STRUKTUR FISIK DESA

Materi: STRUKTUR FISIK DESA

 

           OLEH:

ANIS ROHMATIN                           115040207111019

DIMAS SANDA ONGGY                115040207111022

SABIHA RAMADANI                     115040207111024

 

 

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga sampai saat ini kita masih dapat menikmati nikmat yang luar biasa, dan dapat menyelesaikan makalah  ini dengan baik.

Dalam penyusunan makalah ini  penulis mendapat berbagai macam materi yaitu tentang Struktur Fisik Desa. Oleh karena itu penulis ingin mempelajari apa saja yang dipelajari dalam materi sosiologi pertanian sehingga dikaitkan dengan bidang pertanian

Kami menyadari bahwa penyusunan buku ini masih belum sempurna, oleh karena itu kami mengharap kritik dan saran yang membangun dari semua pihak untuk perbaikan selanjutnya. Semoga buku ini bermanfaat bagi yang membutuhkan. Kami menyadari bahwa penyusunan buku ini masih belum sempurna, oleh karena itu kami mengharap kritik dan saran yang membangun dari semua pihak untuk perbaikan selanjutnya. Semoga buku ini bermanfaat bagi yang membutuhkan..

 

 

Malang, 2012

                                                                                                Tim Penyusun

 


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Aspek-aspek struktural masyarakat desa yang didalam pembahasannya mencakup mengenai struktur fisik desa dan pola pemukiman masyarakat desa. Struktur fisik Desa erat kaitannya dengan lingkungan fisik desa itu dalam berbagai aspeknya yang ada didalamnya. Khususnya berkaitan dengan lingkungan geografis dengan segala ciri-cirinya seperti: iklim, curah hujan, keadaan atau jenis tanah, ketinggian tanah, tingkat kelembapan udara, topografi dan lainnya. Variasi dalam perbedaan ciri-ciri fisik ini akan menciptakan pula perbedaan dalam dalam jenis tanaman yang ditanam, sistem pertanian yang diterapkan, dan pola kehidupan dari masing-masing kelompok masyarakatnya. Lingkungan geografis yang memberi kemungkinan untuk budidaya tanaman padi akan menciptakan masyarkat petani sawah yang berbeda dengan lingkungan geografis yang cocok untuk budidaya tanaman gandum dengan petani gandumnya. Tanah-tanah yang kurang subur akan cenderung meciptakan desa-desa kecil yang terpencar, berjauhan satu sama lain, dengan penduduk yang jarang. Sebaliknya, tanah-tanah yang subur akan cenderung menciptakan desa-desa yang besar, berdekatan satu sama lain, dan berpenduduk padat. Kemudian dari uraian struktur fisik desa diatas dapat dijelaskan mengenai Pola Pemukiman Masyarakat Desa. Pola permukiman (settlement pattern) penduduk desa merupakan salah satu aspek yang dapat menggambarkan dengan jelas keterkaitan antara sruktur fisik desa dengan pola kehidupan internal masyarakatnya

 

1.2 Rumusan Masalah

1. apa yang dimaksud sruktur fisik desa?

2. sebutkan dan jelaskan tentang pemukiman desa?

3. sebutka tipe pola persebaran pemukiman desa?

4. sumber daya apa saja yang terdapat dalam pemukiman tersebut?

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian

Komunitas  Desa adalah suatu kumpulan orang-orang dalam jumlah yang banyak membentuk kelompok-kelompok sosial yang bekerjsama untuk mencapai kepentingan atau tujuan bersama, menempati suatu wilayah tertentu dalam waktu yang cukup lama dan karenanya menghasilkan suatu kebudayaan (adat istiadat, norma dan nilai) yang dijadikan dasar bersama, sehingga membentuk suatu sistem sosial yang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, baik kebutuhan untuk mengatur diri sendiri, reproduksi sendiri maupun penciptaan sendiri.

(Salim,2002)

2.2 Pola Pemukiman

Pola pemukiman menunjukkan tempat bermukim manusia dan bertempat tinggal menetap dan melakukan kegiatan/aktivitas sehari-harinya. Permukiman dapat diartikan sebagai suatu tempat (ruang) atau suatu daerah dimana penduduk terkonsentrasi dan hidup bersama menggunakan lingkungan setempat, untuk mempertahankan, melangsungkan, dan mengembangkan hidupnya. Pengertian pola dan sebaran pemukiman memiliki hubungan yang sangat erat. Sebaran permukiman membincangkan hal dimana terdapat permukiman dan atau tidak terdapat permukiman dalam suatu wilayah, sedangkan pola pemukiman merupakan sifat sebaran, lebih banyak berkaitan dengan akibat faktor-faktor ekonomi, sejarah dan faktor budaya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pola pemukiman penduduk adalah bentuk persebaran tempat tinggal penduduk berdasarkan kondisi alam dan aktivitas penduduknya.

 

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pola Pemukiman Penduduk

 

Kalau diperhatikan, ternyata bentuk atau pola pemukiman antara daerah satu dengan daerah lain mempunyai perbedaan. Perbedaan tersebut terjadi, karena faktor geografi yang berbeda.

Secara umum adanya perbedaan pola pemukiman penduduk dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:

 

  1. Relief

Permukaan muka Bumi terdiri dari berbagai relief seperti pegunungan, dataran rendah, perbukitan dan daerah pantai. Kondisi ini menyebabkan penduduk membuat pemukiman yang sesuai dengan lingkungan tempat ia berada.

