Gunung Raung Volcano Crater

DESCRIPTION

Gunung Raung merupakan sebuah gunung yang terdapat di pulau Jawa, Indonesia dan mempunyai ketinggian setinggi 3,332 meter (menurut Wikipedia). Gunung Raung mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Inilah Gunung dengan jalur puncak paling ekstrim di pulau Jawa. Gunung Raung dengan pesona dan kegarangannya.

Selain besar, unik dan penuh dengan misteri, Gunung Raung berbeda dengan tipe gunung di jawa pada umumnya. Keunikan dari Puncak Gunung Raung adalah kalderanya yang berbentuk elips sekitar 500 meter dalamnya, selalu berasap dan sering menyemburkan api dan terdapat kerucut setinggi kurang lebih 100m.

Gunung Raung termasuk gunung tua dengan kaldera di puncaknya dan dikitari oleh banyak puncak kecil, menjadikan pemandangannya benar-benar menakjubkan.  Gunung paling timur yang ada di pulau jawa ini, keindahannya dapat kita lihat dari pulau Bali, tepatnya ketika kita berada di pantai Lovina Singaraja Bali Utara pada akhir siang atau ketika sunset di Lovina Beach. Keindahan gunung raung ini akan terlihat indah. Jajaran pegunungan berapi di timur pulau jawa ini memiliki keindahan yang sangat unik. Gunung Raung sudah terlihat dari nama-nama pos pendakian yang ada, mulai dari Pondok Sumur, Pondok Demit, Pondok Mayit dan Pondok Angin. Semua itu mempunyai sejarah tersendiri hingga dinamakan demikian.

Pondok Sumur misalnya, katanya terdapat sebuah sumur yang biasa digunakan seorang pertapa sakti asal Gresik. Sumur dan pertapa itu dipercaya masih ada, hanya saja tak kasat mata. Di Pondok Sumur ini, saat berkemah, juga terdengar suara derap kaki kuda yang seakan melintas di belakang tenda.

Selanjutnya Pondok Demit, disinilah tempat aktivitas jual-beli para lelembut atau dikenal dengan Parset (Pasar Setan). Sehingga, pada hari-hari tertentu akan terdengar keramaian pasar yang sering diiringi dengan alunan musik. Lokasi pasar setan terletak disebelah timur jalur, sebuah lembah dangkal yang hanya dipenuhi ilalang setinggi perut dan pohon perdu.

Pondok Mayit adalah pos yang sejarahnya paling menyeramkan, karena dulu pernah ditemukan sesosok mayat yang menggantung di sebuah pohon. Mayat itu adalah seorang bangsawan Belanda yang dibunuh oleh para pejuang saat itu.

Tak jauh dari Pondok Mayit, adalah Pondok Angin yang juga merupakan pondok terakhir atau base camp pendaki. Tempat ini menyajikan pemandangan yang memukau karena letaknya yang berada di puncak bukit, sehingga kita dapat menyaksikan pemandangan alam pegunungan yang ada disekitarnya. Gemerlapnya kota Bondowoso dan Situbondo serta sambaran kilat jika kota itu mendung, menjadi fenomena alam yang sangat luar biasa. Namun, angin bertiup sangat kencang dan seperti maraung-raung di pendengaran. Karenanya gunung ini dinamakan Raung, suara anginnya yang meraung di telinga terkadang dapat menghempaskan kita didasar jurang yang terjal.

Sebelah barat yang merupakan perbukitan terjal itu adalah lokasi kerajaan Macan Putih, singgasananya Pangeran Tawangulun. Di sini, juga sering terengar derap kaki suara kuda dari kereta kencana. Konon, pondok Angin ini merupakan pintu gerbang masuk kerajaan gaib itu.

Konon, di perbukitan yang mengelilingi kaldera itulah kerajaan Macan Putih berdiri. Sebuah kerajaan yang berdiri saat gunung ini meletus tahun 1638. Pusatnya terletak di PUNCAK SEJATI RAUNG. Kerajaan tersebut dipimpin oleh Pangeran Tawangulun. Beliau adalah salah-satu anak raja Kerajaan Majapahit yang hilang saat bertapa di gunung. Keberadaan kerajaan itu sedikit banyak masih memiliki hubungan yang erat dengan penduduk setempat. Misalnya bila terjadi upacara pernikahan di kerajaan, maka hewan-hewan di perkampungan banyak yang mati. Hewan-hewan itu dijadikan upeti bagi penguasa kerajaan.

Menurut masyarakat setempat, seluruh isi dan penghuni kerajaan Macan Putih lenyap masuk ke alam gaib atau dikenal dengan istilah mukso. Dan hanya pada saat tertentu, tepatnya setiap malam jum’at kliwon, kerajaan itu kembali ke alam nyata.

Pangeran Tawangulun dipercaya merupakan salah satu suami dari Nyai Roro Kidul. Setiap malam jum’at itulah penguasa laut selatan mengunjungi suaminya. Biasanya, akan terdengar suara derap kaki kuda ditempat yang sakral. Suara tersebut berasal dari kereta kencana Sang Ratu yang sedang mengunjungi sang suami Pangeran Tawangulun.

Bila mendengar suara tersebut lebih baik pura-pura tidak mendengar. Jika dipertegas, suara akan bertambah keras dan mungkin akan menampak wujudnya. Bila demikian, kemungkinan kita akan terbawa masuk ke alam gaib dan kemudian dijadikan abdi dalem kerajaan Macan Putih.

Transportasi ke Gunung Raung Jalur Kalibaru – Banyuwangi

Jika anda ingin mendaki ke gunung Raung, anda dapat naik kereta api atau bus tujuan Banyuwangi kemudian turun di Stasiun Kalibaru. Di depan stasiun Kalibaru telah mengantri banyak ojek motor yang siap membawa anda ke basecamp Raung yaitu kediaman pak Soeto. Jika mendaki bersama banyak anggota anda dapat mencarter mobil bak/truk kecil. Nama pak Soeto sangat dikenal oleh tukang ojeg di sekitar stasiun kalibaru, karena hanya disitulah tujuan… apalagi ditambah jika anda membawa carrier besar dan rombongan, mereka berebut akan menawari anda untuk menggunakan jasa mereka.

Untuk mendaki Gunung Raung via Kalibaru tidak perlu izin khusus, kita dapat melakukan perizinan dan lapor di polsek Kalibaru atau para pendaki biasa bertemu dengan Pak Soeto(Basecamp Pendaki). Di rumah Pak Soeto kita dapat menginap dan mencari info-info terkait Puncak Sejati Raung.

Dimulai dari Basecamp / rumah Pak Soeto, melewati perkebunan kopi yang sangat melelahkan, jika ingin menghemat waktu anda dapat memesan ojeg pada pak soeto. Ojek itu akan menghantarkan kita ke Pos 1 (dahulu rumah Pak Sunarya ). Tarif ojek 25ribu sekali trip per orang. Di sebelah kiri jalur Pos 1 ini ada jalan menuju sungai yang merupakan sumber air terakhir di jalur pendakian ini, disini pendaki dapat mengisi air, akan lebih aman setiap pendaki membawa air 10 liter.

Melewati perkebunan memasuki hutan lebat dengan pepohonan dimana terdapat banyak pohon dan semak berduri, jalan yang dilalui belum menanjak dan cenderung datar dan melipir menyisiri hutan. Diperlukan waktu normal selama kurang lebih 4 jam untuk menempuh jarak dari Pos 1 menuju Pos 2. Pos 2 ini merupakan tempat camp yang terluas di jalur pendakian ini dan pendaki dapat bermalam disini. Pos 2 ini terletak pada ketinggian 1431 Mdpl.

Pos 2 mulai jalur menanjak mengikuti punggungan dan makin lama tanjakan makin berat. Track yang dilalui cukup sempit dan terdapat banyak tanaman berduri sejenis rotan dll. Diperlukan waktu sekitar 1 jam untuk mencapai camp 3 yang terletak persis di tengah jalur pendakian disini dapat didirikan 2 tenda. Camp 3 terletak pada ketinggian 1656 Mdpl.

Dari camp 3 pendakian dimulai dengan jalan landai, kemudian akan melewati turunan sebelum berpindah punggungan dan dilanjutkan tanjakan makin menantang yang cukup menguras stamina. Setelah kurang lebih 2 jam akan tiba di camp4, sebuah dataran yang dapat digunakan untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Camp 4 terletak pada ketinggian 1855 Mdpl.

