dewika's blog Blog mahasiswa Universitas Brawijaya

12 September 2019

Hello world!

Filed under: Uncategorized — Dewi Kartika @ 09:02

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!

10 September 2019

Paradigma Penelitian Komunikasi dan Pengaplikasiannya

Filed under: Uncategorized — Dewi Kartika @ 16:19

DEWI KARTIKA SARI

ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Kali ini saya akan membahas tentang Paradigma Positivistik,Konstruktivistik,dan Kritis. Tujuan setiap penelitian khususnya di ilmu komunikasi adalah mendapatkan pengetahuan. Namun pada saat ini fakta memperhatikan bahwa,pendekatan,metode sehingga prosedur juga menemukan bermacam-macam metode pengetahuan yang dihasilkan. Paradigma itu sendiri merupakan sebuah cara pandang seseorang  terhadap dirinya dan lingkungannya yang tentunya akan berpengaruh pada pola pikirnya, caranya bersikap dan juga bertingkah laku, dapat diarikan juga paradigma sebagai seperangkat konsep atau nilai-nilai dan praktik yang digunakan atau di terapkan pada saat memandang sebuah realitas yang ada dalam sebuah komunitas. Paradigma berasal dari bahasa latin yaitu paradigma yang memiliki arti suatu pola atau model (1483), sedangkan dalam bahasa Yunani berasal dari kata paradeigma yang berarti untuk perbandingan atau bersebelahan.

Selama  ini, kalangan peneliti mengklasifikasikan metode-motode penelitian dalam dua ketegori yang terpisah, yaitu penelitian kuantitatif dan kualitatif. Metode penelitian ini menggunakan paradigma sebagai titik keberangkatannya. Paradigma dalam penelitian-penelitian ini sama-sama mampu digunakan untuk mengkaji segala fenomena yang menjadi bahan penelitian. Namun tentunya bisa jadi menghasilkan hasil yang berbeda pula. Penelitian  kuantitatif dapat menunjuk pada sebuah istilah yang menggambarkan pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam ilmu pengetahuan alam dan digunakan pula dalam penelitian ilmu sosial. Metode kuantitatif merupakan sebuah metode yang didasarkan pada informasi numerik, atau kuantitas-kuantitas dan biasanya diasosiasikan dalam analisis-analisis statistic (Jane Stokes:2006).Sedangkan penelitian kualitatif menunjuk pada sebuah istilah pada paradigma penelitian yang berkepentingan pada makna dan penafsiran (Hermenuetika). Metode ini adalah khas ilmu-ilmu kemanusiaan. Intinya pada kajiannya penelitian ini membuat peneliti berhubungan langsung, menjalin hubungan dialektik dengan kajian penelitiannya.

Pendekatan dalam Ilmu Komunikasi

Terdapat dua pendekatan dalam penelitian komunikasi, yaitu Kualitatif dan Kuantitatif. Pendekatan Kulitatif merupakan pendekatan dalam sebuah penelitian dengan berlandaskan pada fenomenologi dan biasanya lebih cenderung menggunakan paradigma konstruktifisme dalam upaya mengembangkan ilmu pengetahuan. Terdapat sebelas penjabaran karakteristik pendekatan kualitatif yaitu, menggunakan latar alamiah, menggunakan manusia sebagai instrument utamanya, menggunakan metode kualitatif (pengamatan, wawancara, atau studi dokumen), untuk menjaring data, menganalisis data secara induktif, menyusun teori dari bawah ke atas(grounded theory), menganalisis data secara deskriptif, lebih mementingkan proses daripada hasil, membatasi masalah penelitian berdasarkan fokus, menggunakan kriteria tersendiri seperti triangulasi, pengecekan sejawat, uraian rinci, dan lain sebagainya, untuk memvalidasi data, menggunakan desain sementara (yang dapat disesuaikan dengan kenyataan di lapangan), dan hasil penelitian dirundingkan dan di sepakati bersama olek manusia yang di jadikan sumber data (Moleng, 2004: 10-13).

Sedangkan dalam pendekatan Kuantitatif, merupakan sebuah pendekatan penelitian dengan mendasarkan diri pada paradigma positivistik dalam mengembangkan ilmu pengetahuannya. Pendekatan ini memiliki beberapa ciri khas, diantaranya adalah bersandar pada pengumpulan dan analisis data kuantitatif atau numeric, menggunakan strategi seperti survei dan eksperimen, mengadakan pengukuran dan observasi, serta melaksanakan pengujian teori dengan menggunakan uji statistik.

Pada intinya terdapat perbedaan-perbedaan yang amat mendasar menyangkut falsafah atau pendekatan yang terkandung di dalamnya. Metodologi riset kuantitatif berdasarkan pendekatan positivism (klasik/objektif). Sedangkan yang menggunakan metodologi kualitatif berasal dari pendekatan interpretif(subjektif). Pendekatan interfretif ini mempunyai dua varian, yakni konstruktivis dan kritis. Perbedaan antar pendekatan ini dapat diketahui berdasarkan empat landasan falsafahnya, yaitu : ontologis, epistemologis, aksiologis dan metodologis. Ontologis menyakut sesuatu yang dianggap sebagai realitas (what is nature of reality?), epistemologis menyangkut bagaimana cara mendapatkan pengetahuan(what is the nature of relationship between the inquirer and knowable?), aksiologis menyangkut tujuan atau untuk apa mempelajari sesuatu (ethics and values) , sedangkan metodologis mempelajari teknik-teknik dan menemukan pengetahuan (how should the inquirer go about finding out knowledge?) (Kriyantono, 2006)

Bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa ada dua paradigma besar dalam penelitian yang dilakukan oleh ilmuan sosial. Pada tahap aplikatif paradigma tersebut dalam ranah ilmu komunikasi maka ada pendekatan-pendekatan yang merupakan cabang/turunan/subordinasi dari kedua paradigma tersebut. Dalam bingkai distingsi ada tiga pendekatan yang digunakan yaitu Positivistik (Kuantitatif) serta pendekatan Konstruktivistik dan pendekatan Kritis (Kualitatif)

Untuk lebih memahami ketiga pendekatan ini, khususnya dalam ranah ilmu komunikasi ada baiknya menjelaskan ketiganya dalam sebuah ruang tersendiri. Sehingga akan didapat sebuah pemahaman yang komperhensif, parsial dan bertanggung ja)ab dalam melihat kelebihan dan kekurangan masing-masing pendekatan ini. Teori-teori komunikasi yang dipelajari oleh komunitas kampus (pengajar dan mahasiswa) pendidikan tinggi ilmu komunikasi maupun para praktisi komunikasi di Indonesia merujuk pada sumber-sumber pemikiran filosofis (metateori) yang dikenal dengan blue print atau cetak biru. Bagi kita, baik secara individual maupun kelompok yang selama ini memberi perhatian dan memiliki kepedulian terhadap perkembangan keilmuan komunikasi, cetak biru teori komunikasi perlu untuk diketahui, karena cetak biru merupakan sarana yang memungkinkan kita dapat memahami dengan lebih baik perspektif dari setiap pemikiran teoritik tentang komunikasi.

  • Ontologi dalam Ilmu Komunikasi

Kata ontologi sendiri berakar dari bahasa Yunani. Onto berarti ada dan logos berarti ilmu. Dengan demikian, ontologi dimaknai sebagai ilmu yang membahas tentang keberadaan. Atau dengan kata lain, ontologi berarti cara untuk memahami hakikat dari jenis ilmu komunikasi. Ontologi sendiri merupakan cabang ilmu filsafat mengenai sifat (wujud) atau fenomena yang ingin diketahui manusia. Dalam ilmu sosial ontologi berkaitan dengan sifat pada interaksi sosial atau komunikasi sosial. Ontology merupakan mengerjakan terjadinya pengetahuan dari sebuah gagasan kita tentang realitas. Bagi ilmu sosial ontologi memiliki keluasan eksistensi kemanusiaan (Stephen Litle John).

Ontologi adalah studi mengenai sesuatu yang ada atau tidak ada, atau dengan kata lain ontologi membicarakan/mempelajari realitas. Ketika menyinggung keberadaan sesuatu, makan kita juga akan membicarakan tentang ciri-ciri esensial dari yang ada dalam dirinya sendiri, menurut bentuknya yang paling abstrak (Suparlan: 2005). Ontolgi sendiri berarti memahami hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri yang dalam hal ini adalah Ilmu Komunikasi.

Ilmu komunikasi dipahami melalui objek materi dan objek formal. Secara ontologis, Ilmu komunikasi sebagai objek materi dipahami sebagai sesuatu yang monoteistik pada tingkat yang paling abstrak atau yang paling tinggi sebagai sebuah kesatuan dan kesamaan sebagai makhluk atau benda. Sementara objek forma melihat Ilmu Komunikasi sebagai suatu sudut pandang (point of view), yang selanjutnya menentukan ruang lingkup studi itu sendiri. Contoh relevan aspek ontologis Ilmu Komunikasi adalah sejarah ilmu Komunikasi, Founding Father, Teori Komunikasi, Tradisi Ilmu Komunikasi, Komunikasi Manusia.

  • Epistemologi dalam Ilmu Komunikasi

Epistemologi adalah salah satu cabang filsafat yang mempelajari tentang asal, sifat, metode, dan batasan pengetahuan manusia. Epistemologi sendiri dinamakan sebagai teori pengetahuan. Kata epistemologi berakar dari bahasa Yunani.  Kata ini terdiri dari dua gabungan kata yaitu episteme yang artinya cara dan logos yang artinya ilmu. Jika diartikan secara keseluruhan, epistemologi adalah  ilmu tentang bagaimana seorang ilmuwan membangun ilmunya.Epistemologi adalah tuntunan-tuntunan (berupa pertanyaan) yang mengantar kita untuk mendapatkan suatu pengetahuan.Hakikat pribadi ilmu (Komunikasi) yaitu berkaitan dengan pengetahuan mengenai pengetahuan ilmu (Komunikasi) sendiri atau Theory of Knowledge. Persoalan utama epsitemologis Ilmu Komunikasi adalah mengenai persoalan apa yang dapat ita ketahui dan bagaimana cara mengetahuinya, “what can we know, and how do we know it”; (Lacey: 1976). Menurut Lacey, hal-hal yang terkait meliputi “belief, understanding, reson, judgement, sensation, imagination, supposing, guesting, learning, and forgetting”. Secara sederhana seebtulnya perdebatan mengenai epistemology Ilmu Komunikasi sudah sejak kemunculan Komunikasi sebagai ilmu. Perdebatan apakah Ilmu Komunikasi adalah sebuah ilmu atau bukan sangat erat kaitannya dengan bagaimana proses penetapan suatu bidang menjadi sebuah ilmu. Dilihat sejarahnya, maka Ilmu Komunikasi dikatakan sebagai ilmu tidak terlepas dari ilmu-ilmu social yang terlebih dahulu ada. pengaruh Sosiologi dan Psikologi sangat berkontribusi atas lahirnya ilmu ini. Bahkan nama-nama seperti Laswell, Schramm, Hovland, Freud, sangat besar pengaruhnya atas perkembangan keilmuan Komunikasi. Dan memang, Komunikasi ditelaah lebih jauh menjadi sebuah ilmu baru oada abad ke-19 di daratan Amerika yang sangat erat kaitannya dengan aspek aksiologis ilmu ini sendiri. Contoh konkret epistemologis dalam Ilmu Komunikasi dapat dilihat dari proses perkembangan kajian keilmuan Komunikasi di Amerika (Lihat History of Communication, Griffin: 2002). Kajian Komunikasi yang dipelajari untuk kepentingan manusia pada masa peperangan semakin meneguhkan Komunikasi menjadi sebuah ilmu.

