Teknologi dan Manajemen Pengemasan. tugas IAD

Posted: 25th May 2013 by Dewi Aprilina in Uncategorized

JENIS PRODUK

 

  1. Air mineral ASA (Air Sehat Alami)

ASA adalah air yang bersumber dari sumber mata air alami sengguruh, Desa Sengguruh Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. ASA di produksi secara pabrikasi, melalui proses Filtrasi Modern & UV. ASA juga sudah melalui :

  1. Uji Laboratorium Kualitas air berstandar Komite Akreditasi Nasional (KAN)
  2. Memenuhi persyaratan SNI 01-3553-2006. Sehingga ASA menjadi Produk Air Minuman Dalam Kemasan yang Sehat, Alami, berkualitas, dan layak di konsumsi.

images

Gambar 1. Air mineral ASA (Air Sehat Alami)

 2. Cadbury dairy milk-chashew & cookies

Keunikan cokelat Cadbury Dairymilk kali ini karena ditambah dengan panduan kacang mede dan biskuit.  Rasa ini akan memberikan rasa cokelat gurih dan renyah ketika dinikmati. Perbedaan cokelat ini selain pada rasanya juga pada komposisi. Cokelat ini didesain dengan cetakan baru yang memiliki sudut melengkung mulus agar saat digigit akan langsung meleleh di mulut. Saat batang cokelat dipotong, cokelat itu juga tidak akan meninggalkan remah-remah,

cad

Gambar 2. Cadbury dary milk-chashew & cookies

 3. Antangin

Antangin JRG dikenal masyarakat Indonesia sebagai jamu yang efektif untuk pengobatan masuk angin. Selain berkhasiat mengatasi gelaja-gejala masuk angin, Antangin JRG terbukti membantu meningkatkan sistim imun atau kekebalan tubuh dan menjaga stamina. Hal ini berdasarkan sumber hasil penelitian Bagian Farmakologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Antangin mempunyai aroma jahe yang mantap, memberi rasa hangat yang tahan lama. Keadaan itu dikarenakan Antangin mengandung jahe alami yang telah terbukti berkhasiat menghangatkan tubuh dan melancarkan peredaran darah.

antangin

Gambar 3. Antangin JRG

 

BAHAN KEMASAN

1. Air mineral ASA (Air Sehat Alami)

Bahan kemasan yang digunakan adalah plastik PET dengan kemasan satu kali pakai.

2. Cadbury dairy milk-chashew & cookies

Bahan kemasan yang digunakan Cadbury dairy milk-chashew & cookies adalah metalized plastik.

3. Antangin

Bahan kemasan antangin yang digunakan adalah kardus karton.

 

BENTUK

1.    Air mineral ASA (Air Sehat Alami)

Kemasan yang digunakan air mineral ASA (Air Sehat Alami) ini berbentuk cup.

2.    Cadbury dairy milk-chashew & cookies

Kemasan Cadbury dairy milk-chashew & cookies ini berbentuk persegi panjang dengan bentuk menyesuaikan coklat yang dikemas.

3.    Antangin

Kemasan antangin ini berbentuk balok.

 

TINGKAT KEMASAN (PRIMER/ SEKUNDER/ TERSIER)

 1.    Air mineral ASA (Air Sehat Alami)

Kemasan yang digunakan sebagai kemasan primer. Hal ini disebabkan kemasan kontak langsung dengan produk.

2.    Cadbury dairy milk-chashew & cookies

Kemasan yang digunakan sebagai kemasan sekunder. Adanya kemasan alumunium foil yang kontak langsung dengan produk sebelum kemasan sekunder.

3.    Antangin

Kemasan yang digunakan sebagai kemasan tersier. Kemasan tersier harus mampu melindungi produk ketika transportasi berlangsung.

 

INFORMASI PADA KEMASAN

 1.    Air mineral ASA (Air Sehat Alami)

Informasi yang ada pad kemasan meliputi:

  • Diproduksi oleh Jasa Tirta 1
  • SNI 013553-2006
  • BPOM RI MD 24911300261
  • Petunjuk penyimpanan :

Simpan ditempat kering, bersih & sejuk

Hindarkan dari sinar matahari langsung dan benda-benda berbau tajam

  • Logo halal yang menunjukkan bahwa produk tersebut halal untuk dikonsumsi konsumen
  • EXP date yang tidak terlihat jelas karena tinta yang digunakan luntur

2.    Cadbury dairy milk-chashew & cookies

Informasi yang ada pad kemasan meliputi:

ü  Cadbury dairy milk-chashew & cookies – coklat susu dengan kacangmete dan biskuit 30 g.

ü  Best before           22022013

280212 NO4M 13

ü  Barchode  9 556182 023241

20002867

ü  Komposisi : gula, padatan susu, coklat Massa, kacang mete, lemak coklat, biscuit (mengandung gandum), lemak nabati, bubuk whey (mengandung susu), pengemulsi (lesitin kedelai PGPR) dan perisa (coklat)

ü  Diproduksi pada peralatan yang juga memproses produk yang mengandung kacang-kacangan dan kacang tanah

ü  Store in a cool dry place/ simpan di tempat yang dingin dan kering

ü  Manufactured by/ diproduksi oleh : Cadbury Confentionery Malaysia Sdn. Bhd., Persiaran Raja Muda, Section 16. PO BOX 7043. 40700 Shah Alam Selangor D. E., Malaysia (Co. No. 19442-T)

ü  Product of Malaysia

ü  Layanan konsumen :        0800-1-333555

Buka Senin-Jum’at 09.00-17.00

ü  Terdapat juga nutritional information yang menunjukkan kandungan nilai gizi pada setiap kemasan cadbury dairy milk-chashew & cookies.

3.    Antangin

Informasi yang ada pad kemasan meliputi:

v  Sirup herbal antangin JRG

v  Isi : 5 sachet @ 5ml

v  Mengandung jahe, royal jelly, ginseng + madu

v  Mengobati masuk angin, meriang, mual, kembung, capek-capek dan pusing

v  POM HT. 112600041

A067KL EXP : 11 14

 

INFORMASI YANG TIDAK ADA DI KEMASAN

  1. 1.    Air mineral ASA (Air Sehat Alami)

Informasi yang tidak ada di kemasan meliputi:

  • Ø Tidak terdapat informasi tentang bahan kemasan yang digunakan.
  • Ø Tidak terdapat layanan konsumen yang dapat dihubungi untuk pengaduan konsumen.
  • Ø Tidak terdapat barcode pada kemasan.

 

  1. 2.    Cadbury dairy milk-chashew & cookies

Informasi yang tidak ada di kemasan meliputi:

ü  Informasi pada kemasan sudah lengkap dan tidak ada yang kurang.

 

  1. 3.    Antangin

Informasi yang tidak ada di kemasan meliputi:

v  Tidak terdapat layanan konsumen.

v  Tidak ada label halal.

v  Tidak ada informasi untuk penyimpanan.

v  Tidak terdapat komposisi produk.

 

DESAIN

1. Air mineral ASA (Air Sehat Alami)

ASA menggunakan kemasan primer. Kemasan berbentuk tabung berukuran kecil. Warna pada kemasan transparan karena terbuat dari plastik jenis PET. Informasi tentang produk tertera pada bagian atas kemasan (tutup kemasan). Tutup kemasan berupa plastik yang direkatkan langsung dengan badan kemasan. Untuk pewarnaan pada tutup kemasan sangat sesuai karena memberi ciri warna pada air dan desain sangat cocok untuk air mineral.

 

      2. Cadbury dairy milk-chashew & cookies

            Cadburry termasuk dalam kemasan sekunder karena didalamnya terdapat kemasan berupa kertas alumunium foil. Kemasannya memiliki warna yang elegan yaitu background berwarna ungu dan coklat sesuai dengan produk yang berupa coklat. Informasi tentang produk dipaparkan pada kemasan. Desain yang eye-catching sehingga mampu menarik konsumen. Kemasan memiliki gerigi untuk memberikan kemudahan dalam membuka kemasan.

 

      3. Antangin

            Antangin memiliki desain kemasan berwarna kuning. Gambar rempah-rempah pada kemasan memberi kesan menyehatkan sesuai dengan manfaat dari produk. Antangin termasuk kemasan karton (kertas) yang tergolong tersier untuk perlindungan produk saat transportasi. Desain kemasan berupa balok yang dapat dibuka dan ditutup dengan mudah. Informasi produk dapat dilihat pada kemasan ini.

 

SARAN

1.    Air mineral ASA (Air Sehat Alami)

Penggunaan plastik PET tetap dipertahankan. Setelah pemakaian, diharapkan kemasan di recycle karena tidak mudah terurai di alam. Dibutuhkan kewaspadaan saat pendistribusian produk.

2.    Cadbury dairy milk-chashew & cookies

Pemilihan warna yang elegan tetap dipertahankan. Adanya gerigi mampu memudahkan konsumen dalam menikmati produk, untuk itu diharapkan kewaspadaan saat pembentukan gerigi sehingga meminimalisir tingkat sobek. Kekuatan kemasan dipertahankan.

3.    Antangin

Kemasan yang termasuk tersier harap diperhatikan tingkat kekuatannya agar tidak cacat saat didistribusikan. Kemudahan dalam membuka kemasan harus diperhatikan sehingga konsumen mudah menikmati produk. Kemasan harus di recycle agar tidak mencemari lingkungan.

 makalah dapat di download disini TMP ANALISA KEMASAN

ppt dapat di download disini PPT PENGEMASAN BU IKA

  1. Analisis Posisi Brand Saat Ini Untuk Produk Kaos dan Apparel “Matur Nuwun”

 

1.1  Visi

Visi produk produk kaos dan apparel “Matur Nuwun” adalah :

  1. Menjadi UKM  komersial terkemuka di Jogyakarta yang membawahi unit-unit bisnis dengan keunggulan kompetitif dan komparatif dibidang creative concept, creative desaint dan creative activities yang memberikan keuntungan bagi seluruh stakeholder.
  2. Menjadikan “Matur Nuwun” sebagai magnet bagi pembangunan komunitas creative yang smart dan smile dengan fokus utama pada pengembangan potensi generasi muda Indonesia untuk berkembang menjadi individu yang kreatif dan inovatif yang siap menghadapi persaingan global.

 

1.2 Misi:

Misi produk kaos dan apparel “Matur Nuwun” adalah :

  1. Mengembangkan merek “Matur Nuwun” sebagai icon bagi pengembangan bisnis cinderamata di Yogyakarta dengan mempertahankan dan mengembangkan pasar wisatawan yang datang ke Yogyakarta.
  2. Membangun icon baru bagi daerah-daerah wisata favorit lain baik di Indonesia maupun di luar Indonesia melalui pengembangan produk berupa oblong wisata.
  3. Mengembangkan bisnis casual dengan jangkauan pasar yang luas dengan menggunakan jaringan distribusi yang telah ada seperti department store di Indonesia dengan sasaran pasar utama adalah kaum muda dan professional muda.
  4. Menjadikan bisnis Corporate Order sebagai embrio bagi bisnis Marketing Solution yang mengedepankan creative concept, creative desain dan creative activities sebagai keunggulan kompetitif dan komparatif yang ditawarkan dengan sasaran pasar perusahaan-perusahaan nasional yang concern pada peningkatan layanan konsumen dan loyalitas produktivitas karyawannya.
  5. Merintis bisnis-bisnis baru yang didasarkan pada pemanfaatan popularitas dan kredibilitas merek “Matur Nuwun” melalui kerjasama strategis dengan pihak-pihak lain yang relevan.
  6. Memperbaiki kualitas SDM dan sistem informasi manajemen (keuangan, perpajakan, inventori dan HRM) yang menyokong peningkatan kinerja tim manajemen secara keseluruhan.
  7. Secara terus-menerus berkreasi dan berinovasi melalui aktivitas-aktivitas yang didasarkan pada sinergi potensi gerasi muda dalam melahirkan karya yang unggul.

 

1.3  Identifikasi Produk

Kaos “Matur Nuwun” yang diciptakan berbeda dengan kaos oblong lainnya, yaitu dengan menonjolkan kreatifitas desain yang identik dengan kota Jogja seperti batik, dan kaos komik yang dapat mengeksplor semua aktivitas tentang kota Jogja. “Matur Nuwun”  tidak hanya memproduksi  kaos oblong saja, tetapi  juga memproduksi sandal, tas, stiker dan topi. Sistem penjualan yang adalah dengan memanfaatkan media sosial (online shop) dan menggunakan cara offline shop dengan membangun outlet di tempat produksi (dekat alun-alun Yogyakarta) sehingga pembeli dapat memesan secara langsung di lokasi penjualan tersebut ataupun dapat mendesain langsung di lokasi dengan memilih desain yang telah disediakan.

 

1.4  Segmenting, Targeting, dan Positioning

  1. Segmenting

“Matur Nuwun” memiliki segmen pasar yang melingkupi kalangan menengah. Namun, perhatian terhadap kalangan atas dan kalangan bawah pun tidak diacuhkan. Terbukti dengan adanya berbagai macam jenis kaos yang ditawarkan oleh dagadu dengan variasi desain. Daerah Yogyakarta sebagai kota wisata menjadi segmen penting bagi produk “Matur Nuwun”.

  1. Targeting

Target pasar yang dituju adalah remaja dan wisatawan. Remaja saat ini selalu peduli akan fashion yang dikenakannya. Selain itu, produk “Matur Nuwun” memiliki berbagai variasi desain clothing dan apparel (seperti sandal, tas, dan topi) yang kreatif. Hal ini menjadi perhatian pula khusus bagi wisatawan. Setiap daerah memiliki karakter masing-masing, “Matur Nuwun” menawarkan karakter Yogyakarta melalui produknya. Produk tersebut dapat menarik perhatian remaja yang mampu membawa kalangan lainnya seperti dewasa dan anak-anak untuk membeli produk “Matur Nuwun”.

  1. Positioning

“Matur Nuwun” menempati posisi follower yaitu ukm yang mengikuti inovasi dari industri clothing dan apparel terkemuka. Dalam wilayah Yogyakarta, terdapat brand besar seperti dagadu, inovasi dari brand tersebut akan diikuti oleh “Matur Nuwun”. Posisi follower memiliki keuntungan yaitu dengan mengadaptasi dari industri yang sudah ada, ukm dapat menempatkan pemasaran yang tepat bagi produknya.

 

1.5 Analisa SWOT

Opportunity Threat
Strength Inovasi desain clothing dan apparel yang belum ada di pasaran. Wujud desain utama yang diberikan adalah desain komik bertemakan sosial dengan sedikit humor ala Yogyakarta. Diferensiasi produk yang ditawarkan sangat unik dan dengan harganya yang standar. Lokasi pemasaran dekat dengan fasilitas kota yaitu alun-alun Yogyakarta. Peluang didapatkan karena banyaknya masyarakat yang menyukai desain unik dan Yogyakarta merupakan daerah wisata sehingga produk dapat dijadikan cindera mata ala Yogyakarta. Inovasi desain yang ditawarkan bermacam-macam, namun terdapat pionir dalam bisnis ini, seperti Dagadu. Brand awareness akan Dagadu telah tertanam kuat baik bagi wisatawan yang datang ke Jogja dan warga Jogja sendiri sehingga pemasaran dapat dikatakan cukup menantang.
Weakness Kelemahan produk “Matur Nuwun” terdapat pada bahan kaos. Jenis bahannya adalah TC. TC memiliki kekurangan yaitu kurang menyerap keringat sedangkan kelebihan yang dimiliki adalah tidak mudah kusut. Peluang yang dihasilkan dari kelemahan tersebut adalah harga yang ditawarkan dapat disesuaikan dengan bahan produk. Produk Matur Suwun yang dikategorikan sebagai follower menjadikan ancaman dalam pemasaran. Maraknya pembajakan terhadap desain-desain, mulai banyaknya pesaing sejenis di Yogyakarta. Selain itu, banyaknya variasi cinderamata khas Yogyakarta, misalnya Cokelat Monggo, Cokro, Bakpia Pia.

 

5. Existing Brand Identity

Produk sejenis dengan Kaos “Matur Nuwun” adalah produk dari Dagadu. Dagadu Djokdja telah memposisikan diri sebagai produk cinderamata alternatif dari Djokdja dengan mengusung tema utama: Everything about Djokdja. Karakteristik produk dari Dagadu adalah memberi bingkai estetika pada hal-hal keseharian yang dianggap sederhana dan remeh, mengungkapkan gagasan dengan gaya bermain-main yang mudah dipahami, memberi penekanan pada asfek keatraktifan melalui bentuk-bentuk sederhana yang mencolok, memilih citra craft atau kerajinan ketimbang fabrikan, baik melalui material yang digunakan maupun unsur-unsur desain dari pemilihan warna hingga finishing. Produk Dagadu banyak dijumpai di Malioboro, seperti baju atau kaos, gantungan kunci, stiker dan lain-lain.

 

2.    Formulasi Rancangan, Perencanaan, dan Strategi Brand

2.1  Projected Brand Indentity

Identitas brand ‘”Matur Nuwun” diberikan pada setiap produk kaos, tas, sandal, stiker dan topi. Brand didaftarkan kepada Direktorat Jenderal Hak Paten dan Merek. Pendaftaran tersebut bertujuan meminimalisasi pembajakan yang akan terjadi terhadap produk. Masyarakat pun mampu mengenali brand dengan mudah karena terdaftar resmi. Kepercayaan terhadap brand “Matur Nuwun” akan meningkat dan konsumen akan memiliki sifat loyal terhadap produk yang dihasilkan “Matur Nuwun”.

2.2 Strategi Marketing Mix (4P)

  1.  Product

Produk adalah segala sesuatu yang ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, dipergunakan dan yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan konsumen. UKM “Matur Nuwun” kami memiliki berbagai macam pilihan produk yaitu kaos, tas, sandal, dan topi, sticker. Berbagai macam jenis produk yang diproduksi UKM “Matur Nuwun” kami mempunyai kualitas menengah karena masih berskala UKM dengan posisi produk kami merupakan produk follower, tergetnya pada kalangan wisatawan dan remaja, dewasa maupun anak-anak. UKM “Matur Nuwun” menawarkan produk dengan berbagai macam desain unik yang ditampilkan melalui gambar komik serta batik yang dapat mengeksplor berbagai macam aktivitas di daerah Yogyakarta. Desain komik ini akan memudahkan dalam menampilkan kanekaragaman budaya, aktivitas masyarakat, tempat bersejarah, serta tokoh masyarakat yang terkenal di daerah Yogyakarta.

