Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.

Tugas Minggu-4 Matakuliah Analisis Landskap

Gaya Eksogen

  1. Proses Eksogen

Proses eksogen berlangsung pada permukaan bumi dan tenaganya berasal dari luar kulit bumi. Tenaga yang bekerja disebut tenaga geomorfologi, yaitu semua tenaga alami yang mampu mengikis dan mengangkut material di permukaan bumi. Tenaga-tenaga tersebut berupa air yang mengalir, gletser, air tanah, gelombang, arus laut dan angin. Proses eksogen tersebut dipengaruhi oleh faktor geologis, iklim, topografi, vegetasi, dan tanah Erosi merupakan salah satu bentuk proses eksogen yang dapat merubah konfigurasi permukaan bumi (Lihawa, 2009).

Gambar 1. Proses Eksogen

Proses eksogen dapat dibagi menjadi dua proses antara lain sebagai berikut:

a. Gradisional/ Denudasional

Terdiri dari pelapukan, perpindahan massa karena gravitasi, dan erosi dan agen transportasi. Pelapukan merupakan desintegrasi atau dekomposisi batuan di tempat, merupakan proses statis dan tidak melibatkan pemindahan material. Sedangkan perpindahan massa karena gravitas merupakan proses dinamis, melibatkan perpindahan massa batuan ke lereng bawah karena pengaruh gravitasi. Terakhir adalah erosi dan agen transportasi, erosi yang terjadi dapat berupa permukaan, alur, parit, jurang, atau tebing dan dipengaruhi oleh agen transportasi antara lain aliran air, air tanah, gelombang air, angin, atau glasier.

Proses denudasi di lingkungan tropiksa basah terdiri dari pengikisan, pemidahan/transportasi bahan yang ada di muka bumi dan diendapkan di tempat lain. Proses tersebut melibatkan pelapukan batuan, pemindahan bahan, dan pengendapan. Ketiganya dapat dikelompoknnya dalam dua kategori yaitu proses kimiawi yang merupakan denudasi kimia dan proses mekanik dibahwa pengaruh gaya berat aliran air. Proses-proses tersebut dipengaruhi oleh iklim, vegetasi, dan lingkungan geokimia.

Karakteristik lahan

-Wilayah dengan curah hujan dan suhu tinggi yang proses pelapukannya terjadi seara intensif, pelapukan kimia terjadi pada bagian dalam solum tanah.

-Apabila tidak diganggu oleh manusia, vegetasi penutup lahan berupa rumput-semak-pepohonan berkesinambungan yang berbeda kerapatan dan strukturnya.

-Air yang mencapai permukaan tanah dapat masuk ke dalam tanah, mengalir di permukaan tanah, dan keduanya dapat menyebabkan terangkutnya hasil pelapukan, hasil aktivitas biologi, dan massa tanah. Kondisi tersebut dapayy diubah manusia melalui penebangan atau pembakaran hutan dan penajaman lereng.

Peranan Vegetasi terhadap Geomorfologi di Tropika Basah

Peranan vegetasi antara lain adalah meredam energi tetesan hujan, menahan aliran air di permukaan; meningkatkan infiltrasi melalui berkurangnya aliran permukaan, perbaikan struktur tanah, dll; pemakaian air dan hara untuk proses-proses metabolisme; peningkatan kemampuan tanah menahan proses-proses pencucian hara atau larutan tanah; mempengaruhi kesuburan tanah dan mempertahankan pertumbuhan penutup lahan; menahan bahan-bahan yang terangkut oleh aliran permukaan; mengurangi pengaruh fluktuasi suhu udara, dan; mengurangi pengaruh erosi.

Denudasi Kimia

Pada proses pelapukan terjadi pergerakan dan translokasi ion-ion terlarut ke tempat lain. Proses-proses tersebut termasuk dalam denudasi kimia. Proses denudasi kimia aktif di daerah tropiksa basah karena curah hujan yang tinggi, vegetasi lebat, pelapukan intensif, dan solum tanah dalam.

Eluviasi Mekanik

Eluviasi merupakan proses pedogenik yang melibatkan pergerakan material tanah dari satu tempat ke tempat lain dalam profil tanah. Hal tersebut terjadi apabila kelebihan air dan struktur tanah baik.

Proses Pemindahan Fisik

Proses pemindahan fisik terjadi karena adanya gerakan assa, erosi permukaan, dan erosi oleh sungai. Gerakab nassa merupajan perpindahan sejumlah besar massa tanah dan batuan ke tempat yang lebih rendah yang dapat digolongkan dalam gerakan lambat dan gerakan cepat.

-Aliran Lambat

Umumnya berupa “creep” (rayapan) yaitu pergerakan tanah dan batuan ke lereng bawah secara lambat. Di lapangan seringkali sulit diamati, kecuali dengan pengamatan yang teliti. Contohnya adalah soil creep, tallus creep, rock creep, dan solifluction.

Gambar 2. Soil Creep

-Aliran Cepat

Terdiri atas earth flow atau gerakan runtuhan batuan jenuh air ke saluran tertentu dan muflow atau bahan yang dialirkan berupa bahan liat jenuh air.

-Landslide

Landslide adalah gerakan  massa batuan atau tanah ke lereng di bawahnya gerakan ini dapat terjadi pada saat basah atau kering. Contohnya adalah slump, debris slide, rock slide, dan rock fall.

Gambar 3. Landslide

-Subsiden

Pemindahan bahan di permukaan bumi kea rah bawah tanpa perpindahan horizontal.

Gambar 4. Solution Doline dan Collapse Doline

Penyebab Gerakan Massa

Terdapat 6 faktor yang menyebabkan gerakan massa antara lain litologi, stratigrafik, struktural, topografi, iklim, dan organic. Topografi berpengaruh terhadap kecepatan pengangkutan atau kecepatan pengendapan bahan yang terangkut. Faktor topografi yang sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan lahan adalah kemiringan lereng. Pada lereng curam terjadi degradasi dan pada lereng datar terjadi agradasi.