  • Aksiologi dalam Ilmu Komunikasi

Posisi tradisional pada aksiologi adalah bahwa ilmu pengetahuan harus bebas dari nilai. Dalam aksiologi ilmu pengetahuan, pertanyaan yang masih diperdebatkan adalah bukan mengenai apakah, nilai harus mempengaruhi teori dan penelitian, menailnkan bagaimana nilai harus mempengaruhi keduanya.

Hakikat individual ilmu pengetahuan yang bersitaf etik terkait aspek kebermanfaat ilmu itu sendiri. Seperti yang telah disinggung pada aspek epistemologis bahwa aspek aksiologis sangat terkait dengan tujuan pragmatic filosofis yaitu azas kebermanfaatan dengan tujuan kepentingan manusia itu sendiri. Perkembangan ilmu Komunikasi erat kaitannya dengan kebutuhan manusia akan komunikasi. Kebutuhan memengaruhi (persuasive), retoris (public speaking), spreading of information, propaganda, adalah sebagian kecil dari manfaat Ilmu Komunikasi. Secara pragmatis, aspek aksiologis dari Ilmu Komunikasi terjawab seiring perkembangan kebutuhan manusia. Aksiologi berasal dari bahasa Yunani. Istilah ini terdiri dari dua gabungan kata yaitu axios dan logos.  Axios berarti nilai, sedangkan logos bermakna ilmu atau teori. Jika diartikan keseluruhan maka artinya adalah “teori tentang nilai”. Aksiologi adalah teori nilai yang berhubungan dengan kegunaan dari pengetahuan yang didapatkan. Ilmu ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu: pertama, moral conduct, yaitu tindakan moral yang melahirkan etika. Kedua, esthetic expression, atau ekspresi keindahan, Ketiga, sosio-political life, atau kehidupan sosial politik. Dari bahasan ketiga inilah lahir filsafat sosio-politik.  Aksiologi merubakan cabang filsafat yang berkaitan dengan etika, estetika, dan agama. Aksiologis merupakan bidang kajian filosofis yang membahas value (Litle John).

Ilmu komunikasi khususnya berita, dalam kajian aksiologis bahwa fungsi berita dilihat dan dititikberatkan pada suatu hiburan masyarakat. Sehingga para redaksi berita harus mampu menarik audiens dengan menampilkan sesuatu yang ringan seperti halnya artike feature.

  1. Paradigma Positivistik

Paradigma positivisme menurut beberapa pendapat yaitu komunikasi merupakan sebuah proses linier atau proses sebab akibat yang mencerminkan upaya pengirim pesan untuk mengubah pengetahuan penerima pesan yang pasif (Ardianto, 2009). Menurut Gunter(2000:4-5), pendekatan potirivisme ini didasar kan pada abad ke-19 dari pemikiran Aguste Comte yang kemudian dikembangkan oleh Emile Durkheim. Positivisme dapat di definisikan sebagai ilmu sosial sebagai metode terorganisasi untuk menggabungkan logika deduktif dengan pengamatan empiris yang tepat dari perilaku individu, dalam rangka untuk menemukan dan mengonfirmasi serangkaian hukum kasual probabilistic yang dapat digunakan untuk memprediksi pola umum kegiatan manusia (lihat Neuman, 1994:58). Jenis penelitian yang terkait dengan paradigm ini bisa digunakan dalam penelitian kualitatif maupun kuantitatif, namun kecenderungan paradigm ini digunakan dalam penelitian yang bersifat kuantitatif, biasanya dengan menggunakan eksperimen, survey, dan statistic. Dalam positifis, objek atau populasi dan / atau sampel dari penelitaian dilihat apa adanya dan peneliti menggunakan pengukuan numeric untuk memahami realitas sosial. Hal ini memiliki tujuan utama yaitu untuk dapat membuktikan atau pun menyangkal hipotesis dan akhirnya untuk menetapkan simpulan yang cenderung menggeneralisasikan.  Jadi, paradigma Positivistik ini memandang proses komunikasi ditentukan oleh pengirim (source-oriented). Berhasil atau tidaknya sebuah proses komunikasi bergantung pada upaya yang dilakukan oleh pengirim dalam mengemas pesan, menarik perhatian penerima ataupun mempelajari sifat dan karakteristik penerima untuk menentukan strategi penyampaian pesan.

Teknik yang digunakan dalam penelitian dengan paradigm ini yaitu dengan melihat adanya gejala-gejala yang tampak atau dapat diukur dan juga dapt di klasifikasikan. Dengan tujuan utama dari ilmu sosial  positivistic yaitu untuk menjelaskan hubungan kasual antara fenomena yang dapat diamati, baik itu secara sebab akibat, perbandingan, maupun dengan melihat pengaruh dari suatu variabel. Hasil penelitian dapat diperoleh dari suatu proses deduktif atau mennggumpulkan fakta dari gejala yang muncul dan menguji gejala itu sendiri untuk menghasilkan sebuah hipotesis atau prediksi. Penelitian sosial positivistic didasarakan  pada pengukuran yang objektif dan bukan intuisi atau penilaian atau anggapan subjektif saja.

Terdapat beberapa teori yang termasuk dalam paradigma positivistik diantaranya yaitu, Teori Agenda Setting dan Teori Kulitivasi (Cultivation Theory).

