Personal Selling dan Public Relation

2012
05.07

1. Personal Selling
Personal Selling adalah bagian dari strategi marketing perusahaan yang merupakan langkah konkret dalam membangun penjualan langsung dan bertujuan bertemu dengan masyarakat. Dalam kaitan ini sang sales atau pelaku marketing mempuanyai kesempatan untuk secara langsung mengetahui sejauh mana produk atau layanan direspon secara cepat oleh masyarakat entah itu dalam bentuk penolakan atau persetujuan membeli.
Strategi marketing yang baik tentu sudah membekali tim yang secara langsung dalam proses personal selling dengan antisipasi lapangan dan taktik membujuk relevan, sopan dan efektif. Namun masyarakat tetap saja boleh menolak , karena secara umum budaya, kemampuan dalam masyarakat mampu mempengaruhi keputusan.
Sifat-sifat personal selling antara lain :
• Personal confrontation, yaitu adanya hubungan yang hidup, langsung, dan interaktif antara 2 orang atau lebih.
• Cultivation, yaitu sifat yang memungkinkan berkembangnya segala macam hubungan, mulai dari sekedar hubungan jual beli sampai dengan suatu hubungan yang lebih akrab.
• Response, yaitu situasi yang seolah-olah mengharuskan pelanggan untuk mendengar, memperhatikan, dan menanggapi.

 

2. PR (Public Relation)
Pengertiannya adalah hubungan masyarakat yang ditujukan untuk membangun opini masyarakat dalam rangka memelihara , meningkatkan dan melindungi citra perusahaan dan produknya. Tujuan dari PR ini antara lain :
• Pantas diberitakan
Yaitu produk dengan cerita-cerita menarik dan merupakan calon terbaik untuk publisitas.
• Rangsangan bagi wiraniaga dan penyalur
Dimana PR sangat membantu kerja wiraniaga dan meningkatkan semangat para penyalur.
• Kebutuhan kredibilitas
Yaitu untuk meningkatkan kredibilitas dengan mengkomunikasiakan melalui kontek editorial.
• Anggaran kecil
Yaitu dengan memakan biaya lebih sedikit dengan pos langsung (direct email).

 

Ditulis oleh : Dewi Maryam

Nim : 0910223066

Dosen : Nanang Suryadi

www.nanangsuryadi.web.id

www.nanangsuryadi.lecture.ub.ac.id

www.marcom.lecture.ub.ac.id

UTS MARKETING COMMUNICATION

2012
04.23

1. Marketing communications (marcom) adalah proses menjalin hubungan yang saling menguntungkan antara perusahaan- karyawan -pelanggan dan merupakan upaya perusahaan memadukan dan mengkoordinasikan semua saluran komunikasi untuk menyampaikan pesannya secara jelas, konsisten dan berpengaruh kuat tentang organisasi dan produk-produknya.

Arti penting Marketing Communication terhadap produk :

- Membangkitkan keinginan konsumen terhadap suatu kategori produk

- Menciptakan kesadaran konsumen terhadap merek (brand awareness)

- Mendorong sikap positif konsumen terhadap produk, serta mempengaruhi niat mereka untuk membeli

- Memfasilitasi pembelian

2. Pemilihan media memerlukan dua keputusan, yaitu media apa yang akan digunakan dan sarana media apa yang dipakai. Dua metode berikut dapat digunakan untuk menentukan pemilihan media.

a. Cost-Per-Thousand Contacts Comparison

Dalam metode ini, pemilihan media dilakukan berdasarkan jumlah kontak yang tejadi tanpa memperhatikan kualitas kontaknya. Metode ini sangat populer, karena sederhana dan mudah diterapkan. Meskipun demikian, penggunaan metode ini bisa menyesatkan jika pengiklan memandang kontak sama dengan eksposur. Eksposur adalah peluang individu menangkap pesan iklan dari media tertentu. Oleh karena itu kuantitas dan kualitas eksposur sama-sama penting bagi pengiklan, yang keduanya diukur melalui :

• Jangkauan (reach), yaitu jumlah individu yang menerima eksposur dari media tertentu minimal sekali dalam periode waktu tertentu.

• Kekerapan (frequency), yaitu berapa kali individu menerima tayangan atau pesan selama periode waktu tertentu.

• Dampak (impact), yaitu nilai kualitatif tayangan pada media tertentu. Misalnya iklan kosmetik lebih banyak faedahnya bila ditempatkan pada majalah wanita daripada di majalah bisnis.

Ada beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan dalam, metode ini. Pertama, metode ini tidak memperhitungkan kualitas khalayak, misalnya iklan kosmetik yang dibaca 1.000 wanita di sebuah tabloid, maka nilainya akan berbeda jika dibaca 1.000 pria. Kedua, metode ini tidak memperhitungkan peluang perhatian khalayak atau dengan kata lain tidak memperhitungkan kekuatan dampak media terhadap audiensi. Misalnya pembaca majalah remaja lebih berpeluang melihat iklan lebih banyak daripada pembaca majalah ilmiah. Dan ketiga, metode ini tidak memperhitungkan kualitas editorial media yang digunakan.

b. Matching of Audience and Media Characteristics

Pendekatan lainnya untuk memilih media adalah dengan menentukan target khalayak lalu membandingkan karakteristiknya dengan karakteristik berbagai media Prosedurnya adalah sebagai berikut :

• Mengumpulkan data-data rinci tentang pelanggan (siapa, dimana, kapan, dan bagaimana).

• Mempelajari cakupan (coverage) suatu media.

• Membandingkan kedua informasi di atas. Hasilnya baru merupakan pemilihan media pendahuluan, karena hanya didasari aspek cakupan.

• Mengkaji pemilihan media pendahuluan itu dari aspek lainnya seperti aspek kebiasaan target khalayak terhadap media, jenis produk, bentuk pesan, dan biaya penggunaan media.

• Anggaran iklan dialokasikan ke media-media yang dipilih, termasuk sarana media masing-masing. Saran media yang dipilih harus memperhitungkan aspek-aspek berikut • Tiras atau sirkulasi, yaitu banyaknya unit fisik penyampai iklan.

• Khalayak, yaitu jumlah orang atau individu yang dapat dirangkul suatu sarana media.

• Khalayak efektif, yaitu sejumlah individu yang benar-benar menjadii sasaran sarana media tersebut.

• Effective-ad-exposed audience, yaitu bagian dari khalayak efektif yang memperhatikan iklan di sarana media tersebut.

3. Green Marketing adalah konsistensi dari semua aktifitas yang mendesain pelayanan dan fasilitas bagi kepuasan, kegiatan, dan keinginan manusia dengan tidak menimbulkan dampak pada lingkungan alam. Green marketing mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan sebagai pilihan metode pemasaran di era moderen. Di era modern seperti sekarang ini banyak sekali kegiatan-kegiatan yang dilakukan manusia berdampak tidak baik bagi lingkungan yang menyebabkan global warming. Konsep Green marketing sendiri umumnya melihat dari sisi pemasaran produk yang ramah lingkungan.

Contoh bank bni yang mereapkan strategi go green ala BNI (majalah marketing 09/ix/september 2009) dengan kpr griya hijau BNI, yakni kpr bagi perumahan yang mengusung tema green dalam konsep pembangunannya.

Pada prinsipnya kampanye green marketing adalah kampanye menyeluruh, jadi dalam prakteknya green maketing merupakan kampanye jangka panjang, bisa untuk membangun brand bisa juga untuk membangun kesetiaan konsumen. green marketing bukan berbarti hanya sebatas kegiatan perusahaan mengeluarkan produk yang ramah lingkungan saja, tapi sebagai sebuah proses yang menyeluruh, gren marketing juga harus dijalankan secara total.

Strategi marketing ini bukan hanya ditujukan bagi konsumen tapi juga bagi karyawan internal, dimulai dari atasan, yang mulai membangun pola pikir green, misalnya memnggunakan kertas lebih hemat, menggunakan kertas secara bolak-balik untuk keperluan kertas sehari-hari, dan mulai memilah sampah di dalam perusahaan sampai dengan berhemat listrik.

Sedangkan kampanye keluar atau kampanye ke konsumen bisa menggunakan strategi seperti, penggunaa kemasan yang ramah lingkungan, menjalankan program-program grenn, seperti menaman pohon sampai program mendaur ulang kemasan, atau bisa juga terinsipirasi pada perusahaan body shop yang memang memasukkan jiwa green campaign-nya secara menyeluruh dan kuat sekali, sehingga melekat pada, tidak hanya brand tapi keseluruhan praktik perusahaan.

Sedangkan IBM menjelaskan ada 7 pilar dalam mengusahakan TI yang ramah lingkungan (Businessweek 29-30 September – 7 Oktober 2009) yaitu: strategi perusahaan, manusia/SDM, informasi/pengelolaah data, produk, teknologi informasi, properti/bangunan kantor, operasional perusahaan.

Masih banyak lagi yang bisa dilakukan dan dikembangkan dalam mengusahakan green marketing, dan stratgi ini tidak melulu milik perusahaan besar, perusahaan skala mikro dan kecil pun bisa turut berperan dan menjalankan green marketing ini, yang penting adalah kesesuaian dengan positioning perusahaan dan kejelian mengembangkan strategi green marketing yang terarah dan sustainable.

4. Budaya menjadi hal penting yang harus diperhatikan dalam marketing communication karena faktor budaya secara luas mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen. Kebudayaan ini sifatnya sangat luas, dan menyangkut segala aspek kehidupan manusia. Kebudayaan adalah simbul dan fakta yang kompleks, yang diciptakan oleh manusia, diturunkan dari generasi ke generasi sebagai penentu dan pengatur tingkah laku konsumen dalam menentukan pilihan.

Karena jika budaya tidak diperhatikan dengan seksama suatu media iklan yang digunakan secara universal bisa menjadi boomerang bagi produsen itu sendiri jika hal yang mereka jelaskan pada iklan tidak bisa masuk dan tidak bisa diterima di suatu daerah tertentu yang memiliki budaya yang berbeda.ini jelas akan berdampak pada segi penjualan serta citra perusahaan yang akan memburuk dimata konsumen

5. Dalam mengembangkan komunikasi pemasaran langkah –langkah yang harus diperhatikan adalah :

1. Identifikasi audien yang menjadi target. Perusahaan terlebih dahulu mengidentifikasi siapa yang menjadi target melalui profiling konsumen. Perusahaan juga perlu menganalisis sikap audien terhadap citra perusahaan sekarang.

2. Setelah mengidentifikasi target, perusahaan kemudian menetapkan tujuan komunikasi. Tujuan tersebut dapat berupa (Kotler, 2000):

a.    Kesadaran (awareness)

Disini perusahaan berusaha untuk menarik perhatian konsumen melalui komuinikasi yang disampaikan tentang produk dan informasi tentang produk tersebut

b.    Pengetahuan

Setelah konsumen aware tentang kehadiran produk pemasara tidak bisa hanya berhenti disitu saja, konsumen perlu mengetahui lebih banyak informasi tentang produk.

c.    Perasaan suka (Liking)

Konsumen bisa saja telah memiliki pengetahuan yang cukup tentang sebuah produk, akan tetapi apakah konsumen sudah menyukai produk tersebut? Disini perusahaan perlu merancang komunikasi untuk membuat konsumen memiliki kegemaran akan sutu produk. Perusahaan perlu mengidentifikasi terlebih dahulu factor apa yang akan membuat konsumen menyukai sebuah produk.

d.    Preferensi

Setelah konsumen menyukai sebuah produk tidak semata-mata membuat mereka memilih produk tersebut. Sehingga pemasar harus bisa mengkomunikasi nilai yang ditawarkan oleh produk.

e.    Keyakinan (conviction)

Bagaimana perusahaan meyakinkan konsumen untuk memilih suatu produk.
f.    Pembelian

Konsumen mungkin telah yakin dengan keunggulan suatu produk, akan tetapi bisa saja mereka masih menunggu untuk melakukan pembelian. Pemasar harus membantu konsumen untuk melakukan langkah akhir melalui pemotongan harga, penawaran premium atau member kesempatan mencoba.

6. ETIKA SECARA UMUM

  • Jujur : tidak memuat konten yang tidak sesuai dengan kondisi produk yang diiklankan
  • Tidak memicu konflik SARA
  • Tidak mengandung pornografi
  • Tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.
  • Tidak melanggar etika bisnis, ex: saling menjatuhkan produk tertentu dan sebagainya.
  • Tidak plagiat

Tanggung jawab utama bagi perilaku etis adalah ditangan setiap orang yang berada dalam berbagai peran komunikasi pemasaran. Integritas mungkin merupakan konsep vital dalam sifat manusia. Walaupun sulit mencari definisi yang tepat, integritas menghindarkan kita melakukan penipuan terhadap orang lain atau mempunyai perilaku tak bermoral. Karenanya, komunikasi pemasaran sendiri terlepas dari masalah etis atau tidak etis – tingkat integritas yang ditunjukan oleh praktisi komunikasilah yang menentukan apakah perilaku mereka bersifat etis atau tidak etis ( Shimp: 2000)

Contoh iklan tidak beretika adalah iklan XL dan ASyang saling menjatuhkan.

Seperti biasa, mungkin kebiasaan pada umumnya, ketika waktu senggang maka televisi adalah tujuannya. kita bisa mendapat banyak hal dari kotak kecil ini, ada berbagai macam berita dari berbagai belahan dunia, ada berjuta cerita dalam bentuk berbagai macam hiburan. Tak luput, kita juga disuguhi banyak iklan yang beragam, bahkan tak jarang iklan itu seolah untuk menjatuhkan produk sejenis. Itu sudah masuk dalam pelanggaran etika bisnis , dan ketika bicara masalah ‘perang iklan’, ingatan kita akan menuju pada dua operator yang lagi gencar-gencarnya melakukan serangan yaitu XL (PT Excelcomindo Pratama) dan Kartu As (PT. Telekomunikasi Seluler). Dari hari ke hari, serangan kian tajam dan memanas, apakah kita, sebagai konsumen, merasa diuntungkan? Justrumembuat kita sebagai konsumen segan dan merasa tidak nyaman.

