laporan fieldtrip sosper

LAPORAN PRAKTIKUM
ASPEK SOSIOLOGIS DALAM USAHA PERTANIAN RAKYAT
DI DUSUN PRODO-SUMBUN DESA KLAMPOK RT 3/7 KECAMATAN
SINGOSARI KABUPATEN MALANG

Oleh
Kelompok 7 (Kelas D )
1.Chyntia Pratiwi (125040201111084)
2.Daniel Sipayung (125040201111085)
3.Desy Indah Luvitasari ( 125040201111305)
4.Choirun Nisa’ (125040200111015)
5.Desi Kusuma W. ( 125040200111120)

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur pada Allah SWT yang telah memudahkan dalam menyelesaikan laporan ini. Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas akhir praktikum sosiologi pertanian. Makalah ini membahas tantang keadaan sosiologis pertanian di Desa Klampok RT 3/7, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang
Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada asisten sosilogi pertanian kepada Aliannur dan Yugo Pertiwi atas bimbingan dan arahan yang diberikan selama praktikum sosiologi pertanian dilaksanakan, serta teman-teman yang telah membantu dalam penulisan laporan ini. Tidak lupa juga kepada para narasumber yang telah bersedia memberikan informasi kepada kami.
Kami sebagai penulis mengharapkan kririk dan saran atas kelengkapan isi laporan ini, karena kami menyadari bahwa makalah kami ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.

Malang, 27 Mei 2013

Penyusun

DAFTAR ISI
halaman
I.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………………………………..
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………………………………….
1.3 Tujuan……………………………………………………………………………………………………
II
2.1 Profil keluarga tani dan pola tanam…………………………………………………………….
2.2 Kebudayaan Petani………………………………………………………………………………………
2.3
2.4
2.5
2.6
III PENUTUP……………………………………………………………………………………………………..
DOKUMENTASI


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pertanian sangat erat kaitannya dengan aspek-aspek sosiologi, seperti pola tanam , kebudayaan, pranata sosial/kelembagaan yang terkait dengan usaha tani. Yang keseluruhannya sangat mempengaruhi kemajuan usaha pertanian baik pada tingkat petani maupun desa.
Kebudayaan di setiap desa pasti ada yang berbeda begitu juga dengan keadaan petani-petaninya. Selain itu kelembagaan yang ada dalam masyarakat pertanian juga perlu dibahas, adanya kelompok tani yang membantu dalam masalah pertanian mulai dari ada tidaknya tidaknya peminjaman modal dan bibit untuk petani. Disamping itu juga penyalur has
Kadang kala dalam usaha pertanian didapati suatu permasalahan yang belum diketahui solusinya sehingga muncul suatu dampak negatif bagi usaha pertanian. Seperti contonhya merebaknya hama tikus yang menyerang tanaman. Dalam menyelesaikan masalah tersebut suatu lembaga dibentuk sebagai tempat musyawarah sehingga dapat ditemukan jalan keluar dari permasalahan itu.
Jaringan sosial yang ada dalam masyarakat pertanian yang ada di desa berhubungan erat dengan sosiologi karena adanya kerjasam antara petani dengan pihak luar, baik yang dilakukan secara langsung maupun melalui perantara atau distributor. Dibutuhkan jaringan sosial yang baik agar dapat memasarkan hasil pertanian tersebut. Oleh karena itu aspek-aspek sosiologi memang sangat berperan dalam mempengaruhi kemajuan usaha pertanian baik pada tingkat petani, desa, maupun supra desa. Hal penting lainnya yang harus dibahas juga yaitu adanya globalisasi dalam pertanian, mulai dari perubahan yang terjadi di masyarakat dengan adanya teknologi baru yang masuk dalam dunia pertanian dan kebiasaan-kebiasaaan lama yang masih ada di masyarakat petani desa.

