Bioteknologi Pertanian



Filed under : Tugas Kuliah

PENGENDALIAN HAYATI TERHADAP HAMA PENGGEREK PUCUK TEBU Scirpophaga nivella

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

 Kerusakan tanaman perkebunan akibat serangan serangga hama sangat merugikan manusia. Namun demikian hampir semua serangga hama mempunyai musuh alami yang mengendalikan populasi hama pada kesetimbangan tertentu. Musuh alami hama tersebut dapat berupa pathogen, parasitoid telur, larva, maupun pupa dan predator. Seperti diketahui bahwa dari data biologi penggerek pucuk tebu 85% dari lama hidupnya berada dalam tanaman tebu, sehingga serangga ini sulit untuk dijangkau oleh predator dan parasitoid ataupun residu insektisida kontak. Hanya  stadium telur yang terletak di permukaan bawah daun yang berpeluang untuk terserang parasitoid telur maupun larva.

Keadaan ini memberikan peluang bagi pemberdayaan parasitoid telur untuk pengendalian hayati penggerek pucuk tebu. Pengendalian hayati penggerek pucuk tebu dengan memanfaatkan parasitoid telur Trichogramma spp dan Telenomus dingus Gahan telah dilakukan dibeberapa sentra perkebunan tebu. Namun tingkat keberhasilannya untuk Trichogramma spp masih rendah sehingga populasi maupun tingkat serangan penggerek pucuk masih tetap tinggi. Untuk itu pencarian dan pemilihan agen hayati serta mengembangkannya secara masal diperlukan untuk memulai upaya pengendalian hayati hama penggerek pucuk di lapang yang lebih baik.

Parasitoid Telenomus dingus Gahan diketahui juga menyerang telur penggerek batang tebu. Biologi dan perilaku Telenomus dingus Gahan belum banyak dipelajari sehingga pemanfaatan parasitoid ini untuk keperluan pengendalian hama, belum banyak dilakukan. Sedangkan untuk keperluan pembiakan masal guna pengendalian hama penggerek batang tebu membutuhkan informasi mengenai biologi dan perilaku parasitoid.

Dalam pengendalian hayati, pemanfaatan parasitoid telur maupun larva merupakan tindakan pengendalian yang paling awal untuk menurunkan natalitas populasi hama penggerek.

1.2 Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:

1. Pembaca dapat mengetahui lebih mendalam tentang serangan hama penggerek pucuk tebu (Scirpophaga nivella) mulai dari jenis hama yang menyerang hingga cara hama tersebut menyerang tanaman tebu.

2. Pembaca dapat mengetahui tentang cara penanggulangan serangan hama penggerek pucuk tebu dengan menggunakan Pengendalian Hama Terpadu agar tidak merusak ekosistem yang ada di sekitar lahan budidaya.

 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Pengertian Pengendalian Hayati

Pengendalian hayati adalah penggunaan musuh alami (pemangsa, parasitoid, dan patogen) untuk mengendalikan populasi hama. Pengendalian hama dengan taktik atau teknologi berbasis biologi mencakup lima tipe, yaitu pengendalian hayati, pestisida mikroba, senyawa-senyawa kimia yang memodifikasi perilaku hama, manipulasi genetika populasi hama, dan imunisasi tanaman. Pendekatan yang digunakan di dalam pengendalian hayati adalah pengendalian hayati klasik, pengendalian hayati augmentasi, dan konservasi musuh alami. Pengendalian alami adalah pengendalian populasi makhluk hidup di alam karena tekanan faktor lingkungan biotik dan abiotik. Di dalam pengendalian alami tidak ada peran aktif manusia. Musuh alami di dalam pengendalian hayati terdiri atas pemangsa, parasitoid, dan patogen. Pemangsa adalah serangga atau hewan pemakan serangga yang selama masa hidupnya banyak memakan mangsa. Parasitoid adalah serangga yang meletakkan telurnya pada permukaan atau di dalam tubuh serangga lain yang menjadi inang atau mangsanya. Ketika telur parasitoid menetas, larva parasitoid akan memakan inang dan membunuhnya. Patogen adalah makhluk hidup yang menjangkitkan penyakit pada inang atau menjadi pesaing untuk mikroba patogen yang menyerang tanaman.

Parasitoid memiliki inang yang spesifik, berukuran relatif kecil, sehingga sulit dilihat. Umumnya, parasitoid hanya memerlukan seekor serangga inang. Parasitoid meletakkan telurnya secara berkelompok atau individual di dalam atau di sebelah luar tubuh inangnya. Bila sebutir telur parasitoid menetas dan berkembang menjadi dewasa,  maka inangnya akan segera mati. Parasitoid dapat menyerang telur, larva, nimfa, pupa atau imago inang (Arifin, 1999).

2.2    Morfologi, Siklus Hidup, dan Daur Hidup Parasitoid

Siklus hidup parasitoid dimulai dari telur yang dimasukan oleh parasitoid betina ke dalam telur inang dengan bantuan ovipositor. Telur menetas menjadi larva kurang lebih 1 hari. Larva parasitoid berwarna kuning, tidak berkaki, berbentuk eruciform dan bersegmen sejumlah 13 buah. Ukuran larva dapat mencapai kurang lebih 1 mm. Dalam satu telur penggerek pucuk terdapat 1-3 ekor parasitoid, rata-rata 2 ekor parasitoid. Daur hidup larva adalah 3-4 hari.