Perang iklan bukan hanya iklan televisi, tapi juga pamflet bahkan di radio. Bahkan iklan versi radio, XL berani ngejek Kartu As, Esia dan IM3 sekaligus.

iklan XL di radio: setting mungkin di kelas, antrian dokter atau apalah yang jelas menggunakan

nomor antrian.

wanita: nomor 1 (tarifnya esia)

rame: nggak ada bu..

wanita: nomor 20 (tarifnya Kartu As)

rame: nggak ada bu..

wanita: nomor 24

rame: nggak ada bu..

wanita: disini rame kenapa nggak ada semua, bapak2 ibu2 adik2 ngambil nomor berapa?

rame: kita semua ngambil nomor O bu..

terus ada penjelasan intinya Rp 0 untuk 30 detik pertama..

apakah kita akan menelpon 30 detik, matiin, telpon telpon lagi 30 detik matiin lagi begitu seterusnya?

Saya sebagai konsumen kartu XL merasa penggunaannya relative lebih mahal. Hanya untuk menelfon berapa menit saja pls yg tadinya 5rb sudah habis. Jadi iklan tersebut menurut saya hanya omong kosong belaka dan hanya untuk menarik perhatian konsumen.

 

 

Ditulis oleh : Dewi Maryam

Nim : 0910223066

Dosen : Nanang Suryadi

www.nanangsuryadi.web.id

www.nanangsuryadi.lecture.ub.ac.id

www.marcom.lecture.ub.ac.id

ARTIKEL PENELITIAN IKLAN

2012
04.09

Analisis Pemakaian Gaya Bahasa pada Iklan Produk Kecantikan Perawatan Kulit Wajah di Televisi. Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta, April 2010 Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: (1) pemakaian gaya bahasa dalam iklan produk kecantikan perawatan kulit wajah di televisi; (2) tanggapan masyarakat terhadap bahasa yang digunakan pada tayangan iklan produk kecantikan perawatan kulit wajah di televisi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah iklan produk kecantikan perawatan kulit wajah di televisi pada bulan Januari-April 2009 serta informan yaitu masyarakat selaku pemirsa televisi. Penentuan sampling yang dilakukan dengan purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik rekam, simak, catat dan wawancara mendalam. Validitas data dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi teori dan triangulasi data. Teknik analisis data yang digunakan adalah model analisis interaktif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: 1) pemakaian gaya bahasa yang digunakan dalam iklan produk kecantikan perawatan kulit wajah di televisi meliputi gaya bahasa: a) personifikasi; b) pertanyaan retoris; c) mesodiplosis; d) anafora; e) klimaks; f) koreksio; g) aliterasi; h) asindenton; i) epistrofa; j) antiklimaks; k) repetisi; l) asonansi; m) anadiplosis; dan n) erotesis. Gaya bahasa yang paling banyak digunakan dalam penayangan iklan tersebut adalah gaya bahasa anafora. Anafora adalah repetisi yang berwujud perulangan kata pertama pada tiap baris atau kalimat berikutnya. Penggunaan gaya bahasa anafora bermaksud menekankan atas produk yang ditawarkan sehingga dapat memudahkan masyarakat untuk mengingatnya, hingga akhirnya membeli produk tersebut; 2) tanggapan masyarakat terhadap pemakaian bahasa pada iklan produk kecantikan perawatan kulit wajah di televisi: a) masyarakat berpendapat bahwa bahasanya menjanjikan dan membujuk, seolah-olah kecantikan yang dimiliki model adalah berkat pemakaian produk iklan kecantikan yang dibintanginya. Hal tersebut sangat mempengaruhi masyarakat untuk membeli produk yang diiklankan agar memiliki kulit wajah seperti model di iklan tersebut; b) masukan yang dapat diberikan kepada pembuat iklan adalah memperhitungkan segi positif dan negatif atas tayangan iklan yang dihasilkan. Dengan demikian tujuan utama dari sebuah periklanan tidak hanya mengedepankan produknya bisa laku laris di pasaran namun juga mampu memberikan informasi yang berguna bagi masyarakat; c) masukan bagi masyarakat sendiri, adalah tindakan yang paling utama ketika ada iklan produk kecantikan perawatan kulit wajah di televisi agar tidak mudah termakan oleh pemakaian bahasanya yang membujuk. Alangkah baiknya masing-masing pribadi mengetahui kondisi akan kebutuhan perawatan untuk kecantikan kulit wajahnya, dengan demikian keberadaan iklan produk kecantikan perawatan kulit wajah yang tayang di televisi bisa dijadikan pertimbangan.

 

PT. Aqua Golden Mississippi melakukan promosi baik dari segi periklanan maupun dari aspek-aspek lainnya seperti Corporate Social Responsibility (CSR) yang mampu membangun kredibilitas perusahaan tersebut. Periklanan yang dilakukan mencakup pada setiap media baik media cetak atau media elektronik. Strategi promosi yang ditetapkan oleh PT. Aqua Golden Mississippi tidak hanya berhasil dalam membangun kesadaran mereknya, namun juga telah memperkuat Aqua sebagai industri air minum dalam kemasan yang besar di Indonesia. Berdasarkan pada latar belakang serta fenomena yang ada, dapat disimpulkan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh media iklan terhadap pengambilan keputusan konsumen membeli air minum dalam kemasan merek Aqua dan media iklan yang mana yang dominan mempengaruhi keputusan konsumen membeli air minum dalam kemasan merek Aqua.

Hasil penelitian terhadap 126 responden di kota Palembang diperoleh hasil bahwa media iklan televisi, iklan surat kabar, iklan majalah, iklan radio, iklan papan reklame dan iklan spanduk secara simultan berpengaruh signifikan terhadap keputusan konsumen dalam membeli air minum dalam kemasan merek Aqua yang dinyatakan oleh nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,525 atau 52,5 persen. Sedangkan sisanya sebesar 47,5 persen dipengaruhi oleh faktor lain. Secara parsial terlihat bahwa dari enam variabel bebas yang ada hanya ada tiga variabel bebas yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan konsumen dalam memebeli air minum dalam kemasan merek Aqua, yaitu media iklan televisi, iklan majalah dan iklan spanduk. Yang paling dominan berpengaruh dan signifikan adalah media iklan televisi dilihat dari besarnya koefisien regresi Beta 0,649.

 

Penelitian untuk menguji pengaruh status pionir sebuah merek terhadap sikap konsumen dalam kategori produk tablet hisap vitamin C 500mg dengan membandingkan sikap konsumen terhadap Vitacimin sebagai merek pionir dan Xon-Ce sebagai merek pengikut. Pengaruh pengetahuan konsumen tentang status pionir merek Vitacimin diuji dengan membagi sampel menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang tahu tentang status pionir (pioneer-status) merek Vitacimin (Kelompok 1) dan kelompok yang tidak tahu bahwa Vitacimin merupakan merek pionir (Kelompok 2). Hasil penelitian ini menguatkan penelitian-penelitian sebelumnya bahwa konsumen mempunyai sikap yang lebih baik terhadap merek pionir daripada terhadap merek pengikut, namun penelitian ini gagal membuktikan bahwa pengetahuan konsumen tentang status pionir sebuah merek mempunyai pengaruh signifikan terhadap sikap kosumen.

 

Periklanan mendapat sorotan tajam semenjak aspek informasi menjadi bagian penting dalam bisnis, kegiatan periklanan yang efektif dipandang mampu mempengaruhi kecendrungan mengkonsumsi dalam masyarakat. Periklanan yang efektif akan mengubah pengetahuan publik mengenai ketersediaan dan karakteristik beberapa produk, elastisitas permintaan produk akan sangat dipengaruhi aktivitas periklanan. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa anggaran iklan berpengaruh positif terhadap penjualan dan market share, sebaliknya peningkatan anggaran iklan pesaing berpengaruh negatif terhadap tingkat penjualan dan market share pesaingnya Darmadi Durianto,(2003). Dampak iklan ternyata bervariasi tergantung efektivitasnya, dengan demikian anggaran iklan yang lebih besar tidak selalu mampu mengubah penjualan dan market share dalam tataran yang lebih besar pula. Aktivitas periklanan berkorelasi erat dengan biaya, dan biaya yang besar diperlukan untuk beriklan dalam hal ini PT. Rambang mengeluarkan belanja iklan rata-rata 200 juta rupiah per tahun dengan omzet penjualan rata-rata 16 milyar rupiah per tahun, maka dari itu efektivitas periklanan memperoleh perhatian yang serius, strategi dan program yang handal diperlukan untuk mencapai dampak iklan yang diinginkan, terlebih lagi diperlukan pula teknik pengukuran untuk memantau efektivitas iklan baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Berdasarkan keterangan diatas maka dapat diketahui bahwa strategi iklan yang tepat sangatlah diperlukan perusahaan agar kegiatan perusahaan dapat berjalan dengan lancar, oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian terhadap strategi promosi dalam hal ini iklan yang sudah dilakukan oleh Perusahaan percetakan dan penerbitan PT Rambang, yang diharapkan akan mampu mengatasi kurang optimalnya periklanan yang dilakukan Perusahaan ini.

 

Seiring dengan kemajuan pesat dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, bidang telekomunikasi juga mengalami kemajuan yang cukup pesat. Komunikasi merupakan suatu hal yang penting yang dianggap mampu membantu hidup manusia. Sejak ditemukannya alat komunikasi, gerak hidup manusia menjadi berubah lebih mudah dan terasa dekat. Semakin lama pola pikir konsumen berubah seiring perkembangan jaman. Konsumen yang dulunya hanya menggunakan alat komunikasi, disebuttelepon, kini mulai beralih menggunakan telepon seluler, sehingga perusahaan penyedia jasa layanan telekomunikasi dapat mengambil peluang baru dari keinginan-keinginan dan kebutuhan konsumen yang belum terpenuhi Pilihan-pilihan teknologi telekomunikasi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Salah satunya telepon seluler yang berbasis teknologi CDMA (Code Division Multiple Access) yang beroperasi menggunakan lisensi telepon saluran tetap (fixed wireless) memiliki tarif jauh lebih rendah (sama dengan tarif telepon tetap/ fixed line) dibanding dengan tarif telepon seluler yang berbasis GSM.

Produk dari TELKOM yang berkaitan dengan CDMA adalah TELKOMFlexi (sering disebut Flexi). Flexi mulai diperkenalkan pada bulan Desember 2002 dan secara komersial mulai diluncurkan Mei 2003. Flexi beroperasi pada dua frekuensi yaitu 1,9 GHz untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya serta 800 MHz di daerah-daerah. Tantangan Flexi semakin besar

 

Penelitian Faktor-Faktor Kepuasan Pelanggan dan Loyalitas Pelanggan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana kepuasan pelanggan mempunyai pengaruh signifikan terhadap loyalitas pelanggan Iklan Jitu surat kabar Jawa Pos pada CV.Sarana Media Advertiseng dan variabel mana yang memberikan kontribusi terbesar pengaruhnya terhadap loyalitas pelanggan. Dalam penelitian ini mengunakan empat variabel untuk mewakili keppuasan pelanggan yang meliputi : reliability,response to and remedy of problems, sales experience dan convenience of acquisition. Dari hasil perhitungan diketahui bahwa sales experience memberikan kontribusi terbesar terhadap loyalitas pelanggan.

 

Sebagai bagian dari media massa, iklan merupakan cerminan realitas yang ada dalam masyarakat. Realitas yang tercermin dalam iklan bisa jadi adalah realitas masyarakat yang seksis ataupun realitas masyarakat yang sedang mengupayakan kesetaraan gender. Dengan fungsi pencerminannya ini iklanpun akan sekaligus mensosialisasikan kembali apa yang dicerminkannya itu, baik ketidakadilan (seksisme) maupun keadilan gender (kesetaraan gender), ke dalam pola pikir khalayaknya. Hal ini akan berimplikasi pada pengukuhan kembali nilai gender stereotip, bila iklan yang bersangkutan memuat ideology gender yang seksis, atau upaya dekonstruksi nilai gender stereotip, bila iklan yang bersangkutan bermuatan ideologi gender yang setara.

Perbincangan mengenai seksisme dalam iklan sebenarnyalah bukan hal yang baru lagi. Dimulai dengan diterbitkannya buku Betty Friedan yang mengguncangkan dunia, yaitu The Feminine Mystique (Craig, 1998). Di sini Friedan memaparkan bagaimana industri telah memperalat perempuan melalui iklan-iklannya, yaitu dengan terus-terusan menggambarkan perempuan sebagai ibu rumah tangga yang melulu berbelanja. Seiring dengan gerakan perempuan, dewasa ini gencar didengung- dengungkan adanya kesetaraan gender. Beberapa iklanpun mencoba untuk merespon realita ini dengan cara menggambarkan representasi gender yang setara, seperti yang diketengahkan oleh iklan-iklan Beneton, The Body Shop, Teh Sari wangi, maupun Harian Kompas (Kusumastutie, 2003). Demikianlah, iklan ikut “berubah” seiring dengan perubahan dalam masyarakat. Pada dasarnya perjuangan gender ingin melakukan dekonstruksi terhadap ideologi gender (Fakih, 1996), sehingga dapat dikembangkan kesadaran berkesadaran akan kesetaraan gender berkeyakinan bahwa perempuan dan laki- laki adalah mitra sejajar yang tidak terkotak-kotak ke dalam peran gender feminin-maskulin (Suratiyah dalam Lailatushifah, 1998). Dengan demikian seharusnyalah perempuan dan laki-laki dinilai sama, diperlakukan secara objektif dan setara, serta memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam berbagai bidang kehidupan.

 

Ketidakpercayaan terhadap kemampuan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam menghadapi era globalisasi berorientasi pada mekanisme pasar bebas memang cukup beralasan, karena keterbatasan-keterbatasan yang ada dalam kelompok tersebut. Namun demikian perlu diingat bahwa sejak era penjajahan UMKM sudah dihadapkan dan ditempa dengan berbagai masalah termasuk dari aspek pemasaran, tetapi UMKM tetap eksis dalam mendukung pertekonomian nasional. Ketidakmampuan UMKM untuk menghadapi pasar global mungkin timbul karena lemahnya akses terhadap informasi. Kelemahan ini dapat berdampak pada sempitnya peluang pasar dan ketidakpastian harga. Di sini terlihat bahwa era bisnis global menuntut penguasaan informasi inovasi dan kreatifitas pelaku usaha, baik dari aspek teknologi maupun kualitas sumberdaya manusia.