Pendakian pada rute ini masih tetap dalam satu punggungan namun track yang dilalui semakin terjal dan rapat dimana banyak terdapat tanaman berduri (disarankan menggunakan pakaian lengan panjang), bila hujan jalur ini akan menjadi sangat licin. Waktu yang diperlukan untuk melalui rute ini adalah selama lebih kurang 45 menit. Camp 5 ini tidak terlalu luas hanya cukup untuk beristirahat sementara waktu. Camp 5 terletak pada ketinggian 2115 Mdpl.

Setelah beristirahat di camp 5 tanjakan jauh semakin berat dan jalurnya semakin terjal, anda wajib berhati – hati saat melintasi rute ini. Rute ini tidak terlalu panjang butuh waktu sekitar 30 menit akan tiba di camp 6 / Pos 3. Di pos 6 ini terdapat area camp yang berundak – undak sebanyak 3 undakan dan dapat digunakan untuk tempat bermalam. Pos 6 terletak pada ketinggian 2285 Mdpl.

Pendakian semakin berat dan menantang karena semakin mendekati puncak Gunung Wates, tracknya semakin terjal, jalur pendakian semakin terbuka dan udara semakin dingin. Setelah sekitar 45 menit kita akan tiba di camp 7, yang merupakan area terbuka, sebuah dataran yang cukup luas, dapat mendirikan 3 tenda.

Country Scenery Above The Clouds, Camp 7.

Di camp 7 ini kita dapat menikmati pemandangan negeri di atas awan yang sangat indah, dimana di depan terdapat puncak gunung Wates, sebelah kiri dan kanan kita dapat melihat berjajar punggungan serta lembah, tampak pula jajaran pegunungan Hyang dan pncak Semeru, apabila malam dan kondisi cerah pemandangan bintang – bintang yang bertebaran di langit yang memancarkan sinarnya serta gemerlap lampu – lampu di perkotaan yang tampak dari kejauhan akan menjadi pemandangan yang dapat kita nikmati di malam hari.

Di camp 7 terdapat bunga Edelweiss. Kondisi di camp7 ini tanahnya rawan longsor dan udara cukup dingin serta angin yang berhembus kencang karena area yang sangat terbuka, untuk itulah agar berhati – hati jika ingin bermalam di camp 7 ini. Camp7 terletak pada ketinggian 2541 Mdpl.

Jika anda bermalam di camp7, ada baiknya barang bawaan ditinggal disana dan membawa perlengkapan yang khusus untuk kepuncak, misal tali, carabiner dll. Akan diawali punggungan menuju puncak gunung wates selama sekitar 45 menit, dengan jalur yang cukup terjal dan rapat oleh semak berduri. Dari puncak gunung Wates pendakian dilajutkan dengan melipiri punggungan yang sangat tipis dengan bibir jurang sehingga sangat butuh konsentrasi dan kehati – hatian. Setelah berjalan melipir kita akan mulai melalui menanjak dimana mulai terdapat vegetasi khas puncak gunung. Total waktu menuju pos 8 ini adalah sekitar 2 jam perjalanan normal.pos 8 terletak pada ketinggian 2876 Mdpl.

Jalurnya semakin terjal, masih sangat rimbun, vegetasinya pun semakin jarang dan pepohonan tua yang menjadi ciri khas sebelum puncak gunung. Setelah berjalan sekitar 1 jam barulah kita tiba di camp 9 yang merupakan camp terakhir yang dapat kita gunakan untuk beristirahat, merupakan batas vegetasi. Camp 9 terletak pada ketinggian 3023 Mdpl.

Melewati batas vegetasi 10 menit dan akan tiba di puncak Bendera 3154 Mdpl, tak jarang puncak ini juga dinamakan puncak Kalibaru sebagai mana jalur pendakian ini.

Di sini mulailah terpampang kegarangan puncak sejati raung. Jalur yang sangat memacu adrenalin dengan dibalut kanan-kiri jurang menganga. Di kejauhan juga tampak Puncak 17 yang berbentuk piramid, Puncak Tusuk Gigi yang terdiri dari susunan bebatuan yang lancip dan Triangulasi Puncak Sejati Raung. Dari sini jalur kepuncak sejati hanya terlihat samar.

Tantangan Puncak Sejati Gunung Raung 
Memang untuk menaklukkan Puncak Sejati Raung ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:

  1. Persiapan Alat : Tali Kern 30m, Carrabiner, Webbing, Harnezt, Ascender, Helm, Jumar, Tali prusik. Semua harus dalam keadaan baik.
  2. Skill Teknis : Anchoring, Ascending, Belaying, descending Rappeling, Moving together. Minimal dalam team harus ada yang menguasai sehingga bisa jadi leader buat teman-temannya.
  3. Motivasi Team : doa, keselamatan adalah utama, saling dukung dan saling melengkapi.
  4. Logistik Team : Makanan, air minum, alat tambahan: kamera, GPS.

Jika semua uda dibawa dan disiapkan, kita akan meulai menggunakan peralatan itu tepat di puncak bendera. Mengingat beberapa titik rawan yang harus kita lalui. Kalau semua peralatan sudah dikenakan oleh masing-masing anggota team baru kemudian petualangan ke puncak sejati dapat kita teruskan.

Kita tahu bahwa Jalur ini adalah jalur paling rawan dan menegangkan, salah sedikit akan fatal akibatnya, maka dari itu kewaspadaan, konsentrasi dan fokus serta keselamatan menjadi harga mati yang tidak dapat ditawar lagi.

Puncak Bendera – Puncak17

Perjalanan dimulai turun dari puncak bendera melipir igir-igir jurang berjalan satu-persatu dan bergantian menjadi pilihan yang mutlak. Maka sampai di titik rawan 1. Di titik ini kita harus melipir tebing bebatuan dimana di sebelah kanan adalah jurang sedalam 50 meter, kita memasang jalur pemanjatan kurang lebih 5 meter, di jalur telah terpasang 1 buah hanger, 1 bolt dan di titik anchor atasnya terdapat pasak besi yang telah tertanam, dapat digunakan sebagai anchor utama.

Leader melakukan artificial climbing sambil memasang jalur pemanjatan. Dapat menggunakan tali kern ataupun cukup membentangkan webbing. Setiap pendaki wajib memasangkan carabinernya jika melewati titik ini dan harus bergantian.

Setelah melewati titik rawan 1 kita menuju puncak 17 / piramida, sampai pada titik rawan yang ke2 yaitu dibawah puncak 17. Disini kita kembali harus membuat jalur pemanjatan, dimana leader melakukan artificial climb selajutnya setibanya di puncak 17 memasang fix rope untuk dilalui orang selanjutnya dengan teknik jumaring. Atau pilihan lain adalah kita tidak kepuncak 17 tetapi melipir lewat samping puncak 17. Disini bisa menggunakan moving together jadi setiap anggota tim memasang carabinernya pada kern yang dibentangkan antara anggota paling depan dan paling belakang. Di titik ini juga terdapat beberapa anchor tanam yang bisa kita gunakan. Dibutuhkan fokus dan konsentrasi ekstra karena medan yang mudah rontok.

Tibalah kita di titik rawan yang ke3 / terakhir dimana kita harus memasang jalur untuk menuruni tebing sekurangnya 20 meter. Untuk itu menggunakan teknikrappelling untuk mencapai ke bawah. Dititik ini juga sudah ada beberapa anchor tanam dari besi yang dapat kita gunakan. Jalur Kern kita tinggal disini dan akan kita gunakan kembali nanti.

Dibawah dilanjutkan dengan jalan yang agak menurun ke bawah sampai bertemunya jalur pungungan ke Puncak Tusuk Gigi ( dari jauh menyerupai tusuk gigi ). Dari situ kita akan disuguhi hamparan bebatuan yang semakin besar yang harus kita daki
Dari tempat istirahat ini perjalanan kembali menanjak dengan tingkat kemiringan yang makin tegak. Waspadai juga longsor batuan lepas dari atas tidak membahayakan pendaki di bawahnya. Jalur bebatuan ini akan berakhir di Puncak Tusuk Gigi dengan batuan sebesar rumah yang tersusun menjulang.

The Real Summit Raung [Puncak Sejati Raung]

Dari puncak Tusuk Gigi berorientasi ke kanan kita melipir ke belakang dan kemudian berjalan agak menanjak sekitar 100 meter tibalah kita di tempat yang menjadi tujuan akhir dari ekspedisi kita PUNCAK SEJATI GUNUNG RAUNG 3344 MDPL, ditandai dengan sebuah triangulasi dan pemandangan sebuah kawah besar yang masih aktif yang setiap saat mengeluarkan asapnya. Dari bawah kawah ini sering mengeluarkan suara dengan raungan yang menggelegar. Jika anda sampai di Puncak Sejati, suara ini akan lebih keras lagi, menggetarkan nyali dan sangat menakutkan.

sumber : http://7lovetourism.net/index.php/tourism/tourism_profile/52

categories Mountainers | comments Comments (0)

Biografi Soe Hok Gie

Soe hoek gie adalah aktivis mahasiswa yang berani menentang kesalahan kesalahan pemerintah di era orde lama dan orde baru.