Perkembangan Landform Denudasional

Bahan di suatu areal tersusun atas batuan-batuan yang mempunyai komposisi kimia, mineralogi, dan sifat fisik tertentu. Batuan melapuk karena tidak danya perlindungan dan kontak dengan atmosfer.

b. Agradasi/ Deposisi

Merupakan proses karena adanya proses degradasi lahan. Proses ini mendatarkan permukaan bumi. Adanya proses deposisi menyebabkan terbentuknya landform alluvial dan marin.

Peran Air dalam Pembentukan Landform

– Mengikis alur yang dilalui

– Mengangkut sedimen dan larutan yang dihasilkan oleh pelapukan dan proses-proses di lereng (aliran alir dan gerakan massa), gelombang air maupun oleh agen denudasional lain seperti es dan air.

-Menghasilkan berbagai macam landform erosional dan deposisional.

 

DAFTAR PUSTAKA

Lihawa, Fitryane. 2009. Pendekatan Geomorfologi dalam Survei Kejadian Erosi. J. Pelangi Ilmu. 2(5): 1-18.

Tugas Minggu-3 Matakuliah Analisis Landskap Terpadu

RESUME MATERI GUNUNG BERAPI

Lempeng Samudra Indo-Australia bergerak ke utara dengan kecepatan rata-rata 5,5-7 cm per tahun, lempeng samudera pasifik bergerak kearah barat laut dengan kecepatan rata-rata lebih dari 7 cm per tahun dan Eurasia bergerak kearah barat daya dengan kecepatan rata-rata 2,6-4,1 cm per tahun. Akibat dari tumbukan lempeng-lempeng tersebut maka di Indonesia mempunyai gunung berapi kurang lebih sebanyak 500 buah diantaranya 129 buah berupa gunungapi aktif  atau sekitar 13% dari gunung api aktif di dunia yang berada dalam jalur tektonik di sepanjang Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Kepulauan Banda, Halmahera dan Kepulauan Sangir Talaud yang mana 70 diantaranya sering meletus. Gunungapi terdapat di seluruh dunia dan berada di sepanjang busur Cincin Api Pasifik “Pasific Ring Fire”.

Gambar 1. Peta Sebaran Gunung Api di Indonesia

Bukit atau gunung mempunyai lubang kepundan sebagai tempat keluarnya magma dan atau gas ke permukaan bumi. Malam (2005) menyatakan bahwa gunung berapi adalah lubang atau celah pada lapisan kerak bumi yang mengeluarkan batu-batuan lebur, abu, serta gas. Gunung berapi sering terbentuk di titik-titik rapuh di kerak bumi, terutama di sepanjang perbatasan lempeng bumi.

1. Proses Pembentukan Gunungapi

Menurut Nandi (2006), gunungapi terbentuk di daerah punggungan tengah samudera tempat berpisahnya/mekarnya lempeng kulit bumi yang pecah saling menjauhi dan terbentuk pada pertumbukan antara lempeng benua dengan lempeng samudera dan lempeng samudera dengan lempeng samudera. Selain itu, terbentuk pada titik panas tempat keluarnya magma ke permukaan yang terjadi di benua maupun di samudera. Terdapat dua macam gejala terbentuknya gunung api yaitu pergerakan lempeng dan gaya endogen.

Pergerakan lempeng dan gaya endogen menyebabkan magma yang bersifat asam akan bergerak keatas karena lebih ringan, sedangkan yang bersifat basa berada di bagian bawah. Gerakan pemisahan magma di dala dapur magma akan menimbulkan gaya ketas yang mendobrak batuan penyusun kerak bumi dan apabila ada kesempatan, akan muncul ke permukaan lewat celah-celah retakan atau lewat pipa gunung api. Magma yang keluar ke permukaan bumi dari proses ekstruksi dinamakan larva.

Gambar 2. Proses Pembentukan Gunungapi

Proses ekstrusi atau erupsi berdasarkan lubang keluarnya magma dapat dibedakan menjadi dua tipe antara lain:

-Erupsi linier atau erupsi belahan, yaitu magma keluar melalui retakan dan celah-celah yang ada di bumi. Magma yang keluar pada umumnya berupa lava cair dan sangat sedikit mengandung material-material lepas.

-Erupsi sentral yaitu magma yang keluar melalui diatrema dan kepundan. Diaterma merupakan lubang berupa pipa pada gunung api dengan menghubungkan dapur magma dengan kepundan atau dasar kawah gunungapi. Kemudian erupsi sentral dibagi menjadi tiga macam seri berdasarkan tekanan yang terdapat di dalam magma yaitu erupsi efusif atau lelehan, erupsi eksflosif, dan erupsi campuran. Erupsi efusif atau lelehan terjadi karena magma bersifat encer dengan tekanan lemah sehingga hanya menimbulkan lelehan lava melalui retakan yang terdapat pada tubuh gunung api. Erupsi eksplosif yaitu keluarnya magma ke permukaan bumi dengan cara ledakan akibat magma memiliki tekanan yang tinggi. Erupsi ini dikenal dengan letusan gunungapi dengan adanya semburan material vulkanik berupa padatan dan cair. Sedangkan erupsi campuran adalah perselingan antara seri lava dan eksplosif membentu strato yang terdiri atas pelapisan lava dan bahan-bahan lepas.

Gambar 3. Erupsi pada Gunungapi

2. Struktur Gunungapi

Menurut Badan Geologi (2011), struktur gunungapi terdiri sebagai berikut:

a. Struktur kawah adalah bentuk morfologi negatif atau depresi akibat kegiatan suatu gunungapi, bentuknya relatif bundar.

b. Kaldera, bentuk morfologinya seperti kawah tetapi garis tengahnya lebih dari 2 km. kaldera terdiri atas beberapa macam yaitu sebagai berikut:

-kaldera letusan, terjadi akibat letusan besar yang melontarkan sebagian besar tubuhnya

-kaldera runtuhan yang terjadi karena runtuhnya sebagian tubuh gunungapi akibat pengeluaran material yang sangat banyak dari dapur magma.