1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana deskripsi profil keluarga tani dan pola tanam pada lahan yang sesuai? 1.2.2 Bagaimana deskripsi kebudayaan petani tersebut?
1.2.3 Bagaimana deskripsi peranan lembaga/pranata sosial terkait dengan usaha tani dalam hal penguasaan lahan, saprodi pertanian dan tenagakerja?
1.2.4 Bagaimana deskripsi peranan lembaga/pranata sosial terkait dengan usahatani dalam hal pengolahan dan pemasaran hasil pertanian serta Kelompok Tani/Gabungan Kelompok Tani?
1.2.5 Bagaimana deskripsi peranan lembaga/pranata sosial terkait dengan usaha tani dalam hal pengelolaan irigasi, lembaga keuangan/ kredit dan perubahan sosial?
1.2.6 Bagaimana kesimpulan dari hasil wawancara dengan petani di Singosari tersebut?
1.3 Tujuan
Tujuan diadakan fieldtrip sosiologi pertanian yang dilakukan di desa Lampok, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang adalah untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek-aspek sosiologi pertanian yang mencakup kebudayaan, stratifikasi sosial, dan kelembagaan yang ada, yang kesemuanya itu dapat mempengaruhi kemajuan usaha tani di desa Lampok.

BAB II
ASPEK SOSIOLOGIS PETANI DAN USAHA TANI

2.1 Identifikasi Profil Keluarga Tani dan Pola Tanam pada Lahan yang Sesuai
Oleh : Daniel Sipayung
Profil Keluarga Tani
Pak Purwanto, adalah seorang petani yang berusia 25 tahun yang tinggal di desa Kelampok RT 03 RW 07 kecamatan Singosari kabupaten Malang. Pak Purwanto seorang petani muda yang masih baru berumah tangga sekitar empat tahun yang lalu dan setelah menikah mereka tetap menggantungkan sistem perekonomian keluarganya pada sektor pertanian, pak purwanto bukanlah orang yang masih baru masuk ke dalam lingkungan pertanian tapi memang sejak kecil sudah hidup dalam lingkungan pertanian, dimana orang tua dari bapak purwanto adalah juga seorang petani. Pendidikan terakir yang diperoleh pak purwanto adalah sampai tingkat SD. Jumlah anggota keluarga pak purwanto sendiri adalah dua orang yaitu pak purwanto bersama istrinya. Pak puranto memiliki lahan dalam bentuk tegalan yang di mana luas lahan yang dimilikinya adalah 1000 m^2 Lahan yang dimiliki oleh pak purwanto ini adalah lahan yang di peroleh dari warisan namun pak purwano juga memiliki lahan pekarangan belakang umah yang digunakan sebagi tempat penyemaian benih cabai yang nantinya akan di tanam pada lahannya egalannya. Selain bekerja pada lahannya sendiri Pak purwanto juga bekerja sebagai buruh di lahan orang lain apabila orang lain membutuhkan tenaganya.
Pola Tanam pada Lahan yang Sesuai
Pola tanam yang di lakukan pada lahan pak purwanto adalah pola tanam tumpang sari, dimana tanaman tanaman yang di tanam oleh pak purwanto adalah tanaman jagung dan cabai. waktu tanam anatara jagung dan cabai berbeda, tanaman jagung yang akan terebih dahulu di tanam dan cabai akan di tanam apabila penanaman jagung telah selesai di lakukan, dan waktu penanaman tanaman ini akan di lakukan pada awal musim penghujan ataupun di ahir musim kemarau. Kalau di lihat dari pola tanam yang di aplikasikan oleh pak purwato yaitu menggunakan pola tanam tumpang sari itu sudah benar di mana dengan luas lahan yang dimilki oleh pak purwanto, beliau dapat meningkatkan hasil panennya karena beliau tidak hanya memperoleh hasil panen dari satu jenis tanaman.

