TOP

KETELA MUKIBAT

Sobat deviantart, nah, genap 3 bulan yang lalu nieh, aku mencoba belajar tentang singkong mukibat. Singkong mukibat itu hasil okulasi antara singkong biasa dengan singkong karet. Singkong biasa / ubi kayu / ketela pohon (cassava, manioc,Manihot esculenta), adalah tanaman umbi-umbian berasal dari Amerika Latin, yang sekarang sudah tersebar ke seluruh dunia. Genus Manihot sendiri ada sekitar 100 spesies. Termasuk spesies Manihot utilisima, yang berdaunvariegata dan dibudidayakan sebagai tanaman hias. Singkong karet ini, sobat juga merupakan salah satu spesies Manihot, yakni Manihot glaziovii atau Ceará rubber tree. Istilah rubber tree inilah yang kemudian menimbulkan salah paham pada penyusun ensiklopedi dan kamus Indonesia, dengan menerjemahkannya menjadi “batang karet”. Bukan singkong karet. Jadi gto sobat asal usulnya.

Padahal singkong karet, jelas beda dengan batang karet (Hevea brasiliensis), yang dibudidayakan untuk disadap getah lateksnya. Meskipun singkong karet juga bisa menghasilkan lateks seperti halnya batang karet, namun tanaman ini lebih banyak tumbuh liar sebagai pagar kebun. Beda dengan singkong biasa yang hanya tumbuh antara 1,5 sd. 3 m. Maka singkong karet bisa mencapai tinggi 10 m. Bentuk daun singkong karet sama dengan singkong biasa, hanya ukurannya yang lebih besar. Singkong karet tidak mampu menghasilkan umbi. Akar singkong karet memang bisa sedikit menggembung, tetapi tidak sampai menjadi umbi yang berpati.

Sobat, mengapa saya mencoba untuk menyambungkan / okulasi singkong biasa dengan singkong karet karena berukuran lebih besar, dengan daun yang juga lebih lebar dan lebat, maka potensi singkong karet untuk berfotosintesis juga lebih besar dibanding dengan singkong biasa. Kemudian berdasar fakta inilah yang mengilhami Mukibat untuk menyambung singkong biasa sebagai batang bawah, dengan singkong karet di bagian atasnya. Mukibat adalah nama orang yang tinggal di kota Kediri degan menyambung singkong biasa dengan singkong karet, menggunakan teknik penempelan mata tunas. Kulit yang ada mata tunasnya, dipotong segi empat dengan ukuran sama pada batang singkong biasa maupun batang singkong karetnya. Tunas pada singkong biasa dibuang, sementara tunas pada singkong karet ditempelkan pada batang singkong biasa, yang sudah dibuang mata tunasnya.

Sobat, sdikit tips untuk cara menyambungkan / proses okulasi. Proses ini hanya bisa dilakukan pada musim kemarau, ketika batang singkong dalam keadaan dorman. Setelah tertempel dengan posisi yang pas, mata tempel itu diikat erat dengan belahan kantung plastik bening yang ditarik hingga menjadi tali yang transparan, kuat tetapi lembut. Ikatan ini harus cukup erat, dan menutup seluruh sambungan kulit batang singkong biasa dengan singkong karet. Biasanya, dalam jangka waktu 1 sd. 2 minggu, tunas singkong karet itu akan segera tumbuh. Ketika tulah sebenarnya batang singkong sambungan ini sudah bisa ditanam di lapangan. Namun penanaman di lahan, idealnya harus menunggu saat turun musim penghujan. Nah sobat ketika umur 1 sd 2 minggu itu sudah tumbuh tunasnya, maka segera dibalik yaitu singkong biasa yang awalnya di atas, dipindah menjadi dibawah. Hal tersebut dilakukan untuk merangsang pertumbuhan singkong karet karena singkong karet ini membutuhkan waktu yang lama untuk tumbuh. Maka dari itu perlu dirangsang terlebih dahulu dengan cara menanam ketela karet terlebih dahulu.

Sobat, tambahan tips lagi nieh, agar benih sambungan ini bisa tumbuh dan menghasilkan umbi dengan baik, maka sebagai batang bawah dipilih jenis singkong unggul.

