Tugas Individu Perilaku Konsumen

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1. Evolusi Pemikiran Pemasaran / Evolusi Konsep

Evolusi konsep pemasaran pada awalnya berkembang pada industrialisasi di eropa yang memproduksi barang hanya untuk dijual saja. Setiap perusahaan berlomba memproduksi banyak barang untuk kebutuhan konsumen. Pada awalnya hal ini berlangsung baik karena penawaran lebih sedikit dari pada permintaan. Tapi karena bertambahnya perusahaan ahkirnya banyak perusahaan merugi.

Seiring berkembangnya waktu dengan adanya proses pemenuhan kebutuhan manusia tersebut munculah berbagai konsep yang terus berkembang sampai saat ini.

  • Konsep Produksi

Pemasar berkonsentrasi pada proses produksi, produsen berama-ramai membuat produk dalam jumlah besar untuk di jual ke konsumen. Model ini hidup pada masa awal industrialisasi.

  • Konsep Produk

Pemasar tidak hanya sekedar melempar produk ke pasar dalam jumlah besar akan tetapi mulai berkonsentrasi pada kualitas. Kualitas produk menjadi senjata utama untuk bersaing di pasar.

  • Konsep Penjualan

Orientasi pasar tidak lagi pada jumlah produk yang banyak atau pengembangan kualitas produk, namun bagaimana cara menjual produk tersebut.. Mulai saat itu para pemasar memperkenalkan produk ke konsumenya melalui distribusi, promosi, periklanan, dan public relations.

  • Konsep Pemasaran

Konsep pemasaran lebih luas ketimbang konsep penjualan. Pemasar tidak hanya sekedar bermain pada distribusi, promosi, periklanan, dan public relations. Konsentrasi pemasar diarahkan kepada konsumen. Membangun kepuasan konsumen menjadi tujuan utama melalui kualitas, pelayanan, dan nilai.

  • Konsep pemasaran kesejahteraan

Konsep ini di ilhami oleh teori perilaku (behavior theory)-nya Abraham Maslow, Pada tingkat kelima dikenal dengan istilah aktualisasi diri., lalu memunculkan konsep pemasaran kesejahteraan. Pada konsep pemasaran ini perusahaan mulai memperhatikan masyarakat yang telah turut membesarkan perusahannya. Perusahaan merasa perlu membalas jerih payah masyarakat.

2.  Marketing Mix / Bauran Pemasaran

Marketing Mix merupakan sebuah konsep modern yang banyak juga digunakan dalam pemasaran. Dimana konsep ini mendukung untuk mengejar maksimum profit (kotler 2005 : 17). Jerome McCarthy, mengemukakan bahwa marketing mix ada 4 yaitu :

  • Product (Produk)

Produk adalah sesuatu yang dapat ditawarkan pada suatu pasar guna mendapatkan perhatian untuk dimiliki, digunakan, dikonsumsi yang dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen.

Produk terdiri atas barang, jasa, pengalaman, events, orang, tempat, kepemilikan, organisasi, informasi dan ide.

  • Price (Harga)

Harga merupakan unsur terpenting dalam bauran pemasaran setelah produk dan merupakan satu-satunya unsur dalam bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan penjualan sedangkan unsur-unsur lainnya merupakan biaya saja. Harga adalah alat untuk mengukur nilai suatu barang, harga bagi produsen merupakan penentu bagi permintaan pasar dan mempengaruhi posisi pesaing perusahaan dalam merebut konsumen.

  • Place (Distribusi/tempat)

Tempat termasuk berbagai aktivitas yang dilakukan perusahaan untuk membuat produk dapat diperoleh dan tersedia bagi pelanggan sasaran.

  • Promotion (Iklan/Promosi)

Promosi pada dasarnya adalah bentuk komunikasi pemasaran. Promosi meliputi semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan produknya kepada pasar sasaran (Fandy Tjiptono 1997:219)

 

3. Segmenting – Targeting – Positioning

Segmentation adalah upaya untuk memilah – milah konsumen atau memetakan konsumen sesuai dengan kesamaan mereka. Kesamaan ini dapat berupa usia, gaya hidup, tempat tinggal, penghasilan, dan lainnya.

Targeting merupakan memilih atau membidik konsumen mana yang akan menjadi sasaran kita.

Apabila peta konsumen dan target sudah jelas, tahap selanjutnya merupakan positionig. Yaitu menjelaskan posisi produk kita pada konsumen dengan cara menjelaskan keunggulan dan perbedaan produk kita daripada kompetitor lain.

 

4. Konsep tentang kepuasan dan loyalitas konsumen

Menurut  Jones dan Sasser (1994:745)  menyatakan bahwa loyalitas pelanggan merupakan suatu variabel endogen yang disebabkan oleh kombinasi dari kepuasan sehingga loyalitas pelanggan merupakan fungsi dari kepuasan. Secara umum, kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan kinerja (hasil) produk yang dipikirkan terhadap kinerja (atau hasil) yang diharapkan. Jika kinerja berada di bawah harapan, pelanggan tidak puas. Jika kinerja memenuhi harapan, pelanggan puas. Jika kinerja melebihi harapan, pelanggan amat puas atau senang. Pada dasarnya konsumen mengharapkan dapat memperoleh produk yang memiliki manfaat pada tingkat harga yang dapat diterima. Untuk mewujudkan keinginan konsumen tersebut maka setiap perusahaan berusaha secara optimal untuk menggunakan seluruh asset dan kemampuan yang dimiliki untuk memberikan value terhadap harapan konsumen. Implementasi upaya ini tentunya menimbulkan konsekuensi biaya yang berbeda di setiap perusahaan termasuk para pesaingnya. Untuk dapat menawarkan produk yang menarik dengan tingkat harga yang bersaing, setiap perusahaan harus berusaha menekan atau mereduksi seluruh biaya tanpa mengurangi kualitas produk maupun standar yang sudah ditetapkan.