2.2 Identifikasi Kebudayaan Petani
Oleh : Chyntia Pratiwi
Cara Bercocok Tanam Petani
Lahan tegal Pak Purwanto ditanami tanaman cabai dan juga tanaman palawija seperti jagung. Hasil dari tegalnya berupa tanaman jagung bisa dinikmati 4 bulan sekali dan cabai setiap 3 bulan sekali. Alasan Pak Purwanto menanami tegalnya seluas 1000 m2 dengan tanaman jagung dan cabai sebab sudah terbiasa menanam jagung dan cabai mengikuti kebiasaan petani-petani di desanya dan hasilnya pun di rasa cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari.
Tahap pertama bercocok tanam adalah menyiapkan benih jagung dan bibit cabai, benih jagung yang di gunakan sebelumnya telah dijemur hingga kering .Untuk benihnya Pak Purwanto menggunakan benih jagung yang bervarietas biasa dan bibit cabai bervarietas biasa. Untuk benih jagung, Pak Purwanto tidak membeli kepada kelompok tani tetapi menggunakan benih jagung yang di simpan dari hasil panen musim kemarin .Dalam luas lahan tegal 1000m^2, Pak Purwanto memerlukan benih jagung 1kg dan bibit cabai sebanyak 5000.
Jarak tanam yang di gunakan untuk menanam jagung dan cabai adalah ½ meter dan jumlah benih jagung perlubang adalah 3 biji. Untuk menanam jagung dan cabai memerlukan tanah yang di beri lubang atau dalam bahasa jawa “tanahnya digejiki” dengan sebatang kayu yang ujungnya di runcingi dan selanjutnya di “uluri”. Dalam bahasa Indonesia tanah diberi lubang dan kemudian diberi benih dan di tutup dengan tanah.Untuk pengairan tanaman jagung tergantung pada air hujan karena menggunakan sistem pengairan tadah hujan di saat musim penghujan .
Untuk pemupukan Pak Purwanto menggunakan pupuk kandang dan kimia. Pupuk kimia yang digunakan seperti ZA dan SP36. Pupuk kandang beliau dapatkan dari mertuanya. Untuk tanaman jagung pemupukan di lakukan dua kali saat jagung berusia 1 bulan dan 2 bulan. Sedangkan tanaman cabai pemupukan di lakukan satu pada saat usia 1,5 bulan. Untuk pemupukan luas lahan tegal 1000m^2 ± membutuhkan pupuk sebanyak 1,5 kwintal untuk jagung dan ± 2,5 kwintal untuk cabai
Penyiangan dilakukan dengan menggunakan “wakil”. Penyiangan dilakukan dua minggu sekali. Dalam tanaman jagung dan cabai , sering di jumpai daun rontok,buah busuk,layu,daun keriting menguning , maupun bintik-bintik hitam yang semuanya kemungkinan di sebabkan oleh OPT. Cara pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida yang di buat sendiri dengan campuran 3 bahan yakni racun , lem letron dan sekor . Harga masing-masing bahan ± Rp 80.000.- .Penentuan cabai siap di panen apabila sudah berbunga, daunnya sudah mulai menguning dan berumur 3 bulan serta muncul buahnya.Pak Purwanto di bantu istri dalam memanen cabai dengan cara manual yakni memetik buahnya. Hasil panen cabai langsung dijual. Sedangkan tanaman jagung yang sudah siap di panen apabila sudah berumur 3 bulan,daun dan kobot atau kulit jagung sudah kering . Panen di lakukan dengan menggunakan sabit ,kemudian jagung di kupas dari kulitnya. Hasil panennya langsung di jual kepada pedagang dan menyisakan sedikit untuk benih pada masa tanam berikutnya. Cara penyimpanan jagung yaitu jagung yang sudah di kupas dari kulitnya di jemur kemudian di pipil atau di rontokkan dan kemudian di jemur kembali hingga kering. Jagung yang sudah kering baru di masukkan kedalam karung dan di simpan. Penjemuran menggunakan panas matahari. Hasil panen jagung dijual apabila banyak ,namun sebagian di konsumsi. Apabila di jual dalam bentuk pipil harganya lebih mahal daripada yang masih berbentuk tongkol.
Sejak kecil Pak Purwanto memperoleh pengetahuan cara bercocok tanam cabai dan jagung dari orang tuanya dengan cara melihat cara bercocok tanam cabai dan jagung di lahan yang di miliki orang tuanya. Pengetahuan cara bercocok tanam jagung dan cabai tersebut tidak mengalami perubahan hingga kini sebab menurut Pak Purwanto pengetahuan yang diperoleh sudah cocok untuk diterapkan dan beliau sudah terbiasa menggunakan sistem bercocok tanam tersebut. Dan jika cara bercocok tanam tersebut diubah maka hasilnya juga tidak pas karena cara bercocok tanam tersebut sudah turun temurun,sehingga keluarga Pak Purwanto tidak mau mengubah cara bercocok tanamnya.

