang ekspresif, dikarakteristikan dengan kebutuhan bagi asosiasi psikologi dengan seseorang atau kelompok dan dicerminkan dalam posisi ekspresi penerimaan oleh orang lain. Blackwell et al. (2001) juga mengusulkan tiga tipe primer dari pengaruh – pengaruh kelompok acuan yang akan mempengaruhi keputusan seseorang, perilaku orang, perilaku pembelian dan gaya hidup. Disamping pengaruh informasional dan pengaruh nilai ekspresif, pengaruh normatif terjadi ketika individu mengubah perilaku mereka atau kepercayaannya untuk menemukan harapan – harapan dari kelompok tersebut.

Semenjak Bearden dan Etzel (1982) telah menginvestigasi pengaruh kelompok dalam produk dan keputusan pembelian merk odengan cara menguji hubungan antara dua bentuk produk yang menarik perhatian dan tiga tipe dari pengaruh kelompok acuan . oleh karena itu, pengaruh sosial diadopsi dari intisari dari Park and Lessig (1997) dan Bearden and Etzel (1982) untuk dikembangkan kedalam hipotesis – hipotesis sebelumnya.

Berikut gambaran pengaruh kelompok acuan dalam keputusan membeli:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber :

A study on the influence of purchase intentions on repurchase decisions: the moderating effects of reference groups and perceived risks, Long-Yi Lin and Yeun-Wen Chen, Management Sciences Aletheia University, Taipei,Taiwan, 2009

2. Memetakan kelas sosial di indonesia untuk target pasar

Kelas sosial dalam keputusan pembelian sangat berpengaruh. Seseorang akan membeli produk dengan harga tinggi atau murah di pengaruhi oleh kelas sosial masing masing juga.

Kelas sosial adalah kelompok yang terbentuk berdasarkan tingkat pendapatan, status,  kekayaan, pendidikan, lingkungan tempat tinggal dan nilai mereka tentukan dengan indikator kesesuaian dengan tingkat pendapatan perbulan, pendidikan, dan prestise. Menurut kotler (2004:186), kelas sosial adalah pembagian masyarakat yang relatif dan permanen, yang tersusun secara hierarkis dan yang anggotanya menganut nilai-nilai, minat dan perilaku yang serupa.

Kelas-kelas sosial memiliki beberapa karateristik:

  1. Orang-orang dalam masing-masing kelas sosial cenderung untuk berperilaku yang  lebih mirip daripada orang-orang dari dua kelas sosial berbeda.
  2.  Orang-orang dipandang mempunyai posisi yang lebih tinggi atau rendah menurut kelas sosial mereka.
  3. Kelas sosial mereka ditandakan oleh sejumlah variabel, seperti pekerjaan, penghasilan, kekayaan, pendidikan, dan orientasi nilai, dan bukan oleh salah satu variabel, tunggal tertentu.
  4. Individu-individu dapat bergerak dari satu kelas sosial ke yang lain naik atau turun selama hidup mereka.

Menurut James F.Engel, Roger D.Blackwell dan Paul W.Miniard (1992:121), kelas sosial mengacu pada pengelompokan orang yang sama dalam perilaku mereka berdasarkan posisi ekonomi mereka didalam pasar. Keanggotaan kelas ada dan dapat dideskripsikan sebagai kategori statistik entah individu-individunya sadar atau tidak akan situasi mereka yang sama. Kelompok status mencerminkan suatu harapan akan komunitas gaya hidup dikalangan masing-masing  kelas dan juga estimasi sosial yang positif atau negatif mengenai kehormatan yang diberikan kepada masing-masing kelas.Pengertian akan perkembangan kelas sosial penting dalam memahami konsumsi karena dua alasan tambahan:

  1.  Konsumen menggunakan gaya hidup yang diisyaratkan didalam kelas orisinil mereka, walaupun orang bergerak naik atau uturun didalam struktur kelas.
  2. Gaya hidup kelas menengah atas cenderung merembes turun dan menjadi diterima secara umum oleh masyarakat.

Pembagian Kelas sosialMenurut Mangkunegara (1988:46) kelas sosial dalam hubungannya dengan perilaku konsumen dapat dikarateristikkan antara lain:

  1. Kelas sosial golongan atas memiliki kecenderungan membeli barang-barang mahal, membeli pada toko yang berkualitas dan lengkap, konservatif  dalam konsumsinya, barang-barang yang dibeli cenderung untuk dapat menjadi warisan bagi keluarganya.
  2. Kelas sosial golongan menengah cenderung membeli barang untuk menampakkan kekayaannya, membeli barang dengan jumlah banyak dan kualitasnya cukup memadai. Mereka berkeinginan membeli barang yang mahal dengan sistem kredit.
  3. Kelas sosial golongan rendah cenderung membeli barang dengan mementingkan kuantitas daripada kualitasnya. Mereka membeli barang untuk kebutuhan sehari-hari.