 

Di era perdagangan bebas merupakan masa persaingan produsen dalam memasarkan produknya. Produsen menginginkan pada era tersebut produknya dapat diterima masyarakat secara luas. Agar produknya sampai ke konsumen maka perlu informasi yang jelas melalui media periklanan. Kejelasan informasi pada segmen pasar terhadap produk yang diiklankan akan menghasilkan tanggapan positif dari konsumen yang tentunya akan mendapatkan keuntungan bagi produsen.

Kajian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi gaya pembuatan keputusan serta perbezaan gaya pembuatan keputusan pengguna dalam membeli sesuatu barangan berdasarkan jantina dan etnik. Terdapat lapan faktor utama yang dikaji iaitu faktor kekeliruan terhadap pilihan yang banyak, tabiat setia kepada jenama, gerak hati, kesedaran kepada fesyen terkini, kesempurnaan kualiti, kesedaran kepada harga, rekreasi, dan kesedaran kepada jenama. Kajian deskriptif ini berdasarkan kaedah tinjauan dengan menggunakan 480 orang pengguna

yang membeli-belah di tiga pasaraya terbesar di Johor Bahru (Pasaraya Giant di Plentong dan Tampoi serta Carefour). Dapatan kajian menunjukkan bahawa faktor kesempurnaan merupakan faktor yang paling tinggi mempengaruhi gaya pembuatan keputusan pembelian barangan di kalangan pengguna. Manakala tidak terdapat perbezaan yang signifikan dalam gaya pembuatan keputusan pengguna berdasarkan jantina. Kajian ini juga menunjukkan terdapat perbezaan signifikan gaya pembuatan keputusan dalam pembelian barangan berdasarkan etnik Melayu, Cina dan India.

 

REFRENSI

http://digilib.unsri.ac.id/download/Artikel-03%20(M%20NASIR%20IBRAHIM)-rev01.pdf

http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/mar/article/viewFile/16536/16528

http://eprints.uns.ac.id/id/eprint/278

http://digilib.unsri.ac.id/download/Jurnal%20MM%20Vol%203%20No%206%20Artikel%203%20Yudi%20FB.pdf

http://wardoyo.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/11948/PROPOSAL+Keputusan+membeli.pdf

http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/man/article/viewFile/16140/16132

http://fatur.staff.ugm.ac.id/file/JURNAL%20-%20Analisis%20Gender%20Iklan%20TV.pdf

http://www.smecda.com/kajian/files/Jurnal_3_2008/01_T.Syarif.pdf

http://dgi-indonesia.com/wp-content/uploads/2009/05/dkv030501071.pdf

 

Ditulis oleh : Dewi Maryam

Nim : 0910223066

Dosen : Nanang Suryadi

www.nanangsuryadi.web.id

www.nanangsuryadi.lecture.ub.ac.id

www.marcom.lecture.ub.ac.id

Iklan Fanta “Gerhana Matahari” Tidak Beretika

2012
03.26
YouTube Preview Image

Ini salah satu iklan FANTA, namun iklan ini mendapatkan tegur dari pihak PPPI perihal etika penggunaan si cewek yang seolah ditampilkan ‘body figure’ / “shaft” nya saat disinari cahaya matahari (efek gerhana). Padahal iklan ini adalah iklan ditujukan untuk remaja dan masyarakat luas serta diperdagangkan secara bebas. Sehingga dapat dikonsumsi oleh semua kalangan, untuk itu  produk minuman ini seharusnya tidak berhubungan dengan “body cewek”.

Jadi, menurut saya iklan ini tidak etis atau tidak beretika, karena iklan ini akan memberikan contoh buruk bagi remaja untuk mewajarkan atau membolehkan  berpenampilan sexi. Dan juga yang ditakuti adalah iklan ini juga dikonsumsi oleh anak-anak yang akan menyebabkan penyampaian pesan yang salah pada anak-anak tersebut.

 

TARGET PASAR

PT. Fanta Bottling Indonesia mengembangkan produknya dengan cara mengajak masyarakat lebih dalam lagi dengan mengenali produk – produk tersebut dengan cara mempromosikan nya ketengah masyarakat sebab PT Fanta mempunyai kekuatan Riset and Development yang intensif, pertumbuhan penjualan, Brand Image, loyalitas konsumen, keadaan distribusi dan pasar, harga produk yang kompetitif dan SDM yang besar dan terlatih,sehingga perusahaan tersebut harus bisa menggunakan kekuatan dengan memanfaatkan peluang yang telah ada.

Target pasar yang dipilah oleh perusahaan ini adalah tempat dimana masyrakat sering berkativitas seperti di tempat lingkungan sekolah,ditempat pembelanjaan,dipinggir jalan besar bahkan di tempat pelosok daerah,di mana perusahan ini meletakan otlet-otlet produk mereka.

 

BRAND POSITIONING

Brand posisioning pada fanta sejalan dengan brand positioning dr COCA COLA COMPANY yang menggawanginya. Dalam masalah positioning, ada berbagai positioning yang berganti tiap tahun yang digunakan Coca Cola. Hal ini terlihat dari seringnya pergantian slogan yang disesuaikan dengan jaman. Salah satu yang juga terkenal dan cukup diingat buatan agensi iklan McCann Erickson, pada tahun 70-an terdapat slogan “I’d like to buy the world a coke” yang membuat kata-kata “let’s have a coke” seakan-akan menjadi “mari kita satukan semuanya”. Hal ini membuat coca cola seakan-akan menyatukan berbagai kalangan. Lalu juga dikembangkan dalam iklan komersialnya dimana ditampilkan semua orang dari berbagai ras menyanyikan lagu “I’d like to buy the world a coke”. Berikut berbagai slogan yang digunakan Coca cola dari tahun ke tahun di Amerika.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa brand positioning pada Fanta itu sendiri sudah mendunia, mengingat fanta adalah produk unit dari COCA COLA COMPANY yang mempunyai strategi pemasaran yang baik dari segi segmenting, targeting dan menempatkan brand positioningnya.

Brand positioning pada fanta ini adalah minuman soft drink terkenal di dunia, fanta adalah merk soft drink dengan rasa buah keluaran COCA COLA COMPANY. Minuman bersoda yang satu ini sudah tidak asing lagi bagi kita, saking sudah malang melintang cukup lama di Indonesia sekalipun. Fanta bisa dibeli di supermarket besar, dan toko-toko terdekat , bahkan di warung-warung kecil di dalam gang.

 

Ditulis oleh : Dewi Maryam

Nim : 0910223066

Dosen : Nanang Suryadi

www.nanangsuryadi.web.id

www.nanangsuryadi.lecture.ub.ac.id

www.marcom.lecture.ub.ac.id

Cara Mengukur Efektivitas Marketing Communication

2012
03.18

Marketing communication merupakan salah satu aktifitas pemasaran yang sudah dilakukan sejak lama. Dalam perkembangannya, marketing communication telah bermanifestasi ke dalam berbagai bentuk yang lebih spesifik mulai dari advertising (iklan), Public Relation (PR), sales promo dan personal selling. Secara fokus, marketing communication juga telah mengambil dua bentuk yang sangat mapan yaitu Above The Line (ATL) dan Below The Line (BTL) dimana masing-masing telah memiliki fungsi dan keunggulannya tersendiri. Lebih jauh lagi, berbagai bentuk marketing communication yang lebih kreatif dan interaktif juga telah dikembangkan seperti In-Store Marketing Communication, Channel Branding, Interactive Marketing Communication sampai Community Marketing. Di sisi lain, jenis media yang bisa digunakan untuk melakukan aktifitas marketing communication juga telah semakin beragam dengan jumlah penyedia layanan yang juga semakin banyak. Hal ini tentu saja memberikan peluang bagi para produsen untuk lebih berkreasi dalam melakukan aktifitas marketing communication namun di sisi lain juga menciptakan kebingungan baru karena masing-masing media menjanjikan keunggulannya sendiri-sendiri. Cara yang handal untuk mengukur efektifitas marketing communication dengan menggunakan pendekatan Return on Marketing Investment (RoMI).

Objectives

    • Memberikan insight mengenai berbagai metode dan media marketing communication terkini.
    • Melatih untuk memanfaatkan secara kreatif berbagai peluang untuk melakukan aktifitas marketing communication secara efektif dan efisien.
    • Membekali dengan tool-tool yang praktis untuk melakukan aktifitas marketing communication dan mengukur efektifitas hasilnya.

 

Methods
Metoda yang digunakan dalam program ini adalah metoda experiential learning  dengan konsep dan teori yang disajikan secara komunikatif, pematangan pemahaman melalui contohcontoh yang disajikan secara audiovisual, pengayaan melalui sharing experience, dan pengalaman praktis melalui praktek yang dilengkapi dengan panduan dan evaluasi secara komprehensif untuk sejauh mungkin mempersiapkan diri pada saat  berhadapan dengan tantangan yang sesungguhnya.

Participants
Participant adalah para pengambil keputusan dan pelaku dalam aktifitas marketing communication yang dituntut untuk meningkatkan kinerja produk melalui pembangunan brand baik di level produk maupun institusi.

 

 

Ditulis Oleh : Dewi Maryam (0910223066)

Dosen : Nanang Suryadi

www.nanangsuryadi.web.id

www.nanangsuryadi.lecture.ub.ac.id

www.marcom.lecture.ub.ac.id

Jurnal Perilaku Konsumen – “Faktor-Faktor Kepuasan Pelanggan dan Loyalitas”

2012
03.18

Kepuasan dan loyalitas konsumen merupakan harapan yang ingin dicapai baik oleh konsumen amupun oleh produsen. Namun tidaklah mudah mewujudkannya karena banyaknya faktor yang ikut mempengaruhinya. Nah pada kali ini akan disampaikan sebuah hasil penelitian berupa jurnal yang membahas kepuasan konsumen dengan judul, “Faktor-Faktor Kepuasan Pelanggan dan Loyalitas Pelanggan: Studi Kasus pada CV. Sarana Media Advertising Surabaya.”

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana kepuasan pelanggan mempunyai pengaruh signifikan terhadap loyalitas pelanggan Iklan Jitu surat kabar Jawa Pos pada CV.Sarana Media Advertiseng dan variabel mana yang memberikan kontribusi terbesar pengaruhnya terhadap loyalitas pelanggan. Dalam penelitian ini mengunakan empat variabel untuk mewakili keppuasan pelanggan yang meliputi : reliability,response to and remedy of problems, sales experience dan convenience of acquisition. Dari hasil perhitungan diketahui bahwa sales experience memberikan kontribusi terbesar terhadap loyalitas pelanggan.

Reliability adalah kemampuan suatu sistem yang mampu menerima tugas dengan tingkat keberhasilan tertentu. Dalam reliability terdapat kehandalan dan quality.

  • Kehandalan dinyatakan dalam model probilitas
  • Quality merupakan nilai dari sesuatu dengan kepuasan (keinginan) pelanggan

Marketing Communication membahas sejumlah masalah yang saling berkaitan dengan erat, dan mempengaruhi srategi serta aplikasi komunikasi dalam pemasaran. Pokok kajian pembahasan marketing communication adalah langkah atau jenis kegiatan pemasaran ditentukan oleh teknik-teknik semisal direct marketing, support media, personal selling, dan promosi penjualan. Selain teknik pemasaran itu, perlu juga diperhatikan dan dipertimbangkan bahwa penggunaan visual dan pesan yang tepat adalah syarat utama dari keberhasilan dan strategi pesan disusun untuk menumbuhkan kesadaran atas keberadaan sebuah produk dan layanan (awarenes), membangkitkan keinginan untuk memiliki atau memperoleh produk (interest), dan mempertahankan loyalitas pelanggan (loyalty). Dalam kajian komunikasi, tahap ini dikenal sebagai AIDDA, yaitu Attention, Interest, Desire, Decision, dan Action, sedangkan dalam kajian perilaku konsumen dikenal sebagai Tricomponent Attitude Model, yaitu Cognitive (pengetahuan), Affection (perasaan), dan Conative (kecenderungan perilaku).

Tujuan komunikasi secara umum adalah untuk mencapai sejumlah perubahan: perubahan pengetahuan (knowledge change), perubahan sikap (attitude change), perubahan perilaku (behaviour change), dan perubahan masyarakat (social change). Penjualan produk baru akan terjadi jika telah terjadi paling sedikit perubahan sikap pada tahap conative, atau munculnya kecenderungan untuk melakukan sesuatu. Kecenderungan melakukan sesuatu itu adalah kecenderungan untuk membeli produk atau memanfaatkan jasa yang ditawarkan. Perencanaan strategi marketing communication meliputi sejumlah strategi pesan dan visual, yang secara bertahap mengikuti alur perubahan, dan perubahan itu harus diukur secara tepat melalui riset marketing communication.

 

Perencanaan dan Segmentasi Potensial

Dalam kajian pemasaran, Setelah Anda menentukan pendekatan strategi, maka strategi itu dapat diaplikasikan dalam sebuah perencanaan, di mana perencanaan ini disusun berdasarkan analisis terhadap peluang pasar, analisis pesaing, dan pemasaran sasaran (target marketing) sehingga Anda memiliki gambaran garis besar atas apa yang akan Anda lakukan kemudian. Demikian pula dalam marketing communication, segmentasi merupakan hal yang penting dan tidak dapat diabaikan. Segmentasi memiliki ciri khusus yang dibatasi oleh: usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan dan batasan geografis. Dari beberapa segmentasi yang dianggap potensial. Dalam hal ini segmentasi yang dimaksud memiliki demand yang tinggi. Kesalahan dalam penetapan segmentasi potensial ini berakibat terhadap penghamburan biaya promosi dan waktu, hal ini sedapat mungkin dihindari melalui suatu pengambilan keputusan yang matang.

Jika segmentasi potensial dikaitkan dengan strategi marketing communication, penetapan segmentasi potensial ini akan berpengaruh terhadap penetapan waktu yang dibutuhkan, penentuan tahap komunikasi, penggunaan media, berapa kali sebuah pesan harus disampaikan, dan pesan (verbal dan visual) apa yang lebih mudah dipahami serta dapat menarik perhatian pasar sasaran.

 

Perencanaan Media

Media massa dianggap sebagai media yang dapat menjangkau sasaran secara lebih luas. Media massa elektronik dan cetak memiliki karakteristik yang berbeda-beda, dan tentunya masing-masing media memiliki kelebihan dan kekurangan. Sekalipun penyewaan ruang (space) di media massa membutuhkan biaya yang lebih besar tetapi media ini tetap menjadi prioritas acuan dalam penetapan strategi marketing communication.