-kaldera resurgent yang terjadi akibat runtuhnya sebagian tubuh gunungapi diikuti dengan runtuhnya blok bagian tengah.

-kaldera erosi terjadi erosi terus menerus pada dinding kawah sehingga melebar menjadi kaldera.

c. Rekahan dan graben, retakan-retakan atau patahan pada tubuh gunungapi yang memanjang mencapai puluhan kilometer dan di dalamnya ribuat meter. Rekahan paralel yang megakibatkan amblasnya blok di antara terkahan di sebut graben.

d. Depresi volkanik-tektonik, pembentukannya ditandai dengan deretan pegunungan yang berasosiasi dengan pembentukan gunungapi akibat ekspansi volume besar magma asam ke permukaan yang berasal dari kerak bumi. Depresi ini mencapai ukuran puluhan kilometer dengan kedalaman ribuan meter.

3. Kerucut Volkanik and Kepundan

Cara letusan gunungapi dan sifat alami dari ujud-ujud volkanik yang terbentuk dipengaruhi oleh karakteristik dari magma. Magma adalah cairan silikat pijar bersuhu antara 9000 sampai dengan 14000 yang terdapat di dalam bumi di bawah tubuh gunungapi.

a. Magma Granitik

Magma yang terjadi sangat kental dan tidak dapat mengalir dengan mudah. Magma granitik cepat mengalami pembekuan pada daerah dekat permukaan dan seringkali menjadi penghalang pada lubang keluar dan erupsi eksplosif yang menghasilkan deposir piroklastik yang mengandung fragmen volkanik berukuran mulai abu halus sampai besar. Erupsi yang terjadi secara terus menerus menyebabkan akumulasi batuan volkanik di sekitar lubang keluar, menghasilkan kerucut volkanik.

-Kerucut Sinder

Terbentuk oleh erupsi dari magma yang kental dan hampir semuanya tersusun dari deposit piroklastik. Fragmen bersudut membentuk kerucut curam (30-40 derajat) dan biasanya kecil yaitu ketingguan kurang dari 1000 mdpl.

-Kerucut Komposit

Kerucut yang relatif curam yang tersusun dari pelapisan aliran lava kental dan deposit piroklastik, umumnya mencapai ketinggian lebih dari 1000 mdpl.

-Kerucut Volkanik yang terdiri dari kepundan (crater) dan kaldera. Kepundan terdapat dibagian puncak yang terjadi karena erosi atau runtuhnya bagian di sekitar lubang selama erupsi. Kaldera merupakan kepundan besar yang disebabkkan oleh erupsi yang besar dan eksplosif. Kaldera terbentuk oleh pemindahan bahan oleh erupsi atau runtuhnya permuaan ke dapur magma.

b. Magma Basaltik Cair

Karakterisitik dari magma basaltik cair antara lain adalah magma mengalir dengan sangat mudah/cepat dan tidak selalu menghasilkan erupsi eksplosif dan membentuk deposit piroklastik, lava cenderung menyebar dengan lereng lain, dan membentuk gunung api tameng (shield volcanoes).

4. Tipe Letusan

a. Icelandic Eruptions

Melibatkan semburan lava panas agak cair dari sepanjang celah. Letusan yang berlanjut akan membentuk suatu dataran tinggi dengan lapisan tebal, dengan lapisan-lapisan lava yang mengeras. Celah keluarganya lava biasanya ditandai oleh “garis” lungur volkanik yang rendah.

b. Hawaiian

Lava basaltik cair keluar dari celah, jarang keluar dari kepundan, turun melalui atau mengisi celah-celah di sisi gunung dan bersifat effusive yaitu semburan lava sepanjang celah. Pada tipe letusan Hawaiian, jarang terjadinya letusan dan membentuk gunung berupa kubah yang melandai-volkan tameng (shield volcano).

c. Strombolian

Nama strombolian berasal dari nama pulau gunung kecil di Itali. Stromboli adalah suatu gunung berbentuk kerucut curam yang mana letusan melalui pipa saluran, bukan dari celah. Letusan ini menyebabkan keluarnya asap hitam dan lava cair dengan kekentalan yang tinggi sehingga aliran lava cair tidak terlalu jauh yang menyebabkan terbentuknya kerucut yang curam. Aktivitas letusan pada jenis strombolian lebih sering dibandingkan dengan Hawaiian dengan frekuensi 15-20 menit mengeluarkan letusan kecil berupa ledakan gas yang melemparkan semburan lava cair ke udara. Letusan berupa bahan fragmental.

d. Volkanian

Tipe letusan volkanian merupakan letusan yang sangat kuat dan membentuk cerobong awal abu hitam yang terdiri dari gas, dan bahan fragmental pada dan tersebar luas. Gulungan awan terbentuk pada awal letusan dan hasil letusan cukup tebal dan mengeluarkan lava kental yang mengalir lemah. Pada setiap periode letusan, deposit abu biasanya mendahului aliran lahar yang kental. Lapisan-lapisan lava dan abu menghasilkan suatu kerucut stratovolcano yang curam (kerucut gabungan).

e. Pelean

Letusan pelean berupa abu dan gas yang menyebar luas. Letusan bersifat sangat merusak karena cenderung menghasilkan longsoran abu panas dengan kecapatan sangat tinggi yaitu lebih dari 100 km per jam. Luncuran ini disebut dengan luncuran piroklastik. Lava yang dikeluarkan pada pelean merupakan lava kental.

f. Plinian

Abu yang dihasilkan oleh letusan ini menyebar sangat luas sampai pada awan yang tinggi dan menyelimuti seluruh daerah yang disekitarnya. Tipe erupsi ini tidak menyebabkan letusan yang hebat, namun letusan yang ditimbulkan berkelanjutan. Adanya letusan ini menyebabkan terbentuknya kaldera.