Soe Hok Gie adalah Orang keturunan China yang lahir pada 17 Desember 1942. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit —seorang novelis— dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, Soe Hok Gie merupakan adik dari Soe Hok Djie yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman. Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta.

Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru.

Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.

Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.

Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.

Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya: “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.” Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.

24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.

categories Mountainers | comments Comments (0)

CERITA RAKYAT GUNUNG RINJANI

Pada jaman dahulu tidak jauh dari pelabuhan Lembar, terdapat sebuah Kerajaan Taun yang diperintah oleh seorang Raja yang sangat bijaksana bernama Datu Taun bersama permaisurinya yang sangat cantik Dewi Mas. Di bawah pemerintahan Raja Datu Tuan, kerajaan dalam keadaan aman, damai, dan tenteram. Namun meskipun demikian Raja kelihatan sering bersedih, hal ini dikarenakan beliau belum dikarunia seorang putera, sementara Raja dan Permaisuri sudah semakin bertambah tua. Pada suatu hari Raja dan permaisuri duduk bercakap-cakap membicarakan masalah keluarga. Baginda mengemukakan bagaimana susahnya kelak karena tidak memiliki anak. Bersabdalah Datu Tuan “Adinda kanda ingin menyampaikan permintaan, ijinkanlah kakanda mengambil istri seorang lagi. Mudah-mudahan dengan demikian kita akan dikaruniai anak yang akan menggantikan pemerintahan kelak”.

Setelah Sang Permaisuri menyetujui, maka Baginda Datu Tuan segera meminang seorang gadis cantik yang bernama Sunggar Tutul, puteri dari Patih Aur. Semenjak itu perhatian Raja terhadap Dewi Mas berkurang, beliau lebih sering tinggal di istana isteri yang baru. Raja yang terkenal adil ini telah bertindak tidak adil terhadap permaisurinya. Meskipun demikian Dewi Mas tetap selalu sabar, dan karena kemurahan Yang Maha Kuasa maka Dewi Mas mengandung.
Berita tentang Dewi Mas mengandung ini tentu saja mengejutkan Sunggar tutul, ia takut Raja akan berpaling dari dirinya dan kembali ke Permaisuru Dewi Mas. Untuk itu dengan cara yang licik Sunggar Tutul menghasut Raja, bahwa kehamilan Dewi Mas diakibatkan oleh perbuatan serong dengan seorang yang bernama Lok Deos.

Murkalah Baginda Datu Tuan, maka Dewi Mas pun di usir dari istana dan dibuang ke sebuah gili. Dengan ditemani para pengiringnya Dewi Mas tinggal di gili, mereka membangun suatu pemukiman. Dewi Mas tetap tegar dalam menempuh kehidupan menuju hari depan.
Pada suatu ketika lewatlah sebuah kapal mendakati gili tersebut, seperti ada suatu kekuatan gaib sang Nakhoda kapal tersebut mengarahkan kapalnya ke gili, dan dari kejauhan dia melihat seorang wanita cantik yang bersinar. Nakhoda dan para awak kapalpun berlabuh dan mampir ke pondok Dewi Mas.

Setelah dijamu para penumpang kapal tersebut menanyakan kenapa Dewi Mas bisa tinggal di tempat tersebut, karena selama ini gili tersebut tidak berpenghuni. Dewi Mas pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya. Dewi Mas meminta Nakhoda dan awak kapal tersebut untuk mengantarkannya ke pulau Bali. Akhirnya Dewi Mas beserta para pengiringnya tinggal di Bali dan membangun pemukiman baru. Hari kelahiranpun tiba, Dewi Mas melahirkan dua anak kembar yang masing-masing disertai dengan keajaiban. Seorang bayi laki-laki lahir beserta sebilah keris, dan seorang lagi bayi perempuan lahir beserta anak panah. Bayi laki-laki ini diberi nama Raden Nuna Putra Janjak sedangkan bayi perempuan dinamakan Dewi Rinjani.

Kedua bayi tersebut tumbuh besar menjadi anak-anak yang lucu dan menarik. Namun pada suatu hari kedua anak tersebut menanyakan siapakah ayah mereka, karena selama ini mereka sering diejek teman-temannya karena tidak punya ayah.

Karena desakan kedua anaknya yang terus menerus, maka Dewi Mas pun menceritakan semua kisah yang dialaminya. Diceritakannya bahwa ayah mereka adalah seorang Raja di Lombok yang bernama Datu Taun, dirinya dibuang kesebuah gili karena difitnah oleh madunya Sunggar Tutul.

Raden Nuna Putra Janjak menjadi sangat marah dia memohon kepada ibunya agar diijinkan untuk menemui ayahnya ke Lombok. Karena terus didesak akhirnya Dewi Mas pun mengijinkan puteranya bersama para pengiring berlayar ke Lombok.

Sesampai di Lombok Raden Nuna Putra Janjak segera masuk ke istana namun di hadang oleh para penjaga. Pertarunganpun tak terelakkan, Raden Nuna Putra Janjak meskipun masih kecil namun dengan keris ditangan yang muncul bersamaan ketika ia lahir, sangatlah sakti dan tak tertandingi.
Banyak lawan yang tak berdaya hingga Baginda Datu Taun harus turun bertanding. Pertarungan yang serupun terjadilah, mereka saling menghujamkan kerisnya. Mereka berdua sama kuat, keris masing-masing tidak dapat saling melukai. Tiba-tiba terdengarlah suara gaib dari angkasa ” Hai Danu taun, jangan kau aniaya anak itu. Anak itu adalah anak kandungmu sendiri dari istrimu Dewi Mas”.

Setelah mendengar suara itu , ia amat menyesal maka dipeluknya Raden Nuna Putra Janjak. Setelah mendengar cerita dari Raden Nuna Putra Janjak , maka Baginda Datu Tuan segera menjemput permaisuri ke Bali. Seluruh istana dan penduduk Taun bersuka cita, Dewi Mas tidak menaruh dendam sama sekali kepada Sunggar Tutul, mereka semua hidup damai dan tenteram.
Raden Nuna Putra Janjak tumbuh dewasa menjadi seorang pemuda yang sangat tampan dan bijaksana. Baginda Datu Taun sudah semakin tua dan akhirnya menyerahkan tahta kerajaan kepada puteranya.

Sesudah puteranya naik tahta Baginda Datu Taun kemudian menyepi di gunung diiringi putrinya Dewi Rinjani. Di puncak gunung itulah baginda dan puterinya bertapa bersemedi memuja Yang Maha Kuasa.

Di puncak gunung ini Dewi Rinjani diangkat oleh para Jin dan mahluk halus menjadi Ratu. Dan sejak saat itulah gunung yang tinggi di pulau Lombok tersebut dinamakan Gunung Rinjani.

 

sumber :  https://www.facebook.com/quotependaki/posts/372819936236688

categories Mountainers | comments Comments (0)

Pola Tanam Alley Cropping (Budidaya Lorong)

2.1 Definisi Alley Cropping / Budidaya Lorong

Budidaya lorong atau dikenal sebagai sistem pertanaman lorong merupakan salah satu bentuk wanatani yang memadukan praktek pengelolaan hutan tradisional dan proses daur ulang hara secara alarm ke dalam usaha tani yang intensif produktif dan berkelanjutan. Budidaya lorong (alley cropping) adalah sistem di mana tanaman semusim (pangan dan sayuran) ditanam di lorong antara barisan tanaman pagar (Gambar 1). Pangkasan dari tanaman pagar digunakan sebagai mulsa yang dapat menyumbangkan hara, terutama nitrogen, bagi tanaman lorong.

sistem budidaya lorong - alley cropping

Gambar 1. Sistem budi daya lorong dengan Gliricidia sepium sebagai tanaman pagar.

Kang et al., (1984) menuliskan, Alley cropping merupakan salah satu sistem agroforestry yang menanam tanaman semusim atau tanaman pangan di antara lorong-lorong yang dibentuk oleh pagar tanaman pohonan atau semak.  Tanaman pagar dipangkas secara periodik selama pertanaman untuk menghindari naungan dan mengurangi kompetisi hara dengan tanaman pangan/semusim.  Leucaena leucocephala merupakan jenis pohon leguminosa yang pertama diuji dalam sistem Alley cropping dan menyusul Glinsidia sepium.