Batang bawah biasanya dipilih batang bagian tengah yang berukuran cukup besar, dengan panjang lebih dari 0,5 per stek. Sebab kalau terlalu pendek, dikhawatirkan pertumbuhan benih tidak akan sempurna, dan hasil umbinya juga terlalu kecil. Hingga tanaman singkong mukibat, sepintas akan tampak seperti singkong karet biasa yang tumbuh menjulang setinggi lebih dari 5 m. per tanaman. Daunnya juga lebat dan lebar-lebar. Namun batang bawahnya adalah setek singkong biasa yang akan menghasilkan umbi. Kalau batang bawah ini bukan menggunakan singkong racun, maka hasil singkongnya bisa dikonsumsi biasa dengan cara direbus, digoreng atau dijadikan kue.

Sobat, singkong mukibat, juga hanya berumur 9 bulan sampai dengan 1 tahun dan harus dipanen. Singkong ini memang bisa dipelihara sampai dua tahun, dengan hasil umbi sangat besar dan panjang, namun bagian pangkal umbi akan berkayu, dan bagian tengahnya tidak mengandung pati. Dengan dipanen umur 1 tahun pun, satu umbi mukibat dapat mencapai panjang 1 m. dengan diameter di bagian tengahnya 15 sd. 20 cm. Satu individu tanaman, akan menghasilkan antara tiga sampai dengan enam umbi. Ukuran umbi mukibat ini, juga sangat tergantung dari tingkat kesuburan dan kegemburan lahan, dan seberapa dalam kita menanam steknya. Panjang batang bawah untuk setek, disyaratkan sepanjang minimal 0,5 m, dengan tujuan agar penanamannya bisa membenam cukup dalam.

Selain tingkat kesuburan lahan, jarak tanam juga akan sangat menentukan jumlah, ukuran  dan bobot umbi mukibat. Pada singkong biasa, jarak tanamnya bisa cukup rapat yakni 0,5 X 1 m, dengan populasi 20.000 tanaman per hektar. Pada singkong mukibat, jarak tanam itu menjadi 1 X 1,5 m. atau pupulasi 6.600 tanaman per hektar. Dengan pemupukan yang baik, terutama pupuk organik dan urea, satu tanaman singkong biasa akan menghasilkan 1,5 kg umbi. Berarti tiap hektar akan menghasilkan sampai 30 ton umbi segar. Pada singkong mukibat, hasil per individu tanaman bisa 10 kg. umbi atau per hektarnya mencapai 66 ton umbi.

Setiap apa yang kita lakukan pasti tidak luput dari kelemahannya kan, sobat. Nah, salah satu kelemahan singkong mukibat adalah, petani harus selalu menyambung benih setek. Kalau satu hektar memerlukan 6.600 benih, maka petani harus menyambung paling sedikit 7.000 benih. Meskipun penyambungan dengan cara mata tempel ini bisa dilakukan dengan mudah dan cepat oleh tenaga-tenaga profesional. Kalau benih sambungan ini sepanjang 1 m per stek, maka tahun berikutnya bonggol itu masih bisa digunakan untuk benih lagi. Caranya, bagian bawah dengan umbi yang baru saja dipanen, dipotong sekitar 10 cm sd. 15 cm. di atasnya. Kemudian bagian di atas sambungan, dibiarkan sekitar 15 sd. 20 cm. di atas sambungan. Bonggol ini selanjutnya ditaruh berdiri di lokasi yang sejuk, untuk digunakan sebagai benih pada musim tanam berikutnya.

Pada tahun III, meskipun bonggol ini masih cukup panjang, sudah sulit untuk digunakan sebagai benih, karena ukurannya (diameternya) sudah sangat besar.  Hingga pada tahun III ini lebih baik petani membuat benih baru. Pembuatan benih singkong mukibat secara massal, sebenarnya layak untuk dilakukan. Bahkan untuk penanaman yang mencapai ratusan sampai dengan ribuan hektar pun, penyambungan benih ini masih layak dilakukan. Sebab dengan benih mukibat, ada potensi untuk meningkatkan hasil sebanyak duakali lipat. Ukuran umbi juga akan semakin besar, hingga memudahkan penanganan segar. Baik waktu pemanenan maupun pengupasan, ketika umbi akan dijadikan gaplek.

Nah sobat, ini adalah hasil dari penyambungan saya.

Nah, sobat. Itu adalah teknik okulasi dari singkong biasa dengan singkong karet. semoga bermanfaat ya sobat. :)

Leave a Reply

Your email is never published nor shared.

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes:<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>