  1. Teori Agenda Setting

Teori Agenda Setting dicetuskan oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw. Teori ini muncul pada awalnya dari penelitian tentang pemilihan presiden di Amerika Serikat tahun 1968. Mereka menuliskan bahwa audiens tidak hanya mempelajari berita-berita dan hal-hal lainnya melalui media massa, tetapi juga mempelajari seberapa besar atri penting diberikan pada suatu isu atau topik dari cara media massa memberikan penekanan terhadap topik tersebut. Misalnya, dalam merefleksikan apa yang dikatakan oleh para kandidat dalam sebuah kampanye politik atau pemilu, media masa terlihat dan sangat menentukan mana topic yang penting dan yang tidak. Dengan kata lain, media massa itu dapat menetapkan  sebuah agenda kampanye tersebut. Kemampuan untuk mempengaruhi perubahan-perubahan kognitif individu ini merupakan salah satu bentuk aspek terpenting dari kekuatan komunikasi massa. Model uses and gratification telah di kritik karena terlalu melebih-lebihkan rasionalitas dan aktivitas komunikan, serta melupakan karakteristik stimuli(rakhmat, 2004:68). Model ini juga telah mempercepat keruntuhan mode jarum hipodemik, akan tetapi dengan fokus penelitian yang telah bergeser. Efek pada sikap dan pendapat bergeser kepada efek kesadaran dan juga pengetahuan dari efek afektif menjadi efek kognitif. Media masa tidak hanya menyediakan informasi bagi audiens, tetapi juga dengan informasi itu media mempengaruhi khalayak.

Secara tidak sadar, sebenarnya media massa telah menciptakan suatu agenda atau catatan tentang bagaimana rata-rata pikiran, perasaan, dan perbuatan daripada pembacanya. Berdasarkan catatan tersebut media massa seolah-olah menyiarkan sesuatu yang cocok dengan selera para khalayaknya. Atau media mempengaruhi orang untuk menyusun agenda kehidupan setiap harinya. Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa ada hubungan sebab-akibat antara isi media dengan persepsi pemilih. Mc Combs dan Shaw pertama-tama melihat agenda media. Agenda media dapat terlihat dari aspek apa saja yang coba ditonjolkan oleh pemberitaan media terebut. Model agenda setting mengasumsikan adanya hubungan positif antara penilaian yang diberikan media pada suatu persoalan dengan perhatian yang diberikan khalayak pada persoalan itu. Singktanya apa yang dianggap penting oleh media, akan dianggap penting pula oleh masyarakat atau khalayak media. Apa yang dilupakan media pula juga akan luput dari perhatian masyarakat, sehingga dapat di ketahui bagaimana memang media itu sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat atau khalayak media itu sendiri.

Teori agenda setting menegaskan kekuatan media massa dalam mempengaruhi khalayaknya. Media massa mampu membuat beberapa isu menjadi lebih penting dari yang lainnya. Media mampu mempengaruhi tentang apa saja yang perlu kita pikirkan. Lebih dari itu, kini media massa juga dipercaya mampu mempengaruhi bagaimana cara kita berpikir.

Salah satu contoh dari Teori Agenda Setting yaitu sinetron yang tanyang di televisi-televisi, ia telah mampu menggiring para kaula muda untuk mengikuti gaya pada pemeran/artis di sinetron tersebut. Dari mulai gaya berpakaian, hingga bahasa yang digunakan.

  1. Teori Kultivasi

Teori kultivasi adalah teori sosial yang meneliti efek jangka panjang dari televisi pada khalayak. Teori ini merupakan salah satu teori komunikasi massa yang dikembangkan oleh George Gerbner dan Larry Gross dari University of Pennsylvania. Teori kultivasi ini berasal dari beberapa proyek penelitian skala besar berjudul ‘Indikator Budaya’. Tujuan dari proyek Indikator Budaya ini adalah untuk mengidentifikasi efek televisi pada pemirsa. Gerbner dan Stephen Mirirai mengemukakan bahwa televisi sebagai media komunikasi massa telah dibentuk sebagai simbolisasi lingkungan umum atas beragam masyarakat yang diikat menjadi satu, bersosialisasi dan berperilaku.

Jadi, teori kultifasi lebih kepada media televisi yang dapat mempengaruhi persepsi khalayak terhadap realita yang sebenarnya. Sehingga, kehidupan nyata akan terkalahkan dengan pengetahuan yang disampaikan oleh media televise, meskipun pengetahuan itu tidak sama dengan kenyataan yang sebenarnya.Salah satu contohnya yaitu pemirsa/penonton televisi yang memberikan penilaian kepada seorang penjahat itu adalah yang badannya besar dan kekar dan bertato, padahal seorang penjahat tidak semuanya seperti itu, bahkan dalam kenyataan ada yang berbanding terbalik.

  1. Paradigma Konstruktivistik

Salah satu pendekatan yang baru, maka pendekatan konstruktivistik (intepretatif) ini sebenarnya masih kurang besar gaungnya di bandingkan dengan pendekatan yang telah ada sebelumnya. Bahkan di Indonesia pendekatan konstruktivistik ini masuk pada tahun 1990-an. Dan menjadi populer pada tahun 2000-an. Walaupun sebenarnya, setelah pendekatan konstruktivistik ini masih ada lagi pendekatan yang mencoba “berebut nafas” yaitu pendekatan Post modernisme yang banyak dikembangkan oleh Jean Baudrilliard.

Pendekatan ini secara tidak langsung lebih terfokus pada sebuah scopekhusus. Dalam artian hanya melihat bagaimana bahasa dan simbol diproduksi dan direproduksi dihasilkan lewat berbagai hubungan yang terbatas antara sumber dan narasumber yang menyertai proses hubungan tersebut. Dalam bahasa sederhananya hanya menyetuh level mikro (konsepsi diri sumber) dan level meso (lingkungan dimana sumber itu berada) dan tidak menyetuh hingga level makro (sistem politik, budaya, ekonomi dll).