Pemilihan media berkaitan dengan beberapa besar biaya yang harus disiapkan. Hal itu tentunya dilakukan melalui sebuah studi yang matang. Di mana studi yang terbaik dilakukan melalui penelitian media atau riset media. Hasil riset media dapat dijadikan masukan penting untuk membantu menetapkan kapan sebuah iklan ditayangkan (exposure), berapa lama (duration) waktu tayang, dan berapa kali (frequency) iklan harus ditayangkan. Pada media luar ruangan (out of home media) pemilihan lokasi yang tepat, ukuran, dan bentuk menjadi sebuah pertimbangan penting selain faktor daya tarik pesan dan visual.

 

Ditulis Oleh : Dewi Maryam (0910223066)

Dosen : Nanang Suryadi

www.nanangsuryadi.web.id

www.nanangsuryadi.lecture.ub.ac.id

www.marcom.lecture.ub.ac.id

Cara Mengukur Brand Equity (Ekuitas Merek)

2012
03.18

Mengenai kemajuan revolusi informasi yang membawa akibat pada disagregasi konsumen telah mampu menjawab pertanyaan fundamental: apakah peran brand masih relevan? Terkait dengan banyaknya informasi mengenai berjuta-juta macam produk yang dapat diakses dengan mudah lewat internet. Artinya, setiap perusahaan sekarang berlomba untuk memasang iklan di portal-portal website ternama yang sering dikunjungi oleh konsumen. Selain itu, perusahaan dapat mengembangkan konten website sendiri yang berfungsi sekedar sebagai pemberian informasi produk, penjalin hubungan dengan pelanggan atau bahkan untuk transaksi pembelian.
Komunikasi pemasaran yang dilakukan atas seijin konsumen akan berdampak tidak hanya efisiensi biaya saja melainkan juga kepuasan konsumen. Artinya, konsumen tetap mendapat informasi yang mereka butuhkan namun tidak sampai terganggu oleh serbuan iklan produk yang tidak diinginkan. Dawar (2004) mengatakan bahwa proses disagregasi konsumen ini akan lebih baik daripada proses komunikasi pemasaran konvensional. Diusulkan tiga strategi dan tiga langkah taktis untuk mengimplementasikan proses disagregasi. Tiga strategi: (1) membangun hubungan dengan konsumen untuk meningkatkan kepercayaan dan kredibilitas. (2) komunikasi difokuskan pada hanya kebutuhan utama konsumen. (3) karena pemenuhan kebutuhan konsumen diusahakan secara customized, maka perusahaan dapat menggunakan strategi penetapan harga premium. Tiga langkah taktis: (1) membuat cara agar konsumen tertarik dan mau mencoba produk sehingga akan berdampak pada peningkatan volume penjualan. (2) membangun kepuasan konsumen sedemikian rupa sehingga pelanggan suka untuk melakukan pembelian ulang. (3) respon pada perubahan kompetitif yang terjadi.
Perubahan fokus perusahaan yang sebelumnya hanya bertujuan mengembangkan brand sehingga beralih pada customer relationship, memiliki beberapa implikasi radikal bagi beberapa proses dan struktur internal. Perbedaan brand management dengan disaggregate marketing terutama dapat dilihat dari beberapa aspek internal bisnis, seperti struktur organisasi dan kepemimpinan, key business measures, inovasi dan pengembangan produk, key brand managemet activities, dan pelatihan-pelatihan karyawan.
Studi yang dilakukan oleh Keller (1993) adalah suatu usaha untuk membuat konsep, pengukuran dan manajemen brand equity yang berbasiskan pelanggan (customer-based brand equity). Keller (1993) secara singkat memberikan overview mengenai beberapa dimensi dari brand knowledge, yaitu brand awareness dan brand image sebelum masuk untuk menjelaskan brand equity berbasiskan pelanggan.
Brand awareness meliputi brand recall dan brand recognition, sedangkan aspek yang berkaitan dengan brand image adalah tipe, kesukaan, kekuatan, dan keunikan dari brand associations. Keller (1993) dengan lengkap menjelaskan beberapa tipe asosiasi brand, yaitu attributes (product vs. non-product related), benefit (fungsional, experiential, simbolis), dan attitudes. Akhirnya, dimensi dari brand knowledge dijelaskan dengan membagi atribut non-product related menjadi empat bagian, yakni harga, kemasan, benak pemakai dan pengguna (user imagery & usage imagery).
Customer-based brand equity didefinisikan oleh Keller sebagai pengaruh diferensial brand knowledge atas respon konsumen pada usaha pemasaran suatu brand. Pengaruh diferensial didefinisikan sebagai komparisasi antara respon konsumen pada usaha pemasaran produk yang telah memiliki brand dengan respon konsumen pada usaha pemasaran produk yang tidak memiliki nama barang atau jasa. Dengan membangun brand awareness dan brand image positif dalam ingatan konsumen, dapat menciptakan tipe customer-based brand equity yang berbeda.
Keller memberikan tiga usulan untuk membangun brand equity berbasiskan pelanggan, yakni memilih brand identity, membangun support untuk program pemasaran, meningkatkan asosiasi sekunder brand. Secondary associations dapat muncul dari asosiasi atribut primer yang terkait dengan perusahaan, daerah asal, distribusi, selebrity endorser, atau sebuah even tertentu. Berikutnya Keller menjelaskan juga cara mengukur brand equity berbasiskan pelanggan, cara tidak langsung terdiri dari kongruensi, competitive overlap, dan leverage. Sedangkan cara langsung dapat dilakukan dengan cara ekperimen dan conjoint anlysis. Akhirnya, Keller memaparkan keenam cara untuk mengelola customer-based brand equity. Pertama, para pemasar harus dapat mengadaptasi luasnya cara pandang pemasaran untuk keputusan pemasaran yang dilakukan perusahaan. Kedua, para pemasar harus mendefinisikan struktur pengetahuan yang ingin ditanamkan dalam benak konsumen. Ketiga, para pemasar harus mengevaluasi sekian banyak pilihan taktis yang ada untuk membangun struktur pengetahuan konsumen melalui komunikasi pemasaran. Keempat, para pemasar harus mengambil keputusan pemasaran untuk jangka panjang. Kelima, para pemasar harus menggunakan studi lacak untuk mengukur struktur pengetahuan konsumen sepanjang waktu. Keenam, para pemasar harus mengevaluasi umpan balik brand image yang berkelanjutan dari benak para konsumen.
Studi lain mengenai brand equity yang diteliti secara empiris dilakukan oleh Srinivasan et al (2005). Studi ini melakukan pendekatan pada pengukuran, analisis dan prediksi atas brand equity yang telah memberikan kontribusi untuk: (1) membangun framework operasionalisasi dari brand equity. (2) memberikan metode untuk mengukur dan mengetahui anteseden dari brand equity. (3) menentukan implikasi finansial dari brand equity. (4) formulasi strategi untuk meningkatkan brand equity. (5) studi lacak untuk memonitor terus brand equity dapat dijadikan dasar untuk membuat goal setting.
Menurut Srinivasan (2005) ada tiga anteseden dari brand equity, yakni brand awareness, attribute perceptions, dan nonattribute preference. Ketiga variabel ini mampu meningkatkan brand choice probability yang pada akhirnya brand equity juga meningkat. Data penelitian diambil dari perusahaan sponsor, survei pelanggan, dan para ahli industri. Empat product brand telepon selular terbesar di Korea yang memiliki pangsa pasar total sebesar 90% yang digunakan sebagai objek penelitian adalah Samsung Anycall, LG Freeway, Motorola MicroTac, dan Qualcomm.
Kesimpulan pertama penelitian yang dilakukan oleh Srinivasan et al adalah di antara ketiga anteseden brand equity, brand awareness memiliki kontribusi yang terbesar, diikuti oleh nonattribute preference, dan yang paling kecil kontribusinya adalah attribute perceptions. Kesimpulan kedua, dampak pengaruh brand equity sangat besar atas pangsa pasar suatu produk.

Reference:
1. What Are Brands Good For?. Niraj Dawar. MIT Sloan Management Review, FALL 2004, pp. 31-37.
2. Conceptualizing, Measuring, and Managing Customer-Based Brand Equity. Kevin Lane Keller. Journal of Marketing Vol. 57 (January 1993), 1-22.
3. An Approach to the Measurement, Analysis, and Prediction of Brand Equity and Its Sources. V. Srinivasan, Chan Su Park, Dae Ryun Chang. Management Science, Sept 2005, Vol. 51, No. 9, pp. 1433-1448.

 

Ditulis Oleh : Dewi Maryam (0910223066)

Dosen : Nanang Suryadi

www.nanangsuryadi.web.id

www.nanangsuryadi.lecture.ub.ac.id

www.marcom.lecture.ub.ac.id

Perkembangan Media Komunikasi Pemasaran di Indonesia

2012
03.12


Bauran pemasaran, kombinasi empat komponen yaitu product, price, place,dan promotion, merupakan program pemasaran yang harus diperhatikan oleh suatu perusahaan apabila perusahaan tersebut menginginkan pemasaran yang efektif, yaitu pemasaran yang dapat mendorong terjadinya transaksi. Keempat komponen bauran pemasaran masing-masing memiliki peranan penting dalam pemasaran, namun tiap komponen tersebut tidak dapat berdiri sendiri. Suatu barang atau jasa yang berkualitas bagus, harganya sesuai dengan kualitas barang atau jasa tersebut, mudah ditemui, namun kurang promosi atau program promosinya kurang tepat, kurang dapat mendorong seorang konsumen untuk melakukan pembelian. Hal ini dikarenakan tidak mendukung konsumen untuk mengenal (aware) dan berminat (interest) atas barang atau jasa tersebut.

”However, the promotional program must be part of a viable marketing strategy and be coordinated with other marketing activities” (Belch & Belch, 2004).

Pada hakikatnya, promosi merupakan suatu bentuk komunikasi pemasaran dan promosi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu program pemasaran. Promosi atau komunikasi pemasaran ini dapat dikatakan mampu mempengaruhi kelangsungan hidup suatu perusahaan. Tanpa promosi, konsumen tidak akan mengenal dan atau bahkan mempergunakan produk atau jasa yang ditawarkan suatu perusahaan, baik yang berskala besar, menengah, maupun yang berskala kecil.

Promosi merupakan usaha suatu perusahaan untuk mengkoordinasikan media-media informasi dan persuasi untuk memperkenalkan serta menjual produk, jasa, atau ide mereka (Belch & Belch, 2004). Di sini komunikasi memiliki peran yang cukup penting. Komunikasi adalah alat unik yang digunakan pemasar untuk mempersuasi konsumen agar bertindak sesuai dengan harapannya seperti mengunjungi sebuah toko retail, memilih, melakukan pembelian. Pada konteks pemasaran, komunikasi yang digunakan dalam kegiatan pemasaran merupakan usaha yang terorganisir untuk mempengaruhi dan meyakinkan para pelanggan agar membuat pilihan-pilihan yang cocok dengan keinginan komunikator pemasaran serta sejalan dengan pemuasan kebutuhan pelanggan. Singkatnya komunikasi, dalam hal ini komunikasi pemasaran, adalah jembatan antara pemasar dengan konsumen dan antara konsumen dengan lingkungan sosial budayanya.

Bauran Komunikasi Pemasaran (Promosi)  terdiri atas lima alat komunikasi utama:

    • Periklanan: Semua bentuk penyajian dan promosi nonpersonal atas ide, barang atau jasa yang dilakukan oleh perusahaan sponsor tertentu.
    • Promosi Penjualan: Berbagai insentif jangka pendek untuk mendorong keinginan mencoba atau membeli suatu produk atau jasa.
    • Hubungan masyarakat dan publisitas: Berbagai program untuk mempromosikan dan/atau melindungi citra perusahaan atau masing-masing produknya.
    • Penjualan pribadi: Interaksi langsung dengan satu calon pembeli atau lebih guna melakukan presentasi, menjawab pertanyaan, dan menerima pesanan.
    • Pemasaran langsung: Penggunaan surat, telepon, faksimil, e-mail, dan alat penghubung nonpersonal lain untuk berkomunikasi secara langsung dengan atau mendapatkan tanggapan langsung dari pelanggan dan calon pelanggan tertentu.

Periklanan

Karena banyaknya bentuk dan penggunaan periklanan, sangat sulit untuk membuat generalisasi yang merangkum semuanya. Namun, sifat-sifat berikut dapat diper­hatikan:

  • Presentasi umum: Periklanan yang bersifat umum itu memberikan semacam keab­sahan pada produk dan menyarankan tawaran yang terstandardisasi. Karena banyak orang menerima pesan yang sama, pembeli mengetahui bahwa motif mereka untuk membeli produk tersebut akan dimaklumi oleh umum.
  • Tersebar luas: Periklanan adalah medium yang berdaya sebar luas yang memung­kinkan penjual mengulang pesan berkali-kali. iklan juga memungkinkan pembeli menerima dan membandingkan pesan dari berbagai pesaing. Periklanan berskala besar oleh seorang penjual menyiratkan hal yang positif tentang ukuran., keku­atan, dan keberhasilan penjual.
  • Ekspresi yang lebih kuat: Periklanan memberikan peluang untuk mendramatisasi perusahaan dan produknya melalui penggunaan cetakan, suara, dan warna yang penuh seni.
  • Tidak bersifat pribadi: Audiens tidak merasa wajib untuk memperhatikan atau menanggapi. Iklan hanya mampu melakukan monolog, bukan dialog, dengan audiens.

Promosi Penjualan

Walaupun alat promosi penjualan-kupon, kontes, harga premi, dan sejenisnya­ sangat beragam, semuanya memberikan tiga manfaat yang berbeda:

  • Komunikasi: Promosi penjualan menarik perhatian dan biasanya meinberikan informasi yang dapat mengarahkan konsumen ke produk bersangkutan.
  • Insentif Promosi penjualan menggabungkan sejumlah kebebasan, dorongan, atau kontribusi yang memberi nilai bagi konsumen.
  • Ajakan: Promosi penjualan merupakan ajakan untuk melakukan transaksi pembelian sekarang.