2.3 Identifikasi peranan lembaga/pranata sosial terkait dengan usaha tani dalam hal penguasaan lahan, saprodi pertanian dan tenagakerja
Oleh : Desi Kusuma
Lembaga Penguasa Lahan Pertanian
Status kepemilikan lahan sawah dan tegal yang digarap Pak Purwanto adalah hak milik sendiri, yang berupa warisan turun temurun dari keluarga besarnya yang diperolehnya semenjak beliau menikah 4 tahun silam. Sebelum mempunyai lahan sendiri, Pak Purwanto bekerja serabutan yaitu dengan ikut kerja orang dan sekedar hanya ikut bantu-bantu saja. Selain itu beliau juga sebelumnya pergi merantau ke Kalimantan untuk bekerja disana.
Lembaga Yang Melakukan Fungsi Penyediaan Sarana Produksi Pertanian ( Benih / Bibit, Pupuk, Obat-Obatan)
Pak Purwanto menggunakan bibit cabai bervarietas biasa dan menggunakan benih jagung bervarietas biasa. Pak Purwanto membutuhkan benih jagung sebanyak 1 kg untuk lahan seluas 1000m^2 dan bibit cabai sebanyak 5000 pohon. Bibit jagung dan kacang diperoleh dari hasil panen sebelumnya yang telah disimpan. Kadang kala Pak Purwanto juga membelinya secara mandiri. Sebenarnya di desa tersebut terdapat lembaga yang melakukan fungsi penyediaan sarana produksi pertanian yang meliputi benih/bibit, pupuk dan obat-obat an. Hanya saja Pak Purwanto kurang mengetahuinya secara pasti. Sehingga beliau tidak pernah ikut serta. Selain itu juga kecenderungan petani di daerah tersebut untuk membeli secara mandiri dalam sarana produksi pertanian. Sedangkan untuk pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang dan pupuk kimia. Jenis pupuk kimia yang digunakan adalah ZA dan SP36. Berhubung Pak Purwanto tidak mempunyai ternak sebagai usaha sampingannya, maka pupuk kandang tersebut diperoleh dari meruanya. Sedangkan untuk pupuk kimia nya yaitu ZA dan SP36 yang digunakan diperoleh dari cara membeli dengan harga Rp 70.000, – Rp 90.000, per karung yang berisi 50kg. Selain itu Pak Purwanto juga menggunakan pestisida yang berupa pestisida kimia. Untuk pestisida kimia yang digunakan adalah pestisida kimia yang didapatkan dengan cara membuatnya sendiri. Komposisi pestisida kimia yang digunakan Pak Purwanto adalah hasil dari campuran 3 bahan yakni racun , lem letron dan sekor . Harga masing-masing bahan ± Rp 80.000.- dan cara memperolehnnya adalah dengan cara membeli secara mandiri
Lembaga Yang Melakukan Fungsi Tenaga Kerja
Dalam kegiatan usaha tani Pak Haryanto hanya menggunakan tenaga sendiri. Untuk tenaga kerja apabila dibutuhkan hanya dari bantuan sang istri saja. Sedangkan apabila memang dirasa tidak cukup kuat lagi dalam bekerja, Pak Haryanto menggunakan tenaga kerja dari keluarga terdekat dan juga tetangga terdekat. Tetapi Pak Haryanto tetap memberikan upah kepada mereka sesuai upah standar dan juga sesuai dengan jenis kelamin dari orang yang bekerja