Parasitoid stadia prepupa dan pupa tetap berada dalam telur inang dan terbungkus kokon yang tipis. Pada stadia prepupa parasitoid mulai tampak langsing dengan penggentingan di daerah thorax. Parasitoid telah mempunyai bentuk imago yang khas yaitu kepala, thorax dan abdomen. Extremitas belum terbentuk, calon mata tampak sebagai bulatan bening di daerah kepala.

Pupa parasitoid mula-mula berwarna kuning muda kemudian berangsur-angsur menjadi hitam. Bagian-bagian tubuh mulai kepala, thorax, abdomen, anthena, kaki hingga sayap tampak jelas. Mata berwarna merah orange kemudian menjadi hitam. Lama stadia pupa 4-5 hari.

Parasitoid biasanya menetas 10-12 hari setelah peletakan telur. Penetasan terjadi pada pagi hari antara pukul 5.00-10.00 WIB. Tidak pernah dijumpai parasit yang menetas di siang atau sore hari.

Imago jantan biasanya lebih kecil dibanding imago betina. Panjang tubuh imago jantan kurang lebih 1 mm. Imago jantan mudah dibedakan dari imago betina dari bentuk anthena nya. Anthena imago jantan berbentuk moniliform sedangkan anthena betina berbentuk clavate. Abdomen jantan terlihat membulat dengan bagian ujung terlihat menekuk ke arah ventral. Bentukan ini sangat membantu pada waktu terjadi kopulasi.

Imago betina lebih besar dibanding imago jantan. Ukuran tubuh betina kurang lebih 1-1,5 mm. Abdomen betina memanjang dengan bagian ujung meruncing. Ujung yang meruncing sangat membantu pada waktu peletakan telur karena ovipositor parasitoid tidak terlalu panjang. Ovipositor hanya dijulurkan ketika peletakan telur dan segera ditarik kembali kedalam abdomen. Panjang ovipositor parasitoid kurang lebih 0,3 mm.

Daur hidup imago jantan lebih pendek dari imago betina. Tanpa makanan imago hanya mampu bertahan 1,22 hari, sedangkan imago betina 1,78 hari. Pemberian larutan madu dapat memperpanjang umur parasitoid hingga beberapa hari. Pemberian larutan madu 20% bahkan dapat memperpanjang umur imago betina hingga 37 hari.

1. Perilaku Kopulasi

Kopulasi biasanya terjadi pada pagi hari, antara pukul 6 – 10 pagi. Pada saat kopulasi imago jantan berada di atas imago betina, kaki – kaki nya mencengkeram tubuh betina sedangkan anthenanya bergerak – gerak cepat. Imago betina diam, tidak ada gerakan, anthena juga diam. Biasanya parasitoid dapat langsung kawin beberapa saat setelah menetas. Satu pasang parasitoid dapat kawin lebih dari 1 kali. Satu ekor parasitoid jantan dapat kawin dengan beberapa ekor betina. Lama kopulasi tercepat 2 detik dan terlama 2 menit 31 detik.

2. Partenogenesis

Selain dengan cara sexual, parasitoid betina mampu menghasilkan keturunan dengan cara parthenogenesis. Hasil pengamatan menunjukan kurang lebih 62% parasit betina mampu bereproduksi secara parthenogenesis. Tanpa kawin parasitoid betina dapat menghasilkan 1-73 ekor keturunan atau rerata 8,18 keturunan per betina. Namun parthenogenesis hanya menghasilkan individu berkelamin jantan.

3. Peletakan Telur

Biasanya beberapa saat setelah kawin, parasitoid betina langsung meletakan telurnya. Pada saat peletakan telur kaki kaki parasitoid diam, anthena dan sayap bergetar dengan posisi sayap menutup. Setelah peletakan telur selesai sayap membuka parasit menarik ovipositornya dan meninggalkan telur ke inangnya. Lama waktu peletakan telur tergantung letak telur dalam kelompok. Untuk telur yang terletak di pinggir semakin cepat waktu proses peletakanya, sebaliknya telur yang terletak di tengah lebih lama.  Lama rata – rata peletakan telur adalah 42,31 detik. Peletakan tercepat 7 detik dan terlama 2 menit 20 detik.

Sex ratio parasitoid sangat dipengaruhi oleh perkawinan imagonya. Perkawinan akan memperbanyak keturunan berkelamin betina. Keadaan ini sangat menguntungkan, karena semakin banyak parasit betina semakin terjaminnya kelangsungan dari keturunan parasit berikutnya.

2.3    Tanaman Tebu

Kerajaan      : Plantae

Filum            :  Magnoliophyta

Kelas             :  Liliopsida

Bangsa          :  Poales

Suku              :  Poaceae

Marga           :  Saccharum

Jenis             :  Saccharum Officinarum L                                         (Anonymous, 2012)

Tebu (Saccharum officinarum linn.) merupakan tumbuhan sejenis rerumputan yang dikelompokan dalam famili Gramineae. Seperti halnya padi dan termasuk kategori tanaman semusim, tanaman tebu tumbuh membentuk anakan, mengelompok dalam bentuk rumpun dan menghasilkan karbohidrat yang begitu tinggi. Berbeda dengan padi yang satu siklusnya 3-4 bulan, tanaman tebu membutuhkan waktu untuk menghasilkan produksi gula mencapai 11-12 bulan, sehingga memiliki biomassa yang cukup tinggi.