Sedangkan menurut Sariyata, Ketut (2007), sistem pertanaman lorong (alley cropping) adalah suatu sistem di mana tanaman pangan ditanam pada lorong (alley) di antara barisan tanaman pagar. Sistem tersebut biasanya diterapkan pada lahan yang tergolong kering, penanaman tanaman tahunan seperti lamtoro, sengon, mahoni, dan lain sebagainya sebagai pagar, tanaman pagar biasanya dimanfaatkan sebagai kayu untuk kebutuhan furniture, perlengkapan rumah, mupun dapat dimanfaatkan sebagai kayu bakar.

 

2.2 Teknik Alley Cropping

Pelaksanaannya mengikuti lorong-lorong (tanaman pangan) yang masing-masing lorong dibatasi tanaman pagar/tegakan, pada umumnya tanaman yang tumbuh cepat (legume). Setelah berumur sekitar 6 bulan atau setelah mencapai ketinggian yang dapat menaungi tanaman utama yang menyebabkan pertumbuhannya terganggu, tanaman pagar dipangkas pada ketinggian 50-60 cm dari permukaan tanah. Daun-daun tanaman pagar yang dipangkas disebarkan di permukaan tanah. Pemangkasan tanaman pagar dilakukan dengan interval 2-4 bulan sekali, tergantung pada kecepatan pertumbuhannya.

Menurut Haryati (2003) dalam memilih jenis leguminosa yang akan diintroduksikan, selain dipilih tanaman yang sesuai dengan agroekosistem setempat, mempunyai pengaruh negatif yang rendah, juga harus sesuai dengan tujuan utama (prioritas masalah) yang akan dipecahkan, misalnya :

–    Jika erosi menjadi masalah utama, maka Flemingia congesta menjadi pilihan utama dalam Alley cropping.

–    Jika pakan ternak menjadi masalah utama, maka Gliricidia sepium dan atau Calliandra calothyrsus menjadi pilihan atau dikombinasikan dengan Flemingia congesta.

–    Jika tanah alkalin kuat, atau solum tanah <50 cm di atas batu kapur, maka Gliricidia sepium yang dipilih.

–    Jika ketinggian tempat >500 m dari permukaan laut, maka Calliandra calothyrsus menjadi pilihan utama dan sebagai alternatif Gliricidia sepium atau Flemingia congesta.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ini sangat efektif mengendalikan erosi.  Di Filipina, Alley cropping dapat menurunkan erosi sebanyak   62%, yang terdiri atas 48% disebabkan oleh pengaruh penutupan tanah oleh mulsa, 8% disebabkan oleh perubahan profil tanah dan 4% oleh penanaman secara kontour.

Jarak antara dua baris tanaman pagar pencegah erosi ditentukan dengan menggunakan rumus VI/HI = % kemiringan lahan (VI = tinggi vertikal, dan HI = jarak horizontal). Untuk mendapatkan jarak horizontal (HI), VI harus ditetapkan terlebih dahulu, berkisar antara 0,50-1,00 m untuk lereng < 25% dan 1,00-1,50 m untuk lereng > 25%.

Jenis tanaman pagar yang sesuai untuk pengendali erosi dan sekaligus sebagai pakan ternak disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Beberapa jenis tanaman pakan ternak yang cocok untuk tanaman pagar.

 

 

 

 

 

 

 

 

Banyak penelitian menyimpulkan bahwa budidaya lorong dapat dikembangkan sebagai suatu sistem pertanian berkelanjutan dengan masukan rendah. Beberapa gatra penting budidaya lorong yang bersifat multiguna adalah:

1. Mencegah terjadinya kerusakan tanah akibat erosi permukaan (gatra konservasi).

2. Mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah (gatra kesuburan).

3. Tanaman pagar (legum) dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hijau, makanan ternak, sayuran, pematah angin, dan penyediaan kayu bakar (gatra multiguna tanaman pagar).

4. Meningkatkan produktivitas tanah.

Pemilihan Tamanam Pagar

Banyak jenis pohon dan perdu yang dapat dipakai sebagai tanaman pagar, terutama tanaman legum. Ciri tanaman legum yaitu pertumbuhannya cepat, mudah ditanam dan bersifat multiguna (MPTS = Multi Purpose Plant Spesies) sehingga untuk tanaman pagar dalam budidaya lorong jenis tanaman pagar yang dipilih harus memenuhi persyaratan, antara lain:

1. Benih atau bibit mudah didapat di sekitar lokasi .

2. Mudah ditanam dan pertumbuhannya cepat.

3. Memiliki sistem perakaran yang dalam sehingga mampu memanfaatkan hara dari lapisan yang lebih dalam, dan tidak mengganggu perakaran tanaman pokok.

4. Menghasilkan banyak biomasa melalui pemangkasan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk hijau, mulsa, dan hijauan pakan ternak.

5. Tahan terhadap pemangkasan dan mempunyai daya regenerasi dan pertumbuhan kembali yang cepat dan tinggi.

6. Dapat menyediakan nitrogen tanah secara alamiah melalui penyematan N udara yang merupakan hasil kegiatan mikroorganisme yang bersimbiosis dengan tanaman legum.

7. Menghasilkan bahan sampingan yang sangat bermanfaat bagi petani (sumber kayu, bahan bangunan dan perabot rumah tangga).

8. Apabila sudah tidak digunakan lagi dapat dengan mudah dimusnahkan.

Jenis tanaman legum yang banyak dimanfaatkan untuk budidaya lorong adalah: kaliandra merah (Caliandra calothyrsus), kaliandra putih (Caliandra tetragona), gamal (Gliricidia sepium), lamtoro gung (Leucaena leucochephala), flemingia (Flemingia congesta), turi (Sesbania grandiflora), Cayanus cajan, Dalbergia sisso, Desmantus virgatus, dan Tephrosia volgelii. Di antara jenis-jenis di atas yang sering dimanfaatkan adalah lamtoro dan gliricidia.

Dalam pengembangan budidaya lorong tanaman pagar tidak terbatas pada tanaman legum saja tetapi telah berkembang dengan memanfaatkan tanaman yang lebih menguntungkan dan disukai petani serta mempunyai nilai ekonomi, yaitu jenis buah-buahan dan perkebunan. Apabila dipadukan dengan peternakan maka beberapa rumput pakan ternak dapat ditanam sebagai tanaman pagar. Rumput pada umumnya mempunyai sistem perakaran yang sangat kuat sehingga bermanfaat untuk tujuan konservasi. Jenis rumput yang telah dikembangkan untuk pakan ternak dan umum ditanam, ialah: rumput gajah (Pennisetum purpureum), dan rumput guinea (Panicum maximum). Di samping terdapat jenis lain yang dapat dimanfaatkan sebagai rempah dan wewangian, antara lain: rumput citronella (Cymbopogon nardus, Jowitt), sere wangi (Cymbopogon citratus, Stapf), rumput guatemala (Tripsacum laxum), dan rumput vetiver (Vetiveria zizanoides). Kelebihan jenis rumput adalah mudah ditanam dan mudah tumbuh. Tetapi pada kondisi kekurangan air akan bersaing dengan tanaman lain dalam penyerapan lengas tanah.

Tanaman pagar, baik permanen atau sementara yang ditanam menurut kontur mempunyai keuntungan lain sebagai pengendali erosi. Jenis tanaman yang ditanam harus sesuai dengan kondisi agroekosistem setempat dan mempertimbangkan kebiasaan petani setempat. Tanaman pagar harus dipangkas secara periodik, dapat dipakai sebagai pakan ternak, atau mulsa tanaman utama (pangan). Pemangkasan juga berfungsi untuk mengontrol pertumbuhan, karena apabila tidak dilakukan akan berubah sebagai gulma. Beberapa keuntungan lain dari pemangkasan adalah:

1. Pemangkasan mulai dilaksanakan setelah tanaman cukup tinggi dan banyak menghasilkan biomas yang dapat dimanfaatkan.

2. Pemangkasan dapat dilakukan berulangkali menyesuaikan dengan pertumbuhan tanaman.

3. Tanaman pagar harus dipertahankan pada ketinggian tertentu supaya tidak terlalu banyak menaungi tanaman utama, disamping itu harus menyesuaikan dengan daya regenerasi tanaman, karena tanaman tertentu apabila terlalu pendek tidak terjadi regenerasi tetapi malah menjadi mati.