UKM kami senantiasa menjaga kualitas dengan menghadirkan bahan-bahan produk yang berkualitas menengah sesuai dengan harga yang ditawarkan dan tidak menguras kantong. Brand merek dari UKm kami adalah “Matur Nuwun”, hal tersebut kami sesuaikan berdasarkan nama UKM kami. Nama “Matur Nuwun” diambil dari bahasa Jawa daerah Yogyakarta yang berarti Terimakasih. Alasan menggunakan nama ini karena mudah diingat dan secara tidak langsung bertujuan untuk menghargai segala macam pembelian dan kunjungan ke tempat UKM “Matur Nuwun” ini.

Bentuk produk kami untuk kaos yaitu kaos lengan pendek dan lengan panjang dengan ukuran kecil (S) untuk anak-anak, sedang (M) untuk badan berukuran sedang dan besar (L atau XL) untuk yang mempunyai badan besar. Ada logo produk yang berada di bagian leher kaos yang menunjukkan merek serta brand dari produk kami. Produk kami mempunyai banyak pilihan warna yang menarik dan sesuai keinginan konsumen yaitu biru, ungu, merah muda, merah, coklat, krem, kuning, putih, hijau, hitam, dan oranye. Tentunya pemilihan warna dan pembuatan sablon disesuaikan berdasarkan warna dari kaos.         Sedangkan untuk produk tas, bahan terbuat dari anyaman pelepah daun pisang dengan berbagai macam ukuran untuk tas kerja, tas santai, dan dompet. Kemudian produk sepatu dan sandal dengan ukuran anak-anak, remaja dengan motif khas Yogyakarta yaitu batik dan beberapa tokoh terkenal pewayangan. Kemudian untuk produk topi dihadirkan berbagai macam model topi yaitu topi pantai dan topi cap. Lau untu produk sticker membuat dengan bentuk dan ukuran serta desain yang mengeksplor daerah Yogyakarta.

UKM “Matur Nuwun” memberikan pelayanan berupa garansi bagi produk yang mengalami kecacatan atau rusak seperti kaos bolong, jahitan terlepas dan warna serta sablon yang tidak rata pada saat proses pembelian yaitu berupa penggantian dengan kaos yang baru. Kemasan dari produk kami memakai pemasan dengan ketentuan pembelian dibawah 5 buah dikemas dengan plastic sedangkan untuk pembelian diatas 5  buah dikemas menggunakan tas yang terbuat dari kertas biodegradable. Kemasan yang digunakan menggunakan berbagai macam desain yang disertai logo UKM “Matur Nuwun”.

2.  Price

Harga merupakan alat untuk mengukur nilai suatu barang, harga bagi produsen merupakan penentu bagi permintaan pasar dan mempengaruhi posisi pesaing perusahaan dalam merebut konsumen. UKM “Matur Nuwun” yang kkami bangun menawarkan berbagai macam harga untuk macam produk yang kami produksi bergantung ukuran. Untuk produk kaos berdasarkan ukuran harga yang ditawarkan antara Rp. 30.000,- sampai Rp. 60.000,-. Untuk produk tas harganya berkisar antara Rp. 20.000,- sampai Rp. 50.000,-. Selanjutnya untuk produk sandal harganya Rp. 15.000,- sampai Rp. 25.000,- dan sepatu harganya Rp. 30.000,- sampai Rp.50.000,-. Produk topi kami tawarkan dengan harga Rp. 20.000,- sampai Rp. 30.000,- serta sticker dengn harga mulai dari Rp. 3.000,- sampai Rp. 10.000,-. Untuk pembelian produk yang sama berjumlah 5 buah akan diberikan diskon sebesar 15%. Hal ini dilakukan untuk menarik minat konsumen memebi dan berlangganan di took kami. Harga yang kami tawarkan memang sedikit mahal karena sudah terdaftar untuk penciptaan hak milik atau paten.

3.   Place

Dalam hal ini place yang dimaksud yaitu tempat atau saluran distribusi. Saluran distribusi untuk suatu barang adalah saluran yang digunakan oleh produsen untuk menyalurkan barang tersebut dari produsen sampai ketangan konsumen sebagai pemakai. Saluran distribusi yang digunakan adalah suatu struktur yang menggambarkan alternatif saluran yang dipilih oleh para produsen seperti: pedagang besar, agen, dan pengencer. Pada UKM “Matur Nuwun” kami menggunakan penyaluran distribusi ke konsumen dengan mendirikan sebuah outlet atau toko pada daerah sekitar alun-alun yang ramai dengan wisatawan serta dekat dengan lokasi pasar umum Bringharjo dan daerah Malioboro. Oulet kami dilengkapi dengan tempat produksi yang langsung dilaksanakan pada lokasi penjualan untuk  menarik konsumen dan konsumen dapat lagsung terjun dalam melihat kegiatan pembuatan produk. Lokasi dan tempat berjualan kami hanya ada satu yantu di Yogyakarta dan tidak membuka cabang untuk membuktikan bahwa UKM “Matur Nuwun” hanya satu-satunya dan original.

4.   Promotion

Promosi adalah suatu usaha perusahaan atau individu memberikan informasi dan mempengaruhi serta menarik konsumen secara lansung terhadap produk yang dihasilkan. Promosi pada UKM “Matur Nuwun” melaiu media social seperti facebook, twitter, radio, pamphlet, leaflet, dan baliho di daerah-daerah strategis dan ramai pengunjung atau wisatawan. Pemesanan produk dapat langsung dilakukan pada outlet ataupun via email, sms dan telepon.

 

2.2  Visual Desain (Logo, Company, Color, Packaging)

“Matur Suwun” menggunakan tampilan logo yang identik agar mudah diingat oleh konnsumen. Logo yang digunakan adalah seperti pada gambar berikut:

            Company merupakan UKM dengan outlet disekitar alun-alun Yogyakarta. Warna (color) yang digunakan adalah biru. Packaging menggunakan plastik jenis PET (Polyethylene Terephthalate). Bahan yang digunakan dalam membuat kemasan plastik ini adalah polietilen dan polipropilen. Kemasan tidak boleh digunakan kembali bila digunakan pada makanan. Plastik didesain ramah lingkungan dengan pemberian logo “Matur Suwun” yaitu seperti gambar berikut ini,

2.3  Message Design dan Planning

            Logo diatas memiliki filosofi yang memiliki arti yaitu bendera biru melambangkan kejayaan perusahaan dalam mempertahankan kredibilitas agar selalu berkibar dalam berinovasi. Warna biru memiliki arti kejayaan dan kedamaian, perusahaan yang baik harus mempunyai sifat yang tinggi dari pada perusahaan lain, sehingga perusahaan kami tidak akan dipandang rendah. Kata “MATUR SUWUN” merupakan indikasi bahwa ukm memiliki rasa terimakasih terhadap penghargaan yaitu berupa pembelian produk. Sehingga dalam hal managemen ukm ini bukan perusahaan rendah.

 

2.4  Media planning dan Media Placement

            Media planning adalah adalah suatu proses dalam merancang suatu tata cara pelaksanaan yang menunjukkan bagaimana suatu komunikasi pada suatu waktu dan tempat akan digunakan sebagai kontribusi dalam mencapai tujuan marketing (Webmedia Independen). Media planning bertujuan sebagai identifikasi cara terbaik untuk menyampaikan iklan/pesan kepada khalayak namun bukan untuk menjual produk atau jasa yang diiklankan. Pada UKM “Matur Nuwun” yang menjual produk kaos dan apparel yang terletak di Kota Yogyakarta memiliki tujuan pemasaran yang luas hingga luar kota bahkan luar  pulau. Tren fashion yang lebih cenderung digemari oleh khalayak muda menjadi pertimbangan pemilihan media planning yang digunakan.

            Sebagaimana yang biasa terjadi di lingkungan sekitar, orang tidak bisa lepas terhadap alat komunikasi multifungsi. Terlebih pada khalayak muda yang memanfaatkan internet untuk keperluan chatting, surfing  dan sebagainya. Jejaring sosial pula tak lepas oleh kehidupan mereka. Dengan alasan tersebut UKM “Matur Nuwun” menggunakan internet sebagai media planning.

            Internet sebagai media planning yang digunakan menjadi tempat untuk pemasangan iklan merambah beberapa situs yang sedang marak digunakan para target. Diantaranya adalah situs utama yaitu halaman yang berfungsi untuk menunjukkan foto-foto barang yang dijual beserta keterangan mengenai harga, ukuran, dan cara pembelian. Tidak lupa juga menyertakan testimoni pembeli dan layanan chatting dengan operator pada jam kerja untuk memberikan jaminan kepada pembeli lain.

            Untuk media placement yang berati promosi, UKM “Matur Nuwun” merambah jejaring sosial yang sedang booming untuk memperkenal dan menawarkan produk. Jejaring sosial yang digunakan diantaranya adalah facebook dan twitter. Beberapa alasan penggunaan jejaring sosial dalam media placement:

1.    Low Cost High Impact

Biayanya rendah dibandingkan dengan media konvensional dalam beberapa case pemasaran.

2.    Large Coverage

Secara matematis online user di Indonesia semakin berkembang setiap tahunnya, angka 60 juta online user nampaknya masih belum cukup bagi Indonesia. Angka-angka tersebut bagi para pebisnis merupakan sebuah peluang yang sangat besar terlebih dimana bagi social media faktor jarak, ruang, dan waktu bukan menjadi halangan lagi.

3.    Make Your Own Schedulle

Pada jejaring sosial, dapat ditentukan secara langsung  waktu dimana promosi dilakukan. Secara tidak langsung akan memiliki dampak terhadap pengalokasikan budget media placement menjadi lebih efektif dan efisien.

4.    Two Ways Communication

Komunikasi dua arah (two ways communication) yang memungkinkan akan terjadinya interaksi secara langsung dengan target market pada saat itu, dimana didalamnya akan terjadi interaksi komunikasi (online) kita merespon target market dan mengarahkannya kepada objektif tertentu.

5.    Direct Feedback

Penggunaan jejaring sosial bisa mengetahui sejauh mana respon dari target market mengenai material konten yang di keluarkan.

6.    Direct To Our Link

Jejaring sosial bisa mencreate sebuah konten material yang secara langsung mendirect target market (konsumen) kepada link tertentu yang tentu saja sudah dihubungkan dengan portal bisnis di dunia online, misalkan dalam konten Twett dicantumkan link Facebook, Blog, atau Website.

7.    Measurement

Keunggulan lainnya media sosial dibandingkan media konvensional adalah faktor measurement, kemajuan teknologi informasi nampaknya menjadi faktor utama kenapa bisa begitu. Melalui media online, “dengan banyaknya tools-tools yang mempermudah tugas kita saat menggunakan social media juga terdapat beberapa tools yang bisa mengukur sejauh mana impact atau efect dari media placement kita”. Kita bisa mengukur sejauh mana respon dari audience yang membaca iklan promosi kita, seberapa besar yang me retweet, berapa banyak yang mengakses link yang kita cantumkan, dan sejauh mana efektifitas interaksi dengan target.

 

2.5  Implementasi Brand Planning

Brand planning diimplementasikan pada produk “Matur Suwun”. Pada kaos, akan diletakkan pada bagian belakang kaos agar terlihat lebih jelas bila dilihatnya. Brand harus selalu diletakkan pada produk clothing dan apparel. Untuk topi dan tas diletakkan pada bagian depan produk. Sedangkan sandal, brand diimplementasikan pada wadah sandal.

2.6 Monitoring dan Evaluasi

Produk “Matur Nuwun” selalu dipantau dari segi produksi maupun pemasarannya. Dalam produksi apparel dan kaos diwajibkan inovasi pada desain secara berkelanjutan untuk mempertahankan produk di kalangan konsumen. Kecacatan pada produk dapat segera ditindaklanjuti untuk menjadi bahan evaluasi bagi produk selanjutnya. Efektifitas akan maksimal jika setiap karyawan mampu memantau secara umum produk yang tidak layak untuk diperjual-belikan.

Evaluasi yang terjadi pada produk sebelumnya harus mampu mengubah kualitas produk menjadi lebih baik. Pendirian “Matur Nuwun” yang menargetkan sebagai cinderamata bagi wisatawan di Jogja sangat berpotensi. Untuk itu segala bentuk keganjilan pada produk harus diselesaikan secepatnya.

makalah dapat di download disini TMP BRANDING

ppt dapat di download disini matur nuwun

TUGAS TEKNOLOGI KAYU BAMBU DAN SERAT

Posted: 2nd January 2013 by Dewi Aprilina in Uncategorized

Resume Jurnal

“Studi Pemanfaatan Serbuk Gergaji Sebagai Bahan Baku Pembuatan Sodium Lignosulfonat Dan Aplikasinya Untuk Meningkatkan Kekuatan Beton Mortar”

Oleh :

                    Nama               : Dewi Aprilina

      NIM                : 105100300111046

                    Dosen              : Ika Atsari Dewi, STP. MP

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012

 

“STUDI PEMANFAATAN SERBUK GERGAJI SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN SODIUM LIGNOSULFONAT DAN APLIKASINYA UNTUK MENINGKATKAN KEKUATAN BETON MORTAR”

 

Serbuk gergaji merupakan limbah industri penggergajian kayu yang jumlah ketersediaannya sangat besar namun belum termanfaatkan semua. Salah satu alternatif pemanfaatan serbuk gergaji menjadi produk dengan nilai jual yang tinggi adalah menjadikannya sebagai bahan baku pembuatan sodium lignosulfonat (SLS). Penelitian ini mencoba mensintesa SLS dari proses pemasakkan langsung serbuk gergaji menggunakan pelarut sodium bi-sulfit dan kemudian menggunakannya sebagai aditiv pada pembuatan beton dengan meninjau pengaruh penambahan langsung SLS pada adonan semen pasir dan  air terhadap tingkat kekuatan tekan beton yang dihasilkan. senyawa sodium lignosuosulfonat dapat  diperoleh dari proses pemasakkan langsung biomassa menggunakan pelarut sodium bisulfit. Senyawa sodium lignosullfonat apabila ditambahkan pada campuran semen dan pasir pembentuk beton, senyawa ini akan terserap pada permukaan mineral/partikel dan memberikan tambahan kekuatan ikat antar partikel akibat sifat adhesi dan dispersinya, serta menghambat difusi air dalam material akibat sifat hidrofobnya. Dengan demikian dapat dihasilkan beton yang lebih kuat dan relatif tidak tembus air.

Proses pembuatan SLS dilakukan dengan memasukkan serbuk gergaji dan larutan sodium bisulfit (pH 4,5) ke dalam reaktor dengaan perbandingan berat serbuk : berat pelarut sebesar 1:15. Selanjutnya reaktor ditutup rapat dan dipanaskan. Pemanasan dilakukan secara bertahap selama 3 jam sampai mencapai suhu maksimum 1600C dan dipertahankan selama 2 jam, lalu pemanas dimatikan. Selama pemanasan dijaga jangan sampai terjadi kebocoran reaktor. Selanjutnya  dilakukan pemisahan dan pemurnian produk SLS. Pencetakan beton mortar dilakukan dengan menggunakan bahan campuran semen, pasir, air dan bahan aditif tambahan. Pencetakan dilakukan dengan menggunakan cetakan yang terbuat dari kayu yang dirangkai membentuk kotak-kotak dengan perbandingan komposisi antara semen, pasir dan air mula-mula yaitu 1 : 4 : 0,6. Serbuk SLS dilarutkan dalam air dan kemudian divariasikan konsentrasinya dan jumlah air (faktor-air-semen, FAS) dan dicampur dalam adonan. Beton cetak kemudiandikeringkan selama satu hari, setelah itu cetakan dibuka dan direndam dalam air selama 5 hari agar pengerasannya seragam antara bagian luar dan bagian dalamnya serta mencegah panas hidrasi yang berlebihan. Setelah 5 hari, beton dikeringkan diudara terbuka selama 2 hari. Selanjutnya beton siap untuk diuji dengan alat uji kekerasan yaitu ”Universal Testing Machine” .

Secara umum beton dengan penambahan SLS memiliki kekuatan tekan lebih baik dari beton tanpa penambahan SLS meskipun terlihat rata-rata tidak begitu besar kenaikannya. Terjadinya peningkatan kekuatan diperkirakan lebih disebabkan oleh keberadaan deposit air/air sisa (unreacted water) dalam struktur

beton yang berkurang, sehingga jumlah pori yang terbentuk oleh unreacted water lebih sedikit. Disamping itu karena SLS bersifat sebagai dispersant yang merupakan jembatan antara komponenkomponen senyawa yang tidak dapat saling bersatu seperti debu-debu yang terikut, dll. Hal ini membuat struktur beton lebih kompak secara mikro. Tidak begitu besarnya kenaikan kekuatan tekan beton kemungkinan karena kemurnian SLS yang dihasilkan relatif masih rendah. Disamping itu metode dalam penggunaan SLS pada penelitian ini masih bersifat praktis dan belum standar. Hal ini memang telah disadari sejak dari awal, karena tujuan dari penelitian ini memang hanya untuk melihat pengaruh penambahan SLS secara langsung tanpa penambahan adititiv atau perlakuan lain pada pembuatan beton. Dari gambar terlihat bahwa pengaruh konsentrasi SLS dan variasi FAS tidak terlihat cukup nyata. Meskipun demikian terlihat bahwa kondisi

optimal diperoleh pada penelilitian ini yaitu pada FAS 0,5 dengan konsentrasi SLS 0,5% dimana kuat tekan yang diperoleh 31.480 kg/ cm2 yang jauh di atas kuat tekan campuran beton tanpa penambahan SLS yang hanya sebesar 18.945 kg/ cm2. Kondisi ini dinyatakan sebagai kondisi optimal karena disamping penggunaan air dan SLS yang relative sedikit, juga karena kuat tekan yang dihasilkan cukup signifikan dari kuat tekan campuran beton tanpa penambahan SLS (kenaikan 66,165 %). Sehingga, pengaruh konsentrasi SLS dan variasi FAS tidak terlihat cukup nyata, kondisi optimal diperoleh yaitu pada FAS 0,5 dengan konsentrasi SLS 0,5% dimana kuat tekan yang diperoleh 31.480 kg/ cm2.

jurnal tekbam STUDI PEMANFAATAN SERBUK GERGAJI SEBAGAI

 

TUGAS MATA KULIAH REKAYASA OPTIMASI PROSES KELAS F

Posted: 2nd January 2013 by Dewi Aprilina in Uncategorized

Adsorpsi Surfaktan Nonionik Alkil Poliglikosida pada Antarmuka Fluida-Fluida

Oleh : Kelompok 7

Mahmud Nasapi         105100300111019        http://blog.ub.ac.id/vanhoutten/

Fatati Nuriyana           105100301111075       http://blog.ub.ac.id/fatatinuryana

Dewi Aprilina             105100300111046        http://blog.ub.ac.id/dewiaprilina

Ahmad Triyono          105100301111024        http://blog.ub.ac.id/ahmadtriyono/

Diannovi Sabati          105100300111044        http://blog.ub.ac.id/didiannovi

Rezza Wicaksono       105100300111055        http://blog.ub.ac.id/rezzawicaksono

Yusuf Qordhowi         105100301111021        http://blog.ub.ac.id/yusufqordhowi

Hendri Cahya              105100301111047       http://blog.ub.ac.id/Hendricahyaaprilio

Irsha Septiema S.        105100307111009       http://blog.ub.ac.id/blogkampusku/

Ardiman Azis              105100301111069

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

    2013      

HASIL RESUME JURNAL OPTIMASI SURFAKTAN

 Dasar Teori

Surfaktan adalah zat yang memiliki gugus hidrofilik dan gugus hidrofobik. Berdasarkan namanya, surfaktan yang berdisosiasi dalam air dan melepaskan kation dan anion (atau zwitterions) diistilahkan sebagai surfaktan ionik (kationik, anionik, zwitterionik). Surfaktan nonionik merupakan bahan yang penting dalam berbagai produk industri seperti pada proses pembuatan sabun (Ivanov dkk., 2010), sebagai pembersih, personal care, proteksi tanaman, cat dan coating, stabilitas emulsi, pangan dan pengolahan kulit (Giribabu dan Ghosh, 2007). Surfaktan anionic memiliki gugus hidrofilik anionic. Beberapa surfaktan non- ionik memiliki pengaruh terhadap tegangan permukaan dan tegangan antarmuka pada antarmuka air-udara dan air-minyakyang telah dipelajari oleh Ferrari dkk. (1997). Dari pengeplotan tegangan antarmuka (γ) versus konsentrasi surfaktan dalam badan larutan (c), jumlah surfaktan yang teradsorp pada antarmuka dapat ditentukan. Persamaan keadaan permukaan yang diturunkan dari isoterm Langmuir atau Frumkin ini dapat digunakan untuk mencocokkan data yang akan di optimasi.