Dalam aplikasi metodologis pendekatan konstruktivistik ini bisa kita lihat dari analisis framing.Salah satu tokoh yang berjasa besar panda pengembangan analisis framing  ini adalah William Gamson. Dia konsisten meracanakan hingga menelurkan seperangkat metodologi analisis framing. Selain Famson, masih banyak lagi tokoh yang berjasa pada analisis framing ini, misalnya Robert Entman, Murray Edelman hingga Zon Pan dan Konsicky.

Paradigma konstruksionis memandang realitas kehidupan sosial bukanlah realitas yang natural, tetapi terbentuk dari hasil konstruksi. Karenanya, konsentrasi analisis pada paradigma konstruksionis adalah menemukan bagaimana peristiwa atau realitas tersebut dikonstruksi, dengan cara apa konstruksi itu dibentuk. Dalam studi komunikasi, paradigma konstruksionis ini sering sekali disebut sebagai paradigma produksi dan pertukaran makna. Ia sering dilawankan dengan paradigma positivis atau paradigma transmisi.

Paradigma Konstruktivis menolak pandangan positivisme yang memisahlkan subjek dengan objek komunikasi. Dalam pandangan konstruktivisme, bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pesan. Konstruktivisme justru menganggap subjek (komunikan/decoder) sebagai faktor sentral dalam kegiatan komunikasi serta hubungan-hubungan sosial.

Ada beberapa teori yang terdapat dalam lingkup paradigma Kontruktivisme ini, diantaranya yaitu Teori Kegunaan dan Kepuasan (Uses And Grafications Theory) dan Teori Interaksionisme Simbolik.

  1. Teori Kegunaan dan Kepuasan

Teori Penggunaan dan Pemenuhan Kepuasan (Uses And Grafications Theory) pada awalnya muncul ditahun 1940 dan mengalami kemunculan kembali dan penguatan di tahun 1970an dan 1980an. Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz (1974). Teori ini mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha mencari sumber media yang paling baik di dalam usaha memenhi kebutuhannya. Artinya pengguna media mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya.

Misalnya, seseorang merupakan sekelompok konsumen aktif yang secara sadar menggunakan media dengan memilih media yang tepat untuk memenuhi kebutuhannya  dalah hal informasi atau yang lainnya, baik  personal maupun sosial yang diubah menjadi motif-motif tertentu.

  1. Teori Interaksionisme Simbolik

Teori Interaksionisme Simbolik dikenalkan oleh George Harbert Mead (1863-1931). Teori interaksionisme simbolik mulai berkembang pada pertengahan abad ke-20. Teori Interaksionisme Simbolik (symbolic interactionism) adalah pendekatan teoritis dalam memahami hubungan antara manusia dan masyarakat. Ide dasar teori interaksionisme simbolik adalah bahwa tindakan dan interaksi manusia hanya dapat dipahami melalui pertukaran symbol atau komunikasi yang sarat makna.

Teori interaksionisme simbolik beranggapan bahwa khalayak adalah produk sosial. Teori ini mempunyai metodologi yang khusus, karena interaksionisme simbolik melihat makna sebagai bagian fundamental dalam interaksi masyarakat. Dalam penelitian mengenai interaksi dalam masyarakat tersebut, teori interaksionisme simbolik cenderung menggunakan metode kualitatif dibanding metode kuantitatif.

Sebagai contoh adalah bagaimana proses komunikasi dan permainan bahasa yang terjadi dalam hubungan antara dua orang, terutama pria dengan wanita. Ketika mereka sedang berkomunikasi dengan menggunakan simbolisasi bahasa saya dan anda, maka konsep diri yang terbentuk adalah “dia ingin diri saya dalam status yang formal”. Atau misalkan simbolisasi bahasa yang dipakai adalah elo dan gue maka konsep diri yang terbentuk adalah “dia ingin menganggap saya sebagai teman atau kawan semata”, serta ‘kamu dan aku’ juga yang lainnya.

Pendekatan interpretif berangkat dari upaya untuk mencari penjelasan tentang peristiwa-peristiwa sosial atau budaya yang didasarkan pada perspektif dan pengalaman orang yang diteliti. Pendekatan interpretative diadopsi dari orientasi praktis. Secara umum pendekatan interpretatif merupakan sebuah sistem sosial yang memaknai perilaku secara detail langsung mengobservasi. (Newman, 1997: 68). Interpretif melihat fakta sebagai sesuatu yang unik dan memiliki konteks dan makna yang khusus sebagai esensi dalam memahami makna sosial. Interpretif melihat fakta sebagai hal yang cair (tidak kaku) yang melekat pada sistem makna dalam pendekatan interpretatif. Fakta-fakta tidaklah imparsial. objektif dan netral. Fakta merupakan tindakan yang spesifik dan kontekstual yang beragantung pada pemaknaan sebagian orang dalam situasi sosial. Interpretif menyatakan situasi sosial mengandung ambiguisitas yang besar. Perilaku dan pernyataan dapat memiliki makna yang banyak dan dapat dinterpretasikan

dengan berbagai cara. (Newman, 2000: 72). Paradigma ini menekankan pada ilmu bukanlah didasarkan pada hukum dan prosedur yang baku;, setiap gejala atau peristiwa bisa jadi memiliki makna yang berbeda; ilmu bersifat induktif, berjalan dari yang sepesifik menuju ke yang umum dan abstrak. Ilmu bersifat idiografis, artinya ilmu mengungkap realitas melalui simbolsimbol dalam bentuk deskriptif. Pendekatan interpretif pada akhirnya melahirkan pendekatan kualitatif.