4. Hasil pemangkasan berupa pupuk hijau dapat dibenamkan langsung pada bidang oleh sebelum tanaman utama dipanen.

5. Pemangkasan dapat dilakukan 2-3 kali dalam musim penghujan, sedang musim kemarau sebaiknya tidak dilakukan pemangkasan, kecuali apabila pertumbuhannnya cukup baik.

Tanaman Utama

Pada bagian lorong dapat ditanami dengan tanaman semusim (pangan) berumur pendek yang menyesuaikan dengan kebiasaan petani setempat (jagung, kacang tanah, kedelai, padi gogo dan sayuran). Pola pertanaman yang dianjurkan menyesuaikan dengan kondisi iklim, apabila memungkinkan dapat ditanami terus menerus sepanjang tahun. Dapat juga ditanami tanaman-tanaman keras yang mempunyai nilai ekonomis tinggi seperti kopi, jeruk, cokelat, pisang dll. Dengan demikian prinsip keanekaragaman berkembang dalam budidaya lorong.

Teknologi konservasi yang diterapkan oleh adalah: pemulsaan, cover crop, pupuk hijau, OTM dan TOT.

Gambar 2. Parit di antara Tanaman Pagar dan Tanaman Budi Daya untuk Menghindari Gangguan pada Akar

Alley cropping merupakan kombinasi antara tanaman tahunan (pagar) dan tanaman semusim yang dilakukan dengan sedemikian rupa sehingga dapat menguntungkan secara ekologi, ekonomi, dan sosial. Keuntungan sistem pertanaman lorong:

1. Ekologi

Dapat menyumbangkan bahan organik dan hara terutama nitrogen untuk tanaman lorong. Mengurangi laju aliran permukaan dan erosi apabila tanaman pagar ditanam secara rapat menurut garis kontur. Terpaan angin dapat diminimalisir sehingga tanaman musiman tetap dalam kondisi yang baik. Meningkatkan keanegaragaman hayati dan keseimbangan agroekosistem.

2. Ekonomi

Menghemat biaya pengolahan lahan karena tidak perlu dilakukan pembajakan untuk menggemburkan tanah. Mengurangi biaya pemupukan dengan memanfaatkan daun tanaman pagar untuk dijadikan kompos atau mulsa. Ranting pohon tahunan dapat dimanfaatkan sebagai kayu bakar.

3. Sosial

Dapat meningkatkan ketahanan pangan dan ekonomi serta penggangguran dapat dikurangi.

Sedangkan kelemahan penanaman lorong atau alley cropping diantaranya adalah :

1.  Tanaman pagar mengambil sekitar 5 – 15% areal yang biasanya digunakan untuk tanaman pangan /tanaman utama. Untuk itu, perlu diusahakan agar tanaman pagar dapat memberikan hasil langsung. Hal ini dapat ditempuh misalnya dengan menggunakan gliricidia sebagai tanaman pagar dan sekaligus sebagai tongkat panjatan bagi vanili atau lada. Cara lain misalnya dengan menanam kacang gude sebagai tanaman pagar.

2.  Sering terjadi persaingan antara tanaman pagar dengan tanaman utama untuk mendapatkan hara, air, dan cahaya. Cara mengatasinya adalah dengan memangkas tanaman pagar secara teratur supaya pertumbuhan akarnya juga terbatas.

3. Tenaga kerja yang diperlukan untuk penanaman dan pemeliharaan tanaman pagar cukup tinggi (Haryati, Umi., 2010).

Keuntungan yang maksimal akan dapat diperoleh jika pemilihan komoditas yang akan ditanam sedang diminati konsumen, selain itu komoditas harus berkualitas baik, dan untuk meningkatkan nilai ekonominya bisa dilakukan teknik pasca panen yang memadai. Contoh penanganan paca panen yang baik misalnya jagung dipasarkan dalam bentuk tepung maizena dan dikemas dengan kemasan yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

 

Haryati, Umu. 2014. Budidaya Lorong (Alley Cropping). http://bebasbanjir2025. Word press .com/teknologi-pengendalian-banjir/budidaya-lorong/. Diakses 11 Mei 2014

Nurhidayati, Pujiwati, Istirochah. 2008. Pertanian Organik : Suatu Kajian System Pertanian Terpadu Dan Berkelanjutan. Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang.

Sariyata, Ketut. 2007. Usaha Tani Konservasi (Pola Budidaya Lorong). Kupang : Balai Besar Pelatihan Peternakan Nusa Tenggara Timur.

categories Tugas Kuliah | comments Comments (0)

Pestisida Nabat Dari Ekstrak Daun Kemangi

LAPORAN PENGUJIAN PESTISIDA NABATI

PESTISIDA NABATI DARI EKSTRAK DAUN KEMANGI PADA BELALANG HIJAU (Oxya chinensis)

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Pertanian Organik

 logo fpub-hitam_putih

 

DISUSUN OLEH :

Andi Kurniawan                                    (115040201111128)

  Faris Fikardian Pratama                      (115040200111029)

Nurlaili Isthi F.                                      (115040201111146)

Nur Azizah Luthfina Erry S.               (115040213111007)

Daning Eka S.                                           (115040201111022)

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2014

1.    PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Secara umum pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya adalah tumbuhan. Pestisida nabati relatif mudah dibuat dengan bahan dan teknologi yang sederhana. Bahan bakunya yang alami/nabati membuat pestisida ini mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan. Pestisida ini juga relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang.

Pestisida nabati bersifat “pukul dan lari” (hit and run), saat diaplikasikan, akan membunuh hama saat itu juga dan setelah hamanya mati, residunya akan hilang di alam. Penggunaan pestisida nabati memberikan keuntungan ganda, selain menghasilkan produk yang aman, lingkungan juga tidak tercemar.

Dalam pembuatan pestisida kali ini kelompok kami menggunakaan bahan daun kemangi sebagai pestisida nabati. Pestisida organik ini mampu mengatasi dan mengusir hama perusak tanaman pertanian dan perkebunan umumnya seperti kutu, ulat, belalang dan sebagainya.

1.2  Tujuan

  1. Untuk mengendalikan hama secara alami tanpa menggunakan bahan kimia
  2. Untuk mengendalikan hama agar produktivitas atau hasil tanaman budidaya tidak  akibat hama yang menyerang.
  3. Untuk alternatif mengendalikan hama di tanaman budidaya untuk menuju pertanian organik dan sehat.

1.3 Manfaat

  1. Dapat membunuh hama/penyakit seperti ekstrak dari daun pepaya, tembakau, dan daun kemangi adalah salah satu bahan yang kami gunakan.
  2. Bahan yang digunakan nilainya murah serta tidak sulit dijumpai dari sumberdaya yang ada di sekitar dan bisa dibuat sendiri
  3. Mengatasi kesulitan ketersediaan dan mahalnya harga obat-obatan pertanian khususnya pestisida sintetis/kimiawi.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Tanaman Kemangi

Tanaman kemangi termasuk dalam Kingdom : Plantae, Divisi : Magnoliophyta, Classis : Magnoliopsida, Ordo : Lamiales, Famili : Lamiaceae, Genus: Ocymum, Spesies :Ocymum basilicum (Ririn, 2012).

kemangi

Gambar 1. Tanaman Kemangi (Ririn, 2012)

2.2 Deskripsi Tanaman Kemangi

Kemangi di Indonesia dikenal dengan berbagai nama, yaitu lampes di Sunda, Kemangi di Jawa dan Madura, uku-uku di Bali, lufe-lufe di Ternate, selasi atau selaseh di Sumatra, ampi di Sulawesi. Tanaman kemangi  (Ocymum spp.) merupakan tanaman semak semusim dengan tinggi antara 80 – 100 cm. Batang  bercabang banyak, berkayu segi empat, berbulu berwarna  hijau muda. Daun tunggal bulat lancip, tepi bergerigi, panjang daun 4 – 5 cm dan lebar 6 – 30 mm. Kelopak bunga (calyx) berwarna hijau (mengandung pigmenklorofi l), dapat sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis, sifatnya gamosepalus (sepala berlekatan satu sama lain), mahkota bunga ( corolla ) berwarna putih merah muda, siftnya polyopetalus (petala tidak berlekatan 1 sama lain), merupakan bunga hermaprodhite  (memiliki putik/pistillum dan benang sari / stamen), terdpat ovarium (bakal buah) dan ovulum (ovulum). Mempunyai bau yang khas dan harum. Buah terdiri dari Epikarpium  (lapisan paling luar yang tebal dan bersisik, untuk tanaman yang sudah tua, pada buah yang masih muda belum terdapat sisik. Mesokarpium (daging buah) dan Endokarpium terdapat sekat / septum. Terdapat biji / semen pada ujung buah. Biji Ocimum Bewarna hitam atau cokelat dengan bentuk bulat telur atau bulat dengan ukuran biji relatif kecil (Ririn, 2012).