Menurut Pride dan Ferrel (1995:207) seseorang yang menilai orang lain tidak harus menerapkan semua kriteria dalam suatu masyarakat. Jumlah dan pentingnya faktor-faktor  yang dipilih bergantung pada ciri-ciri individu yang diurutkan dan nilai-nilai orang yang melakukan penilaian tersebut.

Berdasar kan uraian diatas kelas sosial terdiri atas 5 variabel antara lain:

  1. Pekerjaan   : merupakan sumber pencaharian yang dilakukan untuk mendapatkan  nafkah.
  2. Penghasilan: merupakan pendapatan atau uang yang diterima.
  3. Kekayaan : merupakan harta (benda) yang menjadi milik orang.
  4. Pendidikan : merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan  pelatihan, proses, perbuatan, cara mendidik.
  5. Prestise: merupakan wibawa (perbawa) berkenandengan prestasi atau kemampuan  seseorang

Proses keputusan pembelian

Pengenalan kebutuhan -> pencarian informasi -> evaluasi alternatif -> keputusan pembelian -> perilaku setelah membeli

Hubungan Kelas Sosial dengan Keputusan Pembelian

Kelas sosial mampu mempengaruhi keputusan pembelian terhadap suatau produk tertentu, menurut seorang pelayan apa yang telah diberikannya kepada konsumen dianggapnya baik, akan tetapi bagi konsumen itu dianggap kurang. Perbedaan persepsi ini akan mepengaruhi pembelian ulang dari konsumen. Seseorang yang merasa puas tentu akan melakukan pembelian ulang terhadap produk yang pernah dibelinya, tetapi seseorang yang merasa kurang puas tentu tidak akan melakukan pembelian ulang.

Kelas sosial sampai tingkat tertentu menetapkan jenis, mutu produk, dan jumlah produk yang dibeli dan dipergunakan seseorang. Kelas sosial juga mempengaruhi pola belanja seorang individu dan jenis toko yang dilangganinya. Iklan kadang-kadang didasari daya tarik untuk kelas sosial tertentu. (pride dan Ferrell, 1995:210)Sampai tingkat tertentu, orang-orang dari masing-masing kelas sosial cenderung memilki pola perilaku yang hampir sama daripada orang-orang dari kelas sosial yang berbeda. Mereka mungkin memiliki sikap, seperangkat nilai, pola bahasa, dan kepemilikan yang relatif mirip. Kelas sosial mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan. Karena begitu berkaitan dengan banyak aspek dalam kehidupan seseorang, kelas sosial juga berpengaruh terhadap keputusan-keputusan pembelian.

Berikut ini beberapa kelas sosial di Indonesia yang biasanya di petakan :

  • loyd Warner membagi pasar ke dalan enam kelas sosial, yaitu : (karakteristik Indonesia)
  1. Kelas A+ (atas-atas) pengeluaran perbulan > Rp 8.000.000,-
  2. Kelas A (atas-bawah)……………………………………   Rp 6.000.000,- sampai Rp 8.000.000,-
  3. Kelas B+ (menengah-atas)…………………………..   Rp 4.000.000,- sampai Rp 6.000.000,-
  4. Kelas B (menengah-bawah)………………………..   Rp 700.000,- sampai Rp 4.000.000,-
  5. Kelas C+ (bawah-atas)…………………………………    Rp 300.000,- sampai Rp 700.000,-
  6. Kelas C (bawah-bawah)……………………………… < Rp 300.000,-
  • Kombinasi antara income dan kelas dalam kelompok pekerjaan dapat juga dibagi dalam segmen sebagai berikut :
  1. A       = Upper Class
  2. B       = Higher Professional
  3. C1     = Lower Professional
  4. C2     = Skilled Non Professional
  5. D       = Manual Worker, Unskilled Labour
  6. E        = Pensioner, Low Waged, Unemployed

Sumber :

Mangkunegara, Anwar Prabu. 1998. Perilaku Konsumen. Bandung: PT Eresco

Pride, william M. Ferrel, OC. 1995. Pemasaran: Teori & Praktek sehari-hari. Terjemahan

Daniel Wijaya. Jilid I. Jakarta: Binarupa Aksara

Kotler, Philip. 1995.  Manajemen pemasaran: analisis, perencanaan, implementasi, dan

pengendalian. Terjemahan Ancella Anita Hermawan. Buku Satu. Jakarta: Salemba Empat

presentice-Hall.

Swastha, Basu dan Irawan. 2000a. Manajemen Pemasaran Modern. Yogyakarta: Liberty.

Engel, James F., Roger D. Blackwell dan Paul W.Miniard. 1994. Consumer Behaviour. Alih

Bahasa F.X.Budiyanto. Binarupa Aksara, Jakarta.