5. Bentuk Gunungapi

Menurut Nandi (2006) bentuk gunungapi dapat diklasifikasikan sebgai berikut:

a. Bentuk kerucut yang tersusun dari batuan hasil letusan gunungapi yang menumpuk dan sumber letusannya biasanya tidak berpindah tetap.

Gambar 4. Gunungapi Kerucut

b. Bentuk kubah tersusun dari batuan aliran lava yang menumpuk karena masih agak cair menyerupai kubah

Gambar 5. Gunungapi Kubah

c. Bentuk campuran (stratovolkano) yaitu tersusun dari batuan hasil letusan dengan tipe letusan berubah-ubah sehingga dapat menghasilkan susunan yang berlapis-lapis dari beberapa letusan ada yang sudah beberapa kali.

Gambar 6. Gunungapi Stratovolkano

d. Bentuk perisai yaitu tersusun dari batuan aliran lava yang pada saat diendapkan masih cair, sehingga tidak sempat membentuk suatu kerucut yang tinggi.

Gambar 7. Gunungapi Perisai

e. Bentuk maar adalah bentuk dari kawah yang dihasilkan dari suatu letusan yang kuat akibat letusan freatik yaitu letusan yang disebabkan oleh uap dan gas sehingga terjadi letusan dari uap dan gas tadi yang cukup kuat membentuk suatu lubang kawah.

Gambar 8. Gunungapi Maar

f. Bentuk kaldera adalah bentuk kawah yang sangat besar terjadi akibat letusan yang sangat besar, pada umumnya dengan volume hasil letusan sangat besar sehingga membentuk suatu lubang raksasa dengan diameter lebih dari 2 km dan dapat mencapai puluhan kilometer.

Gambar 9 dan 10. Gunungapi Kaldera

5. Bahaya Gunungapi

Menurut Badan Geologi (2010) bahaya letusan gunungapi dapat berpengaruh secara langsung (primer) dan tidak langsung (sekunder) yang menjadi bencana bagi kehidupan manusia. Bahaya yang langsung oleh letusan gunung api antara lain disebabkan oleh leleran lava, aliran piroklastik (awan panas), jatuhan piroklastik, lahar letusan, gas vulkanik beracun, lahar hujan, banjir bandang, dan longsoran vulkanik. Dampak negatif dari adanya hal tersebut dapat menyebabkan gangguan pada kehidupan makhluk hidup dan merusak sarana dan pra sarana disekitar tempat letusan gunung api. Hal terburuk adalah adanya gas beracun yang umumnya muncul pada gunungapi aktif berupa CO, CO2, HCN, H2S, SO2, dll yang apabila konsentrasi di atas ambang batas dapat membunuh.

Gambar 11. Dampak Letusan Gunungapi

DAFTAR PUSTAKA

Badan Geologi. 2011. Data Dasar Gunung Api Indonesia. Bandung: Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Malam, John. 2005. Planet Bumi. Jakarta: Erlangga.

Nandi. 2006. Vulkanise. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Tugas Minggu-2 Matakuliah Analisis Landskap Terpadu

RESUME MATERI TEKTONIK

Bentuklahan di muka bumi antara lain berkaitan dengan aktivitas dari kulit bumi  yaitu bentuk, susunan, lapisan bumi, dan perubahan dalam bumi karena adanya dinamika, dan karena adanya aktivitas dari luar bumi yaitu pelapukan, pengangkutan, dan pengendapan. Proses tersebut memerlukan waktu yang lama karena melibatkan tenaga dari dalam bumi atau endogen dan tenaga dari dalam bumi atau eksogen.

  1. Proses-proses yang Berkaitan dengan Pembentukan Lahan

a. Proses Eksogen

Proses eksogen berlangsung pada permukaan bumi dan tenaganya berasal dari luar kulit bumi. Tenaga yang bekerja disebut tenaga geomorfologi, yaitu semua tenaga alami yang mampu mengikis dan mengangkut material di permukaan bumi. Tenaga-tenaga tersebut berupa air yang mengalir, gletser, air tanah, gelombang, arus laut dan angin. Proses eksogen dipengaruhi oleh faktor geologis, iklim, topografi, vegetasi dan tanah (Lihawa, 2009)

Gambar 1. Proses Eksogen

b. Proses Endogen

Proses endogen adalah proses yang berasal dari dalam kerak bumi karena adanya aktivitas gunung api, tektonik, maupun gempa bumi. Akitivitas tersebut menghasilkan struktur geologi maupun geomorfologi permukaan bumi. Proses endogen antara lain proses kegunungapian, proses pembentukan perbukitan dan pegunungan. Akibat bekerjanya proses endogen maka terjadilah proses agradasi dan degradasi (Lihawa, 2009).

Gambar 2. Proses Endogen

c. Pengaruh topografi dan Manusia

Gambar 3. Pembentukan Lahan yang Dipengaruhi oleh Manusia

  1. Teori Pembentukan Relief Bumi

Terdapat beberapa teori pembentukan relief bumi antara lain:

a. Teori Kontraksi (Contraction Theory/ Theory of a Shrinking Earth

b. Teori Laurasia-Gondwana

c. Teori Pergeseran Benua (Continental Drift Theory)

d. Teori Konveksi (Convection Theory)

e. Teori Pergeseran Dasar Laut

f. Teori Lempeng Tektonik

Pada Modul Pemicu I Geologi Dasar FMIPA UI menjelaskan bahwa struktur dalam bumi berdasarkan komposisinya dapat dibagi menjadi:

a. Inti bumi (Core)

Terletak  mulai  dari  kedalaman  2.883  km  sampai  ke  pusat  bumi. Densitasnya berkisar  dari  9,5  gr/cc  di  dekat  mantel  dan  membesar  ke  arah  pusat  hingga  14,5  gr/cc.   Berdasarkan   besarnya   densitas   ini,   inti   bumi   diperkirakan   memiliki campuran  dari  unsur-unsur  yang memiliki  densitas  besar,  yaitu  Nikel  (Ni)  dan  besi (Fe).

