browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Him

Sosok orang yang tegar dalam menjalani kehidupan. Kebanyakan rang memanggilnya Yuda atau Amrizal. Anak bungsu dari keluarga besar Bapak Agus Susilo. Katanya sih, pasangan yang didasari anak pertama (aku) dan anak terakhir (dia) nantinya bakal jadi pasangan yang harmonis dalam membina keluarga. Terang saja kalau dipikir2 sih emang iya.. 😀 Saling ‘momong’ (dalam bahasa jawa) artinya saling mengasihi dan menyayangi.

Mendapatkan anak bungsu yang dimanja sang bunda merupakan suatu tantangan tersendiri bagi saya. Karena saya harus benar benar bisa menghargai kedekatan diantara mereka. Tidak ada kata cemburu dan amarah. Hanya ada kata sabar dan setia.

Saya mengenalnya semenjak memasuki bangku SMA. Kesan pertama yang begitu unik dan menarik bagi saya. Semua berawal dari sahabat sahabat saya (Hemas, Dwi dan Hermi). Ketika MOS tiba, kami dibanjiri dengan berbagai tugas MOS. Kami merngerjakannya di rumah saya sambil bercengkerama. Setiap hari mereka meracuni telinga saya dengan nama ‘Amrizal Triyudanto’. Siapa dia? saya tidak tahu. Yang saya tahu, dia adalah salah satu orang terkocak sewaktu MOS berlangsung dan katanya identik dengan ‘hidungnya yang overload’. haha :p

Ketika pengumuman pembagian kelas sepuluh, Dwi berteriak tepat di telinga saya,” MOL!!! KAMU SEKELAS SAMA AMRIZAL!!!” Dan saya hanya bisa bengong.:O

Memasuki hari pertama sekolah, pemilihan kandidat ketua kelas dimulai. Sontak saya tanpa sadarkan diri mengatakan, “Amrizal, bu!”. Saya dipertemukan dengan sesosok pria tampan yang duduk di belakang saya. “Hei, sopo iku?”, katanya. Saya menoleh. Ya, dia Amrizal Triyudanto. Kelas Biologi C SMA Negeri 2 Lumajang menjadi saksi pertemuan kami. 🙂

Praktikum Biologi sekelompok 🙂

Saya tidak menyangka bisa mengenalnya lebih jauh. Perlahan tapi pasti. Alhamdulilah saya bertemu dengan sesosok orang yang menerima saya apa adanya, low profile, tegas, bijaksana, dan setia. Banyak perbedaan di antara kami. Itu yang saya suka. Perbedaan bukanlah aral bagi kami dan justru menjadi bumbu pelengkap dalam menjalin sebuah hubungan, Sama sekali tidak ada kata menyesal bisa hiduo bersamanya, Dia mengajarkan saya banyak hal.

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. TanpaMu semua ini tak kan pernah terjadi 😀