Perilaku tegangan permukaan dari larutan surfaktan encer penting di berbagai bidang aplikasi, dan di dalam proses biologi dan biokimia. Misalnya, jika buih pestisida memiliki tegangan permukaan rendah, buih pestisida dapat tersebar menjadi tetesan-tetesan kecil, yang akan menyebar lebih mudah pada daun (Knoche dkk., 1991). Karena alasan ini, surfaktan digunakan sebagai bahan tambahan dalam pestisida. Dalam aliran dalam kapiler dan media berpori dipengaruhi oleh tegangan permukaan. Dalam sistem biopro-ses, tegangan permukaan mempengaruhi tingkat oksigenasi air dengan mempengaruhi koefisien perpindahan massa. Tegangan permukaan juga penting dalam pemrosesan metal dan tekstil, produksi pulp dan kertas, dan formulasi farmasi (Chang dan Franses, 1995).

Dalam penelitian ini diteliti adsorpsi tiga surfaktan nonionik alkil poliglikosida (APG) (APG komersial dan APG hasil penelitian baik dari glukosa maupun dari pati sagu) pada antarmuka air-udara. Tegangan permukaan dan tegangan antarmuka diukur dan data-nya dicocokkan dengan persamaan keadaan permukaan yang diturunkan dari isoterm Langmuir.

Untuk konsentrasi surfaktan di bawah critical micelle concentration (CMC), konsentrasi permukaan Γ pada antarmuka ditentukan dari slope grafik γ vs ln c pada temperatur konstan, berdasarkan persamaan adsorpsi Gibbs dengan asumsi larutan encer ideal:

…….(1)

dimana y adalah tegangan permukaan atau tegangan antarmuka dan c adalah konsentrasi surfaktan dalam badan larutan, R adalah konstanta gas, dan T adalah temperatur absolut. Isoterm non-linier yang paling umum digunakan adalah isoterm Langmuir, dimana konsentrasi permukaan dapat dihubungkan dengan konsentrasi surfaktan dalam badan larutan dengan :

………… (2)

Disini  adalah kapasitas adsorpsi atau konsentrasi permukaan maksimum. Nilainya tergantung pada luas permukaan minimum yang diduduki oleh molekul surfaktan yang teradsorpsi. Tetapan adsorspsi kesetimbang-an Langmuir, KL, adalah rasio konstanta laju antara adsorpsi dan desorpsi.

Untuk surfaktan nonionik, CMC biasanya terletak antara 0,01 dan 0,1 mol/m3, yang benar-benar kecil. Oleh karena itu, kondisi ideal dalam badan fase dipenuhi. Untuk surfaktan nonionik, tidak ada interaksi ionik yang nyata antara molekul surfaktan yang teradsorpsi pada antarmuka. Namun, karena antarmuka mendekati jenuh (yaitu, bila rantai polimerik dari molekul-molekul surfaktan dapat berinteraksi satu sama lainnya. Karena itu, model Langmuir diharapkan akan berlaku pada konsentrasi surfaktan di bawah CMC. Dengan menyisipkan Pers. (2) ke dalam Pers. (1) diperoleh:

 

Jika tegangan antarmuka antara dua fase fluida yang bebas surfaktan dinyatakan dengan    integrasi Pers.(3) menghasilkan:

……………….. (4)

Persamaan (4) dikenal dengan persamaan keadaan permukaan. Tujuan dari persamaan keadaan ini adalah untuk menghilangkan konsentrasi permukaan ( ) dari isoterm adsorpsi dan menghubungkan tegangan per-mukaan secara langsung dengan konsentrasi surfaktan dalam badan larutan (c). Persamaan ini mempunyai dua parameter yang tidak diketahui, yaitu   dan KL, yang dapat diperoleh dengan mencocokkan harga percobaan y terhadap c.

Metode Optimasi Yang Digunakan

Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah surfaktan nonionik alkil poliglikosida (APG), yaitu APG komersial (APG-K) yang diperoleh dari Cognis dan APG hasil penelitian, yaitu APG yang dihasilkan dari glukosa (APG-G) dan APG yang dihasilkan dari pati sagu (APG-PS). Xilen dibeli di toko bahan kimia Frisconina Bogor. Pengukuran tegangan permukaan dan tegangan antarmuka menggunakan metode cincin du Nouy.

Metode

Metode optimasi yang digunakan pada jurnal “Adsorpsi Surfaktan Nonionik Alkil Poliglikosida pada Antarmuka Fluida-Fluida” adalah metode optimasi non linear multi variabel yang di gunakan adalah metode Nelder-Mead dengan bantuan paket perangkat lunak Matlab. Pengukuran tegangan permukaan  dilakukan dengan beragam konsentrasi sehingga faktor yang mempengaruhi adalah konsentrasi, sedangkan pada pengukuran tegangan antar muka menggunakan beragam tingkat kepolaran pada dua cairan yang berbeda sehingga faktor yang mempengaruhi adalah tingkat kepolaran. Dari beragam konsentrasi dan

tingkat kepolaran tersebut akan didapatkan titik optimumnya.

Hasil Dan Pembahasan

Tegangan permukaan berkurang dengan meningkatnya konsentrasi APG di dalam larutan. Hal ini dikarenakan APG larut dalam air, maka APG bermigrasi ke permukaan air sehingga mengurangi tega-ngan permukaannya. Sebaliknya, bagian yang hidrofobik dari molekul menarik (repeals) molekul air, yang bergerak ke atas ke udara sedangkan kepala dari molekul tetap dalam air, ini mengakibatkan reduksi tegangan permukaan pada batas air-udara. Kenaikan konsentrasi APG akan mening-katkan migrasi molekul-molekul ke permu-kaan hingga konsentrasi tertentu dimana permukaan menjadi jenuh. Pada titik ini molekul-molekul APG masih di dalam badan larutan kemudian membentuk misela, dimana ekor-ekor APG mengumpul dalam misela, dengan kepala molekul-molekul APG terbentuk pada permukaan bagian luar misela. Bila konsentrasi CMC ini tercapai tidak ada lagi perubahan harga tegangan permukaan dari larutan. optimasi non linear multi variabel dapat diterapkan dengan meminimumkan jumlah kuadrat kesalahan antara data tegangan permukaan yang diukur atau percobaan dan harga prediksi atau model. Hasil optimasi parameter-parameter persamaan keadaan permukaan, KL dan T∞1. Dengan menggunakan data KL dan T∞1  hasil optimasi dapat dicari nilai tegangan permukaan model

 

Di atas merupakan gambar grafik tegangan permukaan air pada berbagai konsentrasi APG dalam larutan. Tegangan permukaan yang difit dengan persamaan keadaan permukaan (model) ditunjukkan dengan garis padat. Dari harga ∆ɣ pada Tabel 1 menunjukkan bahwa pencocokan dengan data percobaan sangat baik, kecuali untuk APG-G yang menunjukkan fit yang jelek. Dari harga T∞1 menunjukkan bahwa lebih banyak molekul-molekul surfaktan APG-G yang terakomodasi pada antarmuka air-udara daripada surfaktan APG-PS dan APG-K. Dari harga T∞1, luas permukaan minimum per molekul yang diadsorp (Amin).

Konstanta kesetimbangan (KL) untuk adsorpsi dan desorpsi pada antarmuka air-udara cukup tinggi. Harga KL untuk APG-PS jauh lebih tinggi dibandingkan harga KL untuk APG-K dan APG-G. Ini menandakan laju adsorpsi pada APG-PS lebih cepat. Sedangkan laju adsorpsi pada APG-G lebih lambat. Harga konstanta kesetimbangan (KL) pada antarmuka air-xilen lebih tinggi daripada antarmuka air-udara.

            Dalam tegangan antar muka ini parameter yang digunakan adalah persamaan yang berasal dari KL dan Г∞ serta hasil optimasi pada tabel dibawah ini :

 

 

Tabel diatas merupakan  tabel yang menunjukkan ragam tegangan antar muka air-xilen pada berbagai konsentrasi APG dalam larutan. Tabel ini menunjukkan bahwa pencocokan Pers. (4) dengan data percobaan sangat baik untuk ketiga surfaktan yang digunakan, dimana ∆y di bawah 1 mN/m. Dari harga konsentrasi permukaan maksimum (Г∞) terlihat bahwa lebih banyak molekul-molekul APG-G dan APG-PS yang terakomodasi pada antarmuka air-xilen dibandingkan air-udara, sedangkan pada APG-K molekul-molekulnya lebih banyak tertampung pada antarmuka air-udara dibandingkan air-xilen. Luas permukaan dari molekul APG-G dan APG-PS lebih banyak menempati pada antarmuka air-udara dibandingkan air-xilen. Harga konstanta kesetimbangan (KL) pada antarmuka air-xilen lebih tinggi daripada antarmuka air-udara.

Kesimpulan

Tegangan permukaan dan tegangan antar-muka didapatkan menurun dengan naiknya konsentrasi surfaktan. Tegangan antarmuka sangat dipengaruhi oleh konsentrasi surfaktan dibandingkan dengan tegangan permukaan sehingga tegangan antarmuka mencapai kejenuhan pada konsentrasi surfaktan yang lebih rendah. Persamaan keadaan permukaan yang diturunkan dari isoterm Langmuir telah dicocokkan dengan data tegangan permukaan dan tegangan antarmuka dan menunjukkan hasil yang sesuai antara model dan data.

DAFTAR PUSTAKA

 

Chang, C. H., Franses, E. I. 1995. Adsorption dynamics of surfactants at the air/water interface: a critical review of mathematical models, data, and mechanisms. Colloids and Surfaces A: Physicochemical and Engineering Aspects, 100, 1-45.

Ferrari, M., Liggieri, L., Ravera, F., Amodio, C., Miller, R. 1997. Adsorption kinetics of alkylphosphine oxides at water/hexane interface. 1. Pendant drop experiments. Journal of Colloid and Interface Science, 186, 40–45.

Giribabu, K., Ghosh, P. 2007. Adsorption of nonionic surfactants at fluid–fluid interfaces: Importance in the coalescence of bubbles and drops. Chemical Engineering Science, 62, 3057–3067.

Ivanov, I. B., Danov, K. D., Dimitrova, D., Boyanov, M., Ananthapadmanabhan, K. P., Lips, A. 2010.

Equations of state and adsorption isotherms of low molecular non-ionic surfactants. Colloids and Surfaces A: Physico-chemical and Engineering Aspects, 354, 118–133.

Knoche, M., Tamura, H., Bukovac, M. J. 1991. Performance and stability of the organosilicone surfactant L-77: effect of pH, concentration, and temperature. Journal of Agricultural and Food Chemistry

TUGAS MATA KULIAH REKAYASA OPTIMASI PROSES KELAS F

Adsorpsi Surfaktan Nonionik Alkil Poliglikosida  pada Antarmuka Fluida-Fluida

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh

Kelompok 7 :

 

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012

PENDAHULUAN

 

Surfaktan adaalah zat yang memiliki gugus hidrofilik dan gugus hidrofobik. Berdasarkan namanya, surfaktan yang berdisosiasi dalam air dan melepaskan kation dan anion (atau zwitterions) diistilahkan sebagai surfaktan ionik (kationik, anionik, zwitterionik). Surfaktan nonionik merupakan bahan yang penting dalam berbagai produk industri seperti pada proses pembuatan sabun (Ivanov dkk., 2010), sebagai pembersih, personal care, proteksi tanaman, cat dan coating, stabilitas emulsi, pangan dan pengolahan kulit (Giribabu dan Ghosh, 2007). Surfaktan anionic memiliki gugus hidrofilik anionic. Beberapa surfaktan non- ionik memiliki pengaruh terhadap tegangan permukaan dan tegangan antarmuka pada antarmuka air-udara dan air-minyakyang telah dipelajari oleh Ferrari dkk. (1997). Dari pengeplotan tegangan antarmuka (γ) versus konsentrasi surfaktan dalam badan larutan (c), jumlah surfaktan yang teradsorp pada antarmuka dapat ditentukan. Persamaan keadaan permukaan yang diturunkan dari isoterm Langmuir atau Frumkin ini dapat digunakan untuk mencocokkan data yang akan di optimasi.

Perilaku tegangan permukaan dari larutan surfaktan encer penting di berbagai bidang aplikasi, dan di dalam proses biologi dan biokimia. Misalnya, jika buih pestisida memiliki tegangan permukaan rendah, buih pestisida dapat tersebar menjadi tetesan-tetesan kecil, yang akan menyebar lebih mudah pada daun (Knoche dkk., 1991). Karena alasan ini, surfaktan digunakan sebagai bahan tambahan dalam pestisida. Dalam aliran dalam kapiler dan media berpori dipengaruhi oleh tegangan permukaan. Dalam sistem biopro-ses, tegangan permukaan mempengaruhi tingkat oksigenasi air dengan mempengaruhi koefisien perpindahan massa. Tegangan permukaan juga penting dalam pemrosesan metal dan tekstil, produksi pulp dan kertas, dan formulasi farmasi (Chang dan Franses, 1995).

Dalam penelitian ini diteliti adsorpsi tiga surfaktan nonionik alkil poliglikosida (APG) (APG komersial dan APG hasil penelitian baik dari glukosa maupun dari pati sagu) pada antarmuka air-udara. Tegangan permukaan dan tegangan antarmuka diukur dan data-nya dicocokkan dengan persamaan keadaan permukaan yang diturunkan dari isoterm Langmuir.

Untuk konsentrasi surfaktan di bawah critical micelle concentration (CMC), konsentrasi permukaan Γ pada antarmuka ditentukan dari slope grafik γ vs ln c pada temperatur konstan, berdasarkan persamaan adsorpsi Gibbs dengan asumsi larutan encer ideal:

Γ = – 1            (1)

RT

R adalah konstanta gas, dan T adalah temperatur absolut. Isoterm non-linier yang paling umum digunakan adalah isoterm Langmuir, dimana konsentrasi permukaan dapat dihubungkan dengan konsentrasi surfaktan dalam badan larutan dengan :

……………………… (2)

Disini … …  adalah kapasitas adsorpsi atau konsentrasi permukaan maksimum. Nilainya tergantung pada luas permukaan minimum yang diduduki oleh molekul surfaktan yang teradsorpsi. Tetapan adsorspsi kesetimbang-an Langmuir, KL, adalah rasio konstanta laju antara adsorpsi dan desorpsi.

 

Untuk surfaktan nonionik, CMC biasanya terletak antara 0,01 dan 0,1 mol/m3, yang benar-benar kecil. Oleh karena itu, kondisi ideal dalam badan fase dipenuhi. Untuk surfaktan nonionik, tidak ada interaksi ionik yang nyata antara molekul surfaktan yang teradsorpsi pada antarmuka. Namun, karena antarmuka mendekati jenuh (yaitu, bila rantai polimerik dari molekul-molekul surfaktan dapat berinteraksi satu sama lainnya. Karena itu, model Langmuir diharapkan akan berlaku pada konsentrasi surfaktan di bawah CMC. Dengan menyisipkan Pers. (2) ke dalam Pers. (1) diperoleh:

……………. (3)

Jika tegangan antarmuka antara dua fase fluida yang bebas surfaktan dinyatakan dengan … … , integrasi Pers.(3) menghasilkan:

……………….. (4)

Persamaan (4) dikenal dengan persamaan keadaan permukaan. Tujuan dari persamaan keadaan ini adalah untuk menghilangkan konsentrasi permukaan (…) dari isoterm adsorpsi dan menghubungkan tegangan per-mukaan secara langsung dengan konsentrasi surfaktan dalam badan larutan (c). Persama-an ini mempunyai dua parameter yang tidak diketahui, yaitu … ….  dan KL, yang dapat diperoleh dengan mencocokkan harga percobaan … terhadap c.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE PENELITIAN

 

Bahan

 

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah surfaktan nonionik alkil poliglikosida (APG), yaitu APG komersial (APG-K) yang diperoleh dari Cognis dan APG hasil penelitian, yaitu APG yang dihasilkan dari glukosa (APG-G) dan APG yang dihasilkan dari pati sagu (APG-PS). Xilen dibeli di toko bahan kimia Frisconina Bogor. Pengukuran tegangan permukaan dan tegangan antarmuka menggunakan metode cincin du Nouy.