Tanaman tebu dapat diusahakan di lahan sawah dan lahan tegalan, yang dikenal dengan kategori tebu sawah dan tebu tegalan. Selain itu, berdasarkan sifat inheren tanaman pada tanaman tebu dikenal dengan kategori tanaman plant cane (PC) dan ratoon (R). Semua kondisi kategori tersebut memilih pengaruh terhadap nuansa karakterisasi pertumbuhan tebu. (Anonymous, 2011).

Dalam usaha perkebunan tebu, pengendalian hama merupakan salah satu penentu keberhasilan usaha selain pemuliaan bibit, pupuk dan irigasi. Hal ini disebabkan oleh keberadaan hama sebagai perusak tanaman sehingga tanaman tidak dapat dipanen. Oleh karena itu, dewasa ini sangat banyak diketahui metode-metode untuk mengendalikan bahkan memberantasnya.

Biologi suatu hama mutlak harus diketahui terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan pengendalian. Hal ini perlu agar setiap upaya pengendalian yang dilakukan benar-benar terarah, kena sasaran, efektif dan efisien. Disamping itu, hal lain yang perlu dilakukan sebelum melakukan tindakan pengendalian adalah harus mengetahui terlebih dahulu kondisi serangan di lapangan agar dapat ditentukan teknik/cara dan saat pengendalian yang tepat, serta kebutuhan sarana pengendalian yang diperlukan. Sebenarnya upaya pemantauan atau monitoring secara rutin sangat membantu tindakan pengendalian yang terarah, efektif dan efisien.

Pengaruh hama terhadap produktivitas tebu sangat signifikan. Penurunan produksi tebu yang diakibatkan oleh serangan hama dapat mencapai 10-50% tergantung intensitas serangannya. Pada kondisi serangan hama tertentu yang sangat parah, dapat mengakibatkan kegagalan panen. Hanya saja, karena serangan hama bersifat epidemik dan terkadang sporadik sering tidak menimbulkan persoalan yang bersifat menyeluruh dan serentak menurunkan produktivitas tebu. Kerusakan tebu akibat serangan hama sering terjadi pada luasan yang terbatas. Namun pada kasus tertentu seperti terjadinya serangan hama belalang di daerah perkebunan tebu Sumatera Selatan, wilayah serangannya cukup luas dan terjadi secara serempak, cukup berpengaruh nyata terhadap penurunan produktivitas lahan. Meskipun demikian, karena persoalan hama sangat mengganggu dan selalu mengkhawatirkan kondisinya di lapang, karena ditakutkan mencapai serangan yang bertambah luas, maka pengendalian hama merupakan salah satu tahap budidaya yang perlu dilakukan (Anonymous, 2012).

Beberapa jenis hama tebu yang penting dan senantiasa menimbulkan kerugian besar adalah : Penggerek Pucuk, Penggerek Batang, Kutu Bulu Putih, Uret Dan Boktor, Ulat Grayak, Tikus, dan Belalang (Anonymous, 2012).

 

BAB III
POKOK BAHASAN

 

3.1    Hama Penggerek Pucuk Tebu dan Gejala Serangan

3.1.1 Klasifiksi Hama Penggerek Pucuk Tebu :

Kerajaan        : Animalia
Filum              : Arthropoda
Kelas               : Insecta
Bangsa            : Lepidoptera
Suku                : Pyralidea
Marga              : Scirpophaga
Jenis                : Scirpophaga nivella                                      (Anonymous, 2012)

Hama penggerek pucuk tebu menurut Kalshoven, 1981 diklasifikasikan Phyllum Arthropoda, Kelas Insecta,  Bangsa Lepidoptera, Suku Pyralidea, Marga Scirpophaga, Jenis  Scirpophaga nivella.

Scirpophaga nivella Fabricus meletakkan telurnya pada bagian bawah perkumakaan daun secara berkelompok, dan tersususn seperti sisik ikan yang tertutup selaput berwarna coklat kekuningan. Jumlah telur mencapai 6-30 butir. Setelah 8-9 hari menetas. Ulat yang keluar dari telur menuju daun yang masih muda dengan cara menggantungkan pada benang – benang halus yang dikeluarkan dari mulutnya. Larva akan menggerek daun dan menuju ibu tulang daun, larva menggerek menuju titik tumbuh batang dan menembus batang. Setiap batang berisi satu telur penggerek. (Kalshoven, 1991). Ulat tersebut pada umur muda berwarna kelabu, kemudian berubah warna menjadi kuning kecoklatan dan pada saat mendekati stadium pupa berwarna kuning putih.

3.1.2 Siklus Hidup Penggerek Pucuk Tebu

Fase pertama adalah telur yang di hasilkan dari tetua betina yang jumlahnya berkisar 6-30 butir  akan menetas pada umur 8-9 hari. Ulat yang keluar dari telur menuju daun yang masih muda dengan cara menggantung pada benang-benang  halus yang dikeluarkan dari mulutnya. Larva akan menggerek  daun dan menuju ibu tulang daun, larva menggerek  menuju titik tumbuh batang dan menembus batang. Setiap batang berisi satu ekor penggerek (Kalshoven, 1981). Ulat tersebut pada umur muda berwarna kelabu, kemudian berubah berwarna kuning kecoklatan dan pada saat mendekati stadium pupa berwarna kuning putih. Stadium  pupa calon betina 8-10 hari dan calon jantan 10-12 hari. Kupu-kupu betina   sudah   dapat   bertelur   sehari   setelah   keluar   dari   kepompong   kupu-kupu mempunyai warna sayap dan punggung putih dengan jambul berwarna merah. Siklus hidup penggerek betina 48-58 hari dan jantan 50-56 hari (Handjojo, 1976).

