browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

NO MATTER WHAT

Posted by on October 14, 2012

(tembang-tembang jawa)

Bulan terlewat terang untuk bisa kabur dari hujaman sinarnya. Sendu yang kelabu tak akan berubah warna kecuali semakin membiru. Seorang bapak sedang menembang pucung – maskumambang-dolanan terus, selalu dan bergantian, sambil duduk diatas kursi anyaman bambu, dengan kepala mendongak keatas menantang bulan Sang istri hanya bisa mengelus pundaknya, terus dan selalu.

 

“Hati-hati Pak, jangan sembarangan menyalah gunakan wasiat leluhur! Atau mereka akan murka. Jangan menyesal kalau nanti keluarga kita porak poranda”

“Porak poranda itu melihat anak yang kita idam-idamkan setelah sembilan tahun pernikahan hatinya harus remuk redam karena cibiran kawan-kawannya Buk!”

“Terserah Bapak! Ibu sudah mengingatkan. Kutukan leluhur itu tak pernah main-main.” Tukas Sang Istri membuang muka lalu kembali mengaduk kopi yang ia buat untuk suaminya di dapur.

***

Pak dumadi duduk menerawangi bulan sambil menembangkan beberapa tembang Jawa, yang dulu selalu ia nyanyikan ketika menanti-nanti lahirnya Taslim.

“ Le, sementara pakai sepeda angin dulu. Kalau warung kopi Bapak dan Ibu makin maju, baru beli sepeda motor!” Pak dumadi menguatkan hatinya untuk tetap memberikan sepeda angin yang telah ia beri sebagai pengganti sepeda motor yang diinginkan oleh Taslim.

“Halah.. wong Bapak ini lebih sayang sama kerisnya daripada sama anaknya. Tiap hari mandiin keris, ngasih kembang tujuh rupa lah, beli menyanlah. Jangan kira Taslim ndak tahu kalau keris itu di tawar 10 kuta sama Pakde Bowo! Bapak mau kehilangan keris atau kehilangan anak! Katanya sayang!” ucap taslim satire sambil membanting sepeda angin dari Bapaknya lalu pergi begitu saja setelah sebelumnya menyembulkan asap rokok tepat diwajah Bapaknya.

“Jangan diturutin terus anak itu Pak! Bapak terlalu memanjakan dia!” Ucap Misrika mengamati pemandangan yang baru saja terjadi.

***

Ini malam jum’at legi, sambil menangis Taslim melaksanakan ritual rutinnya memberi makan keris. Kali ini air matanya sedikit berlinang, mengelus keris tersebut sedikit lebih lama dari biasanya. Hatinya was-was menanti kedatang Pakde Bowo. Ia serahkan sepenuhny pada Hyang widhi, apapun yang harus menimpa keluarganya setelah Keris ini berpindah tangan. Andai ia mampu mengabaikan segala pinta putranya. Andai ia mampu mungkin ia tak akan menggadaikan kepercayaannya. Ini seperti memakan buah simalakama masak pohon.

“He he he.. , sudah Dumadi, jangan bimbang. Keris Bopomu akan aman ditanganku!” akhirnya suara itu datang kemudian pergi menyisahkan air mata dan bau kembang tujuh rupa sisa memandikan keris yang sekarang digantikan segepok uang 10 juta rupiah.

***

“Pakde… Bude….. Taslim. Taslim ditabrak polisi. Dia mati!” Begitu mudahnya Jihan, kawan Taslim  mengucap kata mati, ini kiamat , Batin dumadi. Istrinya langsung tergeletak pingsan mendengar kabar tersebut.

***

Lama sekali Dumadi didiamkan seperti ini dikantor polisi, dijanjikan ini dan itu, hingga polisi sialan itu justru keluar dengan beberapa lembar uang.

“Sudah pak… jangan dibikin susah, bisa-bisa Bapak harus jual diri untuk melanjutkan kasus ini!” bisik polisi tersebut sambil menyodorkan lembaran uang tersebut, memaksa dumadi menerimanya.

Ia terima lembaran-lembaran uang tersebut, lalu ia keluarkan sebuah rokok, dan korek, ia nyalakan api, lalu ia dekatkan selembar uang seratus ribu hingga terbakar, lalu ia arahkan api tersebut pada rokoknya, ia menyalakan rokok tersebut sambil menunduk. Lalu membakar seluruh lembaran uang tersebut sambil menetes air matanya. Kemudian ia berjalan pulang.

***

Jenazah Taslim datang, Misrika masih menangis sesenggukan. Dumadi sendiri tak bersuara sejak kabar kematian putranya hingga jasadnya kini ada dihadapannya. Tepat ketika jenazah Taslim datang Dumadi beranjak, menuju kamar memakai sebuah baju mirip baju perang yang terbuat dari kertas manila dilapisi plastik bertuliskan “menuntut keadilan”. Lalu berjalan keluar rumah tak menghiraukan apapun yang ada disana.

Dumadi berjalan dan terus berjalan seperti orang kesurupan ia terus berjalan, tak ada kerikil yang tajam, tak ada terik yang terlalu panas. Tak ruang yang lebih hampa, daripada hatinya yang ditinggalkan Taslim. Putra tercintanya.