 

Metode

 

Metode optimasi yang digunakan pada jurnal “Adsorpsi Surfaktan Nonionik Alkil Poliglikosida pada Antarmuka Fluida-Fluida” adalah menggunakan metode permukaan respon yaitu dengan respon pengukuran tegangan permukaan dan pengukuran tegangan antar muka. Pengukuran tegangan permukaan  dilakukan dengan beragam konsentrasi sehingga faktor yang mempengaruhi adalah konsentrasi, sedangkan pada pengukuran tegangan antar muka menggunakan beragam tingkat kepolaran pada dua cairan yang berbeda sehingga faktor yang mempengaruhi adalah tingkat kepolaran. Dari beragam konsentrasi dan tingkat kepolaran tersebut akan didapatkan titik optimumnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Tegangan permukaan berkurang dengan meningkatnya konsentra-si APG di dalam larutan. Hal ini dikarenakan APG larut dalam air, maka APG bermigrasi ke permukaan air sehingga mengurangi tega-ngan permukaannya. Sebaliknya, bagian yang hidrofobik dari molekul menarik (repeals) molekul air, yang bergerak ke atas ke udara sedangkan kepala dari molekul tetap dalam air, ini mengakibatkan reduksi tegangan permukaan pada batas air-udara. Kenaikan konsentrasi APG akan mening-katkan migrasi molekul-molekul ke permu-kaan hingga konsentrasi tertentu dimana permukaan menjadi jenuh. Pada titik ini molekul-molekul APG masih di dalam badan larutan kemudian membentuk misela, dimana ekor-ekor APG mengumpul dalam misela, dengan kepala molekul-molekul APG terbentuk pada permukaan bagian luar misela. Bila konsentrasi CMC ini tercapai tidak ada lagi perubahan harga tegangan permukaan dari larutan. optimasi non linear multi variabel dapat diterapkan dengan meminimumkan jumlah kuadrat kesalahan antara data tegangan permukaan yang diukur atau percobaan dan harga prediksi atau model. Hasil optimasi parameter-parameter persamaan keadaan permukaan, KL dan T∞1. Dengan menggunakan data KL dan T∞1  hasil optimasi dapat dicari nilai tegangan permukaan model

 

Dia atas merupakan gambar grafik tegangan permukaan air pada berbagai konsentrasi APG dalam larutan. Tegangan permukaan yang difit dengan persamaan keadaan permukaan (model) ditunjukkan dengan garis padat. Dari harga ∆ɣ pada Tabel 1 menunjukkan bahwa pencocokan dengan data percobaan sangat baik, kecuali untuk APG-G yang menunjukkan fit yang jelek. Dari harga T∞1 menunjukkan bahwa lebih banyak molekul-molekul surfaktan APG-G yang terakomodasi pada antarmuka air-udara daripada surfaktan APG-PS dan APG-K. Dari harga T∞1, luas permukaan minimum per molekul yang diadsorp (Amin).

 

Konstanta kesetimbangan (KL) untuk adsorpsi dan desorpsi pada antarmuka air-udara cukup tinggi. Harga KL untuk APG-PS jauh lebih tinggi dibandingkan harga KL untuk APG-K dan APG-G. Ini menandakan laju adsorpsi pada APG-PS lebih cepat. Sedangkan laju adsorpsi pada APG-G lebih lambat. Harga konstanta kesetimbangan (KL) pada antarmuka air-xilen lebih tinggi daripada antarmuka air-udara.

            Dalam tegangan antar muka ini parameter yang digunakan adalah persamaan yang berasal dari KL dan Г∞ serta hasil optimasi pada tabel dibawah ini :

 

 

Tabel diatas merupakan  tabel yang menunjukkan ragam tegangan antar muka air-xilen pada berbagai konsentrasi APG dalam larutan. Tabel ini menunjukkan bahwa pencocokan Pers. (4) dengan data percobaan sangat baik untuk ketiga surfaktan yang digunakan, dimana ∆y di bawah 1 mN/m. Dari harga konsentrasi permukaan maksimum (Г∞) terlihat bahwa lebih banyak molekul-molekul APG-G dan APG-PS yang terakomodasi pada antarmuka air-xilen dibandingkan air-udara, sedangkan pada APG-K molekul-molekulnya lebih banyak tertampung pada antarmuka air-udara dibandingkan air-xilen. Luas permukaan dari molekul APG-G dan APG-PS lebih banyak menempati pada antarmuka air-udara dibandingkan air-xilen. Harga konstanta kesetimbangan (KL) pada antarmuka air-xilen lebih tinggi daripada antarmuka air-udara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

 

 Tegangan permukaan dan tegangan antar-muka didapatkan menurun dengan naiknya konsentrasi surfaktan. Tegangan antarmuka sangat dipengaruhi oleh konsentrasi surfaktan dibandingkan dengan tegangan permukaan sehingga tegangan antarmuka mencapai kejenuhan pada konsentrasi surfaktan yang lebih rendah. Persamaan keadaan permukaan yang diturunkan dari isoterm Langmuir telah dicocokkan dengan data tegangan permukaan dan tegangan antarmuka dan menunjukkan hasil yang sesuai antara model dan data.

 

 

 

TUGAS PENANGANAN BAHAN & PERENCANAAN TATA

LETAK FASILITAS (C)

MATERIAL HANDLING PADA PT. Good Flour Mills

(PRODUSEN TEPUNG TERIGU)

DOSEN Ika Atsari Dewi (IAD)

Oleh Kelompok 13 :

Dewi Aprilina                                    (105100300111046)

Rochmayanti                                     (105100300111042)

Leni Sumawati                                  (105100301111052)

Luluk Nur Indah                                (105100313111005)

Annike Yuliansastra                       (105100300111050)

 

 

 

 

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

DESEMBER, 2012

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.Latar Belakang

Sistem pemindahan bahan baku memegang peranan yang sangat penting dalam perencanaan suatu pabrik. Pada sebagian besar proses manufacturing orang beranggapan bahwa lebih baik bahan yang bergerak atau berpindah dari pada orang atau mesinnya. Dari hasil penelitian pengangkutan atau pemindahan bahan dari mulai berbentuk bahan baku sampai dengan produk jadi bisa berlangsung sekitar 40 sampai 70 kali pemindahan atau hampir 50 sampai 70% dari keseluruhan aktivitas produksi. Pemindahan bahan ini akan memerlukan biaya yang tidak kecil jumlahnya yang dikenal dengan material handling cost. Besarnya biaya ini yang diklasifikasikan sebagai overhead cost akan berkisar 25% atau lebih dari biaya produksi yang dikeluarkan. Perencanaan tata letak pabrik tidak bisa mengabaikan signifikansi dari aktivitas pemindahan bahannya, demikian juga sebaliknya tidak mungkin menerapkan sistem pemindahan bahan secara efektif tanpa memperhatikan masalah-masalah umum yang dijumpai dalam perencanaan tata letaknya.

Istilah material handling sebenarnya kurang tepat kalau diterjemahkan sekedar memindahkan bahan. Berdasarkan perumusan yang dibuat oleh American Material Handling Society (AMHS), pengertian mengenai material handling dinyatakan sebagai seni dan ilmu yang meliputi penanganan (handling), pemindahan (moving), pengepakan (packaging), penyimpanan (storing) sekaligus pengendalian (controlling) dari bahan atau material dengan segala bentuknya.

Seperti telah dikatakan bahwa kita harus melihat kemungkinan-kemungkinan untuk mengurangi pemborosan dalam biaya material handling. Cara mengurangi pemborosan tersebut adalah dengan memperhatikan prinsip-prinsip efisiensi. Sebagaimana kita ketahui bahwa biaya-baiaya yang harus dikeluarkan bagi pekerja-pekerja adalah sangat tinggi. Oleh karena itu tidak akan efektif dan efisien apabila sebagan besar waktu kerja para pekerja dihabiskan untuk melaksanakan kegiatan material handling saja. Biaya-biaya ini sebagian besar dapat dikurangi dengan jalan mempekerjakan tenaga-tenaga kerja yang kurang ahli untuk melaksanakan material handling menggunakan peralatan untuk membantu para pekerja dalam melaksanakan kegiatan material handling tersebut.

Prinsip efisiensi sangat penting untuk diperhatikan dalam aktivitas material handling. Sebagai contoh, apabila bahan-bahan atau barang-barang hendak dipindahkan maka cara terbaik dan lebih efisien adalah jika bahan-bahan atau barang-barang tersebut tidak dipindahkan dengan tangan tetapi dengan alat pengangkut, misalnya dengan menggunakan tenaga angina, ban berjalan dan tenaga air untuk memindahkan barang-barang atau bahan-bahan dan untuk membuang sampah secara otomatis ke dalam tempat sampah.

 

1.2.Tujuan

Tujuan dari Material Handling pada pengolahan tepung gandum ini antara lain :

  1. Agar mengetahui cara perhitungan Material Handling
  2. Agar dapat menghitung ongkos Material Handling pada proses produksi tepung gandum
  3. Agar dapat menentukan layout terbaik berdasarkan perhitungan Material Handling yang telah di dapat

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1.      Profil Perusahaan

PT. Good Flour Mills didirikan pada tahun 2000, merupakan perusahaan yang bergerak dalam usaha pembuatan tepung terigu. Pabrik PT. Good Flour Mills didirikan di Surabaya pada bulan Desember 2000. Pabrik mulai beroperasi pada bulan Juni 2002 dan dipasarkan di daerah Malang. Produk yang dihasilkan dari PT. Good Flour Mills berupa tepung terigu. Gandum yang dibeli oleh PT. Good Flour Mills diperoleh dari asosiasi pedagang biji gandum internasional sehinggga pembeliannya dilakukan dengan mata uang dollar amerika. Pembelian biji gandum dilakukan untuk ketersediaan stok selama kurang lebih 3 bulan. Setiap pendatangan gandum bisa mencapai kurang lebih 6000-8000 ton. Sistem pendatangan gandum dilakukan dengan menggunakan transportasi laut yaitu dengan menggunakan kapal dari negara pengekspor  PT. Good Flour Mills memiliki jumlah karyawan sebanyak kurang lebih 2.200 karyawan, dan hampir 90% dari jumlah karyawan tersebut adalah laki-laki. Tenaga kerja dibagi menjadi dua macam, yaitu karyawan harian dan karyawan bulanan. Karyawan harian umumnya dibutuhkan perusahaan untuk menangani perkerjaan dibagian gudang. Jika karyawan harian ini menunjukan prestasi yang baik, dapat diangkat menjadi karyawan bulanan atau tetap. Karyawan bulanan atau karyawan tetap merupakan karyawan Bogasari dimana sistim gaji yang dipakai adalah sistim bulanan.

Kekuatan tertinggi di PT. Good Flour Mills adalah OPU (Deputy OPU Head) yang membawahi empat senior Vice President (SVP). Senior Vice President yang ada di PT Good Flour Mills terdiri atas SVP Finance, SVP Commercials, SVP Manufacturing, dan SVP Human Resources. SVP Manufacturing dibantu oleh tiga Vice President, yaitu VP Operations, VP Technical Support, dan VP Quality and Product Planning and Development. Masing-masing VP memimpin satu divisi.

 

2.2.      Profil Produk

Gandum yang dibeli oleh PT. Good Flour Mills diperoleh dari asosiasi pedagang biji gandum internasional sehinggga pembeliannya dilakukan dengan mata uang dollar amerika. Pembelian biji gandum dilakukan untuk ketersediaan stok selama kurang lebih 3 bulan. setiap pendatangan gandum bisa mencapai kurang lebih 6000-8000 ton. Sistem pendatangan gandum dilakukan dengan menggunakan transportasi laut yaitu dengan menggunakan kapal dari negara pengekspor.

Aliran proses pengolahan gandum dari bahan baku sampai menjadi tepung secara garis besar adalah adalah mulai dari bahan baku, proses pembersihan (cleaning),proses penambahan air (dampening dan conditioning), proses penggilingan (milling), dan pengemasan tepung terigu yang sudah jadi (packing), serta penyimpanan di gudang penyimpanan produk (storage). Produk utama yang dihasilkan PT Good Flour Mills adalah tepung terigu. Hasil penggilingan gandum berupa tepung terigu. Bahan baku gandum diolah menjadi menjadi tepung terigu dan dikelompokkan menjadi beberapa jenis tepung berdasarkan kandungan proteinnya.

Tepung terigu yang sudah jadi kemudian masuk ke mesin additive untuk diberi bahan tambahan yang berupa vitamin, mineral, dan lain-lain. Namun endosperm yang masih terdapat pada bran akan diekstrak melalui mesin bran finisher, dan tepung dipisahkan dari bran dengan vibro finisher, baru masuk ke mesin additive. Banyaknya food additive yang ditambahkan telah ditentukan oleh pihak QC.

Proses pengemasan dilakukan oleh flour packing department. Departemen ini bertugas untuk menangani dan mengawasi hal-hal yang berhubungan dengan proses pengemasan tepung terigu. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam proses pengemasan ini meliputi penerimaan produk dari mill, transportasi tepung terigu, penyimpanan tepung di flour silo, dan pengemasan tepung terigu. Pengemasan yang dilakukan di departemen ini adalah kemasan dengan berat 25 kg. Produk kemasan dengan berat 1 kg ditangani oleh pihak consumer packing. Tepung terigu yang sudah selesai dipacking kemudian disimpan di tempat penyimpanan tepung (gudang penyimpanan) atau biasa dinamakan FPS (Flour Packing Storage).

Gambar 1. Diagram Alir proses produksi tepung terigu

 

2.3.      Pertimbangan Pemilihan Lokasi Pabrik/Perusahaan

Lokasi pabrik PT Good Flour Mills terletak di pinggir kota Surabaya tepatnya dekat dengan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Hal ini ditentukan berdasarkan bahan baku yang didatangkan dari luar Indonesia melalui jalur laut. Selain itu, rencana ekspansi pabrik dapat dengan mudah dibuat karena masih banyaknya lahan yang kosong di area sekitar pabrik. Alasan lain yang menjadi dasar yaitu populasi tidak begitu besar sehingga masalah lingkungan tidak terlalu banyak.

Jarak dari pabrik ke daerah pemasaran akan menentukan pula metode transportasi yang sebaiknya digunakan. Metode dan juga macamnya apakah tata letak seharusnya direncanakan dengan memberikan fasilitas-fasilitas untuk keperluan bongkar/muat barang dari railroad, kapal, truk, dan lainlain atau tidak. Demikian juga disini pengaturan dari departemen penerimaan dan atau pengiriman barang (receiving & shipping department) akan mempunyai macam variasi dalam perencanaan letaknya yang harus disesuaikan pula dengan macam dan metode transportasi yang digunakan.

Dalam menentukan lokasi pabrik, ada factor-faktor penting yang harus diperhatikan yang berkaitan dengan jenis kegiatan produksinya. Faktor-faktor tersebut antara lain:

  • Lokasi pasar, yaitu tempat memasarkan produk yang dihasilkan dimana lokasi pasar dapat secara luas atau terpusatkan.
  • Lokasi sumber bahan baku, dimana lokasi pabrik disarankan agar dekat dengan sumber bahan baku utama dari produksi yang dijalankan.
  • Alat angkutan (system transportasi), yaitu menunjuk pada fasilitas transportasi yang mendukung aktivitas perpindahan dari dan menuju pabrik, baik itu berupa bahan baku atau prduk jadi.
  • Sumber energi.
  • Iklim, dimana hal yang satu ini lebih berpengaruh pada efektivitas, efisiensi, dan tingkah laku pekerja pabrik dalam melaksanakan aktivitas produksinya sehari-hari.
  • Buruh dan tingkat upah.
  • Undang-undang dan system pajak.
  • Sikap masyarakat setempat.
  • Air dan limbah industri.

 

2.4.      Urut-Urutan Material Dari Supplier Hingga Konsumen

Semua bahan baku diimpor langsung dari negara pengekspor lalu dikirim ke Indonesia melalui jalur laut dengan menggunakan kapal dalam bentuk curah. Setelah sampai di Indonesia dilakukan proses pembongkaran. Pembongkaran dilakukan di dermaga (jetty) PT. Good Flour Mills. Di dalam kapal, gandum ditempatkan pada palka. Dalam satu kapal biasanya terdapat tujuh palka yang masing-masing memiliki kapasitas 10.000 ton. Proses pembongkaran gandum dipilih pada saat cuaca cerah, dan tidak hujan agar tidak berpengaruh terhadap biji gandum. Gandum yang disimpan dalam palka dibongkar dengan pipa menggunakan sistem vacum (pipa penyedot). Di dermaga terdapat dua tower. Masing-masing tower memiliki dua buah pipa dengan kapasitas penyedotan masing-masing 500 ton/jam. Jadi, dari satu dermaga memiliki total kapasitas pembongkaran gandum sebesar 2.000 ton/jam.

Gandum selanjutnya ditransfer dengan menggunakan alat transportasi belt conveyor ke dalam hopper yang berfungsi sebagai tempat penampungan sementara sebelum proses penimbangan. Proses penimbangan ini disebut weigher distribution house yang memiliki dua line penimbangan yang dapat menimbang gandum sebanyak 3.200 kg per detik. Penimbangan gandum bertujuan sebagai sistem kontrol selama proses transportasi menuju tempat penyimpanan gandum, agar tidak melebihi kapasitas alat transportasi dan wheat silo. Sebelum gandum disimpan ke dalam silo, dilakukan proses pre cleaning yang berfungsi membersihkan biji gandum dari benda-benda asing seperti sampah, ranting, batu, logam,dan biji-bijian lain yang berukuran besar.

Gandum yang akan digiling disimpan di dalam wheat silo,yaitu tempat penyimpanan biji gandum sebelum proses produksi. Wheat silo mempunyai bentuk tabung vertikal. Dengan bentuk yang demikian, wheat silo memiliki banyak kelebihan, antara lain mampu menampung biji gandum dalam jumlah yang banyak tanpa memakan area yang luas, selain itu mempermudah dalam sistem transfer dan dalam proses pembersihannya.

Aliran proses pengolahan gandum dari bahan baku sampai menjadi tepung secara garis besar adalah adalah mulai dari bahan baku, proses pembersihan (cleaning),proses penambahan air (dampening dan conditioning), proses penggilingan (milling), dan pengemasan tepung terigu yang sudah jadi (packing), sertapenyimpanan di gudang penyimpanan produk (storage).

  • Pengangkutan Gandum dari Wheat silo

Setelah biji gandum dari kapal masuk ke dalam wheat silo, proses produksi tepung terigu di mill MNO diawali dengan pengangkutan biji gandum dari wheat silo menuju ke over atau tempat penampungan sementara melalui alat transportasi chain conveyor kemudian diangkat ke atas dengan menggunakan bucket elevator.