3.1.3. Gejala Serangan

Gejala serangan pada helai daun terdapat lubang melintang dan ibu tulang daun terlihat bekas gerekan berwarna coklat. Daun yang terserang akan menggulung dan kering yang disebut Mati Puser. Apabila batang dibelah maka akan kelihatan lorong gerekan dari titik tumbuh ke bawah kemudian mendekati permukaan batang dan sering menembus batang. Oleh karena itu serangan penggerek pucuk dapat menyebabkan kematian. Pada ruas batang yang muda yaitu di bawah titik tumbuh terlepas lubang keluar ngengat. (Djsamin, 1984)

3.1.4 Faktor yang Mempengaruhi Hama penggerek Pucuk Tebu

Faktor yang mempengaruhi kehidupan hama penggerek pucuk tebu antara lain, teknik bercocok tanam, tanaman inang, faktor lingkungan serta faktor musuh alami.

1. Teknik Bercocok Tanam

Waktu tanam yang tidak serentak merupakan  kondisi yang baik bagi perkembangan populasi  hama  penggerek  pucuk  tebu.  Tebu  yang  ditanam  lebih  awal  bisa menjadi sumber investasi hama penggerek pucuk bagi tanaman tebu yang ditanam berikutnya. Tebu  yang  ditanam  awal  merupakan  inang  (host)  bagi  penggerek  pucuk  dalam memenuhi  kebutuhan  makan,  tempat  tinggal dan berkembang  biak. Akibatnya  akan diperoleh  sumber  serangan  yang  besar  dan sangat  berpotensi  untuk  merusak  tebu yang ditanam berikutnya.

2. Tanaman Inang

Sifat  morfologi  dan  anatomi  tebu  mempunyai  korelasi  dengan  serangan  penggerek pucuk  (Anonymous,  2012).  Tebu dengan  tulang  daun  yang keras  atau tulang  daun dengan banyak lekukan pada epidermis bagian bawah lebih tahan terhadap serangan hama   penggerek   pucuk.   Kekerasan   pupus   dapat   mengurangi   serangan   hama penggerek  pucuk.  Kemampuan  menyerang  penggerek  pucuk  juga  dipengaruhi  oleh umur tanaman. Penggerek pucuk umumnya menyerang tanaman muda berumur lebih kurang 2 bulan.

3. Faktor Lingkungan

Tingkat  serangan  penggerek   pucuk  pada  tanaman  tebu  di  lapang  lebih  banyak dipengaruhi  oleh  tinggi  rendahnya  curah  hujan  daripada  jenis  tebu.  Semakin  tinggi curah  hujan  serangan  penggerek  pucuk  cenderung  meningkat  (Wiriatmojo, 1978). Curah hujan yang tinggi meningkatkan kelembapan tanah dan merupakan tempat yang sangat baik untuk pengembangannya.

4. Faktor Musuh Alami

Keberadaan musuh alami di lapang juga mempengaruhi populasi hama, musuh alami yang dapat mengendalikan hama penggerek pucuk adalah parasit Trichogramma. Kerugian akibat serangan penggerek pucuk yang terjadi pada 1 s/d 5 bulan sebelum tebang menyebabkan rendemen gula berkurang 15-77% (Anonymous, 2012).

3.2 Pengendalian Hama Penggerek Pucuk Tebu Secara PHT

3.2.1 Pengendalian Hama Penggerek Pucuk Tebu

Dengan kondisi luas serangan yang merata di seluruh Indonesia, maka strategi pengelolaan   hama   penggerek   pucuk   tebu   yang   paling   tepat   adalah   dengan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Teknik Pengendalian Hama Terpadu yang dapat diterapkan diantaranya:

1. Pengendalian Mekanis

Pengendalian mekanis dapat langsung dilakukan pada saat melakukan pengamatan di kebun yaitu dengan memungut  atau mengambil  telur atau kelompok telur.

2. Pengendalian Kultur Teknis atau Budidaya

a) Pengendalian dengan cara kultur teknis atau budidaya dapat dilakukan dengan cara Penggunaan bibit unggul,

b) Penggunaan  pupuk  berimbang  yang  sesuai  dengan  jenis,  dosis,  waktu  dan cara pemakaian yang dianjurkan.

c) Pengaturan pola tanam

d) Penanaman serentak

e) Pengaturan jarak tanam

f) Pergiliran tanaman

3. Pengendalian Hayati atau Biologis

a. Konservasi Musuh Alami

Konservasi  musuh  alami  merupakan  cara  yang  paling  murah  dan  mudah dilakukan oleh petani baik sendiri atau berkelompok.  Konservasi musuh alami merupakan usaha kita untuk membuat lingkungan kebun disenangi dan cocok untuk kehidupan musuh alami terutama kelompok predator dan parasitoid.

b.  Pelepasan Musuh Alami

Pelepasan musuh alami dilakukan dengan mencari atau mengumpulkan musuh alami dari tempat lain, kemudian langsung dilepas di kebun yang dituju. Musuh alami hama penggerek  pucuk   berupa parasit telur dan parasit larva. Parasit telur misalnya Trichogramma japonicum, sedangkan parasit larva misalnya lalat jatiroto.