2.3 Distribusi dan Habitat

Tanaman kemangi ditemukan di seluruh pulau Jawa dari daratan rendah hingga kurang lebih 450 m di atas permukaan laut, bahkan dibudidayakan hingga 1100 m. Selain di Pulau Jawa, jenis ini telah ditanam hampir di seluruh Nusantara. Tumbuh pada tepi-tepi jalan dan tepi-tepi ladang, pada sawah-sawah kering dan dalam hutan-hutan jati seringkali disemaikan di kebun-kebun dan pekarangan rumah (Ririn, 2012).

2.4 Kandungan Kimia

Tanaman kemangi mengandung bermacam-macam kandungan kimia seperti pada bunga mengandung anthocyanins, delphinidin, pelargonidin, malvidin, kaempherol, dan quercetin yang berfungsi peluruh haid, abortivum, dan membuyarkan bekuan darah. Pada akar mengandung cyanidin mono-glycoside yang berfungsi sebagai anti radang dan peluruh haid. Pada biji mengandung saponin dan fixed oil yang berfungsi sebagai penghenti perdarahan (hemostatis), meningkatkan fungsi pencernaan, mempunyai efek melunakkan massa yang keras (tumor), anti kanker, peluruh haid, dan mempermudah persalinan (parturifasien). Selain itu kemangi ini juga kaya dengan berbagai kandungan kimia yang sudah diketahui, yaitu minyak atsiri: Osimena, farnesena, sineol, felandrena, sedrena, bergamotena, amorfena, burnesena, kadinena, kopaena, kubebena, pinena, terpinena, santalena, sitral, dan kariofilena. Senyawa lain : Anetol, apigenin, asam askorbat, asam kafeat, eskuletin,eriodiktiol, eskulin, estragol, faenesol, histidin, magnesium,ß-carotene,ß-sitosterol (Ririn, 2012).

 

III.   BAHAN DAN METODE

 

3.1 Alat dan Bahan

  • Pisau                : Untuk mencacah bahan (daun kemangi)
  • Telenan            : Sebagai alas pencacah daun kemangi
  • Baskom           : Sebagai wadah cacahan daun kemangi
  • Kompor           : Untuk merebus daun kemangi
  • Wajan              : Sebagai media perebusan daun kemangi
  • Kain serbet      : Sebagai media ekstrak daun kemangi
  • Botol EM4      : Sebagai media penempatan produk pestisida
  • Kertas label     : Untuk melabeli produk pestisida daun kemangi
  • Daun kemangi : Sebagai bahan ekstrak pestisida nabati
  • Mentimun        : Perekat pestisida cair
  • Air                   : Sebagai media perebusan daun kemangi (peluruhan daun)

3.2 Diagram Alir

Siapkan alat dan bahan pembuatan pestisda nabati daun kemangi

Daun kemangi ± 750 g , dipotong dan dicacah kecil

Cuci dengan air, letakkan cacahan daun kemangi pada baskom

Nyalakan kompor dan letakkan wajan perebusan

Panaskan air 500 ml hingga mendidih

Masukkan bahan (cacahan) daun kemangi ke wajan perebusan

Rebus hingga volume air sedikit (selama ± 60 menit) dan matikan kompor

Ambil daun kemangi yang sudah direbus dan didinginkan ±30 menit

Ambil ekstrak daun kemangi dengan media kain serbet (air perasan daun)

Tambahkan ekstrak mentimun yang sudah diperas

Ekstrak daun kemangi di masukan dalam botol produk

Pelabelan botol produk pestisida nabati

IV.   HASIL DAN PEMBAHASAN

 

3.1    Hasil

Untuk mengetahui hasil pembuatan pestisida nabati dari daun kemangi, pengujian dilakukan pada OPT yang menyerang tanaman padi yaitu jenis belalang hijau (Oxya chinensis). Pengaruh dosis penyemprotan pestisida nabati daun kemangi (ml/l) pada belalang hijau akan disajikan pada tabel pengamatan dibawah ini.

Tabel Pengujian Pestisida Nabati

No Dosis

(ml)Gejala Pada OPTEfektivitas Pestisida (Waktu)1.10Belalang menjadi tidak lincah namun tidak mati-2.20Belalang menjadi tidak lincah, lemah namun tidak mati-3.30Belalang menjadi lemah dan berangsur mati30 jam

3.2    Pembahasan

Berdasarkan hasil percobaan yang telah kami lakukan pada dosis 10 ml penyemprotan pestisida nabati daun kemangi, pengaruhnya pada sasaran hama belalang adalah belalang menjadi tidak lincah namun tidak mati. Untuk pemberian dosis 20 ml penyemprotan, gejala pada sasaran hama belalang sama dengan dosis yang diberikan 10 ml yaitu  belalang menjadi tidak lincah namun tidak mati. Sedangkan penyemprotan dengan dosis 30 ml, gejala pada sasaran hama adalah belalang menjadi lemang dan berangsur mati.

Menurut literature yang didapatkan, kemangi memiliki kandungan yang diduga beraktivitas insektisida yaitu methylcavivol dan sebagai juvenile hormone yang bersifat menghambat perkembangan serangga. Selain itu, kemangi juga mengandung fenol (tynol) yang cukup tinggi mencapai 22,9-65,5 mg/g berat kering yang mampu berfungsi sebagai repellent dan anti mikrobial.

 

V.      KESIMPULAN

Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan pada hama belalang hijau diperoleh hasil bahwa konsentrasi pestisida yang paling efektif mematikan hama belalang ialah pada konsentrasi 30 ml, karena pada konsentrasi tersebut belalang menjadi lemah dan berangsur mati. Pestisida nabati dari ekstrak daun kemangi berperan dalam mengendalikan serangga hama terutama hama yang berukuran kecil seperti belalang hijau dan ulat pada tanaman sawi dan sejenisnya. Pestisida nabati perlu diproduksi dalam jumlah besar dan harus lebih banyak disosialisasikan cara pemakaianya kepada petani untuk mengendalikan OPT karena didalam pestisida nabati memiliki keunggulan dibandingkan dengan pestisida kimia sintetis. Keunggulan tersebut diantaranya ialah sebagai berikut:

  1. Relatif lebih ramah lingkungan
  2. Tersedia di alam
  3. Relatif lebih murah
  4. Mudah di buat dan diaplikasi

Namun demikian pestisida nabati juga memiliki kekurangan antara lain tidak tahan lama disimpan setelah pembuatan dan tingkat pengaruhnya terhadap populasi hama yang dikendalikan lebih rendah dan lebih membutuhkan waktu yanag lama di bandingkan dengan pestisida kimiawi sintetis.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ririn, R. 2012. Deskripsi dan Klasifikasi Tanaman Kemangi. http://rizkyririn.wordpress.com/2012/07/06/deskripsi-kemangi-ocymum-basilicum. Di akses 3 Mei 2014.

categories Laporan Praktikum | comments Comments (0)

Sambaran Petir Saat Gunung Meletus

Sambaran petir bisa terjadi saat gunung berapi meletus atau mengalami eruption, sambaran petir terjadi di sekitar hembusan gumpalan debu vulkanik. Petir yang ada pada saat letusan gunung berapi, disebabkan oleh tabrakan dari debu vulkanik yang sangat banyak atau pekat. Kilatan-kilatan cahaya ‘berbulu’ itu memang bisa dihasilkan dari mulut kawah gunung berapi. Petir atau kilatan itu biasanya dihasilkan dari badai guntur atau cuaca buruk lainnya. Tetapi, puing-puing awan yang berputar-putar dari gunung berapi juga bisa menciptakan petir.

Kilatan Petir di Letusan Gunung Berapi 0002 Kilatan Petir di Letusan Gunung Berapi 0003 Sosok Mengerikan dari Kilatan Petir di Letusan Gunung Berapi

Petir atau kilat dari gunung berapi itu berkaitan dengan peristiwa perputaran di dalam tubuh gunung, seperti fenomena tornado. Saat perputaran itu terjadi, timbul tekanan ke atas menuju kawah seperti air yang menyembur keluar dengan materi dari dalam gunung, termasuk abu dalam jumlah besar. Peristiwa itu bersamaan dengan keluarnya petir atau kilat dari dalam menuju bibir kawah.