  • Pengaturan Arah dan Proses Pre-cleaning

Dari over gandum dibagi arahnya dengan menggunakan spliter, lalu gandum dibersihkan. Tahap pembersihan ini merupakan tahap pembersihan awal proses transportasi biji gandum dari wheat silo menuju raw wheat bin (RWB). Tahap pembersihan ini dilakukan untuk memisahkan biji gandum dari impurities atau benda asing yang memiliki ukuran lebih besar dari biji gandum dan tidak diinginkan dalam proses produksi. Benda-benda asing itu antara lain biji-bijian selain biji gandum, seperti jagung, kedelai, bunga matahari, dan lain-lain, dan bagian dari tumbuhan gandum itu sendiri, seperti potongan batang gandum, daun kulit luar gandum, dan juga material lain yang berupa logam. Proses pembersihannya pada proses pre-cleaning menggunakan mesin separator dan magnet separator. Separator adalah satuan unit mesin pembersih gandum untuk memisahkan impurities yang ukurannya lebih besar dari pada gandum (saringan bagian atas) dan impurities yang ukurannya lebih kecil dari pada gandum (saringan bagian bawah). Pada mesin separator terdapat dua ayakan yaitu pada bagian atas dan bagian bawah, untuk bagian atas lubang ayakan berbentuk lonjong (elips) dan untuk bagian bawah lubang ayakan berbentuk segitiga. Prosesnya yaitu, gandum diatur arahnya oleh spliter lalu masuk ke separator. Pada ayakan pertama (atas) gandum akan dipisahkan dari impurities yang ukurannya lebih besar dari gandum seperti kedelai, biji bunga matahari, jagung, batang-batang. Pada ayakan pertama impurities yang ukurannya lebih besar dari gandum akan menuju outlet pembuangan, kemudian gandum dan impurities yang lebih kecil akan menuju ayakan kedua (bawah). Pada ayakan yang kedua gandum dipisahkan dari impurities yang ukuran lebih kecil. Impurities tersebut akan menuju tempat pembuangan, dan gandum akan masuk ke proses pembersihan berikutnya. Setelah melalui proses pemisahan, kemudian gandum masuk ke dalam RWB (raw wheat bin). RWB merupakan tempat penyimpanan biji gandum berdasarkan jenisnya. RWB memiliki kapasitas 238 ton per unit.

  • Pencampuran Gandum

Proses berikutnya adalah proses pencampuran gandum berdasarkan jenisnya (soft wheat, hard wheat, dan jenis-jenis gandum dari berbagai negara). Proses pemisahan ini menggunakan alat yang dinamakan Flow Regulator (FCA). FCA secara otomatis akan mengatur dan membagi gandum sesuai dengan pengaturan yang dilakukan oleh operator.

  • Firts Cleaning

Setelah gandum keluar dari FCA, kemudian gandum masuk ke tahap first cleaning. Tahap ini adalah tahap pembersihan biji gandum mulai dari RWB sampai ke proses first dampening. Pada proses pembersihan ini gandum dipisahkan dari impurities yang tidak lolos pada tahap pre-cleaning. Pada tahap first cleaning, juga menggunakan separator sebagai pemisah antara gandum dengan impurities, namun mesin yang digunakan lebih memiliki ayakan yang lebih banyak. Setelah keluar dari separator, gandum masuk ke penimbangan. Penimbangan berfungsi untuk mengetahui tonase gandum yang akan masuk ke proses berikutnya, dan mengetahui jumlah gandum yang kemungkinan tertinggal. Timbangan juga berfungsi untuk mengetahui kesalahan selama proses cleaning yang kemungkinan terjadi, sehingga dapat segera diatasi. Kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi adalah kesalahan pengaturan pada FCA, kebocoran pada alat transportasi, kebocoran pada penampungan sementara, dan lain-lain.

Setelah melalui proses penimbangan, kemudian gandum dibersihkan kembali dari impurities dengan separator. Dari separator, kemudian gandum masuk ke tarara clasifier (TRC). TRC adalah satuan unit mesin yang berfungsi untuk memisahkan produk secara gravimetric menjadi produk ringan dan produk berat berkualitas baik serta produk yang ringan (offal). Prisip kerja TRC yaitu memisahkan antara produk yang berat dengan yang ringan dengan sistem aspirasi, kemudian produk yang berat dan produk yang ringan akan di ayak berdasarkan berat jenisnya. Cara kerja dari TRC yaitu produk yang masuk akan diayak berdasarkan berat jenisnya, dalam TRC ada ayakan dengan ukuran yang berbeda yang akan mengklasifikasikan produk yang berat dengan yang ringan dengan sitem aspirasi. Ayakan bagian atas untuk produk yang ringan sedangkan ayakan yang bawah untuk produk yang berat. Gandum yang ringan akan masuk ke carter day. Carter Day adalah satuan unit mesin yang berfungsi untuk memisahkan gandum dengan impurities berdasarkan ukuran dan bentuk (tangkai-tangkai, dan sampah yang berbentuk panjang). Carter day terdiri dari dua alat, yaitu disc separator dan triuer/cylinder sepator. Triuer memisahkan gandum dengan cara menempatkan slinder yang berputar. Bagian-bagian triuer adalah silinder dan tray dengan conveyor screw di dalamnya. Triuer terdiri dari 2 macam yaitu long corn dan round corn. Long corn akan memisahkan gandum dari kotoran yang berukuran besar seperti barlay, biji bunga matahari, dan materialasing yang berukuran lebih besar dari gandum. Sedangkan round corn akan memisahkan gandum dari material yang berukuran lebih kecil dari gandum seperti gandum pecah. Sedangkan gandum yang berat akan masuk ke dry stoner. Dry stoner adalah satuan mesin yang berfungsi untuk memisahkan gandum dari batu yang mempunyai ukuran lebih kecil atau sama dengan ukuran gandum. Prinsip kerja dry stoner adalah memisahkan material berdasarkan perbedaan berat jenis dengan cara mengambangkan gandum dengan bantuan aliran udara (aspirasi), sudut kemiringan, dan vibrasi. Partikel yang berat akan terdorong ke depan sedangkan partikel yang ringan akan jatuh ke belakang. Setelah dipisahkan dengan batu, kemudian gandum naik dan masuk ke proses first dampening.

  • First Dampening

Proses dampening merupakan proses penambahan air pada gandum. Proses dampening bertujuan untuk meningkatkan kadar air pada gandum sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Proses penambahan air di mill MNO dilakukan sebanyak dua kali, penambahan yang pertama sebanyak 70% dari plannning dan pengaturan oleh pihak quality control, sedangkan penambahan yang kedua sebanyak 30% dari plannning dan pengaturan oleh pihak quality control. Keuntungan dilakukan penambahan air sebanyak dua kali adalah, jika pada penambahan air pertama terjadi kekurangan, maka dapat terpenuhi pada proses penambahan air yang kedua. Pada proses ini gandum ditambahkan air dengan menggunakan alat yang dinamakan dampener. Penambahan air ini juga berfungsi mempermudah dalam proses pengelupasan kulit gandum pada proses penggilingan.

  • First Tampering

Setelah proses dampening selesai kemudian gandum disimpan dalam silo untuk proses first tampering. Proses tempering merupakan proses pengkondisian, dapat juga disebut sebagai proses conditioning, yaitu proses penyimpanan biji gandum setelah diberi tambahan air pada proses dampening agar air yang dicampurkan dapat merata sepenuhnya selama 8-30 jam sesuai dengan jenis gandum yang disimpan. Tujuan dari proses tampering antara lain:

a.) Membuat bran menjadi lebih liat dan elastis sehingga pada break process pada milling bran tidak mudah pecah menjadi kecil-kecil (powder) sehingga tidak mengotori tepung terigu yang akan dihasilkan. Bran juga meningkatkan kadar abu sehingga tepung terigu harus bersih dari bran.

b.) Mempermudah proses pemisahan bran pada proses breaking sehingga didapatkan hasil ekstraksi yang tinggi.

c.) Menjadikan endosperm menjadi lunak, sehingga pada proses reduction endoperm mudah pecah dan menghasilkan ekstraksi tepung yang tinggi.

d.) Menghasilkan tepung dengan mosture content yang ideal.

  • Second Dampening

Untuk mencapai kadar air yang maksimal yaitu 100%, maka dilakukan proses second dampening. Pada dasarnya tahap second dampening tidak jauh berbeda dengan first dampening. Yang membedakan hanya jika pada tahap first dampening jumlah air yang campurkan pada gandum sebanyak 70% dari plannning dan pengaturan oleh pihak quality control, sedangkan pada second dampening hanya 30% dari plannning dan pengaturan oleh pihak quality control untuk memenuhi kekurangan pada proses first dampening jika pada proses first dampening belum optimal.

  • Second Tampering

Proses selanjutnya adalah second tampering. Proses Second tampering memiliki fungsi yang sama dengan proses first tampering, namun proses second tampering hanya berlangsung setengah dari waktu yang diberikan pada saat first tampering. Waktu yang dibutuhkan pada proses second tampering lebih sedikit dari pada first tampering karena jumlah air yang diberikan lebih sedikit.

  • Second Cleaning

Tahap second cleaning merupakan tahap pembersihan gandum kedua setelah proses first cleaning dan first dampening. Pada proses second cleaning menggunakan scourer dan tarara sebagai pembersih gandum. Scourer berfungsi untuk memisahkan gandum dengan debu-debu yang melekat, kemudian melewati tarara untuk dipisahkan dari impurities berdasarkan berat jenis dengan sistem aspirasi dan melalui magnet separator untuk dipisahkan dengan cemaran yang berupa logam. Setelah itu, gandum masuk ke timbangan (WG) dan dibagi melalui spliter. Setelah biji gandum bersih, dengan kadar air dan kadar protein sesuai dengan yang diharapkan, kemudian gandum digiling dengan menggunakan mesin roll.

  • Penggilingan (milling)

Prinsip utama dari proses milling adalah memisahkan endosperm dari bran dan germ dan mereduksi endosperm tersebut menjadi tepung. Tujuan dari milling process adalah ekstraksi yang tinggi, ash content yang rendah, dan kualitas tepung yang baik. Hasil dari milling process adalah ekstraksi tepung 76-78% dan by product yang berupa bran dan pollard sebanyak 22-24%. Gandum yang telah bersih, kemudian siap untuk digiling kemudian masuk ke mesin roll. Didalam mesin roll, gandum akan mengalami tiga proses yaitu breaking, reduction, dan purification.

1. Breaking Process

Proses breaking terjadi ditahap pertama penggilingan pada mesin roll, yaitu memecah wheat grain (bran) yang masih mengandung endosperm. Ensdosperm yang terpecah menjadi semolina, middling, dan tepung. Pada proses breaking diusahakan supaya bran tidak hancur agar menghasilkan tepung dan semolina dengan jumlah yang maksimal. Gandum yang telah melalui break process kemudian diayak di sifter. Sifter merupakan mesin pengayak yang berukuran besar yang mampu beroperasi dengan kapasitas besar. Sifter memiliki sejumlah ayakan yang masing-masing memiliki ukuran mesh berbeda-beda. Di dalam sifter, gandum yang telah melalui proses breaking kemudian dipisahkan antara produk yang masih kasar dengan bran maupun semolina. Masing masing akan masuk ke tahapan proses selanjutnya melalui pipa sesuai produk yang dihasilkan. Produk yang masih kasar kemudian masuk lagi ke proses penggilingan lanjut. Semolina yang dihasilkan akan masuk ke purifier untuk dibersihkan sedangkan bran masuk ke bran finisher untuk untuk diambil endosperm yang masih melekat pada bran kemudian masuk ke vibro finisher untuk memisahkan tepung yang lengket (sticky) hasil dari bran finisher serta memisahkan tepung dari bran maupun pollard.

2. Reduction Process

Produk kasar yang keluar dari sifter kemudian masuk lagi ke mesin roll. Produk inilah yang kemudian akan mengalami proses reduksi. Proses reduksi terdiri atas:

a) Mengubah semolina menjadi middling supaya mudah direduksi menjadi tepung.

b) Mereduksi middling menjadi tepung.

c) Mereduksi middling yang bercampur dengan bran

3. Purification Process

Purification Process menggunakan alat yang disebut purifier. Tujuan dari proses ini adalah memisahkan semolina dan middling, untuk membantu kinerja dari sifter sehingga proses reduksi middling dan reduksi semolina menjadi tepung lebih sempurna Setelah keluar dari mesin roll, gandum akan dibawa oleh dengan mesin vacum masuk ke sifter untuk diayak. Sifter terdiri dari 20 ayakan yang masing-masing output mempunyai saluran pipa tersendiri. Hasil output dari sifter kemudian dibawa lagi masuk ke mesin roll untuk kembali digiling, pada penggilingan-penggilingan berikutnya lebih ditekankan untuk mengecilkan ukuran hingga menjadi tepung. Setelah digiling, kemudian tepung yang masih kasar diayak lagi di sifter hingga benar-benar terpisah sempurna. Selesai diayak dengan sifter, lalu output akan menuju ke tahapan proses selanjutnya sesuai produk yang dihasilkan. Tepung terigu yang sudah jadi kemudian masuk ke mesin additive untuk diberi bahan tambahan yang berupa vitamin, mineral, dan lain-lain. Namun endosperm yang masih terdapat pada bran akan diekstrak melalui mesin bran finisher, dan tepung dipisahkan dari bran dengan vibro finisher, baru masuk ke mesin additive. Banyaknya food additive yang ditambahkan telah ditentukan oleh pihak QC. Setelah keluar dari proses penambahan food additive kemudian produk masuk ke infestroyer untuk memecahkan telur kutu agar perkembangbiakan kutu pada tahap selanjutnya dapat dikurangi. Setelah diberi bahan tambahan, maka tepung terigu dipisahkan dari benda asing untuk yang terakhir kalinya dengan menggunakan mesin ayakan rebolt sifter. Tepung terigu yang sudah jadi lalu disimpan di flour silo dan siap untuk dikemas dan didistribusikan ke berbagai daerah. Proses pengemasan dilakukan oleh flour packing department. Departemen ini bertugas untuk menangani dan mengawasi hal-hal yang berhubungan dengan proses pengemasan tepung terigu. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam proses pengemasan ini meliputi penerimaan produk dari mill, transportasi tepung terigu, penyimpanan tepung di flour silo, dan pengemasan tepung terigu. Bahan pengemas yang digunakan terdiri dari dua kategori berdasarkan berat produk yang dikemas yaitu :

  1. 25 kg berbentuk bag (karung) dengan spesifikasi :

-          Jenis caligo yaitu bahan dari kain caligo dan stick (anyaman) benang 4-5 inch, lebar 46,5 cm, panjang 75,5 cm dan berdasarkan kualifikasi supplier aman untuk bahan makanan

-          Jenis polyprophylene yaitu bahan dari plastik jenis polyprophylene dengan tingkat denier 800, anyaman 15×15, lebar 15 cm, dan panjang 78 cm dengan berat per karungnya 86 g dan berdasarkan kualifikasi supplier aman untuk bahan makanan.

Pengemasan dilakukan dengan menutup bagian yang terbuka dengan cara menjahit bagian tersebut dengan benang yang memiliki spesifikasi terbuat dari spon polyester.

  1. Kemasan 1 kg berbentuk plastik dengan spesifikasi terdiri dari bahan Polyethylene Terephtalate (PET) untuk lapisan luar (tidak bersentuhan dengan produk) dan Low Linear Density  Polyethylene (LLDPE) untuk laipsan dalam (bersentuhan dengan produk), dimana menurut supplier aman untuk bahan makanan. Kemasan ini berukuran lebar 399-401 mm dengan berat 17,1 – 18,9 g. pengemasan dilakukan dengan cara sealing, yaitu menutup bagian terbuka dengan cara memanasi kedua sisi plastik bagian atas dan merapatkannya.
  2. Jenis bahan pengemas lain yang digunakan yaitu pada pengemasan dalam ukuran jumbo > 200 kg yaitu berbahan dasar kertas karton tebal dengan dilapisi plastik di dalamnya

Tepung terigu yang sudah selesai dipacking kemudian disimpan di tempat penyimpanan tepung (gudang penyimpanan) atau biasa dinamakan FPS (Flour Packing Storage).

Peta dari ke PT. Good Flour Mills adalah:

2.5.      Tipe Layout Dan Layout Proses Produksi (Gambar)

Tipe layout yang digunakan pada PT.  Good Flour Mills adalah Hybrid Layout.  Berikut ini adalah layout proses Produksi pada PT. Good Flour Mills :

Gambar 2. Layout Proses Produksi

 

2.6.      Penanganan Bahan

Penanganan bahan yang dilakukan pada PT. Good Flour Mills antara lain yaitu :

1. Pembongkaran biji gandum dari palka dengan menggunakan pipa vacuum

Gambar 3. Palka                   Gambar 4. Pipa Vacuum

2. Screw conveyor merupakan alat transportasi horizontal tertutup. Alat ini berupa poros yang dikelilingi oleh blade yang membentuk suatu helical spiral dan dipasang pada sebuah casing yang tertutup rapat. Prinsip kerja alat ini adalah mengalirkan produk dengan memutar poros hingga produk akan bergerak secara horizontal. Kecepatan poros dari conveyor adalah 60-130 rpm.

Gambar 5. Screw conveyor

3. Gandum selanjutnya ditransfer dengan menggunakan alat transportasi belt conveyor ke dalam hopper yang berfungsi sebagai tempat penampungan sementara sebelum proses penimbangan.

Gambar 6. Belt Conveyor

4. Setelah biji gandum dari kapal masuk ke dalam wheat silo, proses produksi tepung terigu di mill MNO diawali dengan pengangkutan biji gandum dari wheat silo menuju ke over atau tempat penampungan sementara melalui alat transportasi chain conveyor kemudian diangkat ke atas dengan menggunakan bucket elevator.

Gambar 7. Chain Conveyor     Gambar 8. Bucket Elevator

5. Pneumatic conveying Prinsip dari pneumatic conveying adalah blower menghasilkan udara dengan tekanan yang cukup tinggi sehingga produk akan terbawa oleh udara dengan kecepatan yang tinggi dalam conveying pipe dan pada air separator akan dipisahkan dari udara.

Gambar 9. Pneumatic Conveying

a) Rotary blower/centrifugal fan. Merupakan alat yang digunakan sebagai pembangkit tenaga udara/angin untuk penghembusan dan penghisapan produk.

Gambar 10. Rotary Blower

b) Conveyor pipe. Merupakan alat yang perbentuk pipa yang mengalirkan produk dari bawah ke atas dengan sistem vacum.

Gambar 11. Conveyor Pie

c) Cyclone. Merupakan alat yang digunakan untuk memisahkan produk dari udara yang bebentuk cones dan dilengkapi dengan air lock. Produk dan udara yang masuk kedalam cyclone secara tragensial akan membentuk gerakan spiral yang mengakibatkan adanya gaya sentrifugal, sehingga terjadi pemisahan produk dengan kecepatan konstan. Udara akan keluar melalui outlet sedagkan produk akan keluar melalui air lock.

Gambar 12. Cyclone

d)Filter. Merupakan alat yang digunakan untuk memisahkan udara dari produk yang tidak berhasil dibersihkan oleh cyclone karena efisiensi cyclone hanya antara 70% hngga 90%.