Perusahaan menggunakan alat-alat promosi penjualan itu untuk menciptakan tanggapan yang lebih kuat dan lebih cepat. Promosi penjualan dapat digunakan untuk mendapatkan akibat jangka pendek seperti mendramatisir tawaran produk dan men­dorong penjualan yang lentur.

Hubungan Masyarakat dan Publisitas

Daya tarik hubungan masyarakat dan publisitas didasarkan pada tiga sifat khusus:

  • Kredibilitas yang tinggi: Ceritera dan gambar mengenai beritanya lebih otentik dan dipercaya oleh pembaca dibandingkan dengan iklan.
  • Kemampuan menangkap pembeli yang tidak dibidik sebelumnya: Hubungan masyarakat dapat menjangkau banyak calon pembeli yang cenderung menghin­dari wiraniaga dan iklan.
  • Dramatisasi: Hubungan masyarakat memiliki kemampuan untuk mendramatisasi suatu perusahaan atau produk.

Pemasar cenderung kurang menggunakan hubungan masyarakat; tetapi program hubungan masyarakat yang direncanakan dengan baik dan dikoordinasikan dengar elemen bauran promosi yang lain dapat menjadi sangat efektif.

Penjualan personal

Penjualan personal adalah alat yang paling efektif-biaya pada tahap proses pembeliar lebih lanjut, terutama dalam membangun preferensi, keyakinan, dan tindakan pem­beli. Penjualan personal, memiliki tiga ciri khusus:

  • Konfrontasi personal: Penjualan personal mencakup hubungan yang hidup, lang­sung dan interaktif antara dua orang atau lebih. Masing-masing pihak dapat mengobservasi reaksi dari pihak lain dengan lebih dekat.
  • Mempererat: Penjualan personal memungkinkan timbulnya berbagai jenis hubungar mulai dari hubungan penjualan sampai hubungan persahabatan. Wiraniaga biasa­nya sudah benar-benar mengetahui_ minat pelanggan yang terbaik.
  • Tanggapan: Penjualan personal membuat pembeli merasa berkewajiban untuk mendengarkan pembicaraan wiraniaga.

Pemasaran Langsung

Meski terdapat berbagai bentuk pemasaran langsung-surat langsung, pemasaran jarak jauh, pemasaran elektronik, dan sebagainya-semuanya memiliki empat karakteristik berikut. Pemasaran langsung bersifat:

  • Nonpublik: Pesan biasanya ditujukan kepada orang tertentu.
  • Disesuaikan: Pesan dapat disiapkan untuk menarik orang yang dituju.
  • Terbaru: Pesan dapat disiapkan dengan sangat cepat.
  • Interaktif: Pesan dapat diubah tergantung pada tanggapan orang tersebut

Setiap program atau kegiatan komunikasi pemasaran diimplementasikan, maka akan muncul efek dari tindakan komunikasi itu. Efek tersebut terjadi setelah penerima (receiver) menerima pesan yang telah melalui serangkaian proses. Setiap individu penerima pesan akan mengalami efek yang berbeda-beda, seperti penambahan pengetahuan (dari tidak tahu menjadi tahu informasi mengenai suatu produk atau jasa tertentu), terhibur, perubahan sikap (dari tidak setuju menjadi setuju akan pentingnya menggunakan suatu produk atau jasa tertentu), perubahan keyakinan, perubahan perilaku (dari tidak bersedia membeli barang yang ditawarkan menjadi bersedia membelinya), dan sebagainya. Karena efek itulah, maka para komunikator pemasaran akan mencari strategi tertentu agar komunikasi yang dilakukannya dapat menghasilkan efek yang diinginkan. Seperti yang diungkapkan oleh Deddy Mulyana (2003) bahwa ketika orang-orang berkomunikasi, mereka meramalkan efek perilaku komunikasi mereka. Hal ini berarti, para komunikator pemasaran memilih strategi tertentu dalam menyampaikan pesan mengenai produk atau jasa yang mereka wakili berdasarkan bagaimana para konsumen yang menjadi target market yang menerima pesan akan merespons.

Komunikasi Pemasaran

Komunikasi pemasaran adalah proses manajemen suatu perusahaan untuk melakukan dialog kepada berbagai audiens perusahaan, dengan mengembangkan, menyampaikan, dan mengevaluasi serangkaian pesan kepada kelompok stakeholder yang teridentifikasi (Fill, 1999). Komunikasi pemasaran merupakan proses yang dilakukan oleh perusahaan dalam mengkoordinasikan beberapa elemen promosi dan kegiatan pemasaran lainnya sehingga terjalin komunikasi dengan konsumen perusahaan (Belch & Belch, 2004). Dengan menggunakan marketing communication tools yang tepat, perusahaan selaku komunikator dapat memperkenalkan serta memasarkan barang atau jasanya  kepada konsumen selaku komunikan. Oleh karena itu, perencanaan dan pemilihan marketing communication tools menjadi penting sebab tools tersebut merupakan perantara komunikasi perusahaan dalam memasarkan dan mengenalkan barang atau jasa mereka.

Marketing communication tools yang biasa digunakan oleh pemasaran di antaranya adalah advertising, sales promotion, public relations, personal selling, on-line marketing, dan direct marketing. Untuk mendukung masing-masing tools mencapai tujuan komunikasi pemasaran, pemasar harus benar-benar memikirkan pesan komunikasi pemasaran dan media komunikasi pemasaran untuk menyampaikan pesan tersebut. Perencanaan yang matang dalam perumusan bentuk-bentuk komunikasi pemasaran yang akan digunakan sangat dibutuhkan. Hal ini bertujuan untuk lebih memaksimalkan informasi yang akan disampaikan pada khalayak.

“A similar process takes place for the other elements of the IMC program as objectives are set, an overall strategy is developed, message and media strategies are determined, and steps are taken to implement them” (Belch & Belch, 2004).

Selama bertahun-tahun, bentuk komunikasi pemasaran yang diterapkan di banyak perusahaan lebih didominasi oleh mass-media advertising. Bentuk-bentuk komunikasi pemasaran lainnya seperti sales promotion, direct marketing, dan public relations hanya dilihat sebagai bentuk komunikasi pemasaran bantuan, dimana bentuk-bentuk komunikasi pemasaran tersebut tidak terlihat sebagai satu kesatuan yang seharusnya saling terkoordinasi guna menghasilkan komunikasi yang efektif. Namun pada perkembangannya, perusahaan-perusahaan mulai melihat kebutuhan akan suatu kesatuan bentuk komunikasi pemasaran yang disebut dengan integrated marketing communication (IMC) atau komunikasi pemasaran terpadu (KPT), dimana terdapat koordinasi antara elemen-elemen komunikasi pemasaran dan aktivitas pemasaran lainnya yang akan dikomunikasikan pada konsumen. KPT dilihat sebagai suatu cara untuk mengkoordinasi dan mengatur program komunikasi pemasaran, yang memastikan perusahaan-perusahaan yang menggunakan konsep ini dapat memberikan pesan yang konsisten tentang perusahaan mereka kepada konsumen. Terdapat beberapa definisi KPT. Salah satunya adalah definisi yang diberikan oleh American association of advertising agencies (AAAA). Lembaga ini mendefinisikan sebagai,

“A concept of marketing communications planning that recognizes the added value of a comprehensive plan. Such as a plan evaluates the strategic roles of a variety of communications disciplines – for examples: general advertising, direct response, sales promotion and public relations – and combines these disciplines to provide clarity, consistency, and maximum impact through the seamless integration of messages.” (Belch & Belch, 2004).

Tom Duncan menyatakan komunikasi pemasaran terpadu (KPT) sebagai,

“A process for managing the customer relationships that drive brand value. More specifically, it is across-functional process for creating and nourishing profitable relationship with customers and other stakeholders by strategically controlling or influencing all messages sent to these groups and encouraging data-driven, purposeful dialogue with them.” (Duncan, 2004).

Berdasarkan kedua definisi yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa KPT merupakan sebuah konsep perencanaan komunikasi pemasaran yang memberikan nilai tambah bagi sebuah perencanaan komprehensif, dimana dalam perencanaan tersebut mengkombinasikan berbagai elemen komunikasi pemasaran dengan penyampaian pesan yang terintegrasi sehingga diperoleh dampak yang jelas, konsisten, dan maksimum. Dampak yang dimaksud di sini adalah terbentuknya hubungan dialogis atau dua arah dengan pelanggan dan para stakeholder lain yang dapat meningkatkan nilai sebuah merek.

Dalam konsep KPT, keenam elemen yang ada terintegrasi antara satu dengan lainnya, walaupun tiap elemen memiliki peran masing-masing, dan saling melengkapi guna mencapai hasil yang maksimal yaitu pesan tersampaikan secara jelas, konsisten, dan berpengaruh kuat terhadap perusahaan maupun  produk yang dihasilkan. Setiap elemen dari bauran komunikasi pemasaran yaitu advertising, sales promotion, public relations, personal selling, on-line marketing, dan direct marketing, memang dapat bekerja cukup baik secara mandiri. Namun dampaknya akan jauh lebih hebat jika semua elemen komunikasi tersebut mampu diorkestrakan dalam program yang terkoordinasi. Dengan menggabungkan semua maka perusahaan akan dapat memperoleh beragam bentuk variasi dari kegiatan komunikasi pemasaran.

KPT berkembang dengan pesat ditunjang oleh beberapa alasan dan kebutuhan. Duncan (2002) mengemukakan alasan dasar pengembangan KPT adalah karena adanya peningkatan persaingan merek, maka perusahaan membutuhkan rancangan program komunikasi yang efektif dan efisien untuk membangun hubungan dengan konsumen dan khalayak lainnya, sehingga integrasi menjadi kunci utama dalam komunikasi merek (brand communication). Di sini KPT dipandang mampu membantu perusahaan untuk mengidentifikasi metode yang sesuai dan efektif dalam berkomunikasi atau membangun hubungan dengan konsumen. Beberapa alasan lainnya, seperti terjadinya pergeseran kekuatan pasar yang semula dikuasai produsen beralih ke tangan konsumen, tidak rasionalnya biaya periklanan atau promosi, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, dan globalisasi pasar turut mendorong perkembangan KPT.

Pemikiran sederhana KPT adalah menyamakan persepsi pelanggan, dalam hal ini persepsi mengenai pemahaman terhadap produk atau jasa. Konvergensi penyamaan persepsi ini akan menghasilkan dialog, sehingga memungkinkan produsen mengetahui keinginan konsumen, dan sebaliknya (Prisgunanto, 2006). Di sini KPT muncul sebagai adanya kebutuhan untuk menyesuaikan kebutuhan informasi pelanggan dengan komunikasi pemasaran yang dikoordinasikan. Perlunya kesesuaian ini muncul untuk menghilangkan kesan ‘membludaknya’ anggaran percuma dalam merancang komunikasi pemasaran yang ada.

Pada prakteknya, konsep seperti ini telah diterapkan oleh banyak perusahaan mulai dari perusahaan besar yang memiliki modal cukup besar sehingga memiliki anggaran promosi yang tidak sedikit dalam memperkenalkan produknya, maupun perusahaan-perusahaan kecil dengan budget seminim mungkin untuk berpromosi atau yang di Indonesia lebih dikenal dengan istilah UKM (Usaha Kecil Menengah). Beberapa perusahaan mulai menggunakan pendekatan KPT ini dikarenakan mereka memahami manfaat dari menyatukan bermacam-macam fungsi komunikasi, dalam hal ini alat-alat komunikasi pemasaran, dibandingkan dengan mempergunakan fungsi-fungsi komunikasi tersebut secara otonom.

Bentuk-bentuk Komunikasi Pemasaran Terpadu

Komunikasi pemasaran dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya advertising (iklan), direct marketing, on-line marketing, sales promotion, public relation, personal selling (Fill, 1999). Masing-masing sebagai alat dalam komunikasi pemasaran yang terintegrasi dapat memainkan perannya masing-masing secara berbeda, memiliki keunggulan dan keterbatasan tertentu, sehingga keputusan yang diambil dalam penggunaan cara komunikasi pemasaran tersebut haruslah sesuai dengan peran dan kepentingan tiap bentuk komunikasi pemasaran yang ada untuk dipakai, dan koordinasi antara satu dengan yang lainnya.

Advertising (iklan) merupakan bentuk komunikasi non personal mengenai suatu organisasi atau perusahaan, produk, jasa, maupun gagasan yang telah dibayar oleh sponsor tertentu. Dianggap non personal karena disebarkan melalui media massa dalam skala besar dan dalam satu waktu yang bersamaan, serta kurang memungkinkan untuk dapat direspon langsung oleh konsumen. Sebuah iklan tidak hanya berguna sebatas pada menginformasikan produk atau jasa perusahaan, namun juga berperan dalam mengingatkan, membedakan, dan mempengaruhi pelanggan ataupun calon konsumen akan produk atau jasa suatu perusahaan (Fill, 1999). Melalui iklan, perusahaan dapat berusaha untuk menunjukkan keunggulan atau hal yang membedakannya dari produk atau jasa perusahaan lain, sekaligus membangun kepercayaan konsumen sehingga mereka bersedia untuk menggunakan produk atau jasa yang perusahaan tersebut tawarkan.

Kelemahan dari iklan adalah efek penjualan bentuk komunikasi pemasaran ini tergolong sulit untuk diukur. Kita tidak bisa mengatakan dengan pasti bahwa dengan banyak beriklan maka tingkat penjualan akan semakin tinggi, mengingat adanya faktor-faktor lain dalam pemasaran yang turut berperan yaitu pengembangan produk, harga yang ditawarkan dan saluran distribusi yang digunakan. Selain itu, iklan sendiri mempunyai kredibilitas yang rendah audiens dimana sepertinya kurang percaya pada pesan yang disampaikan dalam iklan dibandingkan pesan melalui bentuk komunikasi pemasaran lainnya.

Namun di sisi lain, iklan memiliki suatu karakteristik yang unggul yaitu memiliki fleksibilitas dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat nasional atau suatu segmen tertentu yang diinginkan. Dengan demikian para pengiklan dapat dengan mudah mengkomunikasikan produknya kepada masyarakat luas walaupun dengan biaya tinggi. Selain itu, bagi perusahaan-perusahaan yang menyediakan produk atau jasanya untuk pasar yang bersifat mass consumer markets dan perusahaan-perusahaan yang memiliki produk atau jasa yang cenderung sulit dibedakan atribut fungsinya seperti sampo, sabun, air mineral, permen, dan minuman soda, iklan menjadi bentuk komunikasi pemasaran yang penting dan mendukung upaya komunikasi yang dilakukan perusahaan-perusahaan tersebut. Hal ini dikarenakan iklan berguna dalam membentuk image suatu brand.