4. Pengendalian Kimiawi

Aplikasi insektisida kimia hanya dilakukan jika persentase serangan hama penggerek pucuk dengan kategori serangan berat sudah mencapai 40 %. Jenis insektisida yang dianjurkan adalah golongan karbamat, antara lain Karbofuran (Furadan 3G), Kalbosulfan (Matrix 200EC), Imidakloprid (Wingran 0,5G). konsentrasi yang digunakan sesuai rekomendasi yaitu antara 1-2 ml/l atau 10-12kg/Ha.

3.3  Pemanfaatan Parasitoid Telur  Trichogramma spp dan Telenomus spp sebagai Pengendali Hayati Hama Penggerek Pucuk Tebu

3.3.1 Parasitoid Telur  (Trichogramma spp)

3.3.1.1 Klasifikasi Parasitoid Telur Trichogramma sp.

Menurut Kalshoven (1981) sebagai berikut:

Kerajaan  : Animalia

Phylum    : Arthropoda

Kelas        :  Insecta

Bangsa     :  Hymenoptera

Suku        : Trichogrammatidae

Marga      : Trichogramma

Jenis         : Trichogramma spp                                  (Anonymous, 2012)

Serangga ini merupakan parasit yang utama pada telur penggerek tanaman padi dan tebu. Musuh alami yang dapat digunakan untuk menekan hama penggerek pucuk tebu ini salah satunya adalah parasitoid. Pada umumnya parasitoid berkembang di dalam tubuh inang, sehingga ukuran tubuh parasitoid lebih kecil dan siklus hidupnya lebih pendek. Jenis parasitoid yang telah banyak dikembangkan adalah parasitoid telur, contohnya Trichogramma chilonis. Parasitoid telur Trichogramma telah dilepaskan secara berkala di perkebunan tebu PG Tersana Baru, PTP XIV, Jawa Barat sejak tahun 1971. Beberapa tahun sebelumnya pelepasan Trichogramma juga telah dilakukan oleh PG Sumberharjo. Pada tahun 1976, Trichogramma diintroduksi ke Lampung, kemudian dikembangkan secara massal dan dilepas secara berkala di areal perkebunan tebu Terusan Nunyai, Lampung Tengah.

Salah satu sebab pemilihan Trichogramma adalah karena sifatnya yang polifag sehingga dianggap dapat cepat beradaptasi dan dapat mengatasi berbagai jenis hama yang ada di lapangan. Optimalisasi pemanfaatan Trichogramma merupakan salah satu kunci keberhasilan pengendalian hayati yang belum banyak dieksplorasi di Indonesia. Beberapa penelitian yang lalu telah memfokuskan kegiatan pada distribusi dan kelimpahan Trichogramma, keragaman genetik dari daerah geografis berbeda serta berbagai pengujian laboratorium untuk melihat potensi Trichogramma sebagai agens hayati.

Beberapa aspek yang mempengaruhi keberhasilan parasitoid Trichogramma pretiosum dilapangan yaitu hubungan antara kepadatan telur inang dengan kemampuan parasitisasi T. pretiosum.

Hasil evaluasi yang dilakukan pada tahun 1977 menunjukkan bahwa Trichogramma mampu hidup dan berkembang biak dengan baik di pertanaman, meskipun pelepasan sebanyak 50.000 ekor Trichogramma per hektar per musim tanam belum cukup mampu menaikkan daya parasitisasinya.

Untuk dapat mengendalikan penggerek batang tebu diperlukan pelepasan Trichogramma sebanyak 250.000 telur per hektar (Boedijono, 1990). Penelitian mendalam mengenai pengembangan dan pelepasan parasitoid dari genus Trichogramma telah banyak dilakukan di beberapa negara dan dilaporkan berhasil dalam menekan populasi hama terutama dari ordo Lepidoptera. Penelitian Nurindah dan Bindra (1989) membuktikan bahwa hasil uji laboratorium pada 5 spesies, yaitu Trichogramma australicum Girault, T. chilonis Ishii, T. japonicum Ashmead, T. minutum Riley dan Trichogrammatoidea nana (Zehntner) yang digunakan untuk mengendalikan hama penggerek, mampu memarasit dengan persentase parasitisasi berkisar antara 23%-37% (Nurariatin, 2000). Menurut Li-Ying Li (1994), T. chilonis merupakan salah satu agen antagonis yang paling sukses dalam mengendalikan populasi penggerek batang tebu di Filippina, India dan Taiwan. Potensi yang dimiliki T. chilonis mendapat banyak perhatian sehingga saat ini T. chilonis telah banyak dikembangkan sebagai agen pengendali hayati. T. chilonis dapat dikembangkan pada inang aslinya maupun dengan memanfaatkan inang alternatif. Di beberapa negara, pengembang-biakan Trichogramma/Trichogrammatoidea secara massal di laboratorium dilakukan dengan memanfaatkan inang alternatif atau inang pengganti, karena sangat potensial dalam menurunkan biaya mekanisasi (Untung, 1993). Inang alternatif yang sering digunakan dalam pengembangan T. chilonis dalam skala laboratorium adalah Corcyra cephalonica, Sitotroga cerealella dan Ephestia kuehniella (Smith, 1996).