Penyebab petir vulkanik tidak sepenuhnya dipahami. Ahli Geologi berasumsi bahwa penyebabnya adalah mirip dengan penyebab badai petir, yang juga tidak sepenuhnya dipahami. Selama bertahun-tahun, ahli geologi telah berbicara tentang pemisahan muatan yang disebabkan oleh partikel debu vulkanik bertabrakan dan membangun listrik statis. Baru-baru ini sebuah teori baru telah diusulkan yang bergantung pada kadar air dari magma.

Dari sudut pandang listrik, Bumi adalah materi yang bergerak memutar di sebuah edar yang besar. Karena itu, penjelasan dari semua fenomena fisik petir static di permukaan Bumi harus mengambil perilaku listrik dalam pembentukannya. Fisikawan Anthony Peratt, menjelaskan magma sebagai plasma, sebuah media yang mengandung materi atom bergerak. Jadi kita harus mengharapkan gunung berapi tidak hanya untuk menunjukkan perilaku listrik tetapi untuk memiliki perilaku terhubung dengan lingkungan plasma yang lebih besar, yaitu untuk menjadi elemen dalam rangkaian listrik yang lebih besar.

Adakalanya beberapa gunung berapi menghasilkan petir sementara yang lainnya tidak? Lebih penasaran, mengapa beberapa gunung berapi dengan letusan berdebu besar menghasilkan petir sedikit atau tidak dan lain-lain dengan debu kecil atau biasa-biasa saja menghasilkan banyak petir? Jawaban sederhana bisa bahwa semua gunung berapi listrik tetapi menampilkan petir terjadi hanya ketika perlawanan terhadap arus vulkanik tinggi.

categories Knowledge | comments Comments Off on Sambaran Petir Saat Gunung Meletus

Fungsi Tanaman Penutup Tanah, Tanaman Pemecah Angin & Tanaman Pinggir

Fungsi Tanaman Penutup Tanah

BP :

–  Menekan pertumbuhan gulma dan mencegah evapotranspirasi berlebihan

–  Melakukan transpirasi, yang mengurangi kandungan air tanah.

–  Menambah bahan organik tanah dengan merombak bahan organik melalui batang, ranting dan daun mati yang jatuh,

–  Sebagai penggembur tanah, seperti tanaman jenis legume, memiliki akar yang biasanya bersimbiosis dengan bakteri rhizobium yang dapat mengikat nitrogen (N) secara langsung dari udara. Selain itu, perakarannya tidak terlalu dalam dan merupakan akar serabut, sehingga akar tanaman penutup ini dapat membuat tanah tetap gembur.

 

TANAH

–  Tanaman penutup berfungsi untuk melindungi tanah dari ancaman  kerusakan oleh  erosi, menutup dan melindungi permukaan tanah dari pengikisan air hujan, dan menahan atau mengurangi daya perusak butir-butir hujan yang jatuh dan aliran air di atas permukaan tanah, Peranan tanaman penutup tanah tersebut menyebabkan berkurangnya kekuatan dispersi air hujan, mengurangi jumlah serta kecepatan aliran permukaan dan memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah, sehingga mengurangi erosi. Artinya, air yang menyebabkan erosi adalah air hujan/pukulan air hujan, air limpasan permukaan, air sungai, air danau dan air laut. Begitu air hujan mengenai kulit bumi, maka secara langsung hal ini akan menyebabkan hancurnya agregat tanah. Penghancuran agregat tanah terjadi karena pukulan air hujan dan kikisan air limpasan permukaan.

–  Tanaman penutup juga memiliki fungsi penting dalam menjaga dan memperbaiki kualitas sifat fisik tanah dan sifat kimia tanah; misalnya tanaman Leguminoceae untuk kelestarian kandungan nitrogen dalam tanah dan tanaman Mucuna pruriens untuk fosfor.

–  Fungsi tanaman penutup tanah adalah menciptakan daerah resapan atau area pengikat air hujan sehingga memiliki daya menyerap air yang baik, menjaga kelembaban tanah serta memperbaiki aerasi.

 

HPT

–  Fungsi tanaman penutup tanah adalah dapat melindungi artropoda penghuni permukaan tanah dari terpaan terik matahari dan butiran air hujan.  Selain itu, tanaman penutup tanah dapat menyediakan sumberdaya hayati bagi artropoda penghuni permukaan tanah dan menekan gangguan kumbang.

–  Berbagai jenis serangga fitofag dapat memanfaatkan tanaman penutup tanah sebagai sumber makanannya, yang pada giliran berikutnya dapat mendukung artropoda yang bersifat sebagai predator seperti semut, laba-laba, dan sebagian jenis jangkrik.

–  Beberapa tanaman penutup digunakan sebagai “tanaman perangkap”, untuk menarik hama menjauh dari tanaman utama dan terhadap apa yang hama lihat sebagai habitat yang lebih baik.

 

Fungsi Tanaman Pemecah Angin

TANAH

Tanaman pemecah angin dikatakan sebagai cara yang paling baik dalam mencegah erosi permukaan tanah. Tanaman pemecah angin dengan kerapatan tanaman dan perakaran yang kuat, maka berperan sebagai pemecah angin atau wind break untuk menghindari kerusakan lahan-lahan pertanian.

BP

Fungsi utama tanaman pemecah angin/wind breaker adalah untuk mereduksi kecepatan angin. Selain itu juga berfungsi untuk mengurangi resiko rebahnya tanaman oleh angin yang kencang dan mengurangi kerusakan mekanis karena patah atau hilangnya organ-organ tanaman, kegagalan pembungaan dan penyerbukan, serta untuk mengurangi laju evapotranspirasi yang tinggi agar tanaman dan tanah tidak mengalami kerusakan.

HPT

Tanaman pemecah angin/wind breaker berfungsi sebagai habitat predator.

 

Fungsi Tanaman Pinggir

HPT

–  Mengendalikan populasi hama. Penanaman tanaman pinggir di sekitar tanaman yang diusahakan, berfungsi menolak atau menghalangi agar hama menjauhi atau tidak sampai ke tanaman yang diusahakan. Penanaman tanaman pinggir dilakukan dengan menanam jenis tanaman bukan inang atau yang tidak disukai oleh hama sasaran di sekeliling tanaman yang diusahakan.

–  Tanaman pinggir dapat mendorong konservasi musuh alami seperti predator. Hal ini terjadi karena pemanfaatan tanaman pinggir merupakan teknik pengendalian hama secara budidaya yang dapat meningkatkan keragaman vegetasi.

–  Mencegah tanaman lain terserang penyakit dan mencegah penyebaran virus.

BP

– Memperbanyak tanaman pinggir sehingga memberikan penyinaran yang merata bagi tanaman tanpa ada ternaungi.

– Mencegah terjadinya penyerbukan silang akibat terpaan angin.

– Meningkatkan produksi pertanian.

– Meningkatkan keragaman vegetasi. Vegetasi yang beragam sangat sesuai bagi kehidupan musuh alami seperti predator yang pada umumnya bersifat generalis. Predator generalis dapat memangsa bermacam-macam mangsa yang tersedia dalam waktu yang lama.

TANAH

–  Meningkatkan cadangan air tanah .

–  Sebagai pupuk kompos melalui batang, ranting dan daun mati yang jatuh.

categories Tugas Kuliah | comments Comments (0)

Tugas Matakuliah Survei Tanah dan Evaluasi Lahan M-3

Nama : Daning Eka Septyarini
NIM   : 115040201111022
Kelas : E

Tugas M-3

Peta Rupa Bumi/Topografi

peta-probolinggo7

Peta Geologi

Peta Geologi Teknik Daerah Probolinggo

Kegiatan: Penyelidikan geologi teknik daerah Probolinggo dan sekitarnya, Prop. Jawa Timur skala 1:50.000

Skala 1 : 50.000

Pengarang: SUDADI, Purwanto; SUTISNA, Joni R.; EFFENDI, Asep

Penerbit: GTL

Tahun: 1997

Provinsi: Jawa Timur

kabupaten: Probolinggo

Batas Barat: 113 ° Bujur Timur

Batas Timur: 113.25° Bujur Timur

Batas Utara: -7.667 ° Lintang Selatan(-) / Lintang Utara (+)

Batas Selatan: -7.833 ° Lintang Selatan(-) / Lintang Utara (+)

 

Peta Tanah

 

Peta Penggunaan Lahan

categories Tugas Kuliah | comments Comments (0)

Tugas Matakuliah Survei Tanah dan Evaluasi Lahan M-4

Nama : Daning Eka Septyarini
NIM   : 115040201111022
Kelas : E

Tugas M-4

1. Mengapa perlu ditentukan luasan SPT terkecil 0.4 cm2?

Jawab:

Karena penentuan luasan SPT terkecil tersebut ditujukan untuk mendapatkan kompleks tanah, yang mana bila komponen tanah yang berasosiasi secara geografis, teapi tidak dapat dipisahkan kecuali pada tingkat amat detil. Sehingga dilakukan dengan luasan terkecil 0.4 cm2

 

2. Apakah dibenarkan kita membesarkan peta analog (misalnya peta tanah cetak) dgn scanner/foto copy  skala 1 : 250.000 menjadi 1 : 50.000? JELASKAN

Jawab:

Tidak bisa dibenarkan, karena jika kita hanya memfotocopy/scanner memperbesar peta ataupun memperkecilnya, maka ada pada bagian-bagian dalam peta tersebut yang hilang ataupun bertambah. Kecuali jika kita membuat ulang dan memperkecil skala sebelumnya.