Direct marketing merupakan cara promosi yang menggunakan media yang dapat menghubungkan secara langsung marketers dengan konsumen, seperti direct mail, katalog, telepon, sehingga respon dari konsumen dapat langsung diterima. Jenis media itu disebut sebagai direct response media.

“Peter Bennet defines Direct Marketing as: the total of activities by which the seller, in effecting the exchange of goods and services with the buyer, direct efforts to a target audiences using one or more media……” (Belch & Belch, 2004)

Hal ini memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah, secara langsung, dan personal kepada target pasar sehingga dapat menimbulkan respon bahkan transaksi dalam waktu singkat. Oleh karena itu seringkali direct marketing dipandang sebagai kegiatan komunikasi pemasaran yang memudahkan konsumen untuk berhubungan dengan berkomunikasi langsung dengan pemasar.

Direct marketing melibatkan berbagai macam aktivitas yang tidak terbatas pada pengiriman direct mail dan mail order catalog saja, melainkan juga menggunakan database, direct selling, telemarketing, dan direct response ads melalui direct mail, internet, dan berbagai macam media broadcast dan cetak. Direct response ads di sini adalah iklan di berbagai jenis media yang mencantumkan alamat atau telepon direct marketers atau perusahaan yang bisa dihubungi untuk memperoleh respon langsung. Aktivitas direct marketing merupakan aktivitas yang harus terukur dan sangat sering memanfaatkan media seperti nomor telepon, fax, alamat pos, e-mail, ataupun website yang ditujukan untuk menciptakan dan mendukung hubungan yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak. Perkembangan teknologi atau media dimanfaatkan dalam mendukung upaya menciptakan komunikasi pemasaran yang efektif kepada konsumen atau respon langsung dari konsumen.

Prinsip yang digunakan bentuk komunikasi pemasaran ini adalah prinsip market segmentation dan targeting melebihi bentuk komunikasi pemasaran lainnya. Untuk menjalankan prinsip tersebut, digunakanlah database yang berisi daftar konsumen yang potensial menjadi pasar suatu perusahaan, meliputi penggunaan informasi tertentu mengenai konsumen atau target pasar perusahaan tersebut, sehingga komunikasi pemasaran yang diberikan dapat berjalan efektif dan efisien. Penggunaan database ini dapat dikatakan suatu ciri khas dalam penggunaan direct marketing.

          On-line marketing merupakan cara promosi yang menggunakan media komunikasi dalam dunia maya, yaitu internet. Dengan media tersebut, marketers dapat langsung berhubungan dengan konsumen sekaligus melayani pembelian. Berbeda dengan direct marketing, on-line marketing merupakan alat komunikasi pemasaran dengan memanfaatkan interactive media yang memungkinkan terjadinya pertukaran informasi, dimana masing-masing penggunanya tersebut dapat ikut berpartisipasi dan memodifikasi bentuk dan isi informasi yang mereka terima (Belch & Belch, 2004).

Melalui on-line marketing, perusahaan-perusahaan dapat menciptakan awareness, menyediakan informasi, dan mempengaruhi pasar. Selain itu, dalam beberapa hal, bentuk komunikasi pemasaran ini juga merupakan alat komunikasi pemasaran yang menimbulkan respon langsung, karena memungkinkan para pengguna internet tersebut untuk membeli dan sekaligus berjualan melalui e-commerse.

Sales promotion merupakan cara promosi yang lebih menekankan pada kegiatan penjualan kepada sasaran, baik konsumen maupun distributor agar tercipta penjualan yang langsung dan peningkatan penjualan. Bentuk komunikasi pemasaran ini mempergunakan insentif sebagai kekuatan penjualan yang diharapkan mampu mempersuasi distributor ataupun konsumen agar melakukan pembelian sehingga terjadi penjualan sesegera mungkin. Insentif di sini bisa berupa diskon, contoh produk, kupon, undian dan sebagainya.

Belch dan Belch (2004) menyebutkan beberapa karakteristik sales promotion, yaitu 1) dalam aktivitas ini terdapat penggunaan insentif-insentif; 2) sales promotion dianggap sebagai acceleration tool yaitu sebuah alat komunikasi pemasaran yang dimanfaatkan untuk mempercepat sekaligus memaksimalkan penjualan; dan 3) sales promotion ditujukan pada target pasar tertentu.

Public relations merupakan cara promosi yang berkaitan dengan pandangan publik mengenai suatu produk dan menciptakan atau me-managepublic relations terkait dengan aktivitas manajemen dalam upaya pembentukan sikap dan opini yang dibuat atau disesuaikan dengan stakeholders organisasi atau perusahaan. Public relations berupaya mengembangkan kepentingan dan pengertian publik yang baik mengenai perusahaan sehingga dengan demikian diharapkan juga dapat mendukung komunikasi pemasaran produk atau jasa perusahaan. penerimaan publik, agar publik dapat menerima produk tersebut (Fill, 1999). Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa kegiatan

Pada dasarnya, public relations merupakan suatu fungsi manajemen, dimana terdapat tindakan evaluasi terhadap perilaku publik, kebijakan-kebijakan dan prosedur individu atau organisasi dengan kepentingan publik, dan menghasilkan suatu program dengan harapan dapat memperoleh penerimaan dari publik. Terdapat dua bentuk public relations (PR), yakni corporate public relations (CPR) dan marketing public relations (MPR). CPR merupakan suatu aktivitas PR yang secara utama bertanggung jawab untuk mengidentifikasi petunjuk-petunjuk yang ditampilkan atau mewakili kepentingan stakeholders organisasi yang merupakan bagian dari program komunikasi yang direncanakan tersebut. Kegiatan CPR ditujukan pada mencapai suatu ukuran tertentu atas tingkat pengetahuan akan suatu organisasi, dan perhatian harus difokuskan pada minat, itikad baik, dan sikap yang terbangun pada organisasi. Kegiatan MPR merupakan suatu bentuk dukungan terhadap produk dan menjadi bagian dari perencanaan bauran komunikasi yang mendukung pemasaran produk atau jasa perusahaan (Fill, 1999).

Terkait dengan tanggung jawab PR dalam komunikasi pemasaran suatu perusahaan, kegiatan MPR yang meliputi pemberian informasi dan edukasi memiliki peran penting yaitu berupaya memperoleh pengertian, membangun kepercayaan, memberikan konsumen alasan untuk membeli, dan memperoleh penerimaan konsumen atas produk atau jasa perusahaan tersebut. Sehingga segala macam kegiatan PR dalam MPR ditujukan untuk mendukung upaya komunikasi pemasaran perusahaan. Salah satu teknik yang dipergunakan adalah publisitas. Melalui publisitas diharapkan mampu mempengaruhi opini publik untuk menerima suatu organisasi atau perusahaan dan produk atau jasa yang ditawarkannya, karena publisitas terkait dengan penciptaan citra baik bagi perusahaan ataupun produk/jasa yang mereka tawarkan.

Personal selling merupakan cara promosi tatap muka yang memungkinkan konsumen dapat berinteraksi dengan marketer secara langsung agar tercipta penjualan. Melalui personal selling, penjual berusaha untuk mempengaruhi target pasar untuk melakukan pembelian terhadap produk atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan. Di sini terjadi komunikasi yang bersifat diadik yang memungkinkan komunikasi bisa lebih bersifat personal dibandingkan bentuk komunikasi pemasaran lainnya, sehingga perlu keluwesan dalam menyampaikan pesan melalui suatu peragaan atau demonstrasi produk atau pun melalui ajakan berupa undangan untuk mencoba jasa yang ditawarkan.

Adapun media komunikasi pemasaran yang bisa digunakan berasal dari media cetak, seperti koran dan katalog, dan elektronik, seperti televisi dan radio. Seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi, media komunikasi pemasaran juga berkembang. Media komunikasi pemasaran yang dapat diidentifikasi adalah broadcast, print/cetak, outdoor, media baru, in-store, dan media lain. Sebagai contoh media yang mulai digemari pemasar dewasa ini untuk melakukan kegiatan komunikasi pemasaran adalah telepon seluler dengan fitur layanan SMS-nya. Telepon seluler memungkinkan komunikasi yang dekat antara pihak pemasar dengan konsumen sehingga dapat menjadi media yang baik untuk kegiatan direct marketing.

Komunikasi Pemasaran Terpadu UKM di Indonesia

Organisasi berskala kecil biasanya memiliki jumlah tenaga kerja yang sedikit, dikarenakan pangsa pasar yang barang kali juga masih sedikit serta jumlah penjualan dan produksi yang juga sedikit.  Sebagai suatu usaha yang berperan penting dalam pengembangan usaha di Indonesia, selama ini para pengusaha perusahaan berskala kecil dan menengah, atau lebih dikenal pengusaha UKM (Usaha Kecil Menengah), belum secara maksimal mempromosikan produknya, baik itu melalui media koran, majalah maupun pameran-pameran yang diadakan baik oleh pemerintah, BUMN maupun pihak swasta (“UKM Online Indonesia”, 2007). Dalam data BPPKU (Badan Promosi Pengelola Keterkaitan Usaha), tahun 2007 pun menunjukkan bahwa seluruh UKM yang ada di Jawa, sekitar 40% di antaranya mengalami kesulitan dalam pemasaran produk (Auliana, 2007). Selain dikarenakan memiliki pangsa pasar yang tergolong sedikit, secara umum UKM mengalami kendala pada keterbatasan dalam mengakses pasar. Kemampuan promosi yang sangat minim tersebut disebabkan oleh ketiadaan biaya (Siagian & Irawan, 2003)

Dengan jumlah tenaga kerja, pangsa pasar, serta produksi yang tergolong minim terlihat bahwa UKM memiliki keterbatasan dari berbagai aspek khususnya dana. Akan tetapi UKM tetap berusaha untuk bertahan dan tetap berproduksi. Karena terkendala dana yang minim, kemampuan untuk mempromosikan produknya juga sangat minim. Oleh sebab itu UKM membutuhkan upaya komunikasi pemasaran tertentu yang disesuaikan dengan kemampuan dana, seperti membuat iklan yang ditempelkan pada pohon dan tiang listrik. Namun demikian ada beberapa produk perusahaan berskala kecil dengan target pasar tidak hanya lokal maupun regional melainkan nasional, sehingga mengharuskan perusahaan tersebut untuk melakukan komunikasi pemasaran yang efektif dengan budget yang minimum.

Keterbatasan dana dalam komunikasi pemasaran menyebabkan usaha-usaha dari kalangan UKM sering kali mengalami hambatan dalam menjangkau konsumen yang lebih luas, seperti halnya yang mampu dilakukan oleh perusahaan berskala besar. Perusahaan berskala kecil menggunakan upaya komunikasi pemasaran yang masih sederhana melalui komunikasi pemasaran ‘getok tular’ (Irfani, 2005). Menurut hasil survei Bappenas (2003) terhadap UKM di Jawa, strategi dari mulut ke mulut merupakan alat promosi yang jitu atau banyak diandalkan komunitas bisnis setempat. Seperti halnya di Jawa Timur, 91% UKM tersebut mengandalkan propaganda dari mulut ke mulut.

Komunikasi pemasaran word of mouth terasa mendominasi dalam UKM karena merupakan suatu komunikasi pemasaran yang tidak mempergunakan biaya besar seperti halnya iklan. Hal tersebut dikarenakan komunikasi pemasaran tergantung pada penyebaran informasi dari seseorang kepada yang lain. Dalam hal ini, cerita positif antara seorang konsumen ke calon konsumen lainnya menjadi kekuatan bagi komunikasi word of mouth yang secara dominan dipergunakan oleh UKM tersebut.

Terlepas dari keterbatasan UKM dalam melakukan komunikasi pemasaran, sehingga word of mouth tampak mendominasi dalam komunikasi pemasaran UKM tersebut, UKM kerap kali melakukan upaya komunikasi lainnya. Upaya komunikasi pemasaran tersebut tentu dengan mempertimbangkan dana yang mereka miliki.

Banyak usaha kecil teridentifikasi mempergunakan iklan sebagai bentuk komunikasi pemasaran seperti halnya perusahaan besar. Tidak sedikit perusahaan berskala kecil, seperti halnya penjual ban bekas, rental mobil, dan biro jasa pembuatan izin usaha berhasil melakukan komunikasi pemasaran dengan memasang iklan baris di media cetak yang tepat. Di samping itu, usaha kecil kerap kali memasang iklan yang ditempel pada pohon di jalanan, seperti iklan sedot WC, servis elektronik, pemasangan antena TV, “guru datang ke rumah”, badut pesta, dan sebagainya. Tidak hanya itu, penggunaan sales promotion dengan memberikan harga diskon pada hari-hari tertentu, seperti halnya hari raya ataupun tahun baru, sekarang bukan hanya dilakukan perusahaan berskala besar, seperti halnya supermarket. Lembaga kursus kecil, mini market, usaha sedot WC, servis AC, atau usaha skala rumah tangga lain pun sudah terbiasa melakukan penjualan harga diskon.

Selain iklan dan sales promotion tersebut, kadang kala usaha kecil dapat melakukan komunikasi pemasaran dengan publikasi melalui radio. Biasanya radio bisnis lokal memiliki acara yang menyangkut usaha kecil, seperti acara obrolan bisnis di radio Bahana 101,8 FM Jakarta atau bincang bisnis selingkar di radio Elgangga 100,3 FM, dimana pada acara tersebut pengusaha kecil kadang mendapatkan undangan untuk berbicara seputar pengalaman usahanya tanpa dipungut biaya (Mitrausaha, 2007). Publikasi melalui radio tersebut dapat berfungsi sebagai komunikasi pemasaran usaha kecil.

Berbagai bentuk komunikasi pemasaran tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan keterbatasan dana yang dimiliki. Sehingga, bentuk komunikasi pemasaran yang dilakukan UKM ini terbilang sederhana atau masih terbatas oleh kendala ketersediaan dana.