Kotler, Philip, 1997.  Marketing Management: Analysis, Planning, Implementation, and

Control. Diterjemahkan oleh Hendra Teguh dan Ronny A. Rusli, PT. Prenhallindo, Jakarta.

3. Perbedaan  Budaya Indonesia Dulu dan Sekarang, Serta Pandangan Saya Sebagai Orang Indonesia

Budaya juga mempunyai pengaruh khusus dalam keputusan seseorang dalam membeli. Di Indonesia budaya sangat mudah mengalami proses penggabungan budaya. Dari jaman aninisme, dinamisme, agama Budha, Hindu, Islam, Kristen dan Khatolik kebudayaan mengalami beberapa proses perubahan dari waktu ke waktu.

Berikut perubahan perubahan yang terjadi dalam bidang sosial budaya selama dari dulu sampai sekarang:

Budaya Indonesia

Kebudayaan Indonesia dapat didefinisikan sebagai seluruh kebudayaan lokal yang telah ada sebelum bentuknya Indonesia pada tahun 1945. Seluruh kebudayaan lokal yang berasal dari kebudayaan beraneka ragam suku-suku di Indonesia merupakan bagian integral daripada kebudayaan Indonesia.

Walaupun kebudayaan Indonesia beraneka ragam, namun pada dasarnya terbentuk dan dipengaruhi oleh kebudayaan besar lainnya seperti kebudayaan Tionghoa, kebudayaan India, dan kebudayaan Arab. Kebudayaan India terutama masuk dari penyebaran agama Hindu dan Buddha di Nusantara jauh sebelum Indonesia terbentuk. Kerajaan-kerajaan yang bernafaskan agama Hindu dan Budha sempat mendominasi Nusantara pada abad ke-5 Masehi ditandai dengan berdirinya kerajaan tertua di Nusantara, yaitu Kutai sampai pada penghujung abad ke-15 Masehi.

Kebudayaan Tionghoa masuk dan mempengaruhi kebudayaan Indonesia karena interaksi perdagangan yang intensif antara pedagang-pedagang Tionghoa dan Nusantara (Sriwijaya). Selain itu, banyak pula yang masuk bersama perantau-perantau Tionghoa yang datang dari daerah selatan Tiongkok dan menetap di Nusantara. Mereka menetap dan menikahi penduduk lokal dan menghasilkan perpaduan kebudayaan Tionghoa dan lokal yang unik. Kebudayaan seperti inilah yang kemudian menjadi salah satu akar daripada kebudayaan lokal modern di Indonesia seperti kebudayaan Jawa dan Betawi.

Sistem Kepercayaan / Religi

Di Indonesia terdiri dari lima agama besar, yaitu: Islam, Protestan, Katolik, Hindu, dan Budha. Agama di Indonesia memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dinyatakan di dalam ideologi bangsa Indonesia, Pancasila: “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sejumlah agama di Indonesia berpengaruh secara kolektif terhadap politik, ekonomi dan budaya. Di tahun 1998, kira-kira 88% dari 222 juta penduduk Indonesia adalah pemeluk Islam, 5% Protestan, 3% Katholik, 2% Hindu, 1% Buddha, dan 1% kepercayaan lainnya. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa penganut agama Islam di Indonesia lebih mendominasi daripada keempat agama yang lain.

Dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa “tiap-tiap penduduk diberikan kebebasan untuk memilih dan mempraktikkan kepercayaannya” dan “menjamin semuanya akan kebebasan untuk menyembah, menurut agama atau kepercayaannya”. Pemerintah secara resmi hanya mengakui lima agama, yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, dan Budha.

Dengan banyaknya agama atau aliran kepercayaan yang ada di Indonesia, konflik antar agama sering kali tidak terelakkan. Bukan berarti bahwa selalu terjadi penekanan terhadap agama lain. Namun hal ini mulai berkurang semenjak demokrasi di Indonesia mulai ditegakkan. Lebih dari itu, kepemimpinan politis Indonesia memainkan peranan penting di dalam hubungan antar kelompok maupun golongan. Program transmigrasi secara tidak langsung telah menyebabkan sejumlah konflik di wilayah timur Indonesia. Tapi, satu hal yang sangat menonjol yaitu bahwa kebebasan sangat dijunjung tinggi dalam hal ini. Semuanya hidup secara damai. Inilah yang membuat bangsa Indonesia terkenal dengan keanekaragamannya.