 

  1. Paradigma Kritis

Paradigm kritis menurut Gunter (2006:6) berasal dari pemikiran Karl Marx dan gagasan yang muncul tentang perjuangan kelas sosial. Seperti halnya pendekatan interpretative, paradigm kritis juga mengisi kekosongan paradigm positivism dalam kegagalan melihat di balik suatu fenomena sosial. Namun paradigma kritis juga menambahkan dimensi sosio-ekonomi san juga politik untuk mengidentifikasi motif yang selaras dengan kekuatan politik dan sosio-ekonomi yang dominan di masyarakat. Pada saat yang sama pula, para peneliti paradigm kritis juga mengkritik paradigm interpretif yang memandang realitas dengan terlalu subjektif dan relativis.

Tradisi teori kritis memberi kontribusi penting bagi perkembangan penelitian komunikasi dewasa ini. Menurut Ibrahim (2007), penelitian-penelitian komunikasi kritis menunjukkan konsepsi yang berbeda mengenai antarrelasi berbagai elemen dalam kehidupan sosial, seperti masyarakat, negara, pasar (ekonomi), komunikasi, dan budaya (Hardt, 2007: xvi). Penelitian yang menggunakan tradisi kritis merujuk pada paradigma pemikiran kritis yang dikembangkan dalam berbagai bidang keilmuan.

Meskipun demikian, menurut Littlejohn dan Foss (2009: 47), variasi pemikiran kritis memiliki tiga karakter utama, yakni: Pertama, tradisi kritis berusaha memahami sistem baku yang diterima masyarakat begitu saja (taken-for-garanted), termasuk struktur kekuasaan dan kepercayaan atau ideologi yang dominan dalam masyarakat. Namun, tradisi kritis memberi perhatian utama pada kepentingan siapa yang dilayani oleh struktur kekuasaan yang ada. Tradisi kritis mempertanyakan kelompok masyarakat mana yang boleh dan tidak dibolehkan untuk berbicara apa yang boleh dan tidak boleh dibicarakan, dan pihak mana yang memeroleh keuntungan dari sistem yang berlaku dalam masyarakat. Kedua, Tradisi kritis memahami adanya penindasan dan mengambil langkah untuk menghapus ilusi dan janji-janji yang diberikan oleh suatu ideologi atau kepercayaan dan bertindak untuk mengatasi penindasan kekuasaan. Dan ketiga, tradisi kritis berusaha memadukan antara teori dan tindakan. Teori yang bersifat normatif hendaklah dapat diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat untuk mendorong terjadinya perubahan yang lebih baik. Penelitian dalam tradisi kritis berupaya menunjukkan persaingan dan benturan antarkepentingan serta berupaya mengatasi benturan konflik kepentingan tersebut dengan lebih mengedepankan kepentingan kelompok yang marginal dalam masyarakat.

Tujuan utama penelitian kritis ini yaitu untuk mengungkapkan, menjelaskan, dan jga memahami struktur kekuasaan dan hubungannya dalam masyarakat. Media, termasuk fenomena yang terjadi di media siber, diidentifikasikan sebagai sumber yang memiliki kekuatan untuk melakukan control sosial yang dikendalikan oleh elite sosial, budaya, dan politik. Paradigm kritis tidak sekedar menggambarkan mekanisme tersembunyi yang menjelaskan realitas yang sedang diamati, tetapi juga dapat mengkritik kondisi dan menyiratkan rencana perubahan. Berbeda debgab pandangan positivism yang percaya realitas sosial sebagai sesuatu yang absolut atau pandangan interpetif yang percaya pada relativisme, dan setiap individu memiliki persepsi yang unik. Positivism mengasumsikan bahwa ada fakta disangkal tentang realitas sosial di mana semua orang yang rasional setuju. Pendekatan interpretative melihat dunia sosial sebagai terdiri dari makna yang dihasilkan, dengan orang-orang yang menciptakan dan negosiasi makna yang mereka ambil untuk menjadi fakta (Gunter, 2000: 7-8).

Sebaliknya pendekatan kritis mengakui bahwa  dunia berisi kondisi material dimana keyakinan secara consensus dapat dicapai, tetapi pada saat yang sama ada keunikan dalam setiap individu yang tentu saja berbeda dengan realitas sosial, bahwa realitas tidak bisa dilihat begitu saja, karena tentu ada nilai-nilai yang muncul dan menjadi dasar di dalam realitas itu sendiri. Misalnya dalam penelitian feminis, fitur utama dari metodologis feminis, yaitu upaya untuk memberikan suara perempuan dan juga  dimaksudkan untuk memperbaiki perspektif berorientasi laki-laki yang telah di dominasi dalam pengembangan ilmu sosial. Secara ontologis perspektif ini bersifat realism historis, yang berrarti bahwa suatu realitas pada awal mulanya ada dan juga lentur, akan tetapi seiring dengan dengan proses perkembangan dan perjalanan waktu realitas ini semakin terbentuk. Factor seperti sosial, politik, ekonomi, dan budaya merupakan faktor yang memberikan sumbangsih terhadap pembentukna realitas yang berada di dalam suatu struktur sehingga menjadi suatu realitas yang alamiah dan abadi. Bahkan realitas bentukan yang ada itu dianggap sebagai realitas yang nyata. Ada juga dalam tataran epistemologis, peneliti dan objek penelitian saling terhubung secara interaktif dengan kerangka nilai-nilai yang dibangun oleh peneliti, sesuai dengan sifatnya yang transaksional dan subjektivis, secara epistemologis hasil temuan penelitian disadarkan pada sebuah “nilai”. Secara metodologis, perspektif kritis membutuhkan dialog antara peneliti dengan subjek yang diteliti denga dialektis. Hal ini memberikan kesadaran bahwa suatu realitas yang pada awalnya dianggap sebagai suatu struktur yang sudah baku, abadi, nyata, dan tidak dapat diubah menjadi kesadaran bahwa struktur ini bisa diubah dan mengetahui tindakan apa saja yang bisa mengubah realitas yang sudah terstruktur ini (Denzin dan Lincoln,2009).