Pada perkembangannya, kendala yang dialami oleh UKM dalam upaya komunikasi pemasaran dapat terjawab, yaitu dengan kehadiran teknologi informasi melalui media internet sebagai upaya menjangkau konsumen. Hal tersebut ditandai oleh bermunculannya website-website bagi UKM yang diselenggarakan oleh organisasi UKM ataupun lembaga yang terkait dengan UKM guna melakukan komunikasi pemasaran terhadap produk ataupun jasa yang dimiliki. Website-website tersebut antara lain seperti www.smecda.com dan www.sme-center.com. Namun tidak sedikit pula terdapat UKM yang memiliki website sendiri dalam menjalankan usahanya (Siagian & Irawan, 2003).

Penggunaan internet bagi pelaku UKM di Indonesia bisa dilihat melalui hasil survei yang dilakukan oleh Asia Foundation dan Castle Asia terhadap 227 usaha kecil dan menengah pada tahun 2002. Hasil survei menunjukkan bahwa 158 usaha atau 69,9% sudah menggunakan internet dan sebagian besar dipergunakan UKM-UKM tersebut untuk berhubungan dengan pembeli dari luar negeri (Hermana, 2007). Hal tersebut semakin mendukung potensi penggunaan internet bagi komunikasi pemasaran UKM di Indonesia.

Secara umum, ketika mengamati bentuk-bentuk komunikasi pemasaran yang dilakukan perusahaan berskala kecil dan menengah, keterbatasan dana tetap terlihat. Perusahaan-perusahaan itu tetap saja tidak dapat secara maksimal melakukan komunikasi pemasaran akibat keterbatasan dana. Hal ini membuat  mereka cenderung memanfaatkan hal-hal yang mampu mereka lakukan seperti pemberian diskon, iklan baris, ataupun undangan publikasi melalui radio. Pemanfaatan tersebut tanpa disadari memperlihatkan penggunaan konsep komunikasi pemasaran terpadu dalam usaha komunikasi pemasaran yang dilakukannya, dimana beberapa elemen dalam bauran komunikasi pemasaran diintegrasikan antara satu dengan lainnya dalam sehingga dampak yang diperoleh menjadi lebih besar. Namun bila diamati lebih jauh lagi, pengintegrasian tersebut dilakukan secara reaktif terhadap kebutuhan dan kesempatan yang ada, bukan dilakukan sebagai suatu program terkoordinasi yang telah direncanakan sebelumnya baik dari segi implementasinya di lapangan maupun evaluasi kegiatan. Tidak ditemui adanya ukuran tingkat keberhasilan pada kegiatan komunikasi pemasaran tersebut.

Hal tersebut di atas bisa saja dianggap wajar terjadi, mengingat perusahaan berskala besar di Indonesia pun banyak yang belum menerapkan komunikasi pemasaran terpadu dengan sesungguhnya. Berdasarkan hasil penelitian dalam tesis yang dilakukan oleh tiga mahasiswa program pascasarjana departemen ilmu komunikasi FISIP UI yaitu: 1) Hifni Alifahmi (1996) dengan studi mengenai keintegrasian dalam komunikasi pemasaran pada PT. Indofood Sukses Makmur Tbk; 2) Helpris Estaswara (2007) tentang implementasi IMC dalam bisnis terhadap kelompok profesi; dan 3) Sunarto Prayitno (2008) tentang implikasi model IMC pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, pada intinya memberikan gambaran bahwa masih ada perdebatan dan belum adanya kesepakatan dari para profesional pelaku bisnis di industry komunikasi pemasaran tentang IMC sebagai suatu bentuk “proses bisnis yang strategis” (Prayitno, 2009).

Namun, selalu terdapat devisiasi yang menunjukkan adanya pengecualian. Tidak semua perusahaan UKM melakukan kegiatan komunikasi pemasaran terpadu tanpa menyadari esensi yang terkandung di dalamnya. Hasil penelitian Aldyna Rozan Damping (2008) mengenai bentuk-bentuk komunikasi pemasaran audio lab Sidoarjo memperlihatkan bagaimana perusahaan itu mengkombinasikan bentuk-bentuk komunikasi pemasaran yang ada untuk suatu tujuan yaitu mengkomunikasikan jasa yang ditawarkan audio lab kepada konsumen. Upaya penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan audio lab dan tanggapan konsumen ketika menerima pesan yang disampaikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Belch, G.E. & Belch, M.A. (2004) Advertising and Promotion: An Integrated Marketing Communication Perspective. Boston: McGraw Hill-Irwin.

Damping, A.R. (2008)  Bentuk-bentuk Komunikasi Pemasaran Audio Lab Sidoarjo. Skripsi, Universitas Airlangga, Surabaya.

Duncan, T. (2002) IMC: Using Advertising and Promotion to Build Brands. New York: McGraw Hill.

Fill, C. (1999) Marketing Communications: Contexts, Contents, and Strategies. Herthfordshire: Prentice Hall.

Hermana, B. (2007) Internet untuk Usaha Kecil, Kenapa Tidak? [Diakses 28 November 2007]. http://nustaffside.gunadarma.ac.id.

Manurung, A.H. (2006) Wirausaha: Bisnis UKM (Usaha Kecil Menengah). Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Mileniawati, P. (2006) Apa itu SME (Small to Medium Enterprise)?. [Diakses 28 November 2007]. http://sony-ak.com/articles/6/what_is_sme.php.

Mulyana, D. (2003) Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Prayitno, S. (2009) Implementasi Komunikasi Pemasaran Terpadu (IMC) di Indonesia. Dalam: Ida, dkk (eds). Transformasi Industri Media dan Komunikasi di Indonesia. Surabaya: Departemen Komunikasi FISIP Universitas Airlangga.

Prisgunanto, I. (2006) Komunikasi Pemasaran. Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia.

Siagian, N. & Irawan, G. (2003) Saatnya UKM Memanfaatkan Internet untuk Merambah Pasar.  [Diakses  28 November 2007].

http://sinarharapan.co.id/ekonomi/usaha/2003/.ukm1.html.

Sule, E. T. & Saefullah, K. (2005) Pengantar Manajemen. Jakarta: Prenada Media.

 

 

Ditulis oleh : Dewi Maryam

Nim : 0910223066

Dosen : Nanang Suryadi

www.nanangsuryadi.web.id

www.nanangsuryadi.lecture.ub.ac.id

www.marcom.lecture.ub.ac.id

i

 

Penggunaan Internet Sebagai Media Komunikasi Pemasaran

2012
03.12

Peranan internet dalam dunia pemasaran sudah sangat besar dan berpengaruh pada tingkat penjualan produk barang maupun jasanya. Dalam hal ini internet memegang peranan sebagai media penyampaian pesan dari perusahaan/marketers kepada konsumen secara luas. Pemasaran menggunakan internet memiliki beberapa perbedaan dibandingkan dengan menggunakan media massa, diantaranya:

a. Internet marketing lebih menekankan pada konsep pull medium daripada push medium. Pada umumnya, informasi mengenai produk disediakan oleh sang produsen kepada konsumen. Hal inilah yang disebut mekanisme ‘push medium. Sedangkan, era internet membuat konsumennyalah yang berinisiatif untuk mencari tahu sendiri informasi mengenai produk yang bersangkutan lewat dunia maya. Inilah yang dinamakan mekanisme ‘pull medium’.

b. Internet sebagai media digital memungkinkan terjadinya interaksi. Misalkan seorang pembeli ingin memesan produk melalui sebuah website, kemudian memungkinkan supplier untuk menghubungi sang pembeli melalui telepon ataupun email untuk menanyakan lebih lanjut dan lebih spesifik mengenai ketertarikannya pada produk yang terkait.

c. Internet marketing berpotensial untuk one-to-one atau many-to-many dibandingkan dengan one-to-many seperti pada media masa umumnya. Oleh karena itu, dengan mempergunakan internet marketing, hubungan perusahaan/marketer dengan konsumen menjadi lebih personal dan berbeda antara konsumen yang satu dengan yang lainnya. Media tidak lagi menjadi perantara produsen dengan konsumen melainkan konsumen lah yang dapat berinteraksi dengan media itu sendiri. Bahkan menurut Hoffman dan Novak, konsumen pun dapat mengambil peran dalam spesifikasi desain produk dan memberikan tanggapan atas produk-produk yang telah keluar.

d. Media dapat mengubah standar komunikasi pemasaran. Web site sebagai salah satu media internet marketing dapat memiliki fungsi yang sama seperti iklan di media masa yang memberikan informasi dan persuasi namun ia juga bisa mengambil peran dari direct selling yang memungkinkan pengunjung terlibat dalam dialog.

e. Perubahan saluran distribusi dan marketplace oleh media digital. Melalui web batasan-batasan keluar maupun masuk perusahaan semakin kecil.
Terdapat tiga elemen yang mempengaruhi keefektivan dari internet marketing, yaitu: encoding, noise, dan decoding. Encoding yaitu perancangan dan pengembangan konten dari website atau media internet lain. Semua pesan tergantung pada pemahaman dari target audience-nya. Noise merupakan pengaruh eksternal yang mempengaruhi kualitas pesannya. Sedangkan, decoding adalah proses menginterpretasikan pesan yang tergantung dari kemampuan kognisi dari penerima pesannya dan juga dipengaruhi dari lamanya waktu penggunaan internet.

Sebenarnya, penggunaan internet ini tidak bisa menjangkau konsumen secara keseluruhan. Maksudnya, tidak semua masyarakat menggunakan internet dalam kesehariaannya. Dalam studi kasus di United Kingdom, 72% orang menggunakan internet untuk mengirimkan email, 63% pengguna internet untuk melakukan riset, 58% untuk pendidikan, dan 53% orang menggunakan internet untuk mencari informasi mengenai produk barang atau jasa. Disamping itu, masyarakat pengguna internet memiliki caranya tersendiri dan tendensi yang berbeda-beda dalam menanggapi iklan. Oleh karena itu, marketers harus cerdas dalam menggunakan media ini. Maka, website harus mencakup konsep 6C agar website yang dibuat bisa efektif dalam mendukung komunikasi pemasaran. 6C tersebut mencakup Capture, Content, Community, Commerce, Costumer Orientation, dan Credibility. Capture menggunakan promosi online dan offline untuk memastikan agar pembeli mengunjungi website itu lagi. Cara yang dilakukan yaitu dengan memperhatikan bagaimana cara-cara promosi yang dilakukan dan memastikan website itu dilokasikan melalui search engine dengan mudah ketika kata kuncinya dimasukkan. Content menyediakan konten interaktif untuk membantu menjaring pembeli yang lebih banyak lagi. Community memfasilitasi adanya dialog antara kelompok pembeli dan membantu mendapatkan pembeli. Content inilah yang paling penting dalam sebuah website, content dapat mengandung nilai yang menjaga agar pembeli tidak lari. Customer memungkinkan adanya segmentasi konten untuk pembeli dengan tipe yang berbeda. Dan yang terakhir adalah credibility yang berfungsi membangun reputasi perusahaan agar dipercaya untuk diajak bekerjasama karena persaingan dalam dunia maya juga sangat tinggi. Hal ini dapat dilakukan dengan identitas brand yang berkualitas tinggi serta pemberian informasi mengenai perusahaan yang bersangkutan. Perlu diperhatikan pula bahwa website yang dibuat harus menarik, harus melibatkan minat serta partisipasi penggunanya, dan harus dapat menahan penggunanya agar kembali mengunjungi website itu kembali.

Perbedaan mendasar antara media komunikasi baru ini dengan media tradisional ada empat menurut Apaeters (1998), antara lain: communication style yang berubah; social presence atau komunikasi yang terjalin lebih sociable, hangat, personal dan aktif; konsumen memiliki kontrol terhadap kontak dan konsumen juga punya kontrol terhadap isi/kontennya. Sekarang ini, konsumen juga bisa berinteraksi dengan media, misalnya ketika pembeli melihat iklan di televisi, mereka harus menghubungi lebih lanjut untuk mengetahui secara spesifik produk yang ingin dibeli tetapi melalui internet interaksi menjadi lebih mudah karena dapat direspon secara langsung oleh pembeli dan dijawab secara langsung pula oleh marketers.

Pada masa sekarang ini internet marketing juga telah berkembang dari yang hanya komunikasi satu arah menjadi dua arah antara pengirim pesan dan penerima pesan. Disinilah dunia pemasaran kita telah memasuki era yang lebih baru lagi yang biasa dikenal dengan ‘Interactive Marketing’. Konsep-konsep yang dipelajari dalam interactive marketing berbeda dengan media sebelumnya, dimana semakin melibatkan konsumen juga dalam penentuan pesannya serta menjalin hubungan dengan lebih personal dengan konsumen.

 

 

Penggunaan Internet di Indonesia

Banjarmasin (ANTARA News) – Pengguna Internet di Indonesia hingga saat ini mencapai 48 juta orang dan diprediksi pada 2015 akan terjadi lonjakan menjadi 100 juta pengguna. Staf Ahli Bidang Komunikasi dan Media Massa Kementerian Komunikasi dan Informatika Henry Subiakto di Banjarmasin Rabu mengatakan, khusus pengguna Internet wilayah Jakarta ditetapkan sebagai pengguna Internet dan Twitter terbesar di Asia.

Tingginya pengguna Internet di Indonesia tersebut membawa dampak positif dan negatif bagi kemajuan ekonomi dan pengetahuan masyarakat. “Jumlah pengguna Internet yang cukup besar tersebut berdampak positif bagi kemajuan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat tetapi juga bisa berdampak negatif,” katanya.

Menurut Henry saat memaparkan tentang Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) di Hotel “A” Banjarmasin, dengan Internet masyarakat bisa mengetahui berbagai informasi dari seluruh dunia. Selain itu, berbagai hal mulai dari pemasaran bahkan informasi tentang kesehatan dengan mudah bisa diketahui melalui jaringan Internet dengan mudah dan murah. Sisi negatifnya, kata dia, akan berpengaruh buruk bila dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak berguna misalnya hanya untuk melihat situs porno. Selain Internet, saat ini pengguna handphone di Indonesia juga mengalami lonjakan luar biasa yaitu mencapai 185 juta pengguna, hal tersebut terjadi karena tarif pulsa di Indonesia merupakan tarif termurah di dunia.

Pada 2005, kata Henry, tarif pulsa telepon di Indonesia merupakan tarif termahal di dunia, namun kini menjadi negara dengan tarif pulsa paling murah. Hal tersebut tentu menjadi hal yang sangat menguntungkan bagi masyarakat, sehingga wajar bila hampir semua orang mulai dari kalangan elit hingga masyarakat bawah telah memanfaatkan handphone.