Ekonomi Dan Mata Pencaharian

Tidak dapat dipastikan secara keseluruhan apakah Indonesia mengadaptasi sistem ekonomi kapitalis secara keseluruhan atau tidak pada masa orde lama. Namun, berdasarkan beberapa pasal yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan dalam beberapa pasal dalam Undang-Undang dapat disimpulkan bahwa Indonesia menggunakan sistem perpajakan dengan nilai pajak yang cukup tinggi, dan pemerintah masih ikut campur tangan ke dalam beberapa kegiatan produksi yang berpengaruh bagi masyarakat banyak dan yang mungkin mengakibatkan ketidakstabilan ekonomi negara. Ini menandakan bahwa Indonesia tidak seutuhnya mengadaptasi sistem ekonomi kapitalis, namun juga memadukannya dengan prinsip-prinsip dari dasar negara Indonesia, yaitu Pancasila.

Berdasarkan beberapa sumber, Indonesia pernah menggunakan sistem ekonomi uang dan sewa tanah serta perpajakan, dimulai sejak kedatangan Inggris ke Indonesia pada awal abad ke-19 dengan Raffles sebagai gubernur jenderalnya. Oleh itu, Indonesia hanya perlu mengadaptasi dan memperbaiki sistem yang sudah ada.

Sistem ekonomi Indonesia juga didukung dengan diluncurkannya Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) yang menjadi mata uang pertama Republik Indonesia, selanjutnya berganti menjadi Rupiah.

Ekonomi Indonesia mengalami kemunduran pada akhir tahun 1990-an akibat krisis ekonomi yang melanda sebagian besar Asia pada saat itu. Ekonominya kini telah lumayan stabil saat ini. Indonesia mempunyai sumber daya alam yang besar di luar Jawa, termasuk minyak mentah, gas alam, timah, tembaga, dan emas. Indonesia pengekspor gas alam terbesar kedua di dunia, meski akhir-akhir ini ia telah mula menjadi pengimpor bersih minyak mentah. Hasil pertanian yang utama termasuk beras, teh, kopi, rempah-rempah, dan karet.

Rekan perdagangan terbesar Indonesia yaitu Jepang, Amerika Serikat dan negara-negara jirannya yaitu Malaysia, Singapura dan Australia.

Meski kaya akan sumber daya alam dan manusia, Indonesia masih menghadapi masalah besar dalam bidang kemiskinan yang sebagian besar disebabkan oleh korupsi yang merajalela dalam pemerintahan.

Berbicara mengenai mata pencaharian, umumnya mata pencaharian masyarakat Indonesia saat ini bergelut di bidang kesenian, hukum, kedokteran, militer, dagang, pariwisata, pasar modal, dan lain-lain. Tetapi dengan banyaknya mata pencaharian tersebut bukan berarti bahwa bangsa Indonesia telah terlepas dari pengangguran dan kemiskinan. Masih banyak masyarakt Indonesia yang berada di dalam lingkaran pengangguran dan di bawah garis kemiskinan.

Bahasa Dan Kesenian

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi dan bahasa persatuan Republik Indonesia yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar RI 1945, Pasal 36 dan tersirat dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Bahasa ini diresmikan pada tahun 1945, tepat pada masa kemerdekaan bangsa Indonesia. Meski demikian, tidak banyak dari penduduk Indonesia yang menggunakannya sebagai bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari karena masyarakat lebih suka menggunakan bahasa daerahnya. Bahasa Indonesia sendiri adalah sebuah dialek bahasa Melayu yang menjadi bahasa resmi Republik Indonesia tapi telah mengalami banyak perubahan dan penyempurnaan.

Bahasa Indonesia merupakan bahasa dinamis yang hingga sekarang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan, maupun penyerapan dari bahasa daerah dan asing. Secara sosiologis, bisa dikatakan bahwa bahasa Indonesia baru diterima keberadaannya pada tanggal 28 Oktober 1928. Secara yuridis, baru tanggal 18 Agustus 1945 bahasa Indonesia secara resmi diakui keberadaannya. Fonologi dan tata bahasa dari bahasa Indonesia cukuplah mudah. Bahasa Indonesia juga merupakan bahasa yang digunakan sebagai penghantar pendidikan di perguruan-perguruan di Indonesia.

Sementara itu, jenis kesenian di Indonesia dapat dikategorikan dalam beberapa klasifikasi seperti: seni tari, seni music, seni bela diri, seni busana, dan banyak lagi. Kebanyakan kesenian tersebut dipengaruhi oleh beberapa kebudayaan. Tari Jawa dan Bali yang terkenal berisi aspek-aspek kebudayaan dan mitologi Hindu. Di bidang busana warisan budaya yang terkenal di seluruh dunia adalah kerajinan batik. Seni bela diri yang unik juga berasal dari wilayah Indonesia. Seni bela diri ini kadang-kadang ditampilkan pada acara-acara pertunjukkan yang biasanya diikuti dengan musik tradisional Indonesia berupa gamelan dan seni musik tradisional lainnya sesuai dengan daerah asalnya. Dan juga seni musik di Indonesia, baik tradisional maupun modern sangat banyak terbentang dari Sabang hingga Merauke salah satu contohnya adalah music dangdut.