Sebelum melaksanakan pengembangan T. chilonis, perlu diketahui terlebih dahulu bioekologi parasitoid tersebut agar dalam pemanfaatannya dapat lebih efektif dan efisien, dalam hal ini termasuk ada tidaknya pengaruh perbedaan jenis inang yang digunakan terhadap kebugaran parasitoid tersebut terutama yang berhubungan dengan tingkat kemampuan parasitisasi. Informasi mengenai kisaran inang dan preferensi juga diperlukan untuk mendukung keberhasilan penggunaan T. chilonis sebagai agens pengendalian hayati. Menurut Sosromarsono (2000 dalam Nurafiatin, 2000), keberhasilan pelepasan parasitoid agar dapat menetap dan menekan populasi inang sampai tingkat yang diinginkan sangat sulit diramalkan, tetapi pemahaman terhadap bioekologi dan perilaku parasitoid dapat membantu teknik dan pola pelepasan yang lebih tepat, sehingga peluang keberhasilan akan meningkat. Dikarenakan, penggunaan Trichogramma masih belum bisa dikatakan berhasil. Hal ini bisa disebabkan oleh selaput yang diberikan oleh induk penggerek pucuk  tebu yang mengahalangi Trichogramma memparasid penggerek pucuk tebu tersebut.

3.3.1.2 Morfologi

Parasitoid telur Trichogramma japonicum memiliki panjang tubuh 0,75 mm dengan tubuh berwarna hitam dan mata merah yang khas (Darmadi, 2008). Tarsus dengan tiga ruas. Sayap depan sangat lebar dengan rambut-rambut yang membentuk garis, vena marginal dan stignal membentuk kurva tunggal. Sayap belakang sempit dan berambut apabila dipelihara pada suhu 30o C dan kelembapan 80% tubuh berwarna cokelat kehitaman, rambut-rambut pada sayap depan panjang, ovipositor keluar di ujung abdomen. Imago jantan mempunyai antenna berbentuk clavus dengan 30-40 rambut, tiap rambut panjangnya 3 kali lebar antenna (Nishida dan Torii, 1970). Ovipositor pada betina hampir satu setengah kali lebih panjang daripada tibia belakang yang memungkinkan betina untuk meletakkan telur ke dalam telur yang tertutup bulu. Ukuran telur sekitar 0,31mm. rasio jenis kelamin dewasa jantan dan betina adalah 1:2,3. Parasitoid ini merupakan parasitoid yang hidup berkelompok (Canama, 2002)

3.3.1.3 Siklus Hidup

Larva Trichogramma terdiri dari tiga instar. Setelah mencapai instar 3 (3-4 hari setelah telur terparasit), telur penggerek batang berubah warnanya menjadi gelap atau hitam. Larva kemudian berkembang menjadi pupa. Setelah 4-5 hari, pupa berubah menjadi imago, dan keluar dari telur inang dengan membuat lubang bulat pada kulit telur. Daur hidup sejak telur diletakkan hingga imago muncul sekitar 8 hari (Burhanudin, 2004). Setiap betina biasa menghasilkan telur sebanyak 50 butir. Perkembangbiakan dengan perkawinan atau parthenogenesis (Pracaya, 2007). Parasitoid betina yang kawin menghasilkan keturunan betina dan jantan, sedangkan yang tidak kawin akan menghasilkan jantan saja (Burhanudin, 2004).

Pada saat pemarasitan, parasitoid Trichogramma japonicum betina akan menguji telur dengan memukulnya menggunakan antena, menggerek masuk ke dalam telur inang dengan ovipositornya dan meletakkan satu atau lebih telur tergantung ukuran telur inang. Pada saat Trichogramma japonicum betina menemukan inangnya, biasanya akan tinggal dekat atau menetap pada inangnya untuk periode yang panjang selama terjadinya pemarasitan (Hassan, 1994).

Populasi parasitoid dipengaruhi oleh keberadaan inang dan kondisi lingkungan. Populasi inang yang rendah menyebabkan parasitoid tidak berkembang, parasitoid dewasa aktif pada siang hari dan terbang menuju ke arah sumber cahaya. Tingkat pemarasitan di lapangan berkisar antara 40% (Darmadi, 2008).

3.3.1.4 Perbanyakan Massal Trichogramma sp.

Parasitoid telur penggerek batang padi (Trichogramma sp) dapat dibiakkan secara masal dengan menggunakan serangga inang alternatif telur ngengat beras Corcyra cephalonica. Langkah-langkah dalam pembiakan massal dan pelepasan musuh alami ini adalah:

1.    Menyiapkan media biakan serangga inang alternative.

2.    Pengumpulan kelompok telur serangga inang alternative.

3.    Pengumpulan kelompok telur penggerek batang padi terparasit.

4.    Pembuatan pias parasitoid.

5.    Pembiakan massal Trichogramma sp.

6.    Pelepasan parasitoid di lapangan.       (Anonymous, 2012)

3.3.1.5 Pembiakan Parasitoid Telur Trichogramma sp.

  1. Siapkan pias dari kertas karton manila dengan ukuran 1,5 cm X 10 cm
  2. Kertas dilapisi lem kertas, lalu taburkan kurang lebih 2000 telur Corcyra Cephalonica pada pias yang dilapisi lem kertas. Kemudian kering anginkan kira-kira 5 menit
  3. Pias yang berisi telur Corcyra Cephalonica distrerilkan dengan menggunakan lampu ultra violet 15 watt selama 30 menit
  4. Masukkan kedalam satu tabung (corong lampu) 1 pias stater parasitoid Trichogramma sp dan 5 pias yang berisi telur Corcyra Cephalonica yang telah disterilkan
  5. Setelah 4 – 6 hari proses parasitisme sudah ada penampakan telur yang terparasit berwarna kehitam-hitaman
  6. Pias yang berisi telur Corcyra Cephalonica yang telah terparasit Trichogramma sp siap digunakan langsung dilapangan atau disimpan dalam lemari pendingin (kulkas) selama 3 – 4 hari
  7. Apabila pias yang berisi telur Corcyra Cephalonica yang terparasit Trichogramma sp belum digunakan bisa disimpan dalam lemari pendingin selama 3 bulan.             (Anonymous, 2012)