Gubernur Kalsel Rudy Ariffin mengatakan, perkembangan alat komunikasi saat ini sangat dirasakan dampaknya. Bahkan tukang ojek hingga petani, selalu memegang ponsel dan sewaktu-waktu bisa dengan mudah melakukan komunikasi dengan sanak keluarganya. “Tidak sedikit petani di sawah kini berteleponan dengan keluarganya bukan hanya yang ada di Indoenesia tetapi juga bisa jadi yang ada luar negeri,” katanya. Memaksimalkan fungsi layanan komunikasi tersebut Pemerintah pusat melalui Kementerian Informasi dan Komunikasi sedang membangun jaringan untuk menjaga dan mempererat persatuan dan kesatuan melalui Pusat Layanan Internet Kecamatan atau PLIK.

 

Penggunaan Internet di Dunia

Di jaman sekarang,masyarakat mengalami perubahan yang sangat cepat. Jenis kebutuhan juga cenderung cepat berubah, demikian pula cara memenuhi kebutuhan.ada hal yang mendorong dan menciptakan perubahan,hal tersebut adalah teknologi. Teknologi dapat kita temukan dimana saja baik komputer maupun telpon seluler bahkan sekarang teknologi dapat kita temukan di internet. Pada 2007, sekitar 31,5 juta orang Indonesia menggunakan internet. Rata-rata tumbuh lebih tiga juta pengguna internet tiap tahun dalam 10 tahun terakhir. Pengguna internet di Singapura tumbuh 68 persen tapi jumlah pengguna hanya 2,4 juta. Pengguna internet di Indonesia hanya tumbuh 8,9 persen tapi mencapai 20 juta orang.

Pengguna internet itu berusia 10-39 tahun. Mereka bersentuhan dengan internet di kafe, sekolah atau kampus, tempat kerja, dan rumah. Sampai dengan 20 tahun ke depan, generasi internet inilah yang akan mewarnai Indonesia.( internetworldstats.com)

Pada 2007, dapatlah dikatakan bahwa jumlah pengguna internet merupakan sisi Indonesia yang membanggakan. Penetrasinya memang masih rendah, hanya 8,5 persen dari total populasi, jauh tertinggal dari bangsa-bangsa maju seperti Jepang (68,7 persen) atau Malaysia (60 persen).

Tapi dibanding India, salah satu raksasa ekonomi dunia, penetrasi Indonesia lebih baik. Asia merupakan kawasan pengguna internet terbesar di dunia, 510 juta, mengalahkan Eropa dan Amerika Utara. Dari segi jumlah, pengguna internet Indonesia merupakan ketiga terbesar di Asia setelah Jepang dan Cina.
Jumlah 31,5 juta pengguna internet di Indonesia memang bukan jumlah yang sedikit. Jumlah itu jauh lebih besar dari seluruh penduduk satu benua Australia. Juga lebih besar dari gabungan antara penduduk Malaysia dan Singapura.( internetworldstats.com)

Saat ini di semua tempat terdapat fasilitas hotspot, mulai dari pusat perbelanjaan, hotel, rumah makan, cafe bahkan kampus. Makin banyaknya fasilitas hotspot diberbagai tempat dikarenakan  infrastruktur untuk tersedia nya internet semakin hari akan semakin mudah dan murah.

Pengguna Internet di dunia:

1.1463632361 Jumlah pengguna Internet di seluruh dunia (Juni 2008).

2.578.538.257 pengguna Internet di Asia

3.384.633.765 pengguna Internet di Eropa.

4.248241969 pengguna Internet di Amerika Utara.

5.139009209 pengguna Internet di Amerika Latin / Karibia.

6.51.065.630 pengguna Internet di Afrika

7.41939200 pengguna Internet di Timur Tengah.

8.20204331 pengguna Internet di Oseania / Australia.

(Dari  data Internet World Stats)

Dilihat dari data di atas, pengguna internet di Asia mayoritas warga indonesia hal ini menyebabkan Indonesia menjadi pangsa pasar netter yang sangat potensial. Semakin cepatnya perubahan yang dialami masyarakat dan pemenuhan kebutuhan juga semakin cepat maka diperlukan informasi yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat  yang cepat tersebut. Oleh karena itu penggunaan internet semakin lama akan semakin dibutuhkan oleh masyarakat.

Menurut survei Gartner, dari 4770 pengguna Internet di seluruh 18 negara, tiga wilayah, tiga tingkat pendidikan, dan tiga tingkat pendapatan, kebanyakan orang menggunakan Internet hanya untuk email dan pencarian, sedangkan peringkat ketiga perbankan online.Selain itu, penjualan online pengecer hanya 2,2% dari jumlah barang yang dijual di AS pada tahun 2005. Analis memperkirakan bahwa  pada tahun 2011, online ecommerce penjualan akan account hanya 7%. Jadi, Internet adalah jauh dari mencapai potensinya karena keengganan konsumen untuk terlibat dalam penggunaannya.

Kurangnya kepercayaan adalah pencegah penting. Ini adalah salah satu persyaratan mendasar untuk membangun pertukaran online hubungan. Sejak medium transaksi adalah sebuah situs web, persepsi konsumen teknologi juga mempengaruhi penggunaannya.Penelitian sebelumnya, bagaimanapun, tidak diperiksa dampak kepercayaan, atribut teknologi, dan niat pada pengembangan hubungan pelanggan. Dalam rangka mengembangkan dan mempertahankan pelanggan setia, ecommerce perusahaan harus membangun hubungan baik dengan konsumen mereka untuk jangka panjang reksa manfaat.

Oleh karena itu, model terpadu dikembangkan untuk membantu dalam pemahaman kepercayaan dalam konteks pertukaran Internet diaktifkan hubungan dengan konsumen. Internet saat ini memainkan peran penting sebagai pelaku ness menengah.Lebih dari sepertiga warga AS menggunakan Inter bersih dan hampir 40% menggunakannya sebagai media bisnis, yang disebut perdagangan elektronik (ecommerce) ( Eastin, 2002 ).Karena ini persentase terus meningkat, sehingga tidak perlu untuk memahami mengapa dan bagaimana pengguna memilih untuk mengadopsi itu sebagai gantinya saluran offline, yang membantu peneliti dan ecommerce penyedia layanan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana untuk memfasilitasi masa adopsi e-commerce.

Ecommerce didefinisikan dalam banyak cara sesuai dengan konteks penelitian dan keadaan tetapi kita akan fokus pada bisnis ke pelanggan ecommerce dan mengadopsi definisi oleh Grandon dan Pearson (2004) : proses membeli dan menjual produk atau jasa dengan menggunakan transmisi data elektronik melalui internet dan www.Menurut definisi, ecommerce menyediakan banyak manfaat untuk kedua penjual dan pembeli dan karena ini Advantages dari model bisnis online selama tradisional pengecer fisik, harapan pada ecommerce meningkat.Bagaimanapun, masalah yang ada di meskipun beberapa perusahaan telah berhasil mencapai peningkatan efisiensi operasional dan keuangan revenue dengan mengintegrasikan ecommerce ke dalam rantai nilai mereka dengan temperatur yang ities ( Brynjolfsson & Kahin, 2000 ), tidak semua perusahaan telah seragam berhasil ( Barua & Mukhopadhyay, 2000 ).Hal ini diperlukan untuk menentukan kondisi yang tepat untuk mengadopsi ecommerce danfaktor yang memfasilitasi atau menghambat mereka dalam melakukan migrasi dari saluran fisik tradisional ke Internet ( Teo, Wei, & Benbasat, 2003 ).

Akibatnya, penelitian berkelanjutan telah dilakukan untuk menyelidiki mengapa beberapa perusahaan telah berhasil lebih dari yang lain.Studi mempertimbangkan mikro, meso, dan isuisu makro di bawah berdiri keberhasilan atau adopsi ecommerce.Pertama, studi di tingkat makro menekankan pengaruh faktor lingkungan seperti budaya atau geografis pada aspek membangun struktur sebagai penentu utama dari ecommerce adopsi.Untuk Misalnya, Teo dan Ranganathan (2004) memeriksa beberapa faktor lingkungan yang memfasilitasi adopsi ecommerce dengan mengidentifikasi perbedaan utama antara ecommerce perusahaan dan perusahaan offline tradisional.

Globalisasi dan teknologi informasi (TI) yang radikal mengubah wajah bisnis dan organisasi.IT sedang diadopsi dan dimasukkan ke dalam hampir semua organisasi, yang telah berinvestasi di TI infrastruktur untuk keberhasilan keseluruhan bisnis mereka.Ada minat dalam penggunaan elektronik commerce (EC) sebagai sarana untuk melakukan bisnis transaksi.

Untuk banyak bisnis, telah menjadi prioritas.Dengan menggunakan EC, perusahaan dapat berhubungan dengan mitra dagang mereka dengan tepat pada waktunya.Tidak dapat diterima secara universal definisi EC.Namun, dalam penelitian ini, kita mengikuti definisi yang diberikan oleh Kalakota dan Whinston didasarkan pada berikut ini: Dari perspektif komunikasi, EC adalah pengiriman informasi, produk/layanan, atau membaya melalui saluran telepon, jaringan komputer, atau cara lain.

Dari perspektif proses bisnis, EC adalah penerapan teknologi menuju otomatisasi transaksi bisnis dan alur kerja.Dari perspektif layanan, EC adalah alat yang digunakan untuk keinginan perusahaan, konsumen.Dari perspektif online, EC menyediakan topi yang mampu membeli dan menjual produk dan informasi di Internet dan layanan online lainnya.EC adalah area yang menarik untuk penelitian, karena sifatnya relatif baru dan meledak pertumbuhan.

Perubahan ini mengubah cara di mana setiap perusahaan memperoleh kekayaan dan menciptakan pemegang saham nilai.Segudang komputasi yang kuat dan komunikasi teknologi yang memungkinkan organisasi untuk dapat merampingkan proses bisnis mereka, meningkatkan layanan pelanggan dan menawarkan produkproduk digital dan jasa.Pergeseran dalam pemasaran yang mendasari kekuatan pendorong yang memikat banyak organisasi untuk merangkul ecommerce.Namun, seperti mereka belajar, organisasi harus melanjutkan dengan hatihati sebagai jalan untuk tumbuhnya ecommerce teknologi, informasi, dan perilaku konsumen.Demikian pula perusahaan, menetapkan bahwa dapat dilihat ecommerce saling berhubungan dengan bisnis mereka.

Meskipun internet awalnya dirancang untuk sektor publik, sektor swasta yang tampaknya yang paling aktif mengeksplorasi dan mengeksploitasi potensinya.Semakin banyak organisasi yang menggunakan Internet sebagai media pemasaran untuk berkomunikasi dengan global yang lebih luas, sementara juga menciptakan hubungan yang lebih erat dengan keyakinan kepada masingmasing pelanggan.Keuntungan dari fenomena elektronik yaitu jelas, akses mudah, hambatan masuk rendah, kemampuan untuk berkomunikasi sejumlah besar informasi, biaya dan perawatan yang murah.Informasi evaluasi teknologi adalah sebuah proses untuk menilai kontribusi informasi sistem investasi.

Sebagai contoh, Willcocks (1992) sistem evaluasi sebagai proses pembentukan oleh kuantitasteknik dan atau kualitatif nilai IS / IT proyek kepada organisasi.Dalam hal waktu dari evaluasi, disarankan bahwa ada dua titik utama di kontribusi yang dievaluasidilakukan sebelum pembangunan sistem, untuk membenarkan investasi, dan kemudian evaluasi dilakukan dalam pelaksanaan berikut,Kecepatan perkembangan informasi dan teknologi komunikasi telah secara substansial mengubah lanskap organisasi computing.

Perdagangan elektronik (Ecommerce), termasuk Berbasis web commerce, mobile commerce (Mcom saling berhubungan) dan di manamana commerce (Ucommerce), didasarkan tidak hanya pada perkembangan yang berkaitan dengan senyawa internet, tetapi juga pada sebelum technologis dan organisasi inovasi yang timbul dari kombinasi telekomunikasi dan komputasi organisasi.Dalam dekade terakhir, Ecommerce melalui Internet (yaitu, berbasis web comsaling berhubungan) telah secara substansial mempengaruhi bisnis dunia dan akan terus menjadi penting.Dalam organisasi modern, pengetahuan adalah fundamental dari dasar, dan informasi teknologi (TI) adalah suatu keharusan.Penting untuk mengelola pengetahuan.

Dalam konteks terbaru, dua faktor utama menentukan kelangsungan hidup masa depan atau keberhasilan organisasi: perdagangan elektronik dan pengetahuan dari pelanggan, Mendorong adopsi ecommerce dan penggunaan internet sebagai platform untuk akses dan mengumpulkan pengetahuan yang penting dari pelanggan.Dalam kata lain, keberhasilan ecommerce semakin tergantung pada manajemen pengetahuan.

Pelanggan Manajemen Pengetahuan (CKM) adalah pengetahuan (KM) instrumen manajemen dan teknik untuk mendukung pertukaran pengetahuan antara suatu perusahaan dan pelanggannya, Memungkinkan perusahaan untuk membuat keputusan yang tepat terhadap strategi bisnis.Namun, masih ada yang perlu dilakukan untuk lebih mengelaborasi konsep pelanggan pengetahuan dan CKM.

Pengetahuan, didefinisikan sebagai informasi dikombinasikan dengan pengalaman, konteks, interpretasi dan refleksi, Dapat dibagi menjadi eksplisit pengetahuan dan pengetahuan implisit.Pengetahuan pelanggan juga dapat diklasifikasikan sebagai pengetahuan tepi untuk, tentang atau dari pelanggan.KM adalah eksplisit dan sistematis manajemen pengetahuan yang vital dan asosiasi dan diasosiasikan proses penciptaan, organisasi, difusi, dan eksploitasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Yunita Woro Setyani (10311582) (waena.org).

Journal homepage: www.elsevier.com/locate/im

 

Ditulis oleh : Dewi Maryam

Nim : 0910223066

Dosen : Nanang Suryadi

www.nanangsuryadi.web.id

www.nanangsuryadi.lecture.ub.ac.id

www.marcom.lecture.ub.ac.id

i

 

 

Hello world!

2012
03.12

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!