Gambar 13. Filter

 

2.7.        Ongkos Material Handling (Pilih Satu Tahap Operasi Saja)

Sebuah alat angkut chain conveyor dibeli dengan harga Rp. 150.000.000 diharapkan umur ekonomis 15 tahun. Biaya listrik adalah Rp. 25.000/jam. Produksi dilakukan dengan 2 shif, dimana 1 shift nya bekerja selama 8 jam. Sedang  biaya perawatan sebesar Rp. 10.000/jam. Jika chain conveyor berjalan rata-rata 5000 m perhari, tentukan biaya persatuan jarak (m), diasumsikan bahwa alat angkut beroperasi 300 hari/ tahun dan upah operator adalah Rp. 10.000/ jam.

a. depresiasi

b. Jarak angkutan tiap jam

c. Total biaya

d. Ongkos material handling

 

BAB III

PENUTUP

 

1.1.            Kesimpulan

PT. Good Flour Mills merupakan pabrik tepung terigu di Indonesia yang mampu memproduksi tepung terigu sebanyak 10.000 ton per hari yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat di seluruh dunia. Semua bahan baku yang digunakan berasal dari negara lain, seperti Kanada, Amerika Serikat, Australia, dan India yang memiliki karakteristik dan grist berbeda-beda dan sudah dilengkapi dengan Certificate of Analyze (CAO) sehingga terjamin kualitasnya. Semua penanganan bahan baku, proses penggilngan, proses pengemasan, proses penyimpanan, sampai jenis produk melalui poses pengendalian mutu yang baik untuk mencapai produk dengan kualitas yang baik.

Proses produksi tepung terigu secara garis besar adalah cleaning, dampening and tampering, milling, sifting, dan packing. Hasil produksi tepung terigu PT. Good Flour Mills sebagian besar diistribusikan di Indonesia, baik ke konsumen langsung maupun diolah kembali oleh perusahaan lain untuk dijadikan produk tertentu, dan sebagian lain di ekspor ke luar negeri.

 

1.2.            Saran

Utamakan mutu pada produk yang dihasilkan. Kualitas produk yang baik akan lebih memberikan kepercayaan kepada masyarakat untuk selalu memilih produk yang dihasilkan oleh perusahaan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonima, 1998. “Spesifikasi Biji gandum”, www.wikipedia.com, diakses pada tanggal 24 Juni 2010.

Anonimb, 2010. “Susunan Biji Gandum”, Arsip PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. Bogasari Flour Mills.

Anonimc, 1998. “Penimpanan Biji Gandum”. www.google.com, diakses pada tanggal 24 Juni 2010.

Anionimd, 1998. “Pengelompokan Gandum”. Arsip PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. Bogasari Flour Mills.

Anonime, 1998. “ Negara Penghasil Tepung Terigu”. Arsip PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. Bogasari Flour Mills.

Anonimf, 2010. “Jenis-jenis Gandum dari Berbagai Negara”. Arsip PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. Bogasari Flour Mills.

Anonimg, 1998. “Tepung Terigu”. www.google.com.com, diakses pada tanggal 24 Juni 2010.

Anonimh, 2009. “Kandungan Tepung Terigu”. www.google.com.com, diakses pada tanggal 24 Juni 2010.

Anonimi, 2009. “Kegunaan Tepung Terigu”. www.wikipedia.com, diakses pada tanggal 24 Juni 2010.

Buckle dkk, 1978. “Ilmu Pangan”. UI. Jakarta.

Deman, 1997. “Industri Pangan Untuk Daerah Pedesaan”. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pangan. Institut Pertanian Bogor. Bogor

Faridi, Hamed dan John M. Faubion, “Wheat End Uses Arround the World”, American Association of Cereal Chemists, Minnesota, 1995.

Gaman 1994 “Upaya Menurunkan Kontaminasi Tepung Terigu”. Jurnal Enginering Pertanian. Lampung.

Makfoeld, 1982 “Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid II”. Dian Rakyat. Jakarta.

Pomerans Y. “Wheat Chemistry and Technology, volume 1”, American Association of Cereal Chemists, Minnesota, 1995.

Potter N.N., “Food Science Third Edition”, The AVI Publishing Company, Inc. USA, 1978

Suliantri dan Winiantri 1990. “Pelatihan Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian Pengolahan dan Pengawetan” Pangan. Sumber on line

 

 

 

untuk PPT nya silahkan klik di sini PT GOOD FLOUR MILLS

paper berbagai produk bioindustri yang diproduksi di Indonesia

Posted: 27th November 2012 by Dewi Aprilina in Uncategorized

Oleh

Dewi Aprilina

105100300111046

Berbagai produk bioindustri telah berkembang di indonesia, contohnya meliputi yogurt, nata de coco, kecap, alkohol, yakult, dan masih banyak lagi.

a. Produk nata de coco

Nata de coco adalah hidangan yang terlihat seperti jeli, berwarna putih hingga bening dan bertekstur kenyal. Makanan ini dihasilkan dari fermentasi air kelapa, dan mulanya dibuat di Filipina.

Produk nata de coco yang ada di Indonesia  diproduksi oleh berbagai perusahaan, yaitu

1. PT. NATADECOCO UTAMA

PT Natadecoco Utama memproduksi berbagai macam produk seperti  Aloe Vera (hanya tersedia di negara tertentu), Juices Natural (tersedia di sebagian Asia dan Amerika Utara), minuman versi Diet, air suling dan sebagainya. Perusahaan ini berskala internasional karena tersedia di berbagai negara di dunia.

2. PT. NIRAMAS UTAMA

PT Niramas Utama  menyediakan makanan dan minuman berbasis kelapa yang sangat dianjurkan untuk kesehatan sehingga melakukan diversifikasi produk dan menciptakan sebuah merek komersial, INACO. Tujuan adalah untuk menyediakan nata de coco dalam paket yang menarik langsung kepada pelanggan.

Produk utama  PT Niramas Utama adalah:

1.  Nata De Coco dibuat melalui proses fermentasi santan, yang pada gilirannya menciptakan serat tinggi dan non-kolesterol Nata De Coco.
2. Aloe Vera berasal dari daun lidah buaya, mereka kaya dengan vitamin dan serat dilengkapi dengan rate yang tinggi zat anti oksidan.
3. Jelly dan Pudding terbuat dari karaginan berkualitas tinggi (karagenan) dikombinasikan dengan varietas lainnya bahan berkualitas tinggi. Selain untuk mendapatkan sehat dan lezat, Mini Jelly dan Pudding Inaco mengandung serat alami yang baik untuk pencernaan manusia.
Selain produk-produk utama, PT Niramas Utama juga telah diproduksi beberapa sub-produk, seperti:
1.  Inaco minum coco dan Turtle Kriuuk, kaca minuman kemasan blanded dengan Nata De Coco.
2. Aloe Jelly, quallity tinggi jelly dikombinasikan dengan potongan Aloe Vera segar, bergizi  dan untuk kesehatan.

Gambar produk dari Pt. Niramas Utama adalah :

3. CV. AGRINDO SUPRAFOOD

Perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi nata de coco dengan bahan dasar air kelapa yang di dapatkannya dari pasar-pasar juga pabrik minyak. Agrindo Suprafood adalah salah satu perusahaan nata de coco lembaran di wilayah Yogyakarta. Pada tahun 2003, CV Agrindo Suprafood berdiri dan mulai menjalankan usahanya di bisnis nata de coco dengan mengandalkan produk nata lembaran. CV AGRINDO SUPRAFOOD usahanya berskala nasional.

4. NATADECOCO-INDONESIA

Merupakan perusahaan bergerak di bidang pembuatan natadecoco untuk di konsumsi ataupun untuk pemakaian pada industri makanan yang menggunakan natadecoco. Produk-produk natadecoco-indonesia telah teruji klinik dan telah mendapatkan sertifikasi kesehatan.

b. Produk yakult

Yakult adalah minuman probiotik mirip yogurt yang dibuat dari fermentasi skimmed milk dan gula dengan bakteri Lactobacillus casei. Satu-satunya perusahaan yang memproduksi yakult di indonesia adalah PT. Yakult Indonesia Persada yaitu sebagai pemegang lisensi dari yakult Hansha Co., Ltd., Jepang. Produk yakult merupakanminuman susu fermentasi yang mengandung Lactobacillus casei yang bermanfaat untuk membantu menjaga kesehatan pencernaan dan menekan pertumbuhan bakteri merugikan dalam pencernaan. Perusahaan PT. Yakult Indonesia Persada ini berskala internasional karena produknya tidak hanya beredar di Indonesia,tetapi juga di negara-negara lain seperti Jepang.

 Gambar produk yakult :

c. Produk yogurt

Yogurt adalah minuman susu fermentasi yang melibatkan dua jenis bakteri menguntungkan yaitu Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Salah satu contoh perusahaan di Indonesia yang memproduksi yogurt adalah PT CISARUA MOUNTAIN DAIRY. Perusahaan ini berskala Internasional. Produk yogurt yang dihasilkan dari PT CISARUA MOUNTAIN DAIRY adalah:

1. Yoghurt Drink

Yaitu yoghurt siap minum yang dikemas dalam botol dengan isi 250 ml untuk sekali minum. Satu botol adalah satu takaran saji. Keistimewaan yoghurt ini adalah praktis dan pilihan rasanya banyak: strawberry, blueberry, red grape, lychee, apple, mango, orange, guava dan mixfruit.

Stirred Yoghurt
2. Stirred yoghurt

Yogurt yang dikemas dalam cup kecil berukuran 100 ml, di dalamnya terdapat potongan-potongan buah.

Gambar produk yang dihasilkan PT. CISARUA MOUNTAIN DAIRY adalah :

d. Produk Kecap

Kecap adalah cairan hasil fermentasi bahan nabati atau hewani berprotein tinggi di dalam larutan garam. Kecap berwarna coklat tua, berbau khas, rasa asin dan dapat mempersedap rasa masakan. Bahan baku kecap adalah kedelai atauikan rucah. Yang paling banyak diolah menjadi kecap adalah kedelai. Beberapa perusahaan di Indonesia yang memproduksi kecap antara lain adalah:

1. Ikan dorang

Produk kecap Ikan Dorang telah diakui dan dinikmati di Indonesia, terutama di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan beberapa bagian dari Kalimantan (bagian dari Pulau Kalimantan).
Perusahaan kecap Ikan Dorang ini berskala nasional karena belum tersebar di seluruh wilayah Indonesia, apalagi di luar negeri. Contoh gambar produk ikan dorang ini adalah sebagai berikut :

2. PT. Indofood

Indofood memproduksi kecap bebas ampas yang memiliki tekstur lembut dan rasa lebih gurih, dibuat dengan proses pemurnian ganda sehingga partikel sekecil apapun dari ampas pembuatan kecap dapat tersaring sempurna. Perusahaan PT. Indofood ini tidak hanya  memproduksi kecap Cap Piring Lombok. Skala usahanya telah mencapai tahap ekspor sehingga termasuk skala internasional. Kecap cap Piring Lombok telah mencapai pasar ASEAN (Malaysia, Brunai dan Filipina). Kecap cap Piring Lombok mempunyai banyak varian rasa yatu Pedas, Manis dan Asin.

3. Bango

Kecap Bango telah didirikan sejak tahun 1928, sebagian besar di daerah Jakarta dan Jawa Barat oleh para pabrikan setempat. Pada tahun 2001 Unilever mengakui sisi merek dan usaha ini, dan sejak itu pertumbuhannya demikian menjanjikan. Pada tahun 2012 Bango pertama kali meluncurkan varian baru kecap manis pedas gurih, yang terbuat dari kombinasi sempurna cabai rawit merah dan hijau serta bawang dan kedelai hitam pilihan. Menghasilkan rasa pedas manis yang pas untuk masakan anda sekeluarga dan juga cocok untuk cocolan. Sehingga produk tersebut tersebar di seluruh negeri bahkan dapat ditemui di luar negeri.

gambar produk ini adalah :

Makalah Teknologi Kayu Bambu dan Serat

Posted: 18th October 2012 by Dewi Aprilina in Uncategorized

MAKALAH SERAT ALAM

MATA KULIAH TEKNOLOGI KAYU BAMBU DAN SERAT

Dosen Pengampu: Ika Atsari Dewi, STP. MP

Oleh :

Nama : Dewi Aprilina

NIM : 105100300111046

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012

I.PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di Indonesia tumbuh berbagai macam tanaman serat alam, terdiri atas 3 (tiga) kelompok, yaitu serat batang, serat daun, dan serat buah. Tanaman serat batang adalah tanaman yang menghasilkan serat dari kulit batangnya, seperti : kenaf, rosela, yute, hemp, rami, linum, urena, sida, crotalaria, bunga matahari, okra, widuri. Tanaman serat daun adalah tanaman yang menghasilkan serat dari daunnya, misalnya abaka, agave (sisal), sansiviera. Tanaman serat buah adalah tanaman yang menghasilkan serat pada buahnya, seperti kapuk, kapas, kelapa. Tanaman serat yang ada di Indonesia kebanyakan bukan tanaman asli Indonesia, tetapi merupakan tanaman introduksi yang sengaja dibawa ke Indonesia sejak jaman penjajahan atau secara alamiah terbawa oleh arus laut, angin atau burung. Sebagian besar belum dibudidayakan oleh masyarakat walaupun memiliki potensi pemanfaatan yang besar, karena belum ada pasar yang jelas. Sebagai contoh tanaman rami dan abaka adalah tanaman yang memiliki serat berkualitas tinggi untuk bahan baku tekstil dan kertas.

Peluang pengembangan komoditas serat alam masih sangat luas yaitu dengan memanfaatkan lahan-lahan kosong terutama di luar Jawa. Komoditas serat alam berpeluang untuk dikembangkan di Sumatera (Sumatera Selatan, Lampung, Riau), Kalimantan (Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur), Sulawesi (Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat dan Sulawesi Utara), Nusa Tenggara, dan Irian Jaya, terutama di daerah-daerah yang memiliki jenis tanah dengan pH rendah sampai normal, dan didukung dengan curah hujan yang cukup. Selain itu, terdapat beberapa jenis tanaman serat yang sangat adaptif pada berbagai jenis lahan bermasalah, misalnya kenaf yang sesuai untuk lahan kering, lahan banjir, dan lahan masam, sehingga peluang pengembangannya dapat dilakukan di seluruh wilayah Indonesia. Tetapi di Indonesia baru dilakukan untuk pengembangan kapas saja, sementara untuk komoditas lain belum dilakukan. Kriteria lahan yang sesuai untuk pertumbuhan kapas adalah lahan yang mempunyai iklim dengan curah hujan 1.000 – 1.750 mm/tahun dengan jumlah bulan kering 3-4 bulan. Bentuk wilayah sebaiknya datar sampai berombak dengan lereng < 8%. Sifat fisik tanah yang dibutuhkan untuk pertumbuhan kapas adalah kedalaman efektif > 60 cm, drainase baik sampai sedang dengan daya memegang air yang cukup baik, tekstur tanah sedang sampai ringan (lempung, lempung berpasir, lempung berdebu, lempung berliat, lempung liat berdebu, dan lempung liat berpasir).

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengertian serat dan serat alam?

2. Apa saja jenis-jenis serat alam dan bagaimana cara budidaya serat alam?

3. Bagaimana cara pengolahan serat alam?

4. Apa kelebihan dan kekurangan serat alam?

1.3 Tujuan

Tujuan makalah ini adalah :

1. Mengetahui pengertian serat dan serat alam.

2. Mengetahui jenis-jenis dan cara budidaya serat alam.

3. Mengetahui cara pengolahan serat alam.

4. Mengetahui kelebihan dan kekurangan serat alam.

II. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Serat dan Serat Alam

Serat adalah suatu jenis material atau bahan berupa potongan-potongan komponen yang membentuk jaringan memanjang yang utuh. Secara umum fungsi serat adalah sebagai penguat bahan untuk memperkuat komposit sehingga sifat mekaniknya lebih kaku, tangguh dan lebih kokoh dibandingkan dengan tanpa serat penguat, selain itu serat juga menghemat penggunaan resin. Sifat-sifat serat yang diperlukan dalam bahan komposit adalah :

1. Sifat-sifat mekanik yang bagus

2. Sifat daya rekat yang kuat

3. Sifat ketangguhan yang bagus

4. Ketahanan terhadap degradasi lingkungan yang bagus

Supaya dapat dibuatmenjadi serat, polimer harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1. Polimer harus linier dan mempunyai berat molekul lebih dari 10.000, tetapi tidak boleh terlalu besar karena sukar untuk dilelehkan atau dilarutkan.

2. Molekul harus simetris dan dapat mempunyai gugus-gugus samping yang besar yang dapat mencegah terjadinya susunan yang rapat.

3. Polimer harus memberi kemungkinan untuk mendapatkan derajat orientasi yang tinggi, yang dengan cara penarikan mempunyai kekuatan serat yang tinggi dan kurang elastic.

4. Polimer harus mempunyai gugus polar yang letaknya teratur untuk mendapatkan kohesi antar molekul yang kuat dan titik leleh yang tinggi.

5. Mudah diberi zat warna, apabila serat diberi zat warna maka sifat fisika serat tidak boleh mengalami perubahan yang mencolok dan warna bahan makanan harus tetap tahan terhadap cahaya dan pencucian.

Gambar 1. Skema penyusun serat (a) continous fibres (b) discontinuous fibres (c) random discontinuous fibres

Serat alam merupakan serat yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan, hewan, dan proses geologis. Serat alam dapat diperoleh dari tanaman pisang, bambu,nenas, rosela, kelapa, kenaf, lalang, dan lain-lain.

2.2 Jenis-jenis dan Cara Budidaya Serat Alam

Serat alam dapat digolongkan ke dalam:

1. Serat tumbuhan atau serat pangan. Biasanya tersusun atas selulosa, hemiselulosa, dan terkadang mengandung lignin. Serat tumbuhan digunakan sebagai bahan pembuat kertas dan tekstil, serta penting bagi nutrisi manusia. Contoh dari serta jenis ini adalah katun, kain ramie, dan sebagainya.

2. Serat kayu, berasal dari tumbuhan berkayu.

3. Serat hewan Umumnya tersusun atas protein tertentu. Contoh serat hewan yang dimanfaatkan oleh manusia adalah serat laba-laba (sutra) dan bulu domba (wol).

4. Serat mineral Umumnya dibuat dari asbestos. Saat ini asbestos adalah satu-satunya mineral yang secara alami terdapat dalam bentuk serat panjang.