tersebut. Sistem yang digunakan berupa upah harian dengan perincian Rp 25.000,- Rp 30.000, untuk tenaga kerja laki-laki dan Rp 20.000, – Rp 25.000, untuk tenaga kerja perempuan.Upah yang diberikan sudah memenuhi dengan ketentuan umum upah harian dan standar yang diberikan. Perhitungan satu hari kerja adalah mulai pagi hari sekitar pukul 06.00 pagi sampai pukul 11.00 siang atau dalam bahasa kesehariannya disebut ‘sapecat’. Alasan Pak Purwanto tidak menggunakan kerja secara terus menerus adalah karena lahan yang tidak terlalu luas serta fisik yang masih muda dan kuat, sehingga pada waktu saat ini masih bisa dikerjakan sendiri. 
2.4 Identifikasi peranan lembaga/pranata sosial terkait dengan usahatani dalam hal pengolahan dan pemasaran hasil pertanian serta Kelompok Tani/Gabungan Kelompok Tani
Oleh : Dessy Indah Luvita
Lembaga Yang Melakukan Fungsi Pengolahan Hasil Pertanian
Hasil panen jagung dan kacang pada setiap musim panen Pak Purwantotidak diolah sebelum dijual karena Pak Purwantomenjual hasil panennya dengan sistim tebas di sawah kepada pedagang.Sehingga Pak Purwantotidak perlu mengolahnya sebelum dijual bahkan tidak perlu usung-usung atau memindahkan hasil panennya dari sawah ke rumah, tidak perlu menjemur kcang dan jagung, dan tidak perlu memipil atau merontokkan jagung karena sudah dijual dengan system tebas di sawah.
Lembaga Pemasaran Hasil Pertanian
Hasil panen jagung dan kacang pada setiap musim dijual lebih dari 50%l dan disisakan sedikit untuk benih pada masa tanam musim berikutnya.Hasil panen Pak Purwantodijual kepada Pak Klewer dengan sistim tebas di sawah. menurut Pak Purwantodengan menjual hasil panennya dengan system tebas di sawah mempunyai keuntungan diantaranya Pak Purwantotidak perlu usung-usung atau memindahkan hasil panennya dari sawah ke rumah, tidak perlu menjemur kcang dan jagung, dan tidak perlu memipil atau merontokkan jagung.Untuk harga Pak Purwantoyang menentukan harga, karena menurut Pak Purwantojika harga ditentukan oleh pedagang Pak Purwantoakan rugi karena dibeli dengan haraga murah. Pak Purwantomenjual jagung dengan harga Rp 3.500,- per kg dan Rp 15.000,-per kg untuk kacang. Harga yang ditentukan Pak Purwantomerupakan harga pasar yang umum sehingga pembeli tidak melakukan tawar menawar.Pedagang membayar kontan setelah jagung dan kacang selesai di panen.
Kelompok Tani / Gabungan Kelompok Tani
Di dusun Krobyokan RT 03 RW 08 desa Jedong kecamatan Wagir kabupaten Malang terdapat kelompok tani yang diketuai oleh Pak Rani.Tetapi Pak Purwantotidak bergabung dalam kelompok tani. Alasan Pak Purwantotidak bergabung dengan kelompok tani adalah faktor usia.Pak Purwantohanya menggunakan jasa kelompok tani untuk memenuhi kebutuhan produksi sawah, seperti membeli pupuk dan pestisida kimia kepada kelompok tani.