Relief suatu tempat mempengaruhi keinginan penduduk untuk bermukim

 

  1. Kesuburan tanah

Tingkat kesuburan tanah di setiap tempat berbeda-beda. Di daerah pedesaan, lahan yang subur merupakan sumber penghidupan bagi penduduk. Oleh karena itu mereka mendirikan tempat tinggal berkumpul dan memusat dekat dengan sumber penghidupannya.

Rumah dekat dengan persawahan

 

  1. Keadaan iklim

Faktor-faktor iklim seperti curah hujan, intensitas radiasi Matahari dan suhu di setiap tempat berbeda-beda. Kondisi ini akan berpengaruh terhadap tingkat kesuburan tanah dan kondisi alam daerah tersebut. Kondisi ini akan berpengaruh pada pola pemukiman penduduk di daerah itu. Pada daerah dingin seperti pegunungan, dataran tinggi serta di Kutub utara orang akan cenderung mendirikan tempat tinggal saling berdekatan dan mengelompok. Sedangkan di daerah panas pemukiman penduduk cenderung lebih terbuka dan agak terpencar.

Pola Pemukiman Mengelompok

  1. Keadaan ekonomi

Kegiatan ekonomi seperti pusat-pusat perbelanjaan, perindustrian, pertambangan, pertanian, perkebunan dan perikanan akan berpengaruh pada pola pemukiman yang mereka pilih, terutama tempat tinggal yang dekat dengan berbagai fasilitas yang menunjang kehidupannya, karena hal itu akan memudahkan mereka dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

 

  1. Kultur penduduk

Budaya penduduk yang dipegang teguh oleh suatu kelompok masyarakat akan berpengaruh pada pola pemukiman kelompok tersebut. Di beberapa daerah tertentu seperti suku badui di Banten, Suku Toraja di Sulawesi Selatan, Suku Dayak di Kalimantan, cenderung memiliki pola pemukiman mengelompok dan terisolir dari pemukiman lain.

 

Ada tiga pola pemukiman penduduk dalam hubungannya dengan bentang alamnya, yaitu sebagai berikut:

  1. Pola Pemukiman Memanjang (Linear).

Pola pemukiman yang alur pemukimannya itu memanjang seperti perumahan yang berada dipinggir jalan atau sepanjang rel kereta api.

  1. Pola pemukiman terpusat

Pemukiman ini mengelompok membentuk unit-unit pada daerah tertentu yang mengelompok jadi satu.

  1. Pola pemukiman tersebar

Pola pemukiman yang menyebar pada jarak antar rumah itu sangat berjauhan.

( Rahardjo,1999 )

2.2.1  Tipe Pola Pemukiman

Pola permukiman yang secara umum terdapat didunia ini antara lain:

  1. The Farm Village Type (FVP)

The farm village type (FVP) adalah pola permukiman dimana penduduk (petani) tinggal bersama-sama dan berdekatan di suatu tempat dengan lahan pertanian berada di luar lokasi permukiman.

  1. The Nebulous Farm Type (NFT)

The nebulous farm type (NFT) adalah pola permukiman dimana penduduk di samping yang tinggal bersama-sama di suatu tempat, terdapat penduduk yang tinggal tersebar di luar pemukiman itu.

  1. The Arranged Isolated Farm Type (AIFT)

The arranged isolated farm type (AIFT) adalah pola permukiman dimana penduduk tinggal di sekitar jalan dan masing-masing berada di lahan pertanian mereka, dengan suatu trade center diantara mereka. Pola permukiman ini umumnya umumya terdapat di sepanjang tepi sungai. AIFT merupakan pola permukiman yang ideal baik dilihat dari segi ekonomis dan kehidupan social.

( Rahardjo,1999 )

2.3  Sumber Daya  di Desa

2.3.1 Sumber Daya Alam

  1. Lahan (Sawah, Tegal, Kebun dll)
  2. Hutan atau tumbuhan (groves)
  3. Mineral (tambang)

2.3.2 Sumberdaya Buatan Manusia

Fasilitas transportasi dan Komunikasi

  1. Fasilitas kesehatan dan kesejahteraan
  2. Agen Pelayanan dan Penawaran (Supply and Services Agencies).
  3. Fasilitas Industri dan Pasar
  4. Fasilitas Finansial/keuangan
  5. Fasilitas pendidikan
  6. Fasilitas agama(tempat ibadah)
  7. Fasilitas publik
  8. Fasilitas rekreasi.

(Salim. 2002)

 

2.4 Sebaran dan Komposisi Penduduk

  1. Menurut Umur (Piramida penduduk)

Piramida penduduk adalah dua buah diagram batang, pada satu sisi menunjukkan jumlah penduduk laki-laki dan pada sisi lainnya menunjukkan jumlah penduduk perempuan dalam kelompok interval usia penduduk lima tahunan. Penduduk laki-laki biasanya digambarkan di sebelah kiri dan penduduk wanita di sebelah kanan. Grafik dapat menunjukkan jumlah penduduk atau prosentase jumlah penduduk terhadap jumlah penduduk total.

Dengan mengamati bentuk piramida penduduk (serta bentuk piramida penduduk dari waktu ke waktu), banyak informasi yang didapat mengenai struktur kependudukan sebuah wilayah.

 

  1. Menurut Jenis kelamin (Laki-laki dan Perempuan)
  2. Menurut Suku/Etnis

Budaya penduduk yang dipegang teguh oleh suatu kelompok masyarakat akan berpengaruh pada pola pemukiman kelompok tersebut. Di beberapa daerah tertentu seperti suku badui di Banten, Suku Toraja di Sulawesi Selatan, Suku Dayak di Kalimantan, cenderung memiliki pola pemukiman mengelompok dan terisolir dari pemukiman lain.

(Siswono ,Eko. 2010)

4 thoughts on “STRUKTUR FISIK DESA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>