Contoh yang termasuk dalam serat alam adalah :

1. Kapas

Kapas (Gossypium hirsutum) merupakan tanaman perkebunan dan bukan merupakan tanaman asli dari Indonesia. Tanaman kapas dikembangkan untuk menyediakan bahan baku bagi industri tekstil. Walaupun industri tekstil Indonesia termasuk lima besar di dunia, serat kapas yang merupakan bahan baku industry tekstil belum diusahakan dalam skala perkebunan besarKapas adalah serat halus yang menyelubungi biji beberapa jenis Gossypium (biasa disebut “pohon”/tanaman kapas), tumbuhan ‘semak’ yang berasal dari daerah tropika dan subtropika. Serat kapas merupakan produk yang berharga karena hanya sekitar 10% dari berat kotor (bruto) produk hilang dalam pemrosesan. Apabila lemak, protein, malam (lilin), dan lain-lain residu disingkirkan, sisanya adalah polimer selulosa murni dan alami. Selulosa ini tersusun sedemikian rupa sehingga memberikan kapas kekuatan, daya tahan (durabilitas), dan daya serap yang unik namun disukai orang. Tekstil yang terbuat dari kapas (katun) bersifat menghangatkan di kala dingin dan menyejukkan di kala panas ( menyerap keringat ). Tanaman kapas secara botanis disebut dengan Gossypium sp yang memiliki sekitar spesies dan 4 spesies diantaranya yang dibudidayakan yaitu : Gossypium herbacium L, Gossypium arberium L, Gossypium hersutum L dan Gossypium barbadense, dengan klasifikasi sebagai berikut :

Devisi :Spermatophyta

Kelas : Angiospermae

Sub Kelas : Dicotyledonae

Ordo : Malvales

Famili : Malvaceae

Genus : Gossypium

Spesies : Gossypium sp

Langkah yang harus dilakukan untuk budidaya tanaman kapas adalah :

1) Persiapan lahan

Lokasi yang dipilih rata dan relatif dekat dengan sumber air dan tidak tergenang air, dan mudah diawasi. Lahan dibersihkan, diratakan, dibuat plot-plot dan bumbunan, dan saluran drainase air diatur dengan baik. Pengolahan tanah dilakukan dengan pencangkulan untuk pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar pertanaman sebelumnya, serta untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit. Kemudian dibuat plot dengan ukuran 3 x 2 meter, dengan tinggi 30 cm. Tanah digemburkan kembali yang gunanya untuk membalik tanah, kemudian diberi pupuk kandang (1 sak/plot) dan dolomit (2 kg/plot), kemudian balik kembali tanah tersebut. Lalu dibuat jarak tanam yaitu 80 x 40 cm atau 80 x 50 cm, lakukan pengairan ataun pemberian air, dibuat bumbunan atau perbaikan saluran air.

2) Penanaman

Penanaman dilakukan dengan menggunakan tugal dengan kedalaman 1-3 cm. Kemudian benih dimasukkan ke dalam lubang tanam 2-3 benih. Sebelum dilakukan penanaman diberikan furadan dan fungisida masing-masing 20 gram/plot, diletakkan di sekitar lubang tanaman. Kemudian diberikan pula SP36 (90 gr/plot) dan KCl (60 gr/plot) sebagai pupuk dasar (pemupukan I). Pemupukan ini dilakukan karena KCL dan SP36 merupakan yang sulit larut, maka pupuk ini diberikan lebih awal.

3) Pemeliharaan

a. Penyulaman

Benih kapas sudah tumbuh pada hari ketujuh setelah tanam, sehingga bila ada benih yang tidak tumbuh harus dilakukan penyulaman dengan benih yang baru. Penyulaman sebaiknya dilakukan dibawah umur 10-15 hari setelah tanam, agar pertumbuhan tanaman bisa seragam karena agar mempermudah dalam proses perawatanya.

b. Penyiangan

Penyiangan dilakukan apabila gulma banyak tumbuh disekitar tanaman kapas. Penyiangan dilakukan berulang-ulang apabila tumbuh banyak gulma. Penyiangan dilakukan secara manual dengan menggunakan koret dan dicabut.

c. Pembubunan

Pembubunan dilakukan agar tanaman memiliki perakaran yang kuat dan tidak mudah roboh.

d. Penjarangan

Pada umur 14 hari setelah tanam, biasanya dilakukan penjarangan terhadap tanaman yang melebihi kebutuhan awal. Karena pada saat itu tanaman belum terlalu tua dan perakaran masih dalam kondisi mudah untuk di lakukan penjarangan, dan karena pada umur tersebut adalah umur yang ideal untuk melakukan penyeleksian tanaman. Penjarangan dilakukan secara manual, yaitu dengan cara dicabut menggunakan tangan.

e. Pengairan

Kebutuhan akan air atau kelembaban untuk kapas ialah sejak awal penanaman sampai menjelang panen. Cara pengairanya dengan cara disiram di daerah tanaman.

f. Pemupukan II

Pemupukan kedua dilakukan pada usia 2 minggu dengan menggunakan pupuk UREA sebesar 180 gram/plot.

g. Pemupukan III

Pemupukan ketiga dilakukan pada usia 4 minggu dengan menggunakan pupuk UREA sebesar 180 gram/plot.

h. Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama yang menyerang tanaman kapas ini berupa earias vittella, belalang, aphis dan emphoasca. Hama tersebut diatasi dengan melakukan penyemprotan menggunakan insektisida berupa Buldok dengan dosis 2cc/liter, Dupol dengan dosis 6cc/liter, dan menggunakan Decis 4cc/liter. Sedang penyakit yang menyerang adalah puru akar yang menyebabkan tanaman layu sementara dan akhirnya tanaman mati. Hama yang menyerang tanaman kapas ini berupa earias vittella, belalang, aphis sp dan ephoasca. Earias vittella biasanya menyerang bagian batang, sedangkan aphis sp menyerang bagian daun, yang menyebabkan daun menjadi keriput karena cairan dan mineral didalam daun diserap oleh aphis. Dan penyakit yang menyerang adalah puru akar yang menyebabkan tanaman layu sementara dan akhirnya tanaman mati. Serangan hama yang meledak tersebut dikarenakan faktor alam, dimana lingkungan menjadi sangat lembab. Selain itu jarak tanam yang sempit yakni 40 x 30 cm, juga dapat menyebabkan serangan hama tidak bisa berhenti karena cabang-cabang tanaman kapas saling bedesakan.

4) Pemanenan

Pembuahan terjadi 30 jam setelah penyerbukan. Pada waktu buah (boll) masak, kulit buah retak dan kapasnya/seratnya menjadi kering dan siap dipanen. Bagian serat terpanjang terdapat pada pucuk biji. Panjang serat bervariasi tergantung jenis dan varietasnya. Panjang serat yang dikembangkan di Indonesia sekitar 26-29 mm. Keterbatasan air pada periode pemanjangan serat, akan mengurangi panjang serat. 1 boll kapas ± 3,5 – 4 gram. Bentuk biji bulat telur, berwarna cokelat kehitaman dan berat biji per 100 biji sekitar 6-17 gram tergantung varietas. Serat melekat erat pada biji berwarna putih yang disebut fuzz (kabukabu). Biji kapas tidak hanya dilapisi kabu-kabu, tetapi diluarnya terdapat lapisan serabut yang disebut serat kapas (kapas). Kulit biji menebal membentuk lapisan serat berderet pada kulit bagian dalam. Cabang-cabang generatif akan menghasilkan kira-kira 50 kuncup bunga dan dalam keadaan normal hanya 35-40% yang menjadi buah.

2. Rami

Tanaman Rami dikenal sebagai tanaman serat nabati yang menghasilkan serat dari kulit kayu merupakan rumpun dari kelompok tanaman daun gatal (netpe), dengan klasifikasi klon rami dalam sistematika botaninya sebagai berikut :

Divisio : Magnoliophyta

Classis : Magnoliosida

Subclassis : Hammamelidae

Ordo : Urticales

Familia : Urticaceae

Genus : Boehmiria

Species : Boehmeria nivea

Kulit kayunya dapat menghasilkan serat panjang yang sangat kuat dan mengkilap. Batang tumbuh dari rhizome yang berbentuk ramping dan dapat mencapai tinggi 2,5m dengan diameter batang 1,2 – 2 cm. serat rami merupakan salah satu bahan baku tekstil dengan cara dicampur dengan serat kapas atau poliester. Serat rami lebih kuat daripada serat kapas sehingga banyak dimanfaatkan untuk bahan pakaian atau perlengkapan militer. Untuk dapt menjadi benang, serat rami perlu dipintal dengan mesin khusus karena termasuk serat panjang. Cara budidaya tanaman rami adalah :

1. Persiapan Tanam

Untuk mendapatkan pertumbuhan dan produksi tanaman rami secara optimal maka diperlukan beberapa teknik-teknik budidaya yang baik. Tanaman rami dapat diperbanyak dengan menggunakan berbagai cara yaitu :

a. Biji : Bahan tanaman ini diambil dari biji sehingga harus dilakukan pengecambahan terlebih dahulu, namun perbanyakan tanaman dengan biji jarang dilakukan, karena memerlukan waktu lama dan sulit dalam pelaksanaannya.

b. Rizoma : Bahan tanaman diambil dengan menggunakan akar yang memiliki banya mata tunas yang disebut rizoma. Cara ini paling banyak digunakan dalam perbanyakan tanaman. Untuk menghasilkan rizoma yang baik harus melakukan penanaman rami sesuai dengan kaidah-kaidah pembibitan, antara lain pemilihan lahan yang baik, tersedianya fasilitas pengairan, menggunakan varietas yang murni, dipelihara dengan baik, dan setelah umur 2 (dua) tahun baru dapat diambil rizomanya. Kelemahan dari cara ini adalah memerlukan lahan luas dan waktu relatif lama.

c. Setek batang : Perbanyakan tanaman dengan stek batang jarang digunakan karena peluang tumbuhnya sedikit sangat tergantung dari umur tanaman yang distek, pemeliharaan, iklim dan kondisi lahan.

d. Kultur jaringan : Perbanyakan tanaman dengan cara ini lebih cepat memperoleh bibit dalam waktu relatif singkat karena tidak memerlukan lahan luas, tetapi biayanya masih sangat mahal.

Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan setek rhizome banyak digunakan .Panjang stek rhizoma yang baik untuk bibit adalah yang telah be ukuran diametersebesar 8-12 mm, yang dipotong sepanjang 10 cm. Umumnya rizoma pada ukuran tersebut memiliki lebih dari tiga mata tunas dan cadangan makanan yang ada dalam stek yang berupa karbohidrat cukup tersedia. Hasil potongan rizoma sebaiknya diletakkan di tempat yang lembab, sebelum ditanam agar tidak mengalami kekeringan. Rizome sebaiknya diambil dari pertanaman yang sudah berumur 3-4 tahun.

2. Pengolahan Tanah

Tanah yang gembur sebagai media tumbuh sangat dikehendaki sebagai tanaman rami dengan menggunakan rizoma sebagai bahan tanaman. Pengolahan tanah dapat dilaksanakan sebelum atau sesudah turun hujan. Pada umunya tujuan dari pengolahan tanah untuk meremahkan struktur tanah sehingga dapat jadi gembur dan tidak keras. Cara pengolahan tanah dengan menggunakan alat-alat pengolah tanah, misalnya cangkul dan traktor, kedalaman olah tanah yang ideal disesuaikan dengan tebal tipisnya lapisan olah (top soil), biasanya berkisar 20 -30 m. Pemberian kompos atau pupuk organik diperlukan setelah pengolahan tanah yang diberikan sesuai dengan tingkat kesuburan tanah. Pemberian bahan organik biasanya diberikan sebelum penanaman yaitu 10-15 hari. Tanah-tanah yang siap ditanami sebaiknya dilakukan dengan membuat alur-alur untuk mengatur pembuangan air sehingga tidak terjadi genangan ;pada pertanaman rami.

3. Penanaman

a. Waktu Tanam dan Jarak Tanam Bibit rami sebaiknya ditanam pada musim penghujan karena pada awal pertumbuhan membutuhkan air yang cukup. Pada umur 7 hari setelah tanam, biasanya sudah muncul tunas-tunas yang berasal dari rizoma. Untuk tunas-tunas yang tidak tumbuh diperlukan penyulaman dari bibit yang telah dipersiapkan sehingga terjadi keseragaman pertumbuhan hal ini berhubungan dengan umur pemotongan pertama dari tanaman. Jarak tanaman rami di masing-masing daerah berlainan, tergantung dari tingkat kesuburan tanahnya. Pada daerah yang tanahnya kurang subur jarak tanam dirapatkan dan pada daerah yang subur jarak tanam direnggangkan. Jarak tanam berhubungan erat dengan bahan tanam yang digunakan. Dari beberapa penelitian ternyata ada beberapa jarak tanam yang digunakan yaitu pada tanah datar atau tanah yang berstruktur berat sebaiknya menggunakan jarak tanam 50 cmX 50 cm atau 60 cm X 60 cm, pada tanah yang yang miring atau berstruktur ringan sebaiknya menggunakan jarak tanam 75cm X 50 cm atau 100 cmX 50 cm. Akar rhizoma yang akan dijadikan bahan tanaman adalah yang berwarna coklat tua, kemudian dipotong sepanjang 10 sampai 20 cm, sebaiknya Rhizoma yang sudah dipotong ditidurkan pada tempat yang teduh terhindar dari sinar matahari, sebaikya bibit tersebut sebelum ditanam suadah mempunyai paling sedikit tiga bintil tunas. Penanaman yang menggunakan. Rhizoma, ditanam dengan kemiringan kedalaman antara 5-8 cm dan tiga perempat muncul kepermukaan tanah dan sisanya masuk kedalam tanah.

b. Pemeliharaan

Pengembangbiakan tanaman rami dalam skala besar, biasanya dengan menggunakan rhizoma, yaitu bagian akar yang tumbuh pada pangkal akar, bukan dari akar umbi. Akar yang akan dijadikan bibit yang sudah berwarna coklat tua. Pengambilan atau pemotongan akar sebaiknya dengan hati-hati, sehingga tidak melukai bagian akar tanaman, karena tanaman yang dipotong biasanya masih berada dilapangan atau masih tumbuh, sehingga harus dihindari pelukaan. Tanaman yang dipotong akarnya sebaiknya adalah tanaman yang belum dipangkas atau tanaman yang sudah berumur kira-kira 2 tahun.

c. Pemupukan

Tanaman rami membutuhkan banyak pupuk, terutama Nitrogen,fosfat dan Kalium. Pemupukan tergantung pada komposisi tanah dan kuwantitas dan kualitas hasil yang ingin dicapai. Setiap kali penanaman atau setiap selesai pemangkasan atau/panen perlu diberi pupuk buatan dan dianjurkan untuk sedikitnya memberikan 80 kg N, 60 kg P2O5 dan 60 kg K2O dan pada banyakan dataran tinggi, perlu memberikan jumlah N yang lebih besar dengan komposisi 120 kg N, 20 kg P2O5 dan 60 kg K2O. Meskipun tanaman rami sangat membutuhkan fosfat, akan tetapi khusus untuk pupuk fosfat cukup diberikan dalam jumlah kecil saja. Pupuk fosfat bermanfaat banyak pada pertumbuhan awal tanaman terutama pada tunas-tunas muda, khususnya di ujung-ujung akar. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa, menurunkan dosis P dari 20 kg P2O5 menjadi 10 kg P2O5/ha, tidak mengganggu peran P bagi tanaman rami, sehingga dapat menghemat sarana produksi berupa pupuk organik. Bila dalam satu tahun rami dipanen 6 kali , maka akan terjadi pengurangan pupupk P sebesar 60 kg P205/ha. Dari jumlah tersebut maka jumlah pupuk buatan yang perlu diberikan adalah sebanyak 200 kg untuk setiap kali tanam per hektar atau 1000 kg untuk 5 kali panenan setahun. Bila terdapat kecenderungan tanah menjadi asam maka perlu memberikan tambahan sedikitnya 1000 kg zat kapur per ha untuk setiap 3 tahun sekali, dan memberikannya sebelum tanah ditanami atau bersama-sama dengan waktu penggaruan/penyisiran tanah. Perlu diperhatikan bahwa meskipun tanaman ini memerlukan banyak zat kapur, tetapi tanaman ini tidak cocok di tanah kapur. Pemberian pupuk organika/ kandang menjelang masa tanam sebanyak 10 hingga 30 ton per Ha dan mengulangi pemberian sebanyak 10 ton bersamaan dengan saat penyiangan pada masa pertumbuhan berikutnya adalah merupakan hal yang baik dan penting untuk memelihara kegemburan dan untuk memperbaiki keadaan fisik tanah disamping sangat berguna untuk mencegah terjadinya kerusakan permanen .

d. Pengairan

Tanaman rami ditanam pada lahan tadah hujan, sehingga kebutuhan air secara keseluruhan tergantung pada curah hujan setempat, untuk itu dianjurkan melakukan pengembangan rami pada daerah yang mempunyai curah hujan yang cukup atau tinggi dan merata pada daerah yang mempunyai pengairan dapat dibantu dengan air irigasi, sehingga dapat dilakukan panen sampai 5 sampai 6 kali dalam satu tahun.

3. Kenaf

Tanaman kenaf menghasilkan serat yang berasal dari kulit batangnya. Keistimewaan tanaman kenaf ini dapat tumbuh dalam keadaan tergenang/banjir, sehingga mendapatkan tanaman primadona di lahan banjir. Produk diversifikasi dari tanaman kenaf yaitu pulp, particle board, soil safer, geotextile, dan fiber drain. Tanaman kenaf sudah lama diteliti oleh Amerika Serikat, Australia, Indonesia, bahwa baik seratnya maupun batang utuh dapat menghasilkan pulp dengan kualitas setara dengan pulp dari kayu pinus maupun akasia. Hasil penelitian Balai Besar Selulosa (sekarang Balai Besar Pulp dan Kertas) di Bandung pada tahun 1988, menunjukkan bahwa bila bahan bakunya dari serat kenaf grade C akan menghasilkan pulp belum putih dengan rendemen sebesar 59,93%, sedang bila menggunakan batang kering dapat menghasilkan pulp belum putih dengan rendemen sebesar 45,65%. Dalam luasan satu hektar umumnya kenaf dapat menghasilkan 2,5 – 3,5 ton serat kering atau 8-12 ton/ha batang kering, tergantung macam varietas, pemeliharaan tanaman dan iklim yang mendukung. Dengan demikian bila menggunakan bahan baku batang kering akan menghasilkan pulp lebih banyak dibandingkan bila menggunakan bahan seratnya. Dalam penelitian tersebut serat yang digunakan adalah serat kualitas C yang berwarna hitam dan kotorannya banyak. Apabila yang digunakan serat kualitas lebih tinggi gradenya misal grade B atau A maka hasil pulpnya tentu akan lebih baik dan rendemennya lebih tinggi. Kenaf dapat digunakan sebagai alternatif pemenuhan bahan baku mengingat mutu pulp yang dihasilkan kenaf cukup memadai setaraf dengan pulp dari pinus atau akasia.