Tidak ada kekurangan kritik terhadap media itu sendiri  dari awal abad ke-20, terutama yang berhubungan dengan komersialisme, standar kebenaran, dan kelayakan yang rendah yang di kontrol oleh para pelaku monopoli yang korup, dan seterusnya. Rangsangan pertama kali yang signifikan diberikan oleh para imigran dari Mazhab Frankfurt ( frankfrut school) yang pergi ke Amerika Serikat pada tahun 1930-an dan membantu mempromosikan pandangan alternatif dari budaya popular komersial yang dominan (Jay, 1973; Hardt, 1991). Kontribusi mereka adalah untuk memberikan dasar intelektual yang kuat untuk melihat proses komunikasi massa sebagai suatu yang manipulative dan sangat menekan. Kritik mereka berhubungan dengan politik dan budaya. Ide dari C. Wright Mills berkaitan dengan masyarakat massa yang menyatakan sebuah pandangan alternative yang jelas atas media mengambil dari tradisi radikal asli Amerika Utara yang secara kuat menyingkap kesalahan liberal dari kontrol pluralis.

Paradigma Kritis pada titik tertentu memandang dirinya sebagai pewaris ajaran Karl Marx, sebagai teori yang menjadi emansipatoris. Paradigma Kritis juga tidak hanya mau menjelaskan, mempertimbangkan, merefleksikan dan menata realitas sosial tapi juga bahwa jika ingin  membongkar ideology-ideologi yang sudah ada. pandangan paradigma ini menekankan pada ilmu bukanlah didasarkan pada hukum dan prosedur yang baku, tetapi untuk membongkar ideologi-ideologi yang sudah ada dalam pembebasan manusia dari segala belenggu penghisapan dan penindasan. Berdasarkan paradigma yang dianutnya, seorang peneliti akan menggunakan salah satu dari tiga pendekatan yang diajukan Creswell (dalam Emzir, 2008: 9), yaitu: kuantitatif, kualitatif, dan metode gabungan. Menurut Emzir (2008: 9) perbedaan perbedaan yang terdapat dalam ketiga pendekatan ini dapat ditinjau melalui tiga elemen kerangka kerja, yaitu asumsiasumsi psikologis tentang pembentuk tuntutan pengetahuan (knowledge claim), prosedur umum penelitian (strategies of inquiry) dan prosedur penjaringan dan analisis data serta pelaporan (research method).

Paradigma kritis (critical paradigm) adalah semua teori sosial yang mempunyai maksud dan implikassi praktis dan berpengaruh terhadap perubahan sosial. Paradigma ini tidak sekedar melakukan kritik terhadap ketidakadilan sistem yang dominan yaitu sistem sosial kapitalisme, melainkan suatu paradigma untuk mengubah sistem dan struktur tersebut menjadi lebih adil. Meskipun terdapat beberapa variasi teori sosial kritis seperti; feminisme, cultural studies, posmodernisme -aliran ini tidak mau dikategorikan pada golongan kritis- tetapi kesemuanya aliran tersebut memiliki tiga asumsi dasar yang sama.

Pertama, semuanya menggunakan prinsip-prinsip dasar ilmu sosial interpretif. Ilmuan kritis harus memahami pengalaman manusia dalam konteksnya. Secara khusus paradigma kritis bertujuan untuk menginterpretasikan dan karenanya memahami bagaimana berbagai kelompok sosial dikekang dan ditindas. Kedua, paradigma ini mengkaji kondisi-kondisi sosial dalam usaha untuk mengungkap struktur-struktur yang sering kali tersembunyi. Kebanyakan teori-teori kritis mengajarkan bahwa pengetahuan adalah kekuatan untuk memahami bagaimana seseorang ditindas sehingga orang dapat mengambil tindakan untuk mengubah kekuatan penindas. Ketiga, paradigma kritis secara sadar berupaya untuk menggabungakn teori dan tindakan (praksis). “Praksis” adalah konsep sentral dalam tradisi filsafat kritis ini. Menurut Habermas (dalam Hardiman, 1993: xix) praksis bukanlah tingkah-laku buta atas naluri belaka, melainkan tindakan dasar manusia sebagai makhluk sosial. Asumsi dasar yang ketiga ini bertolak dari persoalan bagaimana pengetahuan tentang masyarakat dan sejarah bukan hanya sekedar teori, melainkan mendorong praksis menuju pada perubahan sosial yang humanis dan mencerdaskan. Asumsi yang ketiga ini diperkuat oleh Jurgen Habermas (1983) dengan memunculkan teori tindakan komunikatif (The Theory of Communication Action).