3.3.2 Parasitoid Telur (Telenomus spp)

3.3.2.1 Klasifikasi Telenomus spp

Kerajaan       : Animalia

Filum             : Arthropoda

Kelas             : Insecta

Bangsa          : Hymenoptera

Suku              : Scelionidae

Marga            : Telenomus

Jenis              : Telenomus Spp                                   (Anonymous, 2012)

Spesies Telenomus spp. merupakan parasitoid yang potensial secara ekonomi dalam menekan populasi hama secara alami (Shepard et al. 2011). Telenomus spp merupakan parasitoid telur serangga lain, inang dari serangga ini kebanyakan adalah dari family Lepidoptera dan Hemiptera (Johnson, 1984). Banyak dari spesies Telenomus yang berharga ekonomis tinggi karena peranannya dalam menekan serangan hama penggerek pucuk tanaman tebu.

Untuk saat ini kendala dalam penggunaan Telenomus sebagai parasitoid penggerek pucuk tanaman tebu adalah dari segi ukuran yang sangat kecil sehingga mempersulit untuk mencari spesies yang tepat serta masih sulitnya dalam pembudidayaan Telenomus itu sendiri yang memang membutuhkan inang dari penggerek pucuk tebu.

3.3.2.2 Morfologi Telenomus spp

Telenomus spp. tersebar luas di wilayah Indonesia terutama di pulau Jawa dan Bangka. Imago Telenomus spp. merupakan tabuhan kecil yang kebanyakan berwarna hitam, dan memiliki panjang ± 1 mm (Kalshovan 1981). Ukuran yang sangat kecil inilah yang menjadikan proses identifikasi parasitoid ini menjadi sangat sulit. Nixon (1937) yang telah banyak meneliti Telenomus menyatakan bahwa keragaman antar spesies dalam spesies ini sangat beragam. Kepala lebih lebar daripada torak, mata besar. Torak sedikit lebih panjang dari lebarnya. Sayap lebar dengan stigma yang panjang. Mesonotum sedikit mengkilat. Tibia belakang kurang 3 kali segmen berikutnya. Antena berwarna kehitaman (gelap) kecuali skapus lebih berwarna pucat. Gada pada antena betina berwarna lebih gelap dibanding ruas lainnya. Tiap ruas gada berukuran sama atau sedikit lebih panjang dari lebarnya. Sayap dengan rumbai yang panjang (Yusniati, 2002).

3.3.2.3 Siklus Hidup Telenomus spp

Telenomus adalah parasit telur penggerek pucuk tebu. Ini ovipositor telur dalam sebuah inang dan hanya parasit tunggal berkembang dalam telur tunggal.

Perkembangan Telenomus spp. dari telur hingga dewasa membutuhkan sekitar 8-14 hari. Telenomus dewasa muncul dengan membuat lubang di selaput telur penggerek pucuk tebu. Setelah itu parasitoid betina menempel pada penggerek pucuk dewasa yang akan bertelur. Telenomus melepaskan dari penggerek pucuk tebu setelah meletakkan telur. Kemudian mulai memparasit massa telur yang baru diletakkan. Biasanya satu imago betina mampu memarasit 30 sampai 50 telur. Hanya 3%-10% dari telur yang dihasilkan adalah jantan. Jika betina tidak melakukan perkawinan maka keturunanya jantan, sedangkan jika dilakukan perkawinan jantan dan betina maka keturunan yang dihasilkan adalah betina (Kalshoven, 1981).

3.3.2.4  Daya Parasitasi

Telenomus dingus Gahan mempunyai kemampuan memparasitasi telur penggerek pucuk sebesar 68%.  Dalam 1 kelompok telur penggerek pucuk, presentase telur yang terparasit antara 1,85% – 100% atau rerata 48,86%, tergantung keperidian parasitoid. Telenomus dingus Gahan juga mampu memparasit telur penggerek batang tebu dan penggerek padi kuning. Namun daya parasitasi terhadap kedua inang tersebut lebih kecil dibanding pada penggerek pucuk.

Musim di suatu daerah dapat mempengaruhi aktivitas parasitoid. Dari pengamatan yang dilakukan oleh sumber terhadap telur penggerek pucuk dengan cara membedahnya, dapat diketahui pula bahwa species – species parasitoid yang ada melakukan preferensi inang secara hati – hati untuk meletakan telurnya, sehingga tidak terjadi multiparasitisme. Pada satu telur inang dapat diletakkan lebih dari 1 telur paraitoid untuk species yang sama, tetapi hanya 2 individu parasitoid saja yang dapat berkembang menjadi dewasa normal.

Dalam satu kelompok telur penggerek pucuk tebu diketahui dapat diparasit oleh lebih dari 1 species parasitoid, tetapi parasitoid yang lebih banyak muncul adalah Telenomus dingus bersama dengan spesies lain Telenomus.