4. Abaca

Abaca (Musa textillis Nee) adalah tumbuhan yang termasuk dalam famili Musaceae yang berasal dari Filipina yang telah dikenal dan telah dikembangkan sejak tahun 1519 (Wibowo, 1998). Masyarakat di kepulauan Sangihe Sulawesi Utara, sangat akrab dengan tanaman ini. Banyak orang percaya Abaca berasal dari daerah tersebut bukan dari Filipina (Raharjo, 1999). Sebelumnya Heyne (1987) dalam Priyono (2000) melaporkan bahwa terdapat beberapa nama daerah tanaman Abaca yaitu pisang Manila (Menado), Cau Manila (Sunda), Kofo sangi (Minahasa) dan Manila Henep. Abaca adalah salah satu penghasil serat yang dapat digunakan untuk pembuatan kerajinan rakyat seperti bahan pakaian, anyaman topi, tas, peralatan makan, kertas rokok, sachet teh celup (Wibowo,1998). Selain itu juga untuk jenis kertas yang memerlukan kekuatan dan daya simpan yang tinggi seperti kertas surat, kertas dokumen serta kertas peta (Triyanto, Muliah dan Edi, 1982). Menurut Demsey (1963) dalam Priyono (2000), tanaman Abaca penghasil serat panjang yang banyak digunakan sebagai bahan pembuat tali kapal laut, karena seratnya kuat, mengapung diatas air, dan tahan air garam. Sedangkan Sanusiputra (1996) dalam Wibowo (1998) melaporkan bahwa limbahnya dapat dipergunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan kompos bahan baku untuk langit-langit pintu dan lain-lain. Tanaman abaca (Musa textilis) setelah dipanen dapat diolah menjadi serat yang disebut Manila Hemp.

5. Kapuk

Kapuk (Ceiba pertandra gaertn dari famili Bombacaceae) atau randu (Sunda/Jawa) dan kapo (Madura) umumnya tumbuh di kawasan pinggir pantai serta lahan-lahan dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut (dpl). Jenis pohon ini mulai berbunga dan berbuah pada usia 5-6 tahun dengan masa panen dilakukan setelah biji-biji kapuk berwarna kuning kelabu. Tanaman perkebunan ini berbeda dengan kapas yang dihasilkan dari tanaman kapas yang digunakan untuk bahan baku tekstil atau pakaian lainnya. Secara tradisional, kapuk digunakan sebagai bahan pembuat atau pengisi kasur dan saat ini dikembangkan aneka jenis keperluan lainnya. Dari 147 jenis kapuk yang dapat tumbuh di berbagai negara, terdapat dua jenis yang dapat menghasilkan produk yang cukup baik yakni indica dan caribbaca. Indica memiliki batang pendek dan berdaun jarang serta dapat menghasilkan sekitar 600 gelondongan (sekitar 20 kg serat/pohon/tahun), sedangkan jenis caribbaca memiliki batang yang lebih tinggi, besar, berdaun lebat dan menghasilkan sekitar 2000 gelondongan (sekitar 80 kg serat/pohon/tahun). Indonesia pernah menjadi penghasil kapuk terbesar (sekitar 80%) sebelum perang dunia I. Sekitar 60% dari jumlah produksi saat itu, berasal dari Pulau Jawa, atau yang dikenal kapuk randu alias “java kapuk”. Salah satu langkah untuk meningkatkan budi daya kapuk tersebut dengan menawarkan manfaat produk olahan atau nilai tambah yang menguntungkan yaitu melalui upaya memproduksi kapuk halus, kapuk bersih, kapuk daur ulang dan sejumlah jenis lainnya. Manfaat kapuk juga tidak lagi sebatas bahan pembuat kasur dan bantal, tetapi juga pakaian pilot pesawat terbang terutama alat penyelamatan diri guna menghindari kecelakaan pesawat terbang. Biji kapuk dapat diolah menjadi sejenis minyak goreng nonkolesterol dan minyak campuran sebagai bahan baku pembuatan sabun. Bahkan juga digunakan sebagai bahan bakar pada lampu pelita. Bungkil kapuk dapat digunakan sebagai bahan pembuat pupuk, dan dari biji juga dapat diolah untuk bahan campuran pakan ternak lainnya. Negara yang menjadi tujuan utama ekspor kapuk pada tahun 2003 adalah Singapura (US$ 237.851), Jepang (US$ 194.253), Belanda (US$ 142.930), Cina (US$ 141.964) dan Amerika Serikat (US$ 119.615).

6. Bambu

Bambu adalah tanaman termasuk Bamboidae, salah satu anggota sub familia rumput, pertumbuhannya sangat cepat. Pada masa pertumbuhan, bambu tertentu dapat tumbuh vertikal 5cm per jam, atau 120cm per hari. Tanaman bambu mempunyai ketahanan yang luar biasa. Rumput bambu yang telah dibakar, masih dapat tumbuh lagi. Bambu dapat tumbuh di lahan yang sangat kering seperti di kepulauan Nusa Tenggara atau di lahan yang banyak disirami air hujan seperti Parahiyangan. Di dunia tercatat lebih dari 75 genus dan 1250 spesies bambu. Bambu yang ada di Asia Selatan dan Asia Tenggara kira-kira 80% dari keseluruhan yang ada di dunia. Genus Bambusa mempunyai jumlah spesies yang paling banyak, dan terutama banyak terdapat di daerah tropis, termasuk Indonesia. Beberapa sifat fisik bambu antara lain adalah :

• Wettability

Wettability menunjukkan kemampuan cairan untuk menempel pada permukaan benda padat. Wettability memberikan pengaruh yang cukup besar pada adhesi.

• Kandungan air

Kandungan air merupakan sifat fisik bambu yang penting karena mempengaruhi sifat mekanik dari bambu. Kandungan air pada batang bambu setelah dipotong adalah antara 50-99% sementara bambu yang telah kering adalah sekitar 12-18% .

2.3 Pengolahan Serat Alam

2.3.1 Pengolahan Kapas

Serat kapas menjadi bahan penting dalam industri tekstil. Serat itu dapat dipintal menjadi benang dan ditenun menjadi kain. Produk tekstil dari serat kapas biasa disebut sebagai katun (benang maupun kainnya). Serat kapas merupakan produk yang berharga karena hanya sekitar 10% dari berat kotor (bruto) produk hilang dalam pemrosesan. Apabila lemak, protein, malam (lilin), dan lain-lain residu disingkirkan, sisanya adalah polimer selulosa murni dan alami. Selulosa ini tersusun sedemikian rupa sehingga memberikan kapas kekuatan, daya tahan (durabilitas), dan daya serap yang unik namun disukai orang. Tekstil yang terbuat dari kapas (katun) bersifat menghangatkan di kala dingin dan menyejukkan di kala panas (menyerap keringat) Serat kapas memiliki beberapa manfaat dan kegunaan antara lain sebagai bahan baku industri tekstil, benang, kain sebagai pakaian sehari hari dan sebagai bahan kosmetik dan medis yaitu sebagai perban atau lapisan pembalut luka dan sebagai bahan popok bayi. 2.3.2 Pengolahan Rami Proses utama dalam pengolahan serat rami sebelumnya dapat dipintal dijadikan benang dan kemudian ditenun. Masih memerlukan dua tahap pengolahan, yang pertama adalah pemisahan serat dari batang dan pembungkus kulit, yang disebut dekortikasi dimana hasilnya menentukan keadaan mutu dari pada serat. Sedang tahap kedua dimaksud adalah melepaskan zat-zat getah lapisan lilin dan pectin dari serat yang disebut degumming masingmasing diuraikan di bawah ini :

1) Proses Dekortikasi

Proses pemisahan serat dari batang dapat dilakukan dengan mesin yaitu mesin dekortikator, walaupun sepenuhnya dapat dilakukan dengan tangan, tetapi menggunakan tenaga banyak dan tidak efisien. Penyiapan mesin-mesin dekortikator di lapangan sangat penting dan turut menentukan luas areal panenan per hari disesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas mesin pengolah batang yang tersedia, oleh karena fungsi mesin dekortikator merupakan bagian dari unit kerja lapangan dan bukan bagian dari industri. Hal tersebut disebabkan karena batang rami yang dipanen harus langsung dimasukkan dalam mesin dekortikator paling lambat dalam waktu 2 x 24 jam. Kondisi serat rami yang mentah setelah dilepaskan dari batang (decortications process) mengandung zat-zat perekat (gum) antara 30-35 %. Komponen-komponen serat rami terdiri dari Fibrin 75,83 %, Pektin 6,027 %, Stearin 0,20 %, Solube 6,20 %, Air 8,74 %, Abu 2,87 %. Zat-zat perekat (gum) tersebut tidak dapat larut dengan air, kecuali memasaknya (boiled off) dengan larutan alkali (kimia). Serat rami yang dapat diperdagangkan diperoleh dari hasil dekortikasi berupa grey yang lazim disebut china grass, tetapi secara umum tidak ada standar dalam penentuan mutu dan serat.

2) Proses Degumming

Proses pelepasan zat-zat perekat ini (degumming) adalah juga bertujuan untuk menguraikan serat satu per satu hingga menjadi lunak, kuat dan tetap utuh. Hasil berupa serat masak/ bersih ini berupa serabut panjang yang lazim “tow”. Pada prinsipnya proses degumming terdiri dari perebusan/ memasak, pencucian/ pembilasan dengan air dan penetralisasian, tahap satu, pengelantangan, pembilasan serat dengan air tahap dua, pelemasan serat. Serat masak hasil degumming lazimnya disebut ‘tow” yang siap untuk dipotong-potong menjadi serabut pendek yang disebut “staple” untuk kemudian dibuka hingga siap untuk dipintal. Kegagalan dalam metode degummisasi merupakan suatu hambatan utama dalam pengusahaan serat rami secara komersil. Setelah proses degummisasi serat rami merupakan Cellulosa murni dengan komposisi kimia 96 – 97 % Sellulosa, 3 – 4% himi sellulosa dan 0,1 – 0,2 % abu. Serat-serat rami setelah getahnya dibuang semua maka akan merupakan serat nabati yang paling kuat dan paling panjang jika dibandingkan derngan serat-serat tumbuhan alam lainnya. Warnanya mengkilap, mempunyai daya tahan yang kuat terhadap tarikan, bersifat absorbent dan tetap memiliki kekuatan yang tinggi terhadap gangguan jamur atau ngengat.

2.4 Kelebihan dan Kekurangan Serat Alam

Beberapa keunggulan serat alam secara umum adalah :

1. Serat alam memiliki kekuatan spesifik yang tinggi karena serat alam memiliki berat jenis yang rendah.

2. Serat alam mudah diperoleh dan merupakan sumber daya alam yang dapat diolah kembali, harganya relatif murah, dan tidak beracun (ramah lingkungan).

3. Serat alam sebagai salah satu solusi nyata dalam dunia industri untuk mengatasi pemanasan global (global warming).

Kelebihan serat kapas dan serat rami adalah :

1. Serat kapas lebih panjang, kekuatan lebih besar, daya serap air juga lebih besar.

2. Serat rami yang dicampur dengan serat sintetis (polyester dan rayon) dan dijadikan kain, apabila dipakai akan terasa dingin, tahan kusut dan mudah menyerap keringat.

3. Serat rami dapat digunakan sebagai suplemen serat kapas untuk bahan campuran polyester.

4. Serat rami lebih kuat dari serat kapas.

5. Daun serat rami merupakan bahan kompos dan pakan ternak yang bergizi tinggi, kayunya baik untuk bahan bakar.

6. Serat rami merupakan bahan yang dapat diolah untuk kain fashion berkualitas tinggi dan bahan pembuatan selulosa berkualitas tinggi (selulose α).

7. Serat rami dapat diolah menjadi pulp berkualitas tinggi sebagai bahan baku pembuatan aneka jenis kertas berharga.

Kekurangan serat kapas dibandingkan serat rami adalah :

1. Serat rami lebih kasar dan daya mulur lebih rendah dibandingkan karakter yang dimiliki serat kapas.

2. Serat rami memiliki kehalusan dan daya tahan mulurnya lebih rendah, sehingga tekstil rami murni lebih kasar dan kaku.

Kelebihan kapuk adalah :

1. Merupakan bahan-bahan isolator, pelampung.

2. Secara tradisional, kapuk digunakan sebagai bahan pembuat atau pengisi kasur dan saat ini dikembangkan aneka jenis keperluan lainnya.

3. Biji kapuk dapat diolah menjadi sejenis minyak goreng nonkolesterol dan minyak campuran sebagai bahan baku pembuatan sabun.

4. Juga digunakan sebagai bahan bakar pada lampu pelita.

5. Bungkil kapuk dapat digunakan sebagai bahan pembuat pupuk.

6. Biji kapuk juga dapat diolah untuk bahan campuran pakan ternak lainnya.

Kelebihan bambu adalah :

1. Sebagai tumbuhan, bambu memiliki manfaat yang besar bagi ekologi dan lingkungan. Bambu menghasilkan oksigen 35% lebih banyak dibandingkan tanaman biasa.

2. Bambu juga menyerap karbondioksida lebih banyak. Bahkan beberapa varietas bambu dapat mengurangi 12 ton CO2 per hektar per tahun.

3. Tanaman bambu juga dapat meningkatkan muka air tanah dan meningkatkan penyerapan air oleh tanah.

4. Dapat menahan longsor tanah lebih baik dibandingkan pepohonan biasa, ini dikarenakan karena akar bambu tipe akar serabut.

5. Sebagai pilihan altenatif hutan industri.

6. Memiliki kuat tari lebih besar dari baja dan kuat tekan lebih besar dari beton

III. PENUTUP

Kesimpulan :

Serat adalah suatu jenis material atau bahan berupa potongan-potongan komponen yang membentuk jaringan memanjang yang utuh yang berfungsi sebagai penguat bahan untuk memperkuat komposit sehingga sifat mekaniknya lebih kaku, tangguh dan lebih kokoh dibandingkan dengan tanpa serat penguat, selain itu serat juga menghemat penggunaan resin. Serat alam merupakan serat yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan, hewan, dan proses geologis. Contoh serat alam adalah kapas, rami, abaca, kenaf, kapuk, bambu, nenas, rosela, kelapa, pisang, lalang, dan lain-lain. Masing-masing jenis serat alam memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri sehingga dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan. Beberapa keunggulan serat alam secara umum memiliki kekuatan spesifik yang tinggi karena serat alam memiliki berat jenis yang rendah, serat alam mudah diperoleh dan merupakan sumber daya alam yang dapat diolah kembali, harganya relatif murah, dan tidak beracun (ramah lingkungan), serat alam sebagai salah satu solusi nyata dalam dunia industri untuk mengatasi pemanasan global (global warming).

Daftar Pustaka

Dahliana, Dahlan. 2011. Buku Ajar Mata Kuliah Budidaya Tanaman Industri. Universitas Hasanuddin. Makasar

Mustakim, dkk. 2010. Bambu sebagai Material yang Berkelanjutan dan Affordable untuk Perumahan. ITB. Bogor

Nurindah dan Dwi Adi Sunarto. 2008. Konservasi Musuh Alami Serangga Hama sebagai Kunci Keberhasilan PHT Kapas. Jurnal Perspektif Vol. 7 No. 1 / Juni 2008. Hlm 01 – 11 ISSN: 1412-8004

Poespo, Goet. 2005. Pemilihan Bahan Tekstil. Kanisius. Yogyakarta

Dyah R P. 2010. Strategi Pengembangan Rami (Boehmeria nivea Gaud). Jurnal Perspektif Vol. 9 No. 2 / Desember 2010. Hlm 106 – 118 ISSN: 1412-8004

Fishbone Kerusakan Misdruk Karena Warna Kabur

Posted: 15th June 2012 by Dewi Aprilina in Uncategorized

Oleh :

Dewi Aprilina – 105100300111046

Hasil cetakan pada kertas  yang kurang tebal menyebabkan gambar maupun foto berwarna yang tercetak dikoran menjadi kabur atau ngeblur sehingga samar-samar dan terlihat tidak jelas. Hasil cetakan seperti ini selalu dan pasti terjadi pada saat awal produksi berlangsung. Pada jurnal ini tingkat kerusakan yang disebabkan warna kabur mencapai 28,31%. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut :

a.      Faktor Mesin

Mesin merupakan sebab utama yang mengakibatkan kerusakan pada hasil cetakan pada kertas. Hal ini disebabkan oleh :

  • Setting persentase warna pada mesin yang kurang bagus.
  • Lapisan roll blanket yang lecet atau rusak dan pompa tinta rusak serta motor air macet sehingga tinta mblobor atau luber.
  • Kurang meratanya tinta pada tanki warna mesin cetak dikarenakan volume tinta pada tanki warna yang kurang dan tinta yang masih terlalu pekat, sehingga penyerapan warna menjadi tidak merata.
  • Register yang berubah posisi dikarenakan setelan yang kurang kencang atau terlalu kendor.
  • Plate untuk cetak gambar miring.

b.      Faktor Manusia

Faktor manusia juga dapat menjadi penyebab terjadinya kerusakan pada hasil cetakan tersebut dikarenakan manusia adalah operator yang menjalankan mesin cetak. Penyebabnya antara lain adalah :

  • Operator mengisi volume tinta pada tanki warna tidak sesuai takaran yang pas.
  • Operator mesin yang kurang cermat dalam menyetel kekencangan mesin sehingga perputarannya dapat mengganggu kestabilan register dan plate. Hal ini disebabkan oleh operator yang mungkin belum terampil/ berpengalaman dalam melakukan penyetelan yang pas dan juga karena salah perhitungan dalam menyetel kekencangan mesin.

c.       Faktor Material

Material atau bahan yang digunakan juga mempengaruhi hasil cetakan yang didapatkan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, meliputi :

  • Tingkat kepekatan tinta yang berbeda-beda disinyalir juga merupakan penyebab dari misdruk ini karena mengakibatkan percampuran untuk membuat suatu warna menjadi tidak merata.
  • Adanya plate yang cacat/ rusak juga dapat mengakibatkan warna menjadi kabur karena tidak dapat dibaca secara sempurna oleh mesin.

d.      Faktor Metode.

Metode yang digunakan dalam melakukan proses pencetakan akan mempengaruhi hasil cetakan yang didapatkan. Hal ini disebabkan karena tidak adanya standar atau prosedur yang jelas mengenai takaran tinta yang sesuai sehingga akan menyulitkan para pekerja ketika akan mengisi tinta kedalam mesin secara tepat.

Biaya Mutu

Posted: 15th June 2012 by Dewi Aprilina in Uncategorized

Oleh : Kelompok 4

Dewi Aprilina – 105100300111046

Biaya total pencegahan adalah Rp. 24.290.000,-

Biaya total penilaian adalah Rp. 27.700.000,-

Biaya total kegagalan internal adalah Rp. 19.560.000,-

Biaya total kegagalan eksternal adala Rp. 25.150.000,-