b. Inti dalam (inner core)

Kedalaman 5.140-6.37 km. Berfasa padat, berat, dan sangat panas.

c. Inti luar (outer core)

Kedalaman 2.883-5.140 km. Berfasa cair dan sangat panas.

d. Mantel (Mantle)

Merupakan lapisan yang menyelubungi inti bumi. Merupakan bagian terbesar dari bumi, 82.3 % dari volume bumi dan 67.8 % dari massa bumi. Ketebalannya 2.883 km. Densitasnya berkisar dari 5.7 gr/cc di dekat inti dan 3.3 gr/cc di dekat kerak bumi.

e. Kerak bumi (Crust)

Merupakan   lapisan   terluar   yang   tipis,   terdiri   batuan   yang   lebih   ringan  dibandingkan  dengan  batuan  mantel  di  bawahnya.  Densitas  rata-rata  2.7  gr/cc.  Ketebalannya  tidak  merata,  perbedaan  ketebalan  ini  menimbulkan perbedaan elevasi  antara  benua  dan  samudera.  Pada  daerah  pegunungan  ketebalannya  >  50  km dan  pada  beberapa  samudera  <  5  km.  berdasarkan data  kegempaan  dan  komposisi  material  pembentuknya,  para  ahli  membagi  menjadi  kerak  benua  dan kerak samudera

  1. Kerak benua, terdiri dari batuan granitik, ketebalan rata-rata 45 km, berkisar antara 30–50 km. Kaya akan unsur Si dan Al.
  2. Kerak samudera, terdiri dari batuan basaltik, tebalnya sekitar 7 km. Kaya akan unsur Si dan Mg.

Gambar 4. Interior Bumi

  1. Teori Lempeng Tektonik

Pada awal mula, Alfred Wegener mengemukakan teori pengapungan pada tahun 1912 sebelum teori tektonik lempeng lahir. Teori pengapungan benua menerangkan bahwa benua-benua yang ada sekarang, pada masa lampau merupakan satu benua yang bernama Pangea. Kemudian Pangea pecah menjadi Laurasia dan Gondwana, yang terus-menerus pecah menjadi benua-benua yang kita kenal sekarang ini. Bukti-bukti yang mendukung teori ini adalah adanya kesamaan spesies fosil dan kesamaan garis pantai di Amerika Selatan dan Afrika, kemudian adanya deposit batubara di Antartika yang dapat menjelaskan bahwa dahulu Antartika pernah berada dekat dengan ekuator karena batubara mencirikan fosil tanaman tropis.

Teori ini tidak diterima oleh kebanyakan orang karena tidak bisa menjelaskan gaya-gaya yang menggerakan benua-benua yang besar dengan masa batuan padat dan dengan jarak yang begitu jauh. Alasan selanjutnya adalah benua harusnya pecah berkeping-keping ketika benua bergerak di atas lantai samudra. Hal tersebut membuat teori pengapungan benua mulai dilupakan.

Gambar 5. Teori Pengapungan Benua

Pada awal tahun 1950-an, banyak bukti yang membangkitkan kembali debat tentang teori pengapungan benua yang menjadi formulasi dan teori tektonik lempeng. Bukti yang pertama adalah fakta bahwa dasar samudra itu tidak datar. Di Atlantik Tengah terdapat pegunungan bawah laut, dan umur batuan yang muda. Bukti yang kedua adalah adanya pengulangan pembalikan medan magnet bumi pada masa lalu. Ilmuwan memakai peralatan magnetis yang secara tidak sengaja menemukan keganjilan variasi magnetik di sepanjang dasar samudra. Variasi magnetik ini terekam oleh batuan dasar samudra, yaitu basalt. Basalt mengandung banyak unsur besi yang merupakan unsur pembentuk dasar samudra karena mengandung mineral magnetit. Setelah diteliti lebih lanjut, terdapat dua sifat magnetik batuan, yaitu kutub normal dan kutub berlawanan. Batuan dengan kutub normal membaca arah kutub magnet bumi yang sama dengan saat ini, yaitu jarum kompas utara mengarah ke kutub utara bumi. Sedangkan batuan dengan kutub berlawanan, membaca arah kutub mineral yang berlawanan dengan kutub magnet saat ini.

Mekanisme perekamannya adalah ketika magma keluar di dasar laut dan mendingin, serbuk magnetik yang ada pada batuan mensejajarkan diri dengan arah magnet bumi pada saat itu dan kemudian terkunci. Bukti selanjutnya adalah munculnya hipotesa pergerakan dasar samudra dan kaitannya dengan daur ulang kerak samudra. Hipotesa ini didukung oleh beberapa alasan yaitu batuan yang dekat Mid Oseanic Ridge mempunyai umur muda, semakin jauh semakin tua. Alasan kedua adalah batuan paling muda itu mempunyai polaritas yang sama dengan polaritas bumi saat ini dan membentuk pola Zebracross lajur magnetik yaitu antara batuan kutub normal dan kutub berlawanan. Kesimpulannya adalah pada saat bersamaan ketika dasar benua terbentuk di Mid Oceanic Ridge, dasar benua yang tua tertelan di palung samudra. Dengan begitu hipotesa Expanded Earth yang menyatakan bahwa bumi itu berkembang terbantahkan. Sehingga, ukuran bumi tidak bertambah, batuan dasar samudra memiliki umur yang muda, dan timbunan dasar sedimen sangat sedikit di dasar samudra, karena adannya daur ulang kerak bumi. Bukti yang keempat adalah lokasi kejadian volkanik dan gempa-gempa di dunia yang terkonsentrasi di sepanjang palung samudra dan rangkaian pegunungan bawah laut (Kious, 2008).

