Penyiang Gulma: Walking Type

Alat Penyiang Walking Type

Penyiangan menggunakan alat penyiang padi dengan penggerak mesin potong rumput saat ini sudah ada satu buah mata penyiang. Namun hasilnya kurang maksimal dan tidak efektif, dengan kapasitas kerjanya hanya 0,020 ha/jam. Selain itu gulma yang disiang tidak bersih dimana persentase gulma tidak tersiangi besar sekali yaitu 5,3 %, serta dalam pengoperasian di lapangan juga sedikit sulit karena ujung mata penyiang tumpul yang menimbulkan gesekan yang besar dengan tanah sehingga memberatkan kerja penyiangan. Oleh karena itu perlu adanya suatu bentuk mata penyiang padi yang cocok dan efektif digunakan untuk pekerjaan penyiang padi ini.
Dalam perencanaan timbul setelah melihat alat penyiang padi dengan menggunakan mesin pemotong rumput yang telah ada kurang maksimal, kapasitas kerjanya masih rendah dan persentase gulma yang tidak tersiangi masih tinggi, maka perlu pengembangan ide untuk merancang suatu mata penyiang yang efektif dalam penyiangan tanaman padi. Dalam penyatuan konsep didapatkan delapan buah mata penyiang, empat berbentuk lingkaran dan empat berbentuk palang, dimana bentuk lingkaran dan palang ini penyusunan konfigurasi dan keseimbangannya lebih mudah dilakukan. Setelah itu baru dilakukan penggambaran, perakitan dan uji coba masing-masing mata penyiang di lapangan.

1. Cara Penggunaan
Lahan harus tergenang air sekitar 5 cm dan berlumpur dengan kedalaman lapisan maksimum 25 cm (diukur dengan cara orang berdiri di lumpur). Jarak antar barisan tanaman harus benar-benar rata dan lurus sesuai dengan yang ditentukan, yaitu 20 cm.

2. Tahap Penggunaan
1. Baca buku petunjuk operasional secara seksama.
2. Masukkan bensin campur dengan perbandingan 1:25 dan hidupkan mesin.
3. Tempatkanlah unit power weeder pada tengahtangah alur tanaman padi (cakar kiri dan kanan berada pada ruang kosong diantara alur tanaman padi).
4. Setelah mesin hidup, kembalikan posisi tuas gas ke idel (gas posisi rendah). Pada posisi ini putaran dari mesin tidak diteruskan ke poros utama dan otomatis cakar penyiang tidak berputar. Hal ini dikarenakan pada mesin terdapat kopling system sentrifugal, putaran dari mesin akan diteruskan bila rpm mesin cukup tinggi.
5. Dengan posisi operator di belakang mesin penyiang sambil memegang kedua stang, mulai atur posisi gas menjadi tinggi sampai cakar penyiang berputar.
6. Apabila kondisi lumpur cukup dalam dan piringan cakar penyiang terbenam naikkan posisi cakar penyiang, dengan cara menekan stang ke bawah (kaki pengapung sebagai bidang tumpu).
7. Dengan menekan stang ke bawah dan kaki pengapung sebagai bidang tumpu adakalanya mengakibatkan cakar berputar di tempat, karena kaki pengapung terbenam ke dalam lumpur, bila hal ini terjadi angkatlah stang sampai mesin penyiang dapat berjalan ke depan.
8. Mekanisme pengoperasian mesin penyiang padi sawah, sehingga dapat berjalan ke depan adalah terjadinya slip pada piringan cakar penyiang (slip berkisar 50 – 60%), slip inilah yang mengakibatkan lumpur padi sawah teraduk dan diharapkan gulma yang tumbuh di antara alur tanaman akan tercabut dan tergulung.

4 thoughts on “Penyiang Gulma: Walking Type

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>