Sangat penting dalam hal ini menjaga loyalitas pelanggan dengan perasaan sangat puas. Karena dimana ketika pelanggan kita sangat puas maka produk kitapun akan tetap ada di masyarakat dan dianggap produk paling baik bagi konsumen.

 

5. Etika dan Tanggung jawab sosial

Semua keputusan pemasaran yang menyangkut etika dan moral merupakan etika pemasaran. Etika adalah sesuatu yang bersifat tidak tetap, benar salah sebuah keputusan tergantung dari pola pandang dipakai. Produsen membutuhkan sebuah patokan/pedoman untuk mengambil keputusan karena ada berbagai patokan yang berbeda di setiap masyarakat. Konsep pemasaran dalam hal ini sangat penting untuk dijadikan pedoman. Konsep pemasaran merupakan total usaha perusahaan, kepuasan konsumen, dan keuntungan atau tujuan jangka panjang lainnya merupakan patokan/pedoman untuk membuat suatu keputusan pemasaran. Perlu diingat bahwa kesejahteraan konsumen (consumer welfare) dalam jangka panjang sangatlah penting untuk menunjang kepuasan konsumen dan loyalitas produk.

 

6. Pengaruh teknologi informasi terhadap konsumen

Teknologi informasi ini secara langsung mampu menggeser bahkan merubah sistem pola hidup manusia dengan kecanggihan dan keungulan – keunggulannya. Seiring berkembangnya waktu teknologi informasi pun mampu memicu gejala sosial baru di masyarakat. Gejala tersebut antara lain, munculnya sistem pembelian dengan cara on-line. Perubahan dalam perundangan, hukum dan nilai-nilai budaya juga dampak dari alih teknologi modern. Hal tersebut juga mempengaruhi teknologi informasi, dari dulunya orang ingin berbisnis harus bertemu sekarang hanya melalui smartphone mereka atau handphone mereka mereka bisa melakukan meeting atau berbisnis. Teknologi Informasi sangat mempengaruhi konsumen dalam keputusan untuk membeli sebuah barang atau produk. Keunggulan atau dampak positif dari kemajuan teknologi informasi sangat besar manfaatnya. Tetapi, tidak dapat dielakkan juga bahwa dampak negatif yang dihasilkan oleh teknologi informasi ini juga muncul.

 

7. Perbedaan penelitian kuantitatif dengan kualitatif

  • Menurut sifatnya

Kuantitatif                        : konkrit, dapat teramati dan terukur.

Kualitatif               : bersifat ganda, holistik dan dinamis yang merupakan hasil dari konstruksi dan pemahaman.

  • Hubungan peneliti dengan yang diteliti

Kuantitatif                        : Independent, agar terbangun objeksitas dari peneliti.

Kualitatif               : bersifat interaktif dengan sumber data.

  • Hubungan variabel

Kuantitatif                        : bersifat kausal atau sebab akibat.

Kualitatif               : bersifat timbal balik atau interaktif.

  • Desain

Kuantitatif                        : spesifik, jelas dan rinci, serta menjadi pegangan penelitian berikutnya.

Kualitatif               : desain fleksibel dan dapat berkembang saat penelitian serta bersifat umum.

  • Tujuan

Kuantitatif                        : menunjukan hubungan antar variabel, menguji teori dan dan mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif.

Kualitatif               : menemukan pola hubungan yang bersifat interaktif, menemukan teori baru, menggambarkan realitas yang kompleks.

  • Teknik pengumpulan data

Kuantitatif                        : kuesioner, wawancara terstruktur dan observasi.

Kualitatif               : wawancara mendalam, dokumentasi, dan pengamatan partisipan.

  • Instrumen penelitian

Kuantitatif                        : angket, tes, dan wawancara terstruktur.

Kualitatif               : peneliti, buku catatan, rekaman, kamera, handycam, dsb.

  • Sumber data

Kuantitatif                        : bersifat kuantitatif, yaitu hasil dari pengukuran variabel yang dioperasionalkan dengan menggunakan instrumen.

Kualitatif               : bersifat deskriptif kualitatif dari dokumen pribadi, catatan lapangan, ucapan dan tindakan responden dan lain – lain.

 

8. Skala Pengukuran

Dalam ilmu statistika ada 4 macam skala pengukuran yaitu,

  • Skala Nominal

hanya bisa membedakan sesuatu yang bersifat kualitatif atau kategoris, misalnya jenis kelamin, agama, dan warna kulit.

  • Skala Ordinal

selain membedakan sesuatu juga menunjukkan tingkatan, misalnya pendidikan dan tingkat kepuasan pengguna.

  • Skala Interval

berupa angka kuantitatif namun tidak memiliki nilai nol mutlak sehingga titik nol dapat digeser sesuka orang yang mengukur, misalnya tahun dan suhu dalam Celcius.

  • Skala Rasio

berupa angka kuantitatif yang memiliki nilai nol mutlak dan tidak dapat digeser sesukanya, misalnya adalah suhu dalam Kelvin, panjang, dan massa.

 

Nama : Deya Daniel B.A.

Nim : 0910220077

Dosen : Bapak Nanang suryadi