Gambar 6. Lempeng-lempeng Tektonik dan Arah Vektor Gerakannya

Akibat karena adanya pergerakan lempeng tektonik dengan kemungkinan yang berbeda-beda seperti karena kecepatannya yang sama-sama tinggi, sama-sama rendah, dan satu tinggi satu rendah. Sehingga menyebabkan adanya batas yang menyebar, batas terpusatkan, dan batas menggunting. Batas menyebar atau semakin menjauh pada umumnya berupa rangkaian punggung dasar laut. Batas terpusatkan atau gerakan memusat (mendekat), pada umumnya gunungapi dan palung laut yang sejajar dengan batas. Batas menggunting yaitu gerak lereng sejajar dengan arah berlawanan sepanjang perbatasan.

  1. Pergerakan Lempeng Tektonik

a. Divergen

Kious (2008) menyatakan bahwa divergen merupakan pergerakan lempeng saling menjauh membentuk kerak bumi baru. Divergen menyebabkan terbentuknya dasar samuda dan terbentuknya punggungan tengah samudra (mid-ocean ridge), serta aktivitas vulkanisme laut dalam yang menghasilkan lava basa berstruktur basalt.

Gambar 7. Pergerakan Divergen

b. Konvergen

Kious (2008) menyatakan bahwa pergerakan lempeng menujam ke bawa lempeng lainnya, menyebabkan lempeng yang mejujam meleleh. Konvergen dibagi tiga yaitu samudra-benua, samudra-samudra, dan benua-benua. Pada jenis konvergen samudra-benua akan membentuk vulkanik yang akif, seperti yang terdapat pada pengunungan Andalas. Pada jenis koneveren samudra-samudra akan membentuk busur kepulauan yang sejajar dengan palung. Pada jenis korvergen benua-benua tidak ada lempeng yang menunjang karena batuan benua yang ringan, yang ada hanya lempeng akan melipat dan akan membentuk pegunungan atau dataran tinggi.

Gambar 8. Pergerakan Konvergen

c. Transform

Kious (2008) menyatakan bahwa lempeng-lempeng bergersekan satu sama lain secara horizontal dan kebanyakan terjadi di dasar samudra. Terdapat akivitas vulkanisme yang lemah disertai gempa yang tidak kuat.

Gambar 9. Pergerakan Lempeng Transform

  1. Gaya Tektonik

Terdapat dua gaya tektonik yaitu tektonik epirogenesa dan tektonik orogenesa. Gaya tektonik epirogenesa berupa gerakan vertikal yang lambat dan meliputi daerah yang luas. Terdapat dua macam epirogenesa yaitu epirogenesa positif yang masuk ke dalam bumi karena adanya beban berupa sedimen, lava, dll dan epirogenese negatif yang mengarah keluar dan berupa pengangkatan. Sedangkan tektonik orogenesa adalah gerakan tektonik yang meliputi wilayah yang sempit dan diikuti dengan adanya pembentukan pegunungan.

  1. Struktur Diastropik

Terdapat empat struktur pelapisan yang disebabkan oleh gerak diastropik yaitu:

a. Pelekungan (warping)

Gerakan vertikal yang tidak merata di suatu daerah khusus yang berbatuan sedimen yang semula horizontal menjadi vertikal.

Gambar 10. Pelekungan

b. Pelipatan (fold)

Angkatan yang memiliki tenaga tidak sama menghasilkan pelipatan yang memajang dan menghasilkan antiklin (dan siklin jika terbentuk dua antiklin).

Gambar 11. Lipatan Tektonik

c. Retakan (joint)

Retakan pada batuan terjadi pada bidang belah alaminya. Retakan dapat terbentuk karena peregangan batuan yang disebankan pemuaian batuan (adnaya pengaruh panas). Retakan membantu percepatan pelapukan batuan, karena air dapat masuk ke dalam batuan. Apabila hubungan antar batuan cukup lemah, gaya gravitas pada lereng curam dapat melepaskan batuan dari tempatnya.

d. Pengangkatan (fault)

Berdasarkan arah gerakannya terdapat transcurrent fault atau strike-slip fault yaitu gerakan horizontal dengan arah berlawanan, dip-slip­ yaitu arah miring kebawah, oblique fault yaitu arah saling menjauh, dan rotation fault yaitu memutar pada bidang patahan. Sedangkan berdasarkan bentuk patahan terdapat graben (turun), horst (naik), dan fault scarp yaitu dinding terjal yang dihasilkan oleh patahan, dimana satu blok bergeser lebih tinggi.

Gambar 12. Horst dan Graben

DAFTAR PUSTAKA

Kious, W. Jacquelyne dan Robert I. Tilling. 2008. USGS This Dynamic Earth: The Story of Plate Tectonics. Washington: U.S. Government Printing Office.

Lihawa, Fitryane. 2009. Pendekatan Geomorfologi dalam Survei Kerjadian Erosi. J. Pelangi Ilmu. 20 (5): 1-18.

Tugas Minggu-1 Matakuliah Analisis Landskap Terpadu

TUGAS MINGGU KE-1

MATAKULIAH ANALISIS LANDSKAP TERPADU

Dosen Pengampu:

Dr. Ir. Sudarto, MS

 

 

Disusun Oleh:

Devanda Ayu Lidya P. P.        155040207111082

Iqbal Rizky Nugroho               155040201111251

Nisfi Fariatul Ifadah                155040201111148

Ahmad Nugraha Aji                155040200111221

Choirum Ayun                         155040200111112

Kelas C

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

 

 

1.Kliping Berita Bencana dan Penyebab Malang Dikelilingi oleh Banyak Gunung Berapi

a. Tanah longsor di kawasan Joyogrand Inside Kelurahan Merjosari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang

Dilansir dari suryamalang.com, pada edisi 12 November 2017 bahwasannya terjadi bencana alam berupa longsor di daerah Joyogrand, Kecamatan Lowokwaru Kota Malang.  Dalam bencana alam yang satu ini terjadi rubuhnya plengsengan yang rencananya akan digunakan sebagai penahan perumahan baru yang berada di dalam kawasan Perumahan Joyogrand.