Bagi paradigma kritis tugas ilmu sosial adalah justru melakukan penyadaran kritis masyarakat terhadap sistem dan struktur sosial yang cenderung “mendehumanisasi” atau membunuh nilai-nilai kemanusiaan (Fakih, 2001: 7). Gramsci menyebut proses penyadaran ini sebagai counter hegemony. Dominasi suatu paradigma harus dikonter dengan paradigma alternatif lainnya yang bisa memecahkan permasalahan dalam realitas sosial kemasyarakatan yang tidak terselesaikan oleh paradigam yang mendominasi. Proses dehumanisasi sering melalui mekanisme kekerasan, baik fisik dan dipaksakan, maupun melalui cara yang halus, di mana keduanya bersifat struktural dan sistemik. Artinya kekerasan dalam bentuk dehumanisasi tidak selalu jelas dan mudah dikenali karena ia cendrung sulit dilihat secara kasat mata dan dirasakan bahkan umumnya yang mendapatkan perlakuan kekerasan cendrung tidak menyadarinya. Kemiskinan struktural misalnya, pada dasarnya adalah bentuk kekerasan yang memerlukan suatu analisis yang lebih kritis untuk menyadarinya. Tegasnya, sebagian besar kekerasan terselenggara melalui proses hegemoni, yakni yaitu dalam bentuk mendoktrin dan memanipulasi cara pandang, cara berpikir, ideology, kebudayaan seseorang atau sekelompok orang, dimana semuanya sangat ditentukan oleh orang yang mendominasi. Kekuatan dominasi ini biasa dilanggengkan dengan kekuatan ekonomi maupun kekuatan politik, bahkan dengan ilmu pengetahuan. Seperti diungkapkan oleh Micheal Faucoult knowledge is power, siapa yang menguasai ilmu pengetahuan ialah yang menguasai dunia ini.

 

Kesimpulan

Terdapat dua pendekatan dalam penelitian komunikasi, yaitu Kualitatif dan Kuantitatif. Pendekatan Kulitatif merupakan pendekatan dalam sebuah penelitian dengan berlandaskan pada fenomenologi dan biasanya lebih cenderung menggunakan paradigma konstruktifisme dalam upaya mengembangkan ilmu pengetahuan. Sedangkan dalam pendekatan Kuantitatif, merupakan sebuah pendekatan penelitian dengan mendasarkan diri pada paradigma positivistik dalam mengembangkan ilmu pengetahuannya. Pendekatan ini memiliki beberapa ciri khas, diantaranya adalah bersandar pada pengumpulan dan analisis data kuantitatif atau numeric, menggunakan strategi seperti survei dan eksperimen, mengadakan pengukuran dan observasi, serta melaksanakan pengujian teori dengan menggunakan uji statistik. Pada intinya terdapat perbedaan-perbedaan yang amat mendasar menyangkut falsafah atau pendekatan yang terkandung di dalamnya. Metodologi riset kuantitatif berdasarkan pendekatan positivism (klasik/objektif). Sedangkan yang menggunakan metodologi kualitatif berasal dari pendekatan interpretif(subjektif). Pendekatan interfretif ini mempunyai dua varian, yakni konstruktivis dan kritis.

Kata ontologi sendiri berakar dari bahasa Yunani. Onto berarti ada dan logos berarti ilmu. Dengan demikian, ontologi dimaknai sebagai ilmu yang membahas tentang keberadaan. Atau dengan kata lain, ontologi berarti cara untuk memahami hakikat dari jenis ilmu komunikasi. Ontologi sendiri merupakan cabang ilmu filsafat mengenai sifat (wujud) atau fenomena yang ingin diketahui manusia. Dalam ilmu sosial ontologi berkaitan dengan sifat pada interaksi sosial atau komunikasi sosial. Ontologi merupakan mengerjakan terjadinya pengetahuan dari sebuah gagasan kita tentang realitas. Epistemologi adalah salah satu cabang filsafat yang mempelajari tentang asal, sifat, metode, dan batasan pengetahuan manusia. Epistemologi sendiri dinamakan sebagai teori pengetahuan. Kata epistemologi berakar dari bahasa Yunani.  Kata ini terdiri dari dua gabungan kata yaitu episteme yang artinya cara dan logos yang artinya ilmu. Jika diartikan secara keseluruhan, epistemologi adalah  ilmu tentang bagaimana seorang ilmuwan membangun ilmunya. Posisi tradisional pada aksiologi adalah bahwa ilmu pengetahuan harus bebas dari nilai. Dalam aksiologi ilmu pengetahuan, pertanyaan yang masih diperdebatkan adalah bukan mengenai apakah, nilai harus mempengaruhi teori dan penelitian, menailnkan bagaimana nilai harus mempengaruhi keduanya.

Positivisme dapat di definisikan sebagai ilmu sosial sebagai metode terorganisasi untuk menggabungkan logika deduktif dengan pengamatan empiris yang tepat dari perilaku individu, dalam rangka untuk menemukan dan mengonfirmasi serangkaian hukum kasual probabilistic yang dapat digunakan untuk memprediksi pola umum kegiatan manusia.

Paradigma konstruktivistik secara tidak langsung lebih terfokus pada sebuah scopekhusus. Dalam artian hanya melihat bagaimana bahasa dan simbol diproduksi dan direproduksi dihasilkan lewat berbagai hubungan yang terbatas antara sumber dan narasumber yang menyertai proses hubungan tersebut. Dalam bahasa sederhananya hanya menyetuh level mikro (konsepsi diri sumber) dan level meso (lingkungan dimana sumber itu berada) dan tidak menyetuh hingga level makro (sistem politik, budaya, ekonomi dll).

Paradigma kritis menurut Gunter (2006:6) berasal dari pemikiran Karl Marx dan gagasan yang muncul tentang perjuangan kelas sosial. Seperti halnya pendekatan interpretative, paradigm kritis juga mengisi kekosongan paradigm positivism dalam kegagalan melihat di balik suatu fenomena sosial. Namun paradigma kritis juga menambahkan dimensi sosio-ekonomi san juga politik untuk mengidentifikasi motif yang selaras dengan kekuatan politik dan sosio-ekonomi yang dominan di masyarakat. Pada saat yang sama pula, para peneliti paradigm kritis juga mengkritik paradigm interpretif yang memandang realitas dengan terlalu subjektif dan relativis.

Daftar Referensi :

 

 

 

 

 

Powered by WordPress