2.5 Identifikasi deskripsi peranan lembaga/pranata sosial terkait dengan usaha tani dalam hal pengelolaan irigasi, lembaga keuangan/ kredit dan perubahan sosial
Oleh : Choirunnisa
Himpunan Petani Pemakai Air ( HIPPA)
Di Dusun Klampok RT 03 RW 07 Desa Klampok Kecamatan Singasari Kabupaten Malang tidak terdapat HIPPA (Himpunan Petani Pemakai Air). Mayoritas petani di desa ini menggunakan sistem ‘tadah hujan’, dimana petani hanya mengandalkan air hujan sebagai irigasi pada tegal yang mereka miliki. Demikian pula yang dilakukan narasumber kami, Pak Purwanto. Selama 4 tahun menjadi petani cabai, Pak Purwanto hanya mengandalkan air hujan sebagai sumber air irigasi untuk tegal yang beliau garap. Ketika sedang tidak musim hujan, Pak Purwanto menggunakan sumber air yang ada disekitar tegal untuk mengairi tegal garapannya. Sebagai antisipasi sebelumnya, Pak Purwanto merencanakan jenis tanaman yang akan ditanam dan memprediksikan musim yang kira-kira akan datang dengan melihat kondisi sebelumnya atau berdasarkan pengalaman sehingga tidak sampai terjadi kekurangan air atau kekeringan. Meskipun pak Purwanto juga menyadari bahwa kondisi cuaca dan iklim dewasa ini tidak dapat diperkirakan, karenasering terjadi keanehan/anomali cuaca.
Lembaga Keuangan / Perkreditan
Selama 4 tahun terakhir menjalankan usaha tani Pak Purwanto tidak pernah meminjam modal dari luar keluarga. Pak Purwanto mendapatkan modal dari keuangan pribadi beliau dan jika ada kekurangan Pak Purwanto meminjam modal dari kerabat dan keluarga dekatnya saja. Pernah pula Pak Purwanto meminjam dari KUD desa, namun beliau menuturkan bahwa meminjam seperti itu kurang menguntungkan karena harus membayar bunga dari pinjaman tersebut dan ketika ada kesulitan membayar cicilan saat tanggal jatuh tempo justru akan menimbulkan permasalahan baru yang ujungnya adalah berhutang pada pihak lain. Karena itu, saat ini Pak Purwanto lebih memilih meminjam pada keluarga atau kerabat.
Perubahan Sosial dalam Lembaga yang terkait dengan Usaha Tani
Menurut pengamatan dan pengalaman Pak Purwanto selama menjadi petani,tidak banyak yang berubah dari cara-cara bercocok tanam, pengelolaan lahan maupun penggapan lahan. Berdasarkan pengalaman pak Purwanto belum pernah menggarap sawah atau tegal dengan sistem sewa atau bagi hasil. Beliau biasanya menjadi buruh di lahan orang lain namun tidak menggarap secara penuh atau hanya sebagai buruh harian.
Pak Purwanto menuturkan bahwa banyak warga desa yang menggarap lahan dengan sistem bagi hasil yaitu maro. Dalam sistem maro pembagian hasil panen setengah untuk penggarap lahan dan setengah untuk pemilik lahan, dengan ketentuan petani penggarap lahan membiayai seluruh produksi seperti bibit dan pupuk. Sedangkan pemilik lahan tinggal menerima hasil panen bersih dari penggarap sebab penggarap tidak perlu membayar sewa untuk lahan garapannya. Untuk sistem mertelu dan mrapat tidakditemui di desa ini.
Lembaga penyediaan sarana produksi pertanian seperti bibit atau benih, pupuk, dan obat-obatan adalah kelompok tani. Namun, Pak Purwanto juga tidak ikut dalam kelompok tani tersebut. Menurut beliau, kelompok tani yang ada tidak jelas. Lebih jauh beliau menambahkan kelompok tani yang ada tidak membantu petani dan tidak mensejahterakan anggotanya. Kelompok tani tersebut sekarang telah dibubarkan. Untuk memenuhi kebutuhan bibit atau benih biasanya Pak Purwanto membeli sendiri di toko pertanian yang jaraknya cukup jauh dari rumah beliau atau beliau mengambil hasil panen yang terbaik yang kemudian diberi perlakuan sehingga dapat digunakan sebagai bibit atau benih tanam untuk musim selanjutnya.
Sistem pengadaan tenaga kerja di Dusun Klampok adalah dengan sistem upah harian. Besarnya upah ditentukan tidak berdasarkan jenis pekerjaan yang dikerjakan melainkan berdasarkan jenisn kelamin. Untuk pekerja pria upahnya sebesar Rp. 25.000,- s/d Rp. 30.000,- per hari kerja dan untuk pekerja wanita sebesar Rp. 20.000,- s/d Rp. 25.000,- per hari kerja. Perhitungan satu hari kerja adalah mulai pagi hari sekitar pukul 06.00 pagi sampai pukul 11.00 siang atau dalam bahasa kesehariannya disebut ‘sapecat’.
Lembaga yang secara resmi mengatur tentang pengolahan dan pemasaran sebenarnya tidak ada. Pak Purwanto dan kebanyakan petani lainnya sering kali langsung menjual hasil panen mereka pada tengkulak baik dalam kondisi segar(cabai) maupun sudah dikeringkan terlebih dahulu (jagung).
Lembaga kredit / keuangan untuk usaha tani di dusun Klampok sebenarnya ada tetapi Pak Purwanto tidak menggunakan jasa lembaga tersebut. Pak Purwanto dan petani lainnya tidak berani meminjam dana untuk usaha tani pada lembaga kredit / keuangan karena takut pada aturan-aturan yang ditetapkan dan menurut sepengetahuan Pak Purwanto dengan meminjam modal pada lembaga kredit / keuangan tidak menguntungkan karena ada bunga untuk setiap bulannya. Karena alasan tersebut, Pak Purwanto lebih memilih menggunakan modalnya sendiri untuk memenuhi kebutuhan usaha taninya walaupun hanya memiliki sedikit modal. Harga yang ditetapkan oleh tengkulak. Petani yang telah meminjam modal pada Bank tidak dapat menjual hasil panennya pada pembeli lain sepeti tengkulak dan pedagang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>