 

3. Skala peta

a. Berapa luas di lapangan untuk suatu SPT berukuran 0.8 cm2 pd peta berbagai skala seperti pada butir-butir di bawah?

  • Eksplorasi (1: 1000.000), maka menjadi 8km2
  • Tinjau (1:250.000), maka menjadi
  • Semi detil (1:50.000)
  • Detil (1:25.000)
  • Sangat Detil (1:5 000)

 

b. Berapa intensitas pengamatan untuk peta berbagai skala seperti pada butir-butir di bawah?

  • Eksplorasi (1: 1000.000)
  • Tinjau (1:250.000)
  • Semi detil (1:50.000)
  • Detil (1:25.000)
  • Sangat Detil (1:5 000)

Jawab:

Misal: 1: 10000, luas peta = 0,8 cm2

Luas asli = 0,8 x (10000)2 = 8 x 107x 10= 8 x 107x 10-8= 8×10-1

  • Eksplorasi 1:1.000.000

L.sebenarnya = 0.8 cmx (1.000.000)2

= 0.8 x 1012 cm2

= 0.8 x 104 ha

  • Tinjau 1:250.000

L.sebenarnya = 0.8 cmx (250.000)2

=  0.8 x 625 x 108

= 500 x 10cm2

= 500 ha

  • Semi detil 1:50.000

L.sebenarnya = 0.8 cmx (50.000)2

=  0.8 x 25 x 108

= 20 x 108  cm2

= 20 ha

  • Detil 1:25.000

L.sebenarnya = 0.8 cmx (25.000)2

=  0.8 x 625 x 106

= 500 x 10cm2

= 5 ha

  • Sangat Detil 1:5000

L.sebenarnya = 0.8 cmx (5000)2

=  0.8 x 25 x 106

= 20 x 10cm2

= 20-1 ha

categories Tugas Kuliah | comments Comments (0)

Tugas Matakuliah Survei Tanah dan Evaluasi Lahan M-5

Nama Kelompok : Brainawan Adharu Agba        (115040201111126)

                           Brilliantin Nisaa                          (115040201111015)

                           Daning Eka Septyarini               (115040201111022)

                           Cyntia Yolanda Apriscia          (115040201111027)

Kelas : E

TUGAS M-5

 

1. Metode survei tanah menggunakan dua pendekatan utama, yaitu pendekatan sintetik dan analitik.

– Jelaskan persamaan dan perbedaan kedua pendekatan tersebut

– Berikan contoh kedua pendekatan tersebut

Jawab :

Pendekatan Sintetik adalah pendekatan ‘buttom-up’ atau memberi nama terlebih dahulu, baru kemudian mengelompokkannya.

Pendekatan Analitik adalah pendekatan ‘top-down’ atau pendekatan yang dilakukan dengan cara membagi terlebih dahulu kemudian baru member nama.

Perbedaan :

No.

Pembeda

Pendekatan Sintetik

Pendekatan Analitik

1

Cara Survei Menentukan titik surveilahan, kemudian barudidelineasi Di delineasi dengan melihatmelalui foto udara, barumenentukan titik survei lahan

2

Jumlah Titik Survei Banyak, karena setiapluasan petak yang dibuatharus di survei Sedikit, kurang lebih 3-4 titik dari tiap pengelompokkan hasil delineasi

3

Waktu Sangat lama, karena banyaktitik yang harus di survei Singkat, karena survei yangdilakukan hanya beberapatitik

4

Hasil Survei Lebih detail, karena jumlahtitik survei banyak danhasilnya lebih akurat Detail, tetapi hasil yangdidapat tidak sedetailpendekatan sintetik

 pendekatan

Persamaan :

– Dalam praktiknya kedua pendekatan ini dilakukan secara bersama sama untuk mengamati karakteristik tanah pada masing-masing satuan peta atau pendekatan yang dilakukan yang bertujuan untuk membagi permukaan tanah sebagai suatu ‘kontinum’ ke dalam satuan-satuan tertentu dalam membuat peta tanah.

– Dalam pendekatan sintetik, penempatan pengamatan sering kali mengikuti petunjuk eksternal yang mengarahkan dimana batas-batas antara tanah-tanah yang berbeda akan terjadi, dimana petunjuk ini sama dengan yang digunakan pendekatan analitik. Begitupun sebaliknya.

 

2. Dalam menyiapkan survei tanah dengan menggunakan pendekatan analitik, apa saja yang harus dilakukan?

     Jawab :

Yang harus dilakukan ketika survei tanah dengan menggunakan pendekatan analitik yaitu :

a) Membagi landskap kedalam komponen komponen sedemikian rupa yang yang diperkirakan akan memiliki tanah yang berbeda.

b) Melakukan karakterisasi satuan-satuan yang dihasilkan melalu pengamatan dan pengambilan contoh tanah di lapang.

 

3. Lihat pada peta landform Pujon dan sekitanya di bawah. Gambaran relief wilayah tersebut disajikan pada peta di bawahnya (peta relief)

a. Diskusikan apakah pendekatan yang akan dipakai, jelaskan alasannya.

b. Jika akan melakukan survei tanah pada skala 1:25.000 plot pengamatan Saudara jika:

– Menggunakan grid kaku

– Menggunakan grid bebas

– Menggunakan pendekatan fisiografis dengan menggunakan key area dan transek.

 Gb 1.2 Gb 1.1

Jawab :

a) Pendekatan yang akan di pakai adalah pendekatan analitik dimana dibuat peta dasar dan penentuan titik pengamatan, lalu pengelompokkan awal, kemudian pengambilan sampel tanah untuk memperkuat pengelompokkan peta tersebut dan kemudian di buat peta hasil survei tanah tersebut. Adapun pemilihan pendekatan analitik agar mempermudah dalam survei di lapang maupun pada pembuatan peta sebab telah dibuat peta dasar sebagai acuan untuk pengamatan / survei di lapang.

b) Jika akan melakukan survei tanah pada skala 1:25.000 plot pengamatan Saudara jika:

–  Menggunakan Grid Kaku : Metode survey ini di awali dengan skema pengambilan contoh tanah secara sistematik dirancang dengan mempertimbangkan kisaran special autokorelasi yang diharapkan. Jarak pengamatan dibuat secara teratur pada jarak tertentu untuk menghasilkan jalur segi empat diseluruh daerah survey. Pengamatan tanah dilakukan dengan pola teratur . Metode ini sangat cocok untuk survei intensif dengan skala besar, dimana penggunaan interpretasi foto udara sangat terbatas, serta pada daeerah yang belum tersedia foto udara.

Gb 2.1 Gb 2.2

–  Menggunakan Grid Bebas : Bila menggunakan grid bebas, maka plot pengamatannya di awali dengan analisis fisiografis daerah dengan foto udara kemudian dilakukan pengecekan lapang dengan cara bebas memilih lokasi titik pengamatan secara sistematis model mental. Pengamatan dilakukan lebih banyak pada daerah yang bermasalah.

Gb. 3.2Gb. 3.1

– Menggunakan pendekatan fisiografis dengan menggunakan key area dan transek

Pendekatan fisiografis hampir sama dengan pendekatan yang lain yaitu melakukan interpretasi foto udara terlebih dahulu dan melakukan pengamatan lapang hanya pada daerah pewakil saja. Metode ini dilakukan bila tersedia foto udara yang berkualitas tinggi. Umumnya diterapkan pada skala 1 : 50.000 – 1 : 200.000

Gb. 4.1Gb. 4.2

categories Tugas Kuliah | comments Comments (0)