***

Misrika menangis dirundung pilu, putranya pergi, kini suaminya malah menghilang entah kemana. Hidup semakin porak poranda, berapa banyakpun dupa yang ia bakar untuk memohon ampun pada sang Widhi . Hingga tampaknya dupa pagi tadi menjawab segala bimbangnya.

“Bapak…..!” Berhamburan Misrika memeluk suaminya yang telah pulang, wajahnya, tubuhnya sudah tak berbentuk. Kusam, rambut panjang, sebulan ia pergi dapat apa?

“Aku bertemu Pak Presiden di Jakarta. Aku tak mendapat apa-apa, sekarang biarkan aku mencari keadilan pada Gusti!” Dumadi melepas baju perang batinnya yang telah lusuh bahkan hampir tak bersisa. Istrinya masih tercengang, untuk itukah selama ini dumadi pergi. Sekarang apa lagi yang ia inginkan? Tak cukupkah segala penderitaan kehilangan Taslim.

“Mau kemana lagi Pak?”

“Mencari keadilan pada pencipta alam!” Misrika kehilangan akal, sudah habis pikir. Seketika beranjak dari kursi tua di gubug reotnya.

“Wes to pak, cukup pak, cukup! Tuhan itu ndak salah!!!!”

“Iya Tuhan memang ndak salah Buk, tapi mereka yang salah. Pengacara keparat itu yang salah. Mungkin Tuhan belum mendapat kabar itu, biar aku beri tahu Tuhan!”

“Bapak ini mau kemana lagi!”

“Mendatangi Sinar Tuhan yang terbesar buk, anak kita itu mati!”

“Bapak sudah tahu kenapa nggak diterima saja kenyataan itu pak!” Misrika menahan langkah suaminya, frustasi, menangis, hatinya luruh bak abu yang terguyur air, hilang tak berbekas disaput luka demi luka.

“Aku punya cara sendiri untuk menerima semua ini, sama seperti para aparat keparat itu yang mempunyai cara sendiri memperlakukan kematian Taslim!”

“Nyebut pak, nyebut.. Biyuh….. Pak….!” ditepisnya tangan Misrika dan Dumadi melanjutkan perjalanannya menuju Tengger, untuk menghadap rumah Tuhan yang terbesar, yaitu disuatu tempat dimana cahaya terpancar begitu terang.

***

Misrika rasa dia satu-satunya yang harus menghadapi semua yang terjadi ini dengan sewajar mungkin, ia mulai menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa, berjualan kopi. Lagi-lagi satu bulan sudah suaminya pergi. Tepat di hari ke 30, misrika berharap do’anya pagi ini kembali terjawab, andai ia tahu bahwa dirinya adalah manusia cacat yang hatinya cacat, berjalan pincang tertatih. Pincang kehilangan putranya, masih harus pincang lagi suaminya sudah berpikir jauh diatas nalarnya.

“Buk!” Suara yang ia rindukan itu kembali datang. Misrika tak perlu bersorak seperti dulu, semua rasa biar ia resap, ia kecap dan ia telan sendiri dalam hati.

“Bapak…. ayo duduk, ibu buatkan kopi!” dengan langkah gontai misrika menuju dapur, menyiapkan secangkir kopi untuk suami tercinta yang telah hilang lama dari pandangan serta jangkauan, namun dihati tak pernah hilang. Rindu ini bertemu, itupun sudah cukup, tak perlu dirayakan dengan air mata.

(tembang jawa….) Misrika membawakan cangkir kopi suaminya, mata itu. Misrika tahu suaminya belum juga mendapatkan segala tanya yang membuncah dihatinya. Sekali lagi mata itu, mata dumadi, mata suaminya membuat Misrika tahu semuanya sudah tak lagi sama, suaminya terluka, bahkan mungkin jiwanya telah hilang bersamaan dengan hilangnya nyawa buah hatinya.

“ (tembang jawa)……….!” Benar saja, pandangan mata itu kosong setiap hari, hanya mengeluarkan tembang demi tembang, andai cinta punya ukuran Misrika ingin pergi dari semua ini, andai pergi bisa membahagiakannya, andai ia bisa bahagia tanpa harus merasa terbeban ketika kekasih tercintanya hancur berkeping dalam diam yang bungkam.

***

7 hari kemudian

Belum selesai tembang pertama diselesaikan, ini kali pertama setelah kepulangan Dumadi dari perjalanan menghadap Tuhannya, ia tak lagi memandangi sesuatu yang kosong, kali ini ia memandangi mata istrinya lalu berlinangan air matanya, menangis tanpa suara, hanya diiringi guncangan.

“Tak apa-apa Pak, anakmu itu bandel, sontoloyo kurang ajar, dan kamu tak perduli, tetap mencintainya. Bahkan yang paling kurang ajar berani-beraninya ia mati, iyah.. dia mati pak, dan kau tak perduli kau tetap mencintainya. Dan Samean, samean gila, aku juga ndak perduli pak, aku tetap cinta!” Dumadi berhenti menangis, kembali memandangi bulan dalam kekosongan, lalu melanjutkan tembangnya.

By : Fanni

Fiktif cerita dari kisah Indra Aswan, seorang pejuang asli Malang yang mencari keadilan hingga ke Jakarta dengan berjalan kaki selama 22 hari.