“Plengsengan yang longsor itu pembatas tanah kavling yang akan dibangun,” ujar Marketing Perumahan Joyogrand Tahqiqudliya.

Penahan yang ambrol tersebut memiliki tinggi yang lebih tinggi dari rumah yang terkena material longsoran, sekitar 7 meter dengan panjang 8 meter. Letak plengsengan juga cukup dekat dengan rumah tersebut. Plengsengan yang ambrol itu merusak bagian belakang rumah milik Paulina (20) mahasiswi Universitas Brawijaya (UB) Malang. Hingga kondisi rumah rusak parah.

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang J Hartono, area itu masih menjadi tanggungjawab pengembang karena belum diserahterimakan ke Pemkot Malang. “Selain tindakan BPBD melakukan assesment, kami juga memberi garis pembatas pada lokasi kejadian rumah yang terkena dampak,” ujar Hartono. Tanah longsor itu menewaskan satu orang, dan membuat satu orang terluka. Korban tewas adalah Dina Oktaviani (20) dan korban terluka adalah Paulina (20). Keduanya mahasiswi UB.

Menurut Priyono (2015), pengertian tanah longsor merupakan hasil gerakan massa (mass movement) di sepanjang bidang luncurnya. Gerakan massa merupakan perpindahan massa batuan, regolit dan tanah dari tempat yang tinggi ke rendah gaya gravitasi. Kejadian bahaya longsor (gerakan massa tanah) sering terjadi di daerah-daerah lereng curam / terjal. Hal ini sesuai dengan kejadian yang terjadi di Joyogrand yang kondisi lahannya memiliki lereng cukup curam. Hal ini juga didukung dngan kondisi cuaca berupa curah hujan yang tinggi saat sebelum kejadian. Sesuai dengan pernyataan Priyono (2015), bahwa saat musim hujan tiba terjadi peningkatan jumlah air infiltrasi yang membuat tanah menjadi jenuh akan air, sehingga pori tanah mudah hancur dan agregat tanah menjadi lemah dan ketahanan geser tanah menurun.

b. Mengapa wilayah Malang Raya banyak dikelilingi oleh gunung – gunung berapi

Secara geografis Indonesia terletak di daerah katulistiwa dengan morfologi yang beragam dari daratan sampai pegunungan tinggi. Keragaman morfologi ini banyak dipengaruhi oleh faktor geologi terutama dengan adanya aktivitas pergerakan lempeng tektonik aktif di sekitar perairan Indonesia di antaranya adalah lempeng Eurasia, Australia dan lempeng Dasar Samudera Pasifik. Lokasi Indonesia yang terletak di lempeng tektonik atau juga masuk dalam wilayah cincin api (ring of fire), yang berarti Indonesia rawan terkena gempa bumi dan dapat menimbulkan tsunami. Ring of fire ini yang menjelaskan adanya hubungan dari aktifitas gunung api yang menjajar dari Indonesia sampai Jepang, menyambung dari Alaska melalui bagian barat AS sampai Amerika Selatan. Ring of fire ini juga disebut sebagai lingkaran magma yang besar dan hebatnya Indonesia adalah puncak dari lingkaran api tersebut. Pergerakan lempeng-lempeng tektonik tersebut menyebabkan terbentuknya jalur gempa bumi, rangkaian gunung api aktif serta patahan- patahan geologi yang merupakan zona rawan bencana gempa bumi dan tsunami.

Gambar 1. Wilayah yang masuk ke dalam Ring Of Fire

Berdasarkan pengukuran Very – long Baseline Interferometry, VLBI (Prat, 2001) diketahui saat ini lempeng Samudera Indo-Australia bergerak kearah utara dengan kecepatan rata – rata 5,5 -7 cm/tahun, lempeng samudera pasifik bergerak kea rah barat laut dengan kecepatan rata – rata >7 cm/tahun dan Eurasia bergerak kea rah barat daya dengan kecepatan 2,6 – 4,1 cm/tahun.

Pulau Jawa memiliki paling banyak gunung api, dari sebelah barat hingga ujung timur berjejer gunung-gunung api. Bahkan sampai saat ini masih banyak gunung-gunung api tersebut yang aktif seperti Gunung Papandayan di Jawa Barat, Gunung Merapi di Jawa Tengah, dan Gunung Semeru di Jawa Timur. Terbentuknya gunung-gunung api di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara akibat tabrakan antara lempeng Australia (dari sebelah selatan) dengan lempeng Eurasia (dari sebelah utara) (Mulya, 2004). Tabrakan kedua lempeng tersebut tepat berada sebelah selatan Pulau Jawa. Akibat tabrakan kedua lempeng tersebut maka akan terbentuk gunung, pergerakan antar lempeng ini dapat menimbulkan empat busur gunungberapi yang berbeda:

  1. Pemekaran kerak benua, lempeng bergerak saling menjauh sehingga memberikan kesempatan magma bergerak ke permukaan, kemudian membentuk busur gunung api di tengah samudra.
  2. Tumbukan antar kerak, dimana kerak samudera menunjam di bawah kerak benua. Akibat gesekan antar kerak tersebut terjadi peleburan batuan dan lelehan batuan ini bergerak ke permukaan melalui rekahan kemudian membentuk busur gunungapi di tepi benua.
  3. Kerak benua menjauh satu sama lain secara horizontal, sehingga menimbulkan rekahan atau patahan. Patahan atau rekahan tersebut menjadi jalan ke permukaan lelehan batuan atau magma sehingga membentuk busur gunungapi tengah benua atau banjir lava sepanjang rekahan.
  4. Penipisan kerak samudera akibat pergerakan lempeng memberikan kesempatan bagi magma menerobos ke dasar samudera, terobosan magma ini merupakan banjir lava yang membentuk deretan gunungapi perisai.