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

 

4.1 Kesimpulan

Dari penjelasan diatas tentang hama yang menyerang pada tanaman tebu yaitu hama penggerek pucuk tebu, hama tersebut menyerang dari tanaman yang masih berumur muda terutama pada bagian pucuk tanaman tebu. Hama tersebut menyerang dengan meletakkan telurnya pada daun yang masih muda, kemudian telur tersebut dilapisi selaput oleh induknya untuk melindungi telur hingga menetas. Kerusakan yang diakibatkan dari serangan hama tersebut ialah dapat menyebabkan daun berlubang sehingga menyebabkan pucuk tanaman tebu menjadi mati, serangan tersebut juga bisa menyebabkan tanaman tebu yang terserang mati.

Untuk menanggulangi serangan hama tersebut sebaiknya kita menggunakan cara hayati yang lebih ramah lingkungan, yaitu dengan menggunakan parasid telur Trichogramma spp dan juga penggunaan Telenomus spp. Serangan Trichogramma spp lebih spesifik untuk memarasit telur dari hama penggerek tebu, namun Trichogramma spp ini sendiri memiliki kekurangan dalam efektifitas keberhasilan memarasit telur hama penggerek tebu tersebut dikarenakan telur hama tersebut terlapisi oleh slaput yang menyelimutinya. Oleh karena itu , untuk meningkatkan keberhasilan dalam menanggulangi hama penggerek pucuk tebu, kita bisa menggunakan secara bersamaan Trichogramma spp dan Telenomus spp.

4.2    Saran

Perlunya penelitian lebih lanjut pada semua agen hayati dalam membasmi hama tersebut, supaya dalam penerapannya dapat lebih efektif lagi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonymous, 2012. Gambar .http://alfarizy29.blogspot.com/2010_08_01_archive.html diakses pada tanggal 21 September 2012.

Anonymous, 2012. Hama Penyakit Tebu. http://myrealact.blogspot.com/2012/06/ penggunaan-parasitoid-telur-dan-larva.html diakses pada tanggal 21 September 2012.

Anonymous, 2012. Petunjuk Pelaksanaan Budidaya Tebu. http://adrianndii.wordpress.com/ diakses 25 september 2012

Arifin, M., A. Iqbal, I.B.G. Suryawan, T. Djuwarso, dan W. Tengkaao. 1997. Potensi Dan Pemanfaatan Musuh Alami Dalam Pengendalian Hama. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. Jakarta/Bogor, 23-25 Agustus 1993. 5: 1383-1393.

Boedijono, WA. 1990. Hama Tebu. Diktat Khusus Tanaman Tebu. BP3G Pasuruan.

Burhanudin. 2004. Status dan Program Penelitian Pengendalian Terpadu Penyakit Tungro. Prosiding Seminar Nasional Status Program Tungro Mendukung Keberlanjutan Produksi Padi Nasional Makasar. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Pangan. Badan Litbang Pertanian. Hal 61-89

Canama. 2002. http://mukhlisahendriastuti.blogspot.com/2012/06/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html diakses pada tanggal 21 September 2012.

Darmadi. 2008. Infeksi Nosokomial : Problematika Dan Pengendaliannya. Jakarta: Penerbit Salemba Medika.

Djsamin. 1984. Hama-Hama Tebu Rakyat. PTP.XXI-XXII Persero. Surabaya

Handjojo. 1976. Hama Penggerek Pucuk Tebu dan Teknik Pengendaliannya. http://ditjenbun.deptan.go.id.

Hassan. 1994. http://mukhlisahendriastuti.blogspot.com/2012/06/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html diakses pada tanggal 21 September 2012.

Hendriastuti, Mukhlisa. 2012. Trichogramma spp. http://mukhlisahendriastuti.blogspot.com /2012/06/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html diakses 10 oktober 2012

Johnson. 1984. Systematics of nearctic. Telenomus: Clasification and revision

Kalshoven, L.G.E. 1981. Pest Of Crops In Indonesia. PT.Ikhtiar Baru Van-House. Jakarta. Hal.521

Kalshoven, L.G.E. 1991. Pest Of Crops In Indonesia. Ichtiar Baru-Van Hoeve: Jakarta.

Nishida dan Toril. 1970. http://mukhlisahendriastuti.blogspot.com/2012/06/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html diakses pada tanggal 21 September 2012.

Nurariatin. 2000. Potensi Pemanfaatan Parasitoid Trichogamma Spp (Hym: Trichogammatidae) Pada Penggerek Batang Padi Putih Di Sulawesi Selatan. Disertasi FSS-UNHAS.135 hal.

Nurindah dan O.S Bindra. 1989. Studies On Trichogramma Spp (Hymenoptera: Trichogammatidae) In The Control Of Heliothis  Armigera (Hubner) (Lepidoptera noctuidae). Biotrop.Spec.Publ.36:165-173

Pracaya. 2007. Hama dan Penyakit Tanaman. Sumber Swadaya, Jakarta. Hal 216-118.

Shepard et al. 2011. Managing The Growing Impacts Of Development On Fragile Coastal And Marine Ecosystems: Lessons From The Gulf. United Nations University.

Smith, 1996.  Informasi Dasar Parasitoid Telur Trichogramma Chilonis. IPB: Bandung 

Untung. 1993. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Wiriatmojo. 1978. Hama Penggerek Pucuk Tebu dan Teknik Pengendaliannya. Bogor: Direktorat Jenderal Pertanian Tanaman Pangan

Yusniati, 2008.  Pengendalian Hama Terpadu Pada Padi Sawah. www.sdsindonesia.com. Diakses pada tanggal 21 September 2012.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a reply


CAPTCHA Image
*