Gambar 2 . Proses Pembentukan Gunung Berapi

Gambar 3. Pergerakan Antar Lempeng (Sigurdsson, 2000).

Mengapa wilayah Malang Raya banyak dikelilingi oleh gunung – gunung berapi hal ini dikarenakan di Indonesia masuk kedalam zona wilayah cincin api (ring of fire), yang berarti Indonesia rawan terkena gempa bumi dan dapat menimbulkan tsunami. Dan juga adanya pengaruh dari pergerakan lempeng – lempeng tektonik, karena di Indonesia termasuk kedalam lempeng tektonik. Pergerakan lempeng-lempeng tektonik tersebut menyebabkan terbentuknya jalur gempa bumi, rangkaian gunung api aktif serta patahan- patahan geologi yang merupakan zona rawan bencana gempa bumi dan tsunami. Terbentuknya gunung – gunung di sekitar wilayah Malang juga dipengaruhi adanya tabrakan antara lempeng Australia (dari sebelah selatan) dengan lempeng Eurasia (dari sebelah utara). Tabrakan kedua lempeng tersebut tepat berada sebelah selatan Pulau Jawa.

2. Kondisi Lansekap Daerah Joyogrand, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang

Wilayah terjadinya kasus bencana longsor terletak pada perumahan Joyogrand Inside, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Menurut Data Monografi Kelurahan Merjosari (2016), Kelurahan Merjosari memiliki luas wilayah 336 Ha dan terletak pada ketinggian 451 m dpl yang berbatasan langsung dengan Kelurahan Tlogomas pada sebelah utara, Kelurahan Karang Besuki pada sebelah selatan, Desa Tegalwaru pada sebelah barat, dan Kelurahan Dinoya pada sebelah timur.

Jenis tanah pada wilayah tersebut menurut Data Pemerintah Kota Malang adalah tanah andosol yang terbentuk oleh abu dan tuff volcano, topografinya datar, bergelombang melandai dan berbukit. Tekstur tanah lempung hingga debu sampai liat. Konsistensi tanah gembur dan licin. Struktur tanah gumpal dan semakin meningkat seiring dengan kedalaman tanah. Kandungan mineral tanah sedang dan kepekaan erosi baik terhadap erosi serta memiliki permeabilitas sedang.

Gambar 4. Peta Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang

a. Bentuk Lahan (Landform)

Bentuk lahan (landform) pada wilayah tersebut adalah aneka (miscellaneous landform) yang merupakan bentuk dari hasil aktivitas alam atau terjadi karena adanya kegiatan manusia dan tidak termasuk pada bentuk lahan lainnya (alluvial, marin, fluvio marin, gambut, eolian, karst, vulkanik, ataupun tektonik). Bentuk lahan aneka pada umumnya dapat ditemuka pada lahan rusak dan bangunan-bangunan buatan manusia yang terdapat pada daerah perkotaan seperti pada wilayah terjadi bencana longsor tersebut.

Gambar 5. Bentuk Lahan Daerah Joyogrand, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang

Jenis lansekap yang terdapat pada wilayah longsor merupakan daerah perkotaan yang mana terdapat adanya modifikasi yaitu pembangunan bangunan rumah dan prasarana dari yang asalnya merupakan lingkungan yang masih alami. Easton (2013) menyatakan bahwa pada built landscape tidak sama seperti jenis lanskap alami seperti yang lainnya, built landscape merupakan hasil modifikasi manusia terhadap alam. Fitur lansekap yang dapat ditemukan antara lain infrastruktur seperti bangunan jalan, transportasi, energy, saluran pembuangan, dan system telekomunikasi. Built landscape sering kali mengakibatkan kerusakan atau memberikan efek negatif pada lansekap alam. Namun, pada umumnya built landscape tergabung dengan gunung.

b. Informasi Geomorfologi

Informasi Geomorfologi diperoleh dari Peta Geologi skala 1:100,000 Lembar Malang (Santosa et.al., 1992). Secara umum tanah yang berkembang di wilayah Malang berkembang dari bahan vulkanik hasil gunung api, yang dipengaruhi oleh Gunung Arjuno dan Anjasmoro di bagian utara, dan Gunung Panderman di bagian selatan. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Malang (Santosa et.al., 1992), formasi geomorfologi yang dijumpai ada lima, berturut-turut dari yang paling luas yaitu:

1) Qvaw (Batuan Gunungapi Arjuna Welirang),

2) Qpat (Batuan Gunungapi Anjasmara Tua),

3) Qvp (Batuan Gunungapi Panderman),

4) Qpvkb (Batuan Gunungapi Kawi-Butak) dan

5) Qpva (Batuan Gunungapi Anjasmara Muda).


 

DAFTAR PUSTAKA

Easton, Mark. 2013. Oxford Big Ideas Geography 8. Melbourne: Oxford University Press.

Mulya. A. 2004. Pengantar Ilmu Kebumian. Bandung: Pustaka Setia.

Pemerintah Kota Malang. 2016. Geografis Kota Malang. https://malangkota.go.id/sekilas-malang/geografis/ diakses pada tanggal 12 Februari 2018.

Priyono, 2015. Hubungan Klasifikasi Longsor, Klasifikasi Tanah Rawan Longsor dan Klasifikasi Tanah Pertanian Rawan Longsor. Surakarta: FP UNISRI.

Sigurdsson, H et al. 2000. History of Circum-Caribbean Explosive Volcanism: 40Ar/39Ar Dating of Tephra Layers. In: Leckie, RM; Sigurdsson, H; Acton, GD; Draper, G (eds.). Proceedings of the Ocean Drilling Program, Scientific Results. TX: College Station (Ocean Drilling Program).

Sujatmiko dan Santosa, S. 1992. Geologi Lembar Leuwidamar, Jawa. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.

Tautan File Tugas: Tugas ANLAN Kelompok 4 Kelas C

Hello world!

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!